Minggu, 28 November 2010

MISTISISME MASYARAKAT SUNDA

DR. H. AFIF MUHAMMAD, MA.

KETIKA seseorang mendengar istilah "Agama Jawa" disebut orang, serta-merta
terlintas suatu gambaran tertentu tentang tradisi yang berkembang dalam
komunitas Jawa tertentu yang terbedakan secara jelas dari agama, khususnya
Islam, yang juga perkembangan berdampingan dengannya.

Artinya, dalam "Agama Jawa" itu terdapat suatu pandangan hidup (world
view) yang terdiri dari sistem kepercayaan, peribadatan, etika, filsafat, seni,
dan lain-lain, yang secara keseluruhan disebut dengan "Agama Jawa," dan itu
bukan Islam, bukan Kristen atau Katholik, bukan Hindu, juga bukan Budha.

Kalaupun dalam The Religion of Java, Clifford Geertz mengemukakan
trikotomi Santri, Priyayi, dan Abangan, sebenarnya varian Santri tidak mungkin
dapat dimasukkan dalam kategori "pemeluk" Agama Jawa, tetapi lebih tepat jika
disebut sebagai pemeluk Islam yang bersuku Jawa. Sebab, dalam religiusitasnya,
mereka lebih menampakkan kesantriannya ketimbang kejawaannya.

Berbeda dengan mereka adalah varian Priyayi dan Abangan yang memiliki
warna Jawa lebih pekat daripada warna Islamnya (Clifford Geertz, 1960).

Lalu, apa yang kira-kira terlintas dalam pikiran seseorang ketika
mendengar istilah "Agama Sunda" diucapkan orang?

Pertama-tama, mungkin dia akan mengernyitkan dahi, karena rasa-rasanya
istilah ini hampir tidak pernah dia dengar atau baca dalam literatur-literatur
budaya dan antropologi.

Ke dua, kalaupun istilah itu ada dan pernah diucapkan orang, maka sosok
dari apa yang disebut dengan "Agama Sunda" itu tidak tergambar secara jelas
seperti ketika dalam istilah "Agama Jawa."

Sebagai orang Jawa yang sudah mukim di Tatar Sunda lebih lama dibanding di
kampung sendiri di Jawa sana, saya bahkan belum pernah mendengar kawan-kawan
doktor saya yang asli Sunda dan beberapa hari yang lalu hadir dalam KIBS
menyebut istilah "Agama Jawa," baik dalam ucapan sehari-hari, dalam
diskusi-diskusi, maupun dalam literatur dan makalah-makalah yang mereka tulis.

Adalah benar bahwa corak keislaman orang Jawa, pada sebagian penganutnya,
terwarnai oleh tradisi-tradisi Jawa, dan kejawaan orang Jawa terpengaruh oleh
tradisi-tradisi Islam.

Akan tetapi, istilah "penganut Kejawen" dan "Penghayat Kepercayaan" yang
dikenal luas oleh masyarakat Jawa secara jelas membedakan kedua komunitas
tersebut. Bahkan, para penghayat kepercayaan tampak gigih mempertahankan
identitas diri mereka, dan enggan disebut Muslim.

Pada dekade 70-an Pak Rasyidi (Prof. Dr. H..M. Rasyidi, alm.) pernah
terlibat polemik sangat sengit dengan Warsito S, salah seorang tokoh dan pembela
kebatinan Jawa.

Dalam polemik tersebut Prof. Rasyidi (dan Hasbullah Bakri) menegaskan
bahwa ajaran kejawen adalah semacam penyelewengan terhadap ajaran Islam,
sedangkan Warsito mengatakan bahwa kejawen adalah ajaran asli Jawa yang mendapat
pengaruh Islam (H.M. Rasyidi, dkk, 1973).

Teori Warsito memperoleh dukungan sangat kuat, ketika Prof. Rachmat
Soebagja menulis buku berjudul Agama Asli Indonesia. Sementara itu, hampir
seluruh tokoh masyarakat Sunda yang saya kenal, bahkan mungkin seluruhnya, baik
dari kalangan akademisi maupun budayawan, selalu mengatakan bahwa Sunda adalah
Islam.

Agama Jawa adalah agama yang sarat dengan mistisme. Ia memiliki sistem
kepercayaan tentang mikrokosmos dan makrokosmos, manuggaling kawula-Gusti
(monisme), keselarasan hidup dengan alam, dan lain-lain yang sangat khas dan
terbedakan secara jelas dengan Islam.

Mistisisme Jawa, selain terlihat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat
Jawa (Niels Mulder, 1980), juga memiliki literatur yang sangat melimpah.

Lalu, apakah karena "Agama Sunda" tidak dikenal di kalangan masyarakat
Sunda, berarti tidak ada mistisme di tengah-tengah masyarakat Sunda?

Ketika saya menjadi Ketua Jurusan Aqidah & Filsafat, Fakultas Ushuluddin,
IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, saya mendorong para mahasiswa saya untuk
mengenal dan mempelajari Budaya dan Filsafat Sunda, antara lain berkunjung ke
Caraka Sundanologi (mohon maaf jika salah sebut) dan belajar kepada para
tokohnya.

Mereka sangat tertarik dengan filsafat Sunda yang memang belum banyak
mereka kenal. Tetapi, ketika saya bertanya kepada mereka tentang mistisismenya,
mereka cepat-cepat menjawab, "Ada, tapi, sepertinya tidak berbeda dengan Islam."

Mistisisme adalah ajaran yang merupakan subsistem yang ada di hampir semua
agama dan sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan
emosi bersatu dengan Tuhan (KBBI, 1990; 588).

Dalam Agama Islam ia dikenal dengan istilah tasawuf yang, menurut Hossein
Nashr, merupakan salah satu di antara tiga pilar bangunan keilmuan Islam. Dua
lainnya adalah teologi dan filsafat.

Adalah sangat wajar jika Agama Jawa sarat dengan mistisme, sebab di Jawa
agama Hindu dan Budha menyisakan banyak sekali warisan, baik dalam bentuk
candi-candi maupun literatur-literatur sastra dan suluk Jawa. Dengan demikian,
masyarakat Jawa memiliki hubungan yang sangat kuat dengan spiritualisme Hindu
dan Budha.

Agaknya, karena itu pula, tasawuf model Syekh Siti Jenar sangat populer di
kalangan masyarakat Jawa, bahkan anak-anak pun sangat kenal dengan tokoh
legendaris ini.

Di Jawa juga dikenal adanya Serat Dewa Ruci, Serat Hidayat Jati, Serat
Gatoloco, Serat Kebokenongo, Serat Seh Siti Jenar, Serat Suluk Walisongo, Serat
Centini, Serat Cabolek, dan serat-serat lainnya, yang kesemuanya berisi ajaran
mistik Jawa.

Di Tatar Sunda, fenomena tersebut hampir tidak ditemukan. Di wilayah ini
terdapat sedikit sekali candi-candi yang dapat mengingatkan orang tentang Hindu
dan Budha. Juga, sependek pengetahuan saya, tidak terdapat banyak literatur
seperti serat-serat dalam sastra dan suluk Jawa.

Legenda

Legenda-legenda yang berkembang di tengah masyarakat Sunda pun tidak
banyak memuat ajaran-ajaran mistik. Saya beruntung berkenalan dengan Pak Hidayat
(Drs. R.H. Hidayat Suryalaga) yang dalam beberapa kali diskusi kami bersama para
mahasiswa dan dosen muda Fakultas Adab dan jurusan Aqidah & Filsafat, saya
memperoleh informasi sangat berharga tentang mistisisme dalam, misalnya, legenda
Lutung Kasarung.

Dalam salah satu diskusi kami, saya mengatakan bahwa, legenda Lutung
Kasarung itu ada kemiripannya dengan ajaran suluk dalam Islam yang
mencita-citakan Insan Kamil, bahkan juga ada kemiripannya dengan kisah
Isra'-Mi`raj Nabi Besar Muhammad Saw.

Pada akhir salah satu diskusi kami yang sering kali berjalan hingga larut
malam itu, saya pernah menawarkan kepada Pak Hidayat untuk bersama-sama menulis
risalah berisi analisis tasawuf terhadap legenda Lutung Kasarung. Sayang,
kesibukan kami masing-masing menyebabkan komunikasi kami, untuk sementara ini
terputus.

Dengan kondisi budaya seperti di atas, mistisisme -- dalam pengertian
Jawanya -- tidak berkembang di tengah masyarakat Sunda. Karena itu pula, corak
keislaman masyarakat Sunda tampak lebih jernih dibanding sebagian masyarakat
Jawa, khususnya di daerah-daerah perdesaan.

Jika di Jawa dikenal adanya varian Abangan yang umumnya terdiri dari para
petani, maka di Sunda varian ini sulit ditemukan. Adalah benar bahwa di Sunda
banyak ditemukakan tradisi-tradisi dan adat tertentu di kalangan para petani,
namun pengaruhnya tampak tidak terlalu kuat terhadap keislaman para petani
Sunda. Karena itu, trikotomi Gerrtz tampaknya tidak dapat digeneralisasikan di
Sunda.

Varian Priyayi dalam komunitas Jawa adalah orang-orang terpelajar dari
kalangan ningrat yang banyak memahami filsafat dan mistisme Jawa, sementara itu
kalangan Menak Sunda tidak menampakkan karakteristik Priyayi Jawa.

Menak Sunda lebih menunjukkan karakteristik islami ketimbang, sebut saja,
karakter kesundaannya.

Adalah agak aneh bagi telinga Jawa bahwa, jabatan-jabatan penghulu di
Sunda, misalnya, justeru berada di tangan para menak. Sebab, dilihat dari
perspektif strata sosial, menak adalah priyayi. Akan tetapi, priyayi dalam
masyarakat Jawa sangat jauh hubungannya dengan jabatan-jabatan seperti penghulu
itu.

Para penghulu di kalangan masyarakat Jawa adalah para kiyai yang memiliki
pemahaman Islam sangat mendalam, dan jelas tidak berasal dari kalangan priyayi.
Sedangkan priyayi adalah para pegawai yang -- dalam pemerintahan kolonial ---
disebut ambtenar dan pegawai-pegawai pemerintah untuk masa-masa selanjutnya.

Jika para priyayi Jawa memiliki gelar-gelar Raden Ajeng, Raden Aju, Raden
Gusti Prabu, berikut nama-nama yang relatif lebih kejawen, misalnya, Pakubuwono,
Hamengkubuwono, Cokroningrat, maka menak Sunda hanya mengenal gelar Raden saja.
Nama-nama mereka pun relatif bernuansa islami. Sebut saja, misalnya, Rd. H. Amir
Mahmud, Rd. Ali Sadikin, Rd. Umar Wirahadikusumah.

Bersihnya Tatar Sunda dari pengaruh Hindu dan Budha, bagi orang Jawa
seperti saya, sungguh merupakan misteri. Sebab, di Jawa tradisi Hindu dan Budha
seakan mengepung masyarakat Jawa dari segenap penjuru.

Entahlah, kekuatan apa yang dimiliki masyarakat Sunda masa lalu, sehingga
tradisi Hindu dan Budha seakan dapat dibendung, dan nyaris tidak menyentuh
budaya mereka, atau mungkinkah Hindu dan Budha tidak tertarik untuk melakukan
"ekspansi" ke Tatar Sunda?

Kalau asumsi yang disebut terakhir ini benar, lalu faktor apa yang
menyebabkan ketidak-tertarikan tersebut?

Seperti dikatakan di atas, ajaran-ajaran mistik-sinkretik seperti yang
berkembang di Jawa, tidak berkembang dan nyaris tidak ditemukan di Tatar Sunda.
Dengan begitu, keislaman orang Sunda tampak lebih bersih dan kosmopolitan,
dibanding, misalnya, keislaman orang-orang Jawa pedalaman.

Sekalipun ada sebagian wilayah Sunda (?) yang cukup memiliki ajaran agama
lokal yang bercorak Hindu, namun wilayah yang kini menjadi Provinsi Banten itu
secara kultural seakan terpisah dari Tatar Sunda.

Islam datang ke Tatar Sunda melalui Sunan Gunung Djati, Cirebon. Sunan
Gunung Djati adalah salah seorang di antara Wali Songo. Seperti diketahui,
sebagian besar wali lain yang berada di Jawa, menyebarkan Islam ke pusat-pusat
kebudayaan Hindu dan Budha yang terletak di pedalaman Jawa.

Dalam menyebarkan ajaran Islam, mereka menempuh cara kultural, yakni
menggunakan tradisi-tradisi lokal sebagai media dakwah.

Dalam proses islamisasi tersebut, ternyata mereka menemukan budaya Hindu
dan Budha yang sudah melekat sangat kuat di tengah masyarakat. Hasilnya, untuk
masa-masa yang sangat lama adalah Islam yang sinkretik. Sunan Kali Jogo yang
legendaris itu adalah sosok wali yang mewakili secara tepat ulama Jawa
pedalaman.

Sementara itu, Sunan Gunung Djati menyebarkan Islam di daerah pesisir, dan
untuk masa yang cukup lama, daerah pedalaman Sunda (yang kini justeru merupakan
pusat kebudayaan) seakan tidak disentuh.

Daerah pedalaman

Pedalaman Sunda berbeda dengan pedalaman Jawa. Pedalaman Jawa, pada masa
lalu, adalah pusat-pusat pemerintahan Hindu dan Budha. Sedangkan pedalaman Sunda
sepertinya merupakan wilayah kosong yang tidak menarik perhatian.

Akan tetapi, dengan pernyataan ini, sungguh saya tidak berani dan tidak
pula bermaksud mengatakan bahwa pedalaman Sunda adalah daerah vacum culture
(kosong budaya). Asumsi saya tersebut haruslah dipahami sebagai asumsi orang
luar yang tidak banyak tahu tentang budaya Sunda masa lalu.

Akan tetapi, jika asumsi tersebut dapat diterima, maka agaknya daerah
pedalaman Sunda dahulu dihuni oleh komunitas-komunitas kecil yang
terpecah-pecah. Walhasil, penyebaran Islam ke daerah pedalaman ini terjadi lebih
terkemudian dibanding wilayah pesisirnya.

Karena tidak ada budaya Hindu dan Budha atau budaya lokal lain sekuat
"Agama Jawa," maka corak keislaman orang Sunda, di daerah pedalaman sekalipun,
lebih mirip dengan keislaman masyarakat Jawa pesisir utara, yakni Islam Santri
dalam trikotominya Geertz, tak terkecuali kaum menak-nya yang dahulu adalah para
pemilik tanah.

Jika memang demikian, maka menjadi wajarlah jika mistisisme -- dalam
pengertian Jawanya -- tidak terlihat menonjol di tengah masyarakat Sunda.

Akan tetapi, tidak menonjol bukan berarti tidak ada sama sekali, sebab,
sebenarnya kondisi Tatar Sunda yang subur dan indah sangat kondusif untuk
kegiatan-kegiatan kontemplasi.

Diterima atau tidak, mistisisme masyarakat Sunda itu pasti ada, tetapi
tidak dalam pengertian monoisme seperti yang ada pada mistisisme Jawa. Yang
berkembang di Tatar Sunda adalah mistisisme yang berakar bukan pada tradisi
Hindu dan Budha, melainkan bagian dari ajaran Islam yang bercorak pesisiran. Itu
berarti bahwa, kalaupun mistisisme Sunda itu ada, maka itu tak lain adalah
tasawuf atau tarekat.

Dengan karakter budaya seperti itu, tasawuf dan tarekat yang berkembang di
tatar Sunda memiliki karakter yang berbeda dari mistisime Jawa. Mistisisme Jawa
memainkan fungsi antagonistik dan konflik terhadap Islam. Istilah-istilah
semacam "Gatolotjo" (gatoloco) terasa negatif dalam telinga kaum Santri.

Kita mungkin masih ingat akan ucapan sengit Bung Karno terhadap cara
keberagamaan sementara orang Islam yang dikesaninya kumuh dan jumud. Bung Karno
menyebut keislaman seperti itu dengan "Islam Gatolotjo." Sementara itu, Syari`at
yang diucapkan oleh lidah Jawa menjadi Sarengat, mengesankan pelecehan. Sebab,
sarengat sering dikiratalogikan menjadi "yen sare njongat." Artinya, maaf, kalau
sare (tidur) "anunya" njongat (mencuat seperti tonggak).

Konflik yang terjadi antara mistisime Jawa dengan Islam, acapkali juga
merembet hingga ke bidang politik.

Geertz mengatakan bahwa loyalitas politik kaum priyayi adalah kepada
Partai Nasional Indonesia (PNI), sedangkan kaum santri pada Masyumi atau NU.

Dari sini, sementara orang melanjutkannya dengan dikotomi "Nasionalis
Sekular" dan "Nasionalis Islami." Lalu, ketika Sidang Umum DPR/MPR sekitar 25
tahun yang lalu memasukkan aliran kepercayaan dalam GBHN, maka Fraksi NU
menyatakan walk out dari sidang.

Karena tidak memiliki warisan Hindu dan Budha, maka masyarakat Sunda pun
tidak begitu akrab dengan mistisisme, sehingga corak keislaman mereka tampak
relatif bersih dari unsur-unsur Hindu dan Budha.

Agaknya, itu pulalah yang menyebabkan paham-paham keagamaan yang dibawa
oleh Persis (Persatuan Islam) dan Muhammadiyah lebih cocok untuk masyarakat
Sunda.

Seperti yang kita ketahui, kedua paham keagamaan yang dibawakan oleh kedua
organisasi sosial ini sangat menentang bid`ah dan khurafat, dan mistisisme --
bahkan tasawuf -- tampak kurang bisa diterima oleh pengikut kedua organisasi
tersebut.

Mistisisme di Tatar Sunda, kelihatannya datang belakangan bersamaan dengan
munculnya tarekat. Tarekat Qadiriyah dan Naqshabandiyah (TKN) di Suryalaya,
Tasikmalaya, misalnya, baru dikenal masyarakat Sunda akhir-akhir ini saja, dalam
arti tidak setua ajaran Syekh Siti Jenar di Jawa.

Perkembangannya, untuk masa yang cukup lama, tidak begitu mulus. Tetapi,
ketika beberapa tokoh intelektual Jawa Barat bergabung di dalam tarekat ini,
perkembangannya tampak sangat mengesankan.

Selain Tarekat Qadiriyah wan Naqshabandiyah, di Jawa Barat juga terdapat
Tarekat Tijaniyah yang belakangan ini memperlihatkan perkembangan yang
mengesankan. Tarekat Tijaniyah di Sunda berpusat di Pesantren Biru yang tidak
jauh dari Pesantren Suryalaya.

Melalui kedua Tarekat inilah masyarakat Sunda mengenal tasawuf dan
ajaran-ajaran spiritual, dan sedikit demi sedikit kalangan yang selama ini
menentang mulai dapat membuka diri.

Tentu saja perkembangan ini tidak terlepas dari fenomena global yang
dialami masyarakat modern. Persaingan hidup yang sengit, infiltrasi budaya
asing, dan kemajuan teknologi yang sekular-materialistik, adalah faktor-faktor
yang menumbuhsuburkan spiritualisme. Ini menunjukkan bahwa, betapapun juga,
mistisisme (tepatnya spiritualisme) adalah bagian dari kebutuhan manusia dalam
memenuhi hasrat ruhaniahnya.

Melalui pesantren

Seperti halnya di Jawa, tarekat dikembangkan melalui pesantren-pesantren.
Akan tetapi pesantren-pesantren di Tatar Sunda memiliki karakter yang agak
berbeda daripada umumnya pesantren di Jawa yang sangat akrab dengan mistisisme.

Yang justeru memiliki kemiripan dengan pesantren-pesantren di Jawa, adalah
pesantren-pesantren yang terdapat di wilayah Banten. Banten, misalnya, terkenal
sekali dengan debusnya -- suatu tradisi yang banyak mirip dengan ilmu kekebalan
yang banyak dipelajari oleh orang Islam Jawa.

Dalam hubungan ini, beberapa waktu yang lalu kita mendengar adanya
kelompok orang yang menyatakan diri tak mempan ditembak, yakni kelompok yang
mendukung Presiden Wahid yang umumnya datang dari Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Tiba di sini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa proses islamisasi di
Tatar Sunda memang berjalan mulus, dan tidak menyimpan konflik seperti yang
terjadi di Jawa.

Masyarakat Sunda adalah masyarakat yang lahir dari alam yang bebas dari
tradisi konflik, dan itu benar-benar terbukti bahkan pada era reformasi yang
penuh hiruk-pikuk.

Ketika Jakarta dan kota-kotabesar lain seperti Medan, Surabaya, Yogya dan
Solo dilanda kerusuhan, Bandung dan Jawa Barat pada umumnya relatif tenang.
Karena itu, kerusuhan yang terjadi di Tasikmalaya beberapa waktu lalu, dan demo
yang berdampak perusakan di Bandung bulan Juni lalu, terasa begitu memukul
masyarakat Sunda yang memang tidak memiliki tradisi konflik. Inilah yang harus
terus kita pelihara dan kita pertahankan, sehingga Tatar Sunda dapat menjadi
tempat yang membuat betah siapa pun yang tinggal di dalamnya.

Dinamika memang dibutuhkan, bahkan harus dikembangkan, tetapi tidak selalu
dengan konflik. Kemudian, jika masyarakat Sunda menyatakan bahwa Sunda adalah
Islam, maka pernyataan seperti ini bukanlah sesuatu yang mengada-ada atau
didasari oleh kepentingan suatu kelompok agama tertentu. Tetapi sejarah Sunda
memang membuktikan demikian.

Islamlah yang membentuk budaya Sunda, dan Islam pulalah yang mewarnai
karakteristik masyarakatnya yang tidak suka konflik. Bagi kebanyakan orang Jawa,
Islam adalah tradisi kecil, dan Kejawen adalah tradisi besar. Karena itu, dalam
kehidupan mereka sehari-hari, loyalitas mereka terhadap tradisi asli mereka
lebih kuat ketimbang terhadap, misalnya, agama Islam yang mungkin mereka anggap
sebagai agama yang datang dari luar. Sementara itu, bagi masyarakat Sunda, Islam
adalah tradisi besar, sedangkan budaya Sunda adalah tradisi kecilnya.

Akhirnya, haruslah segera dicatat bahwa pernyataan-pernyataan saya di
atas, sama sekali tidak saya maksudkan untuk mengungkit-ungkit perseteruan lama
yang terjadi antara para penganut aliran kepercayaan dengan para santri, seperti
yang terjadi pada Prof. Rasjidi dan Warsito di atas. Akan tetapi, saya kemukakan
semata-mata sebagai kerangka acuan untuk memahami budaya dan keberagamaan
masyarakat Sunda yang saat ini saya menjadi salah seorang warganya.

Saya menganggap wacana mistisime masyarakat Sunda ini penting untuk
diangkat karena dewasa ini tasawuf dan tarekat berkembang cukup pesat di Tatar
Sunda.

Wallahu A`lam bish shawab.***

- DR. H. Afif Muhammad, MA, pengajar dan Asisten Direktur Bidang Akademik,
Program Pascasarjana, IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung.

1 komentar:

nyoian hela we mengatakan...

untuk sbg gambaran,, yg dinamakan agama sunda adalah agama sunda wiwitan, diambil dr nama gunung sunda/gunung purba,yg mana di sebarkan oleh se org nabiyulloh, tentang ketuhana (tharekat)jauh sebelum hindu dan buda datang,lalu yg menjadi pusat kebudayaan ya itu kerajaan galuh ci amis dengan menganut agama yg di bawa oleh nabi safarwadhi hingga sekarang petilasanya dinamakan gua safarwadhi pamijahan tasik,dan salaka nagara pandeglang banten,dan raja2 taruma negara, setelah datang islam org sunda tidak sulit untuk memeluk agama islam kerna ajaranya sama/hampir menyerupai,namun ada tambahanya, dan org sunda sudah tau akan kedatangan nabi muhammad,(syanghiyang suci batara wekasan)jd tidak susah menerima ajaran islam,dan tidak banyak berpindah pd ajaran lain (hindu budha)bukti dan sejarahnya masih banyak dan masih dr mulai adanya peradaban sunda,yg bisa di katakan peradaban tertua di indonesia,bahkan mungkin di asia, dan untuk sekarang benyak penemuan yg mengejutkan dikalangan dunia,sampai sekarang para ahli arkeologi dunia gencar dngan pada ingin meneliti peradaban sunda, namun banyak yg di tolak,kerna daerah2 tertentu dilarang atw tidak sembarangan memasuki atw memlihat dan menyentuh, barang dan peninggalan warisan turun termurun itu selain kepala suku, jd perlu di teliti ada apa sebenarnya misteri agama dan peradaban sunda itu,...mohon maaf bila ada kesalah pahaman /kelancangan,,,wassalam