SENI UNTUK SENI
Nasib baik bagi saya dan Sdr. Dr. Yoke Mulgini sebagai anggota HMI Cabang Tanjungkarang kami berdua diutus untuk mengikuti Training yang pada saat itu sering disebut Training Idiopolitor, atau Idiologi Politik dan Organisasi, yang jika tidak salah ingat merupakan pelatihan kaderisasi tertinggi bagi HMI pada saat itu. Semua narasumber mendapatkan waktu uang luas untuk bicara diantaranya adalah Ridwan Saidi, Adi Swasono, Sutan Taqdir Ali Syahbana, dan banyak laghi yang lain. Tetapi yang paling menarik untuk dibicarakan pada saat ini adalah Kanda Syukbah Asa. Saya sebut Kanda karena diantara narasumber termasuk yang nampak muda dan berusaha akrab dengan peserta adalah beliau, beliau terkenal sebagai aktor, yang sejak mudanya aktivis HMI yang satu itu menggandrungi dunia peran dan panggung. Selain itu beliau juga wartawan yang sempat menjadi redaktur majalah Tempo dalam waktu yang lumaian lama, sempat juga di majalah Editor, sempat juga di Majalah Panjimasyarakat. Terdaftar juga sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta. Sangat profesional bila ditampilkan pada forum itu.
---
Tanda tanya besar dalam hati saya pada saat itu mengapa beliau kekeh mempertahan prinsip seni untuk seni, atau de L'art For L'art. Seni yang diharuskan memenuhi tuntutan kaidah estetik itu adalah sesuatu yang tak boleh dibatasi kata beliau pada saat itu. Beberapa orang peserta termasuk saya di dalamnya bahwa sebagai kader HMI maka kita harus memiliki keterikatan dengan Islam, atau tepatnya akidah Islam, aktivitas seni adalah mem,iliki peluang berekpressi yang paling mudah diterima karena bahasa seni adalah bahasa yang paling universal, akan sangat mudah membangun komunikasi, yaitu dengan bahasa seni. Maka bahasa seni baik digunakan untuk dakwah.
Bagi mereka yang memahami bahasa Arab dan memang bagi orang orang Arab maka bahasa yang digunakan dalam Al-Quran itu memiliki nilai seni yang sangat tinggi. Sebenarnya kita bisa mempelajari atau mengenal ketinggian seni al-Quran yang bukan hanya bahasanya saja yang indah, tetapi seni bacanya, tidak ada kitab suci lain yang menarik diperlombakan dalam seni bacanya. Belum lagi cara menulisnya yang bisa melahirkan kaligrafi yang demikian indah, ditambah lagi dengan seni menghapal dan senimemahaminya. Tidaklah akan mengalami kerusakan estetis manakala seni bukan hanya sekedar untuk seni, teta[i dengan seni kita bisa menyampaikan sesuatu secara mulia.
Barangkali Kanda Syukbah Asa, selaku alumni Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, dahulu IAIN. maka perannya sebagai DN Aidit dalam film pengghiatan G 30 PKI secara profesional dengan dukungan berbagai teori sekuler selesai. Sedang secara akidah bisa diukur dengan ukuran yang lebih luas lagi, dalam kehidupan sehari hari, bukan hanya sesaat di layar kaca atapun layar lebar, yang tentunya diharapkan dapat objektif. Dan itulah pertanggungjawaban, profesional, pertanggungjawaban sosial dan pertanggungjawaban aqidak seorang cukup cemerlang ketika dipercaya mengemban beban selaku redaktur majalah Tempu, lalu majalah Editor, lalu majalah Panjimasyarakat, ketiga majalah itu benar benar jaya ketika beliau berkiprah.
---
Dengan segala keawaman saya, saya masih juga kekeh mengatakan bahwa selaku manusia yang bertuhan, atau meyakini kemahakuasaan Tuhan atas segala sesuatu di alam ini termasuk juga manusia. Tidak akan mengalami kesulitan untuk memahami mengapa beliau bersedia memerankan seorang DN Aidit yang ileh sejarah akan tercatat sebagai tokoh yang cukup sentral di dalam penghianatan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia untuk kesekian kalinya itu.
Sedang Syukbah Asa adalah aktor yang memerankan tokoh penghianat DN Aidit. Itu No problem sejauh arahan dari sutradara dalam alur cerita dan adegan tidak mengesankan bahwa pemebrotakan itu bukan penghianatan. Dalam cerita yang tersusun serta adegan demi adegan harus menunjukkan bahasa bahwa itu sebuah penghiatanatan, dan penghianatan adalah kejahatan. Mengapa mereka menghianat adalah karena keinginan mereka merebut kekuasaan yang ada pada Pemerinmtahan yang syah. Sekali lagi itu no problem bagi Syukbah Asa yang memerankan tokoh penghianat.
Tetapi bila ceritera itu ingin mengesankan bahwa bahwa DN Aidit dan kawannya dalam Partai Komunias Indonesia (PKI) dengan berbagai adegan untuk mengesankan bahwa mereka sebagai orang baik baik, maka tentu saja ini akan menjadi masalah bagi Syukbah Asa yang memerankan tokoh nomor satunya itu. Tak disangka putab balik fakta memang benar benar terjadi, film itu pernah dilarang diputar, tetapi nampaknya hanya secara lisan saja dan serentak TV tak lagi memutarnya, dan kita menimbulkan banyak kontroversi karena ada pihak yang menang ingin memutar balikkan fakta. Saya menilai kanda Sykbah Asa itu cerdas, dibelakang hari bahwa film ini cepat ataupun lambat akan menjadi kontroversi, itulah kegalauan Kanda Syukbas Asa yang cerdas itu.
Fachruddin : Kliping Dan Catatan Tentang Bahasa, Retorika, Sastra, Aksara dan Naskah Kuno
Tampilkan postingan dengan label Kesenian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesenian Islam. Tampilkan semua postingan
Senin, 11 September 2017
Sabtu, 08 Juli 2017
SEKALA BRAK BUKAN KERAJAAN ATAU KESULTANAN ISLAM
Dengan suara yang agak tertekan, dengan segala kehatian hatian seorang teman bicara kepada saya, yang saya tahu katanya anda adalah salah satu dari komunitas kelompok pewaris Kerajaan Skala Brak, yang hingga kini akan tetap eksis sebagai Kerajaan Adat, yang saya tanyakan adalah bahwa Kerajaan Skala Brak itu dahulu bukanlah Kerajaan atau Kesultanan Islam. Melihat kekakuannya dalam bicara saya mencoba tersenyum, walaupun saya tidak yakin bahwa senyuman saya dalam wajah tua ini masih nampak manis. Entahlah. Yang sedang saya upayakan adalah memperpendek gap diantara kami berdua.
Saya katakan bahwa 'Anda Tidak keliru' sebagai anggota di komunitas itu saya juga tidak melihat adanya ciri Keislaman yang terlampau kuat sebagai peninggalan Kerajaan Skala Brak ini, namun demikian saya juga tidak melihat adanya perlawanan atau penolakan mereka terhadap Islam.Namun sejauh ini saya juga belum menemukan adanya gerakan islamisasi yang dilakukan oleh Kerajaan ini selain sedikit kesenian dan syair yang biasa dilantunkan dalam aktivitas seni mereka.
Kesenian bedikir yang berkembang di komunitas pewaris kerajaan ini tak bisa dipungkiri sebagai bukti pengaruh Islam. Dan juga terdapat dalam wayak wayak yang syairnya menyebutkan keyakinan, kepercayaan bahkan harapan mereka terhadap Allah Swt, juga bukti adanya pengaruh yang kuat dari Islam, Namun demikian bukan berarti Kerajaan ini telah mersmikan diri sebagai penyiar atau penyebar agama Islam. Intinya tepengaruh oleh Islam 'Ya' tetapi berusaha menyiarkan Islam serta gerakan Islamisasi budaya mereka menjadi budaya Islam, nampaknya juga belum dimaksimalkan.
Kalaupun ada islamisasi dalam kreasi seni, maka nampaknya itu adalah inisiatip warga saja, dahulu banyak warga sana yang belajar di pesantren pesantren di Padang, sepulang mereka dari padang, tidaklah secara otomatis diterima dan sejalan dengan keinginan aparat, apalagi pada saat zaman Penjajahan belanda, pihak Kerajaan terpaksa harus membukan pintu lebar lebar kepada Kolonial Belanda, walaupun alasan demi menjaga eksistensi Kerajaan ataupun kenyamana warga secara keseluruhan.
Tetapitetap saja dengan segala kecurangan Belanda maka atas Pemerintah Belanda aparan Kerajaan terpaksa menangkap mereka mereka yang diketahui pernah belanjar di Pesantren perantren di Padang itu, dengan dalih ada nya kesepakatan makar untuk menjatuhkan Pemerintahan Kolonial belanda.
Hingga kedatangan belanda ke daerah Lampung Barat/ Krui memang masyarakat setempat dibawah komando Kerajaan sekala Berak dan terdiri dari Kebuwayan Kebuwayan itu nampak belum sempat mendirikan satu pesantrenpun di daerah itu, sehingga saya belum berani mengatakan bahwa Kerjaan Skala Brak adalah Kerajaan atau Kesultanan Islam. jadi anda di mata saya tidak salah, kata saya dan tak lupa menulas sebuah senyum yang saya buat.
Saya katakan bahwa 'Anda Tidak keliru' sebagai anggota di komunitas itu saya juga tidak melihat adanya ciri Keislaman yang terlampau kuat sebagai peninggalan Kerajaan Skala Brak ini, namun demikian saya juga tidak melihat adanya perlawanan atau penolakan mereka terhadap Islam.Namun sejauh ini saya juga belum menemukan adanya gerakan islamisasi yang dilakukan oleh Kerajaan ini selain sedikit kesenian dan syair yang biasa dilantunkan dalam aktivitas seni mereka.
Kesenian bedikir yang berkembang di komunitas pewaris kerajaan ini tak bisa dipungkiri sebagai bukti pengaruh Islam. Dan juga terdapat dalam wayak wayak yang syairnya menyebutkan keyakinan, kepercayaan bahkan harapan mereka terhadap Allah Swt, juga bukti adanya pengaruh yang kuat dari Islam, Namun demikian bukan berarti Kerajaan ini telah mersmikan diri sebagai penyiar atau penyebar agama Islam. Intinya tepengaruh oleh Islam 'Ya' tetapi berusaha menyiarkan Islam serta gerakan Islamisasi budaya mereka menjadi budaya Islam, nampaknya juga belum dimaksimalkan.
Kalaupun ada islamisasi dalam kreasi seni, maka nampaknya itu adalah inisiatip warga saja, dahulu banyak warga sana yang belajar di pesantren pesantren di Padang, sepulang mereka dari padang, tidaklah secara otomatis diterima dan sejalan dengan keinginan aparat, apalagi pada saat zaman Penjajahan belanda, pihak Kerajaan terpaksa harus membukan pintu lebar lebar kepada Kolonial Belanda, walaupun alasan demi menjaga eksistensi Kerajaan ataupun kenyamana warga secara keseluruhan.
Tetapitetap saja dengan segala kecurangan Belanda maka atas Pemerintah Belanda aparan Kerajaan terpaksa menangkap mereka mereka yang diketahui pernah belanjar di Pesantren perantren di Padang itu, dengan dalih ada nya kesepakatan makar untuk menjatuhkan Pemerintahan Kolonial belanda.
Hingga kedatangan belanda ke daerah Lampung Barat/ Krui memang masyarakat setempat dibawah komando Kerajaan sekala Berak dan terdiri dari Kebuwayan Kebuwayan itu nampak belum sempat mendirikan satu pesantrenpun di daerah itu, sehingga saya belum berani mengatakan bahwa Kerjaan Skala Brak adalah Kerajaan atau Kesultanan Islam. jadi anda di mata saya tidak salah, kata saya dan tak lupa menulas sebuah senyum yang saya buat.
Sabtu, 30 Agustus 2014
ORKES Gammbus Rawaharum Pagelaran
Zaman itu sekitar tahun akhir enam puluhan Pagelaran kota kelahiranku masih gelap gulita, tak ada sinar listrik, namun demikian kami di desa itu bukan tidak bahagia, kami punya group kesenian termasuk diantaranya Group Orkes Gambus yang menghususkan melantunkan lagu lagu irama Arab, irama qosidah yang pada saat itu dipopulerkan oleh Rofiqoh Darto Wahab.
Menghidupkan kesenian Islam menjadi sangat strategis bagi kami di kecamatan Pagelaran untuk mengimbangi kesenian kesnian yang sering dipentaskan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Kelompok Partai Komunis yang satu ini gencar mempopulerkan partainya melalui kesenian, sehingga kelompo Islam di Kecamatan ini merasa perlu untuk menghidupkan kesenian yang juga berdasarkan dan bernuansakan Islam.
Jasa darto Wahab merekam dan mengedarkan lagu lagu kasidah saat itu terbilang terobosan yang berani, pada saat itu melantunkan lagu lagu semacam ini masih menjadi kontroversi, masih banyak pihak yang menharamkannya. Tetapi bila Islam tidak menghidupkan keseniannya, maka seni Partai Komunis akan meraja lela. tersebutlah pedukuhan yang kami kenal dengan nama Rawaharum, pedukuhan itulah yang mengharumkan seni Islam di Kecamatan Pagelaran. Tak pelak lagi lagu lagu yang dilantunkan oleh Rofiqoh dan teman teman menjadi koileksi lagu lagu yang dilantunkan oleh Group Orkes Gambus Rawa Harum ini, dukuh ini banyak dihuni oleh mereka yang berasal dari sekitar Banten Pandeglang dan lain lain, selain mereka pandai bermain orkes gambus, mereka juga memiliki group Seni Pencak Silat Trumbu, jadi para pemudanya selain belajar seni juga belajar silat banyak juga mereka yang cukup berprestasi dalam seni silat ini. Banyak tokojh yang menetap di Pedukuhan Rawaharum ini sejatinya memang 'Jawara' memang sejak mereka nasih tinggal di Banten sana.
Di Kecamatan Pagelaran PKI memang berkembang pesat dan sudah cukup mencemaskan, banyak tokoh tokoh masyarakat di berbagai perdukuhan di sekitar Pagelaran berhasil dirayu PKI untuk bergabung bersama mereka.
Masyarakat Muslim Pagelaran selain membentuk kesenian juga sebelumnya jugta telah mendirikan Madrasah yang diberi nama Madrasah wajib belajar (MWB).
Menghidupkan kesenian Islam menjadi sangat strategis bagi kami di kecamatan Pagelaran untuk mengimbangi kesenian kesnian yang sering dipentaskan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Kelompok Partai Komunis yang satu ini gencar mempopulerkan partainya melalui kesenian, sehingga kelompo Islam di Kecamatan ini merasa perlu untuk menghidupkan kesenian yang juga berdasarkan dan bernuansakan Islam.
Jasa darto Wahab merekam dan mengedarkan lagu lagu kasidah saat itu terbilang terobosan yang berani, pada saat itu melantunkan lagu lagu semacam ini masih menjadi kontroversi, masih banyak pihak yang menharamkannya. Tetapi bila Islam tidak menghidupkan keseniannya, maka seni Partai Komunis akan meraja lela. tersebutlah pedukuhan yang kami kenal dengan nama Rawaharum, pedukuhan itulah yang mengharumkan seni Islam di Kecamatan Pagelaran. Tak pelak lagi lagu lagu yang dilantunkan oleh Rofiqoh dan teman teman menjadi koileksi lagu lagu yang dilantunkan oleh Group Orkes Gambus Rawa Harum ini, dukuh ini banyak dihuni oleh mereka yang berasal dari sekitar Banten Pandeglang dan lain lain, selain mereka pandai bermain orkes gambus, mereka juga memiliki group Seni Pencak Silat Trumbu, jadi para pemudanya selain belajar seni juga belajar silat banyak juga mereka yang cukup berprestasi dalam seni silat ini. Banyak tokojh yang menetap di Pedukuhan Rawaharum ini sejatinya memang 'Jawara' memang sejak mereka nasih tinggal di Banten sana.
Di Kecamatan Pagelaran PKI memang berkembang pesat dan sudah cukup mencemaskan, banyak tokoh tokoh masyarakat di berbagai perdukuhan di sekitar Pagelaran berhasil dirayu PKI untuk bergabung bersama mereka.
Masyarakat Muslim Pagelaran selain membentuk kesenian juga sebelumnya jugta telah mendirikan Madrasah yang diberi nama Madrasah wajib belajar (MWB).
Langganan:
Postingan (Atom)


.bmp)