Minggu, 22 Agustus 2010

KITA ADA DI MASA KINI KARENA ADA MASA LALU

Oleh : SINTA RIDUAN
MAKALAH DISKUSI NASKAH KUNO DARI FILOLOGI


“Kami dengar Bung sekarang menulis roman-roman sejarah. Mengapa bukan tentang masa kini?”

“Pertama-tama untuk menghindari resiko yang tidak perlu. Kedua untuk dapat memahami dan mengajak memahami masa kini dan masa depan lebih baik.”



(Percakapan seorang wartawan Jakarta dengan Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Tunggal Seorang Bisu: Catatan Pribadi Pramoedya Ananta Toer dari tahanan Pulau Buru (Wika Karya: Kuala Lumpur: 1988), ketikan hal. 228.)

Dari percakapan di atas, saya sempat berpikir, kenapa harus repot-repot mencari tahu dan menggali sejarah sekarang ini, toh masanya juga sudah lewat, jadi ya tinggal kita jalani saja keberadaan kita sekarang ini, tak usah memikirkan masa lalu. Pusing.

Owh, ternyata salah total pikiran saya itu. Saya bertemu dengan ungkapan Sunda Kuno; tan hana muni tan hana mangke yang artinya tak ada masa sekarang jikalau tak ada masa lalu. So? Masa lalu itu penting kita ketahui ‘brad. Setidaknya pelajaran dari nenek moyang kita bisa kita pelajari di masa sekarang atau masa depan. Pelajaran-pelajaran hebat yang diciptakan pure oleh nenek moyang kita. Bukan buatan bangsa penjajah atau buatan/pelegitimasian seseorang yang haus kekuasaan.

Lalu bagaimana caranya kita dapat mengetahui pelajaran atau ilmu nenek moyang atau leluhur kita. Kaleuuummm, banyak caranya. Alhamdulillah-nya hingga kini masih ada peninggalan nenek moyang kita yang masih berwujud, seperti prasasti atau artefak-artefak, dan tulisan-tulisan, yang masih ada di sekitar kita. Nah mumpung masih ada, mumpung belum dijual ke luar negeri, mumpung masih bisa diraba dan dibaca. Hayu kita kaji lebih dalam benda-benda peninggalan masa lalu itu. Kita ambil pelajaran dan ilmu yang tersirat di dalamnya, kita lestarikan untuk masa depan. Untuk anak dan cucu kita juga.

Kajian benda-benda kuno tersebut sebenarnya harus sesuai dengan bidang ilmunya agar tidak tumpang tindih, tetapi masing-masing ilmu harus berjalan di jalur yang sama juga, harus kompak biar tidak mengungkapkan sejarah yang berbeda-beda dan tidak sesat.

Seperti pengkajian arca-arca, guci, bangunan dan candi, mereka adalah kerjaannya arkeologi. Kalau yang membaca tulisan yang ada di prasasti atau tugu itu kerjaannya paleografi, nah kalau mengkaji tulisan-tulisan yang ada dalam buku atau biasa disebut naskah kuno atau manuskrip tua, itu kerjaannya filologi.

Dalam kesempatan kali ini kita bahas naskah kuno beserta ilmu yang mengkajinya yaitu filologi, dan orangnya, yaitu filolog. Pernah membaca tulisan karya Om Nietzsche dari Jerman? Ternyata beliau adalah seorang filolog yang mengkaji naskah-naskah kuno yang beraksara dan berbahasa Jerman dan Ibrani. Om Nietzshe mengkaji naskah kuno? lalu apa hubungannya dengan tulisan-tulisan hasil karya beliau yang menyebutkan Tuhan Telah Mati?

Pernah mendengar Syek Siti Jenar? Seseorang yang dianggap wali oleh sebagian orang, yang dihukum mati oleh Sembilan Wali yang tersohor itu? Yang menyebarkan ajaran-ajaran yang beda dengan wali yang lain? Apa hubungannya Om Nietzsche sama Syek Siti Jenar? Saya pikir mereka memiliki kemiripan ajaran yang mereka lahirkan, apa mungkin Om Nietzsche belajar ajaran milik Syek Siti Jenar? Secara Syek Siti Jenar hidup terlebih dahulu di abad ke 15 dan Om Nietszche hidup di abad ke 19. Kebetulan juga si Om adalah seorang filolog, si tukang kaji tulisan-tulisan kuno. Tapi masa iya sih dia membaca dan mempelajari ajaran Syek Siti Jenar? Wallahuallam….

Naskah Kuno, Bukunya Nenek Moyang

Naskah kuno adalah salah satu peninggalan nenek moyang kita, leluhur kita yang masih dapat kita jangkau keberadaannya, walau sekarang ada di zona kritis. Naskah kuno merupakan hasil karya cipta budaya yang ditulis tangan di atas media daun lontar, daun nipah, papirus, daluang, kain, tanduk, rotan, bambu, kulit kayu, dan kertas Eropa. Biasanya naskah kuno memuat sejarah, cerita rakyat, hikayat, seni budaya, keagamaan, pengobatan tradisional, pertanian, hukum, adat istiadat, dll. Dan sekurang-kurangnya telah berusia 50 tahun.

Nusantara, wilayah yang kaya raya bukan hanya dari alamnya saja tetapi juga warisan kebudayaan lampaunya juga. Dan sekarang permasalahannya adalah, orang-orang yang tahu tentang naskah, khususnya anak-anak muda, mereka tidak tahu dan jarang ada yang mau memperhatikan masa lalu, kebanyakan dari anak muda sekarang ini lebih menyukai kecanggihan tekhnologi.

Salah satu akibat dari ketidaktahuan anak muda, bisa jadi karena di museum juga jarang mempamerkan koleksi naskah kunonya, alasanya karena mungkin tidak punya koleksinya, atau ingin dijadikan proyek dahulu (dialihaksarakan dan diterjemahkan) atau takut ditanya isinya tentang apa dan pihak museum atau yang menyimpan naskah itu tidak tahu isinya apa. Ironi.

Padahal isi atau kandungan yang ada di naskah kuno, ada juga hubungannya dengan kreativitas anak muda, contoh kasus; buat anak-anak yang berkecimpung di art tattoo, ada tuh manuscript version for tattoo design, original sign from nederlandsch-indie. Hehehe…

Naskah Kuno Di Tangan Filologi

Orang-orang yang mengkaji naskah kuno adalah filolog. Dengan ilmunya yang dinamakan filologi. Filologi, secara teori yang berasal dari kata yunani, adalah dari kata philos yang artinya teman, logos adalah ilmu atau pembicaraan, dan philologia yang artinya senang berbicara. Secara istilah filologi merupakan ilmu untuk mengkaji atau menelaah tulisan yang dianggap penting dari masa lalu, misalnya; tulisan dari jaman kerajaan. Filologi dapat juga disebut ilmu yang mengungkapkan kandungan karya tulis lama atau masa lalu.

Ilmu filologi lahir akibat dari adanya pernyataan kita ada saat ini di masa sekarang, berasal dari masa lalu, dan tulisan masa lalu yang yang ditinggal nenek moyang kita, pasti tulisan yang penuh makna dan penting. Dan tugas filologi adalah mengungkapkan apa makna yang terkandung dari dalam teks naskah kuno tersebut.

Dan sejalan dengan tugas filologi di atas, tujuan ilmu filologi adalah untuk mengetahui dan memaknai alam pikiran masa lalu dari berbagai seni baik materialnya ataupun kehidupan spiritualnya.

Asal Muasal Ilmu Filologi

Awal kegiatan filologi di Iskandariyah dilakukan oleh bangsa Yunani pada abad ke-3 SM dipelopori oleh Erastothenes. Kegiatan mereka adalah meneliti naskah-naskah dalam huruf Yunani Kuno peninggalan abad ke-8 SM yang ditulis di atas daun papyrus dan merekam tradisi lisan yang mereka miliki berabad-abad sebelumnya. Di kota Iskandariyah pada abad ke-3 SM adalah pusat ilmu pengetahuan, karena di tempat itu banyak dilakukan telaah naskah-naskah lama oleh para ahli yang berasal dari daerah sekitar Laut Tengah, terutama bangsa Yunani sendiri dari daratan Eropa selatan.

Filolog pada jaman itu harus memiliki pengetahuan yang tinggi karena untuk mengetahui isi naskah terlebih dahulu harus mengetahui huruf yang dipakai, kemudian menyalinnya ke dalam huruf yang berlaku saat itu. Di sinilah proses kerja filologi, mereka membetulkan kesalahan-kesalahan, membetulkan kesalahan ejaan, bahasa, tata tulis, kemudian menyalin kedalam keadaan yang jauh dari kesalahan-kesalahan. Salinan naskah ada juga yang diberi penjelasan dan komentar serta tafsiran-tafsiran sesuai dengan interpretasi mereka. Inilah awal munculnya madzab Iskandariyah. Kegiatan perdagangan naskah waktu itu juga cukup ramai dan berakhir abad ke-1 SM bersamaan jatuhnya Iskandariyah ke bangsa Romawi.

Kegiatan para filolog madzab Iskandariyah adalah mengkaji karya-karya Homerus, Plato, Menander, Herodotus, Hupocrates, Socrates dan Aristoteles. Pusat studi berupa perpustakaan yang menyimpan sejumlah besar naskah, naskah berupa papyrus yang digulung dan ditulis dengan aksara Funisia (Funisia adalah bangsa yang berinduk pada Semit dari Sam Bin Nuh, yang termasuk Semit adalah Babilonia, Assyria, Kaldea, Amoria, Aramia, Funisia, Ibrani, Arabia, dan Abbesinia).

Papyrus berisikan ilmu pengetahuan, seperti ilmu filsafat, kedokteran, perbintangan, ilmu sastra dan karya sastra, ilmu hukum, dan lain sebagainya. Perpustakaan itu menempati bangunan yang dinamakan museum, sebenarnya bangunan itu adalah sebuah kuil untuk memuja 9 orang dewi Muses, dewi kesenian dan ilmu pengetahuan dalam mitologi Yunani. Pada penggarapan naskah-naskah itu kemudian dikenal dengan ahli filologi, dan yang pertama kali memakai nama filologi adalah Erastothenes. Oleh karena itu kebudayaan Yunani Kuno merupakan akar kehidupan Eropa Barat dan pemikiran-pemikirannya menjadi acuan mereka. Kebudayaan inipun menjadi berpengaruh luas sampai kawasan Timur Tengah dan kawasan Asia.

Setelah Iskandariyah jatuh maka kegiatan filologi berpindah ke Eropa Selatan yang berpusat di Roma. Kegiatan ini berlangsung sampai abad ke-4 saat terpecahnya kerajaan Romawi menjadi Romawi Barat dan Romawi Timur.

Kegiatan filologi di Romawi Barat diarahkan pada penggarapan naskah dalam bahasa Latin sejak abad ke-3 SM karya Cicero dan Verro berupa puisi dan prosa ini merupakan kegiatan yang melanjutkan tradisi Iskandariyah. Tradisi Latin ini mengalami kemunduran ketika studi filologi dimanfaatkan oleh gereja dalam rangka penyebaran agama Kristen. Kajian terhadap naskah-naskah Yunani agak ditelantarkan terlebih dengan adanya penamaan terhadap naskah-naskah Yunani sebagai naskah Jahiliyah. Sejak abad ke-4 teks mulai ditulis dalam bentuk codex dan menggunakan bahan kulit binatang disebut perkament yang lebih tahan lama daripada daun papyrus. Di samping itu pada bahan perkament sudah ada yang diberi halaman sehingga memudahkan untuk dibaca.

Bila perkembangan filologi di Romawi Barat mulai mengalami kemunduran, justru perkembangan di Romawi Timur lebih menampakkan kemajuan. Pusat-pusat studi filolog terdapat di kota-kota Konstatinopel, Athena, Antioch, Beirut, Gaza, dan Iskandariyah. Iskandariyah merupakan pusat studi filsafat Aristoteles dan Beirut merupakan pusat studi hukum. Pusat-pusat inilah yang kemudian melahirkan perguruan tinggi yang menghasilkan para ahli di bidang pemerintahan, pendidikan dan administrasi.

Dalam periode ini, mulai muncul tradisi menulis tafsir terhadap isi naskah pada tepi halaman, yang kemudian bernama scholia. Catatan pada tepi halaman ini dilakukan oleh Procopius dari Gaza yang telah terbiasa dengan penulisan naskah dengan disertai catatan tepi halaman yang diambil dari naskah lain yang membicarakan masalah yang sama. Karena tulisan Procopius pada umumnya mengenai ajaran Beibel maka cara penulisan demikian itu dikenal penulisan baru dalam kajian Beibel. Perkembangan di Romawi Timur kurang didukung oleh tenaga-tenaga yang professional sehingga dirasa perlu untuk merekrut tenaga filolog melalui kuliah-kuliah di mimbar perguruan tinggi. Dari sinilah kemudian mulai tumbuh banyak perguruan tinggi yang berpusat di kerajaan Romawi Timur.

Masuknya Ilmu Filologi Di Nusantara

Kawasan Nusantara terbagi dalam banyak kelompok etnis, yang masing-masing memiliki bentuk kebudayaan yang khas, tanpa meninggalkan sifat kekhasan kebudayaan Nusantara. Kekayaan Nusantara akan naskah-naskah lama dibuktikan dengan jumlah koleksinya yang dewasa ini terdapat di berbagai pusat studi kebudayaan Timur pada umumnya.

Hasrat mengkaji naskah-naskah Nusantara mulai timbul dengan kehadiran bangsa Barat di kawasan ini pada abad ke-16. Pertama-tama yang mengetahui mengenai adanya naskah-naskah lama itu adalah para pedagang. Mereka menilai naskah-naskah itu sebagai barang dagangan yang mendatangkan untung besar.

Pedagang tersebut mengumpulkan naskah-naskah itu dari perorangan atau dari tempat-tempat yang memiliki koleksi, seperti: pesantren atau kuil-kuil. Kemudian membawanya ke Eropa, menjualnya kepada perorangan atau kepada lembaga-lembaga yang telah memiliki koleksi naskah-naskah lama. Seorang yang dikenal bergerak dalam usaha perdagangan naskah adalah Peter Floris atau Pieter Willamsz.

Di jaman VOC usaha mempelajari bahasa-bahasa Nusantara hampir terbatas pada bahasa Melayu, karena dengan bahasa Melayu mereka sudah dapat berhubungan dengan bangsa pribumi dan bangsa asing yang mengunjungi kawasan ini, seperti : bangsa India, Cina, Arab dan Eropa lainnya.

Seorang penginjil yang terkenal yang menaruh minat kepada naskah-naskah Melayu adalah Dr. Melchior Leijdecker (1645-1701). Pada tahun 1691 atas perintah Dewan Gereja Belanda, Leijdecker menyusun terjemahan Beibel dalam bahasa Melayu tinggi. Akan tetapi hingga sampai ajalnya, terjemahan itupun belum selesai maka lalu dilanjutkan oleh seorang penginjil lain bernama Petrus van den Vorm (1664-1731).

Penginjil lain yang dikenal akrab dengan bahasa dan kesastraan Melayu adalah G.H. Werndly. Dalam karangannya berjudul Maleische Spraakunst, terbit pada tahun 1736 dalam lampirannya yang diberi nama Maleische Boekzaal, dia menyusun daftar naskah-naskah Melayu yang dikenalnya sebanyak 69 naskah.

Usaha pengajaran dan penyebaran alkitab lalu diteruskan oleh Zending dan Bijbelgenootschap. Akan tetapi berhubung dengan berbagai kesulitan, baru pada tahun 1814 lembaga ini dapat mengirim seorang peng-injil Protestan bernama C. Bruckner ke Indonesia dan ditempatkan di Semarang (Swellengrebel, 1974 : 13). Tugasnya adalah menyebarkan alkitab kepada masyarakat Jawa. Terjemahan alkitab Bruckner terbit pada tahun 1831 dalam huruf Jawa. Pada tahun 1842 terbitlah kamus Bruckner berjudul Een klein woordenboek der Hollandische, Engelsche an Javaanacha Talen.

Nederlandsche Bijbelgenootschap (seterusnya disingkat NBG) memiliki kegiatan penting dipandang dari sudut ilmu bahasa (Teeuw, 1973 : 16). Lembaga ini mengharuskan kepada penyiar dan penerjemah alkitab yang akan dikirim ke Indonesia memiliki pendidikan akademik. Dampak ketetapan ini adalah munculnya karangan-karangan ilmiah dari para penginjil mengenai bahasa, sastra dan kebudayaan Nusantara pada umumnya.

Kegiatan Filologi terhadap Naskah Nusantara. Kajian ahli filologi terhadap naskah-naskah Nusantara bertujuan untuk menyunting, membahas serta menganalisis isinya atau untuk kedua-duanya.

Hasil suntingannya pada umumnya berupa penyajian teks dalam huruf aslinya, yaitu huruf Jawa, huruf Pegon atau huruf Jawi dengan disertai pengantar atau pen-dahuluan yang sangat singkat tanpa analisis isinya, misalnya suntingan Ramayana Kakawin oleh H. Kern (1900).

Perkembangan selanjutnya, naskah itu disunting dalam bentuk transli-terasi dalam hurur Latin, misalnya Wrettasantjaja (1849), Ardjoena-Wiwaha (1850) dan Bomakawya (1950). Ketiga-tiganya naskah Jawa kuno oleh R. Th. A. Friederich dan Brata Joeda (1850) oleh Cohen Stuart.

Suntingan naskah dengan disertai terjemahannya dalam bahasa asing, terutama bahasa Belanda, merupakan perkembangan filologi selanjutnya. Misalnya: Sang Hyang Kamahayanikan, Oud Javaansche tekst met inleiding, vertaling en aanteekeningan oleh J. Kats (1910) dan Arjuna-Wiwaha oleh Poerbatjaraka (1926).

Pada abad ke-20 muncul terbitan ulangan dari naskah yang pernah di-sunting sebelumnya dengan maksud untuk menyempurnakan, misalnya terbitan sebuah primbon Jawa dari abad ke-16, pertama-tama oleh Cunning (1881) dengan metode diplomatic.

Kemudian pada tahun 1921 disunting oleh H. Kraenmer dengan judul Een Javaansche Primbon uit de Zestiende Eeuw, dan pada tahun 1954 diterbitkan lagi oleh G.W.J. Drew dengan judul yang sama.

Pada abad ke-20 banyak diterbitkan naskah-naskah keagamaan baik naskah Melayu maupun naskah Jawa hingga kandungan isinya dapat dikaji oleh ahli filologi serta selanjutnya mereka menghasilkan karya ilmiah dalam bidang tersebut.

Pada periode mutakhir mulai dirintis telaah naskah-naskah Nusantara dengan analisis berdasarkan ilmu sastra (barat), misalnya analisis struktur dan minat terhadap naskah Hikayat Sri Rama dikerjakan oleh Achadiati Ikram berjudul Hikayat Sri Rama, Suntingan Naskah disertai Telaah Amanat dan Struktur (1980), berdasarkan analisis struktur dan fungsi terhadap teks Hikayat Hang Tuah dikerjakan oleh Sulastin Sutrisno berjudul Hikayat Hang Tuah.

Dengan telah dikenalinya dan tersedianya suntingan sejumlah naskah-naskah Nusantara, maka kemungkinan menyusun sejarah kesastraan Nusantara atau kesastraan daerah akan lebih mudah karena jelas akan referensinya.

Perburuan Naskah Di Nusantara Abad 21

Seperti itulah teori singkatnya, dari zaman dulu bangsa lain sudah sangat tertarik oleh warisan budaya kita, naskah kuno itu sangat penting keberadaannya, apalagi isinya. Bangsa lain punya tujuannya sendiri, untuk dapat diterima oleh bangsa pribumi mereka harus mengenal dulu karakter orang-orangnya. Lalu sekarang kita sebagai penerus bangsa, kita harus bisa melestarikannya.

Perjalanan memburu naskah yang sudah pernah saya lakukan baru 6% dari seluruh tempat penyimpanan naskah yang ada di Nusantara ini. Daerah yang pernah saya kunjungi di antaranya adalah Jakarta, Garut, Bandung, Sumedang, Cirebon, Banjarmasin, Kutai Kertanegara. Insya Allah saya berencana bulan April ke Lampung dan Jambi, bulan Juli ke Bima dan Lombok.

Sejauh ini, walau masih dengan sedikit data, yang sudah saya lakukan adalah pendataan naskah-naskah, digitalisasi naskah dan edisi teks (alihaksara, terjemahkan dan interpretasi). Saya melakukannya sendirian. Walau didanai oleh beberapa lembaga, sejauh ini saya tidak punya niat untuk melakukan riset-riset ini demi proyek-proyek. Karena kegiatan perburuan naskah ini saya lakukan untuk menambah ilmu saya pada awalnya, juga melakukan pendataan demi penyelamatan naskah. Isu saat ini yang paling heboh di dunia pernaskahan adalah, banyaknya penjualan naskah-naskah kita ke luar negeri. Hmm bukti tertulis akan jati diri bangsa dijual ke luar negeri. Di mana kesadaran kita akan pentingnya peninggalan yang sangat berharga tersebut?

Saya bahas sekilas tentang perjalanan saya di kota-kota tersebut, Cirebon, Bandung, Garut, Sumedang, Banjarmasin, Banjarbaru, Kutai Kertanegara dan Jakarta.

Cirebon Sebagai Pusat Peradaban Di Abad 15

Cirebon, karena saya lahir dan besar di sana, otomatis harus diutamakan terlebih dahulu. Banyak data yang saya punya dari hasil wawancara dengan tokoh budaya, dan memburu naskah dengan filolog lain, di Cirebon filolog hanya ada 3 orang yang memiliki pendidikan akademis termasuk saya, dan 2 orang otodidak dan memang bekerja di bagian itu.

Cirebon merupakan merupakan kota di Jawa Barat yang memiliki potensi sangat tinggi. Kondisi wilayah yang berada di dekat laut mengukuhkan keunggulan eksistensinya sebagai kota penghubung utama lalu lintas yang sangat penting dari berbagai aktivitas di Pulau Jawa. Sebagaimana telah diceritakan di dalam sejarah, Cirebon memiliki peran yang sangat strategis dalam perkembangan ekonomi, agama, sosial politik dan budaya. Bukti mengenai hal itu ditunjukkan dengan adanya keraton-keraton yang masih menampakkan sisa-sisa kejayaan kesultanan masa silam, yaitu keraton Kasepuhan, Kanoman, Keprabonan, dan Kacirbonan; kesenian-kesenian tradisional seperti Tari Topeng, Sintren, Wayang Kulit Purwa, dll.; serta upacara adat seperti Nadranan, Memayu, Muludan, dll. Semua itu masih terpelihara hingga saat ini.

Peninggalan tradisi, intelektual, dan keagamaan Cirebon itu, selain terabadikan dalam bentuk upacara-upacara adat, upacara keagamaan, dan pertunjukan kesenian, juga tersimpan dalam karya-karya tulisan tangan yang lazim disebut Naskah Kuno. Naskah-naskah Kuno Cirebon, baik yang tersimpan di daerah Cirebon maupun di luar Cirebon, diduga sangat banyak dan hampir tak terhitung jumlahnya.

Hingga saat ini, upaya pengidentifikasian Naskah Kuno Cirebon, apalagi menggali isinya, belum banyak dilakukan. Katalog panduan khusus mengenai manuskrip-manuskrip sumber tentang Cirebon belum ada sama sekali. Pengetahuan tentang keberadaan naskah di Cirebon masih berupa sempalan-sempalan informasi yang berhasil diperoleh dalam proyek identifikasi pernaskahan di Jawa Barat yang Priangan sentris atau pun Nasional yang nusantara sentris. Artinya, upaya pengenalan tentang Cirebon masih terselip di antara ‘tumpukan jerami’ identifikasi naskah-naskah lain, sehingga hal ini sangat menyulitkan para peminat yang secara khusus ingin mengetahui Cirebon secara lebih dalam.

Sebagian besar naskah bertuliskan tulisan Carakan, dan Pegon (Arab Gundul). Saya banyak menemukan naskah di beberapa keraton pastinya, dan di masyarakatnya juga tak kalah banyak, namun sayang, pemeliharaannya sungguh mengharukan, mungkin karena dana dan kebanyakan orang juga tidak mengerti dan tidak dapat membaca naskah-naskah tersebut.

Sekitar ribuan naskah masih terkubur, tersimpan, teronggok di dalam lemari, menunggu waktu, dirusak angin, debu dan zaman.

Mengunjungi Museum Bandung, Sumedang dan Garut

Kunjungan pertama adalah Museum Sribaduga di Bandung. Museum yang dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat ini memiliki kurang lebih 200 naskah kuno. Koleksi naskah banyak di dominasi oleh naskah-naskah kuno yang berasal dari Cirebon menggunakan huruf carakan dengan bahasa Cirebon. Koleksi naskah tersebut di simpan dalam ruangan khusus naskah kuno.

Namun ketika saya berkunjung ruangan tersebut sedang dalam proses renovasi. Untuk sementara semua koleksi naskah tersebut di simpan di sebuah ruangan yang digabung dengan koleksi museum lainnya. Ruangan tersebut lebih mirip dengan gudang penampungan sementara. Koleksi naskah tersebut ditempatkan di tiga buah lemari kayu bertutup kaca. Setiap naskah dibungkus dalam sebuah kotak berbahan kardus dan diberi nomor identifikasi. Kondisi lemari sama sekali tidak dilengkapi oleh ventilasi yang memadai. Apabila mengingat pada umur naskah yang rata-rata diatas 100 tahun yang perlu penanganan khusus. Baik dari segi sirkulasi udara maupun menjaga agar suhu tetap stabil. Karena apabila dibiarkan seperti itu dapat membuat naskah menjadi cepat rusak. Menurut keterangan salah satu pegawai museum, proses penyimpanan seperti itu hanya bersifat sementara menunggu hingga renovasi ruangan selesai. Sementara kondisi seperti itu telah berlangsung selama kurang lebih 3 bulan.

Kunjungan selanjutnya adalah Museum Prabu Geusan Ulun di Kota Sumedang. Museum ini juga mempunyai koleksi naskah kuno. Jumlahnya sekitar 30 naskah kuno yang berasal dari masa pemerintahan Bupati kedua Sumedang. Rata-rata naskah kuno tersebut menggunakan huruf arab gundul atau pegon. Semua koleksi tersimpan dalam sebuah etalase kaca dengan kondisi yang memprihatinkan. Etalase tersebut tanpa dilengkapi ventilasi udara yang baik dan penerangan yang memadai, keduanya salah satu upaya memperpanjang umur naskah agar tidak semakin rusak. Naskah-naskah tersebut dalam kondisi tidak terawat. Padahal kondisi naskah masih dalam keadaan cukup baik. Teks yang terdapat dalam naskah tersebut masih terbaca dengan jelas hingga masih dimungkinkan untuk melakukan kajian makna dan isi naskah tersebut. Padahal umur naskah kuno tersebut rata-rata di atas 80 tahun.

Di dalam etalase sama sekali tidak ada keterangan lengkap mengenai naskah yang terpajang. Hanya judul naskahnya saja yang dipajang, sementara keterangan lengkap tentang isi naskah tersebut terdapat di katalog yang tersimpan terpisah di petugas. Sehingga kadang menyulitkan pengunjung awam untuk dapat mengerti dan paham tentang isi naskah. Katalognya sendiri masih berupa salinan secara manual dalam lembaran kertas.

Kunjungan terakhir adalah Situs Ciburuy Garut. Situs tersebut dibawah pengelolaan Balai Situs Kepurbakalaan Provinsi Jawa Barat dan ditetapkan sebagai cagar budaya. Sementara untuk pemeliharaan dan operasional masih mengandalkan swadaya masyarakat. Tempat ini menyimpan koleksi naskah kuno yang tertulis dalam lembaran daun lontar. Koleksi tersebut tersimpan dalam sebuah rumah tradisional sunda yang difungsikan sebagai museum.

Naskah kuno tersebut disimpan dalam tiga kotak kayu (kropak) bermotifkan ukiran. Hingga saat ini belum ada yang meneliti secara khusus kandungan isi naskah tersebut. Dugaan awal naskah tersebut peninggalan dari kerajaan Galuh. Hal ini nampak pada bentuk tulisan yang menggunakan huruf sunda kuna. Kondisi naskah masih terhitung baik. Teks yang tertulis dalam lembaran lontar masih dapat terbaca dengan jelas.

Namun ada beberapa naskah yang tali pengikatnya sudah hilang. Hingga diduga susunan naskah menjadi tidak beraturan. Situs tersebut dijaga dan dikelola secara turun temurun oleh ahli waris. Karena dianggap sebagai sesuatu yang sakral maka hingga saat ini semua koleksi naskah tersebut mempunyai perlakuan secara khusus. Tidak sembarang orang bisa melihat koleksi naskah secara langsung kecuali atas ijin juru kunci dan melewati serangkaian ritual khusus. Semua tata cara tersebut adalah salah satu bukti kearifan lokal yang bertujuan melestarikan warisan budaya. Walaupun dalam hal ini masih banyak perbedaan persepsi dengan sebagian golongan yang menganggap ritual tersebut sebagai bagian dari praktek menyekutukan Tuhan.

Menyebrangi Laut Jawa Menuju Banjarmasin, Banjarbaru, dan Kutai Kertanegara

Perjalanan kali ini saya habiskan satu bulan di Pulau Borneo ini, walau hanya dua provinsi yang saya kunjungi tetapi membuat gairah saya untuk memburu naskah menjadi kian membara. Saya ingin sekali membuktikan kekayaan Nusantara yang melimpah ruah itu.

Satu minggu pertama saya berkeliling Banjarmasin, akhirnya saya menemukan tempat penyimpanan naskah di Kuin, museum kesultanan yang letaknya berdampingan dengan makan Sultan Banjar, Suriansyah.

Ketika saya melihat koleksi naskah yang bertumpukan dan disimpan dalam etalase berdebu, saya langsung mengajukan diri kepada pengurus museum untuk membersihkan dan menyimpan dengan benar naskah tersebut. Saya miris sekali hampir menangis, dokumen-dokumen penting tersebut sangat tidak diperhatikan.

Setelah selesai membersihkan dan menata letak naskah tersebut saya sedikit memberi penyuluhan kepada pegawai, dan memberitahu seberapa penting naskah itu untuk kehidupan kita kelak. Perjalanan dilanjutakan ke Museum Wasaka, museum yang terletak dipinggir Sungai Martapura.

Tak terbayangkan bila air meluap dan membanjiri museum, aku pasti menjerit-jerit melihatnya. Saya menemukan dokumen selama perjuangan melawan penjajah, naskah disimpan dalam lemari. Sekitar 20 naskah yang ada di museum itu. Semua naskah beraksara Arab dan berbahasa Melayu Banjar.

Satu minggu kemudian saya mengunjungi Banjarbaru. Museum terindah yang pernah saya lihat selama ini. Rapih dan bersih. Kepala museumnya juga sangat dan sangat ramah. Saya diperbolehkan menginap di museum. Di rumah dinas milik museum.

Museum Lambung Mangkurat ini memiliki 51 naskah Pegon, Arab-Melayu Banjar. Satu naskah Batak, satu naskah Bali. Sayangnya, semua disimpan begitu saja di lemari. Lalu saya mengajukan diri untuk membuat tempat-tempat khusus naskah, ruang untuk masing-masing naskah, semacam kotak hadiah. Pengurus naskah saya usulkan kepada kepala museum agar dikirim ke Perpusnas, agar dapat pelatihan tentang bagaimana mengurus naskah.

Di Banjarbaru ini, sudah ada beberapa alihaksara yang dilakukan oleh pengurus, walau judulnya masih salah, antara transliterasi dan transkripsi, hehehe akhirnya saya membetulkan kesalahan judul buku itu.

Perjalanan darat dari Banjarbaru ke Kutai Kertanegara saya lakukan melalui jalur darat, sekitar 15 jam. Naskah berada di Museum Mulawarman, museum terkeren yang pernah saya lihat selama ini. Hanya ada 31 naskah, beraksara Sansakerta, Bugis, dan Pegon. Sayang sekali lagi, sungguh tidak terawat, saya pun mengajukan diri membersihkan naskah-naskah tersebut.

Kembali Ke Jakarta

Tempat penyimpanan naskah paling lengkap koleksinya dari berbagai daerah berada di PERPUSNAS di Jalan Salemba, dengan kecanggihan perawatannya juga, sayang PERPUSNAS hanya sebagai etalase saja.

Padahal banyak yang harus dilakukan, seperti pelatihan pengelola naskah se Nusantara, sehingga masing-masing daerah dapat memelihar, merawat, dan memperbaiki naskah koleksinya masing-masing. Dana-lah yang menjadi halangan terbesar. Tetapi pelestarian peninggalan budaya kita yang lebih penting. Apakah kita mau kehilangan bukti tertulis jati diri bangsa ini. Jelas say amah tidak ingin. Perpusnas adalah tempat yang sering saya kunjungi. Selalin lengkap juga terawatt saya ingin membandingkan dan belajar banyak dari sana.

Kesimpulan

Naskah kuno adalah salah satu warisan kebudayaan yang secara nyata memberikan pada kita semua bukti catatan tentang kebudayaan masa lalu. Menjadi semacam potret jaman yang menjelaskan berbagai hal yang mempunyai hubungan dengan masa sekarang. Karena nilainya yang sangat penting dan strategis maka perlu ada langkah-langkah konkret dalam upaya penyelamatan dan pelestarian naskah tersebut.

Hal yang pertama kali perlu dilakukan adalah melakukan upaya pengkajian naskah-naskah kuno yang masih ada. Dimulai dari pendataan naskah kuno, penyalinan, dan penerjemahan isi naskah kuno. Pembuatan katalog yang memuat data lengkap tentang koleksi naskah-naskah kuno adalah salah satu contoh konkret yang dapat membantu mempermudah melacak dan melakukan kajian-kajian akademik terhadap naskah kuno. Sekali lagi saya tuliskan Nusantara sangat kaya, kita harus melestarikan peninggalannya. Kalau bukan kita siapa lagi.

Ujungberung II, 30 Maret 2009

Sumber : duniasintaridwan

Tidak ada komentar: