Tampilkan postingan dengan label Sastra Lampung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra Lampung. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Desember 2013

Puisi Lampung Pepaccur, A. Efendy Sanusi

Puisi Lampung: Pepaccur


Pepaccur adalah salah satu jenis sastra lisan Lampung berbentuk puisi yang lazim digunakan untuk menyampaikan pesan atau nasihat dalam upacara pemberian gelar adat. Istilah pepaccur dikenal di lingkungan masyarakat Lampung dialek O. Di lingkungan masyarakat Lampung dialek A dikenal dengan istilah pepaccogh (di lingkungan masyarakat Lampung dialek A Sebatin dikenal dengan istilah wawancan).

Sudah menjadi adat masyarakat Lampung bahwa pada saat bujang atau gadis meninggalkan masa remajanya atau pada saat mereka memasuki kehidupan berumah tangga, pasangan pengantin itu diberi gelar adat sebagai penghormatan dan tanda bahwa mereka sudah berumah tangga. Gelar adat ini diterima dari klan bapak dan dari klan ibu, dilakukan di tempat mempelai pria maupun di tempat mempelai wanita. Pemberian gelar dilakukan dalam upacara adat yang dikenal dengan istilah ngamai adek/ngamai adok (jika dilakukan di tempat mempelai wanita), nandekken adek dan inai adek/nandokkon adok ghik ini adok (jika dilakukan di tempat mempelai pria), dan butetah/kebaghan adok/nguwaghkon adok (istilah di lingkungan masyarakat Lampung Sebatin). Setelah gelar diberikan, si penerima gelar diberi nasihat atau pesan-pesan. Nasihat atau pesan-pesan itu disampaikan dalam bentuk puisi yang dikenal dengan istilah pepaccur.

Jumat, 29 November 2013

UBAT TIRAM



Salam ngebukak cawa..
Tabik sekam ngeganggu..
Salam haguk ngebalin rasa..
Panglidaw hati tiram selalu..

Langui mik lawok jawa..
Bulanting jak hamara..
Pengatu nihan cawa..
Dimaaf nyak salah cara..


Bangikni nganik kurma..
Makngedok rasa ruwa..
Helauni kik pujajama..
Ram kumpul lalang waya..

Regah sekam jak darak..
Lapah ngalama buka..
Satimbalan diwayak..
Budaya kanjak saka..

Magatol dang dikekui..
Mantang nganik karita..
Minak muwari sa Krui..
Kasi jak luwar juga..

Helaw kumbang tisiram..
Tikecah kiwat hama..
Kekalaw kik tihepui..
Riwah tiram tirasa..

Lapah neram jejama..
Tandang mit kububata..
Payudo indai kanca..
Nyambang dija cerita..

Nangguwang anjung reba..
Genalah lamon bala..
Api gawoh carita..
Cadangki ngandung SARA..

Kepalas nganyam bena..
Rubuh disebu angin..
Kerumasku tiram nana..
Teduhku mawek balin..

Cakak nyak dipepanca..
Mejong nginom kahuwa..
Wayakku induh ranya..
Witulung lajuko juga..

Sangon budiri tumbai..
Krui mawek bubilai..
Kicawaku kacecai..
Tabikyu maaf konpai..

Gubahan jk wayak krui seangkonan sai mena rijuk

Sabtu, 23 November 2013

Puisi Lampung Bawa Ke Ranah Nasional .., Bukan Sebaliknya.

Menghidupkan puisi Lampung menurut hemat saya bukan menterjemahkan puisi Nasional ke dalam bahas Lampung, tetapi harus sebaliknya. Agar karya kita tidak memberangus puisi Lampung. belajarlah kepada keberhasilan para dalag yang merekayasa 'Suluk' ke dalam bahasa Indonesia. Suluk itu adalah bahasa yang khas tetapi para dalang kini banyak yang mampu merekayasa suluk dalam bahasa Indonesia. Namun walaupun demikian mereka tidak kehilangan atau menghilangkan nuansa dan filosofi suluk, dalam bahasa Indonesia sekalipun. Cerita Indonesia itu di Jawakan dahulu baru disulukkan. para dalang tidak akan membawa begitu saja menampilkan cerita cerita luar ke dalam suluk.

Kalaupun mereka mendapatkan kesulitan atau belum sempat menyulukkan kisah maka diawal kata mereka tetap menggunakan bahasa Jawa : Buni gunjang ganjing langit kelap kelip, kol kutuk kadal gesit, semprong bolong buntu alu ... tok, tok suara ketuk dan gemerincing kecrean ditingkahi gendang lembut dan suara lengkingan  siter, seolah memanggil dari kejauhan ditambah lagi dengan rengean rebab yang mendayu dayu meminta kita menuju suatu tempat, di saat kita menimbang nimbang  gelegar gong seolah membenarkanm.  sehingga suasana Jawa sekali ..., Baru si dalang menutur kisah dalam bahasa Indonesia, logat Jawa. Tak lupa sang dalam menyebut nyebut Pringgodani dan beberapa nama para tokohnya  agar kalimah cerita terkait secara geografis dan personal. Mak sang dalangpun terlepas dari petaka membuang khas dunia pewayangan, dan suasana seperti itu masih diperkuat dengan pola pikir falsafah wayang. sekalipun disaji dalam bahasa Indonesia, tetapi para penonton telah disandra di Pringgodani dan tak kemana mana.

Antara Puisi Tradisional dan Modern dalam Bahasa Lampung.

Tulisan ini terinspirasi dari Tulisan Kuswarto.
Acungan jempol dan ucapan terima kasih sangat pantas diberikan kepada Udo Z.Karzi dan kawan kawan lainnya yang telah berusaha menghidupkan hazanah puisi dalam bahasa Lampung. Karya karya Udo Z Karzi mendapatkan dukungan positif dari mereka mereka yang paham selukbeluk perpuisian dan juga paham tentang bahasa Lampung, dan bahkan diantaranya juga mendapat dukungan positif dari para pecinta puisi yang sejatinya kurang memahami bahasa Lampung.

Namun sejauh itu bagi saya dan banyak lagi para pembaca yang kurang paham dengan puisi, namun oernah jatuh cinta atas sesama etnis Lampung yang cinta kami ditumpahkan dalam bentuk puisi dan berbahasa Lampung pula. Seperti apa yang dipahami banyak orang bahwa ketika kita jatuh cinta kepada seseorang, tiba tiba saja kita menjadi puitis, dan pengalaman seperti itulah yang membuat saya menyusun puisi dalam bahasa Lampung, maka ada kekhawatiran akan kehilangan nuansa puisi tradisional yang sempat membesarkan kami.

Sekalipun awam dalam hal puisi, tetapi bagi kami yang sempat bergelut dengan cinta di era remaja, menikmati puisi bukanlah hal yang sulit. memang kami tak pandai mengeritik puisi, tetapi tentu saja dengan gampangnya kami merasa kehilangan sesuatu dalam puisi ...

Udo Z. Karzi dalam Peta Puisi (Berbahasa) Lampung

--Kuswinarto*

PARUH akhir 2002, khazanah sastra daerah Lampung diperkaya dengan hadirnya sebuah antologi berjudul Momentum, memuat puisi-puisi karya Udo Z. Karzi—penyair yang juga alumnus Fisip Universitas Lampung (Unila). Dieditori Anshori Djausal dan Iswadi Pratama, antologi ini diterbitkan Dinas Pendidikan Lampung melalui Proyek Pelestarian dan Pemberdayaan Budaya Lampung.

Sebanyak 25 puisi karya Udo Z. Karzi mengisi antologi setebal 50 halaman ini. Semuanya ditulis dalam bahasa Lampung dialek Pesisir (dialek Api). Namun, bukan pembaca (etnis/nonetnis Lampung) yang dapat berbahasa Lampung saja yang dapat menikmati, pembaca yang sama sekali tak paham bahasa Lampung pun bisa menikmati antologi ini. Semua puisi berbahasa Lampung dalam antologi ini diberikan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Kehadiran antologi Momentum dalam khazanah sastra Lampung ini saya kira layak dicatat. Ada beberapa alasan mengapa antologi ini layak dicatat. Pertama, hadirnya antologi ini membuktikan bahwa sastrawan Lampung—dalam arti sastrawan yang menulis karya sastra dalam bahasa Lampung—masih ada. Udo Z. Karzi malah bukan saja sastrawan yang menulis karya sastra dalam bahasa Lampung, penyair ini memang beretnis Lampung, kelahiran Liwa, Lampung Barat, 12 Juni 1970. Ketika saya mempertanyakan keberadaan sastrawan Lampung—dalam arti tersebut—dalam sebuah esai saya di media massa, Udo Z. Karzi segera menanggapi esai saya itu dengan mengemukakan bahwa sastrawan Lampung benar-benar ada. Dan hadirnya antologi inilah salah satu buktinya.

Kamis, 21 November 2013

Janji Sebudi / Ingkar janji

SASTRA LAMPUNG


JANJI SEBUDI
INGKAR JANJI

Assalamulaikum, munyayan unyin kutti
ajo surat bitian, jama niku pakkalni
ajo hiwangni badan, tanno haga kubiti
hijjo radu bagian, hurik ku pissan sinji
tabik do jama tian, parwatin sai ngedengi
kittu ratong Pangeran, ampun di bawah kaki

Assalamu’alaikum, spada, sehatlah semua
Ini surat curahan, hanya untukmu kawan
Segala sesalan, saatnya kututurkan
Inilah nasib diri, dalam hidup yang sekali
Maaf bagi semua, andai surat ini terbaca
Bila tiba di Pangeran, ampun maaf hamba pohonkan


Injuk bagi ram pangan, lagi tippu sekeji
sikam ngebukak rasan, tehadap di puwari
nangguhkon kilu andan, diniku pai pakkal ni
asal mula burasan, injuk mak haga reji
segala dikicikan, payu hani puwari
kirani kindo pangan, ajo dia rupani
niku mena bulamban, nyak tinggal cadang hati
mejong nyak dilambung jan, miwang ngagugok jakhi
alang sakikku pangan, burasan kena budi
 

Bagi kita berdua, di pagi kala
Kita buka cerita, kepada semua
Berharap asa badan, padamu pujaan
Di awal semi cinta, tak begini ceritanya
Segala permintaan, semua dijanjikan
Kini apa terjadi, begini rupa diri
Kamulah yang mengingkari, ucapanmu sendiri
Ditangga pintu ku termangu, menangis bertopang dagu
Sakit rasanya diri, kau ingkari janji
 
-


Injuk bagini badan, sangun do di pandai
sakik lain tanggungan, nasib turun di bumi
sikam yu hinjang rulang, tiseruk pakai huwi
di riccini pumengan, tilabi pakai putti
mengan pissan kebiyan, mengan pagi mak dibbi
sakik malang ni badan, mak ngedok banding lagi
bagian ku jak Tuhan, tenyandangan ni dikhi


Inilah nasib badan, sakit tak terperikan
Berat kutanggungkan, dunia penuh impian
Pakaianpun tak pantas, jahitanpun kurang pas
Apalagi penganan, tak layak disajikan
Makan sekali sehari, makan pagi sore tak lagi
Sakit nian badan, rasapun tak terperikan
Inilah suratan Tuhan, yang harus kuterimakan

Kidang bagi ni pangan, liwan senang sekali
khadu massa inggoman, setuju jak lom hati
senang sai kabbak rasan, sai tuha sangun sudi
sai niku na mupappan, setuju di puwari
pekakha tenungguan, cukup mak kurang lagi
Sabah berak lautan, mak ngedok bandingan-ni
darak berak bubilang, kebun lada rik kupi
lamban ni sassai papan, hatok sing jak Betawi
sambil merugok pissan, mija dalih kerussi
bidang tukku ni lamban, lemari appai beli


Tapi nasibmu kawan, hidupmu selalu senang
Kini kau dapatkan pasangan, sesuai dengan impian
Sanak gembiraria, orangtuamu bangga
Kau nampak bahagia, sanak keluarga pun suka
Sarana menantimu, melengkapi bahagiamu
Hamparan sawah tanam padi, bagai tak bertepi
Ladang kebun sangat luasnya, lada kopi jua isinya
Rumahmu indah pilihan, hanya jakarta padanan
Ruang tertata rapi, dihiasi meja kursi
Sudu sudut rumahmu kawan. dionggok perabot pilihan

Ranno senangmu pangan, kapan kak sappai dudi
niku mittakh jak lamban, diiringko minak muwari
ya sappai di cukut jan, ngerasa senang hati
terus do niku pangan, tudungmu radu kari
kebayan radu budandan, kari lapahni lagi
dandananni jak tiyan, cukup mak kurang lagi
lapahdo niku pangan, tipenah tegi rani
wat nabuh taterbangan, haga nyambut kuwari


Betapa senang hidupmu, kebahagiaan menantimu
Berangkatlah kawan, seiring doa dipanjatkan
Injakkan kaki di tangga sana, kebahagianpun  terasa
Naiklah terus, suasana sejuk kan berhembus
Hiasanmu sangat megah, kebahagiaan cukup sudah
Mereka terima bangga, datanglah dengan sukacita
Pastikan langkahmu, bahagia menantimu
Gemerincing musik tabuh, simpati keluarga berlabuh

Di hadapan sawwa kebayan, bukelai bukak tari
tiyan bumain disan, ni tutuk senang hati
ya sappai sambut tangan, jajama hanjak hati
laju mulang mid lamban, niku nutuk jak buri
ya sappai dicukut jan, ticerok pakai kundi
ngisi bura kebayan, pakai nuttopkon hati
tekhus cakak mid lamban, mejong dunggak kekhusi
nerima pernikahan, seratta di janji ni
alang senang mu pangan, hukhik ni pippin Nabi


Kau disambut dua tangan, dengan aneka tarian
Aneka tari menari, menunjukkan sukacita dihati
Salam tangan terangkai, tak ada lagi bagai berbagai
Ikutilah pilihanmu, kebahagiaan menunggunu
Sesampai dipintu nanti, kau dipercik air suci
Terimah sejumlah baju, melengkapi cantikmu
Rumahmu istanamu, singgasanamu
Rekat ikatannya, tunaikan janjinya
Pegang ikrar ini, sesuai tuntunan Nabi

Ki injuk bagi ni badan, liwan malang sekali
huwok di penapian, pari rejang mak ngisi
ibarat babuwahan, radu buwah diuncukni
tikanik kindo pangan, mak ngedok rasa lagi
tijual mari pangan, hulun mak suka ngebeli
kittu tanno yu pangan, mahap nyak jama kutti
sambut salam ku pangan, akhir penghabisan ni
jejama semahapan, betik jahal ni diri


Lupakan aku kawan, lali dalam kehidupan
Bagai sekam maya, dari padi yang hampa
Bagai buah akhirnya, tak ada lagi sesudahnya
Dimakan, rasapun kan hilang
Ditawari, orang tak sdui beli
Pintaku kawan, maafkan kesalahan
Jabatlah lah tangan, tandanya perpisahan
Mohon maafkan, lebih ataupun kurang.




Sabtu, 12 Oktober 2013

Sajak Sambutan

oleh : Suttan Bimo


Awal bebalah, disijo selah
Ngadepiy metiy, seunyen wariy
Dilem itaran, nigehken laporan
Semogo ngebo, kewawaian gham jejamo

Payew kidah, jejamo nengah
Gham piseniy, teninggal rebbiy
Sino warisan, tetep diandan
Adat budayo, aksara budayo

Di sijo selah, gham searah
Ngesaiken atiy, bepiil bepesenggiri
Ngebangun tanggan, sijo tujuan
Gham jejamo, negakken basso

Bentuk ringget dalam sajak di atas adalah a - a, b- b, c - c, d - d atau tappang 4/8 sajak ini jarang dipakai.  Yang banyak pisaan adalah Pubian dan Sungkai. sajak jenis pantun a p b, a - b.. Biasanya orang orang Abung terutama anak anak mudanya muley menganai banyak pula memilih itu. Sementara para orang tua memakai a - b - c, a - b - c atau a - b - c - d, atau a - a, b - b, c - c, atau d - d, dan banyak pula yang lebih memilih jenis nasib a - a - a - a - a. Penano begawoh (ST Bimo).

Sabtu, 27 Juli 2013

Menyingkap Makna Filosofis "HAHIWANG"


Oleh Fauzi Fattah

PADA masyarakat Lampung terdapat seni budaya yang dikategorikan sastra lisan. Termasuk dalam sastra lisan itu ialah hahiwang, bandung, pepaccukh, pantun, wakhahan, muwayak, segata, adi-adi, butangguh, dan lainnya.

Hahiwang adalah salah satu jenis sastra lisan Lampung berbentuk puisi (pantun). Berdasar isinya, hahiwang itu terbagi dua macam. Pertama, berisikan penderitaan hidup seseorang dan yang kedua berisikan hubungan muda-mudi (kegagalan percintaan). Penderitaan hidup atau kegagalan hubungan muda-mudi tersebut ditulis dalam bahasa yang indah dan dibacakan dengan lagu yang menyayat oleh seseorang. Si pendengar akan seolah-olah ikut merasakan penderitaan tersebut.

Dalam pertemuan kita sekarang ini, saya ingin menyajikan sebuah teks hahiwang agar kita dapat menyikap makna filosofis yang terkadung di dalamnya. Hahiwang berikut ini berisikan kekecewaan seorang bujang karena kegagalan cinta, yaitu ditinggal kekasihnya menikah dengan orang lain. Kekecewaannya tersebut dituangkan dalam sebuah tulisan kemudian dikirimkan kepada mantan kekasihnya tersebut. Berikut petikan hahiwang-nya.

Janji Sebudi

Assalamulaikum, munyayan unyin kutti
ajo surat bitian, jama niku pakkalni
ajo hiwangni badan, tanno haga kubiti
hijjo radu bagian, hurik ku pissan sinji
tabik do jama tian, parwatin sai ngedengi
kittu ratong Pangeran, ampun di bawah kaki

Minggu, 07 Oktober 2012

Contoh Pantun Canggot.


Seri Pubian.


SENI BUDAYA PATUT TEBINA
Artinya: Seni Budaya patut dibina

Bulan Purnama tekhang cuaca
Nyinakhi bumi kak tigoh pagi
Seni budaya patut tebina
Lampung asli supa lestakhi

Anjak Yogya kham khisok tungga
Khatong cakak bis ngebeli tapis
Cendera mata ngeba kham bangga
Diusung turis tigoh Prancis

Khamji kak nyata tinggal segala
Jukhak hun udi kukhuk tivi
Cuma sai tuha kak khena-khena
Mawat ia lagi haga peduli

Bong ngenah hingga naka remaja
Salahsa baji sanak demukhi
Sangun khena hun cuci muka
Ngilakko dikhi khabai tiwanti


HM.YUSUF JAIZ, SE
Hi. M. Yusuf Djaiz, SE.
Pusat Yapura nyumbanko cawa
Haji M. Yusuf disan sai sanggup
Lamon khencana kak cucuk dia
Teka maqtuf ia hulup

Sebab tianna menjong dimuka
Khamji nyambut bagian buntut
Kemak cewasa kheti jejama
Dang munih luput mawat tisangkut

Mantan ketua lain nyak suya
Ma’af nyakji di unyin kuti
Kheti pekhcuma nayah khecana
Lamon mak bukti denah unyinni

Kitab Handra tileca-leca
Dipoto cofy tibagi-bagi
Niat kehaga nekham jejama
Dikekh makjadi sanak pengaji

diambil dari BUKU HANDAK II “Mengenal Adat Pubian”
(YAYASAN PUSAT PUBIAN RAGOM (YAPURA) Tahun 1995)
Yang disusun oleh SAYUTI IBRAHIM KIAY PAKSI

PANTUN KEHANGGUMAN


Pantun Kehangguman


Puhaguk Pengikhan..
Puniakan Dalom Beliau..

Di unggak pepadun sai agung,
Hejonganni gagah perkasa
Lapahan nyancan kuasa,
Kekhis payan jadi pusaka,
Tanoh bumi wakhis Umpu Sai Tuha,
Lamon Rakyat sai kedau ya
...Pemanohan ni di ipa ipa,

Datas tungkus mid disai kuasa
Dibah ti ilik jambat mas titi kuya
kenyin khalis hadat budaya,
Sai batin hinno simbul na,

khamik ngambujakh di unggak dunia,
pagun sai dilom cicca,
cumbung pak kelima sia,
unyin lampung hinno asalna,
Sang Bumi Jukhaini Khua,

Tabik pai Sekindua,,,
Sai Batin turunan raja
Sai kedau harkat, derajat
Sai kedau rakyat khik hadat.
butitah kenyin mupakat,
kalam suci jadi syarat,
Tuha Sai Kuasa hinno makripat,
Kehangguman sunyinni rakyat

dudungan mulia, sekindua,
nekham khumpok khik sunyinna,

Teks Lomba Pidato Bahasa Lampung SMP 2 Lambar

Assalamualaikum warohmarullah hiwabarokatuh

Sai ku hormati panitia pelaksanaan Lomba Pidato Bahasa Lampung. Sai ku hormati dewan juri sunyinni puji khik syukur kham sanjungko kehadirat allah SWT, andah ni taufik hidayah, jama inayah ni kham dapok berkumpul di ruangan hijo.

Mak lupa munih kham panjatko solawat sakhta salam kehadirat nabi besar Muhammad SAW Andah ni kham nanti – nanti ko safaat di yaumul kiamah amin yarobbal alamin.

Bapak – bapak, Ibu – ibu seunyinni senang khasani kham seunyin dapok berkumpul di ruangan hijo dilom rangka Lomba Pidato Bahasa Lampung, sikendua tanno haga nyappaiko pidato cutik tentang perkembangan Budaya Lampung, kham sunyinni patut berbahagia mana ampai nihan kham ngekhayako khani jadini Propinsi Lampung sai ke- 46 Tepat na Kamis 18 Maret 2010.Sai khadu – khadu Propinsi Lampung mekhupako salah satu Propinsi sai wat di Indonesia. Lampung munih salah satu Propinsi sai pekhenah Berjaya di Zaman tumbai.

Menapi sikendua ngucak ko bahwa Propinsi Lampung pekhennah Berjaya ? mana ulih kham mekhupako salah satu suku sai ngedok aksara peninggalan ulun tuha kham.

Beberapa suku sai ngedok aksara kham termasuk salah satuna anjak peninggalan ulun Tuha kham. Aksara – aksara sinno tigekhali kham ka ga nga.

Lampung tibagi jadi 2, sai pekhtama bahasa Lampung dialek api ( A ) sai kedua Bahasa Lampung dialek nyo ( O ). Bahasa Lampung dialek api ( A ) tipakai di daerah peminggir, melinting, pubiyan, komring, teluk semangka, krui, sekhta kecamatan Belalau. Sedangko Bahasa Lampung dialek Nyo ( O ) tipakai haguk masyarakat buadat pepadun.

Pekhallu tipandai kham bahasa Lampung tanno khadu kisikh lebon ulih perkembangan zaman. Contohni gawoh kham di Lampung jo di lom ngedidik sanak anjak melunik mawat lagi ngegunako Bahasa Lampung kittu makai Bahasa Indonesia lu gua ulih gengsi jama tetangga mekhabai tiucakko kuno. Kham tanno injuk mak nghargai Bahasa Lampung. Contohni di pekon – pekon, Injuk di pekon Sikendua tenggalan tepatna di pekon kenali kecamatan Belalau Kabupaten Lampung Barat. Ibu na Jama Lampung Bapakna Jama Lampung kidang dilom ngedidik sanak makai bahasa Indonesia.

Kham generasi muda dang khanno menyikapi perkembangan Budaya Lampung, kittu kham jejama ngelestariko budaya Lampung khususna bahasa Lampung. Payu kham jejama bangkit khik berusaha ngelestraiko adat Lampung. Khususna sikendua sebagai penekhus bangsa khik minak muakhi sunyinna.

Jadi khannolah minak muakhi sunyinni pidato singkatku. Kittu ya wat sai salah nyak kilu tawwai bang na ya benokh hinno sai dapok ku cekhitako. Akhir kata sikendua ngilu mahap jama kham sunyinni terutama jama panitia pelaksana lomba pidato Bahasa Lampung jama dewan juri sunyinni.jama Tuhan nyak kilu ampun

Mak tano kapan lagi

Mak kham sapa lagi

Billahi taufiq walhidayah

Wassalamualaikum wr.wb.

Senin, 01 Oktober 2012

Pantun Azimat. Tinjauan Filosofis.

Pantun ini dituturkan secara turun temurun dilingkungan komunitas Paksi Pak Sekala Berak. Seperti lazimnya anggota pada komunitas kepaksian ini seblumnya saya sempat mendengar dari seseorang akan penggalan teks pantun ini. Tetapi pantun selengkapnya saya dapatkan dari blog milik Paksi Prenong. Pantun ini harus ditafsir ulang baik secara piil pesenggiri maupun secara islami. Bila tidak ditafsirkan secara Islam dan piil pesenggiri justeru dapat mengundang salah pengertian dan merendahkan kepaksian.
Tafsir secara piil pesenggiri penting, karena piil pesenggiri adalah falsafah hidup masyarakat lampung, tafsir secara Islam juga penting karena selain periodeisasi munculnya pantun ini adalah era masuknya Islam ke Lampung, dan ajaran ajaran Islam dijadikan sandaran dalam penulisan konten pantun ini.

Walaupun memang dengan masuknya Islam paksi pak Sekala Berak sempat mengalami keguncangan. Dengan masuknya agama Islam tingkat kepatuhan terhadap kerajaan Paksi Pak sempat mengalami kegoyahan. Padahal sebelum Islam pemangku adat sebagaimana layaknya raja raja yang lain adalah memiliki kekuasaan yang tak terbatas, tampa ada perlawanan yang berarti. Kita bersyukur pada akhirnya masig masing berkenan mundur selangkah untuk mencari titik temu. dan nampaknya pihak kepaksianpun menginginkan masuknya Islam akan memperkuat eksistensi kepaksian itu sendiri, itulah antara lain mengapa ajaran islam dijadikan sandarannya.

Sungguh masuknya Islam, pamor kerajaan mulai terancam buram, para da'i mengajarkan kepatuhan hanya kepada Allah juwa. Rukun Islam yang lima harus ditegakkan, solat wajib lima waktu berpantang ditinggalkan. Neraka wail bagi siapa saja yang solatnya tak sempurna, apatah lagi meninggalkan dengan eengaja.Hidup ini harus diisi dengan jihad, adalah surga bagi siapapun yang gugur dalam jihad. Keinginan para punggawa untuk tetap mempertahankan eksistensi kedaulatan kerajaan terpaksa disepadankan dengan ajaran agama Islam yang masuk dengan dahsyat itu. Seperti tergambar dalam syair pantun azimat ini. konten pantun disandarkan kepada ajaran agama.

Pantun Azimat.

“Paksi Pak geralni
Sinno asli ni Lampung
Ngejual mak ngebeli
Dilom adat ni Lampung”

“Pisan simbayang tinggal
tempanjin di neraka
pissan saibatin tisakkal
hak lebon suaka mena”

“Khiah-khiah kik dawah
kekunang kik debingi
kik Sai Batin merittah
tisangsat ram kikpak mati


Terjemahannya.

Paksi Pak namanya
asalnya orang Lampung
berjual pantang beli
di situ adat dijunjung

Sekali solat tertinggal
badan matang dineraka
sekali raja disangkal
alamat badan sengsara

Hiruk pikuk dikala siang
senyap kunang di gulita
patuhi raja, jangan nentang
setiakan nyawa taruhannya.

Kata ngejual mak ngebeli harus ditafsirkan dalam versi piil pesenggiri, sehingga kata kata itu memiliki makna yang tinggi. Sebagai masyarakat petani di komunitas paksi pak Sekala Brak diajarkan kepada masyarakat agar kebutuhan sehari hari bagi seorang petani harus terpenuhi dari hasil pertanian itu sendiri. Jangan sampai seseorang yang mengaku sebagai petani, tetapi mulai dari besar hingga sayur mayur, aneka bumbu dan lain sebagainya yang dihasilkan melalui aktivitas pertanian, justeru harus dibeli. Setiap seseorang sebagai petani harus memiliki produksi hasil pertaniannya, melebihi kebutuhannya sehari hari dan kebutuhan orang yang berada dibawah tanggung jawabnya.

Pissan sebatin ti sakkal, hak lebon suaka mena. sekali raja disangkal alamat badan sengsara. kalimat ini harus dipahami secara terkait dengan bait pertama, bahwa setiap seseorang harus produktif. Perintah yang dikeluarkan dalam rangka meningkatkan lesejahteraan bersama. Manakala perintah untuk meningkatkan etos kerja ini tidak dilaksanakan maka alamat badan akan susah, bahkan manakala kemalasan itu tetap menjadi penyakit bersama, kesengsaraan pasti akan menimpa kita.

Kik sebatin merittah, tisassat kik pak mati. Patuhi raja jangan nentang, setiakan nyawa taruhannya. bait ini lebih ditujukan kepada para ulama. Agar ulama memfatwakan bahwa perintah melakukan upaya kesejahteraan bersama melalui peningkatan etos kerja hukumnya wajib. bahkan mengupayakan kesejahteraan bersama itu bernilai jihad. Siapapun yang gugur dalam jihad maka surga balasannya.

Penyusun pantun berharap dengan menyandar kepada ajaran agama yang mulai dipatuhi masyarakat eksistensi kerajaan Paksi pak akan tetap eksis. tetapi sayang ajaran yang mulia ini sempat diselewengkan oleh para punggawa kerajaan Sekala Berak yang sempat menggunakan tangan besi untuk mempertahankan kedaulatan. Dengan cara memaksakan kehendak. Termasuk mengambil sesuatu sesuatu secara paksa, selain pengrusakan pengrusakan untuk sekedar memberikan tekanan kepada masyarakat.

Mereka itu pada umumnya tidaklah memiliki wawasan yang memadai, para punggawa tidak sadar dengan siapa sebenarnya mereka berhadapan. Para ulama yang ada di sekitar kmomunitas paksi Pak Sekala Berak pada saat itu pada umumnya pernah nyantri di pesantren pesantren di Padang Sumatera Barat yang kelak menjadi perguruan terkenal "Tawalib" mereka memiliki wawasan keagamaan dan kebangsaan yang ada di atas rata rata. Masing masing para santri santri itu mendirikan masjid dan bahkan berencana akan mendirikan sekolah di mana mereka berada masing masing.

Eksodus besar besaran yang dilakukan oleh para santri bersama keluarga ini menjadi alternatif. mereka berpindah ke berbagai tempat guna menghindari bentrokan yang tidak perlu dengan para loyalis. Apalagi sesungguhnya masih memilkiki hubungan kekerabatan yang sangat dekat. Sementara kepindahan itu juga nampaknya menyadarkan pihak pimpinan kepaksian akan kekeliruan membaca perubahan zaman. Karena tentu saja kepaksian ini tidak bisa melanjutkan cara cara lama, apalagi kepulangan para santri ke desa masing masing sejatinya membawa pencerahan.

Terbukti pimpinan kepaksian ini setelah tampuk pimpinan berganti, secara efektif merajut kembali kesatuan dan persatuan. Komunitas Paksi Pak. Bahkan mereka mereka yang sejatinya dahulu telah meninggalkan kampung halaman itu kembali di rangkul.