Minggu, 29 Agustus 2010

"SYAIR LAMPUNG KARAM" hidup kembali

SETELAH 125 TAHUN TERSEMBUNYI



DI dunia filologi, Suryadi adalah nama yang tengah bergaung. Ia ramai dibincangkan berkat temuannya tentang naskah klasik karya Muhammad Saleh: Syair Lampung Karam (SLK). Saleh, penulis asal Lampung (?) dan menjadi satu-satunya pribumi yang merekam betapa dahsyatnya letusan Gunung Krakatau pada 1883 itu. SLK ditulis tiga bulan setelah letusan dahsyat itu. Temuan Suryadi "menyingkap tabir" SLK selama 125 tahun tersimpan di beberapa negara. Telaah komprehensif ini dibukukan dengan judul Syair Lampung Karam, Sebuah Dokumen Pribumi tentang Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883 (cetakan ke-1 Agustus 2009 dan cetakan ke-2 Januari 2010). Buku yang dieditori Yurnaldi ini diterbitkan oleh Komunitas Penggiat Sastra Padang.

Letusan Krakatau menjadi horor amat mengerikan. Ia disebut-sebut sebagai letusan gunung berapi terhebat sepanjang sejarah. Gunung Krakatau yang terletak di Selat Sunda itu telah "batuk-batuk" sejak Mei 1883, tapi baru menggelegar pada 26, 27, dan 28 Agustus. Dan, puncak malapetaka dan kengerian itu terjadi pada 27 Agustus 1883. Letusan itu menimbulkan awan panas setinggi 70 km, tsunami disusul gelombang laut setinggi 40 meter, bumi jadi gelap, dan 36 ribu manusia dijemput maut.

Lebih dari seribu tulisan ilmiah tentang letusan Krakatau telah dipublikasikan, tetapi tak satu pun menyentuh SLK karya Muhammad Saleh itu. Selama 125 tahun SLK seperti tersembunyi di tempat-tempat sunyi: selain tersimpan di Indonesia, ia juga bersemayam di beberapa perpustakaan di Inggris, Belanda, Jerman, Rusia, dan Malaysia. Berkat ketekunan Suryadi, setelah selama dua tahun melakukan "perburuan", SLK kini jadi "hidup" kembali. Suryadi melakukan transliterasi dari huruf Jawi (Arab-Melayu) ke aksara Latin sehingga bisa dinikmati publik.

Filologi (bidang naskah lama) adalah dunia yang "sepi", yang tak mungkin mengantarkan siapa pun menjadi kaya dan terkenal. Tapi, di dalam dunia sepi itu justru membahagiakan pria yang pernah gagal menjadi pengajar tetap di almamaternya: Fakultas Sastra, Universitas Andalas, Sumatera Barat, juga Universitas Indonesia. Menekuni naskah-naskah lama, bagi Suryadi seperti berenang di laut luas, menyingkap rahasia masa silam yang tak terbayangkan oleh masa kini. Kegagalannya menjadi dosen di dalam negeri-karena tak pernah lulus ketika tes menjadi pegawai negeri, justru mengantarkan nasibnya lebih bersinar di Eropa. Pada 1998 ia diterima sebagai pengajar dan peneliti pada Jurusan Studi Asia Tenggara dan Oseania di Universitas Leiden, Belanda. Telah 12 tahun ia bermukim di Negeri Kincir Angin itu.



Hasil penelitian pria kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, 15 Februari 1965, ini telah dipublikasikan di berbagai jurnal internasional. Selain SLK, Suryadi juga telah mengkaji surat raja-raja Buton, Bima, Gowa, dan Minangkabau. Semuanya dimasukkan dalam satu proyek (Malay Concordance Project) yang berpusat di Australian National University, Canberra, Australia. Ia juga dipercaya memimpin satu proyek yang dibiayai British Library.

Sebagai "duta naskah-naskah lama" di mancanegara, Suryadi yang tengah menyusun disertasi program Ph.D di tempatnya mengajar, ini kerap diundang menjadi pembicara berbagai seminar pernaskahan di mancanegara. Mengambil momentum 127 tahun Gunung Krakatau meletus, Lampung Post mewawancarai ayah dua orang anak ini, lewat surat elektronik seputar Syair Lampung Karam. Berikut petikannya:

***

Punya arti apa baik secara pribadi maupun akademik penemuan SLK karya Muhammad Saleh bagi Anda?

Secara pribadi, saya merasa puas melihat hasil suntingan dan transliterasi teks SLK yang saya kerjakan ini mendapat apresiasi positif di Indonesia. Buku ini diekspos oleh beberapa media cetak seperti majalah Gatra dan Tempo serta diluncurkan dan dibedah juga di Newseum Cafe, Jakarta, 29 Juli lalu (yang digagas oleh Taufik Rahzen). Mudah-mudahan akan terbit juga resensinya di beberapa media cetak nasional. Saya kira apresiasi yang tinggi ini tak lepas dari momen yang tepat pula: bahwa buku ini terbit ketika negara kita beberapa tahun terakhir ini sering dilanda bencana alam, khususnya gempa bumi yang menimbulkan tsunami dan juga kerusakan hebat di darat seperti yang barusan terjadi di Aceh, Yogyakarta, dan Sumatera Barat.

Secara akademis, saya harap (dengan rendah hati) buku ini akan memberi sumbangan pagi body of knowledge tentang sastra Melayu lama dan juga mengenai sejarah natural disaster di dunia, khususnya di Indonesia. Buku ini berhasil mengungkapkan satu lagi dokumen pribumi mengenai sejarah masa lampau negeri kita. Dokumen seperti ini jelas langka, apalagi menyangkut bencana alam. Kita memang harus mengakui bahwa dulu, bahkan sampai sekarang, bangsa kita lebih menghidupi tradisi lisan. Jadi, dalam soal dokumen-dokumen dan data sejarah, mau tak mau kita tergantung ke sumber-sumber Barat, bangsa yang sudah lama hidup dalam budaya tulis. Tapi, dengan penemuan salinan-salinan teks SLK ini, terbukti bahwa bangsa kita juga pernah mencatat letusan Krakatau 1883 secara tertulis, yang merefleksikan bagaimana perspektif orang pribumi sendiri melihat bencana alam yang dahsyat itu. Saya sangat senang mengetahui bahwa beberapa studi terakhir mengenai sejarah bencana alam di Indonesia memperkaya rujukannya dengan hasil studi saya mengenai SLK ini, misalnya The Dutch Colonial Government and Its Response to the Krakatau Disaster oleh Erlita Tantri (Univ. Leiden, 2009; BA Thesis) dan The Indigenous Perception on Natural Disaster oleh Reza Indria (Univ. Leiden, 2010; MA Thesis).

Khusus untuk Lampung punya makna apa penemuan SLK?

Saya melihat kaitannya dengan judul yang diberikan kepada teks itu: Syair Lampung Karam. Judul itu terus-menerus menjadi semacam peringatan bagi warga Lampung yang sekarang "bertetangga" dengan Anak Krakatau, "keturunan" langsung Gunung Krakatau yang telah berkali-kali meluluhlantakkan kawasan pantai Lampung dan menimbulkan korban yang banyak sekali (konon sudah 11 kali meletus sejak zaman kuno). Kalau syair itu dipopulerkan di Lampung melalui berbagai macam alternatif mediasi dan adaptasi baru, mungkin ia akan berguna bagi masyarakat Lampung, baik dalam arti untuk menambah pengetahuan sejarah tentang negeri mereka, maupun sebagai warning agar warga Lampung khususnya, Indonesia umumnya, terus waspada menghadapi fenomena vulkanis yang memang hebat sekali di Selat Sunda, yang dekat sekali dengan Lampung.

Benarkah dari berbagai pelacakan Anda, SLK satu-satunya karya pribumi yang "merekam" meletusnya Krakatau?

Sampai saat ini saya mendapati memang teks (-teks) inilah satu-satunya sumber pribumi yang merekam letusan Krakatau 1883. Saya belum menemukan indikasi adanya teks lain karangan orang pribumi yang mencatat bencana alam yang dahsyat itu.

Siapa sesungguhnya Muhammad Saleh? Benarkah ia berasal dari Lampung atau dari tempat lain? Masih adakah jejak yang bisa dilacak?

Bisa saja, meskipun sulit. Bayangkan, pada waktu itu yang terjadi adalah sebuah catastrophe. Semua hancur, dan barangkali juga keluarga Muhamad Saleh sendiri. Dia hanya satu "noktah" kecil dari korban bencana besar dan dahsyat itu, yang membuat kehidupan di sana menjadi kacau balau dan dan boleh dibilang nyaris musnah, seperti digambarkan sendiri oleh Muhammad Saleh dalam Syair Lampung Karam. Jadi, sulit melacak siapa Muhammad Saleh sebenarnya. Jelas cukup sulit untuk menyusun biografinya yang lebih lengkap. Dari redaksi teks SLK, Muhammad Saleh menggambarkan bahwa dia berada di Lampung ketika bencana itu terjadi. Sangat mungkin dia adalah salah seorang korban letusan Krakatau yang berhasil mengungsi ke Singapura. Saya tak dapat memastikan apakah dia orang Lampung asli. Tapi, yang penting di sini bukan soal dari mana aslinya Muhamad Saleh; yang penting adalah bahwa dia adalah satu-satunya(?) orang pribumi yang telah meninggalkan warisan dokumen tertulis kepada kita tentang bencana alam letusan Krakatau 1883 yang mengerikan itu.

Apa benar SLK satu-satunya karya Saleh? Mungkinkah ada karya lain?

Saya belum menemukan karya (-karya) Muhammad Saleh yang lain. Tapi justru karena itu pula teks SLK ini unik. Maksud saya: karena ini satu-satunya karya Muhammad Saleh yang diketahui, maka kita dapat menduga bahwa dia bukan seorang sastrawan profesional, jika kita meminjam istilah sekarang, yang mungkin menulis fiksi, walau berdasarkan kenyataan sosial, untuk tujuan mencari uang. Saya menduga, Muhammad Saleh hanyalah orang biasa, yang tak berpretensi mengada-ada dalam karangannya yang hanya satu-satunya ini. Ia lebih sebagai seorang "pelapor", seperti layaknya seorang wartawan, ketimbang seorang penulis cerita (sastrawan). Ia mungkin telah bicara apa adanya, berdasarkan pengalaman dan keyakinan agamanya sendiri (Islam). Dalam teks SLK, dengan rendah hati Muhammad Saleh mengatakan ia tidak pandai mengarang syair. Tujuannya menulis syair itu semata-mata hanya untuk berbagi cerita duka warga Lampung yang dilanda musibah hebat itu kepada sesama orang pribumi.

Menurut Anda, dalam menulis Krakatau, penulis Barat lebih menekankan aspek geologis, sedangkan penulis Timur pada aspek kemanusiaan. Apakah ini sejalan dengan apa yang dikatakan Sutan Takdir Alisyahbana bahwa Barat hidup dalam kebudayaan progresif (dipengaruhi ilmu dan teknologi), sementara Timur hidup dalam kebudayaan ekspresif (yang dipengaruhi seni dan agama?

Saya setuju. Memang soal dimensi progresif dan ekspresif itulah yang membedakan secara hakiki antara orang Barat dan orang Timur, sebagaimana terefleksi dalam berbagai aspek kebudayaan masing-masing, termasuk hasil-hasil tulisan. Namun, bukannya tak ada dimensi kemanusiaan dalam laporan-laporan orang Eropa tentang letusan hebat Krakatau 1883. Tetapi, tetap saja ada bedanya dengan cara seorang pribumi seperti Muhammad Saleh memandang tragedi itu. Coba lihat betapa kentalnya dimensi keagamaan dalam "laporan" Muhamad Saleh dalam SLK. Orang pribumi melihat peristiwa itu sebagai cobaan dari Allah terhadap manusia yang mungkin sudah banyak berbuat dosa. Hal ini telah dibahas dengan menarik sekali oleh Reza Indria dalam tesisnya yang sudah saya sebut di atas. Orang Eropa melihatnya berdasarkan logika: ini sebuah gejala alam akibat peristiwa geologis dalam kerak bumi.

Apa benar SLK diabaikan banyak peneliti karena banyak sejarawan kurang memahami aksara Jawi?

Saya duga demikian. Dalam kurikulum sejarah di Indonesia, misalnya, tak ada mata kuliah membaca aksara Jawi. Itu aneh sekali. Jadi, wajar saja kalau banyak sejarawan tak bisa membaca aksara Jawi. Faktor lain: ada anggapan catatan-catatan orang Barat dianggap sebagai data sejarah yang lebih akurat. Tulisan-tulisan orang pribumi dianggap absurd atau mengandung unsur fiksi. Pandangan seperti ini jelas terkait pula dengan sejarah ilmu pengetahuan modern. Ada semacam pandangan Eropa sentris di sana.

Bukankah banyak naskah lama di Nusantara juga ditulis dengan huruf Jawi dan banyak pula yang sudah ditransliterasi?

Ya, ada lebih 18 ribu naskah seperti itu yang berasal dari berbagai tempat di Nusantara yang kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, belum lagi di tempat lain seperti London, Berlin, Paris, dll. Banyak yang sudah diteliti dan ditransliterasi, tapi lebih banyak lagi yang belum disentuh tangan peneliti.

Dalam buku Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik karangan Liaw Yock Fang, SLK tidak disinggung; apakah ini juga karena Fang tak paham huruf Jawi? Atau karena memang kurang mendapatkan informasi?

Liauw Yock Fang paham sekali huruf Jawi. Ini terbukti dari disertasinya tentang Undang-Undang Malaka. Anda betul, SLK tidak tercatat dalam karya Liauw Yock Fang yang Anda sebutkan di atas, karena saya kira dia tidak berhasil mengidentifikasi keberadaan teks itu beserta salinan-salinannya yang tersimpan di beberapa negara.

Sri Wulan Rudjiati (almarhum) satu-satunya filolog (sebelum Anda) yang meneliti Syair Lampung Karam? Kesimpulan apa yang bisa diambil dari bahasan Sri Wulan tentang Syair Lampung Karam?

Benar. Almarhum Ibu Sri Wulan mentransliterasikan edisi pertama syair itu (edisi 1883—1884), tapi ia tidak membandingkannya dengan edisi-edisi yang lain. Dia tidak tahu di (negara) mana edisi-edisi yang lain itu tersimpan. Hal itu saya jelaskan dalam bagian pengantar buku saya. Pada awal 1990-an, Ian Proudfood dari ANU Australia memberikan catatan bibliografis mengenai salinan-salinan syair ini (lihat Produfoot, 1993).

Dari sekian banyak telaah naskah lama, Syair Lampung Karam paling memuaskan Anda?

O ya, dengan terbitnya buku ini saya merasa puas, karena saya berhasil memberitahukan kepada umum, khususnya kalangan akademisi, mengenai keberadaan teks ini yang selama ini seperti dilupakan begitu saja. Soalnya, Krakatau, akibat letusannya yang mahahebat itu, gunung yang paling menarik banyak ilmuwan (dari berbagai disiplin) di dunia. Tapi mereka seperti "buta" terhadap keberadaan SLK ini.

Dari segi sumber kajian, Indonesia termasuk negeri kaya naskah-naskah lama? Bagaimana minat para filolog terhadap sastra lama kita?

Jelas Indonesia adalah negeri yang kaya dengan naskah-naskah lama. Sekarang masih terus dilakukan berbagai pemotretan naskah-naskah lama yang ada di masyarakat. Lihat misalnya proyek-proyek di Indonesia yang dibiayai oleh The British Library (http://www.bl.uk/about/policies/endangeredarch/asia.html#sea).

Minat peneliti mancanegara (tidak hanya filolog) masih cukup tinggi. Namun, akhir-akhir ini ada semacam pergeseran bahwa minat itu beralih ke negara-negara Asia sendiri.

Anda menggeluti dunia "sepi", obesesi apa yang belum terwujud?

Abila saya memasuki ruang naskah di Perpustakaan Universitas Leiden, dan juga perpustakaan-perpustakaan lain di dunia, saya selalu tertarik untuk membaca naskah-naskah Melayu beraksara Jawi. Saya selalu ingin membacanya dan mengetahui apa isinya. Jadi, kalau bicara obsesi, saya ingin bilang bahwa mudah-mudahan saya diberi Tuhan umur panjang untuk selalu dapat membaca naskah-naskah itu dan menulis karya ilmiah; artikel, buku mengenainya. Suatu obsesi yang pasti dinilai cukup aneh di zaman sekarang ini di mana orang berlomba menjadi politikus dan selebritas. (Djadjat Sudradjat)

Dumber : Lampost Edisi 29 Agustus 2010

Jumat, 27 Agustus 2010

MENGENAL AKSARA/NASKAH KUNO DI NUSANTARA

(MEDIA DAN BAHASA YANG DIGUNAKAN DALAM PRASASTI)

PENGANTAR


Naskah kuno muncul setelah manusia mengenal tulis baca. Sebelum mengenal tulis baca, manusia menyampaikan pokok pokok pikirannya kepada orang lain melalui gundukan tanah, galian, benda benda yang mereka lambangkan dalam pengertian tertentu yang kebanyakan terbuat dari batu atau benda keras dan awet lainnya. Sehingga benda itu tidak gampang rusak serta tahan cuaca. Benda benda atau batu batu yang artifisialis itu, pada masa megalitik (batu besar) dikenal dalam beberapa bentuk seperti menhir, dolmen, batu bergores, batu berlubang dan lain sebagainya.

Setelah mengenal tulis baca, manusia menuangkan pikiran pikirannya kepada orang lain melalui tulisan tulisan tulisan. Dengan tulisan tulisan maka pikiran yang sampaikan dapat semakin lengkap dan detil, huruf demi huruf dapat dirangkai menjadi kata, kalimat, alenia, fasal, bab dan lain sebagainya.

Tulisan tulisan tersebut sagat penting bagi masyarakat sekarang adalah dalam rangka mengenali jalan pikiran mereka, sehingga kita menangkap jalan pikiran mereka, sejarah masa lampau. Tulisan tulisan itu dapat dikategorikan dalam beberapa hal, antara lain catatan sejarah, hukum hukum yang berlaku, pengumuman pengumuman, pelajaran pelajaran, resep obat, syair ya’ir. Dan lain sebagainya.

Naskah tulisan disebut naskah kuno manakala berisikan tulisan karya manusia yang mengandung nilai historis serta langka. Sedangkan naskah naskah lama yang mudah didapatkan serta telah berulangkali diperbanyak, dan bahkan bersumber dari wahyu Tuhan, yang dikenal dengan kitab suci tidak termasuk dalam kategori naskah kuno. Sekalipun penulisannya lebih dahlu dibanding naskah kuno yang lain. Tetapi ada juga yang mengkategorikannya sebagai naskah kuno, manakala tulisan tersebut ditulis pada media yang terbilang tradisional.

Media Yang Digunakan.

Naskah kuno antara lain ditulis pada media batu, kulit pohon, bambu, daun dan kertas. Media atu digunakan untuk menulis prasasti prasasti. Prasasti kebanyakan berisikan pengumuman pengumuman. Batu yang dipilih sebagai media dicarikan atau memang sengaja dibuat pipih, sehingga didapatkan permukaan datar, sehingga banyak angka dan huruf yang dapat dituliskan. Menulis pada media ini adalah dengan menatahkan huruf dan angka sehingga bermakna.
Media kulit kayu digunakan untuk menuliskan naskah yang lebih panjang lagi. Kulit kayu itu diolah sehingga hanya diambil seratnya saja, panjangnya bisa mencapai beberapa meter, sedang lebarnya sekitar sepuluh senti meter. Kulit kayu sejak awal dibuatkan lipatan lipatan sepanjang sekitar lima belas hingga dua puluih senti meter, sehingga permukannya ideal untuk dibaca dan dapat menuliskan sejumlah kalimat yang telah mengandung arti. Naskah kulit kayu ini dapat disimpan secara rapi karena memiliki bentuk segi empat yang sempurna. Penulisan naskah pada kulit kayu ini nampaknya menggunakan bara api dari kayu kecil, kira kira sebesar lidi.
Pada media bambu biasanya untuk menuliskan tulisan singkat, seperti surat pendek, ada juga berisikan silsilah atau tambo. Media bambu dapat disimpan lama dan mudah untuk dibawa bawa, itulah sebabnya media bambu ini praktis bila digunakan untuk menulis sebuah surat pendek.
Pada media daun dengan cara mengolah daun yang dikeringkan lalu dipotong berbentuk segi empat panjang, disusun-susun, pada ujungnya yang satu ditusuk dengan lidi pengikat, sehingga dapat diurai melalui ujung yang lain, sehingga berbentuk kipas. Halaman halaman daun itu dijadikan permukaan tempat menuliskan naskah. Banyak catatan catatan penting yang ditulis pada media ini yang berisikan resep pengobatan, jampi jampi dan lain sebagainya.
Setelah diketemukannya teknologi pembuatan kertas, maka naskah naskah kuno mulai dituliskan pada kertas, media ini jauh lebih tipis dibanding media yang lain. Tulisan dapat lebih rapi, dan ditulis dalam waktu yang lbih cepat. Menulis pada media kertas dapat menggunakan pena dan tinta, sehingga tlisan lebih terang dan selanjutnya manusia mengenal teknologi pencetakan naskah.


Bahasa yang digunakan dalam Prasasti di Nusantara.

Prasasti Nusantara adalah prasasti yang berasal dari wilayah Nusantara. Prasasti-prasasti ini ditulis dalam aksara serta bahasa-bahasa asli Nusantara dan bahasa-bahasa asing, seperti bahasa Sansekerta. Di bawah ini disajikan daftar seleksi beberapa prasasti Nusantara yang penting atau menarik. Semua tahun yang disebut di bawah ini adalah tahun Masehi.

Bahasa Sansekerta

Prasasti Mulawarman, Kutai, ~ 400
Prasasti Tarumanagara, Ciaruteun Jawa Barat, ~ 400
Prasasti Tukmas, Dakawu, Grabag, Magelang, Jawa Tengah.
Prasasti Canggal, Candi Gunung Wukir, Desa Kadiluwih, Salam, Magelang, Jawa Tengah, 732
Prasasti Tri Tepusan, Kedu, Temanggung, Jawa Tengah, 842
Prasasti Mula Malurung, Kediri, 1255

Bahasa Melayu

Prasasti-prasasti berikut berbahasa Melayu, baik bahasa Melayu Kuna maupun Melayu Klasik (Pertengahan).
Prasasti Kedukan Bukit, Palembang, Sumatra Selatan, 16 Juni 682
Prasasti Talang Tuwo, Palembang, Sumatra Selatan, 23 Maret 684
Prasasti Kota Kapur, Kota Kapur, Bangka, 686
Prasasti Karang Brahi, Karangberahi, Jambi, abad ke-7
Prasasti Telaga Batu, Palembang, Sumatra Selatan, abad ke-7
Prasasti Palas Pasemah, Palas,Lampung, abad ke-7
Prasasti Hujung Langit, Hujung Langit, Lampung
Prasasti Sojomerto, Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Batang, Jawa Tengah[1]
Prasasti Kayumwungan, Karangtengah, Temanggung, Jawa Tengah, 824 (dwibahasa, Melayu Kuna dan Jawa Kuna)
Prasasti Gandasuli I dan II, Candi Gondosuli, Desa Gondosuli, Kecamatan Bulu, Temanggung, Jawa Tengah, 832[2]
Keping Tembaga Laguna, Manila, Filipina, 900[2]
Prasasti Bukateja, Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah[2]
Prasasti Dewa Drabya, Dieng, Jawa Tengah[2]
Prasasti Mañjuçrighra, Candi Sewu, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, 2 November 792M[2]
Prasasti Terengganu, Trengganu (Malaysia), (abad ke-14, yaitu 1303, 1326 atau 1386)
Prasasti Minyetujoh, Minye Tujuh, Aceh, 1380

Bahasa Jawa

Prasasti-prasasti berikut berbahasa Jawa, baik Jawa Kuna (Kawi) maupun Baru.
Prasasti Sukabumi, Sukabumi, Pare, Kediri, Jawa Timur, 25 Maret 804
Prasasti Kayumwungan, Karangtengah, Temanggung, Jawa Tengah (dwibahasa), 824
Prasasti Siwagrha (Prasasti kakawin tertua Jawa), 856
Prasasti Taji, 901
Prasasti Mantyasih, Desa Meteseh, Magelang Utara, Jawa Tengah, 11 April 907
Prasasti Rukam, 907
Prasasti Wanua Tengah III, 908
Prasasti Mula Malurung, Kediri, 1255[3]
Prasasti Sarwadharma, pemerintahan Kertanegara, 1269
Prasasti Sapi Kerep, Desa Sapi Kerep, Sukapura, Probolinggo, 1275[3]
Prasasti Singhasari 1351, Singosari, Malang, Jawa Timur, 1351
Prasasti Wurudu Kidul, tanpa tahun.
Prasasti Ngadoman, Ngadoman (Salatiga), Jawa Tengah, 1450
Prasasti Pakubuwana X, Surakarta, Jawa Tengah, 1938
[sunting] Bahasa Bali
Prasasti Blanjong, Bali, 913 (dwibahasa, Bali Kuna dan Sanskerta)
Prasasti Bebetin, Bali, 1049 (salinan dari asli yang berasal dari tahun 896)

Bahasa Sunda

Prasasti Astana Gede, Kawali, Ciamis, Jawa Barat ~ 1350
Prasasti Batutulis, Bogor ~ 1533
Prasasti Kebantenan, Bekasi, Jawa Barat ~ 1521
Prasasti Galuh, Galuh, Ciamis, Jawa Barat ~ 1470
Prasasti Rumatak, Geger Hanjuang, desa Rawagirang, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat ~ 1111
Prasasti Cikajang, Cikajang, Garut, Jawa Barat
Prasasti Hulu Dayeuh, Huludayeuh, desa Cikalahang, Cirebon, Jawa Barat
Prasasti Ulubelu, Lampung

Bahasa Portugis
Padrão Sunda Kelapa, Pasar Ikan, Jakarta Utara, 21 Agustus 1522


Rujukan
^ Situs Kabupaten Batang,
^ a b c d e Situs "The History of Pasuruan Regency"
^ a b Intrik Berdarah Tak Jemu-jemu, artikel pada Kompas Online

Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_prasasti_di_Nusantara"


Selain Prasasti yang dituliskan pada batu, ada juga Prasasti naskah dalam bentuk dalung. Setidaknya ada dua dalung diketemukan di lampun yaitu dalung Kuripan yang diketemukan di Kecamatan penengahan lampung selatan dan Dalung Bojong yang diketemukan di desa Bojong Pugung raharjo Lampung Timur.


NASKAH INI MASIH DALAM PROSES PENYEMPURNAAN

BAHASA DAN AKSARA KUNO DI NUSANTARA

PENGANTAR


Untuk menyampaikan pokok pokok pikiran serta komunikasi lainnya, semua manusia hanya melakukannya dengan kata kata belaka. Lalu berkembang dengan kesepakatan manusia menentukan arti dari lambang lambang, maka muncullah tuilisan dalam bentuk lambang. Lalu manusia menemukan huruf. Ini terjadi dalam proses panjang, sedikit demi sedikit, lalu berkembang kearah kesempurnaan. Masing masing kelompok memiliki hurufnya masing masing, sehingga siapa sebenarnya yang pertama kali menemukan huruf, menjadi sulit diketemukan. Perbedaan antara huruf dan alpabet yang satu dengan yang lain tergantung kepada jumlah pemakainya. Bagi aksara yang banyak digunakan manusia, maka aksara tersebut keberadaannya akan lebih lama, sementara aksara yang jarang digunakan atau tidak lagi digunakan, akan hilang dengan sendirinya.

Kontak manusia antara satu kelompok dengan kelompok yang lain, lebih banyak dilakukan melalui aktivitas perdagangan, yang semula perdagangan ini juga dalam bentuk barter, saling tukar menukar, sesuai dengan kebutuhan mereka, untuk memiliki barang barang tertentu, yang secara kebetulan dimiliki oleh orang lain, maka bisa didapatkan dengan menukarnya dengan barang barang yang ada pada kita, yang bagi orang lain dibutuhkan atau berharga.

Bisa kita bayangkan, jika kita butuh telur, maka kita mencari orang yang punya telur, lalu kita tukar telurnya dengan barang yang lain yang ia butuhkan. Atau sebaliknya, kita punya telur dalam jumlah yang banyak maka, kita menawar nawarkan, telur itu ke lain, orang, lain kampung, lain suku dan seterusnya, maka terjadilah pergaulan antar sesama manusia.

Sebelum manusia mengnal uang, maka alat tukar setelah era barter adalah barang barang berharga, seperti kain sutera, logam, emas, perak, guci dan sebagainya. Masing masing daerah berbeda beda seleranya. Ketika komunikasi sudah demikian kompleknya maka dibutukan tulisan tulisan atau catatan catatan, karena tidak semua perjanjian dagang dapat kita ingat dalam waktu yang lama. Sering terjadi perselisihan antara satu dengan yang lain, karena berbeda ingatan mereka. Lalu mereka bersepakat untuk membuat catatan catatan.

Wilayah Indonesia sebagai penghasil rempah rempah dan hasil hutan lainnya, banyak didatangi oleh pedagang pedagang asing, yang datang membawa barang barang hasil produk mereka, sambil mencari hasil hutan dan rempah rempah Indonesia. Pergaulan masyarakat Indonesia dengan para pedagang itu membawa pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan aksara di Indonesia.

Berdasarkan sejarah, bahwa aksara yang berkembang di Nusantara ini adalah pengaruh dari India yang dikenal dengan Aksara Brahmi. Aksara Brahmi adalah aksara yang digunakan di India semasa pemerintahan Raja Asoka (270 SM - 232 SM). Aksara ini ditulis dari kiri ke kanan meskipun berdasarkan huruf Aram atau huruf Fenisia di Timur Tengah yang ditulis dari kanan ke kiri.
Aksara Brahmi ini untuk perkembangan aksara di Asia sangatlah penting, sebab ini adalah cikal bakal semua aksara di India dan juga di Asia Tenggara, termasuk di Nusantara.
Melalui India Utara memunculkan Pra Nagari maupun Dewanagari, sedang melalui Indis Selatan memunculkan aksara Pallawa, yang melahirkan aksara Kawi. Aksara Kawi memunculkan Aksara Buda, Jawa-Bali dan Proto Sumatera. Proto Sumatera yang memunculkan aksara Batak, Kagangan, Bugis (Baybain)



===================================================================================

HURUF PEGON, AKSARA JAWI DAN AKSARA NUSANTARA

PEGON

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Huruf Pegon adalah huruf Arab atau lebih tepat: Huruf Jawi yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa juga Bahasa Sunda. Kata Pegon konon berasal dari bahasa Jawa pégo yang berarti menyimpang. Sebab bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Arab dianggap sesuatu yang tidak lazim.

Berbeda dengan huruf Jawi, yang ditulis gundul, pegon hampir selalu dibubuhi tanda vokal. Jika tidak, maka tidak disebut pegon lagi melainkan gundhul. Bahasa Jawa memiliki kosakata vokal (aksara swara) yang lebih banyak daripada bahasa Melayu sehingga vokal perlu ditulis untuk menghindari kerancuan.

Di bawah ini adalah daftar huruf-huruf pegon. Huruf-huruf yang tidak ada dalam huruf Arab yang sejati, diberi lingkaran.


Huruf-Huruf Pegon




Harkat(Jawa: Sandhangan) Huruf Pegon



Huruf pegon di Jawa terutama dipergunakan oleh kalangan umat Muslim yang taat, terutama di pesantren-pesantren. Biasanya ini hanya dipergunakan untuk menulis komentar pada Al-Qur'an, tetapi banyak pula naskah-naskah manuskrip cerita yang secara keseluruhan ditulis dalam pegon. Misalkan naskah-naskah Serat Yusup.

Bacaan selanjutnya
Th. Pigeaud, Literature of Java, volume III, 1970, 76 - 80
B. Arps, Tembang in Two Traditions, 1992
Titik Pudjiastuti, Sadjarah Banten, 2000, 94 - 111

HURUF JAWI

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Abjad Jawi.Huruf Jawi (بهاس ملاي) (Bahasa Arab: جوي Jăwi) (atau Yawi di daerah Patani) adalah abjad arab yang diubah untuk menuliskan Bahasa Melayu. Abjad ini digunakan sebagai salah satu dari tulisan resmi di Brunei, dan juga di Malaysia, Indonesia, Filipina selatan, Patani di Thailand selatan dan Singapura untuk keperluan religius.

Sejarah

Kemunculannya berkait secara langsung dengan kedatangan agama Islam ke Nusantara. Abjad ini didasarkan pada abjad arab dan digunakan untuk menuliskan ucapan Melayu. Dengan demikian, tidak terhindarkan adanya tambahan atau modifikasi beberapa hurufuntuk mengakomodasi bunyi yang tidak ada dalam bahasa Arab (misalnya ucapan /o/, /p/, atau /ŋ/).

Bukti terawal tulisan Jawi ini berada di Malaysia dengan adanya Prasasti Terengganu yang bertarikh 702 Hijriah atau abad ke-14 Masehi (Tarikh ini agak problematis sebab bilangan tahun ini ditulis, tidak dengan angka). Di sini hanya bisa terbaca tujuh ratus dua: 702H. Tetapi kata dua ini bisa diikuti dengan kata lain: (20 sampai 29) atau -lapan -> dualapan -> "delapan". Kata ini bisa pula diikuti dengan kata "sembilan". Dengan ini kemungkinan tarikh ini menjadi banyak: (702, 720 - 729, atau 780 - 789 H). Tetapi karena prasasti ini juga menyebut bahwa tahun ini adalah "Tahun Kepiting" maka hanya ada dua kemungkinan yang tersisa: yaitu tahun 1326M atau 1386M.

Abjad Jawi adalah salah satu dari abjad pertama yang digunakan untuk menulis bahasa Melayu, dan digunakan sejak zaman Kerajaan Pasai, sampai zaman Kesultanan Malaka, Kesultanan Johor, dan juga Kesultanan Aceh serta Kesultanan Patani pada abad ke-17. Bukti dari penggunaan ini ditemukan di Batu Bersurat Terengganu, bertarikh 1303 Masehi ( atau 702H pada Kalendar Islam). Penggunaan alfabet Romawi pertama kali ditemukan pada akhir abad ke-19. Abjad jawi merupakan tulisan resmi dari Negeri-negeri Melayu Tidak Bersekutu pada zaman kolonialisme Britania.

Zaman dahulu, abjad jawi memainkan peranan penting dalam masyarakat. Abjad ini digunakan sebagai media perantara dalam semua urusan tata usaha, adat istiadat, dan perdagangan. Sebagai contoh, huruf ini digunakan juga dalam perjanjian-perjanjian penting antara pihak raja Melayu dengan pihak Portugis, Belanda, atau Inggeris. Selain itu, pernyataan kemerdekaan 1957 bagi negara Malaysia sebagian juga tertulis dalam aksara jawi.

Sekarang abjad ini digunakan untuk urusan kerohanian dan tata usaha budaya Melayu di Terengganu, Kelantan, Kedah, Perlis, dan Johor. Orang-orang Melayu di Patani masih menggunakan abjad Jawi sampai saat ini.

Huruf Jawi

Karakter Berdiri Sendiri Awal Tengah Akhir Nama
ا ﺍ ﺎ alif
ب ﺏ ﺑ ﺒ ﺐ ba
ت ﺕ ﺗ ﺘ ﺖ ta
ث ﺙ ﺛ ﺜ ﺚ tsa
ج ﺝ ﺟ ﺠ ﺞ jim
ح ﺡ ﺣ ﺤ ﺢ ha
چ ﭺ ﭼ ﭽ ﭻ ca
خ ﺥ ﺧ ﺨ ﺦ kha
د ﺩ ﺪ dal
ذ ﺫ ﺬ dzal
ر ﺭ ﺮ ra
ز ﺯ ﺰ zai
س ﺱ ﺳ ﺴ ﺲ sin
ش ﺵ ﺷ ﺸ ﺶ syin
ص ﺹ ﺻ ﺼ ﺺ ṣad
ض ﺽ ﺿ ﻀ ﺾ ḍad
ط ﻁ ﻃ ﻄ ﻂ ṭhad
ظ ﻅ ﻇ ﻈ ﻆ ẓhad
ع ﻉ ﻋ ﻌ ﻊ 'ain
غ ﻍ ﻏ ﻐ ﻎ ghain
ڠ ڠ ڠـ ـڠـ ـڠ nga
ف ﻑ ﻓ ﻔ ﻒ fa
ڤ ﭪ ﭬ ﭭ ﭫ pa
ق ﻕ ﻗ ﻘ ﻖ qaf
ک ک ﻛ ﻜ ـک kaf
ݢ ݢ ݢـ ـݢـ ـݢ gaf
ل ﻝ ﻟ ﻠ ﻞ lam
م ﻡ ﻣ ﻤ ﻢ mim
ن ﻥ ﻧ ﻨ ﻦ nun
و ﻭ ﻮ wau
ۏ va
ه ﻩ ﻫ ﻬ ﻪ ha
ي ﻱ ﻳ ﻴ ﻲ ya
ڽ ڽ ڽـ ـڽـ ـڽ nya

Huruf yang diabu-abukan merupakan rekaan yang hanya didapati dalam bahasa Melayu dan tidak dijumpai di huruf Arab yang sejatinya.

Aksara Nusantara
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum DiperiksaLangsung ke: navigasi, cari
Aksara Nusantara merupakan beragam aksara / tulisan yang pernah digunakan di Nusantara sebelum dikenalnya Aksara Arab dan Aksara Latin. Digunakannya aksara-aksara ini oleh leluhur Bangsa Indonesia dapat dirunut hingga sekitar abad ke-4, dengan ditemukannya prasasti-prasasti dan naskah peninggalan kerajaan-kerajaan terdahulu.

Pengantar

Aksara Nusantara adalah beragam aksara yang secara khusus dipergunakan di Nusantara atau muncul di daerah ini. Aksara-aksara Nusantara merupakan turunan dari Aksara Pallawa yang berkembang di India bagian selatan. Aksara Pallawa sendiri merupakan turunan dari Aksara Brahmi. Aksara Brahmi ini adalah cikal bakal semua aksara di daerah Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Bukti tertua mengenai keberadaan Aksara Nusantara ini berupa tujuh buah yupa (tiang batu untuk menambatkan tali pengikat sapi) yang bertuliskan prasasti mengenai upacara waprakeswara yang diadakan oleh Mulawarmman, Raja Kutai di daerah Kalimantan Timur. Tulisan pada yupa-yupa tersebut menggunakan Aksara Pallawa dan Bahasa Sanskrta. Berdasarkan tinjauan pada bentuk huruf Aksara Pallawa pada yupa, para ahli menyimpulkan bahwa yupa-yupa tersebut dibuat pada sekitar Abad IV.

Sebagaimana halnya dengan identitas budaya lokal di Nusantara, maka pada masa kini Aksara Nusantara merupakan salah satu warisan budaya yang nyaris punah. Oleh karena itu, beberapa pemerintah daerah yang merasa tergugah untuk menjaga kelestarian budaya tersebut membuat peraturan-peraturan khusus mengenai pelestarian aksara daerah masing-masing. Latar belakang inilah yang akhirnya antara lain menjadi dasar munculnya Aksara Sunda Baku.


AKSARA NUSANTARA ASLI

Aksara Nusantara Asli
Zaman Klasik :

Aksara Pallawa
Aksara Siddhamatrka
Aksara Kawi (Aksara Jawa Kuna)
Zaman Pertengahan :

Aksara Buda
Aksara Sunda Kuna
Aksara Proto-Sumatera
Zaman Kolonial :

Aksara Batak (Surat Batak)
Aksara Rencong (Aksara Kerinci)
Aksara Lampung (Had Lappung)
Aksara Jawa (Aksara Jawa Baru / Hanacaraka)
Aksara Bali

Aksara Lontara (Aksara Bugis-Makassar)
Aksara Baybayin
Aksara Buhid
Aksara Hanuno’o
Aksara Tagbanwa


Zaman Modern :

Aksara Sunda Baku

Perubahan Aksara Pallawa ke dalam Aksara Nusantara



Perubahan aksara Pallawa (kolom paling kiri) menjadi sejumlah aksara Nusantara. Kolom kedelapan adalah aksara Jawa modern (hanacaraka), kolom kesembilan adalah aksara Bali modern, dan kolom paling kanan adalah aksara Bugis (lontara).[sunting]

Variasi

Seiring perubahan zaman, budaya, dan bahasa masyarakat penggunanya, suatu aksara dapat mengalami perubahan jumlah huruf, bentuk huruf maupun bunyinya, walaupun tetap saja dianggap sebagai bagian dari aksara induknya; atau dengan kata lain, tidak terpecah menjadi aksara baru. Demikianlah misalnya Aksara Arab yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Arab sedikit berbeda dengan Aksara Arab yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Melayu, atau juga Aksara Latin yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Latin sedikit berbeda dengan Aksara Latin yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Jerman. Dalam perjalanan sejarahnyapun Aksara Nusantara tidak luput dari kecenderungan untuk memunculkan variasi-variasi baru yang tetap mempertahankan kaidah inti aksara induknya.

Beberapa variasi Aksara Nusantara antara lain :

Variasi Aksara Kawi (Aksara Jawa Kuna)

Aksara Kayuwangi : Aksara ini merupakan Aksara Kawi yang ditulis dengan bentuk membundar miring. Disebut Aksara Kayuwangi karena variasi ini banyak dijumpai pada prasasti dari sebelum hingga setelah masa pemerintahan Rakai Kayuwangi, Raja Mataram (855 - 885). Oleh para ahli epigrafi Indonesia, variasi ini dianggap sebagai jenis tulisan Kawi yang paling indah.

Aksara Kuadrat : Aksara ini merupakan Aksara Kawi yang ditulis dengan bentuk huruf menyerupai kotak / bujursangkar. Dari situlah variasi ini memperoleh namanya. Variasi ini banyak dijumpai pada prasasti dari masa Kerajaan Kediri dan Kerajaan Singasari.
Aksara Majapahit : Aksara ini merupakan Aksara Kawi yang tiap hurufnya ditulis dengan banyak hiasan sehingga kadang kala sulit dikenali / sulit dibaca. Disebut Aksara Majapahit karena variasi ini banyak dijumpai dari masa Kerajaan Majapahit.
Variasi Aksara Batak
Aksara Toba : Variasi ini merupakan Aksara Batak yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Toba.
Aksara Karo : Variasi ini merupakan Aksara Batak yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Karo.
Aksara Dairi : Variasi ini merupakan Aksara Batak yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Dairi.
Aksara Simalungun : Variasi ini merupakan Aksara Batak yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Simalungun.
Aksara Mandailing : Variasi ini merupakan Aksara Batak yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Mandailing.

Variasi Aksara Lampung/Ulu
Aksara Ulu untuk menuliskan dialek Pasemah
Aksara Ulu untuk menuliskan dialek Serawai
Aksara Ulu untuk menuliskan dialek Lembak
Aksara Ulu untuk menuliskan dialek Rejang

Variasi Aksara Jawa
Aksara Jawa untuk menuliskan Bahasa Jawa Baru.
Aksara Jawa untuk menuliskan Bahasa Jawa Kuna.
Aksara Jawa untuk menuliskan Bahasa Jawa dialek Banten.
Aksara Jawa untuk menuliskan Bahasa Jawa dialek Cirebon.
Aksara Jawa untuk menuliskan Bahasa Sunda / Aksara Sunda Cacarakan.

Variasi Aksara Bali
Aksara Bali untuk menuliskan Bahasa Bali Baru.
Aksara Bali untuk menuliskan Bahasa Bali Kuna.
Aksara Bali untuk menuliskan Bahasa Sasak.

Variasi Aksara Lontara
Aksara Bugis : Variasi ini merupakan Aksara Lontara yang digunakan untuk menuliskan

Bahasa Bugis.
Aksara Makassar : Variasi ini merupakan Aksara Lontara yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Makassar.

Silsilah Aksara Nusantara "Asli"



Aksara lainnya yang juga digunakan di Nusantara

Huruf Arab
Huruf Jawi untuk bahasa Melayu
Pegon untuk bahasa Jawa dan Sunda
Abjad Latin
Ejaan Van Ophuijsen
Ejaan Soewandi
EYD
Hangul

Rabu, 25 Agustus 2010

ASAL USUL ORANG LAMPUNG (PART II)

Setelah tulisan yang lalu membahas Zaman Hindu Animisme, kali ini SIKAM LAMPUNG UNJ akan menyelesaikan tulisan mengenai Asal Usul Orang Lampung pada Zaman Islam dan Zaman Hindu Belanda. Silahkan dibaca:

ZAMAN ISLAM

Walaupun sudah sejak 651 M utusan Khalifah Usman bin Affan, yaitu Sayid Ibnu Abi Waqqas bertransmigrasi ke Kwang Chou di negeri Cina dan meskipun utusan Tulangbawang pernah datang ke negeri Cina dalam abad ke-7, namun rupanya orang-orang Lampung di kala itu belum memasuki agama Islam.

Islam diperkirakan memasuki daerah Lampung di sekitar abad ke-15, melalui tiga arah. Pertama dari arah barat (Minangkabau) memasuki dataran tinggi Belalau. Kedua daerah utara (Palembang), memasuki daerah Komering pada permulaan abad ke-15 (1443) di Palembang. Ketiga dari Banten oleh Fatahillah, Sunan Gunung Jati, memasuki daerah Labuhan Maringgai sekarang, yaitu di keratuan Pugung disekitar tahun 1525, sebelum direbutnya Sunda Kelapa (1526).

Dari perkawinan Fatahillah dengan putri Sinar Alam anak Ratu Pugung maka lahirlah Minak Kejala Ratu yang kemudian menjadi cikal bakal Keratuan Darah Putih yang menurunkan Raden Intan.
Dengan masuknya masyarakat adat Pugung ke agama Islam dan setelah itu dengan berdirinya keratuan di daerah putih sebagai tempat penyebaran Islam di daerah Lampung yang pertama, maka secara berangsur-angsur orang-orang Peminggir di pantai selatan memasuki agama Islam. Dalam rangka membangun Negara Islam dan melaksanakan dakwahnya, maka antara Ratu Putih dan Pangeran Sibangkingking (Maulana Hasanuddin) diadakan perjanjian yang terkenal sebagai Perjanjian Dalung Kuripan yang bunyinya sebagai berikut:

“Ratu darah putih linggih dating lampung, maka dating Pangeran Sibangkingking, maka mupakat, maka Wiraos sapa kang tua sapa kanga nom kita iki.
Maka pepatutan angadu wong anyata kakak tua kelayan anom. Maka mati wong Lampung dingin. Maka mati malih wong Banten ing buring ngongkon ning ngadu dateng pugung ini dijeroluang. Maka nyata anom ratu darah putih, Andika kang tua kaula kanga nom, andika ing Banten kaula ing Lampung.
Maka lami-lami ratu-ratu darah putih iku ing Banten malya kul Lampung. Anjeneng aken Pangeran Sebangkingking ngadekaken Ratu. Maka djaneningpun Susunan Sebangkingking. Maka ratu darah putih angaturaken Sawung galling. Maka mulih ing Lampung……

Selanjutnya Dalung Kuripan itu mengatakan:

Wadon Banten lamun dipaksa dening wong Lampung daring sukane, salerane, Lampung kena upat-upat wadon Lampung lamun dipaksa wong Banten daring sukane, salerane, atawa saenake bapakne, Banten kena upat-upat
Wong Banten ngangkon Lampung keduk susuk ngatawa mikul Banten kena upat-upat
Lampung ngangkon Banten keduk susuk, Lampung kenang upat-upat. Lamen ana musuh Banten, Banten pangerowa Lampung, tutburi. Lamen ana musuh Lampung, Lampung manyerowa Banten Tutwuri. Sawossi Djandji Lampung ngalak kak Padjadjaran, Dajuh Kekuningan, Kandang besi, Kedawung, Kang uba haruan, Parunkudjang. Kang anulis kang panji Pangeran Sebakingking wasta ratu mas lelan raji sengaji guling, wasta minak bay Taluk kang denpangan ati ning kebo. Serat tetelu, ing Banten Dalung, Ing Lampung saksi Dalung, Ing maningting serat kentjana.

Demikianlah setelah diketahui yang mana tua dan yang mana muda antara Ratu Darah Putih dan Maulana Hasanuddin, di mana Maulana Hasanuddin lah yang lebih tua, maka keduanya saling bermufakat bahwa Maulana Hasanuddin berkedudukan di Banten sedangkan Ratu Darah Putih berkedudukan di Lampung. Di antaranya disepakati pula bahwa jika ada wanita Banten yang akan dipaksa dengan orang Lampung bukan atas kemauannya, maka Lampung akan di upat-upat, sebaliknya jika wanita Lampung yang diperlakukan demikian, maka Banten akan di upat-upat.

Yang bersifat politik dalam Perjanjian Dalang Kuripan ini adalah, jika Banten menghadapi musuh, Lampung akan membantu, sebaliknya jika Lampung menghadapi musuh maka Banten akan membantu. Oleh karena musuh Banten di kala itu adalah Pajajaran, maka atas bantuan pasukan Lampung, Pajajaran itu dapat dikalahkan. Ketika Raden Intan menghadapi Belanda ia dibantu oleh pasukan-pasukan dari Banten.

Di masa Maulana Hasanuddin (1550 – 1570), orang-orang Abung belum ada yang melakukan seba ke Banten. Jika di antara pemuka-pemuka Abung ada yang beragama Islam atau mengaku beragama Islam, maka Islamnya bukan dari Banten. Sebagai contoh, Minak Sengaji suami dari Bolan yang diperkirakan hidup pada awal abad ke-16, telah beragama Islam yang nampaknya bukan dari zaman Banten, melainkan dari zaman Malaka yang menjadi pusat dakwah Islam dalam abad ke-15.

Ketika pemerintah Banten dibentuk oleh Sunan Gunung Jati (1530) dan dilanjutkan oleh Maulana Hasanuddin, orang-orang Abung belum ada yang seba ke Banten. Mereka masih tetap memepertahankan adat istiadatnya yang serba Hindu animisme. Kemudian sebagiamana diuraikan Broersma:

“Toen oenyai was overleden, onstonden twisten tusschen Bagindo’s kloinkinderen, waarop een in monging van den Sultan van Banten is gevoldgd”.

Setelah Unyai wafat terjadilah perselisihan pendapat antara cucu Minak Paduka Begeduh sehingga salah satu dari mereka bergabung mengikuti kekuasaan Banten. Kami berpendapat bahwa perselisihan ini ada hubungannya dengan peperangan antara Banten dan Palembang yang terjadi pada tahun 1596, diaman Maulana Muhammad dari Banten gugur dalam peperangan itu.

Menurut cerita rakyat kayu Agung, disana terdapat keturunan yang disebut keturunan “Abung Bung Mayang” yaitu keturunan Mukodum Muter dari Marga Abung, dan keturunan Raja Jungut Marga Aji Muaradua.

Yang berangkat seba ke Banten dari masyarakat adat Abung adalah Minak Semelesem, cucu dari Unyai (Minak Triou Disou). Ketika seba, ia memang sudah tua, oleh karena itu pendirian pepadun baru dilaksanakan kemudian oleh putranya, Minak Paduka, bertempat di ilir Way Kunang, yaitu di Bijang Penagan. Menurut perkiraan adat Pepadun Abung ini dibentuk sekitar abad ke-17, setidak-tidaknya sebelum berlangsungnya kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1672).
Dibentuknya adat Pepadun ini berarti melaksanakan penerimaan ajaran Islam ke dalam masyarakat dan meninggalkan adat istiadat lama yang bersifat Hindu Animisme.
Namun karena kelemahan pemerintahan Belanda sejak kekuasaan Sultan Haji (1672 – 1687), dimana VOC diizinkan untuk membeli lada langsung dari para penyimbang kepala-kepala marga Lampung, serta sifat dakwah Islam yang berjalan lemah di daerah pedalaman, maka dalam pelaksanaan adat Pepadun sejak abad ke-18 dan seterusnya masih banyak dipertahankan tata cara zaman leluhurnya. Orang-orang VOC tidak mempunyai perhatian terhadap masyarakat dsn adat istiadat penduduk, karena yang penting bagi mereka hanyalah bagaimana mendapatkan hasil-hasil lada rakyat.

ZAMAN HINDU BELANDA

Pada tahun 1668 VOC mendirikan Petrus Albertus di Tulangbawang, sebagai tempat menampung hasil-hasil pembelian lada di daerah Lampung bagian utara. Benteng ini tidak lama dipertahankan karena sebagian besar orang-orang Abung tidak mau menjual hasil buminya. Maka pada tahun 1738 VOC menempatkan bentengnya “Valkenoong” di Bumiagung.

Dalam permulaan abad ke-18 kepala-kepala marga Lampung masih mengakui kedudukan penguasa Banten sebagai atasannya, tetapi kemudian mereka tidak diurus oleh Banten lagi, dengan demikian mereka mengatur dirinya sendiri terutama dalam menghadapi bahaya perompakan yang sering melanda daerah pedalaman. Dalam tahun 1779 VOC bubar dan pemerintahan Hindia Belanda tidak dapat mempengaruhi pemuka-pemuka adat di pantai selatan yang kebanyakan berpihak pada Inggris. Di antara tahun 1801 – 1805, sebatin-sebatin Bandar di daerah Semangka membuat perjanjian perdagangan lada dengan Inggris yang berkedudukan di Bengkulu.

Untuk menjinakkan hati orang-orang Lampung, pada tahun 1808 Daendels yang begitu kejam di Jawa malahan mengakui Raden Intan sebagai Prins Regent dengan pangkat kolonel untuk daerah Lampung. Sejak masa itu Raden Intan merasa bangga sebagai pimpinan orang Lampung di Keratuan Darah Putih. Pengakuan ini dilanjutkan di masa Rafles pada tahun 1812. Namun setelah Pemerintah Hindia Belanda menerima kembali pemerintahan dari Inggris pada tahun 1816 kekuasaan Raden Intan itu ternyata tidak diakuinya lagi. Oleh Belanda ia hanya dianggap sebagai pimpinan marga Ratu saja dan tidak berhak menjadi pimpinan masyarakat Lampung di daerah Pesisir.

Atas dasar itu maka terjadilah perang Lampung yang memakan waktu hampir 40 tahun. Di daerah pesisir Rajabasa (Kalianda), perang dipimpin oleh keturunan Raden Intan (1817 – 18 56), sedangkan di daerah pesisir semangka (Kotaagung) perang dipimpin oleh keturunan Magunang (1828 – 1856). Perlawananan rakyat pesisir ini pada mulanya dibantu dengan diam-diam oleh Inggris, tetapi kemudian mereka berjuang sendiri karena adanya tindakan Belanda yang kejam terhadap harta dan kehormatan mereka, di sana sini banyak yang habis dibakar.

Selama perlawanan rakyat Lampung di daerah pesisir selatan, Belanda kemudian berangsur-angsur berhasil menjinakkan pemuka-pemuka masyarakat adat pepadun, atas usaha Kapten J.A Du Bois, asisten Residen Menggala (1818) . Ia kemudian berhasil membentuk pemerintahan keresidenan Lampung yang pertama dan menjadi Residen denga ibukota keresidenan di Terbang Tinggi Besar (1829). J.A Du Bois mati dalam peperangan di daerah Keratuan Darah Putih pada tahun 1834.

Pada tahun 1856 perlawanan rakyat Lampung dapat dipadamkan dan pada tahun 1857 pemerintahan daerah ditetapkan Belanda berdasarkan susunan masyarakat adat setempat. Sejak masa ini, hukum adat pepadun mungkin berkembang dengan jiwa pi-il pesinggiri, yang anatara lain menganut azas-azas pokok sebagai berikut:

1. Pemerintahan adat dipimpin oleh anak tertua laki-laki sebagai punyimbang atas dasar kekerabatan bertali darah, kerukunan suku dan musyawarah pemuka adat (perwatin).

2. Anak punyimbang adalah waris pengganti ayahnya sebagai penerus keturunan dan penanggung jawab memegang semua harta peninggalan (hukum waris mayorat lelaki).

3. Perkawinan dilaksanakan dalam bentuk perkawinan dengan pembayaran jujur, dimana istri ikut dipihak suami dan tidak boleh terjadi perceraian.

4. Seluruh bidang tanah yang pernah dibuka oleh anggota kerabatadalah tanah-tanah yang dikuasai kebuwayan sebagai milik bersama. Tanah-tanah yang belum pernah dibuka adalah “tanah Tuhan”.

5. Setiap masalah diselesaikan dengan musyawarah dan mufakat kekerabatan atas dasar saling menghargai dan menjaga kehormatan kepunyimbangan masing-masing.

Pada tahun 1928 pemerintah Belanda menetapkan perubahan dari marga-marga geneologis-territorial menjadi marga-marga territorial-geneologis, dengan penetuan batas-batas daerah masing-masing. Setiap marga dipimpin oleh seorang kepala marga atas dasar pemilihan oleh dan dari punyimbang-punyimbang yang bersangkutan. Demikian pula, kepala-kepala kampung ditetapkan berdasarkan hasil pemilihan oleh dan dari para punyimbang.

Sumber : Blog Mahasiswa Lampung