Senin, 25 September 2017

KIYAI ANSORI ZAWAWI


Ijinkan saya menyapa "Kiyai" Ansori Zawawi, dalam tata aturan suku Komering di mana Ia dibesarkan Kiyai di sini artinya bukan pemilik atau pengelola sebuah Pesantren seperti di Jawa Timur atau beberapa daerrah lainnya, tetapi  artinya Kakak atau Kanda, saya menyapa kakak memang karena beliau lebih dahulu masuk ke bangku pendidikan dibanding saya, sementara berapa tanggal lahirnya yang pas, saya tak begitu tahu. Bukan teman sekelas, tetapi jelas kakak kelas. Tetapi satu tempat kami mengaji Quran di bawah asuhan Ustadz Syafei di Pagelaran.  Hanya saja kami  berkesempatan berteman sejak ketika  masih kecil, beliau lebih dahulu menduduki bangku Perguruan Tinggi, pada saat itu beliau mulai banyak cerita kepads saya. pada saat itu saya duduk di kelas 2 SLTA, yang terkesan oleh saya karena pada saat itu beliau banyak cerita tentang Subhan ZE, Mahbub Junaidi dan Nurcholis Majid. Ketiga tokoh yang sangat dikaguminya, Tetapi tragisnya justeru saya hawer hawer mengenalnya. Diantara ketiga tokoh itu Nurcholis Majid yang paling banyak menjadi topik ceritanya, sementara saya baru sedikit sedikit mengenal Subchan ZE. Yang tokoh muda NU dan namanya sering menjadi topik berita sebagai satu satunya media komunikasi yang dapat kami jangkau. Sayang beliau wafat di usia muda.


Sebuah perbincangan yang sangat tidak seimbang, saya bukan lagi menjadi pendengar setia, melainkan pendengar yang kebingungan. Apa yang saya baca pada saat itu sangat tak sebanding dengan apa apa yang diocehkan kiyai Ansori. Sehungga saya memiliki dendam tersendiri, bahwa nanti pada suatu saat saya berkeinginan akan banyak bercerita tuntas tentang seseorang tokoh yang saya kagumi. Sayang justeru sejak saat itu selama puluhan tahun kami tak jumpa. Jika tak silaf dalam mengingat kami jumpa kembali tahun 2002 di Masjid Jami' Pagelaran desa kami, sayang tak sempat bincang karena banyaknya sanak famili yang menyalaminya, sehingga Say Hello kami tek sempurna terselenggara.

Pernah dalam satu kesempatan, ketika saya mengikuti Kongres HMI di Bandung, Saya bertanya kepada Panitia, apakah ada diantara Panitia yang bernama Ansori Zawawi dari Lampung, mereka menjawab tidak, Tetapi ada Ansori dari Lampung Namanya Irfan Anshori. Saya memang ditawarkan untuk jumpa, tetapi saya menolak karena memang tak kenal. Di luar dugaan saya pada suatu saat sayapun diperkenalkan oleh Redaktur Lampus karena kami berdua banyak menulis di harian itu. Ternyata Irfan Anshori sangat mengenal Hafis Zawawi. Andaikan saya bersedia dipertemukan dengan Irfan Anshori yang dari Lampung itu maka kemungkinan besar saya bisa jumpa dengan Ansori Zawawi, tetapi itu tidak saya lakukan karena saya terlibat menyusun strategi akan memilih Dzakki Siraj dalam Kongres itu sementara Teman teman dari Cabang Bandung menjagokan UKI Gustaman.

Namun demikian sekalipun hanya lewat SMS saya dan Irfan Anshori akhirnya berteman baik, Irfan Anshori merasa rindu dengan Hafis Zawawi, sementara saya merasa rindu  dengan Ansori Zawawi. Saya dan Irvan berjanji manakala saya bertemu Ansori saya akan sampaikan salam Irfan kepada Hafis Zawawi lewat Ansori Zawawi. Sedang bila Irfan ternyata lebih dahulu jumpa Hafis Zawawi, maka beliau akan kirim salam dari saya untuk Ansori lewat Hafis Zawawi. Tetapi belum juga kesampaian, ternyata Abang Irfan Anshori telah mendahului kami. Inna lillahi wa inna Ilaihi Roojiuun.

Namun demikian semangat saya ingin jumpa Kiyai Ansori Zawawi tak pernah padam, hanya saja ada sedikit perubahan, jika semula saya bertekad untuk bercerita banyak tentang orang yang saya kagumi dari berbagai sisinya, seperti yang dilakukan Oleh Kiyai Ansori Zawawi dahulu sekitar tahun 1072 lalu. tetapi hanya sedikit peningkatan status saya dari pendengar yang bingun menjadi pendengar yang setia, itu target saya bila diperkenan jumpa beliau. semoga,

Akan terwujudkah pertemuan itu entahlah, diusia yang sudah memasuki tahapan loyo ini, apalah yang bisa lakukan dalam berkomunikasi, Memang Kiyai Ansori Zawawi telah mengirim nomor WA nya via facebook, tetapi dalam waktu bersamaan HP saya terjatuh dan mengalami kerusakan yang agak serius, sehingga entah berapa lama saya tak bisa memanfaatkan jesempatan untuk berkomunikasi,memang manusia punya rencana Tuhanlah yang menentukan. Itulah lika likunya sebuah persahabatan.

BUKAN PERSAHABATAN BIASA.

Mari kita selamatkan karya orang tua kita.

Jangankan orang lain, isteri saya sendiri terheran heran akan kegembiraan yang sulit saya sembunyikan, menerima nomor WA Kiyai Ansori, sebagai sahabat sekaligus senior saya. Dia teman senior saya sejak waktu masih manak akanak dahulu, memang belum lagi tammat SD beliau telah sekolah di Kota, tetapi itu tak jadi hambatan bagi kami untuk bertemu pada saat saat liburan panjang sekalolah kami. Ansori Zawawi adalah putra dari Imam Besar Masjid kami, Masjid tua di Pagelaran di mana di masjid itu kami belajar huruf huruf hijaiyah. Haji Abdullah Zawawi nama beliau, sejak kecil kami merasa ada di bawah kepemimpinan belaiu.

Jauh sebelum ayah saya meninggal dunia, justeru ibu saya berceritera bahwa dahulu beliau senegaja menemui KH Abdullah Zawawi untuk menyampaikan gagasan pendirian Madrasah di Desa Pagelaran. Pada saat  itulah terasa sekali bahwa KLh Abdullah Zawawi memiliki harisma yang luar biasa, karena atas kewibawaan beliaulahj sejumlah orang menerima setelah KH Abdullah Zawawi mengajak mendukung pendirian Madrasah.

Orang tua saya yang sempat menjadi  salah seorang Pimpinan Masyumi ditahun 50-an nampaknya sebagai orang partai beliau memiliki sensitivitas ketika PKI berhasil mendapatkan banyak dukungan di beberapa desa di Kecamatan Pagelaran. Saya tak mendapat cerita secara detail, tetapi ketika saya sudah mulai memahaminya yang saya tahu beberapa desa yang nampaknya memiliki potensi sebagai basis PKI adalah Desa Pemenang, Pasisrukir, Umbul Solo, Puji Harjo dan mulai masuk Ke Sukaratu.

Dipahami bersama bahwa memang dibutuhkan Madrsah yang berdiri kokoh mengawal akidah ummat. Hanya dalam sekejab di bawah kepemimpinan KH Abdullah Zawawi kesepakatan kesepakatan penting itu terbangun. Dan madrasahpun didirikan, diberi nama Madrasah Wajib Belajar (MWB) Diharapkan secara bersama melalui Madrasah yang didirikan itu akan mengawal akidah ummat, khusnya penduduk Kecamatan  Pagelaran.

Ingin saya sampaikan bahwa sekolah tersebut sempat buming, setelah dikelola dari waktu, ke waktu yang melibatkan banyak orang, maka puncak kejayaan sekolah itu menjadi sanggat membanggakan muridpun membeludak dan mereka yang berpatisipasi di sekolah itu sangat gembiranya, Yayasan terbentukl. Pada saat itu pengelolanya adalah Bpk Iskandar, beliau adalah putra Bapak Juned, yang semua kita tahu bahwa beliau adalah tuan tanah di desa kita Pagelaran. Di hari hari tuanya Bpk Iskandar merasa kelelhan, dia tak lagi berdagang di pasar, sepertinya beliau ingin lebih konsentrasi beribadah.  .

Dikembalikan Kepada Kami.

Sungguh di luar dugaan Ketika Bpk Iskandar datang ke  Bang Syafruddin seraya menyerahkan kepemimpinan yayasan, seraya menterahkan murid dan bahkan gedung. Gedung sederhana Madrasah yang dibangun oleh masyarakat, yang hanya berdinding geribik itu digotong dan diletakkan di belakang rumah. Bpk Iskandar benar benar menyerah, lelah, ryupanya sudah berapa tahun terakhir belaiu sendiri yang mengelola, beliau sendiri yang harus mengatur keuangan yang mulai minus itu, lebih banyak didukung dari kekuatan para pelanggan toko kelontongannya di Pasar Pagelaran, nampaknya sebagai putra seorang Tuang Tanah, semula hal itu tidak menjadi masalah, tetapi seiring usia semakin menua, Iskandar berketetapan untuk menyerahkan kepemimpinan Yayasan kepada Syafruddin.


1 komentar:

Unknown mengatakan...

Terima kasih

karena sudah menjalin silaturahim baik dengan bapa saya

pada tanggal 21 Juni 2019 yang lalu Bapa saya telah meninggal dunia

Mohon dimaafkan apabila dalam hidupnya bapa saya ada salah dalam perkataan dan perbuatan