Kamis, 26 Desember 2013

Puisi Lampung Pepaccur, A. Efendy Sanusi

Puisi Lampung: Pepaccur


Pepaccur adalah salah satu jenis sastra lisan Lampung berbentuk puisi yang lazim digunakan untuk menyampaikan pesan atau nasihat dalam upacara pemberian gelar adat. Istilah pepaccur dikenal di lingkungan masyarakat Lampung dialek O. Di lingkungan masyarakat Lampung dialek A dikenal dengan istilah pepaccogh (di lingkungan masyarakat Lampung dialek A Sebatin dikenal dengan istilah wawancan).

Sudah menjadi adat masyarakat Lampung bahwa pada saat bujang atau gadis meninggalkan masa remajanya atau pada saat mereka memasuki kehidupan berumah tangga, pasangan pengantin itu diberi gelar adat sebagai penghormatan dan tanda bahwa mereka sudah berumah tangga. Gelar adat ini diterima dari klan bapak dan dari klan ibu, dilakukan di tempat mempelai pria maupun di tempat mempelai wanita. Pemberian gelar dilakukan dalam upacara adat yang dikenal dengan istilah ngamai adek/ngamai adok (jika dilakukan di tempat mempelai wanita), nandekken adek dan inai adek/nandokkon adok ghik ini adok (jika dilakukan di tempat mempelai pria), dan butetah/kebaghan adok/nguwaghkon adok (istilah di lingkungan masyarakat Lampung Sebatin). Setelah gelar diberikan, si penerima gelar diberi nasihat atau pesan-pesan. Nasihat atau pesan-pesan itu disampaikan dalam bentuk puisi yang dikenal dengan istilah pepaccur.

Sekh Abdusshamad al-Palimbani

Syekh Abdusshamad Al Palimbani


Ini Makam Syekh Abdusshamad Al Palimbani Bin Syekh Abdul Jalil bin Syekh Abdul Wahhab bin Syekh Ahmad Al-Mahdani di Thailand Selatan tepatnya di daerah Pattani

Beliau Sahabat Datuk kalampayan dan sesama murid Syekh Samman Al Madani yg dikenal dengan 4 Serangkai dari Tanah Jawi bersama Syekh Abdul Wahab Bugis(Menantu datuk kalampayan suami Syarifah) dan Syekh Abdurrahman Al Masri (kakeknya Habib utsman Betawe Pengarang Kitab sifat 20) yang hidup antara 1700-1800 M
Makam beliau di tengah hutan karena beliau dulu ikut serta dalam perjuangan melawan kerajaan Siam Budha Thailand yg ingin merebut tanah Melayu Pattani yg sekarang menjadi bagian negara Thailand.

As-Sheikh Abdul Samad Al-Palembangi mati syahid ketika berjuang bersama tentera Melayu Kedah melawan Tentara Kerajaan Siam Budha Thailand.

(Jejak) Syeikh Abdul al-Falimbani, Pengarang Produktif

SYEIKH Abdul Samad al-Falimbani dilahirkan pada 1116 H/1704 M, di Palembang, meninggal di Pattani, Thailand pada 1832. Nama lengkapnya ialah Abdul Samad bin Abdullah al-Jawi al-Falimbani. Sementara itu, sumber Arab pula menamakannya sebagai Sayyid Abdul al-Samad bin Abdul Rahman al-Jawi. Abdul Samad adalah panglima perang Pattani dan Kedah melawan tentara Siam (1828-1832).

Karya-karya dan al-Falimbani dalam bidang penulisan amat banyak, di antara karyanya ialah: Zuhrah al-Murid fi Bayan Kalimah al-Tauhid, Hidayah al-Salikin Fi Suluk Maslak al-Muttaqin, Tuhfat al-Raghibin fi Bayan Haqiqat Iman al-Mukminin, Al-’Urwah al-Wusqa wa Silsilah Ulil-Ittiqa’, Ratib ‘Abdal-Samad, Zad al-Muttaqin fi Tauhid Rabb al-’Alamin.

Selasa, 24 Desember 2013

[Buku] Ketika Anak Nagari Bersuara



Data Buku:
Suara Anak Nagari
Yohanes Wempi
Smart Writing Nusantara Institute
I, Oktober 2013
142 hlm.
MELIHAT sampul depan buku ini, terpampanglah foto penulisnya. Mengenakan baju putih seraya tersenyum disanding penggalan rumah gadang dan tabuik. Ini terlepas dari anggapan masyarakat yang beragam seputar tabuik dengan segala sudut pandangnya yang berbeda pula. Dalam konteks ini, khalayak lebih diarahkan dan diajak untuk melihat sisi baiknya, yakni kentalnya unsur budaya dan dinamika sosial serta gejolak politik yang terjadi di daerah Padang Pariaman itu?tergambar pada kover ini.

Deskripsi pemikiran yang tertuang dalam bentuk kumpulan esai-esai ini sudah bisa diterka pembaca, bahwa esai yang ditulis tak akan jauh berbeda dari pembicaraan seputar gagasan dan pengalaman penulis bergaul dengan masyarakat di tanah kelahirannya.

Manusia memiliki perspektif masing-masing dalam menyikapi suatu peristiwa. Pemikiran-pemikiran yang beragam itu menuai khasanah yang dapat dituangkan pada bentuk tulisan-tulisan yang dapat dibukukan pula. Demikian pula pada buku ini, sebuah pemikiran tentang kebangsaan yang dimulai dari ruang terkecil seperti nagari-nagari di Padang Pariaman.

[Buku] Kebangkitan Budaya Lisan dan Tulisan

Data Buku:Kelisanan dan Keaksaraan
Walter J. Ong
Penerjemah: Rika Iffati
Gading Publishing
September 2013
xxvi + 314 hlm.
BUDAYA lisan bahkan menghasilkan performa verbal yang kuat dan indah serta bernilai artistik dan kemanusiaan tinggi, yang tak mungkin ada lagi begitu tulisan telah menguasai psike. Meski demikian, tanpa tulisan, kesadaran manusia tak dapat mencapai potensinya yang lebih penuh, tak bisa menghasilkan karya-karya indah dan kuat lainnya. Dalam pengertian ini, kelisanan perlu menghasilkan dan ditakdirkan untuk menghasilkan tulisan.

Hal tersebut diungkap oleh Walter J. Ong dalam buku ini bahwa dalam budaya lisan, begitu diperoleh, pengetahuan harus terus-menerus diulang, kalau tidak ia akan hilang: pola pikiran yang baku dan berdasar formula sangat penting bagi pengetahuan dan administrasi yang efektif. Akan tetapi, pada era Plato (427-347 SM) muncul sebuah perubahan: masyarakat Yunani pada akhirnya menginternalisasi tulisan secara efektif–suatu proses yang memakan waktu beberapa abad setelah perkembangan aksara Yunani sekitar tahun 720-700 SM (Havelock, 1963:49, mengutip Rhys Carpenter).

Sabtu, 30 November 2013

Indonesia's Official Tourism



World Royal Heritage Festival 2013
Di penghujung tahun 2013 ini, sejumlah acara menarik mewarnai Ibu Kota Jakarta. Salah satu yang berskala besar dan patut disaksikan adalah perhelatan World Royal Heritage Festival 2013. Festival ini diadakan di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat pada 5-8 Desember 2013.

Jumat, 29 November 2013

UBAT TIRAM



Salam ngebukak cawa..
Tabik sekam ngeganggu..
Salam haguk ngebalin rasa..
Panglidaw hati tiram selalu..

Langui mik lawok jawa..
Bulanting jak hamara..
Pengatu nihan cawa..
Dimaaf nyak salah cara..


Bangikni nganik kurma..
Makngedok rasa ruwa..
Helauni kik pujajama..
Ram kumpul lalang waya..

Regah sekam jak darak..
Lapah ngalama buka..
Satimbalan diwayak..
Budaya kanjak saka..

Magatol dang dikekui..
Mantang nganik karita..
Minak muwari sa Krui..
Kasi jak luwar juga..

Helaw kumbang tisiram..
Tikecah kiwat hama..
Kekalaw kik tihepui..
Riwah tiram tirasa..

Lapah neram jejama..
Tandang mit kububata..
Payudo indai kanca..
Nyambang dija cerita..

Nangguwang anjung reba..
Genalah lamon bala..
Api gawoh carita..
Cadangki ngandung SARA..

Kepalas nganyam bena..
Rubuh disebu angin..
Kerumasku tiram nana..
Teduhku mawek balin..

Cakak nyak dipepanca..
Mejong nginom kahuwa..
Wayakku induh ranya..
Witulung lajuko juga..

Sangon budiri tumbai..
Krui mawek bubilai..
Kicawaku kacecai..
Tabikyu maaf konpai..

Gubahan jk wayak krui seangkonan sai mena rijuk

Sabtu, 23 November 2013

Puisi Lampung Bawa Ke Ranah Nasional .., Bukan Sebaliknya.

Menghidupkan puisi Lampung menurut hemat saya bukan menterjemahkan puisi Nasional ke dalam bahas Lampung, tetapi harus sebaliknya. Agar karya kita tidak memberangus puisi Lampung. belajarlah kepada keberhasilan para dalag yang merekayasa 'Suluk' ke dalam bahasa Indonesia. Suluk itu adalah bahasa yang khas tetapi para dalang kini banyak yang mampu merekayasa suluk dalam bahasa Indonesia. Namun walaupun demikian mereka tidak kehilangan atau menghilangkan nuansa dan filosofi suluk, dalam bahasa Indonesia sekalipun. Cerita Indonesia itu di Jawakan dahulu baru disulukkan. para dalang tidak akan membawa begitu saja menampilkan cerita cerita luar ke dalam suluk.

Kalaupun mereka mendapatkan kesulitan atau belum sempat menyulukkan kisah maka diawal kata mereka tetap menggunakan bahasa Jawa : Buni gunjang ganjing langit kelap kelip, kol kutuk kadal gesit, semprong bolong buntu alu ... tok, tok suara ketuk dan gemerincing kecrean ditingkahi gendang lembut dan suara lengkingan  siter, seolah memanggil dari kejauhan ditambah lagi dengan rengean rebab yang mendayu dayu meminta kita menuju suatu tempat, di saat kita menimbang nimbang  gelegar gong seolah membenarkanm.  sehingga suasana Jawa sekali ..., Baru si dalang menutur kisah dalam bahasa Indonesia, logat Jawa. Tak lupa sang dalam menyebut nyebut Pringgodani dan beberapa nama para tokohnya  agar kalimah cerita terkait secara geografis dan personal. Mak sang dalangpun terlepas dari petaka membuang khas dunia pewayangan, dan suasana seperti itu masih diperkuat dengan pola pikir falsafah wayang. sekalipun disaji dalam bahasa Indonesia, tetapi para penonton telah disandra di Pringgodani dan tak kemana mana.

Antara Puisi Tradisional dan Modern dalam Bahasa Lampung.

Tulisan ini terinspirasi dari Tulisan Kuswarto.
Acungan jempol dan ucapan terima kasih sangat pantas diberikan kepada Udo Z.Karzi dan kawan kawan lainnya yang telah berusaha menghidupkan hazanah puisi dalam bahasa Lampung. Karya karya Udo Z Karzi mendapatkan dukungan positif dari mereka mereka yang paham selukbeluk perpuisian dan juga paham tentang bahasa Lampung, dan bahkan diantaranya juga mendapat dukungan positif dari para pecinta puisi yang sejatinya kurang memahami bahasa Lampung.

Namun sejauh itu bagi saya dan banyak lagi para pembaca yang kurang paham dengan puisi, namun oernah jatuh cinta atas sesama etnis Lampung yang cinta kami ditumpahkan dalam bentuk puisi dan berbahasa Lampung pula. Seperti apa yang dipahami banyak orang bahwa ketika kita jatuh cinta kepada seseorang, tiba tiba saja kita menjadi puitis, dan pengalaman seperti itulah yang membuat saya menyusun puisi dalam bahasa Lampung, maka ada kekhawatiran akan kehilangan nuansa puisi tradisional yang sempat membesarkan kami.

Sekalipun awam dalam hal puisi, tetapi bagi kami yang sempat bergelut dengan cinta di era remaja, menikmati puisi bukanlah hal yang sulit. memang kami tak pandai mengeritik puisi, tetapi tentu saja dengan gampangnya kami merasa kehilangan sesuatu dalam puisi ...

Udo Z. Karzi dalam Peta Puisi (Berbahasa) Lampung

--Kuswinarto*

PARUH akhir 2002, khazanah sastra daerah Lampung diperkaya dengan hadirnya sebuah antologi berjudul Momentum, memuat puisi-puisi karya Udo Z. Karzi—penyair yang juga alumnus Fisip Universitas Lampung (Unila). Dieditori Anshori Djausal dan Iswadi Pratama, antologi ini diterbitkan Dinas Pendidikan Lampung melalui Proyek Pelestarian dan Pemberdayaan Budaya Lampung.

Sebanyak 25 puisi karya Udo Z. Karzi mengisi antologi setebal 50 halaman ini. Semuanya ditulis dalam bahasa Lampung dialek Pesisir (dialek Api). Namun, bukan pembaca (etnis/nonetnis Lampung) yang dapat berbahasa Lampung saja yang dapat menikmati, pembaca yang sama sekali tak paham bahasa Lampung pun bisa menikmati antologi ini. Semua puisi berbahasa Lampung dalam antologi ini diberikan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Kehadiran antologi Momentum dalam khazanah sastra Lampung ini saya kira layak dicatat. Ada beberapa alasan mengapa antologi ini layak dicatat. Pertama, hadirnya antologi ini membuktikan bahwa sastrawan Lampung—dalam arti sastrawan yang menulis karya sastra dalam bahasa Lampung—masih ada. Udo Z. Karzi malah bukan saja sastrawan yang menulis karya sastra dalam bahasa Lampung, penyair ini memang beretnis Lampung, kelahiran Liwa, Lampung Barat, 12 Juni 1970. Ketika saya mempertanyakan keberadaan sastrawan Lampung—dalam arti tersebut—dalam sebuah esai saya di media massa, Udo Z. Karzi segera menanggapi esai saya itu dengan mengemukakan bahwa sastrawan Lampung benar-benar ada. Dan hadirnya antologi inilah salah satu buktinya.

Kamis, 21 November 2013

Janji Sebudi / Ingkar janji

SASTRA LAMPUNG


JANJI SEBUDI
INGKAR JANJI

Assalamulaikum, munyayan unyin kutti
ajo surat bitian, jama niku pakkalni
ajo hiwangni badan, tanno haga kubiti
hijjo radu bagian, hurik ku pissan sinji
tabik do jama tian, parwatin sai ngedengi
kittu ratong Pangeran, ampun di bawah kaki

Assalamu’alaikum, spada, sehatlah semua
Ini surat curahan, hanya untukmu kawan
Segala sesalan, saatnya kututurkan
Inilah nasib diri, dalam hidup yang sekali
Maaf bagi semua, andai surat ini terbaca
Bila tiba di Pangeran, ampun maaf hamba pohonkan


Injuk bagi ram pangan, lagi tippu sekeji
sikam ngebukak rasan, tehadap di puwari
nangguhkon kilu andan, diniku pai pakkal ni
asal mula burasan, injuk mak haga reji
segala dikicikan, payu hani puwari
kirani kindo pangan, ajo dia rupani
niku mena bulamban, nyak tinggal cadang hati
mejong nyak dilambung jan, miwang ngagugok jakhi
alang sakikku pangan, burasan kena budi
 

Bagi kita berdua, di pagi kala
Kita buka cerita, kepada semua
Berharap asa badan, padamu pujaan
Di awal semi cinta, tak begini ceritanya
Segala permintaan, semua dijanjikan
Kini apa terjadi, begini rupa diri
Kamulah yang mengingkari, ucapanmu sendiri
Ditangga pintu ku termangu, menangis bertopang dagu
Sakit rasanya diri, kau ingkari janji
 
-


Injuk bagini badan, sangun do di pandai
sakik lain tanggungan, nasib turun di bumi
sikam yu hinjang rulang, tiseruk pakai huwi
di riccini pumengan, tilabi pakai putti
mengan pissan kebiyan, mengan pagi mak dibbi
sakik malang ni badan, mak ngedok banding lagi
bagian ku jak Tuhan, tenyandangan ni dikhi


Inilah nasib badan, sakit tak terperikan
Berat kutanggungkan, dunia penuh impian
Pakaianpun tak pantas, jahitanpun kurang pas
Apalagi penganan, tak layak disajikan
Makan sekali sehari, makan pagi sore tak lagi
Sakit nian badan, rasapun tak terperikan
Inilah suratan Tuhan, yang harus kuterimakan

Kidang bagi ni pangan, liwan senang sekali
khadu massa inggoman, setuju jak lom hati
senang sai kabbak rasan, sai tuha sangun sudi
sai niku na mupappan, setuju di puwari
pekakha tenungguan, cukup mak kurang lagi
Sabah berak lautan, mak ngedok bandingan-ni
darak berak bubilang, kebun lada rik kupi
lamban ni sassai papan, hatok sing jak Betawi
sambil merugok pissan, mija dalih kerussi
bidang tukku ni lamban, lemari appai beli


Tapi nasibmu kawan, hidupmu selalu senang
Kini kau dapatkan pasangan, sesuai dengan impian
Sanak gembiraria, orangtuamu bangga
Kau nampak bahagia, sanak keluarga pun suka
Sarana menantimu, melengkapi bahagiamu
Hamparan sawah tanam padi, bagai tak bertepi
Ladang kebun sangat luasnya, lada kopi jua isinya
Rumahmu indah pilihan, hanya jakarta padanan
Ruang tertata rapi, dihiasi meja kursi
Sudu sudut rumahmu kawan. dionggok perabot pilihan

Ranno senangmu pangan, kapan kak sappai dudi
niku mittakh jak lamban, diiringko minak muwari
ya sappai di cukut jan, ngerasa senang hati
terus do niku pangan, tudungmu radu kari
kebayan radu budandan, kari lapahni lagi
dandananni jak tiyan, cukup mak kurang lagi
lapahdo niku pangan, tipenah tegi rani
wat nabuh taterbangan, haga nyambut kuwari


Betapa senang hidupmu, kebahagiaan menantimu
Berangkatlah kawan, seiring doa dipanjatkan
Injakkan kaki di tangga sana, kebahagianpun  terasa
Naiklah terus, suasana sejuk kan berhembus
Hiasanmu sangat megah, kebahagiaan cukup sudah
Mereka terima bangga, datanglah dengan sukacita
Pastikan langkahmu, bahagia menantimu
Gemerincing musik tabuh, simpati keluarga berlabuh

Di hadapan sawwa kebayan, bukelai bukak tari
tiyan bumain disan, ni tutuk senang hati
ya sappai sambut tangan, jajama hanjak hati
laju mulang mid lamban, niku nutuk jak buri
ya sappai dicukut jan, ticerok pakai kundi
ngisi bura kebayan, pakai nuttopkon hati
tekhus cakak mid lamban, mejong dunggak kekhusi
nerima pernikahan, seratta di janji ni
alang senang mu pangan, hukhik ni pippin Nabi


Kau disambut dua tangan, dengan aneka tarian
Aneka tari menari, menunjukkan sukacita dihati
Salam tangan terangkai, tak ada lagi bagai berbagai
Ikutilah pilihanmu, kebahagiaan menunggunu
Sesampai dipintu nanti, kau dipercik air suci
Terimah sejumlah baju, melengkapi cantikmu
Rumahmu istanamu, singgasanamu
Rekat ikatannya, tunaikan janjinya
Pegang ikrar ini, sesuai tuntunan Nabi

Ki injuk bagi ni badan, liwan malang sekali
huwok di penapian, pari rejang mak ngisi
ibarat babuwahan, radu buwah diuncukni
tikanik kindo pangan, mak ngedok rasa lagi
tijual mari pangan, hulun mak suka ngebeli
kittu tanno yu pangan, mahap nyak jama kutti
sambut salam ku pangan, akhir penghabisan ni
jejama semahapan, betik jahal ni diri


Lupakan aku kawan, lali dalam kehidupan
Bagai sekam maya, dari padi yang hampa
Bagai buah akhirnya, tak ada lagi sesudahnya
Dimakan, rasapun kan hilang
Ditawari, orang tak sdui beli
Pintaku kawan, maafkan kesalahan
Jabatlah lah tangan, tandanya perpisahan
Mohon maafkan, lebih ataupun kurang.




Minggu, 10 November 2013

Antara Huruf Kaganga, Jawi dan Pegon.

DALAM UPAYA PEMBERANTASAN BUTA HURUF DI LAMPUNG.

 

Jasa besar huruf Kaganga, Jawi dan Pegon adalah suksesnya pemberantasan butu huiruf di Lampung. Walaupun memang hingga kini buta aksara kambuhan masih tersisa, tetapi tampa peran huruf kaganga, jawi dan pegon maka apa yang dicapai oleh keberhasilan upaya pemberantasan buta huruf belumlah begini ketercapaiannya.  Dahulu sebelum
masyarakat mengenal huruf latin, mereka hanya mengenal huruf al-Quran, yaitu huruf Arab dan huruf  kaganga. Pada saat itu boleh boleh saja orang mengatakan bahwa penduduk Indonesia 98% buta huruf, tetapi ketahuilah pad saat yang sama justeru 90% melek huruf kagangan dan melek huruf al-Quran.
Huruf kaganga pada saat itu selain digunakan untuk saling tukar informasi antara satu dengan yang lain, huruf ini juga dijadikan huruf untuk mencatat berbagai temuan tentang obat obatan, rempah rempah dan makanan, serta berbagai jampi jampi yang pada saat itu sangat diyaniki memiliki daya majik yang berguna bagi  pelindung, penyerangan dan juga untuk kelancaran asmara. Naskah baskah yang berisikan hal tersebut diatas lazimnya ditulis dengan menggunakan huruf kaganga.  Keterampilan masyarakat membaca kaganga ternyata  sangat membantu pengajaran membaca huruf latin.

Tetapi peran huruf kaganga belumlah sedahsyat peran al-Quran dalam mencerdaskan bangsa ini. Setelah demikian berhasilnya para ulama Nusantara membumikan al-Quran di Nusantara, dan hampir 60%-an masyarakat mahir membaca hurus huruf Al-Quran, ulama Nusantara mulai banyak menerbitkan kitab kitab hasil karya mereka, mereka memanfaatkan huruf Jawi untuk menuliskan gagasan mereka dalam bentuk naskah dan kitab. Sedangkan bagi mereka yang dinilai kurang paham dan mahir dengan bahasa Melayu para ulama mereka huruf pegon.

Kata pegon berhasal dari kata pego yang berarti tidak beraturan. Memang huruf pegon, yaitu bahasa Jawa, Sunda dan Banten yang ditulis dengan huruf Al-Quran. Munculnya huruf pegon ini membuat semakin semaraknya penulisn kitab kitab dan naskah naskah lainnya. Dan hasil karya dalam huruf pegon ini membuat ummat menjadi semarak untuk belajar membaca.

Situasi seperti ini dimanfaatkan untuk mengkampanyekan program pemberantasan buta aksara latin. Itu pula  sebabnya maka muncul gagasan untuk pembelajaran huruf latin berbasis al-Quran. ternyata gagasan para ulama untuk melaksanakan pembelajaran huruf latin berbasis al-Quran ini ini ternyata adalah gagasan jenius yang pernah dimiliki oleh bangsa kita. Dan ternyata hasilnya luar biasa.

Sampai sampai zending/missionaris Kristen merasa perlu untuk memperkenalkan atau mensosialisasuikan Kitab Injil dengan berbasis al_Quran. Zending dan missionaris pada waktu berlomba loma menulis naskah  untuk penyebaran Injil yang dicetak dengan huruif al-Quran. Kebiasaan yang sebenarnya kurang terpuji ini nampaknya berlanjut hingga sekarang. Hasil dari usaha zending/ miissionaris ini memang hingga kini tidak menunjukkan hasil yang signifikan, tetapi tentu saja upaya ini mereka harapkan, pada suatu saat ummat akan terkecoh juga. Jalan yang ditempuh oleh Zending/ missionaris ini tentu saja mengacu atas keberhasilan upaya pemberantasa buta huruf berbasis al-Quran.

Sejarah Kian Santang


Kian Santang adalah tokoh tasawuf dari tanah pasundan yang ceritanya melegenda khususnya di hati masarakat pasundan dan kaum tasawuf ditanah air pada umumnya. Tokoh kian-santang ini pertama kali berhembus dan dikisahkan oleh raden CAKRABUANA atau pangeran walangsungsang ketika menyebarkan islam di tanah cirebon dan pasundan. Pangeran cakrabuana adalah anak dari prabu sili-wangi atau jaya dewata raja pajajaran, yang dilahirkan dari permaisuri ketiga yang bernama nyi subang larang, subang-larang sendiri murid dari mubaliq kondang yaitu syeh maulana-hasanudin atau terkenal dengan syeh kuro krawang.
Mulanya yaitu, ketika raden walangsungsang memilih untuk pergi meninggalkan galuh pakuan atau pajajaran, yang di sibebabkan oleh keberbedaan haluan dengan keyakinan ayahnya yang memeluk agama “shangyang”, pada waktu itu. diriwayatkan beliau berkelana mensyi’arkan islam bersama adiknya yaitu rara santang (ibu dari syarif hidayatullah atau “sunan gunung jati”) dengan membuka perkampungan di pesisir utara yang menjadi cikal-bakal kerajaan caruban atau kasunanan cirebon yang sekarang adalah “kota madya cirebon”.
Legenda kian-santang sendiri diambil dari sebuah
kisah nyata, dari tanah pasundan tempo dulu yang ceritanya pada waktu itu tersimpan rapi berbentuk buku di perpustakaan kerajaan pajajaran. Karena pajajaran adalah hasil penyatuan dua kerajaan antara galuh dan kerajaan sunda pura yang dimana kerajaan galuh dan sundapura adalah dua kerajaan pecahan dari taruma negara, yang di masa prabu PURNA-WARMAN yaitu raja ketiga dari kerajaan taruma negara yang di pecah menjadi dua yaitu tarumanegara yang berganti sundapura dan ibukota lama menjadi galuh pakuan. Dan jaya dewata menyatukan kembali dua pecahan kerajaan taruma negara menjadi pajajaran.