Fachruddin : Kliping Dan Catatan Tentang Bahasa, Retorika, Sastra, Aksara dan Naskah Kuno
Tampilkan postingan dengan label BAHASA POLITIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAHASA POLITIK. Tampilkan semua postingan
Selasa, 24 Oktober 2017
ANIS BASWEDAN PINJAM CELURIT MADURA UNTUK TEGAKKAN KEDAULATAN PRIBUMI
Dalam pidato perdananya sebagai Gubernur DKI Jakarta yang telah menjelma menjadi pusaran polemik tiada henti, Anies menyampaikan Kredo Kebangsaan agar seluruh pribumi Indonesia, khususnya di Jakarta, bangkit melawan penjajahan. Tentunya, kita tidak mungkin lugu, mengartikan “penjajahan” yang dimaksud Anies dalam artian fisik, seperti masa sebelum kemerdekaan.
Sebagai metafora pidato seorang Gubernur, kutipan kondisi masa lalu tentu berkaitan dengan kondisi masyarakat Jakarta saat ini yang masih “merasa terjajah” secara ekonomi, budaya, politik, sosial, dan berbagai sendi kehidupan lain. Selalu ada relasi erat antara tekstualitas masa lalu dengan kontekstualitas masa kini.
Sangat jelas, Anies menyampaikan, rakyat pribumi ditindas dan dikalahkan oleh kolonialisme….. Kini telah merdeka, saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai terjadi di Jakarta ini apa yang dituliskan dalam pepatah Madura, ‘Itik Se Atellor, Ajam Se Ngeremme’. Itik yang bertelur, ayam yang mengerami. Seseorang yang bekerja keras, hasilnya dinikmati orang lain.
Diksi kata “pribumi”, telah membuat Anies diserang dari berbagai penjuru angin. Di sisi lain, Anies juga mendapatkan pembelaan dari berbagai kalangan. Namun, yang justru paling penting, popularitas Anies meroket, bukan hanya secara nasional, melainkan juga mendapatkan sorotan dari berbagai kalangan di luar negeri.
Tom Pepinsky, dosen perbandingan politik program Asia Tenggara, Universitas Cornell, Amerika Serikat, justru menyatakan, bahwa pidato Anies adalah pidato Presiden, bukan pidato Gubernur. Karena, bagi Tom, pidato Anies seperti pidato untuk pemilihan presiden 2019, menempatkan Jakarta sebagai pusat politik, lalu menempatkan dirinya sendiri sebagai politisi nasional.
Lebih gila lagi, Tom Pepinsky berspekulasi, bahwa penjajah yang dimaksud Anies dalam pidato ini, di masa sekarang adalah Ras Cina dan Negara RRC yang dipersepsikan sedang mencoba mencengkeram kedaulatan Pribumi Indonesia.
<--more-->
Selama berpidato, Anies banyak mengutip peribahasa dari berbagai daerah ketika menyampaikan berbagai visi kepemimpinannya. Uniknya lagi, Anies mengurai kelima sila di dalam Pancasila dengan nukilan peribahasa dari berbagai daerah.
Perhatian besar Anies terhadap peribahasa, merupakan angin sejuk bagi para khalayak sastra dan linguistik di Indonesia. Baru kali ini, ada seorang pejabat tinggi yang selalu menggunakan peribahasa berbagai daerah ketika menyampaikan berbagai pemikiran dan rencana kepemimpinannya.
Di masa yang akan datang, akan sangat indah, tentunya, jika dalam setiap pidato, Anies selalu mengutip peribahasa daerah yang menyimpan berbagai mutiara kearifan nusantara. Peribahasa daerah adalah “filsafat asli” dari berbagai suku yang ada di nusantara.
Tak pelak, ketahanan nasional bangsa Indonesia dalam budaya, menjadi terbangun kuat melalui kebiasaan Anies mengutip peribahasa. Anies telah menciptakan tren baru dalam gaya berpidato, yaitu “Pidato yang Beraroma Peribahasa Nusantara”. Tanpa banyak disadari orang, dengan terus mengutip peribahasa, Anies telah menjadi Agen dari kekayaan immaterial (falsafah hidup) seluruh Pribumi Indonesia.
Namun, yang perlu kita cermati bersama, ketika menggelorakan semangat kedaulatan pribumi, Anies lebih memilih peribahasa Madura. Pertanyaannya, kenapa untuk mewakili semangat kebangkitan pribumi, Anies tidak memilih peribahasa yang bukan Madura?
Kenapa Anies tidak mengutip pepatah Arab yang luar biasa banyaknya? Kenapa tidak memilih pepatah/peribahasa Jawa yang jumlahnya mayoritas di Indonesia maupun Jakarta? Kenapa Anies malah tidak memilih peribahasa Betawi yang dianggap suku asli kota Jakarta? Apakah semangat pribumi hanya ada di dalam nukilan peribahasa Madura berbunyi, “Itik se atellor, ajam se ngeremme. Itik yang bertelur, ayam yang mengerami. Seseorang yang bekerja keras, hasilnya dinikmati orang lain?”
Dalam amatan saya, Anies memilih peribahasa Madura tersebut dengan penuh kesadaran dan pertimbangan yang lama. Tidak asal comot. Barangkali saja, ada peribahasa daerah lain yang juga bisa mewakili semangat perjuangan pribumi. Jangan-jangan, Anies memang sengaja memberi pesan, bahwa peribahasa Madura lebih tepat dalam mewakili semangat kebangkitan pribumi.
Anies lebih merasa cocok meminjam “Clurit Madura” (lambang dari karakter budaya Madura) sebagai “senjata bahasa dan peribahasa” dalam menyampaikan maksud dan tujuannya, guna menjunjung kedaulatan pribumi. Anies yang lahir di Kuningan, besar di Yogyakarta, justru tidak memilih kujang, keris, atau pedang Arab.
Jika diperkenankan berintrepretasi, saya melihat, Anies ingin menyampaikan, bahwa karakter orang Madura memang memiliki semangat dan mental yang kuat dalam menjunjung kedaulatan pribumi. Orang Madura pada dasarnya adalah orang yang mempunyai etos kerja yang tinggi, ramah, giat bekerja, ulet, dan suka merantau, karena keadaan wilayahnya yang tidak baik untuk bertani.
Orang perantauan asal Madura, umumnya berprofesi sebagai pedagang, berjual-beli besi tua, pedagang asongan, dan pedagang pasar. Tapi, tidak sedikit pula di antara mereka yang menjadi tokoh nasional.
Harga diri, menjadi hal paling penting dalam kehidupan orang Madura. Mereka memiliki sebuah peribahasa lebih bagus pote tollang, atembang pote mata. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata). Sifat yang seperti ini melahirkan tradisi carok pada masyarakat Madura. Karakter orang-orang Madura yang keras dan kuat ini, membuat tokoh-tokoh dari Madura menjadi penentu dalam berbagai peristiwa pergolakan besar sepanjang sejarah nusantara.
Arya Wiraraja, Tokoh Penting Madura Pada Masa Pergolakan Singasari, Kediri, dan Majapahit
Pada masa kerajaan Singasari, runtuhnya Singasari maupun bangkitnya Majapahit, tak lepas dari peran tokoh dari Madura bernama Banyak Wide, yang kemudian mendapat julukan Arya Wiraraja. Dalam sejarah, ia dikenal sebagai pengatur siasat kejatuhan Kerajaan Singhasari, kematian Kertanagara, pengatur siasat menghancurkan pasukan Tartar Mongol-China, bangkitnya Raden Wijaya dalam usaha penaklukan Kediri pada 1293, hingga pendirian Kerajaan Majapahit.
Arya Wiraraja adalah “Penasehat Kenegaraan” pada masa pemerintahan Kertanagara di Singasari. Arya Wiraraja merupakan tokoh muda Singasari yang terbilang cemerlang, karena di usia 30-an ia sudah menduduki jabatan sebagai “penasehat raja”.
Sayangnya, dalam konflik intern kerajaan Singasari, Banyak Wide dinaikkan pangkatnya, namun dipindahkan jauh dari pusat kerajaan menjadi “Adipati” di Sumenep. Pemindahan besar-besaran ini terjadi pada 1269 Masehi, di mana Banyak Wide kemudian memperoleh gelar “Arya Wiraraja” yang berarti “pemimpin yang berani”.
Ketika kerajaan Singhasari masih dalam suasana pertentangan melawan kerajaan Mongol Tar Tar, pada 1292 Masehi, terjadi kudeta berdarah yang menewaskan raja Kertanegara tersebut. Ini adalah suatu blank spot dalam sejarah di mana tiba-tiba Raden Wijaya dari wangsa Rajasa melarikan diri ke Madura dan menemui penasehatnya, yaitu Arya Wiraraja, di Sumenep.
Arya Wiraraja mau membantu Raden Wijaya, karena semasa muda, Wiraraja pernah mengabdi pada Narasingamurti (kakek Raden Wijaya). Maka, ia pun bersedia membantu sang pangeran untuk menggulingkan Jayakatwang. Mula-mula Wiraraja menyarankan agar Raden Wijaya pura-pura menyerah ke Kediri. Atas jaminan darinya, Raden Wijaya dapat diterima dengan baik oleh Jayakatwang. Sebagai bukti takluk, Raden Wijaya siap membuka Hutan Tarik di Tarik, Sidoarjo, Jawa Timur menjadi kawasan wisata bagi Jayakatwang yang gemar berburu. Raden Wijaya dibantu orang-orang Madura kiriman Wiraraja membuka hutan tersebut, dan mendirikan desa Majapahit di dalamnya.
Pada 1293, datanglah tentara Mongol untuk menghukum Kertanagara yang berani menyakiti utusan Kubilai Khan pada 1289. Raden Wijaya selaku ahli waris Kertanagara siap menyerahkan diri, asalkan ia terlebih dahulu dibantu memerdekakan diri dari Jayakatwang.
Maka, bergabunglah pasukan Mongol dan Majapahit menyerbu ibu kota Kediri. Setelah Jayakatwang kalah, pihak Majapahit ganti mengusir pasukan Mongol dari tanah Jawa. Semua siasat ini, tak lepas dari besutan dan nasihat dari Arya Wiraraja yang berasal dari Madura. Boleh dikata, siasat orang Madura bernama Arya Wiraraja berhasil menghajar “Non Pribumi dari bumi Majapahit”.
Trunojoyo, Sosok Madura yang Mengobrak-Abrik Mataram
Trunojoyo adalah seorang bangsawan Madura yang memberontak kepada Raja Mataram Sunan Amangkurat. Di bawah pimpinan Trunojoyo, pasukan gabungan orang-orang Madura, Makassar, dan Surabaya berhasil mendesak pasukan Amangkurat I. Kemenangan demi kemenangan, pasukan Trunojoyo bahkan berhasil mengalahkan pasukan Mataram pada bulan Oktober 1676.
Tanpa diduga, Trunojoyo berhasil menyerbu ibukota Mataram, Plered. Amangkurat I terpaksa melarikan diri dari keratonnya dan berusaha menyingkir ke arah barat, tetapi kesehatannya mengalami kemunduran. Begitu ganasnya Trunojoyo, hingga menyebabkan pemangku tahta Mataram itu terusir dari istananya di Plered.
Setelah terdesak ke Wonoyoso, Amangkurat I akhirnya meninggal di Tegal dan dimakamkan di suatu tempat yang bernama Tegal Arum. Padahal, dalam perjalanan itu, Amangkurat bermaksud meminta bantuan Kompeni Belanda. Meski kemudian, Trunojoyo akhirnya berhasil dikalahkan Mataram dengan bantuan dari VOC pada penghujung pada 1679.
Cakraningrat IV, Sosok Madura dalam Menghabisi Pemberontak Etnis Cina di Solo pada 1742
Pada 1740, VOC melakukan politik pengurangan jumlah etnis Cina (Tionghoa) di Batavia, karena jumlah etnis Cina melebihi jumlah serdadu VOC. Diperkirakan, pada saat itu jumlah Tionghoa diperkirakan telah mencapai sekitar 15.000 jiwa atau sekitar 17% total penduduk di Batavia.
Kebanyakan kaum Tionghoa pendatang itu tidak dapat memperoleh pekerjaan dan sebagian dari mereka menjadi sumber kerentanan sosial dengan semakin meningkatnya aksi-aksi kejahatan. Akhirnya, VOC membuat larangan untuk mencegah etnis Cina untuk memasuki Batavia dan mendeportasi sebagian dari mereka ke luar Pulau Jawa.
Pada tanggal 7 Oktober 1740, gerombolan-gerombolan orang Tionghoa yang berada di luar kota Batavia melakukan penyerangan dan pembunuhan beberapa orang Eropa. Akibatnya, pada 9 Oktober 1740, dimulailah pembunuhan besar-besaran terhadap orang-orang Tionghoa di Batavia. Diperkirakan, orang-orang Tionghoa yang terbunuh sebanyak 10.000 orang. Sementara, orang-orang Tionghoa yang berhasil lolos dari pembantaian di Batavia melarikan diri ke timur, menyusuri sepanjang daerah pesisir, bergabung dengan komunitasnya di Jawa Tengah untuk melakukan perlawanan terhadap VOC lebih lanjut.
Pada awal 1742, para pemberontak Etnis Cina itu mengangkat salah seorang pangeran cucu laki-laki dari Amangkurat III yang baru berusia 12 tahun, bernama Raden Mas Gerendi (lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kuning). Sunan Kuning adalah sebutan sunan yang diangkat oleh komunitas Tionghoa.
Pemberontakan dari Etnis Cina ini berhasil merebut Keraton Kartasura pada bulan Juli 1742, dan membuat Pakubuwono II lari ke Ponorogo. Namun, dengan dibantu oleh Pangeran Cakraningrat IV, Pakubuwono II menyerang Kartasura dan berhasil merebut Kartasura bulan Desember 1742. Tanpa bantuan Cakraraningrat IV dari Madura, saat itu, mungkin Kraton Solo masih dikuasai Etnis Cina pemberontak.
Entah bagaimana, berbagai peristiwa pemberontakan besar di tanah Jawa, selalu berkaitan dengan etnis Madura. Bahkan, boleh dikatakan, sosok Madura menjadi penghancur pasukan Tartar dan penghancur pasukan etnis Cina yang menguasai Kraton Solo.
Tampaknya, peran etnis Madura dalam berbagai pergolakan besar, perlu kita beri garis tebal. Pertanyaannya, ketika Anies menyitir perjuangan pribumi, kenapa mengutip peribahasa Madura? Hanya kebetulankah? Ataukah Anies justru sangat sadar mengenai hal ini?
Barangkali, kutipan Anies dengan peribahasa Madura mengenai Pribumi yang tertindas ini, perlu kita tanyakan kepada berbagai tokoh Madura yang saat ini cukup berpengaruh.
Suatu saat, perlu kita tanya hal ini kepada Mahfud MD (mantan Ketua Mahkamah Konstitusi), R. Hartono (mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat), Hadi Purnomo (Mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan BPK), Nurmahmudi Ismail (Mantan Mentri Kehutanan dan Presiden PKS), Achsanul Qosasi (Anggota VII BPK RI 2014–2019), dan tokoh Madura lainnya.
Cakrabirawa Penculik Jenderal, Mayoritas Berdarah Madura
Di luar semua hal itu, ada satu fakta menggelitik yang membuat Ben Anderson (Indonesianis dari Amerika) terhenyak ketika melakukan wawancara kepada Sersan Mayor Bungkus, bagian dari pasukan Cakrabirawa yang menculik para Jenderal.
Semula, Ben mengira bahwa inti serdadu yang bergerak di lapangan menculik para jenderal adalah orang-orang Jawa. Anggapan ini berubah setelah Ben bertemu dengan Bungkus. Ia melihat fakta menarik, bahwa hampir semua serdadu yang ditugasi menculik para Jenderal berdarah Madura. Pimpinan lapangannya juga berdarah Madura.
Pimpinan lapangan penculikan adalah Dul Arief yang diberi sandi Pasopati. Dul Arief adalah serdadu berdarah Madura. Hampir seluruh personelnya berdarah Madura, seperti Djahurup, dan Bungkus. Komandan batalyonnya adalah Letnan Kolonel (Infanteri) Abdul Latief yang juga memahami bahasa Madura. Maka, tak usah heran, bahasa sehari-hari di batalyon itu banyak menggunakan bahasa Madura.
Setelah peristiwa 30 September dan 1 Oktober 1965, Lettu Dul Arief dan Pelda Djahurup, hilang. Hanya Kopral Hardiono, anak buah Dul Arief, yang kemudian disidang di Mahkamah Militer Luar Biasa pada 1966 dan dituduh bertanggung jawab atas penculikan para jenderal tersebut.
Sejujurnya, fakta bahwa orang-orang Cakrabirawa penculik berdarah Madura, membuat saya sangat merasa keki. Meskipun demikian, saya ingin merenungkan hingga kapan pun, dan akan terus mencari jawaban, kenapa Anies Baswedan memilih peribahasa Madura untuk mewakili semangat kebangkitan pribumi?
Yang jelas, sejauh pengamatan saya, sejauh Indonesia ini berdiri, baru Anies Baswedan yang mendayagunakan peribahasa daerah dari Sabang hingga Merauke, untuk memperkuat argumen pidatonya.
Dengan manuver peribahasa, Anies adalah satu-satunya pemimpin Indonesia pertama yang terampil mengimplementasikan kekayaan falsafah hidup seluruh suku di nusantara untuk terwujudnya Bhinneka Tunggal Ika berdasar Pancasila dan UUD 1945. Ini adalah kunci Anies untuk mendapat luapan simpati dari hati rakyat Indonesia. Sungguh, saya agak yakin, jika Anies konsisten merawat berbagai peribahasa nusantara menjadi landasan pemikiran dan langkah kerjanya sebagai Gubernur DKI Jakarta, ia akan menjadi salah satu bintang terang pada 2019.
(Thowaf Zuharon adalah Pemerhati Peribahasa Nusantara)
--more-->
Sabtu, 23 September 2017
TEMAN DI WA TAK MENYUKAI CERITA NGERI DI ZAMAN SUSAH.
Bayangkari akan muncul manakala ada pihak yang mencoba untuk berbuat curang dengan mencatut nama Presiden Jokowi untuk mengimpor lima rtibu pucuk senjata. Yang ditenggarai ada sejumlah Perwira Tinggi yang nakal yang mencoba mendukung pihak sivil untuk mengimport sejata secara illegal. Panglina TNI dalam acara silaturrahmi dengan para mantan petinggi Abri antara lain Wiranto dan Prabowo, ada sejumlah Petinggi TNI aktif yang sedang berusaha untuk mendapatkan jabatan secara tidak benar. Panglima tak ingin TNI akan diseret seret kepada kepentingan politik, mereka akan diserbu oleh Panglima. bukan hanya menangis tetapi justeru mereka akan dibuat merintah manakala berbuat kesalahan. Karena awalnegara akan hancur manakala TNI nya berpolitik.
Ketika ini saya posting di sebuah group WA ternyata tak semua anggota WA menyukai saya memfosting sesuatu yang sangat mengerikan itu, walaupun saya tekah memilih kata kata sehalus mungkin untuk tidak memancing emosi para anggota WA, melainkan saya arahkan agar cukup ikut berdoa saja agar Panglima TNI memiliki kemampuan mengatasinya manakala ada mereka yang bersenjata bermain politik, bermain curang dan ikut mendukung civil melakukan pengadaan senjata. Ada anggota WA yang menampakkan ketidak sukaan atas posting itu.
Saya tahu mereka yang tak suka itu adalah anggota yang menghendaki ketentraman batin dalam ber WA ria. Jangan pula dibebani dengan kesusahan, ketakutan dan kengerian, sebab manakala Indonesia ini mengalami huru hara maka kesusahan pasti akan muncul. Maka ketika saya memposting dengan postingan yang menakutkan itu, semula ditimpali dengan cerita cerita humor, tetapi nampaknya saya kurang bijak dalam memahami keinginan para anggota, justeru yang semula hanya memposting berita dan plus suara, lalu tiba tiba saya memposting berita yang sama dalam bentuk youtube. Kesabaran merekapun habis sehingga mereka menimpali dengan kaidah cara bergaul di WA.
Dikatakan bahwa anggota WA yang tak pandai mengendalikan diri itu dalam grup WA adalah, yang suka ceramah agama, suka menasehati, suka mengkritik, sukacerita politik, suka posting artikel, suka berita hoak, nampaknya yang dinginkan oleh para anggota adalah para anggota yang suka humor. Saya fikir memang demikian yang dikehendaki oleh para teman teman di WA. Karena memang sebelumnya saya menkopas sebuah artikel pendek tentang agama, memang saya durespon hambar, karena barangkali para anggota melihat saya belum sesuai dengan isi postingan itu. Karena postingan saya menyangkut masalah sosok tokoh yang tak pernah lepas dari solat malam, dan sholat dhuha. Dan para anggotapun memang sepengetahuan mereka dan memang saya akui juga bahwa sholat malam dan dhuha saya kurang terpelihara dengan baik, serta pengetahuan keagamaan saya ada di bawah rata rata.
Tetapi catatan saya paling penting adalah bahwa teman teman tajk suka ada mendengar cerita bahwa bangsa ini sedang terancam bahaya, termasuk bahaya komunis dan perpecahan lainnya. Mereka ingin bangsa ini tentram damai serta sejahtera seperti harapan kita semua.
Rabu, 13 September 2017
WALIKOTA PEKALONGAN MENINGGAL SETELAH SEMPAT MENYEGEL MASJID
Wallohu a'lam bishowab, hanya Allah yang tahu. Walikota Pekalongan Jateng meninggal mendadak dalam keadaan sehat walafiat di rumahnya, setelah beberapa hari sebelumnya Walikota yang kader PDIP ini menyegel sebuah masjid yang sedang di rehab. Masjid yang oladalaheh masyarakat setempat dengan nama Masjid Al-Arqom di Krapyak Kidul. Di mata masyarakat Masjid yang dibangun tahun 1990. Semula masjid ini hanya Langgar atau Musholla yang sangat bersejarah karena oleh para pemuda setempat dijadikan posko penumpasan G 30 S PKI tahun 1965. Seratusan jama'ah lebih jama'ah setelah masjid itu disegel Bupati dengan alasan tidak memiliki ijin rehab disegel Bupati sehingga masyarakat setempat tak dapat lagi memanfaatnya untuk sholat lima waktu, sholat Jumat dan aktivitas lainnya. Selain mereka berdoa dipimpin oleh Imam masjid mereka menambahkan doa masing masing dengan cucuran air mata, sungguh mereka tak percaya ada seorang Walikota yang mereka pilih telah melakukan kesewenang wenangan, dan terang terangan melawan Allah.
Entah pemikiran apa yang merasuk kepada Kader PDIP ini sehingga berkesimpulan harus menyegel rumah ibadah yang sangat berjasa dalam upaya menumpasan antek antek G 30 S PKI itu. Memang antara ummat Islam dengan PDIP akhir akhir ini menjadi kurang harmonis, lantaran PDIP semakin berani terang terangan untuk berbeda sikap tentang penerus paham komunis, PDIP nampak lunak dan well Come kepada pendukung Komunis, sementara ummat Islam memang secara terang terangan megaanggap bahwa komunis itu adalah merupakan bahaya latin yang harus di waspadai terus menerus. Demikian juga dengan sikap politik PDIP terhadap Pendidikan Agama, melalui kadernya PDIP mewacanakan untuk menghapus pendidikan agama dari sekolah sekolah formal, pendidikan agama diminta menjadi aktivitas pribadi dan keluarga saja.
Bagi ummat Islam masalah ibadah, dakwah dan pendidikan agama sangat dipentingkan. sementara bagi PDIP diwacanakan justeru pendidikan agama dihapuskan, ummat Islam anti Komunis, PDIP ingin bermesraan dengan Kmunis. Tetapi lalu apakah perbedaan politik itu yang membuat Sang Walikota Pekalongan menyegel masjid yang sudah berdiri sejak sebelum tahun 1965, sebelum meletusnya Pemberontakan Biadab yang dilakukan oleh PKI itu. Mengapa masjid itu disegel ketika masjid itu sedang dilaksanakan rehab, dan karena belum diurus ijin bangunannya. Mungkin memang banyak masjid masjid tua itu tak lagi menyimpan Ijin Bangunannya, tetapi apakah lantaran seperti lantas dianggap sebagai sesuaitu ancaman bagi Indonesia dan harus disegel oleh penguasda. Marilah kita berfikir lebih jernih dalam mengelola bangsa ini.
Kucuran air mata Imam Masjid dan para jema'ah telah berjatuhan, isak tangis telah meledak seledak ledaknya. Mereka telah berdoa meminta agar Bupati mendapat hukuman yang setimpal. Kini Walikota yang bersangkutan telah meninggal dunia. Kita tidak tahu apakah tindakan yang jelas jelas melawan Tuhan sempat dia mohonkan ampunanya, kita tak tahu. Apakah Tuhan telah mengampuninya, kita tak tahu apakah PDIP masih kekeh dengan politiknya. Harapan kita Pemerintah memiliki kemampuan menyelesaikan segala permasalahan yang terjadi, jangan penyegelan rumah ibadah dijadikan trend.
Bila Masjidyang telah lama berdiri dan memiliki sejarah yang cukup panjang, ternyata masih belum memiliki IMB, apakah tidak boleh IMB diurus kemudian tampa penyegelan. Bila ada persoalan antara mesjid dengan masyarakat setempat harap diuraikan permasalahannya, apakah permasalahan itu masjid telah digunakan untuk kegiatan terlarang, atau dasar masyarakatnya yang suka karena ketentraman terganggu dan semacamnya. Bila memang ada pelanggaran UU atau aturan yang sangat serius, maka apakah penyegelan masjid adalah jalan keluarnya, bukankah masih bisa Pemerintah menangkap mereka yang bersalah dan sebagainya.
Penyegelan masjid hendaknya merupakan upaya yang terakhir, setelah tajk mungkin mencari jalan keluar lainnya. Dan kalaupun harus dilakukan tindakan, semestinya Kementerian agama juga dilibatkan, untuk membahas, mencarikan jalan keluat serta memberikan penjelasan kepada ummat. Semoga saja Pemeriuntah memiliki kemampuan membuat Indonesia ini semakin kondusif. Kita tak juga tahu apa maunya Pemerintah dan penguasa. Maka marilah kita berserah diri kepada Yang maha Kuasa Allah Subhanahu Wataala. Agar kita tetap terpelihara termasuk Bapak Walikota Pekalongan yang kini telah dia, siapa tahu beliau belum sempat meminta ampun dosa, bila benar beliau seorang muslim maka marilah juga kita doakan keampunannya, sebagai manusia dia salah atau lupa.
Lebih mematuhi kehendak partai ketimbang Tuhannya, Karena memang keterlaluan bila masjid disegel hanya lantaran terlanjur belum punya IMB, kan sudah ada peraturannya tinggal mengajukan permohonan belaka, Bila ada sekelompok orang mungkin propokator untuk penutupan masjid, itu harus dikonfrontir secara adil, kembalilah ke Peraturan yang. Mari kita jadikan pelahjaran yang berharga.
Senin, 04 September 2017
POLITIK BULY DAN EJEK MENGEJEK DI INDONESIA.
SEBUAH BUNGA RAMPAI CATATAN
Bukan baru sekarang politikus Islam dibuly dan diejek, tetapi sejak zaman Haji Agussalim dahulu. Bukan baru sekarang jenggot yang sunnah Rasul itu diolok olok, Tetapi sejak zaman Agussalim dahulu. Para politisi berpikir keras bagaimana caranya membungkam politisi Muslim agar tak mampu berkutik, tak mampu bersuara, cukup menerima saja kesepakatan yang diputuskan tampabanyak cingcong, dan bila perlu diberikanlah sedikit uang kmpensasi bagi para politisi. Disadari atau tidak itulah yang dibiarkan terjadi selama puluhan tahun, hingga pada saat ini benar benar Parpol Islam nyaris tak berdaya. Politisi Muslim berhasil dipisahkan dari ummat yang seyogyanya mendukungnya. Sema Parpol nampaknya berpikiran Politik Islam itu lebih utama untuk dilemahkan, para tokohnya dirusakkan karakternya. H. Agussalim menjadi sosok yang paling menarik perhatian dalam sejarah perpolitikan di Indonesia.
Bila politik pembulian dan pengejekan itu tetap marak di zaman kekuasaan Soekarno, tetapi nampaknya itu semua terhenti di zaman Soeharto, politik Soekarno yang berhasil mengontrol pemahaman Pancasila dan mengontrol kebebasan berpendapat, barangkali itu pula sehingga pelaksanaan politik pembulian serta politik pengejekan itu sepertinya relatif telah mereda. Tetapi teriana seperti daulu orang meneriakji H. Agusslim kembali marak, walaupun hanya dalam teriakan huuuuu ..... di Gedung DPR pada saat Presiden Habibi akan memasuki gedung untuk menyampaikan pidato pertanggungjawaban, acara ini selain teriakan ejekan yang dilakukan oleh sejumlah politisi, juga ditandai penolakan pertanggungjawaban yang disampaikan Habibie. Tetapi Raklyat disuguhi tontonan yang tidak mendidik, bila tak ingin disebut sebagai penghancuran mental Generasi Muda.
Nampaknya Pemerintah bukan sekedar melakukan pembiaran melainkan ikut bermain dalam perusakan karaktar politisi yang tak disukai oleh penguasa. memang naik turun, Pada era Habibie pembulyan nampak nyata dan terang terangan, dan pada mara Gus Dur hampir dikatakan puncak kebebsan pembulyan terhadap diri Presiden. Baru mereda di era Megawati, kembali marak di era SBY, puncak politik buly dan politik pengejekan adalah di masa Jokowi-JK ini.
Politik Bulying dan Politik Ejekan Tetap Berlangsung.
Untuk pembunuhan karakter selaku ulama dan Tokoh Nasional ruangan demikian gaduh dengan menirukan suara kambing bila H. Agussalim akan memasuki ruangan. Tetapi pada saat itu H. Agussalim benar benar cerdas. Dia mengatakan "Saudara Saudara sebenarnya pertemuan ini hanya dihadiri manusia, tetapi saya dengar tadi koq banyak suara kambing, cobalah kambing kambing itu diusir agar tak mengganggu jalannya pertemuan. Itu jawaban sekedar menyindir.
Bukan baru sekarang politikus Islam dibuly dan diejek, tetapi sejak zaman Haji Agussalim dahulu. Bukan baru sekarang jenggot yang sunnah Rasul itu diolok olok, Tetapi sejak zaman Agussalim dahulu. Para politisi berpikir keras bagaimana caranya membungkam politisi Muslim agar tak mampu berkutik, tak mampu bersuara, cukup menerima saja kesepakatan yang diputuskan tampabanyak cingcong, dan bila perlu diberikanlah sedikit uang kmpensasi bagi para politisi. Disadari atau tidak itulah yang dibiarkan terjadi selama puluhan tahun, hingga pada saat ini benar benar Parpol Islam nyaris tak berdaya. Politisi Muslim berhasil dipisahkan dari ummat yang seyogyanya mendukungnya. Sema Parpol nampaknya berpikiran Politik Islam itu lebih utama untuk dilemahkan, para tokohnya dirusakkan karakternya. H. Agussalim menjadi sosok yang paling menarik perhatian dalam sejarah perpolitikan di Indonesia.
Bila politik pembulian dan pengejekan itu tetap marak di zaman kekuasaan Soekarno, tetapi nampaknya itu semua terhenti di zaman Soeharto, politik Soekarno yang berhasil mengontrol pemahaman Pancasila dan mengontrol kebebasan berpendapat, barangkali itu pula sehingga pelaksanaan politik pembulian serta politik pengejekan itu sepertinya relatif telah mereda. Tetapi teriana seperti daulu orang meneriakji H. Agusslim kembali marak, walaupun hanya dalam teriakan huuuuu ..... di Gedung DPR pada saat Presiden Habibi akan memasuki gedung untuk menyampaikan pidato pertanggungjawaban, acara ini selain teriakan ejekan yang dilakukan oleh sejumlah politisi, juga ditandai penolakan pertanggungjawaban yang disampaikan Habibie. Tetapi Raklyat disuguhi tontonan yang tidak mendidik, bila tak ingin disebut sebagai penghancuran mental Generasi Muda.
Nampaknya Pemerintah bukan sekedar melakukan pembiaran melainkan ikut bermain dalam perusakan karaktar politisi yang tak disukai oleh penguasa. memang naik turun, Pada era Habibie pembulyan nampak nyata dan terang terangan, dan pada mara Gus Dur hampir dikatakan puncak kebebsan pembulyan terhadap diri Presiden. Baru mereda di era Megawati, kembali marak di era SBY, puncak politik buly dan politik pengejekan adalah di masa Jokowi-JK ini.
Politik Bulying dan Politik Ejekan Tetap Berlangsung.
Untuk pembunuhan karakter selaku ulama dan Tokoh Nasional ruangan demikian gaduh dengan menirukan suara kambing bila H. Agussalim akan memasuki ruangan. Tetapi pada saat itu H. Agussalim benar benar cerdas. Dia mengatakan "Saudara Saudara sebenarnya pertemuan ini hanya dihadiri manusia, tetapi saya dengar tadi koq banyak suara kambing, cobalah kambing kambing itu diusir agar tak mengganggu jalannya pertemuan. Itu jawaban sekedar menyindir.
Kamis, 31 Agustus 2017
PEGIAT MEDSOS PILIHAN DIUNDANG PRESIDEN ..
Sebagai seseorang yang hampir setiap hari mengunjungi setidaknya dengan salah satu akummedia sosial saya apakah itu facebok, WhatsApp dan hampir dapat saya pastukan saya membuka Youtube, bahkan sampai dengan komentar komentar di youtube itu yang sungguh sungguh sangat mengerikan, karena di media sosial itu nampaknya terdiri dari manusia manusia yang merasa memiliki kebebasan untuk bicara apa saja, Walupun banyak diantara mereka yang tajam berbicara di medsos, tetapi bisa sangat sopan di di dunia riil, bukan maya.
Tetapi tetap saja apa yang dinyatakan dalam medsos dunia maya manakala seseorang salah mengucap/ menulis atau mengucapkan sesuatu yang kurang, itu akan tercantum terus hingga masa yang yang tak terbatas, salah satu You Tube yang saya terbitkan pada tanggal 31Juli 2016 saya lihat sudah dikunjungi sebanyak 309.523 pengunjung, saya bersykur karena hanya sekitar 300-an kali dikomentari. Saya sedihnya karena mencapai 80% dari komentar itu terkategori kurang baik. Ketahuilah komentar kurang baik itu akan tercantum di situ selama belum saya hapus. Atau terhapus dengan sendirinya, mungkin karena tidak ada lagi yang mengunjunginya, di mana komentar buruk itu akan dengan mudah dibaca oleh seseorang, dan pengaruhnya bisa sangat buruk sekali.
Dunia medsos yang disebut dunia maya itu pada pelaksanaan Pilpres yang menampilkan pasangan Jokowi-JK versus Praboho-Hatta Rajasa ditandai dengan perang medsos yang sungguh sungguh sangat menghawatirkan, para aktivis dunia maya yang juga memiliki nama keren nettizen sebagian adalah merupakan pihak pihak yang menganut pembicaraan bebas tampa batas dan pertanggungjawaban, yang sesungguhnya dunia itu sedang membutuhkan peraturan yang mampu mengantisipasi pengaruh buruk yang bisa menghancurkan bangsa,
Saya termasuk kaget dengan kemampuan Pemerintah yang berhasil menentukan aktivis medsos yang tergolong teladan sehingga memiliki kepantasan diundang oleh Pemerintah ke istana. Entah apa ukuran Pemerintah mengelompokkan mereka sebagai aktivis medsos yang pada saat ini justeru sangat menghawatirkan masa depan bangsa akan terpengaruh dengan gaya gaya mereka di medsos.
Namun demikian mungkin Pemerintah sesungguhnya telah berusaha memilah diantara mereka yang terpilih sebagai yang terbaik, tetapi kritik tak dapat dihindari karena ternyata sesama aktivis medsos mereka dapat mengenal antara satu dengan yang lain terlepas dari apakah menggunakan nama jelas atau nama samaran, dan siapa siapa diantara mereka yang melakukan kekeliruan atau berbicara / menulis dengan cara menyerang, membuly dan menjelekkan pihak lain, dan diantara mereka itu menurut banyak aktvis, dinilai tak layak menghadiri pertemuan terhormat itu di istana.
Semestinya Pemerintah menghindari politik belah bambu, apalagi pegiat medsos itu sejatinya saling tahu siapa berbuat apa. Memang peran medsos sangat besar dalam upaya pencitraan mulai dari Pilkada DKI yang menampilkan Jokowi - Ahok sebagai pemenang, Pilpres yang menghasilkan Jokowi-Jk sebagai pemenang. Walaupun diluar dugaan Ahok-Jarot mengalami kekalahan telak dalam Pilkada DKI yang memunculkan Anis-Sandi sebagai pemenang.
Kita semua dibuat cemas dengan munculnya perang di medsos yang akan menghancurkan moral bangsa, tetapi manakala Pemerinmtah keliru dalam menyikapinya, dan apalagi sampai menerapkan politik belah bambu, maka yakinlah bawa perang dia medsos akan lebih marak dan mempercepat kehancuran yang sama sama tak pernah kita inginkan.
Rabu, 30 Agustus 2017
CARA BERPIKIR HANCUR KARENA KEBENCIAN AKIBAT KEKALAHAN DALAM PILKADA DKI
Bukan Prof. Rocky Grung namanya bila setiap bicara tidak membuat kejutan, dahulu Gerung mengatakan bahwa Pemerintah adalah pihak pembuat hoak yang paling tinggi atau paling banyak, belakangan Gerung mengungkapbahwa Pemerintah dimenej secara manajemen kebencian dan itu diakibatkan oleh kekalahan di PILKADA DKI beberapa waktu yang lalu. Analisis ini bagi orang awam seperti saya bila mengacu kepoada sistematika cerita wayang ini memasuki babak Goro Goro yang berarti sebentar lagi bakal terjadi perang Brontoyudo. Perang besar yang mengakibat kehancuran hingga berpuing puing untuk kita bangun kembali dari nol dari sisa sisa puing puing yang ada. Bila memang itu yang betul akan terjadi maka jelas sebagai rakyat kecil seujung rambutpun kami tak akan rela, terhadap gaji para petinggi negeri ini yang yang seenaknya saja membuat negeri yang kami cintai ini sebagai panggung mainan seperti itu.
Sejaksaya masih menjadi mahasiswa di sebuah Perguruan Tinggi, orang dengan bangga mengatakan bahwa Presiden Soeharto telah berhasil menerapkan manajamen konflik, hingga saya diwisuda, hingga saya bekerja, dan hingga saya pensiun saya masih saja gagal paham dengan kebanggaan orang orang ointar pendukung Soeharto dengan manajemen konfliknya itu. Kini saya sedang memasuki masa masa akhir darikehidupan saya di dunia ini, saya pun masih mengalami gagal paham atas keberhasilan dan kecemerlangan Manajemen Konfliknya Presiden Soeharto. Dan saya tak ingin mendalami manajamen konflik,yang menurut pendapat saya agama saya Islam tidak pernah mengajarkan itu. Yang saya tahu Soeharto diturunkan orang secara paksa di tengah jalan, pada saat kepemimpinannya dianggap gagal.
Demikian juga dengan manajemen kebencian yang diterapkan oleh Presiden Jokowi bersama rejimnya, dengan membesarkan mereka mereka yang menyebar kebencian dengan berita hoax, yang lama lama masyarakat jga mengenal mereka mereka itu, dan masyarakatpun tahu bahwa Pemerintah melakukan pembiaran kepada mereka yang terbiasa menyebar hoax dan bahkan mereka yang memang sudah mulai sangat dikenal sebagai penyebar hoax justeru pernah menjadi tamu kehormatan di istana, kata Jonru Ginting di acara ILC. Ditambahkan mereka yang biasa menyebar berita hoax justeru diundang ke istana untuk mengikuti lomba penulisan keberhasilan Pemerintahan Jokowi.
Kata Rocky Gerung, manajemen kebencian, juga ditindaklanjuti dengan pemberangusan pengembangan literasi, disatu pihak Pemerintah memng selalu mempidatokan penegakan kemerdekaan dan demokrasi, tetapi di lain pihak juga mengkampanyekan Pancasila, Demokrasi serta NKRI sebagai harga mati. bahwa dengan kalimat itu berarti Pemerintah sedang mengancam para akademisi untuk tidak menggunakan hak kebebsan mimbarnya, karena tak ada lagi yang harus didialogkan terkait Pemerintahan. Menurut Gerung itu semua Hoax yang dibuat oleh Pemerintah.
Pusing, pusing, pusing tujuh keliling. Sangat tidak terbayangkan bahwa kehancuran sudah mulai membayang di pelupuk mata. Jika memang mereka yang bicara itu salah, maka harapan kita sebagai rakyat kecil, tangkap mereka, hukum merekaseberat beratnya. Tetapi jika mereka benar maka ikutilah saran mereka. Dan kepada Pemerintah janganlah mengikuti jejak Presiden Soeharto dengan menerapkan manajemen eksentrik, laksanakan saja manajemen yang lebih beradab, manajemen yang sesuai dengan tuntunan agama. Semoga Tuhan melindungi bangsa ini dari kehancuran. Amin.
Rabu, 23 Agustus 2017
SRI RANTI PAHLAWAN KAMI
SAYA BUKAN olahragawan, apalagi pakar olahraga, tetapi hanya warganegara Indonesia, warga biasa, warga yang kurang cerdas mengakses hasil pembangunan, ada diposisi menengah ke bawah yang cenderung di bawah. Tetapi dalam dunia olahraga saya juga memiliki rasa fanatisme kebangsaan. Saya ikut merasa prihatin akhir akhir ini Bangsa kita mengalami paceklik prestasi olahraga. Seingat saya dahulu kita adalah Rajanya di Sea Game, tetapi akhir akhir ini kita sulit akan mencapai prestasi yang lalu. Dahulu negara yang kita jadikan sasaran dalam mengoleksi medali, justeru berbalik mempecubdani kita di gekanggang pertandingan. Itulah sebabnya ketika Sri Santi meraih emas pertama bagi Indonesia dari cabang memanah, maka Kami tetapkan Anda Sebagai Pahlawan Kami. Apalagi kau masih kekeh mempertahankan hijab penutup rambutmu yang tergolong aurat itu, simati kamipun bertambah.
Perkara Presiden Jokowi simpatinya lebih jatuh kepada atlit Wushu Linswel Kwok,itu adalah pilihan Jokowi hak belaiu sebagai anggota masyarakat, sama dengan hak saya mengganggap Sri Yanti sebagai pahlawan pembuka jalan mendapatkan emas pertama, sementara Lindswel Kwok peraih emas kelima. Presiden Jokowi tidak sendirian, karena ternyata orag banyak juga memilih Lindswel sebagai atlit tercantik. Memang sebagai Presiden Jokowi harus memilih semuanya, tidak pilih kasih. Tetapi bukankah Jokowi sebagai pribadi juga memiliki hak memilih siapa yang akan diviralkan secara blowup di akun facebooknya. Jangan sekalikali merampas hak Presiden Jokowi sebagai warga terbaik.
Bukan karena Sri Yanti sebagai pribumi dan mengenakan hijab. Tetapi sekali lagi hak, hak Jokowi sebagai warga yang baik, kita semua harus hargai itu. Memang sih pada saat ini simbol simbol Islam dan budaya Islam sedang tidak disukai paska kekalahan Ahok di Pilkada, dan terbuktinya Ahok menista agama di Pengadilan, dengan ganjaran dua tahun. Bukan hanya hijab yang dibenci orang, tetapi juga janggut, celana cingkrang, gamis, serban serta jidat hitam karena sholat juga sedang tak disukai orang. Tetapi nanti saya yakin kebencian dengan dasar yang sangat remeh temeh itu akan segera move on. Karena bahaya yang sedang mengancam itu adalah kembalinya faham Komunis ke Indonesia.
Saya berharap agar Sri Yanti tenang saja, karena biasanya para atlit pulang berlaga akan mendapatkan hadiah, secara merata, bahkan peraih medali akan mendapat tambahan hadiah tanda simpati, dan tentunya peraih medali emas akan mendapatkan hadiah yang lebih besar, Semoga sama besarnya antara peraih emas panahan dengan peraih emas wushu. Senangkanlah hatimu wahai pahlawanku. Karena aku tak sendiri jadi engkau adalah pahlawan kami.
Kamis, 17 Agustus 2017
Wiranto Terlibat Rekaya Kerusuhan
Wiranto Jago ngarang cerita, itu komentar pensiunan TNI yang juga kolega Wiranto sendiri dalam suatu wawancara di TV itu pertanda ada disharmonis antara para mantan petingi TNI, tetapi pada saat ini Wiranto memiliki panggung, maka banyak pihak berharap Wiranto adalah sosok jujur bicara apa adanya karena salah sekalipun manakala berulang ulang dibicarakan maka masyarakat akan mengira benar adanya. bisa jadi Wiranto tergolong jenderal yang banyak tahu tentang yang orang orang tidak tahu. Memang sich nanti Tuhan yang akan membukakan aib seseorang di akherat terhadap hambanya yang senang mengumbar keslahan orang lain, apalagi sedikit dipoles cerita bohong. Tetapi jelas keinginan masyarakat adalah cerita yang sebenarnya terjadi.Kita berharap para mantan petinggi TNI itu mampu menyelesaikan masalah diantara mereka dan mengutamakan keutuhan bangsa ini secara bermartabat.Itu yang harus kita dorong.
Keterbatasan sudut pandang dari masing masing pelaku, maka sulit bagi pelaku sejarah menjelaskan keseluruhannya. Lain kesaksian yang satu, lain lagi kesaksian yang lainnya. Maka sejatinya mereka yang berbeda jangan mengaku paling benar. Dan nantinya belakangan akan terbuka lebar, ini sangat mungkin bila kesaksian kesaksian sejarah itu mendapatkan kesempatan manggung atau mampu menulis secara jernih, bisa saja yang semula tidak disebut sebut belakangan mulai disebut sebut karena kesempatan datang belakangan.
Walaupun entah benar atau salah, contohnya dahulu tak ada orang menyebut LB Murdani adalah tokoh yang merekayasa terjadinya huru hara. Tidak cukup nama besar LB. Murdani tetapi sejumlah nama besar yang kini berda dipasukan Jokowi terlibat rekayasa kerusuhan itu sebagai loyalis perancang rekayasa kerusuhan LB. Benarkah LB Murdani perancangnya, masih perlu diuji lagi. Jelas cerita ini sangat mengejutkan, kita semua mengharap ada yang keliru dalam informasi ini, tetapi apa boleh buat, konon hasil penelitian Prof, Salim Said merupakan sentral informasi ini, yang sebelumnya Fadlizon telah mengedarkan tulisannya. Sehingga sulit bagi masyarakat untuk menidakkannya,karena harus dibantah dengan hasil penelitian uang bertahun tahun pula, semoga kita bisa dewasa menerima simpangsiurnya kesaksian sejarah ini. Terlebih LB Murdani sedang sakit hati kepada Presiden Soeharto.
Belakangan ini selain Wiranto, Juga disebut sebut Megawati, Yusuf Wanandi Syofyan Wanandi konon dalam catatan hasil penelitian Prof. Salim Said itu sering disebut sebut dalam merekaya kerusuhan itu. Teruis terang ini berita yang sangat menghawatirkan. apakah Profesor telah mengecek ulang data dan bukti serta kesahehan informasi yang didapatkan untuk menulis hasil penelitian ini.Sekali lagi kita harusbersabar dalam menerima kesaksian yang mulai banyak suara bertentangan ini. Suara mulai berimbang dan tidak lagi di dominasi kelompok tertentu lagi.
Dan tidak kalah pentingnya, kita berharap para pihak segera membantah serta menjelaskan kepada khalayak manakala memang penelitian tersebut tidak sesuai dengan kenyataannya. Saya berharap kita masih beralasan untuk tetap menghormati mereka mereka yang sudah terlanjur kita hormati karena tak ada alasan untuk berhenti menghormati mereka. semoga.Terus terang kita menyesalkan para mantan petinggi TNI kenapa dahulu justeru berdebat secara terbuka, seperti itu. Terus terang tak ada yang bisa menyelsaikan ini, tidak juga Prof. Salim Said yang bertahun tahun melaksanakan penelitian itu, Sesungguhnya mereka sendiri. Bisakan yang menyebar fitnah mencabut semua perkataannya, dan meminta maaf, agar kami tidak dipusingkan, karena pelaku sejarahpun hanya mampu menjelaskan sesuatu dari kacamata mereka masing masing, lalu mengapa justeru ada yang mengaku paling benar. Itulah sejarah kita.
Saya berharap apa yang ditulis dalam VOA Islam 30 Juni 2014 tentang sekelompok orang yang terlibat perekayasaan kerusuhan Mei 1998 itu tak satu kalimatpun yang benar, tetapi sayang kini tahun 2017 masih juga belum ada bantahan dari kalangan manapun. Mungkin karena kelompok ini kini sedang menguasai panggung. Sehingga peluang mempertanyakan semakin menciut kecil. Hanya dijawab oleh kecarut marutan Indopnesia sebagai bangsa, yang tak mampu ditangani penguasa secara benar, sehingga hanya kepada Tuhan kita berdoa agar kita sebagai bangsa tetap terlindungi dan terpelihara. Amin.
Rabu, 16 Agustus 2017
ORANG ORANG DI SENAYAN BANYAK TAK SUDI DIDOAKAN
Entah mau apa jadinya penghuni Senayan itu, sudah dua tahun itu gaduh karena berdoa, padahal isi doanya setelah dicermati tak ada yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, atau unsur unsur yang akan mengancam keutuhan NKRI manakala doa itu diijabah Allah, lalu di mana letak prrsoalannya. Mungkin di masa mendatang tak perlu lagi ada acara doa, atau doa saja menurut kepercayaan masing masing dan ditugaskan saja seorang pejabat TNI ataupun Poliri untuk sekedart memberikan aba aba bahasa doa dimulai atau doa selesai. Anara yang satu dengan yang lain tidak saling tahu apa yang didoakan.
Nampaknya butuh diselenggarakan Sidang Pleno yang menghadirkan secara lengkap semua anggota dengan pimpinan Fraksi masing masing untuk menetapkan kreteria pembaca doa, harus dikaji ulang dalam berdoa ini nanti akan ada beberapa aspek terkait pembacaan doa ini setidaknya (1) siapa yang memimpin, siapa (2) siapa yang boleh didoakan, (3) aspek apa saja yang boleh dimintakan dalam berdoa/ Hal ini sangat penting agar doa itu layak diaminkan ataupun tidak layak diaminkan. Aspek yang didoakan adalah aspek yang menguntungkan bila diijabah, dan aspek yang tak boleh didoakan adalah yang nantinya akan ada pihak yang merugi manakala doa di ijabah.
Jika memang perkara doa ini setiap tahun akan mengundang kegaduhan, maka sebaiknya juga dibentuk panitia perumus atau tim kerja untuk melakukan penjajagan kepada masyarakatak ;luas, semacam penjaringan inspirasi, atau ada semacam naskah akademis dari teks doa yang akan disampaikan. Naskah akademis teks doa ini dapat dikaji oleh berbagai pihak untuk dipertimbangkan apakah sudah layak menjadi teks doa. Danm bahkan bila perlu diadakan pemungutan suara utuk menyetujui doa itu.
Bila selama ini mereka yang ditunjuk menjadi pemimpin doa adalah mereka yang rajin beribadah sehingga memiliki kedekatan dengan Yang Maha Kuasa Barangkali nanti bula masalah doa ini diperkancah oleh para anggota DPR maka ditetapkan kreteria pendoa adalah persoan yang betul betul netral dan tidak memiliki indikasi kedekatan dengan Tuhan Yang maha Esa.
Yakinlah manakala itu yang akan ditempuh oleh Pemerintah dalam rangka menghindari kegaduhan paska dibacakannya doa. Maka suasananya akan bertambah gaduh. Atau dilelang saja, dicarikan orang munafik, yang pandai memuji muji untuk merumuskan pujiannya yang tergubah dalam doa, ini barabgkali yang paling aman. Harapan kami sadi masyarakat adalah DPR mampu menyelesaikan sendiri masalah doa ini tampa kegaduhan.
Senin, 07 Agustus 2017
Demikian Hinakah Khilafah Itu.
Jika memang pembubaran HTI itu atas rekomendasi NU, seperti yang diakui oleh Said Agil Siraj Ketum NU di berbagai kesempatan, maka apa sih pengertian Khilafah menurut NU sehingga Khilafah yang diajarkan Islam itu menjadi demikian hinanya di mata Pemerintah dan sebagain politisi dan masyarakat. Dan walaupun HTI mewacanakan terlaksananya sistem Khilafah toh menurut HTI sendiri mereka tidak anti Pancasila, UUD 1945 dan NKRI. Penertian Khilafah itu sangat jauh melenceng bila menyimak pidato Politik Partai Nasdem yang disampaikan oleh Victor Laiscodat,Ketua Fraksi Nasdem di DPR RI. Yang mengatakan bahwa manakala Sistem Khilafah diterapkan "Maka tak akan ada lagi agama selain Islam, semua harus sholat, tak ada lagi yang boleh ke gereja" Pengertian Victor tentang Khilafah sangat jauh melenceng, sangat buruk. Siapa narasumber mereka, yang membuat mereka gagal paham terhadap nilai nilai keislaman itu.
Sebagai Muslim tidak ikhlas rasanya bila masih ada sebagian dari angsa ini yang memandang rendah terhadap ajaran Islam khususnya tentang Khilafah sehingga merasa perlu memukulgenderang perang terhadap sesama bangsa. Ada baiknya Pemerintah agar tidak hanya mendengarkan rekomendasi NU saja tentang khilafah ini. Datangkan juga pakar Islam untuk menjelaskan apa itu khilafah dari Al-Quran dan hadits serta buku teks tentang khilafah, sebelum memutuskan bahwa ajaran Islam tentang adalah merupakan ancaman bagi Bangsa Indonesia khususnya dan ummat manusia umumnya. Sepengetahuan kami yang awam ini nilai nilai khilafah yang diajarkan oleh Islam justeru akan memperkuat keutuhan dan kualitas kebangsaan kita sebagai bangsa Indonesia.
Sebagai bagian dari ummat Islam kita juga berharap sehubungan dengan perkembangan buruk terkait istilah khilafah akhir akhir ini maka diminta kepada para da'i, para ilmuan dan ulama untuk menjelaskan kepada ummat dan Bangsa tentang khilafah yang sebenarnya menurut ajaran Islam, sehingga masyarakat faham apa itu khilafah. Janganlah khilafah ini hanya dipandang dari kacamata kebencian belaka, sehingga mengakibatkan gagal paham.
Bila perlu maka selenggarakan farum atau majelis untuk membicarakan khilafah itu jauh dari rasa kebencian, kepentingan pribadi atau golongan, kepentingan politik dan sebagainya, harus diselenggarakan pure agama Islam, sehingga didapatkan pemikiran yang klear tentang khilafah Islam. Kami yakin bahwa khilafah Islamiyah itu memiliki nilai nilai kemulyaan bagi bangsa ini, dan itu merupakan bagian dari Islam. Dan kami tak ikhlas dihina dan dicaci maki, dalam ketidak pahaman mereka.
Sebagai Muslim tidak ikhlas rasanya bila masih ada sebagian dari angsa ini yang memandang rendah terhadap ajaran Islam khususnya tentang Khilafah sehingga merasa perlu memukulgenderang perang terhadap sesama bangsa. Ada baiknya Pemerintah agar tidak hanya mendengarkan rekomendasi NU saja tentang khilafah ini. Datangkan juga pakar Islam untuk menjelaskan apa itu khilafah dari Al-Quran dan hadits serta buku teks tentang khilafah, sebelum memutuskan bahwa ajaran Islam tentang adalah merupakan ancaman bagi Bangsa Indonesia khususnya dan ummat manusia umumnya. Sepengetahuan kami yang awam ini nilai nilai khilafah yang diajarkan oleh Islam justeru akan memperkuat keutuhan dan kualitas kebangsaan kita sebagai bangsa Indonesia.
Sebagai bagian dari ummat Islam kita juga berharap sehubungan dengan perkembangan buruk terkait istilah khilafah akhir akhir ini maka diminta kepada para da'i, para ilmuan dan ulama untuk menjelaskan kepada ummat dan Bangsa tentang khilafah yang sebenarnya menurut ajaran Islam, sehingga masyarakat faham apa itu khilafah. Janganlah khilafah ini hanya dipandang dari kacamata kebencian belaka, sehingga mengakibatkan gagal paham.
Bila perlu maka selenggarakan farum atau majelis untuk membicarakan khilafah itu jauh dari rasa kebencian, kepentingan pribadi atau golongan, kepentingan politik dan sebagainya, harus diselenggarakan pure agama Islam, sehingga didapatkan pemikiran yang klear tentang khilafah Islam. Kami yakin bahwa khilafah Islamiyah itu memiliki nilai nilai kemulyaan bagi bangsa ini, dan itu merupakan bagian dari Islam. Dan kami tak ikhlas dihina dan dicaci maki, dalam ketidak pahaman mereka.
PARTAI NASDEM HEBAT EUIII.
Genderang perang telah ditabuh oleh Partai Nasdem lewat Ketua Praksi nya di DPR. Ini sebenarnya jika benar apa yang diberitakan viral di media massa dan media sosial, sebetulnya pekerjaan dan pemikiran gila ketika ada pejabat sekaliber Ketua Fraksi di DPR menyatakan akan mendahului sebelum di dahului. Tetapi harapan kita tentunya agar para pihak bisa bersabar, kalau memang ada pidato seperti itu maka selesaikanlah melalui Pengadilan seperti kasus Ahok. Tetapi bila tidak ada bukti dan fakta maka berdamailah. Apalagi keadaan ekonomi masyarakat sekarang ini seang sejatuh jatuhnya, di mana mana mengeluh sulit sulit sulit, maka janganlah ditambah tambah beban yang berat bagi rakyat ini dengan berbagai manuver politik. Tidakkah mau mengambil pelajaran dari kasus Ahok yang sudah ingkrah itu.
Banyak youtube terkait isi pidato telah terhapus dan tak lagi dapat dibuka, tetapi harapan kita pengadilan dapat membuka secara jernih persoalan, jangan segan segan menghukum Victor Laiscodat mana Ia berbuat teledor yang berpotensi mendatangkan kehancuran melalui kebencian. Tetapi jika memang tak terbukti maka nayatakan bahwa Victor tidak bersalah. Tegakkanlah hukum drngan cara seadil adilnya.
Jika memang MUI merasa keberatan dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh Victor maka ajukan saja ke pengadilan. Demikian pula dengan Gerindra, Demorat, PKS dan PAN manakala ucapan Victor dianggap mencemarkan nama Partai itu maka ramai ramai ajukan gugatan. Kan msing masing sudah memiliki rekamanya.Tinggal nanti diuji apakah rekaman itu murni atau sudah di edit, dan kalaupun ada edit, maka itu bagianyang mana.
Jangan sampai mengangap ringan pidato pedas yang disampaikan Nasdem, karena akan menjadi preseden buruk. Bahaslah dari kata perkata dan dari kalimat perkalimat, jika memang ada kesalahan besar yang dilakukan oleh Victor dan putuskanlah mellui pngadilan yang seadil dilnya. Dan hargailah keputusan pengadilan.
Apapun bunyi alasan dan teorinya, sebagai rakyat kecil kami tak menginginkan kegaduhan, titik.
Minggu, 06 Agustus 2017
VICTOR L Politisi NASDE. Penguasa Mencipatakan Kegaduhan Itu Bagus
Seorang politisi Nasdem Victor Laiscodat sebagai Parpol Pendukung Pemerintah yang berkuasa berpendapat bahwa kegaduhan kegaduhan itu perlu diciptakan dan direkayasa, teori politisi yang satu ini cukup dangkal,yaitu bahwa dengan kegaduhan kegaduhan itu nanti akan bermunculan reaksi dan dengan munculnya reaksi itu maka Pemerintah tinggal menindak saja. Karena para penjahat anti Pemerintah tentu akan keluar dari sarang tampa diundang. Victor Laiskodar bukan hanya berteori, karena dia sendiri yang berusaha menciptakan kegaduhan dengan menyampaikan pidato yang kontroversi di NTB, nampaknya itulah strategi cerdas Jokowi yang berulang kali diouji oleh Victor sebagai politisi andalan Nasdem.
Pidato Victor yang sangat menyakiti Islam itu barangkali saja merupakan strategi cerdas Nasdem untuk memancing tokoh Islam untuk bereaksi, tentu dengan tujuan yang seperti dijelaskan, adalah munculnya reaksi para pihak yang tak sejalan dengan Penguasa. Manakala mereka terpancing maka akan menjadi terang benderang siapa siapa yang bisa dianggap berbahaya. Saya memahami apa yang disampaikan ahli politik ini dengan praktik kepemimpinan Presiden Jokowi yang gemar menangkap tokoh tokoh gaek yang sedang dalam perawatan dokter seperti Rachmawati Soekarnoputri dan Sri Pamungkas serta nenek Sarumaet, yang ujung ujungnya dilepaskan karena takada bukti itu.
Saya oramg awam tentang politik dan hukum, tetapi teman teman yang pemahamannya masih selevel keawamannya justeru merasa geli dengan apa yang dilakukan Kepolisian yang menangkap tokoh gaek yang sedang pada sakit di subuh buta yang seolah memang sudah memiliki bukti syah dan Negara dalam keadaan darurat. Tapi gak apalah, mumpung kuasa. Hanya harapan kami sebagai rakyat ini, jangan sampai penerapan politikserta taktik dan strategi ini tidak justeru menghancurkan kekohan bangunan persatuan bangsa, Itu saja, gak muluk muluk.
Sabtu, 29 Juli 2017
ALASAN SYAR'IYAH KETIKA MUSLIM BERSIKAP...
Seorang Muslim itu harus berbuat sesuai tuntunan syari'at Islam, segala sesuatunya harus melalui pertimbangan syar'i, bukan menunjukkan hawa nafsu keserakahan keinginan berkuasa, dan ketidak sukaan terhadap orang lain manakala didapatkan perbedaan dengannya. Manakala ada perbedaan maka lakukanlah pembicaraan bersama dari hati ke hati penuh kasih sayang, sebagaimana dalam Islam dianjurkan tabayyun. Manakala mereka yang seolah memiliki sikap berbeda dengan kita maka berpulanglah ke ajaran pokok Islam, manakala perbedaan itu hanya masalah furu'iyah, masalah yang remeh temeh saja, maka janganlah perbedaan itu di besar besarkan.
Manakala terjadi perbedaan dengan pihak lain sesama umat Islam seharusnya kita harus pandai pandai mengevaluasi diri terlebih dahulu, bukan sebaliklnya sibuk mengevaluasi pihak lain dengan vonis keslahan besar atau dibesar besarkan. Padahal perbedaan itu hanya masalah cabang ranting kecil, furu'iyah. Tidak ada masalah besar dalam masalah furu'iyah.
Yang dibutuhkan seorang ini adalah rasa persatuan dan kesatuan ulama Islam, hal ini beranjak dari masalah ummat Islam yang tak terpecahkan, sehingga jumlah ummat Islam yang sekarang mengalami penurunan baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Sekolah sekolah Islam masih sulit untuk menyamai sekolah non muslim dalam kualitatif ataupun kuantitatif, dakwah Islam masih belum berdaya untuk menyentuh mereka yang membutuhkan sentuhan da;i yang berkualitas. Secara jelas nyata dimata kita bahwa kualitas dan kuantitas Politik Islam di Indonesia menunjukkan kualitas dalam grafik menurun.
Antar ormas Islam janganlah mau dijadikan perdator bagi organisasi lainnya, jangankan menjadi predator, menjadi kompetitorpun jangan. Bisa anda bayangkan bila ada satu organisasi yang berhasil merekomendasikan organisasi lainnya dibubarkan. lalu dia hadiri di Indonesia hanya sendiri saja, atau organisasi yang senada saja yang ada. Ditinjau dari nada lagu saja, maka sudah dapat dipastikan bahwa nada yang dihasilkan tak akan sempurna.
Dalam kesendirian itu bisa dipastikan dia tak akan memiliki kemampuan banyak dalam berbuat, karena hanya sendiri dalam berhadapan dengan pihak pihak yang sejatinya memang tak menyukai Islam, berfikir ulang merekomendasikan pembubaran Ormas Islam lainnya, karena akan melemahkan Islam secara keseluruhan.
POLITISASI BERAS, DAN SECANGKIR KOPI.
Ketika seorang teman mengatakan telah terjadi politiisasi beras, kami tak faham, tetapi ketika dirubahnya dengan kalimat politik bisnis harga beras, kamipun menjadi mafhum. Teman tadi mengatakan dalam berpolitik ujung ujungnya akan mencari kekuasaan, dan ketika sedang berkuasa maka manuver politik itu dilontarkan oleh lewat kekuasaan atau lewat penguasa. Dalam bahasa Batak dikatakan "Hepeng Mangatur Nagarawon" terjemahan bebasnya bahwa negara ini akan dikuasai oleh uang, atau dikuasai oleh mereka yang banyak uang. Selama ini berdasarkan hasil belajar dibangku sekolah kita tahu bahwa di negara demokrasi itu rakyat yang berkuasa, tetapi kenyataannya tidak, ternyata uang lebih kuasa. Dengan berdasarkan dalil hepeng mangatur nagarawon, sambil minum kapi hangat kamipun mengangguk angguk seolah paham politik layaknya.
Sesekali bisa saja akan terjadi peperangan antar para cukong beras untuk saling menjatuhkan, perusahaan yang maju pesat dan membuat iri perusahaan yang lain, bisa saja tiba tiba disegel oleh yang kuasai dengan dalih demi hukum berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Polisi dalam hal ini dijadikan pihak adigung adiguna. Lalu disuruh bicara dengan gaya seolah olah paling paham dunia bisnis perberasan, lalu dengan rumus yang tidak jelas mengatakan negara telah dirugikan ratusan trilyun rupiah. Sisa kopipun kami seruput, walau sudah terasa dingin, dan kamipun pamit pulang. Diperut terasa mual.
Kesekon harinya muncul lagi berita bahwa polisi telah salah baca data. Salah kalkulasi. Apakah memang nasib polisi demikian, dahulu memang ada sindiran dari masyarakat bahwa polisi jika meledakkan pelurunya dengan niat tembak kaki, tetapi lebih sering meleset ke jidat.
Kecuali polisi maka ada juga pihak yang seolah meralat apa yang dilakukan oleh polisi, apa yang dijelaskan oleh polisi, bahwa itu semua tidak benar alias tidak tepat, alias keliru. Kementerian sosial angkat bicara, Kementerian Pertanian angkat bicara. Masyarakat semakin bingung, sulit masyarakat akan faham dan mampu mencernanya. Jangankan dengan segelas kopi hangat, seember kopi mendidihpun kami tak akan jadi pintar kalo gini cara aparat memperlakukan kami dengan cerita cerita dan dongeng dongeng bohong seperti itu. Kami merasa dipermainkan oleh kebodohan kami.
Jumat, 28 Juli 2017
LAUTAN MASSA DEMO TOLAK PERPU, ISLAM MASIH EKSIS ?
Lautan massa demo unjuk rasa damai yang dilakukan oleh ummat Islam menunjukkan bahwa rasa persatuan ummat Islam masih ada dan masih memberikan harapan.akan adanya semangat perjuangan yang konsisten. Demo tersebut adalah demo menolak Perppu Ormas yang telah dilanjutkan membubarkan sebuah organisasi Islam dan konon akan dilanjutkan untuk membubarkan sejumlah organisasi lainnya. Analisis ini nampaknya memiliki beberapa premis yang menggiring hingga ke konklusi tersebut di atas.
Memeng pasca kelumpuhan Komunis yang lalu muncul thesis bahwa yang merupakan ancamana dunia adalah ummat Islam, sehinggi upaya pelumpuhan ummat Islam harus dilakukan dalam skala yang masif. Nampaknya thesis ini selain sangat diyakini oleh seluruh nonmuslim rupanya diyakini juga aoleh sejumlah Ummat Islam mereka itu sebagian munafik dan sebagain fragmatis. Mereka mendukung upaya pelemahamahan ummat Islam dari dalam, internal kaum Muslimin. Dan segan segan memberikan rekomendasi yang sangat merugikan ummat Islam.
Perppu dan pembubaran HTI jelas jelas adalah upaya untuk melemahkan ummat Islam, setidaknya diharapkan dari dua Keputusan tersebut adalah terbelahnya ummat Islam. Lihat saja, pada saat ada sejumlah komponen Ummat Islam yang menolak Perppu, maka akan muncul kelompok yang justeru mendukungnya.
Saya teringat sebuah cerita yang menyebutkan tuju ekor kerbau yang bertempat tinggal dengan seekor singa. Pada suatu hari sekeor kerbau berhasil dibunuh singa, tetapi kerbau yang lain tak menggubris, bahkan kerbau itu berpura pura tak tahu. Tetapi beberapoa hari berikutnya seekor kerbau kembali dimangsa singa, kawanan kerbau itu masih bersikap yang sama. Beberap hari kemudian seekor lagi dimangsa, kemudian seekor lagi dimansa, hingga pada suatu saat ketika tinggal sendirian baru kerbau itu berpikir, coba jika sejak awal mereka bersatu mengalahkan singa itu bisa jadi sekarang masih utuh dan justru singa itu bisa diusir.
Janganlah gembira melihat satu persatu komponen ummat Islam dipreteli dengan dalih tak sejalan dengan Pancasila dan sebagainya. Sehingga posisi ummat Islam menjadi tersudut. Jangan mengira kita bisa hidup lebih nyaman dalam ketidak berdayaan, sebagai akibat kepemimpinan ummat Islam yang fragmatis.
Dahulu PartaiIslam itu adalah partai yang sangat disegani, ummat Islam bersatu mendukungnya. Tetapi belakangan Parpol Islam dipimpin oleh pimpinan yang memiliki sikap yang sangat fragmatis. dan hasilnya sangat nyata, yaitu penurunan jumlah kursi dan perolehan suara. Partai itu menjadi partai gurem, kecil dan memiliki nilai tawar. Hanya sebagai pelengkap saja.
Pimpinan Ormas Islam yang fragmatispun nanti akan bernasib tak beda. Ummat yang dipimpinnya nanti akan semakin lemah dan bahkan dalam kekerdilannya mereka akan saling mencurigaiantara satu sama lain, yang bermula dari pemimpin yang fragmatis. Pemimpin yang fragmatis itu satu saat condong ke kiri dan saat yang lain akan condrong kepada yang menurut hemat mereka bisa menguntungkan sekalipun hanya sesaat.
Dibutuhkan orang yang berani untuk memringatkan pimpinan Islam yang bersikap fragmatis dalam kepemimpinannya. memang itu sangat tidak populer, salah salah bisa diusir dari lingkungan organisasi yang sejatinya telah sama sama dibesarkan. Tetapi Allah mengatakan hendaklah ada kelompok yang menyeru kebenaran. Marilah kita renungkan bersama.
Rabu, 19 Juli 2017
Roky Grung, Pemerintah Menciptakan Kegentingan Untuk Melahirkan Perpu ?
Sebagai masyarakat awam sekarang ini benar benar jengkel melihat situasi di mana Presiden dan Kabinet Pemerintahannya seolah sedang diadili oleh sejumlah Pendapat yang mengesankan lebih waras dan anehnya lagi dalam situasi seperti itu Pemerintah seperti tidak banyak mampu untuk berbuat dan menjelaskan kepada masyarakat terkait kebenaran yang diyakini oleh Pemerintah sehingga terasa semakin tipis harapan kepada pemerintah untuk mampu melindungi kita dengan segala kekuasaannya, apalagi akhir akhir ini justeru kekuasaan yang dimiliki Pemerintah berubah menjadi ancaman bagi banyak pihak.
Situasi ini terasa samakin mencemaskan dengan dikeluarkannya Perppu, Peraturan pemerintah Pengganti Uandang Undang. Gerung mengatakan bahwa Presiden sebenarnya bila di luar negeri maka dengan menerbitkan Perppu Ormas itu Presiden layak diimpich karena Presiden nampak sekali tidak memahami filosofi Pemerintahan, dan Presiden yang tak paham basis filosofi Pemerintahan sejatinya pantas dihentikan. Sementara para pembantu Presiden nampak sekali tergagap gagap seperti menyembunyikan kebencian terhadap suatu kelompok, dengan cara menghukum kelompok lain, sehinga ucapannya.nampak gejala kedunguan Pemerintah (istilah yang tak ingin kami dengar)
Kita semua berharap agar Presiden itu nampak gagah dan tegas serta Pro rakyat, berharap agar yang terjadi adalah bahwa Pembantu Presiden telah membuat Presiden kesasar dan gagal paham tentang pemerintahan. Hal ini sebagai keinginan masyarakat jangan sampai Presiden yang disalahkan, tetapi yang salah adalah pembantunya. Atau jika bisa yang keliru adalah Roky Gerung yang salah. apalagi gerung mengatakan bahwa Pemerintah pada saat ini bukan dipaksakan oleh sebuah kegentingan, tetapi sebaliknya Pemerintah yang memaksakan kegentingan, kata gerung.
Adalah merupakan hak kami untuk kecewa kepada Presiden dan Pemabntunya, yang pada saat ini bukan membuat kami cerdas,melainkan membuat kami takut, kami sangat khawatir manakala Pemerintahan yang memimpin bangsa ini menjadi lemah tak berdaya mengatasi persoalan, karena Presiden dan Pembantunya justeru menjadi sumber masalah itu sendiri, kami tak inin itu terjadi.
Mengapa Pemerinah terkesan buru buru, atau mengapa tidak dibicarakan dengan DPR umpamanya, dengan mereka mereka yang dicurigai menentang Pancasila dan UUD 1945 dan anti NKRI, tetapi semua itu dijawab oleh pemerintah yang semakin dijelaskan semakin dianggap bahwa Pemerintah sedang sesat dalam berfikir. Kalau benar itu yang terjadi maka kepada siapa lagi kami bisa berharap.
Rabu, 12 Juli 2017
Jangan Olok Olok Presiden Kita.
Keberanian Presiden Jokowi berkomunikasi dengan Presiden Amerika Donald Trump sangat patut diacungi jempol, sayang keterampilannya berbahasa Jngris BapakJokowi belum sebanding dengan dengan keberaniannya, namun demikian sebaiknya janganlah hal itu dijadikan olokolok di media sosial yang sangat terbuka, dan akan lebih baik lagi sebenarnya bila Bapak Presiden Jokowi menghindari itu semua. Karena sebenarnya manakala Presiden Jokowi menggunakan bahasa Indonesia saja, maka Bapak Presiden dapat melaksanakan secara full untuk mengungkapkan gagasannya dalam bahasa Indonesia, toh dapat ditunjuk tenaga sebagai penterjemahnya, sehingga akan lebih maksimal dalam berkomunikasi.
Bukankah ada contoh seorang Presiden dari negara sahabat yang sejatinya sangat pandai berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Tetapi sang Presiden tidak mau. bahkan katanya dia sangat membanggakan bahasa Nasionalnya, sehingga di mana mana Ia menggunakan bahasa Nasionalnya, dan meminta tenaga penterjemah yang diyakininya mampu menterjemahkan pikirannya. Manakala ada yang lucu lucu sang Presiden mampu menunda tertawanya. Dia baru tertawa setelah kelucuan itu diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, demikian bangganya Sang Presiden dengan bahasa Nasionalnya.
Semoga pada masa masa mendatang agar semua mampu menghindar dari kesalah pahaman dan bahkan olok olok yang sangat tidak perlu. Di satu pihak Presiden Jokowi mampu menghindari melakukan sesuatu yang sejatinya beliau belummemiliki kompetensi yang memadai sehingga kehilangan peluang untuk melakukan sesuatu yang lebih banyak dan lebih maksimal, dan masyarakat juga terhidar dari sikap olok olok yang jelas jelas tak akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi bagi bangsa ini.
Rabu, 05 Juli 2017
TERLALU BANYAK PERAN ISLAM DALAM SEJARAH DI INDONESIA DIKUBUR UNTUK DILUPAKAN
Belum banyak orang yang berani menulis apa adanya tentang peran besar ummat Islam dalam berdirinya negara Indonesia, berbagai tekanan politis luar biasa bagi penulis yang ingin menuliskan sejarah ummat Islam sesuai apa adanya, bahkan banyak catatan sejarah Islam Indonesia yang ingin dikuburkan dan dilupan saja. semula tidak banyak orang yang perduli, tetapi setelah Islam dituding sebagai intoleran, anti Pancasila, anti UUD 1945 maka serasa ingin menggali kembali sejarah Islam yang dahulu telah terkubur itu.
Bagaimana mungkin anak anak muda hanya lantaran mendukung salah Calon dalam Pilkada dengan lantang dan beraninya menuduh ummat Islam antiPancasila dan sebagainya dengan tuduhan yang sangat keji, mereka sendiri mungkin tidak tahu bahwa dalam Perang Kemerdekaan hanya ada dua pekikan, selain Merdeka adalah Pepikan Allahu Akbar, Takbir. Dan dengan segala kesombongannya mereka mempelesetkan kata Takbir menjadi Take Beer, mereka tidak lupa membuat gambar meme manggambarkan para Tokoh Islam digambarkan dalam satu pertemuan terlihat minuman beer yang diharamkan Islam itu bertebaran dimeja.
Bahkan anak anak muda itu seperti akan mengangajarkan ummat Islam tentang toleransi, Pancasila dan UUD 1045 serta cinta NKRI, mereka mengalami kemiskinan literasi untuk mengenal Islam di Indonesia, padahala Kemerdekaan Indonesia telah dibayar dengan darah dan nyawa para ulama Islam serta para santrinya. Mereka memkikkan Allahukabar, maju ke medan juang dengan peralatan seadanya. Banyak para muallaf Pancasila yang ingin mengajarkan Pancasila kepada Ummat Islam.
Dengan dicetak kembalinya karya besar Api Sejarah ini maka diharapkan mereka mereka yang belum banyak tahu tentang peran Islam dalam Kemerdekaan Indonesia, setidaknya sedikit terjadi pencerahan, agar tidak lagi merasa yang paling Pancasilais.
DI MATA KEPOLISIAN UMMAT ISLAM ITU INTOLERAN ?
Di mata Kepolisian RI ummat islam ini benar benar parah, intoleran, sungguh tak pantas hidup berdampingan dengan masyarakat dunia yang pada saat ini sangat berperadaban tinggi. demikian setidaknya dari apa yang digambarkan film yang dinyatakan oleh pihak Kepolisian RI sebagai film terbaik nampaknya Kepolisian berperan sebagai pihak yang menanamkan kebencian terhadap ummat Islam, demikian kira kira inti keberatan ummat Islam atas film yang dikeluarkan melalui proses lomba. Tidak kepalng tanggung, baik Kapolri dan Sutradara film pendek tersebut selain diminta untuk menarik kembali film yang sangat prokotaif tersebut, juga dituntut meminta maaf kepada ummat Islam secara terbuka. Alih alih akan menarik peredaran film itu serta meminta maaf, malahan yang ada justeru membela diri, dan membenarkan film hayali itu.
Apakah ummat Islam kecewa, jelas, tetapi pihak kepolisian boleh merasa lega karena masih ada kelompok fragmatis di kalangan ummat Islam yang nampaknya tak kebenaratan dengan tudingan film tersebut, mereka tak merasa Akebenaratan samasekali,bahkan mendukung film yang menghebohkan itu.
Apakah di lingkungan Kepolisian tidak ada yang beragama Islam, jawabnya adalah banyak, tetapi nampaknya literatir Kepolisian itu tentang Islam sangat terbnatas, demikian kata Ketua PP Muhammadiyah dalam nada kekecewaan yang sangat mendalam. Sehingga Kepolisian terkesan sama sekali tidak memahami Islam. Dan dengan keterbatasan tentang pemahaman terhadap Islam sehingga merasa perlu mengarang cerita bohonguntuk difilkan. Wajar pula bila seorang anggota DPR dengan dalaih menyambung lidah rakyat lalu mempertanyatakan agama yang dianut Kapolri secara pribadi itu apa. Tetapi dalam waktu yang bersamaan sipenanya seperti tak ingin pertanyaan ini dijawag oleh Kapolri dalam forum itu, nampaknya akan lebih elok bila dijawab langsung ke masyarakat. lalu apakah film ini sebagai jawabannya, entahlah. Barangkali ini politik tingkat tinggi.
memang harus diakui dalam beberapa hal ummat Islam itu kecuali sebagain kecil, umumnya bersikap intoleran, terutama terhadap, minuman keras, perjudian, narkoba dan pelacuran serta pelanggaran hukum. Ada kelompok ummat Islam yang menunjukkan intoleransinya terhadap sejumlah pelanggaran itu. Apalagi jika pihak Kepolisian nampaknya nyaris tak berdaya dalam beberapa pelanggaran tersebut di atas.
Jika saja memfilkan sejumlah hal yang yang sesuai kenyataannya dalam hal beberapa pelanggaran tersebut ummat Islam sangat intoleransi, maka barangkali ummat Islam tak akan merasa kecewa seperti ini. Dibanding Kepolisian mengarang cerita ynag sangat jauh dari kenyataan. Kita berharap banyak pihak bersedia membangu polisi untuk memperkaya literasi mereka tentang Islam, barangkali saja akan ada manfaatnya sekalipun kecil. Kita berharap Kepolisioan akan semakin dewasa.
Jumat, 30 Juni 2017
Gencar Menyudutkan Ummat Islam, Kontraproduktif.
Setidaknya pada Era Rejim Soeharto masih segar dalam ingatan kita betapa ummat Islam dibentur benturkan dengan Kekuasaan ABRI, cara seperti itu juga dilakukan di era Presiden Jokowi sekarang, ummat Islam dibenturkan dengan Kepolisian. Presiden Soeharto dahulu merapat ke ummat Islam mungkin beliau memiliki jiwa keagamaan dan meningkat takwanya seiring usia atau mungkin dalam waktu bersamaan ihak ABRI mulai menjaga jarak. Lalu akan berubahkah nantinya Politik Presiden Jokowi membenturkan ummat Islam dengan Kepolisian sejalan dengan usia yang menua ataukah dalam waktu bersamaan antara Jokowi dengan Kepolisian berbeda kecenderungan politiknya entahlah. Yang kita harapkan adalah kita semua akan semakin cerdas menyelesaikan semua persoalan kebangsaan ini.
Nampaknya itulah perjalanan politik bangsa ini, yang barangkali sesungguhnya masing masing pihak akan mencari posisi aman. Tetapi sementara ini upaya mencari posisi aman itu adalah dengan cara merusak dan melemahkan yang lain. Dan nampaknya hal yang paling perlu dilemahkan itu adalah kelompok Islam. Berdasarkan sejarah bahwa kelompok Islam ini adalah kelompok yang paling gigi dalam mempertahankan NKRI dari ancaman asing. Lalu haruskah kita menakuti Islam yang telah teruji semangat Keindonesiaanya dalam perjalanan sejarah Kemerdekaan Indonesia sendiri. Agar memiliki pemahaman yang memadai tentang siapa dan karakter bangsa Indonesia, maka sejarah Indonesia adalah sesuatu yang tak boleh dilupakan.
Tidak kurang dari Presiden Jokowi menyerukan kepada semua agar menyudahi perselisihan paham selama ini karena manakala perselisihan paham itu dipelihara, maka kita semua akan disibukkan dengan hal hal yang sesungguhnya tidak bermanfaat. Tetapi dilain pihak mengapa justeru pihak Pemerintahpun nampaknya belum menemukan jalan bagaomana cara menyudahi perselisihan paham, yang nampaknya akhir akhir ini perselisihan paham itu adalah antara ummat Islam dan pemerinthah.
Nampaknya tek segan segan pula Ummat Islam menuduhg Pemeringtah melakukan kriminalisasi kepada Ulama, hal inipun sesungguhnya tidak terlalu rumit menganalisanya, yaitu karena setelah Parpol Islam benar benar tak berdaya karena tak lagi memiliki nilai tawar yang memadai, maka sepertinya kelompok ulama segera akan menjadi panutan ummat bukan hanya dalam agama unsich tetapi juga dalam berpolitik. Nampaknya kiblat ummat tidak akan menoleh kepada Pimpinan Partai dan bahkan Ormas Islam yang semula sangat berwibawa. Mereka lebih mempercayai fatwa dan petuah para ulama.
Merupakan kekeliruan yang cukup fatal adalah ketika Penguasa berusaha menguasai Partai Politik. dan dikira semula ketika Pimpinan Parpol tunduk kepada para penguasa maka serta merta jelata akan tunduk begitu saja dalam aspirasi politiknya, tidak mereka menemukan sejumlah ulama yang tidak memiliki keinginan berpolitik namun dalam waktu bersamaan mereka tidak buta politik. Padahal bila akan menguasai ummat maka binalah agar Parpol Parpol itu memiliki kekuatan dan Kemandirian.
Ulama dan Ummat Islam itu sesungguhnya adalah modal besar bagi bangsa ini untuk membangun bangsa secara keseluruhan. Maka kita akan kehabisan tenaga, pikiran. biaya dan waktu bila kita kan memerangi dan melemahkan ulama dan ummat Islam. Karena terbukti pada masa kejayaan PKI yang berlambang Palu arit di jawab oleh Ummat Islam "Dipalu makin Maju, Diarit makin Bangkit" melemahkan Ulama dan Ummat Islam tidak semudah melemahkan sebuah Partai Politik dalam fersi sejarah Indonesia. Marilah ejarah kita jadikan pelajaran.
Langganan:
Postingan (Atom)




