Fachruddin : Kliping Dan Catatan Tentang Bahasa, Retorika, Sastra, Aksara dan Naskah Kuno
Senin, 23 November 2015
Raden Intan Berjaya
Frieda Amran
Penyuka sejarah, bermukim di Belanda
LAMA-KELAMAAN, para pemberontak yang selama ini mengungsi dan bersembunyi mulai menunjukkan diri. Beberapa di antaranya membegal perahu-perahu dagang di gugusan kepulauan Zutphen di lepas pantai Samangka. Mereka juga mulai membangun pondokan-pondokan di tempat-tempat yang dulunya dikenal sebagai Kampung Rogoh, Soemoer, dan Pegantongan.
Ketika pemimpin Belanda di Lampung mendengar kabar ini, ia memerintahkan Pangeran Mangkoe Boemi—kepala marga Way Orang—untuk membawa warganya dengan senjata lengkap ke Rogoh, melewati Soemoer dan Pegantongan. Ini terjadi pada Februari 1852. Pangeran Mangkoe Boemi ditugaskan untuk melacak orang-orang dari kapal-kapal dagang yang dibegal dan ditangkap oleh para pemberontak.
Pada Juni 1852, Pangeran Singabranta, kepala marga Radja Bassa, menarik perhatian Belanda. Pada waktu itu terdengar kabar burung bahwa Pangeran Singabranta telah menyerang iparnya, Tingie Bezar—yang juga merupakan petinggi di Radja Bassa. Tingie Besar terluka. Belanda memerintahkan Tommongoeng Regent untuk membawa Pangeran Singabranta, Tingie Bezar dan dua orang yang melakukan serangan itu ke Telok Betong.
Jumat, 30 Oktober 2015
"Moehammadijah", Statuten, Algemeen Huishoudeljk Regelemen, 1924.
Dibawah ini adalah sebuah buku berukuran 9.5 x 14.5 cm, terbit 90 tahun yang lalu, 49 halaman lengkap, sayangnya saat didapatkan oleh 'rare book', buku langka ini sudah tidak ada covernya.
Walaupun begitu kecil dan sederhana tapi mengandung sejarah yang sangat menarik, khususnya bagi organisasi besar gerakan Islam, Muhammadiyah.
Judul buku langka ini "Statuten dan Algemeen Huishoudelijk Reglement dari pada Moehammadijah", jadi judulnya kombinasi bahasa Belanda dengan bahasa Indonesia.
"Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dari pada Muhammadiyah",
demikian barangkali judul yang dimaksud (maaf kalau keliru). Jadi betapa
penting isi buku ini bagi sebuah organisasi.
Pada halaman pertama berbentuk daftar isian nama, nomer anggota (sekoetoe), alamat dan lainnya, pasti buku ini untuk dibagikan dan disimpan para anggota (lihat gambar atas kanan).
Judul buku, lokasi dan tahun penerbitannya yaitu Djokjakarta, cetakan III, th. 1924 terlihat pada gambar atas kiri.
Halaman 2, 3 dan 4 adalah gambar salinan SK pemerintah Belanda untuk Muhammadiyah.
Halaman 5 berisi 'Statuten "Moehammadijah"' awal sampai akhir halaman 15, menggunakan dwi bahasa, bhs Belanda dan bhs Indonesia (gambar-gambar atas).
'Algemeen Huishoudelijk Reglement "Moehammadijah"', pada halaman 16 dan berakhir pada halaman 42, tampak pada gambar-gambar diatas.
Halaman selanjutnya ada 'Peringatan Bagi Sekalian Moeslimin, Moehammadijin'
Saat buku ini diterbitkan belum dilaksanakan 'Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928', namun buku ini juga sudah menggunakan tulisan dan bahasa Indonesia sesuai dengan jamannya, 90 tahun yang lalu.
Sumber : Buku Langka Blog
Kamis, 29 Oktober 2015
Sastra Melawa Stagnasi Bahasa
BANDARLAMPUNG, FS – Fungsi sastra adalah untuk menghidupkan kata-kata yang dalam keseharian terancam stagnan karena banalisasi kehidupan sosial politik. Bahasa Indonesia yang di tangan politisi dan birokrat terasa kehilangan makna menjadi segar dan hidup dalam olahan penyair atau sastrawan.
Penyair
Joko Pinurbo mengatakan hal itu dalam Wisata Seni Baca Sastra 2015 di
Taman Budaya Lampung (TBL), Bandarlampung, Kamis (29/10). Selain Joko
Pinurbo, tampil juga dalam kegiatan yang diisi baca puisi dan cerpen ini
sastrawan AS Laksana, Ahda Imran, Ari Pahala Hutabarat, Ahmad Yulden
Erwin, Iswadi Pratama, dan Wicaksono Adi.
Menurut
Joko Pinurbo, sastra adalah seni bermain kata. “Menulis itu bukan
sesuatu yang berat. Bahasa Indonesia itu luar biasa. Tadi saya bacakan
puisi yang menunjukkan betapa kata-kata dalam bahasa Indonesia itu bisa
menjelma untaian syair yang asyik,” ujar penyair yang biasa disapa
Jokpin ini.
Meskipun
demikian, kata Jokpin, untuk menulis puisi tidak bisa mengandalkan
ilham dari langit. “Kata kuncinya persiapkan bahan yang hendak ditulis.
Lakukan riset kecil-kecilan, misalnya tentang persamaan bunyi, lawan
kata, sinonim, dan lain-lain untuk menghasilkan tulisan yang baik.”
Riset
yang paling mungkin, menurut Jokpin, adalah dengan banyak-banyak
membaca. Ia menganjurkan untuk mencatat hal-hal yang dianggap penting
dari bacaan, yang kelak bisa menjadi bahan untuk menulis.
Cerpenis
AS Laksana mengaku berkali-kali membuat puisi, tetapi berkali-kali pula
ia gagal melahirkan puisi. Ia lalu memutuskan untuk fokus pada
penulisan prosa dan esai.
Namun,
diam-diam ia selalu mencari kalimat-kalimat yang menarik dari penyair.
“Meski tidak menulis puisi, saya suka puisi. Saya selalu banyak membaca
puisi untuk mengasah pena saya. Membaca itu kan seperti bercakap-cakap
dengan penulisnya,” kata dia.
Penyair
Wicaksono Adi yang bertindak sebagai kurator acara ini menambahkan,
sastra membawa fakta lain dari sebuah peristiwa atau hal tertentu. Ia
mengibaratkan peneliti biologi yang membawa ikan ke laboratorium,
sementara sastrawan menghadirkan angin, ombak, pasir dalam karya mereka.
(UZK)
Sumber : Fajar Sumatera
Sabtu, 24 Oktober 2015
Transmigrasi Dan Bahasa Daerah Lampung
Aktivitas transmigrasi dari Jawa ke Lampung terjadi sejak lama, 1905, dan berlangsung dalam jangka waktu yang demikian panjang baik resmi Pemerintah maupun spontanitas, sehingga Lampung menjadi nyaris identik dengan Jawa. Lampung tentu mendapatkan sekian banyak keuntungan dari program resmi Pemerintah dan berlanjut dengan transmigrasi spontan ini tetapi ada juga sisi ruginya. Jumlah yang mulai kurang seimbang antara enduduk asli dan pendatang antara lain berimbas dalam penggunaan bahasa daerah. Jumlah penutur bahasa Jawa lebih banyak dibanding penutur bahasa Lampung. Akhirnya belakangan baru disadari bahwa bahasa daerah Lampung kini termasuk salah satu bahasa daerah yang sedang terancam kepunahan, menyusul ratusan bahasa daerah yang telah punah sebelumnya, sementara hingga sekarang belum diketemukan antisipasinya. Dengan demikian maka berarti bangsa ini akan mengalami kerugian karena kehilangan kekayaan yang tak ternilai harganya.Transmigrasi Lampung yang dimulai sejak zaman Kolonial Belanda ini
Langganan:
Postingan (Atom)








