Sabtu, 30 November 2013

Indonesia's Official Tourism



World Royal Heritage Festival 2013
Di penghujung tahun 2013 ini, sejumlah acara menarik mewarnai Ibu Kota Jakarta. Salah satu yang berskala besar dan patut disaksikan adalah perhelatan World Royal Heritage Festival 2013. Festival ini diadakan di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat pada 5-8 Desember 2013.

Jumat, 29 November 2013

UBAT TIRAM



Salam ngebukak cawa..
Tabik sekam ngeganggu..
Salam haguk ngebalin rasa..
Panglidaw hati tiram selalu..

Langui mik lawok jawa..
Bulanting jak hamara..
Pengatu nihan cawa..
Dimaaf nyak salah cara..


Bangikni nganik kurma..
Makngedok rasa ruwa..
Helauni kik pujajama..
Ram kumpul lalang waya..

Regah sekam jak darak..
Lapah ngalama buka..
Satimbalan diwayak..
Budaya kanjak saka..

Magatol dang dikekui..
Mantang nganik karita..
Minak muwari sa Krui..
Kasi jak luwar juga..

Helaw kumbang tisiram..
Tikecah kiwat hama..
Kekalaw kik tihepui..
Riwah tiram tirasa..

Lapah neram jejama..
Tandang mit kububata..
Payudo indai kanca..
Nyambang dija cerita..

Nangguwang anjung reba..
Genalah lamon bala..
Api gawoh carita..
Cadangki ngandung SARA..

Kepalas nganyam bena..
Rubuh disebu angin..
Kerumasku tiram nana..
Teduhku mawek balin..

Cakak nyak dipepanca..
Mejong nginom kahuwa..
Wayakku induh ranya..
Witulung lajuko juga..

Sangon budiri tumbai..
Krui mawek bubilai..
Kicawaku kacecai..
Tabikyu maaf konpai..

Gubahan jk wayak krui seangkonan sai mena rijuk

Sabtu, 23 November 2013

Puisi Lampung Bawa Ke Ranah Nasional .., Bukan Sebaliknya.

Menghidupkan puisi Lampung menurut hemat saya bukan menterjemahkan puisi Nasional ke dalam bahas Lampung, tetapi harus sebaliknya. Agar karya kita tidak memberangus puisi Lampung. belajarlah kepada keberhasilan para dalag yang merekayasa 'Suluk' ke dalam bahasa Indonesia. Suluk itu adalah bahasa yang khas tetapi para dalang kini banyak yang mampu merekayasa suluk dalam bahasa Indonesia. Namun walaupun demikian mereka tidak kehilangan atau menghilangkan nuansa dan filosofi suluk, dalam bahasa Indonesia sekalipun. Cerita Indonesia itu di Jawakan dahulu baru disulukkan. para dalang tidak akan membawa begitu saja menampilkan cerita cerita luar ke dalam suluk.

Kalaupun mereka mendapatkan kesulitan atau belum sempat menyulukkan kisah maka diawal kata mereka tetap menggunakan bahasa Jawa : Buni gunjang ganjing langit kelap kelip, kol kutuk kadal gesit, semprong bolong buntu alu ... tok, tok suara ketuk dan gemerincing kecrean ditingkahi gendang lembut dan suara lengkingan  siter, seolah memanggil dari kejauhan ditambah lagi dengan rengean rebab yang mendayu dayu meminta kita menuju suatu tempat, di saat kita menimbang nimbang  gelegar gong seolah membenarkanm.  sehingga suasana Jawa sekali ..., Baru si dalang menutur kisah dalam bahasa Indonesia, logat Jawa. Tak lupa sang dalam menyebut nyebut Pringgodani dan beberapa nama para tokohnya  agar kalimah cerita terkait secara geografis dan personal. Mak sang dalangpun terlepas dari petaka membuang khas dunia pewayangan, dan suasana seperti itu masih diperkuat dengan pola pikir falsafah wayang. sekalipun disaji dalam bahasa Indonesia, tetapi para penonton telah disandra di Pringgodani dan tak kemana mana.

Antara Puisi Tradisional dan Modern dalam Bahasa Lampung.

Tulisan ini terinspirasi dari Tulisan Kuswarto.
Acungan jempol dan ucapan terima kasih sangat pantas diberikan kepada Udo Z.Karzi dan kawan kawan lainnya yang telah berusaha menghidupkan hazanah puisi dalam bahasa Lampung. Karya karya Udo Z Karzi mendapatkan dukungan positif dari mereka mereka yang paham selukbeluk perpuisian dan juga paham tentang bahasa Lampung, dan bahkan diantaranya juga mendapat dukungan positif dari para pecinta puisi yang sejatinya kurang memahami bahasa Lampung.

Namun sejauh itu bagi saya dan banyak lagi para pembaca yang kurang paham dengan puisi, namun oernah jatuh cinta atas sesama etnis Lampung yang cinta kami ditumpahkan dalam bentuk puisi dan berbahasa Lampung pula. Seperti apa yang dipahami banyak orang bahwa ketika kita jatuh cinta kepada seseorang, tiba tiba saja kita menjadi puitis, dan pengalaman seperti itulah yang membuat saya menyusun puisi dalam bahasa Lampung, maka ada kekhawatiran akan kehilangan nuansa puisi tradisional yang sempat membesarkan kami.

Sekalipun awam dalam hal puisi, tetapi bagi kami yang sempat bergelut dengan cinta di era remaja, menikmati puisi bukanlah hal yang sulit. memang kami tak pandai mengeritik puisi, tetapi tentu saja dengan gampangnya kami merasa kehilangan sesuatu dalam puisi ...