Tampilkan postingan dengan label Aksara Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aksara Nusantara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Januari 2011

MENGENAL AKSARA BALI



WAWAN SUPRIADI





Aksara Bali, banyak sekali kemiripan dengan Aksara Jawa yang disebut Aksara Hanacaraka, tetapi ada beberapa perbedaan dalam aturan penulisan bisa di baca di SINI, saya cukup kesulitan untuk mencari bahan untuk mencari tata cara penulisan Aksara Bali ini, tapi saya mencoba mengenalkan Aksara Bali ini, dengan harapan ada orang Bali yang mengerti akan Aksara Bali membagi ilmunya untuk memperkaya khazanah kita dlam mengenal kebudayaan leluhur kita. Sebelum mempelajari penulisan Aksara Bali ini sebaiknya mendownolaod dulu Bali Simbar-B.ttf DI SINI

Aksara Wianjana (Konsonan)


Aksara wianjana adalah hurup konsonan, nama dan bentuknya mirip dengan HaNaCaraka, bentuk dan cara penulisan dengan komputer adalah sebagai berikut:

Aksara Suara (Vokal
a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhD8eao3HeYL2tRlCYPClqokIkVm65EE5vrgQo6S-_tGFAJjOtTbDQI15e8rScsdYH1Gz5dhDi-88D4dpZXU4O1RCf08iCOoe2gHBK6tv-L-66IcuGOrLuSJutH8HJNp5IGkBXqYkGnMOC-/s1600/AKSARA+BALI+3.jpg">


Aksara Suara adalah hurup Vokal, bentuk dan cara penulisan dengan komputer adalah sebagai berikut:

Angka

Pangangge Suara

sebuah aksara Bali disebut lagna, dan berbunyi a, pangangge suara berfungsi untuk mengubah bunyi suara

Aksara Gantungan Atau Gampelan

berfungsi untuk mematikan hurup sebelumnya yang berada di awal kata atau di tengah kata, bentuk dan cara penulisan dengan komputer sebagai berikut

Aksara Bali adalah huruf suku kata. Tanpa mendapat ‘pangangge suara’, sudah dapat berfungsi sebagai suku kata. Aksara Bali yang belum mendapat ‘pangangge suara’ disebut lagna.

Suara a yang menyatu pada lagna itu akan hilang, bila :
Lagna tersebut mendapat pangangge suara
Lagna tersebut mendapat gantungan atau gampelan
Lagna tersebut diberi adeg-adeg

contoh lagna yang mendapat pangangge suara

Adeg adeg

berfungsi untuk mematikan huruf sebelumnya dan adeg-adeg ini dipakai pada akhir kataau akhir kalimat , cara penulisan adeg yaitu

apabila lagna yang akan dimatikan terletak di awal kata atau tengah kata digunakan gantungan atau gampelan contoh

Tangenan

Saat ini akhir tahun 2009 di alam Kompasiana pernah berdiri kerajaan yang bernama negeri ngocoleria. Negeri ngocoleria ini dipimpin oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana bernama Baginda ANDY SYOEKRY AMAL dengan permaisuri yang bernama Nyi Mas Ratu Kencana Inge. Baginda Raja memiliki dua orang selir yaitu Nyi Mas Rina Sulistiyoningsih dan Nyi Mas Siska Nanda. Kedua selir ini diincar oleh Menteri pertahanan ngocol yang bernama Adipati Aria Ibeng Suribeng. Untuk menjaga stabilitas negara dan stabilitas rumah tangga, sengaja Baginda Raja menikahkan putri satu-satunya yang bernama Nyi Mas kencana Wulung Nopey kepada Menteri Pertahanan Ngocol Adipati Aria Ibeng Suribeng. Semoga prasasti ini menjadi bahan pelajaran pada anak cucu jangan terlalu percaya pada menterinya

menjadi

Rabu, 05 Januari 2011

PENGARUH DINASTI PALLAWA DI INDONESIA HINGGA MUNCULNYA AKSARA KAWI

Dalam naskah-naskah Nusantara, keadaannya tidak seberuntung naskah-naskah yang berbentuk buku pada jaman sekarang. Kebanyakan materialnya terbuat dari bahan organik yaitu dluwang, lontar, kulit kayu, bambu, dan rotan. Warisan intelektual Indonesia terekam pada media-media yang telah disebutkan diatas termasuk batu. Indonesia juga merupakan negara yang memiliki kelimpahan naskah-naskah yang berharga nilainya. Seperti tulisan Thomas M. Hunter Jr., para sarjana telah lama menduga bahwa jaringan perdagangan internasional menghubungkan Cina dan Asia tenggara dengan India. Kemudian berkembang sampai permulaan millenium.

Bagaimanapun, penentuan tanggal paling awal tentang tradisi tulis di Indonesia adalah tetap pada prasasti Yupa dari Kutai pada abad V. Hal itu berhubungan dengan prasasti dari dinasti Palawa India Selatan dan prasasti Vietnam pada tahun 350 M. Kesemua itu mengindikasikan bahwa Indonesia telah mempunyai koneksi yang luas ke utara dan ke barat dari waktu itu. Penggunaan bahasa Sanskerta pada prasasti Yupa adalah sebuah potongan kecil dari fakta dan bukti diantara banyak hal lain yang meliputi daya tarik peradaban India dan agama Hindu-Buddha untuk aristrokrasi atau kebangsawanan Asia Tenggara. Fakta ini antara lain untuk pengadopsian tulisan India kepada bahasa pribumi dalam sebuah wilayah. Di Jawa, tulisan yang berkembang tersebut pada umumnya dikenal dengan istilah Kawi. Tulisan ini juga menjadi tulisan induk untuk berbagai masyarakat pada waktu sekarang di Indonesia.

Peziarah Cina bernama I Ching mengatakan pada kita, dalam laporannya, mengenai pendeta Buddha di Sriwijaya yang belajar keseluruhan kurikulum tentang India, termasuk dalam hal bahasa. Dia sendiri berhenti di Sriwijaya untuk belajar tata bahasa saat perjalananya ke India tahun 671M dan akhirnya kembali dan menetap empat tahun untuk menyelesaikan sebuah terjemahan baru dari kitab agama ke dalam bahasa Cina. Peziarah Cina lainya yaitu Hui Ning pergi ke Walaing di Jawa Tengah pada tahun 664 dan menerjemahkan teks Sanskerta pada Theravada ke dalam bahasa Cina dibawah tuntunan rahib Jawa. Selama kebutaan aksara di Jawa mulai berkurang dan melek aksara menyebar luas, maka penggunaan Sanskerta sebagai bahasa pada prasasti berangsur-angsur digantikan oleh bahasa pribumi. Di Jawa, prasasti dalam bahasa Jawa Kuna dimulai atau muncul pada awal abad ke-9 M. Di Bali, penggunaan bahasa Bali Kuna diperkirakan mulai digunakan pada akhir abad ke-9 M.

Pengaruh Kerajaan Pallawa di Indonesia

Sementara sampai saat ini sebagian besar dokumen Indonesia yang ditulis dalam alfabet Romawi, sejumlah besar masih diproduksi baik dalam beberapa bentuk tulisan Arab atau dalam aksara daerah seperti Jawa, Sunda, dan Bali yang memiliki asal mula yang sama dalam sistem penulisan kuno India asalnya. Sebuah warisan yang kaya teks-teks dalam naskah tidak lagi umum digunakan, seperti Batak dan Bugis, juga menegaskan penyebaran teknologi penulisan di seluruh Asia Tenggara selama era perdagangan maritim yang membawa serta penyebaran agama Hindu dan Budha.

Cendekiawan telah lama menduga bahwa jaringan perdagangan internasional yang menghubungkan Cina dan Asia Tenggara dengan India dan Timur Dekat telah dikembangkan pada awal milenium pertama. Tahun 1918, J.P. Vogel dalam studi mendetail mengenai prasasti Yupa dari Kutai, Kalimantan Barat , menunjukkan bahwa mereka berhubungan dengan naskah prasasti dari dinasti Pallava India Selatan serta situs-situs seperti prasasti di Vo-Canh Vietnam modern (bagian Cam kuno kerajaan yang berada di eksistensi pada awal abad kedua Masehi.) dan Anuradhapura di Sri Lanka. Ia juga menunjukkan bahwa Asia Tenggara mencerminkan contoh Pallawa perbaikan ke tulisan yang hanya kemudian dimasukkan ke dalam dinasti Pallava dari daratan India. Vogel memperkirakan tanggal dari prasasti Vo-Canh pada 350 M, prasasti Yupa pada 400 M, dan yang berhubungan erat Ci-Aruten, prasasti Jawa Barat pada 450 M memberikan kronologi kasar dari perkembangan awal apa yang sekarang kita kenal sebagai tulisan Pallawa Awal Asia Tenggara.

Kerajaan Pallawa merupakan kerajaan terbesar dan terkuat di seluruh Asia Tenggara pada masanya. Kerajaan Pallawa menduduki salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah dunia. Pallawa mengacu pada periode sejarah ketika sebuah dinasti dimana prajurit serta raja memerintah di bagian tenggara India. Perkiraan tahun masuknya kira-kira abad ke-3 M hingga abad ke-5 M, dan kehadirannya terasa sampai jauh seperti di Filipina dan Kalimantan. Hal ini dilakukan ketika tidak sedang melakukan kegiatan keprajuritan atau perdagangan, mungkin juga karena aktivitasnya di tanah asing. Mereka mengembangkan dan mempengaruhi tulis menulis. Awalnya tulisan tersebut itu digunakan untuk menulis bahasa Sansekerta. Tetapi sesuatu tentang tulisan ini pasti sangat mengesankan, dan kemudian berkembang sebagai tulisan dalam monumen batu yang berisikan tentang politik dan agama. selama 500 tahun berikutnya, variasi dan evolusi itu sedang digunakan untuk menulis sebagian besar bahasa Asia Tenggara.


Secara langsung maupun tidak langsung, tulisan pallawa berpengaruh :

1. Di India : Telugu, Tamil, Sinhala, kannada
2. Di seluruh Asia meliputi : Burma, Khmer (Kamboja), Thailand, Champ (Vietman), Kawi (Javanese, Balinese, Buginese), Sundanese

Tulisan palawa masih dalam kondisi baik. Tulisan ini ditemukan dalam prasasti Yupa. Sementara sejumlah tulisan lain asal India yang memberikan pengaruh pada evolusi huruf di daratan Asia Tenggara, tulisan pallawa tetap memperoleh pijakan di daratan Asia Tenggara.

Munculnya masa tulisan Kawi

Pada pertengahan abad kedelapan, bagian dalam Jawa yang mulai berkembang sebagai pusat kegiatan keagamaan dan pembentukan negara. Ini juga masa ketika ditulis keaksaraan telah dikembangkan ke titik di mana sebuah gaya tulisan mulai menggantikan gaya monumental tulisan awal dan akhir palawa. Sarjana seperti Kern, menyebutkan gaya penulisan baru ini "tulisan kawi" karena sering berhubungan dengan dokumen yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno atau Kawi.

Tulisan palawa jelas merupakan tulisan yang digunakan untuk tujuan monumental. Tulisan kawi awal merupakan tulisan yang digunakan untuk menulis pada daun lontar. Dc Casparis membedakan "kuno" dan "standar" bentuk tulisan kawi awal. Fase kuno diwakili oleh contoh Jawa diawali dengan prasasti Lingga dari Dinoyo pada tahun 760M. Pada pertengahan abad kesembilan, penggunaan tulisan kawi awal yang standar di Jawa sudah tetap. Satu set lempengan tembaga dari kekuasaan Balitung menggambarkan kesederhanaan yang menandai bentuk awal Standar Kawi. Menjelang akhir milenium pertama, Jawa kuna berkembang dari bahasa dengan tujuan arsip menjadi bahasa sastra yang sangat fleksibel dan halus, kemudian kekuatan politik bergeser dari Tengah ke Jawa Timur. Ini membawa evolusi lebih lanjut tulisan kawi.

Daftar Pustaka

Casparis, J.G.1975. Indonesian Palaeography. Leiden/Koln : E.J. BRILL.
Prijohutomo, 1953. Sedjarah Kebudajaan Indonesia. Djakarta : Groningen.
Zoetmulder, P.J. 1985. Kalangwan, Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Djambatan.

Daftar Gambar
http://www.ancientscripts.com/kawi.html
http://www.kamat.com/kalranga/deccan/pallavas.htm
http://www.omniglot.com/writing/pallava.htm
http://www.iranchamber.com/history/articles/india_parthian_colony1.php
http://skyknowledge.com/pallava.htm

sUMBER : hendiyuniarto.blogspot.com/

Minggu, 12 Desember 2010

(sosok) MUSTAFA SALEH ENGGAE : Ahli Waris Aksara Lota Ende

09 Des 2010

Samuel Oktora dan Khaerul Anwar

SUATUbangsa dikenal dari bahasa dan aksaranya. Salah satu kriteria tingginya budaya suatu bangsa dapat dilihat dari peninggalan budaya tulisnya. Masyarakat Ende, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, memiliki aksara Lota. Sayangnya, kini, aksara Lota itu terkesan dibiarkan mati.

Mustafa Saleh Nggae (KOMPAS/KHAERUL ANWAR)

Aksara Lota merupakan turunan dari aksara Bugis yang masuk Ende sekitar awal abad ke-16. Aksara Bugis ini kemudian beradaptasi dengan sistem bahasa dan budaya lokal masyarakat Ende. Pada masa lampau, aksara Lota ini ditulis pada daun lontar.

Pada 1990-an, aksara Lota semakin kehilangan penggunanya. Saat itu hanya kalangan tua yang menguasai aksara ini. Salah satunya Rugeya (kini almarhumah), sosok yang fasih menulis-membaca Lota dan menjadi narasumber para peneliti yang pada 1993 sudah berusia 65 tahun.

Proses regenerasi amat lemah. Generasi muda kurang berminat mempelajari aksara Lota karena terbatas penggunaannya dibandingkan aksara Latin yang menjadi alat komunikasi ataupun huruf Arab yang dipelajari untuk mendalami agama Islam. Akibatnya, aksara Lota pun mati pelan-pelan. Bahkan, saat ini pun kalangan tua sudah banyak yang lupa membaca dan menulis aksara itu.

Saat bergerak ke selatan Ende, tepatnya di Kampung Puubara, Desa Borokanda, Ende, tim Ekspedisi NTT Kompas bertemu Mustafa Saleh Nggae (52), salah seorang warga Ende yang peduli dan mencoba menyelamatkan aksara Lota dari kepunahan. Mustafa juga termasuk segelintir orang yang masih lancar menulis dan membaca aksara Lota dari total penduduk Ende yang berjumlah sekitar 250.000 jiwa.

Tidak ada yang menyuruh ataupun memaksa Mustafa untuk menekuni aksara Lota yang bentuknya mirip huruf Hiragana itu. ”Saya mulai belajar menulis dan membaca aksara Lota saat usia 30 tahun,” katanya.

Digunakan orang tua

Waktu itu, Mustafa tergerak mempelajari aksara Lota karena masyarakat yang bisa membaca dan menulis aksara Lota yang tersisa jumlahnya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Kalaupun ada yang bisa, usianya sudah melewati 50 tahun. Padahal, aksara Lota selalu digunakan para orang tua yang mengkhitankan anak atau warga yang akan membangun rumah baru.

Si empunya hajat biasanya minta dibacakan riwayat hidup, asal-usul, dan keadaan keluarganya yang tertulis dalam aksara Lota dan disampaikan dalam bentuk wo’i (nyanyian ratapan, prosa naratif tentang kejadian alam, riwayat hidup seseorang, dan lainnya).

Wo’i biasanya disampaikan di hadapan undangan di acara hajatan. Karena pendendang membaca dalam irama sedih, tidak sedikit undangan meneteskan air mata karenanya. Realitas itu yang membuat Mustafa bertekad mempelajari Lota. Ia tidak ingin sepeninggal generasi tua itu, aksara Lota hilang ditelan zaman.

Mustafa tidak berhenti di cita-cita. Dia juga mempelajari huruf Lota kepada kakeknya, Abdul Fatah (almarhum), yang tinggal di Pulau Ende. Kakeknya itu memang menguasai aksara Lota dan sering diminta menjadi pendendang wo’i beraksara Lota.

Niatnya yang bulat menyebabkan Mustafa kemudian tinggal sementara di Pulau Ende yang kalau ditempuh dengan perahu motor dari Kota Ende perlu waktu sekitar 45 menit. Ia belajar Lota rata-rata dua kali sehari setelah makan siang dan seusai shalat magrib. Keseriusannya menampakkan hasil. Dalam waktu tiga bulan, Mustafa lancar membaca dan menulis aksara Lota serta menguasai cengkok wo’i dengan baik.

Saking melekatnya wo’i dalam benaknya, Mustafa selalu dipanggil untuk mengekspresikan perasaannya pada banyak acara adat. Saat ini Mustafa sering diundang untuk membaca wo’i dalam acara resmi yang digelar Pemerintah Kabupaten Ende.

Tak ada regenerasi

Cita-cita Mustafa untuk meneruskan warisan leluhurnya kini mulai tercapai. Warga yang mengadakan hajatan hampir pasti meminta jasa Mustafa membaca wo’i. ”Mau dibayar berapa, terserah keikhlasan pengundang saja,” ucapnya soal upah dari jasa yang diberikannya. Dia lebih peduli jika aksara Lota itu semakin dikenal dan tidak ditinggalkan oleh masyarakat ataupun generasi mendatang.

Meski demikian, ia tetap saja risau aksara Lota ini akan hilang. Gelagat itu terindikasi dalam tiga tahun terakhir. Hampir tidak pernah lagi ada hajatan pernikahan dan sunatan yang diramaikan acara wo’i.

Kerisauan Mustafa ini bukan karena pendapatannya atau mata pencariannya terancam ikut hilang. Selama ini, sumber penghasilan utama Mustafa adalah dari menenun sarung tradisional Ende. Benangnya menggunakan pewarna alami. Selembar kain tenun buatan Mustafa dihargai tak kurang dari Rp 1,5 juta.

Mustafa lebih mengkhawatirkan hilangnya generasi masa depan Ende yang mengenal aksara Lota. ”Sebenarnya tidak sulit belajar Lota. Asalkan serius, tiga bulan pasti bisa baca-tulis Lota. Tapi, anak-anak muda sekarang tampaknya tidak suka belajar tulisan ini. Padahal, saya bersedia mengajar anak-anak di kampung ini,” katanya.

Strategi belajar Lota dimulai dari menghafal bentuk huruf, suku kata, dan konsonannya. ”Untuk lancar membaca aksara itu diperlukan waktu paling lama seminggu,” kata anak sulung dari empat bersaudara pasangan Muhamad Saleh-Jaenab itu.

Ketiadaan regenerasi diperparah lagi dengan sangat sedikitnya naskah Lota. ”Saya menyesal karena beberapa tulisan aksara Lota tidak saya simpan,” katanya.

Aksara Lota yang dibaca dalam bentuk wo’i biasanya dipegang si empunya hajat, dijadikan ”pusaka” karena isinya menyangkut silsilah keluarga, sejarah pemilikan tanah, dan lainnya. Bahkan, ada naskah Lota yang disimpan warga yang untuk melihat dan membacanya saja harus didahului acara khusus.

Penelitian lapangan selama dua bulan yang dilakukan Maria Matildis Banda di Ende tahun 1993 menunjukkan, setidaknya ada 20 naskah Lota. Jumlah itu amat sedikit dibandingkan naskah Sunda (789 naskah) yang dikoleksi di perpustakaan dalam dan luar negeri serta 554 naskah Sunda yang disimpan masyarakat.

”Saya baru sadar kalau penting sekali mempunyai catatan Lota. Mulai sekarang, saya menyempatkan waktu luang membuat catatan harian khusus dengan tulisan Lota, sekaligus untuk selalu mengasah membaca dan menulis,” ungkap Mustafa yang dengan upayanya sendiri mengonservasi aksara Lota di ambang kepunahannya.

Sumber: Kompas, Kamis, 9 Desember 2010