Jumat, 27 Agustus 2010

MENGENAL AKSARA/NASKAH KUNO DI NUSANTARA

(MEDIA DAN BAHASA YANG DIGUNAKAN DALAM PRASASTI)

PENGANTAR


Naskah kuno muncul setelah manusia mengenal tulis baca. Sebelum mengenal tulis baca, manusia menyampaikan pokok pokok pikirannya kepada orang lain melalui gundukan tanah, galian, benda benda yang mereka lambangkan dalam pengertian tertentu yang kebanyakan terbuat dari batu atau benda keras dan awet lainnya. Sehingga benda itu tidak gampang rusak serta tahan cuaca. Benda benda atau batu batu yang artifisialis itu, pada masa megalitik (batu besar) dikenal dalam beberapa bentuk seperti menhir, dolmen, batu bergores, batu berlubang dan lain sebagainya.

Setelah mengenal tulis baca, manusia menuangkan pikiran pikirannya kepada orang lain melalui tulisan tulisan tulisan. Dengan tulisan tulisan maka pikiran yang sampaikan dapat semakin lengkap dan detil, huruf demi huruf dapat dirangkai menjadi kata, kalimat, alenia, fasal, bab dan lain sebagainya.

Tulisan tulisan tersebut sagat penting bagi masyarakat sekarang adalah dalam rangka mengenali jalan pikiran mereka, sehingga kita menangkap jalan pikiran mereka, sejarah masa lampau. Tulisan tulisan itu dapat dikategorikan dalam beberapa hal, antara lain catatan sejarah, hukum hukum yang berlaku, pengumuman pengumuman, pelajaran pelajaran, resep obat, syair ya’ir. Dan lain sebagainya.

Naskah tulisan disebut naskah kuno manakala berisikan tulisan karya manusia yang mengandung nilai historis serta langka. Sedangkan naskah naskah lama yang mudah didapatkan serta telah berulangkali diperbanyak, dan bahkan bersumber dari wahyu Tuhan, yang dikenal dengan kitab suci tidak termasuk dalam kategori naskah kuno. Sekalipun penulisannya lebih dahlu dibanding naskah kuno yang lain. Tetapi ada juga yang mengkategorikannya sebagai naskah kuno, manakala tulisan tersebut ditulis pada media yang terbilang tradisional.

Media Yang Digunakan.

Naskah kuno antara lain ditulis pada media batu, kulit pohon, bambu, daun dan kertas. Media atu digunakan untuk menulis prasasti prasasti. Prasasti kebanyakan berisikan pengumuman pengumuman. Batu yang dipilih sebagai media dicarikan atau memang sengaja dibuat pipih, sehingga didapatkan permukaan datar, sehingga banyak angka dan huruf yang dapat dituliskan. Menulis pada media ini adalah dengan menatahkan huruf dan angka sehingga bermakna.
Media kulit kayu digunakan untuk menuliskan naskah yang lebih panjang lagi. Kulit kayu itu diolah sehingga hanya diambil seratnya saja, panjangnya bisa mencapai beberapa meter, sedang lebarnya sekitar sepuluh senti meter. Kulit kayu sejak awal dibuatkan lipatan lipatan sepanjang sekitar lima belas hingga dua puluih senti meter, sehingga permukannya ideal untuk dibaca dan dapat menuliskan sejumlah kalimat yang telah mengandung arti. Naskah kulit kayu ini dapat disimpan secara rapi karena memiliki bentuk segi empat yang sempurna. Penulisan naskah pada kulit kayu ini nampaknya menggunakan bara api dari kayu kecil, kira kira sebesar lidi.
Pada media bambu biasanya untuk menuliskan tulisan singkat, seperti surat pendek, ada juga berisikan silsilah atau tambo. Media bambu dapat disimpan lama dan mudah untuk dibawa bawa, itulah sebabnya media bambu ini praktis bila digunakan untuk menulis sebuah surat pendek.
Pada media daun dengan cara mengolah daun yang dikeringkan lalu dipotong berbentuk segi empat panjang, disusun-susun, pada ujungnya yang satu ditusuk dengan lidi pengikat, sehingga dapat diurai melalui ujung yang lain, sehingga berbentuk kipas. Halaman halaman daun itu dijadikan permukaan tempat menuliskan naskah. Banyak catatan catatan penting yang ditulis pada media ini yang berisikan resep pengobatan, jampi jampi dan lain sebagainya.
Setelah diketemukannya teknologi pembuatan kertas, maka naskah naskah kuno mulai dituliskan pada kertas, media ini jauh lebih tipis dibanding media yang lain. Tulisan dapat lebih rapi, dan ditulis dalam waktu yang lbih cepat. Menulis pada media kertas dapat menggunakan pena dan tinta, sehingga tlisan lebih terang dan selanjutnya manusia mengenal teknologi pencetakan naskah.


Bahasa yang digunakan dalam Prasasti di Nusantara.

Prasasti Nusantara adalah prasasti yang berasal dari wilayah Nusantara. Prasasti-prasasti ini ditulis dalam aksara serta bahasa-bahasa asli Nusantara dan bahasa-bahasa asing, seperti bahasa Sansekerta. Di bawah ini disajikan daftar seleksi beberapa prasasti Nusantara yang penting atau menarik. Semua tahun yang disebut di bawah ini adalah tahun Masehi.

Bahasa Sansekerta

Prasasti Mulawarman, Kutai, ~ 400
Prasasti Tarumanagara, Ciaruteun Jawa Barat, ~ 400
Prasasti Tukmas, Dakawu, Grabag, Magelang, Jawa Tengah.
Prasasti Canggal, Candi Gunung Wukir, Desa Kadiluwih, Salam, Magelang, Jawa Tengah, 732
Prasasti Tri Tepusan, Kedu, Temanggung, Jawa Tengah, 842
Prasasti Mula Malurung, Kediri, 1255

Bahasa Melayu

Prasasti-prasasti berikut berbahasa Melayu, baik bahasa Melayu Kuna maupun Melayu Klasik (Pertengahan).
Prasasti Kedukan Bukit, Palembang, Sumatra Selatan, 16 Juni 682
Prasasti Talang Tuwo, Palembang, Sumatra Selatan, 23 Maret 684
Prasasti Kota Kapur, Kota Kapur, Bangka, 686
Prasasti Karang Brahi, Karangberahi, Jambi, abad ke-7
Prasasti Telaga Batu, Palembang, Sumatra Selatan, abad ke-7
Prasasti Palas Pasemah, Palas,Lampung, abad ke-7
Prasasti Hujung Langit, Hujung Langit, Lampung
Prasasti Sojomerto, Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Batang, Jawa Tengah[1]
Prasasti Kayumwungan, Karangtengah, Temanggung, Jawa Tengah, 824 (dwibahasa, Melayu Kuna dan Jawa Kuna)
Prasasti Gandasuli I dan II, Candi Gondosuli, Desa Gondosuli, Kecamatan Bulu, Temanggung, Jawa Tengah, 832[2]
Keping Tembaga Laguna, Manila, Filipina, 900[2]
Prasasti Bukateja, Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah[2]
Prasasti Dewa Drabya, Dieng, Jawa Tengah[2]
Prasasti Mañjuçrighra, Candi Sewu, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, 2 November 792M[2]
Prasasti Terengganu, Trengganu (Malaysia), (abad ke-14, yaitu 1303, 1326 atau 1386)
Prasasti Minyetujoh, Minye Tujuh, Aceh, 1380

Bahasa Jawa

Prasasti-prasasti berikut berbahasa Jawa, baik Jawa Kuna (Kawi) maupun Baru.
Prasasti Sukabumi, Sukabumi, Pare, Kediri, Jawa Timur, 25 Maret 804
Prasasti Kayumwungan, Karangtengah, Temanggung, Jawa Tengah (dwibahasa), 824
Prasasti Siwagrha (Prasasti kakawin tertua Jawa), 856
Prasasti Taji, 901
Prasasti Mantyasih, Desa Meteseh, Magelang Utara, Jawa Tengah, 11 April 907
Prasasti Rukam, 907
Prasasti Wanua Tengah III, 908
Prasasti Mula Malurung, Kediri, 1255[3]
Prasasti Sarwadharma, pemerintahan Kertanegara, 1269
Prasasti Sapi Kerep, Desa Sapi Kerep, Sukapura, Probolinggo, 1275[3]
Prasasti Singhasari 1351, Singosari, Malang, Jawa Timur, 1351
Prasasti Wurudu Kidul, tanpa tahun.
Prasasti Ngadoman, Ngadoman (Salatiga), Jawa Tengah, 1450
Prasasti Pakubuwana X, Surakarta, Jawa Tengah, 1938
[sunting] Bahasa Bali
Prasasti Blanjong, Bali, 913 (dwibahasa, Bali Kuna dan Sanskerta)
Prasasti Bebetin, Bali, 1049 (salinan dari asli yang berasal dari tahun 896)

Bahasa Sunda

Prasasti Astana Gede, Kawali, Ciamis, Jawa Barat ~ 1350
Prasasti Batutulis, Bogor ~ 1533
Prasasti Kebantenan, Bekasi, Jawa Barat ~ 1521
Prasasti Galuh, Galuh, Ciamis, Jawa Barat ~ 1470
Prasasti Rumatak, Geger Hanjuang, desa Rawagirang, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat ~ 1111
Prasasti Cikajang, Cikajang, Garut, Jawa Barat
Prasasti Hulu Dayeuh, Huludayeuh, desa Cikalahang, Cirebon, Jawa Barat
Prasasti Ulubelu, Lampung

Bahasa Portugis
Padrão Sunda Kelapa, Pasar Ikan, Jakarta Utara, 21 Agustus 1522


Rujukan
^ Situs Kabupaten Batang,
^ a b c d e Situs "The History of Pasuruan Regency"
^ a b Intrik Berdarah Tak Jemu-jemu, artikel pada Kompas Online

Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_prasasti_di_Nusantara"


Selain Prasasti yang dituliskan pada batu, ada juga Prasasti naskah dalam bentuk dalung. Setidaknya ada dua dalung diketemukan di lampun yaitu dalung Kuripan yang diketemukan di Kecamatan penengahan lampung selatan dan Dalung Bojong yang diketemukan di desa Bojong Pugung raharjo Lampung Timur.


NASKAH INI MASIH DALAM PROSES PENYEMPURNAAN

8 komentar:

Anonim mengatakan...

Anwar Ridwan AF: Setelah melihat sejarah perkembangan aksara dan tulisan ternyata prosesmya cukup rumit dan panjang. Media yang digunakan pun tidak sama seperti yang kita gunakan saat ini. Karena manusia dahulu belum mengenal kertas mereka menggunakan media yang memang biasa mereka temui di alam seperti batu, bambu, dan daun.

Anonim mengatakan...

ANWAR RIDWAN AF: Setelah melihat sejarah perkembangan aksara dan tulisan ternyata prosesmya cukup rumit dan panjang. Media yang digunakan pun tidak sama seperti yang kita gunakan saat ini. Karena manusia dahulu belum mengenal kertas mereka menggunakan media yang memang biasa mereka temui di alam seperti batu, bambu, dan daun.
Untuk mengetahui informasi yang ada tentunya kita membutuhkan tulisan, dan sejarah membuktikan bahwa nenek moyang kita telah berjasa besar dalam rangka mengembangkan tulisan dan media yang kita gunakan sebagai alat menulis hingga seperti sekarang ini. Oleh sebab itu sudah sepantasnyalah kita berterima kasih kepada mereka dan menghargai ilmu yang telah diwariskan kepada kita serta menjaga peninggalan tersebut dan menggali potensi yang mungkin kita kembangkan.
Semakin berkembangnya teknologi memungkinkan perkembangan tulisan dan media tulisan semakin berkembang ke taraf yang lebih tinggi. Bila dahulu tulisan rusak akibat medianya yang berupa kertas yang rawan mudah karena rayap ata tulisannya luntur terkena air sekarang bias teratasi dengan media yang lebih modern seperti penyimpanan tulisan dalam flash disk yang begitu mudah dibawa dan memiliki ruang penyimpanan yang begitu besar. Dan saya kira perkembangan kebudayaan tidak hanya tulisan ataupun naskah kuno yang perlu kita jaga dan kembangkan namun seluruh aspek kehidupan yang melingkupi kekayaan Indonesia sehingga kita bias berkembang menjadi bangsa yang Berjaya.

Anonim mengatakan...

Subhanallah,ternyata perkembangan pengetahuan manusia begitu luar biasa.seperti hal mulanya Thales bapak Filsafat memberikan umpan tentang awal mula Dunia yang mengatakan AIR awal kehidupan .Dari sini saya menganalogikan tentang itu perkembangan rasio manusia yang menginginkan perubahan dirinya.termasuk dalam cara berkomunikasi manusia ketika itu,dari menggunakan media batu,media kulit kayu hingga teknik pembuatan kertas,melalui proses yang panjang hingga seperti sekarang ini. Penggunaan media komunikasi sekarang ini yang semakin berkembang dengan adanya teknologi canggih seperti akun fb dan sebagainya.Dari sini kita lebih menghargai peninggalan naskah kuno yang memiliki makna mendalam kala itu,dan melestarikan peninggalan nenek moyang.Sehingga kita dapat menjadi Bangsa yang menghargai Budaya Kuno serta mempertahankan keasliannya.

fachruddin54 Blog mengatakan...

Yang ketiga siapa yang tulis ya, harap tulis nama dong.

Anonim mengatakan...

GESIT YUDHA AF MAAF GA DITULIS NMANYA
Subhanallah,ternyata perkembangan pengetahuan manusia begitu luar biasa.seperti hal mulanya Thales bapak Filsafat memberikan umpan tentang awal mula Dunia yang mengatakan AIR awal kehidupan .Dari sini saya menganalogikan tentang itu perkembangan rasio manusia yang menginginkan perubahan dirinya.termasuk dalam cara berkomunikasi manusia ketika itu,dari menggunakan media batu,media kulit kayu hingga teknik pembuatan kertas,melalui proses yang panjang hingga seperti sekarang ini. Penggunaan media komunikasi sekarang ini yang semakin berkembang dengan adanya teknologi canggih seperti akun fb dan sebagainya.Dari sini kita lebih menghargai peninggalan naskah kuno yang memiliki makna mendalam kala itu,dan melestarikan peninggalan nenek moyang.Sehingga kita dapat menjadi Bangsa yang menghargai Budaya Kuno serta mempertahankan keasliannya.

Anonim mengatakan...

filologi adalah ilmu yng mempeljari dan menelaah nilai-nilai naskah-naskah sejarah, bila dikhususkan kenaskah-naskah lampung sulit sekali diketemukan, hanya sebagian saja yang dapat diketemukan. kebanyakan naskah-naskah ini kebanyakan dimiliki secara individu sehingga tidak berkemungkinan adanya penjualan. menyebabkan hilangnya nilai-nilai filosofi naskah kebudayaan lampung, karena beralih kelain pihak.

Anonim mengatakan...

GHOLIB RIDHO AF
filologi adalah ilmu yng mempeljari dan menelaah nilai-nilai naskah-naskah sejarah, bila dikhususkan kenaskah-naskah lampung sulit sekali diketemukan, hanya sebagian saja yang dapat diketemukan. kebanyakan naskah-naskah ini kebanyakan dimiliki secara individu sehingga tidak berkemungkinan adanya penjualan. menyebabkan hilangnya nilai-nilai filosofi naskah kebudayaan lampung, karena beralih kelain pihak.

Anonim mengatakan...

JUNAIDI DERMAN AF

Filologi berasal dari bahasa Yunani philein, "cinta" dan logos, "kata". Filologi merupakan ilmu yang mempelajari naskah-naskah manuskrip, biasanya dari zaman kuno.

Sebuah teks yang termuat dalam sebuah naskah manuskrip, terutama yang berasal dari masa lampau seringkali sulit untuk dipahami, tidak karena bahasanya yang sulit, tetapi karena naskah manuskrip disalin berulang-ulang kali. Dengan begini naskah-naskah banyak yang memuat kesalahan-kesalahan.

Tugas seorang filolog, nama untuk ahli filologi, ialah menelititi naskah-naskah ini, membuat laporan tentang keadaan naskah-naskah ini dan menyunting teks yang ada di dalamnya.

Ilmu filologi biasanya berdampingan dengan paleografi, atau ilmu tentang tulisan pada masa lampau.


Filologi sebagai Ilmu Bantu

Objek filologi adalah naskah-naskah yang mengandung teks sastra lama atau sastra tradisional. Filolog berkerja untuk memahami dan menelaah suatu naskah. Hasil telaah itu dapat di pergunakan untuk memahami perkembangan intelektualitas seseorang, adapt istiadat pada waktu itu dan bahkan dapat dipergunakan oleh ilmu-ilmu lain dalam mengkaji bidangnya masing-masing. Dalam pengertian penyajian teks, filologi bertindak sebagai ilmu bantu bagi ilmu-ilmu yang mempergunakanh naskah-naskah kuno sebagai objek kajiannya. Kiandungan dalam naskah lama itu beraneka ragam, jadi filologi membantu dalam mengelompokan sesuai dengan bidangnya. Ilmu-ilmu lain yang menjadikan filologi sebagai ilmu Bantu ialah ilmu sastra, ilmu sejarah, sejarah kebudayaan, ilmu hukum adat, ilmu agama, dan lain sebagainnya.


a. Filologi sebagai Ilmu Bantu Ilmu Sastra

Begitu banyaknya jumlah teks yang bernuansa sastra dan besarnya kecenderungan untuk menanganinya maka dalam perjalanan sejarah, filologi pernah di pandang sebagai ilmu sastra. Bantuan filologi terhadap ilmu sastra terutama berupa penyediaan sutingan naskah lama dan hasil penelaahan teks yang mungkin dapat dimanfaatkan sebagai bahan penyusunan sejarah sastra ataupun teori sastra. Hasil kajian dari teks lama akan sangat berguna untuk penyusunan teori-teori ilmu satra yang betul-betul bersifat umum.


b. Filologi sebagai Ilmu Bantu Sejarah Kebudayaan

Filologi banyak mengungkapkan khazanah ruhaniah warisan nenek moyang, misalnya kepercayaan, adat istiadat, dan kesenian. Melalui pembacaan atau penelaahan naskah banyak dijumpai penyebutan / pemberitahuan unsur-unsur budaya sekarang yang telah punah. Dengan memperhatikan hasil-hasil penelitian filologi menganai khazanah kebudayaan masyarakat, kita bisa mengetahui bagaimana perkembangan kebudayaan pada masyarakat itu.


c. Filologi sebagai Ilmu Bantu Sejarah

Naskah-naskah nusantara yang oleh pendukungnya di pandang berisi teks sejarah jumlahnya cukup banyak misalnya Negarakretagama, Pararaton, Babad tanah jawi, dan lain sebagainya. Naskah-naskah yang telah ditelaah oleh para filolog dapat di manfaatkan sebagiannya sebagai pengkajian sejarah nusantara. Selain itu, hasil-hasil kajian filologi yang telah di telaah dapat menjadi sumber primer dalam penelitian-penelitian sejarah berikutnya.

Jadi kesimpulannya :Filologi dan ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan naskah pasti memiliki hubungan timbal balik dan saling membutuhkan. Dalam kajian penelitian filologi, para filolog harus menguasai ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan teks yang akan di telaah. Dalam penelitian ilmu-ilmu lainnya, para ilmuwan juga harus menguasai filologi agar dapat mendapat sumber yang dekat dengan kebenaran.

Ilmu bantu yang di pakai oleh para filolog dalam penelitiannya ialah Ilmu Sejarah, Ilmu Sastra, Ilmu Budaya, Agama, Lingguistik, Paleografi, dan Antopologi. Filologi juga menjadi ilmu bantu dalam pengkajian sastra, sejarah, budaya, agama, dan lain-lain.