Sabtu, 08 Oktober 2011

Mengikuti Kuliah Study Naskah Kebudayaan Lampung

Kuliah Pertama.

Study naskah kebudayaan Lampung adalah salah satu mata uliah yang diberikan kepada mahasiswa jurusan Aqidah dan Filsafat Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Untuk mengikuti mata kuliah ini mahasiswa tidak mendapatkan banyak bantuan dari buku buku rujukan yang sudah diterbitkan, oleh karenanya maka bahan kuliah sangat tergantung kepada tulisan tulisan yang dimiliki oleh dosen yang bersangkutan, baik tulisan sendiri maupun kliping dari tulisan orang lain. Tetapi bukan berarti mata kuliah ini telah kehilangan objek kajian. Tidak. Bahan kajian sebenarnya banyak, tetapi masih berserakan diberbagai sumber yang pada umumnya belum bayak terpublikasikan.

Langkanya naskah tulis yang telah dipublikasikan cukup mengundang keheranan tersendiri, karena masyarakat lampung termasuk salah satu komunitas yang telah lama mengenal dan memiliki aksara tersendiri, yaitu aksara “KA – GA – NGA” Artinya komunitas masyarakat lampung seyogyanya pada masa dahulu telah memiliki tradisi menulis dan menyebarkan tulisan tulisan itu.

Kelangkaan naskah tulisan ini diduga lantaran lampung telah lama tidak memiliki kerajaan yang mendapatkan kekuasaan yang luas. Sebagaimana kita ketahui bahwa pada wilayah yang dikuasai oleh seorang raja yang memiliki kekuasaan yang luas sering mengeluarkan aturan aturan tertulis dan mendokumentasikan aturan aturan itu.

Pada banyak kerajaan kita ketahui telah menunjuk dan menugaskan seorang atau kunosekelompok orang intelektual untuk mempersiapkan naskah naskah tulis yang berisikan berbagai aturan, catatan sejarah serta pristiwa alam dan manusia yang dokumen dari naskah naskah tersebut diopertahankan keberadaannya di kerajaan. Demikian juga halnya dengan catatan catatan tentang resep dan pengobatan, serta karya karya seni sastra lainnya.

Sebagaimana tradisi kerajaan pada umumnya akan mendidik warga istana untuk memahami filosofi dan berbagai anggah-ungguh yang harus dipatuhi oleh segenap warga istana dan masyarakat luas untuk memahami etika dan protokoler yang lazim dilakukan di lingkungan istana. Para tamu istana juga lazimnya mendapatkan suguhan apakah musik, pantun, lagu, sastra hingga tari. Tradisi kerajaan juga lazim mengajarkan silat kepada para pengawal, sehingga para pengawal memiliki keterampilan daklam ulah kanuragan, dalam rangka mengamankan istana dan wilayah kerajaan.

Itu adalah merupakan sisi lemah, bagi ketiadaan raja yang memiliki kekuasaan yang tak terbatas. Tetapi ternyata di balik kelemahan itu justeru memiliki prospek yang lebih baik, lebih cepat dalam membuat kreatifitas baru, serta lebih cepat dalam beradabtasi. Kecepatan dalam beradabtasi ini kita harapkan menjadi modal untuk mengembangkan sikap keterbukaan terhadap berbagai warisan yang masih dimiliki, istimewanya warisan dalam bentuk naskah.
Dengan demikian maka tentu saja kita tidak boleh terburu buru untuk menyatakan bahwa wilayah Lampung meruapakan salah satu weilayah yang minim naskah. Tidak. Pemburuan naskah harus dilakukan secara terus menerus. Karena kita meyakini masih banyak para pewaris kerjaan yang masih menyimpan sedikit naskah setidaknya yang belum terpublikasikan, Kita meyakini masih banyak naskah naskah yang masih dipelihara para pewaris.

Naskah naskah tersebut luput dari perhatian tim inventarisasi benda cagar budaya, sehingga sampai dengan sekarang naskah itu belum teridentifikasi dengan baik. Apalagi naskah yang ditulis dengan aksara Lampung, Ka – Ga – Nga atau aksara Jawi dan Pigon yang kini orang orang yang mampu membacanya sudah mulai berkurang. Walaupun telah banyak guru aksara Lampung pad sekolah dasar, tetapi karena aksara ini telah banyak mengalami perubahan, maka para guru pun akan mengalami kesulitan dalam membacanya.

Tetapi studi naskah Kebudayaan Lampung bagi mahasiswa IAIN Fakultas Ushuluddin Jurusan Aqidah Filsafat memiliki makna yang cukup strategis. Yaitu untuk megetahu sejarah dan perkembangan pemikiran masyarakat Lampung. Yang juga berarti untuk mengenali identitas masyarakat Lampung. Identifikasi perkembangan pemikiran sebuah komunitas yang akan dibangun adalah factor yang sangat penting, karena membangu pemikiran filsafat oleh kelompok intelrktual sama sekali tidak diperbolehkan menganggap remeh terhadap masalah sekecil apapun.


Walaupun tentunya tidak semua naskah yang diketemukan serta merta dapat kita ketahui apa inti pemikiran yang tersembunyi di balik naskah itu. Tetapi hendaknya kita memiliki keyakinan dan tekad agar pada saatnya naskah sepelik apapun akan dapat ditemukan rmusan pemikiran di balik naskah naskah itu. Keinginan dan tekad itu tentunya tidaklah berdiri sendiri, setidaknya filologi dan hermunitika akan membantu sepenuhnya.

Filologi berbicara mengenai bagaimana sebuah naskah kuno yang bernilai atau mempunyai makna besar bagi kehidupan manusia itu dikaji dengan cara seksama dan dengan ketelitian yang tinggi. Ketika hendak melakukan prosesi penelitian naskah, kita sebagai seorang peneliti (filolog) akan melakukan beberapa langkah standar yang telah digunakan dan disepakati oleh para ahli untuk mencari atau menyunting sebuah naskah kuno agar selanjutnya bias dipublikasikan kepada masyarakat luas.

Adapun langkah-langkah atau metodologi dalam penelitian filologi adalah sebagai berikut:

Inventarisasi atau mengumpulkan naskah
Deskripsi naskah
Pertimbangan dan pengguguran
Menentukan kesalian sebuah naskah
Membuat ikhtisar isi dari naskah tersebut
Transliterasi atau pengalihan bahasa
Menyunting teks asli
Membuat glosari atau daftar kata-kata yang di anggap tidak umum, dan
Mengomentari teks

6 komentar:

cecep mengatakan...

asep. AF

FACHRUDDIN M. DANI mengatakan...

Komentarnya apa ?

Idris Afandi mengatakan...

Dengan Minimnya Tokoh atau orang-orang yang mampu membacanya diharapkan ada pewaris dan orang yang bsa membacanya mengajarkan pada generasi penerus secara pribadi maupun akademis agar para penerjemah naskah akan trus ada hingga kapanpun karena kemungkinan yang ada masih banyak Naskah-Naskah kuno yang belum di temukan maupun disimpan secara pribadi oleh pewaris Naskah kuno tersebut...!!

Anonim mengatakan...

Munzir AF
mata kuliah study naskah kebudayaan lampung,sangatlah penting untuk di kaji ataupun dipelajari. karna dengan kita mengkaji lebih dalam tentang naskah kebudayaan lampung,kita bisa mengenal apa inti sari tentang pemikiran masyarakat lampung terdahulu. akan tetapi ada satu permasalahan yang kita hadapi dalam mata kuliah yang satu ini,yaitu bahsan kajiannya sangat sedikit (mini sekali). Miris sekali mendengarnya. Tetapi kita jangan menyerah, dengan dengan bimbingan dan arahan dosen kita yaitu Fahcruddin Dani, untuk mengetahui sejarah dan perkembangan pemikiran masyarakat lampung.

Anonim mengatakan...

{FAZRI AL FEZAR } AF..
mata kuliah Study naskah kebudayaan lampung memang penting untuk di pelajari karena dengan mempalajarinya di harapkan para Masyarakat yang tinggal di lampung pada umumnya dan Mahasiswa pada khususnya dapat mengetahui, mengerti dan memahami tentang kebudayaan , adat istiadat, sejarah, dan milai-nilai kehidupan yang ada pada Suku Lampung., memang karena tidak terdapatnya kerajaan-kerajaan besar di lampung pada Zaman Dahulu membuat naskah-naskah kuno yang di tulis pada Zaman Dahulu Sulit untuk di Arsipkan atau di simpan Oleh para Raja-raja,, sehingga hanya para sesepuh dan ketua-ketua Adat saja yang masih Menyimpan Naskah-naskah Kuno tersebut. tapi di balik kekurangan tersebut, itulah sebuah tantangannya untuk para budayawan dan Mahasiswa untuk lebih terus Kreatif dan Bersungguh-sungguh dalam Menggali Khazanah Kebudayaan Lampung Melalui Study Naskahnya..

Anonim mengatakan...

Santoro Af :Study naskah kebudayaan Lampung adalah salah satu mata kuliah yang diberikan kepada mahasiswa jurusan Aqidah dan Filsafat Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Intan Bandar Lampung.

Menindak lanjuti tentang kajian pembahasan study naskah kebudayaan lampung Bahwa sebetulnya yang belajar aksara ka-ga-nga bukan orang lampung saja, di bengkulu dan sumatra selatan pun belajar aksara ka-ga-nga.
Ka-ga-nga, atau aksara jawi dan pegon sudah mengalami perubahan, maka para guru ajar sekolah SD pun mengalami kesulitan dalam membacanya. Ini dikarenakan minimnya orang lampung yang mau belajar huruf aksara kuno. Kurangnya peminat seseorang untuk mempelajari huruf aksara kuno karena masyarakat lampung diduga lantaran lama tidak memiliki kerajaan yang mendapatkan kekuasaan luas.