Kamis, 20 Agustus 2015

Melampungkan Bahasa Lampung


Oleh Erzal Syahreza Aswir


SETIAP daerah memiliki ciri khas tersendiri yang tak bisa disamakan dengan daerah yang lain. Ciri-ciri tersebut pun beraneka ragam mulai dari warna kulit, jenis rambut, pakaian adat, tradisi warisan leluhur, juga bahasa daerah. Ciri yang berbeda menjadikan hal tersebut sebagai sebuah identitas yang patut dijunjung tinggi.

Di bumi Nusantara ini terdapat berbagai macam identitas daerah yang beranekaragam lantaran negeri ini merupakan sebuah kepulauan, dengan tingkat multikulturalitas yang tinggi. Sebuah kekayaan yang patut dijadikan kebanggan setiap putera-puteri bangsa ini, yang juga berpotensi menjadi sumber kekayaan nasional selain sebagai sebuah identitas nasional.

Berbagai macam kebhinekaan ini tentunya harus dijaga kelestariannya. Baik oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, selain itu seluruh komponen masyarakat pun berkewajiban untuk menjaga kekayaan yang tidak dapat ditemui di Negara lain. Jika tidak ada upaya untuk bersama-sama menjaga, maka hanya tinggal menunggu waktulah kekayaan ini akan musnah atau bisa jadi direbut oleh bangsa lain.

Di Lampung yang merupakan bagian dari bumi pertiwi juga memiliki berbagai macam kekayaan daerah. Sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Lampung merupakan ikon dari Gajah Sumatera, yang terdapat di wilayah bagian timur Lampung, yakni Taman Nasional Way Kambas. Lain lagi di Lampung Barat, potensi pariwisata berpeluang besar untuk mengangkat nama Lampung menjulang tinggi, bahkan bukan tidak mungkin bisa menjadi perbincangan tingkat Internasional. Sumber daya alam yang dimiliki oleh tanah bagian Sumatera ini pun sudah menasional, kita ketahui bahwa Lampung merupakan salah satu penghasil kopi serta lada terbesar di Indonesia.

Rabu, 03 Desember 2014

Prasasti Sangguran (Ngandat)



Prasasti Sangguran (Foto: Google)

Prasasti Sangguran ditulis di atas batu besar berukuran tinggi 1,6 meter, lebar 1,22 meter, tebalnya 32,5 cm, dan berat 3, 5 ton. Prasasti ditulis di kedua sisinya dan di salah satu sisi samping. Sisi depan (recto) bertuliskan sebanyak 38 baris, sisi belakang (verso) ditulis 45 baris dan sisi samping ditulis 15 baris. Bagian bawahnya berbentuk umpak dengan hiasan teratai ganda (padmasana). Keadaan prasasti agak buruk, karena banyak kata-katanya yang telah aus dan banyak lagi yang tak dapat dibaca dengan jelas. Tempat ditemukannya prasasti ini tidak diketahui, kemungkinan berasal dari Ngandat di daerah Malang. Kemungkinan besar Ngandat itu sekarang adalah Dusun Ngandat, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Batu. Sewaktu menjadi Letnan Gubernur Jenderal Inggris di Hindia Belanda (1811-1815), Raffles menyerahkan prasasti tersebut kepada Lord Minto, sehingga dikenal dengan nama Minto Stone. Lord Minto adalah Gubernur Jenderal Inggris di India dan atasan Raffles. Saat ini, prasasti Sangguran dimiliki oleh Viscount Timothy Melgund, putra sulung dari Earl of Minto VI dan berada di Skotlandia.

Senin, 06 Oktober 2014

Ken Arok Ken Dedes "1983" ( Film & Lagenda)

Ken Arok dibesarkan di dunia hitam oleh Lembong, perampok, yang menemukannya di kuburan ketika masih bayi. Karena tingkah lakunya yang keterlaluan, Ken Arok diusir lalu hidup bersama Bango Samparan. Inipun tidak berlangsung lama, karena terjadi keributan dengan istri Samparan. Karena Ken Arok sering merampok kiriman upeti kerajaan, ia menjadi buronan.

Di tengah kelananya, ia bertemu pendeta Loh Gawe yang banyak memberikan ilmu kepemimpinan. Sementara itu, Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung berhasil menculik Ken Dedes untuk dijadikan isteri. Atas jasa Loh Gawe, Ken Arok dapat diterima menjadi prajurit di Tumapel. Sejalan dengan karirnya di istana, begitu Ken Arok melihat Ken Dedes, ia langsung jatuh cinta. Niat buruk untuk membunuh Tunggul Ametung pun muncul di benaknya.




Karena Loh Gawe tidak setuju dengan niatnya, Ken Arok meminta restu ayah angkatnya, Bango Samparan. Maka ia lalu memesan keris kepada Empu Gandring. Kecewa atas pesanan keris yang tidak kunjung selesai, Ken Arok marah dan membunuh Empu Gandring dengan keris yang dipesannya. Sebelum meninggal, Gandring sempat mengutuk Ken Arok, bahwa ia juga akan mati oleh keris itu. Di istana, Ken Arok menitipkan kerisnya kepada Kebo Ijo, perwira sombong yang suka pamer dan mengatakan bahwa keris itu adalah miliknya sendiri. Suatu malam, Ken Arok mencuri kerisnya dari Kebo Ijo lalu membunuh Tunggul Ametung. Rakyat Tumapel gempar, dan menuduh Kebo Ijo sebagai pembunuhnya. Niat Ken Arok mengawini Ken Dedes tercapai sudah, bahkan menggantikan kedudukan Tunggul Ametung dan mengembangkan kerajaan. Ken Arok tetap tidak terhindar dari kutukan Empu Gandring.

Sepenggalan kisah dari jaman Singasari

….. kengkis wetisira, kengkab tekeng rahasyanica, nener katon murub denira Ken Angrok …. (Sebuah kutipan dari Pararaton yang artinya: …. tersingkap betisnya, yang terbuka sampai rahasyanya, lalu kelihatan bernyala oleh Ken Angrok ….)

Arca Wajah Ken Dedes

KACA BENGALA (Film Lagenda)