Fachruddin : Kliping Dan Catatan Tentang Bahasa, Retorika, Sastra, Aksara dan Naskah Kuno
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Minggu, 31 Agustus 2014
Nyi Gowok Kini Telah Tiada
Judul : Nyi Gowok
Penulis : Budi Sarjono
Penerbit : Diva Pres.
Terbitan I : 2014
Sudah lama sekali saya tak membeli novel, kali ini saya tertarik mencarti novel di Swalayan PTC Palembang karena saya masih harus menginap di Palembang untuk berapa lama lagi. semula perusahaan menghabarkan bahwa intermetten akan dilaksanakan pada pertengahan bulan Agustus 2014. Dan saya hanya membawa satu celana jean, satu celana dasar, dua kemeja tangan pendek, dan empat potong baju kaos, serta sebuah jaket yang setia menemaniku kemana pergi. Jaket pemberian perusahaan itu mampu menyimngkirkan jaket jaketku lainnya.
Intermitten ditunda sekitar dua minggu lagi, tentu saja aku harus membeli pakaian tambahan agar nampak oleh teman teman aku sering berganti pakaian seperti layaknya seseorang yang sudah mengantongi kepala enam seperti usiaku sekarang ini,
Setelah merasa cukup dengan apa yang kucari, dan menyesuaikan dengan isi kantongku tentunya, iseng iseng aku ke toko buku, dan kubelilah novel tulisan Budi sarjono ini, aku mengharap novel ini banyak cerita tentang kehidupan desa, yang sejatinya aku sendiri telah mengalaminya sewaktu kecil. Tetapi alamaak .... setelah ku baca, isinya diluar dugaan. Hanya satu pesanku, jika bisa novel ini jangan dibaca oleh para remaja seusia Bagus Sasongko sebagai tokoh penting dalam novel ini, selain Nyi Lindri sebagai tokoh utamanya,
Sabtu, 30 Agustus 2014
Selimut Putih
Lagu yang berjudul "Selimut Putih" atau "Bila Izroil Datang Memanggil" ini demikian populer di akhir tahun 60-ah dan awal 70-an jika tidak silap itulah masanya, sejak kami kanak kanak lagu ini demikian akrab ditelingan, belakangan tersiar kabar bahwa negeri jiran kita Malaysia agak keberatan karena dalam syair lagu itu ada tersebut "Janganlah Kamu Disanjung Sanjung Engkau Digelar Manusia Agung". Seperti yang kita ketahui bahwa sapaan hormat terhadap Yang terhormat Perdana Menteri Malaysia selalu disapa dengan Yang Dipertuan Agung. Dan pada saat lagu lagu Qasidah masuk ke siaran televisi oleh Nasida Ria oleh Televisi Indonesia, maka lagu ini belum juga muncul, bahkan hingga kini, inilah wujud hormat menghormati.
Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Perdana Menteri atau siapapun yang biasa disapa "Yang Dipertuan Agung" maka ijinkanlah saya menuliskan syair gau ini secara lengkap. Apalagi You tube yang dikeluarkan oleh Saudara kita di Malaysia juga ada yang menerbitkan lagu ini, maka dengan segala kerendahan hati ijinkan saya menampilkan lagu dan syairnya secara lengkap.
Bila Izrail datang menanggil
jasad terbujur dipembaringan
Seluruh tubuh akan menggigil
Sekujur badan kedinginan
Tiada lagi gunanya harta kawan karib sanak saudara
Jikalah ada amal di dunia itulah hanya pembela kita
Janganlah mahu disanjung sanjung engkau digelar manusia agung
Sedarlah diri tahu diuntung sebelum masa keranda diusung
Datang masanya insaflah diri selimut putih pembalut badan
Tinggal semua yang dikasihi berbaktilah hidup sepanjang zaman
Saya berharap semoga sair lagu ini dapoat menggugah kita untuk memperbaiki diri disisa sisa umur kita yang m,emang tyak seberapa ini.
Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Perdana Menteri atau siapapun yang biasa disapa "Yang Dipertuan Agung" maka ijinkanlah saya menuliskan syair gau ini secara lengkap. Apalagi You tube yang dikeluarkan oleh Saudara kita di Malaysia juga ada yang menerbitkan lagu ini, maka dengan segala kerendahan hati ijinkan saya menampilkan lagu dan syairnya secara lengkap.
Bila Izrail datang menanggil
jasad terbujur dipembaringan
Seluruh tubuh akan menggigil
Sekujur badan kedinginan
Tiada lagi gunanya harta kawan karib sanak saudara
Jikalah ada amal di dunia itulah hanya pembela kita
Janganlah mahu disanjung sanjung engkau digelar manusia agung
Sedarlah diri tahu diuntung sebelum masa keranda diusung
Datang masanya insaflah diri selimut putih pembalut badan
Tinggal semua yang dikasihi berbaktilah hidup sepanjang zaman
Saya berharap semoga sair lagu ini dapoat menggugah kita untuk memperbaiki diri disisa sisa umur kita yang m,emang tyak seberapa ini.
Kamis, 25 Juli 2013
(pustaka) SAAT SEJARAH DAN ROMANSA PERCINTAAN BERKELINDAN
Dodiek Adyttiya Dwiwanto
![]() |
| Judul buku: Amba Penulis: Laksmi Pamuntjak Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Cetakan: 2012 Tebal: 494 halaman |
Sebenarnya, dia telah ditunangkan dengan lelaki pilihan orangtuanya, Salwa Munir. Namun kemudian dia malah hamil di luar nikah dengan Bhisma Rashad, seorang dokter lulusan Jerman yang bekerja di Kediri, Jawa Timur. Bhisma memiliki simpati terhadap golongan kiri.
Bhisma ditangkap di Yogyakarta dan dibuang ke Pulau Buru. Saat para semua tahanan politik dipulangkan, Bhisma memilih menetap. Amba yang telah tua terus mencari Bhisma yang telah memberi dia satu putri. Akhirnya, dia pun mengetahui alasan kenapa Bhisma tidak kembali.
Salwa, Bhisma, dan Amba adalah tokoh-tokoh pewayangan. Bhisma adalah putra Prabu Santanu dan Dewi Gangga. Dia memiliki saudara lain yaitu Chitrangada dan Wicitrawirya. Bhisma memutuskan tidak menikah sehingga Chitrangada menjadi raja, tetapi kemudian dia tewas.
Saat Wicitrawirya naik takhta dan membutuhkan kehadiran permaisuri,
(pustaka) RINDU TANAH AIR, KANGEN KAMPUNG HALAMAN
Dodiek Adyttiya Dwiwanto
Sekali lagi, novel berbalut kisah peristiwa kelam 1965. Satu lagi karya terbaik Leila S. Chudori setelah 9 dari Nadira.
![]() |
| Judul buku: Pulang Penulis: Leila S. Chudori Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Cetakan: pertama, Desember 2012 Tebal: 464 halaman |
“Rumah adalah tempat di mana aku bisa merasa bisa pulang,‘ jawab Dimas. Dingin. Datar. (halaman 201).
Dimas Suryo adalah eksil. Dia tidak bisa pulang setelah pecahnya Tragedi 30 September 1965. Dia adalah jurnalis yang menghadiri sebuah pertemuan jurnalis beraliran kiri di luar negeri. Dimas Suryo pun harus berpindah negara, berganti pekerjaan, dan lainnya hingga akhirnya tiba di Prancis.
Bersama sejumlah rekannya yang juga tidak bisa pulang lantaran bakal ditangkap oleh rezim Orde Baru, Dimas mendirikan restoran di Paris. Kisah hidupnya pun berlanjut dengan berjumpa perempuan Prancis, Vivienne Deveraux. Tidak lama berselang, dia ikut menyaksikan peristiwa besar lainnnya pada Mei 1968 di Prancis.
Kelak, putri Dimas dengan Vivienne, Lintang Utara juga menjadi saksi peristiwa besar lainnya, Mei 1998 saat Indonesia dilanda kerusuhan besar tidak lama setelah lengsernya Presiden Soeharto. Lintang berjumpa dengan Segara Alam, putra dari Hananto Prawiro dan Surti Anandari. Hananto adalah senior Dimas, sementara Surti pernah dicintai oleh Dimas, namun kemudian dinikahi oleh Hananto.
Dimas dan sejumlah eksil lainnya tidak dapat pulang meskipun banyak
PUJANGGA SEPANJANG MASA
![]() |
| Data buku Baju Bulan Joko Pinurbo Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2013 82 hlm |
JOKO Pinurbo (Jokpin) mengakui bahwa penerbitan buku puisi Celana (1999)
menandai masa belajar menulis puisi selama 20 tahun. Pujangga memang
hidup bersama kata, berperistiwa dan mengolah makna. Jokpin tak jemu,
enggan minggat dari “rumah kata”. Masa belajar menulis puisi pun
bertambah, terbukti dengan penerbitan buku puisi berjudul Baju Bulan
(2013). Pujangga bertubuh kurus itu tak mengenal tamat. Berpuisi adalah
peribadatan sepanjang masa, sampai tubuh menjadi fana.
Kegandrungan berpuisi pernah dijelaskan Jokpin melalui puisi pendek, berjudul Puisi Telah Memilihku (2007). Pujangga itu mengakui: Puisi telah memilihku menjadi celah sunyi/ di antara baris-barisnya yang terang./ Dimintanya aku tetap redup dan remang. Puisi ini cuma ingatan, keterpilihan Joko Pinurbo sebagai penggembala kata. Jokpin tak melulu “redup” dan “remang”. Ketelatenan menulis puisi, mempersembahkan pada pembaca telah memberi “terang” etos kapujanggan. Jokpin membuktikan diri, berjalan tanpa lelah, menggembala puisi melintasi waktu demi waktu sampai diri menua.
Buku Baju Bulan merupakan kumpulan 60 puisi, terpilih di rentang waktu 1991-2012. Pembatasan waktu penulisan-publikasi dan jumlah puisi seolah mengandung nalar-selektif. Pembaca dipersilakan menikmati puisi tanpa keutuhan mengacu episode-episode di masa silam. Kita tak bakal menemukan puisi-puisi wagu dan lugu dari masa 1980-an, episode Jokpin menempatkan diri di deretan pujangga Indonesia dan “merumuskan” bentuk-greget berpuisi. Pembatasan waktu lumrah dijadikan dalil jika berkaitan kepatutan dan keterikatan.
Penerbit memberi penjelasan bahwa
Kegandrungan berpuisi pernah dijelaskan Jokpin melalui puisi pendek, berjudul Puisi Telah Memilihku (2007). Pujangga itu mengakui: Puisi telah memilihku menjadi celah sunyi/ di antara baris-barisnya yang terang./ Dimintanya aku tetap redup dan remang. Puisi ini cuma ingatan, keterpilihan Joko Pinurbo sebagai penggembala kata. Jokpin tak melulu “redup” dan “remang”. Ketelatenan menulis puisi, mempersembahkan pada pembaca telah memberi “terang” etos kapujanggan. Jokpin membuktikan diri, berjalan tanpa lelah, menggembala puisi melintasi waktu demi waktu sampai diri menua.
Buku Baju Bulan merupakan kumpulan 60 puisi, terpilih di rentang waktu 1991-2012. Pembatasan waktu penulisan-publikasi dan jumlah puisi seolah mengandung nalar-selektif. Pembaca dipersilakan menikmati puisi tanpa keutuhan mengacu episode-episode di masa silam. Kita tak bakal menemukan puisi-puisi wagu dan lugu dari masa 1980-an, episode Jokpin menempatkan diri di deretan pujangga Indonesia dan “merumuskan” bentuk-greget berpuisi. Pembatasan waktu lumrah dijadikan dalil jika berkaitan kepatutan dan keterikatan.
Penerbit memberi penjelasan bahwa
MENGHIDUPKAN TRADISI MENDONGENG ITU PENTING
Musa Ismail.
PADA mulanya, dongeng merupakan kisah lisan yang mendunia. Semua negara, memiliki dongeng yang menggambarkan kekhasan dan kejeniusan lokal mereka. Akhir-akhir ini, kisah lisan itu dapat dengan mudah kita peroleh melalui media cetak dan media elektronik. Untuk wilayah nusantara, dongeng bukanlah sesuatu yang asing. Semua daerah di nusantara ini, mempunyai dongeng masing-masing. Bahkan, beberapa buku dongeng nusantara dengan mudah kita temukan di toko-toko buku.
Ketika mendengar kata dongeng, orang akan mengaitkannya dengan kisah bual, kisah bohong, atau kisah khayal semata. Bahkan, sangat disayangkan, masih banyak yang menganggap bahwa dongeng sekaligus mendongeng itu tidak penting. Pemikiran seperti ini ada benarnya karena muatan peristiwa dalam dongeng didominasi oleh kisah-kisah imajinatif. Akan tetapi, ada benarnya pula kalau dikatakan bahwa tidak semata muatan peristiwa dalam dongeng merupakan rangkaian peristiwa khayalan. Peristiwa-peristiwa sejarah, misalnya, masih bisa kita sampaikan dengan cara mendongeng. Hal ini serupa dengan novel yang berpijak dari peristiwa sejarah.
Untuk Indonesia, kita tidak asing lagi dengan beberapa nama seperti Kak
(Alinea) MERINDUKAN SASTRA RURAL.
FARIZ ALNEIZAR
DUNIA sastra merupakan dunia yang penuh
dengan rasa, sarat akan makna. Ahmad Tohari menyebutkan bahwa dengan
sastralah kita akan menemukan empati, simpati, bahkan ideologi. Lebih
jauh, D. Zawawi Imron pun pernah mengatakan bahwa dengan bersastra
manusia akan terasah jiwanya, akan sensitif mata batinnya, serta peka
radar kemanusiaannya.
Banyak sastrawan muda bermunculan akhir-akhir ini, tidak hanya di ibukota, tetapi juga di daerah-daerah (desa). Ada yang memang menghabiskan hidupnya berpindah-pindah dari kota ke kota, tetapi ada juga yang memang memilih menetap tinggal di kota atau di desa. Alasannya pun berbeda-beda: ada yang karena tuntutan hidup, ada pula yang karena alasan lain. Yang pasti, dalam kaitannya dengan tulisan ini, persoalan tempat tinggal dan gaya hidup cenderung berpengaruh pada hasil kreativitas mereka.
Persoalan tempat tinggal sastrawan sempat menarik perhatian Agus R. Sarjono.
Banyak sastrawan muda bermunculan akhir-akhir ini, tidak hanya di ibukota, tetapi juga di daerah-daerah (desa). Ada yang memang menghabiskan hidupnya berpindah-pindah dari kota ke kota, tetapi ada juga yang memang memilih menetap tinggal di kota atau di desa. Alasannya pun berbeda-beda: ada yang karena tuntutan hidup, ada pula yang karena alasan lain. Yang pasti, dalam kaitannya dengan tulisan ini, persoalan tempat tinggal dan gaya hidup cenderung berpengaruh pada hasil kreativitas mereka.
Persoalan tempat tinggal sastrawan sempat menarik perhatian Agus R. Sarjono.
Jumat, 19 April 2013
Kamis, 07 Februari 2013
Sembilan Buku Sastra Bali Raih Penghargaan Rancage
DENPASAR - Sembilan judul buku sastra Bali hasil karya tujuh pengarang berhasil memperoleh penghargaan "Rancagé" yang khusus diberikan terhadap karya sastra berbahasa daerah Sunda, Jawa dan Bali.
"Yayasan Kebudayaan Rancagé bekerja sama dengan sejumlah universitas di Indonesia memberikan penghargaan itu secara berkesinambungan sejak 1994," kata Prof Dr I Nyoman Darma Putra, ketua tim juri karya sastra bahasa daerah Bali di Denpasar, Selasa.
Ia mengatakan, penghargaan bergengsi untuk karya sastra berbahasa daerah Bali 2013 jumlahnya sama dengan tahun sebelumnya.
Kesembilan buku karya sastra berbahasa daerah Bali itu antara lain berupa roman réligi Dr Ratini dan Ngrestiti Ati karya Nyoman Manda serta kumpulan sajak karya Madé Sugianto.
Selain itu Bégal (cerita péndék) karya IDK Raka Kusuma, Gancaran Mersun (cerita péndék) karya Wayan Paing, Mekel Paris (cerita péndék) karya IBW Kenitén dan dua lagi kumpulan puisi yaitu Léak Kota Pala karya IGP Samar Gantang dan Kabinét Ngejengit karya DG Kumarsana.
Jumat, 05 Oktober 2012
Menikmati Puisi, Menafsiri Tempuling (2)
MAMAN S MAHAYANA
Dosen Tamu Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea. Ia juga dikenal sebagai kritikus Sastra Indonesia
MARI kita coba menelusuri larik berikutnya: seorang bocah menemukannya/sehabis sekolah//. Kini, kita berjumpa dengan semacam paradoks: tempuling -tombak pendek yang (hanya) digunakan oleh nelayan sejati, nelayan yang sudah sangat berpengalaman dengan berbagai keterampilannya hidup di tengah laut, dihadapkan dengan seorang bocah -dan tidak anak-anak atau anak kecil- sehabis sekolah. Kembali, pola tipografi yang tidak rata kiri pada dua larik itu menunjukkan, bahwa sebelum sekolah, ada kisah lain yang menyertai si bocah. Bukankah para pelajar -anak-anak sekolah- pada umumnya biasa langsung pulang (ke rumah) selepas bubar sekolah. Mengapa si bocah ke pantai dan menemukan tempuling?
Ada dua tafsir yang dapat kita terjemahkan atas dua larik itu. Pertama, sehabis sekolah, anak-anak nelayan terbiasa bermain di pantai atau laut, sebelum pulang ke rumah. Ini mengisyaratkan, bahwa laut, pantai dengan segala ombaknya, sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan mereka sejak masih bocah. Laut adalah sumber penghidupan, sekaligus juga sebagai lapangan tempat bermain mereka.
Lihatlah anak-anak nelayan atau mereka yang menjadikan laut sebagai tempat bermain dan menghabiskan waktu luang. Lihatlah para bocah yang menjadikan dermaga Merak -Bakauheni atau Gilimanuk-Ketapang-Banyuwangi, sekadar menyebut beberapa pelabuhan, sebagai lapangan permainan mereka. Bagaimana mereka dengan mata telanjang bisa begitu piawai menangkap keping-keping uang logam yang dilemparkan para (calon) penumpang kapal. Keterampilan yang diperlihatkan para bocah itu tidaklah datang seketika, melainkan lewat proses panjang pengalaman mereka dalam bermain-main dengan laut. Laut adalah lapangan permainan mereka. Dengan demikian, pengetahuan mereka tentang laut tidak diperoleh berdasarkan teks buku di sekolah, melainkan berdasarkan pengalaman hidup. Mereka adalah anak-anak laut. Jika kelak mereka menjadi nelayan, mereka sudah mengenal dengan sangat baik karakteristik laut dengan segala macam keganasannya. Maka, jangan tanya mereka rasa air laut, sebab jawabnya tak akan berhenti pada satu kata: asin, melainkan berbagai jenis rasa asin dan air laut wilayah mana yang dicecap.
Nah, si bocah, boleh jadi menemukan tempuling itu, sehabis bermain-main di laut. Sekolah sebagai tempat menuntut ilmu adalah dunia masa depan si bocah, tetapi laut juga sekolah alam yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupannya. Jadi, frasa sehabis sekolah mengisyaratkan dua makna: dalam pengertian referensial dan sekaligus juga dalam pengertian metaforis.
Kedua, larik-larik: Seorang bocah menemukannya/sehabis sekolah// dimaksudkan sebagai paradoks situasional. Dua larik awal: sebatang tempuling tersadai di gigi pantai/ sehabis badai// adalah realitas kehidupan (nelayan) yang menempatkan laut dengan segala keindahan dan keganasannya sebagai sekolah alam; dunia nyata yang sesungguhnya selalu menyimpan misteri tentang kehidupan dan kematian ketika seseorang pergi mengarunginya. Dua larik berikutnya, Seorang bocah menemukannya/sehabis sekolah// mewartakan dunia ideal kehidupan masa depan generasi baru. Sekolah adalah wadah segala idealisme tumbuh dan berkembang. (Seharusnya) tidak ada keganasan di sana. Sekolah adalah kehidupan yang tak menyimpan misteri kematian, karena segalanya berjalan tertib dan baik-baik saja.
Begitulah, sehabis badai dan sehabis sekolah adalah repetisi yang hendak memberi tekanan pada sebuah paradoks tentang dunia nyata (badai) yang ganas penuh misteri dan dunia ideal (sekolah) yang tertib dan baik-baik saja. Meskipun begitu, si bocah yang hidup dalam dunia ideal itu, juga tidak dapat menghindar dari tarikan sekolah alam -laut- yang sudah menjadi bagian dari lapangan permainannya. Oleh karena itu, penemuannya tentang tempuling diyakini sebagai isyarat terjadinya tragedi bagi nelayan. Tempuling menjadi berita duka. Tuhan/Siapa lagi yang kini telah menyerah? Tidak lain adalah kabar kematian. Maka, yang segera muncul adalah pertanyaan: siapa yang menjadi berita dan berita itu untuk siapa?
Pertanyaan -siapa- sesungguhnya lebih merupakan gebalau kerisauan si bocah atau sesiapapun. Sebab, bisa saja jawabannya: orang kampung seberang, si anu yang tinggal di situ, tetangga kita, paman, atau bahkan ayah! Jawaban terakhir itulah boleh jadi yang mengguncangkan si bocah, sebab ia sama sekali tidak menangkap isyarat apapun yang bakal mengantarkan (sang ayah) pergi selamanya, sebagaimana dikatakan: Tak terlihat tanda-tanda/tak tercium anyir nasib/ tak tercatat luka musim// Jadi, pada mulanya, segala berjalan baik-baik saja, meski laut tetap saja menyimpan begitu banyak misteri.
Ketiga larik itu, dapat pula kita tafsirkan sebagai pesan penyair hendak menegaskan, betapa dahsyat berita duka itu. Betapa terguncangnya perasaan si bocah -yang dalam peribahasa klise dikatakan: seperti petir di siang bolong. Dan tiba-tiba saja, tempuling ditemukan tersadai- sebuah berita kematian! Penyair menggambarkannya dengan metafora yang seolah-olah, alam pun tidak menghendaki peristiwa tragisitu terjadi: Kecuali tangis ombak/ Pekik elang/ Yang jauh dan ngilu/di antara cuaca/dan gemuruh karang//.
Kembali kita menemukan adanya paradoks situasional pada kedua bait tadi. Jika bait sebelumnya mewartakan semuanya baik-baik saja, lantaran tak ada tanda-tanda atau isyarat apapun: Tak terlihat tanda-tanda/tak tercium anyir nasib/ tak tercatat luka musim// maka bait berikutnya: Kecuali tangis ombak/ Pekik elang/ Yang jauh dan ngilu/di antara cuaca/dan gemuruh karang// justru sesungguhnya menyampaikan isyarat-isyarat. Ombak, elang, cuaca dan karang adalah warga laut yang sering kali dijadikan panduan bagi nelayan ketika (akan berangkat) berlayar. Lalu, mengapa pula tragedi itu masih terjadi juga? Itulah misteri laut. Maka penyebutan Tuhan di sana sebagai representasi dari rahasia Tuhan. Bukankah pengetahuan manusia tentang Tuhan bagai setitis air di samudera? Oleh karena itu, si bocah (atau penyair?) mengembalikan misteri laut itu pada Tuhan, sebagaimana dinyatakan pada bait berikutnya: Tuhan/Diakah kini yang telah menyerah?/telah kalah?/
Pada bagian ini, segera muncul pertanyaan: mengapa dia �menyerah�, �kalah� Meski bagi saya kata �menyerah� dan �kalah� kontradiksi dengan simbolisasi tempuling yang tersadai, pengulangan adverbia (kata keterangan) telah yang mengantarkan menyerah dan kalah (telah menyerah/telah kalah), punya makna lain yang berkaitan dengan pesan yang hendak disampaikan penyair. Bukankah penyair bisa saja menghilangkan adverbia (kata keterangan) itu, sehingga bunyinya lebih tegas dan padat: Diakah kini yang menyerah?/kalah?// Mengapa harus ada adverbia yang maknanya secara sintaksis tidak berbeda?
Di sinilah uniknya puisi! Selalu, setiap kata perlu dicurigai menyimpan pesan. Maka penghadiran adverbia -telah- yang mengantarkan menyerah dan kalah itu, boleh jadi dimaksudkan sebagai penegas, sebagai tanda seru, sebagai eksplisitasi, bahwa dia sudah benar-benar tumbang, menyerah pada keganasan alam, kalah oleh takdir yang sudah digariskan Tuhan. Perhatikan lagi pilihan penyair pada kata gigi dan tidak memakai kata gigir, pinggir, atau bibir. Tentu pilihan pada kata itu bukan perkara -meminjam pernyataan Sutardji Calzoum Bachri- salah ketik. Dengan begitu, penghadiran adverbia itu pun dilakukan dengan kesengajaan untuk menegaskan, bahwa dia telah sempurna pergi selama-lamanya. Dia tidak akan kembali lagi sebagai pahlawan yang membawa pulang ikan dengan tempuling masih dalam genggamannya. Kini tempuling telah tersadai dan dia sempurna tidak bakal kembali lagi. Dia pulang ditelan alam.
Oh, rupanya tanda-tanda tidak akan kembali itu sudah pula diisyaratkan sebelumnya. Ada semacam pesan terakhir atau wasiat. Pindahkan pancang/sebelum pasang// Apa pula maknanya pesan itu? Bagi saya, larik dengan persajakan yang indah itu, bukan sekadar permainan bunyi, tetapi juga menyimpan pesan filosofis yang seperti merepresentasikan karakteristik dunia Melayu. Seperti cogan: ��Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang,�� dua larik itu, Pindahkan pancang/sebelum pasang// juga dapat diperlakukan sebagai cogan, bahwa menghadapi segala apapun dalam kehidupan ini, diperlukan antisipasi, perencanaan, persiapan, kalkulasi dan perhitungan matang, sebelum segalanya terlambat, sebelum datang penyesalan.
Lalu, apa pula maknanya dalam konteks pesan puisi itu? Dia lirik (: para nelayan) rupanya punya kesadaran, bahwa laut, sumber penghidupan dan lapangan perjuangannya, bukanlah tempat yang ramah. Bahwa setiap keberangkatan pelayaran -menangkap ikan- selalu di belakangnya, tertinggal pertanyaan: akankah dia pulang membawa kemenangan atau seperti ditegaskan dua larik sebelumnya: menyerah/kalah! Dengan kesadaran itulah, setiap anggota keluarga nelayan, harus selalu siap menerima berita duka, melihat tempuling tersadai di gigi pantai.
***
Hatiku memang telah terusik
ketika sehelai waru
gugur
lesap
lewat tingkap
tersuruk
diantara tungku
menunggu gelap
Bait ini -dengan kemunculan aku lirik- seperti memberi jarak waktu antara peristiwa yang dihadapi si bocah ketika awal menerima berita kematian dan ketika teringat pada seseorang yang ditelan alam. Adanya keberjarakan antara aku lirik dan si bocah menunjukkan, bahwa penyair coba mempermainkan posisi pencerita. Si bocah berada pada posisi yang -terpaksa- harus menerima begitu saja pada sang nasib: kehilangan seseorang yang (mungkin) menjadi kebanggaan atau tonggak keluarga. Pilihan kata bocah dan tidak anak (kecil) atau anak-anak menunjukkan seseorang yang berada pada usia yang tidak perlu memikirkan apapun, kecuali bermain. Dan tiba-tiba, ia melihat tempuling, sebuah berita kematian! Maka, segalanya bagi si bocah seperti kiamat untuk sebagian hidupnya, kiamat pula bagi masa depannya.
Kini: Hatiku memang telah terusik// bagai kenangan masa itu yang datang lagi. Ia merasakannya seperti: daun waru yang jatuh, tersangkut di tingkap, lalu mengering dan jatuh lagi menunggu kembali menjadi tanah. Bait ini sungguh kuat menghadirkan citraan alam (daun) sebagai analogi sosok manusia yang tumbang, menunggu segalanya tumpas sempurna. Perhatikan juga pola persajakannya yang cantik dengan perhatian pada persamaan bunyi: waru-gugur, lesap-lewat-tingkap, tersuruk-tungku-menunggu, di antara-gelap. Penyair tampaknya sadar betul pada kekuatan persajakan, sebagaimana yang terdapat pada pantun atau syair. Tetapi, kekuatan persajakan tanpa metafora, tak cukup kuat mendukung pesan tematik. Di situlah kesadaran penyair membangun citraan alam berhasil menghidupkan saklar asosiasi kita untuk membayangkan daun jatuh sebagai analogi kematian seseorang.
***
Berbeda dengan kisah bocah yang terdapat pada bait-bait awal, kini si bocah (masa lalu) itu, berada dalam ingatan aku lirik. Ada semacam garis kenangan yang menghubungkan peristiwa dulu yang dialami si bocah dengan aku lirik yang masih menyimpan peristiwa itu sebagai catatan perjalanan hidupnya yang tidak mudah punah. Maka, yang diingatnya dulu, bukan hanya si bocah yang menangis, melainkan juga alam raya yang ikut merasakan kedukaan itu. Sebuah tragedi individual yang sebenarnya berlaku bagi masyarakat nelayan, bahkan juga universal. Bukankah siapa pun akan mengalami kedukaan yang dahsyat ketika seseorang yang menjadi tonggak keluarga, tiba-tiba harus pergi selamanya. Dan lebih tragis lagi ketika jasadnya tidak diketahui entah berada di mana.
Sebatang tempuling tersadai
digigi pantai
sehabis badai
Seorang bocah merasakan
pelupuk raya
telah basah
Kini segalanya sudah terjadi. Biarlah peristiwa itu tetap sebagai kenangan masa lalu, meski selalu dan selalu ia hadir kembali. Jadi, tidak perlu pula memelihara penyesalan. Jika pun masih tersisa harapan, cukup satu saja: jasadnya ditemukan, sehingga sang mendiang dapat dikuburkan sebagai tanda, telah berpulang nelayan sejati! Dan tempuling akan menjadi saksi bicara tentang totalitas hidup di tengah laut, tentang kepahlawanan seorang nelayan!
Perhatikan larik-larik di bawah ini:
Tuhan
Bawalah seorang
menemukannya
menguburkannya diantara
pantai
memberikannya satu tanda
dan jangan biarkan arus
membawanya jauh ke
lubuk dalam
yang akupun tak tahu
dimana akan kutuliskan
rinduku.
Bait akhir ini makin memperjelas hubungan si bocah dengan aku lirik. Di situ, melalui siasat penyair mempermainkan posisi pencerita, kita (: pembaca) dibawa pada sebuah pesan, bahwa si bocah masa lalu, kini menjelma menjadi aku lirik. Meski tak selalu identik aku lirik dengan penyair, setidak-tidaknya, penyair Rida K Liamsi ini, punya sejarah masa lalu yang berkaitan dengan tempuling: simbol kepahlawanan seorang nelayan. Jika pada tiga larik terakhir tertulis: yang aku pun tak tahu/di mana akan kutuliskan/rinduku// boleh jadi, puisi ini merupakan representasi gebalau perasaannya yang tak mudah luput dari rindu pada masa lalu. Dan puisi ��Tempuling�� telah memancarkan mukjizatnya!
***
Tafsir puisi ��Tempuling�� ini, boleh jadi di sana-sini terjadi semacam intentional fallacy. Meski begitu, hal tersebut tetap sah sejauh ada argumen yang melandasinya. Di situlah sesungguhnya mukjizat puisi yang sebaik-baik dan sebenar-benarnya puisi. Ia menyimpan begitu banyak misteri yang selalu membawa pembaca pada kisah besar di luar teks. Puisi ��Tempuling�� adalah kisah kepahlawanan nelayan dan Rida K Liamsi telah merefleksikannya dalam larik-larik pendek, kemas, padat, dengan permainan persajakan dan metafora yang cerdas, dengan kualitas diksi yang tak basi.
��Tempuling�� sebagai pengalaman individual penyair, telah menjelma menjadi kisah besar tentang kepahlawanan nelayan sejati. Maka, puisi ��Tempuling�� makin meneguhkan keyakinan saya, bahwa penyair (: sastrawan) adalah juru bicara kebudayaan yang melahirkan dan membesarkannya. Semoga begitu! n
Seoul, 17 September 2012
Maman S Mahayana, Dosen Tamu Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea. Ia juga dikenal sebagai kritikus Sastra Indonesia.
Sumber: Riau Pos, Minggu, 30 September 2012
Dosen Tamu Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea. Ia juga dikenal sebagai kritikus Sastra Indonesia
MARI kita coba menelusuri larik berikutnya: seorang bocah menemukannya/sehabis sekolah//. Kini, kita berjumpa dengan semacam paradoks: tempuling -tombak pendek yang (hanya) digunakan oleh nelayan sejati, nelayan yang sudah sangat berpengalaman dengan berbagai keterampilannya hidup di tengah laut, dihadapkan dengan seorang bocah -dan tidak anak-anak atau anak kecil- sehabis sekolah. Kembali, pola tipografi yang tidak rata kiri pada dua larik itu menunjukkan, bahwa sebelum sekolah, ada kisah lain yang menyertai si bocah. Bukankah para pelajar -anak-anak sekolah- pada umumnya biasa langsung pulang (ke rumah) selepas bubar sekolah. Mengapa si bocah ke pantai dan menemukan tempuling?
Ada dua tafsir yang dapat kita terjemahkan atas dua larik itu. Pertama, sehabis sekolah, anak-anak nelayan terbiasa bermain di pantai atau laut, sebelum pulang ke rumah. Ini mengisyaratkan, bahwa laut, pantai dengan segala ombaknya, sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan mereka sejak masih bocah. Laut adalah sumber penghidupan, sekaligus juga sebagai lapangan tempat bermain mereka.
Lihatlah anak-anak nelayan atau mereka yang menjadikan laut sebagai tempat bermain dan menghabiskan waktu luang. Lihatlah para bocah yang menjadikan dermaga Merak -Bakauheni atau Gilimanuk-Ketapang-Banyuwangi, sekadar menyebut beberapa pelabuhan, sebagai lapangan permainan mereka. Bagaimana mereka dengan mata telanjang bisa begitu piawai menangkap keping-keping uang logam yang dilemparkan para (calon) penumpang kapal. Keterampilan yang diperlihatkan para bocah itu tidaklah datang seketika, melainkan lewat proses panjang pengalaman mereka dalam bermain-main dengan laut. Laut adalah lapangan permainan mereka. Dengan demikian, pengetahuan mereka tentang laut tidak diperoleh berdasarkan teks buku di sekolah, melainkan berdasarkan pengalaman hidup. Mereka adalah anak-anak laut. Jika kelak mereka menjadi nelayan, mereka sudah mengenal dengan sangat baik karakteristik laut dengan segala macam keganasannya. Maka, jangan tanya mereka rasa air laut, sebab jawabnya tak akan berhenti pada satu kata: asin, melainkan berbagai jenis rasa asin dan air laut wilayah mana yang dicecap.
Nah, si bocah, boleh jadi menemukan tempuling itu, sehabis bermain-main di laut. Sekolah sebagai tempat menuntut ilmu adalah dunia masa depan si bocah, tetapi laut juga sekolah alam yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupannya. Jadi, frasa sehabis sekolah mengisyaratkan dua makna: dalam pengertian referensial dan sekaligus juga dalam pengertian metaforis.
Kedua, larik-larik: Seorang bocah menemukannya/sehabis sekolah// dimaksudkan sebagai paradoks situasional. Dua larik awal: sebatang tempuling tersadai di gigi pantai/ sehabis badai// adalah realitas kehidupan (nelayan) yang menempatkan laut dengan segala keindahan dan keganasannya sebagai sekolah alam; dunia nyata yang sesungguhnya selalu menyimpan misteri tentang kehidupan dan kematian ketika seseorang pergi mengarunginya. Dua larik berikutnya, Seorang bocah menemukannya/sehabis sekolah// mewartakan dunia ideal kehidupan masa depan generasi baru. Sekolah adalah wadah segala idealisme tumbuh dan berkembang. (Seharusnya) tidak ada keganasan di sana. Sekolah adalah kehidupan yang tak menyimpan misteri kematian, karena segalanya berjalan tertib dan baik-baik saja.
Begitulah, sehabis badai dan sehabis sekolah adalah repetisi yang hendak memberi tekanan pada sebuah paradoks tentang dunia nyata (badai) yang ganas penuh misteri dan dunia ideal (sekolah) yang tertib dan baik-baik saja. Meskipun begitu, si bocah yang hidup dalam dunia ideal itu, juga tidak dapat menghindar dari tarikan sekolah alam -laut- yang sudah menjadi bagian dari lapangan permainannya. Oleh karena itu, penemuannya tentang tempuling diyakini sebagai isyarat terjadinya tragedi bagi nelayan. Tempuling menjadi berita duka. Tuhan/Siapa lagi yang kini telah menyerah? Tidak lain adalah kabar kematian. Maka, yang segera muncul adalah pertanyaan: siapa yang menjadi berita dan berita itu untuk siapa?
Pertanyaan -siapa- sesungguhnya lebih merupakan gebalau kerisauan si bocah atau sesiapapun. Sebab, bisa saja jawabannya: orang kampung seberang, si anu yang tinggal di situ, tetangga kita, paman, atau bahkan ayah! Jawaban terakhir itulah boleh jadi yang mengguncangkan si bocah, sebab ia sama sekali tidak menangkap isyarat apapun yang bakal mengantarkan (sang ayah) pergi selamanya, sebagaimana dikatakan: Tak terlihat tanda-tanda/tak tercium anyir nasib/ tak tercatat luka musim// Jadi, pada mulanya, segala berjalan baik-baik saja, meski laut tetap saja menyimpan begitu banyak misteri.
Ketiga larik itu, dapat pula kita tafsirkan sebagai pesan penyair hendak menegaskan, betapa dahsyat berita duka itu. Betapa terguncangnya perasaan si bocah -yang dalam peribahasa klise dikatakan: seperti petir di siang bolong. Dan tiba-tiba saja, tempuling ditemukan tersadai- sebuah berita kematian! Penyair menggambarkannya dengan metafora yang seolah-olah, alam pun tidak menghendaki peristiwa tragisitu terjadi: Kecuali tangis ombak/ Pekik elang/ Yang jauh dan ngilu/di antara cuaca/dan gemuruh karang//.
Kembali kita menemukan adanya paradoks situasional pada kedua bait tadi. Jika bait sebelumnya mewartakan semuanya baik-baik saja, lantaran tak ada tanda-tanda atau isyarat apapun: Tak terlihat tanda-tanda/tak tercium anyir nasib/ tak tercatat luka musim// maka bait berikutnya: Kecuali tangis ombak/ Pekik elang/ Yang jauh dan ngilu/di antara cuaca/dan gemuruh karang// justru sesungguhnya menyampaikan isyarat-isyarat. Ombak, elang, cuaca dan karang adalah warga laut yang sering kali dijadikan panduan bagi nelayan ketika (akan berangkat) berlayar. Lalu, mengapa pula tragedi itu masih terjadi juga? Itulah misteri laut. Maka penyebutan Tuhan di sana sebagai representasi dari rahasia Tuhan. Bukankah pengetahuan manusia tentang Tuhan bagai setitis air di samudera? Oleh karena itu, si bocah (atau penyair?) mengembalikan misteri laut itu pada Tuhan, sebagaimana dinyatakan pada bait berikutnya: Tuhan/Diakah kini yang telah menyerah?/telah kalah?/
Pada bagian ini, segera muncul pertanyaan: mengapa dia �menyerah�, �kalah� Meski bagi saya kata �menyerah� dan �kalah� kontradiksi dengan simbolisasi tempuling yang tersadai, pengulangan adverbia (kata keterangan) telah yang mengantarkan menyerah dan kalah (telah menyerah/telah kalah), punya makna lain yang berkaitan dengan pesan yang hendak disampaikan penyair. Bukankah penyair bisa saja menghilangkan adverbia (kata keterangan) itu, sehingga bunyinya lebih tegas dan padat: Diakah kini yang menyerah?/kalah?// Mengapa harus ada adverbia yang maknanya secara sintaksis tidak berbeda?
Di sinilah uniknya puisi! Selalu, setiap kata perlu dicurigai menyimpan pesan. Maka penghadiran adverbia -telah- yang mengantarkan menyerah dan kalah itu, boleh jadi dimaksudkan sebagai penegas, sebagai tanda seru, sebagai eksplisitasi, bahwa dia sudah benar-benar tumbang, menyerah pada keganasan alam, kalah oleh takdir yang sudah digariskan Tuhan. Perhatikan lagi pilihan penyair pada kata gigi dan tidak memakai kata gigir, pinggir, atau bibir. Tentu pilihan pada kata itu bukan perkara -meminjam pernyataan Sutardji Calzoum Bachri- salah ketik. Dengan begitu, penghadiran adverbia itu pun dilakukan dengan kesengajaan untuk menegaskan, bahwa dia telah sempurna pergi selama-lamanya. Dia tidak akan kembali lagi sebagai pahlawan yang membawa pulang ikan dengan tempuling masih dalam genggamannya. Kini tempuling telah tersadai dan dia sempurna tidak bakal kembali lagi. Dia pulang ditelan alam.
Oh, rupanya tanda-tanda tidak akan kembali itu sudah pula diisyaratkan sebelumnya. Ada semacam pesan terakhir atau wasiat. Pindahkan pancang/sebelum pasang// Apa pula maknanya pesan itu? Bagi saya, larik dengan persajakan yang indah itu, bukan sekadar permainan bunyi, tetapi juga menyimpan pesan filosofis yang seperti merepresentasikan karakteristik dunia Melayu. Seperti cogan: ��Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang,�� dua larik itu, Pindahkan pancang/sebelum pasang// juga dapat diperlakukan sebagai cogan, bahwa menghadapi segala apapun dalam kehidupan ini, diperlukan antisipasi, perencanaan, persiapan, kalkulasi dan perhitungan matang, sebelum segalanya terlambat, sebelum datang penyesalan.
Lalu, apa pula maknanya dalam konteks pesan puisi itu? Dia lirik (: para nelayan) rupanya punya kesadaran, bahwa laut, sumber penghidupan dan lapangan perjuangannya, bukanlah tempat yang ramah. Bahwa setiap keberangkatan pelayaran -menangkap ikan- selalu di belakangnya, tertinggal pertanyaan: akankah dia pulang membawa kemenangan atau seperti ditegaskan dua larik sebelumnya: menyerah/kalah! Dengan kesadaran itulah, setiap anggota keluarga nelayan, harus selalu siap menerima berita duka, melihat tempuling tersadai di gigi pantai.
***
Hatiku memang telah terusik
ketika sehelai waru
gugur
lesap
lewat tingkap
tersuruk
diantara tungku
menunggu gelap
Bait ini -dengan kemunculan aku lirik- seperti memberi jarak waktu antara peristiwa yang dihadapi si bocah ketika awal menerima berita kematian dan ketika teringat pada seseorang yang ditelan alam. Adanya keberjarakan antara aku lirik dan si bocah menunjukkan, bahwa penyair coba mempermainkan posisi pencerita. Si bocah berada pada posisi yang -terpaksa- harus menerima begitu saja pada sang nasib: kehilangan seseorang yang (mungkin) menjadi kebanggaan atau tonggak keluarga. Pilihan kata bocah dan tidak anak (kecil) atau anak-anak menunjukkan seseorang yang berada pada usia yang tidak perlu memikirkan apapun, kecuali bermain. Dan tiba-tiba, ia melihat tempuling, sebuah berita kematian! Maka, segalanya bagi si bocah seperti kiamat untuk sebagian hidupnya, kiamat pula bagi masa depannya.
Kini: Hatiku memang telah terusik// bagai kenangan masa itu yang datang lagi. Ia merasakannya seperti: daun waru yang jatuh, tersangkut di tingkap, lalu mengering dan jatuh lagi menunggu kembali menjadi tanah. Bait ini sungguh kuat menghadirkan citraan alam (daun) sebagai analogi sosok manusia yang tumbang, menunggu segalanya tumpas sempurna. Perhatikan juga pola persajakannya yang cantik dengan perhatian pada persamaan bunyi: waru-gugur, lesap-lewat-tingkap, tersuruk-tungku-menunggu, di antara-gelap. Penyair tampaknya sadar betul pada kekuatan persajakan, sebagaimana yang terdapat pada pantun atau syair. Tetapi, kekuatan persajakan tanpa metafora, tak cukup kuat mendukung pesan tematik. Di situlah kesadaran penyair membangun citraan alam berhasil menghidupkan saklar asosiasi kita untuk membayangkan daun jatuh sebagai analogi kematian seseorang.
***
Berbeda dengan kisah bocah yang terdapat pada bait-bait awal, kini si bocah (masa lalu) itu, berada dalam ingatan aku lirik. Ada semacam garis kenangan yang menghubungkan peristiwa dulu yang dialami si bocah dengan aku lirik yang masih menyimpan peristiwa itu sebagai catatan perjalanan hidupnya yang tidak mudah punah. Maka, yang diingatnya dulu, bukan hanya si bocah yang menangis, melainkan juga alam raya yang ikut merasakan kedukaan itu. Sebuah tragedi individual yang sebenarnya berlaku bagi masyarakat nelayan, bahkan juga universal. Bukankah siapa pun akan mengalami kedukaan yang dahsyat ketika seseorang yang menjadi tonggak keluarga, tiba-tiba harus pergi selamanya. Dan lebih tragis lagi ketika jasadnya tidak diketahui entah berada di mana.
Sebatang tempuling tersadai
digigi pantai
sehabis badai
Seorang bocah merasakan
pelupuk raya
telah basah
Kini segalanya sudah terjadi. Biarlah peristiwa itu tetap sebagai kenangan masa lalu, meski selalu dan selalu ia hadir kembali. Jadi, tidak perlu pula memelihara penyesalan. Jika pun masih tersisa harapan, cukup satu saja: jasadnya ditemukan, sehingga sang mendiang dapat dikuburkan sebagai tanda, telah berpulang nelayan sejati! Dan tempuling akan menjadi saksi bicara tentang totalitas hidup di tengah laut, tentang kepahlawanan seorang nelayan!
Perhatikan larik-larik di bawah ini:
Tuhan
Bawalah seorang
menemukannya
menguburkannya diantara
pantai
memberikannya satu tanda
dan jangan biarkan arus
membawanya jauh ke
lubuk dalam
yang akupun tak tahu
dimana akan kutuliskan
rinduku.
Bait akhir ini makin memperjelas hubungan si bocah dengan aku lirik. Di situ, melalui siasat penyair mempermainkan posisi pencerita, kita (: pembaca) dibawa pada sebuah pesan, bahwa si bocah masa lalu, kini menjelma menjadi aku lirik. Meski tak selalu identik aku lirik dengan penyair, setidak-tidaknya, penyair Rida K Liamsi ini, punya sejarah masa lalu yang berkaitan dengan tempuling: simbol kepahlawanan seorang nelayan. Jika pada tiga larik terakhir tertulis: yang aku pun tak tahu/di mana akan kutuliskan/rinduku// boleh jadi, puisi ini merupakan representasi gebalau perasaannya yang tak mudah luput dari rindu pada masa lalu. Dan puisi ��Tempuling�� telah memancarkan mukjizatnya!
***
Tafsir puisi ��Tempuling�� ini, boleh jadi di sana-sini terjadi semacam intentional fallacy. Meski begitu, hal tersebut tetap sah sejauh ada argumen yang melandasinya. Di situlah sesungguhnya mukjizat puisi yang sebaik-baik dan sebenar-benarnya puisi. Ia menyimpan begitu banyak misteri yang selalu membawa pembaca pada kisah besar di luar teks. Puisi ��Tempuling�� adalah kisah kepahlawanan nelayan dan Rida K Liamsi telah merefleksikannya dalam larik-larik pendek, kemas, padat, dengan permainan persajakan dan metafora yang cerdas, dengan kualitas diksi yang tak basi.
��Tempuling�� sebagai pengalaman individual penyair, telah menjelma menjadi kisah besar tentang kepahlawanan nelayan sejati. Maka, puisi ��Tempuling�� makin meneguhkan keyakinan saya, bahwa penyair (: sastrawan) adalah juru bicara kebudayaan yang melahirkan dan membesarkannya. Semoga begitu! n
Seoul, 17 September 2012
Maman S Mahayana, Dosen Tamu Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea. Ia juga dikenal sebagai kritikus Sastra Indonesia.
Sumber: Riau Pos, Minggu, 30 September 2012
Menikmati Puisi, Menafsiri Tempuling (1)
MAMAN S MAHAYANA
PUISI ibarat sebentuk makhluk ajaib yang bisa melar dan mengkerut, ketika ia memasuki medan tafsir. Begitu elastis dan kenyal. Ketika melar, teks puisi yang ringkas padat, bisa dikaitkan ke mana-mana; asosiasi pembaca diajak merayap dan menjalar menelusuri kata lain dengan pemaknaannya yang selalu diperbaharui. Tafsir baru bisa menghasilkan makna baru. Begitu seterusnya. Di pihak lain, teks puisi bisa mengkerut menjadi sesuatu yang kenyal-padat, bahkan juga mengkristal ketika kata tertentu laksana mewakili makna tertentu yang di belakangnya ada serangkaian peristiwa yang disembunyikan.
Tidak jarang pula, puisi membuat pembacanya pusing tujuh keliling manakala ia gagal memahami teks puisi. Puisi-puisi yang memamerkan logika jungkir balik adalah satu contoh. Ada pula penyair yang sengaja menyelimuti pesannya dalam lemari besi, sehingga maknanya hanya dapat diketahui oleh Tuhan dan diri penyairnya sendiri. Meski begitu, pembaca toh tetap saja seolah-olah merasa memperoleh kenikmatan ketika rasa estetik tersentuh (aesthetic contact).
Di belahan yang lain, puisi menjadi sesuatu yang seolah-olah mewakili perasaan banyak orang, ketika ada deretan kata atau larik-larik dalam puisi dianggap dapat menyalurkan suara hati atau ekspresi yang pas-tepat. Beberapa larik dalam puisi Chairil Anwar, seperti aku mau hidup seribu tahun lagi, sekali berarti setelah itu mati, atau cintaku jauh di pulau, misalnya, kini menjadi begitu popular di kalangan masyarakat. Belakangan ini juga, kalangan remaja dan anak-anak muda, tak ragu-ragu lagi melontarkan ungkapan: aku ingin mencintaimu dengan sederhana... yang dikutip dari puisi Sapardi Djoko Damono.
Tentu saja kita masih dapat menderetkan ungkapan lain dari puisi lain karya para penyair kita yang lain. Hakikatnya sama: selalu ada misteri di balik deretan kata dalam puisi.
***
Entah kapan saya pertama kali membacai puisi ‘’Tempuling’’ karya Rida K Liamsi. Tetapi, seperti yang hampir selalu terjadi pada puisi yang sebenar-benarnya puisi, kerap kali ada semacam panggilan untuk membaca dan membacainya kembali. Dan selalu lagi, ada sesuatu yang entah, sebuah misteri yang aneh, muncul dan memanggil asosiasi kita untuk masuk dan menukik lebih dalam. Selepas itu, realitas sosial selalu menjadi pengganggu dan panggilan itu pun melayang-layang saja; bergentayangan atau terkadang muncul tiba-tiba, lalu terbang lagi lantaran perkara-perkara lain memaksa menyimpannya dahulu dalam folder memori. Lalu, makhluk puisi yang berjudul ‘’Tempuling’’ itupun, seperti lesap begitu saja lantaran tangan mengklik file lain dari folder yang lain. Sebagaimana yang sering kali terjadi dalam perkenalan dengan para penulis, di dalamnya tentu saja termasuk penyair, karya itu, puisi itu yang mengantarkan saya mengenal penyairnya. Begitulah perkenalan saya dengan penyair Rida K Liamsi.
Dalam deretan penyair Indonesia, kemunculan Rida K Liamsi beriringan dengan terjadinya kemeriahan kesusastraan Indonesia ketika itu. Karya sulungnya, ‘’Ode X’’ (1971) adalah kiprah awalnya sebagai penyair di antara nama-nama penting seperti -sekadar menyebut beberapa -Idrus Tintin, Ibrahim Sattah, Ediruslan Pe Amanriza atau Sutardji Calzoum Bachri. Lalu, ketika peta kepenyairan di Pekanbaru makin semarak lewat pelibatan Taufik Ikram Jamil, Kazzaini KS, Fakhrunnas MA Jabbar, Machzumi Dawood atau Dasri al Mubary, kiprah kepenyairan Rida K Liamsi seperti surut ke belakang lantaran kesibukannya sebagai wartawan. Lalu, cukup lama namanya senyap.
Tiba-tiba, tahun 2006, Rida K Liamsi tampil di Taman Ismail Marzuki dalam pentas tunggal sejumlah puisinya. Beberapa puisi yang dibacakannya, terhimpun pula dalam antologi puisi Tempuling (2002). Itulah kali pertama saya mendengar kata tempuling, sebuah kata yang terkesan kampungan, yang mengingatkan pada makanan tradisional, dadar guling. Tempuling, makhluk apakah gerangan?
Meski terlalu banyak kosa-kata Melayu yang tak tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, untunglah kata tempuling tak diluputkan. Disebutkan di sana, tempuling adalah tombak pendek untuk menangkap ikan besar; menempulingi bermakna menangkap ikan dengan tempuling (hlm. 1169). Keterangan itu pula yang saya sampaikan ketika cerpenis gaek Hamsad Rangkuti- yang menjadi juri lomba baca puisi karya Rida K Liamsi di Taman Mini Indonesia Indah, 28 Agustus 2008 -bertanya tentang makna kata tempuling.
Secara harfiah, ada pemahaman tentang kata itu. Tetapi secara filosofi, maknanya masih kerap bergentayangan, mengganggu pikiran, menggelisahkan batin. Penelusuran pada makna filosofis itu laksana memanggil-manggil, menjadi semacam gugatan alam bawah sadar. Persahabatan dengan sejumlah sastrawan dan budayawan Melayu, membuka jalan bagi pemahaman yang lebih luas dan menukik tentang makna kata itu. Tetapi, kembali, makhluk puisi yang bertajuk ‘’Tempuling’’ itu laksana melekat tak hendak lepas, meski pandangan tentang dunia Melayu, bagi saya seolah-olah begitu dekat, dan sekaligus terasa berada nun jauh di sana; di sebuah dunia yang begitu akrab dan entah mengapa, senantiasa asing.
Tarik-menarik antara perasaan akrab dan seolah-olah begitu dekat dengan dunia Melayu seketika itu juga memberi penyadaran, bahwa sesungguhnya saya masih mualaf tentang dunia Melayu. Ada banyak kisah yang tetap berada nun jauh di sana. Lalu, situasi itu seperti memperoleh pembenaran ketika saya menikmati novel Rida K Liamsi, yang berjudul Bulang Cahaya (2007), sebuah novel dramatik yang memberi kisah lain lagi tentang dunia Melayu. Sebuah kisah cinta yang unik, memukau, dan sangat Melayu. Percintaan Raja Djaafar dan Tengku Buntat dalam Bulang Cahaya, tidak diselesaikan dengan kematian, melainkan berakhir pada peristiwa sejarah yang menandai terbelahnya kerajaan Melayu sebagai dampak Traktat London, 1824. Di sana, dalam novel itu, kekuasaan yang direpresentasikan atas nama Raja dan penguasa, reputasi dan keagungan puak, kekayaan dan martabat keluarga, ternyata tidak dapat begitu saja berhasil membenamkan perasaan cinta ketika cinta itu sendiri menyatu dengan ruh dan hanya kematian yang dapat memisahkannya.
Kembali, makhluk ajaib yang bernama puisi bertajuk ‘’Tempuling’’ itu seperti di-cancel lantaran tangan mengklik file lain.
***
Pada akhir Agustus 2009, saya mendapat tugas mengajar di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea. Saya menyadari, di sana, sumber kesusastraan Indonesia amat sangat terlalu sedikit. Maka, sebagian besar barang yang saya bawa ke Seoul, tidak lain adalah setumpuk buku. Sebuah (antologi) puisi berjudul Tempuling, terselip di dalamnya. Lalu, selepas berulang kali berjumpa dengan penyairnya dan saya berkesempatan membongkar-bongkar file lama tentang puisi ajaib yang misterius itu, kinilah saatnya saya merasa tak terganggu lagi untuk coba memeriksanya lebih lanjut. Mari kita mulai!
***
Tempuling
Sebatang tempuling tersadai di gigi pantai
sehabis badai
Seorang bocah menemukannya
sehabis sekolah
: Tuhan
Siapa lagi yang kini telah
menyerah?
Tak terlihat tanda-tanda
Tak tercium anyir nasib
Tak tercatat luka musim
Kecuali tangis ombak
Pekik elang
Yang jauh dan ngilu
Diantara cuaca
Dan gemuruh karang
Sebatang tempuling tersadai
di gigi pantai
sehabis badai
Seorang bocah menatapnya
penuh gelisah
: Tuhan
Diakah kini yang telah
menyerah?
telah kalah?
: Tuhan
Dia memang telah berbisik
Pindahkan pancang
sebelum pasang
Hatiku memang telah terusik
ketika sehelai waru
gugur
lesap
lewat tingkap
tersuruk
diantara tungku
menunggu gelap
Sebatang tempuling tersadai
digigi pantai
sehabis badai
Seorang bocah merasakan
pelupuk raya
telah basah
: Tuhan
Bawalah seorang
menemukannya
menguburkannya diantara
pantai
memberikannya satu tanda
dan jangan biarkan arus
membawanya jauh ke
lubuk dalam
yang akupun tak tahu
dimana akan kutuliskan
rinduku.
Dari persajakannya, puisi ini dimulai dengan permainan rima dalam larik: Sebatang tempuling tersadai di gigi pantai/sehabis badai// Di sini, kita menemukan persamaan bunyi yang mengesankan sesuatu telah sampai dan terkulai: tersadai/pantai/badai. Ada metafora kekalahan dan keberakhiran. Tetapi, ada pertanyaan lain yang segera muncul: mengapa tempuling itu tersadai dan tidak terkulai atau tergeletak tak berdaya, mengapa pula penyair memakai kata gigi, dan tidak gigir atau pinggir atau pasir yang secara semantik lebih tepat mewakili makna referensialnya. Mengapa pula tidak memakai bibir pantai yang sudah sangat lazim bertebaran dalam banyak puisi para penyair kita?
Tergeletak mengisyaratkan sesuatu yang tercampakkan dalam kondisi pasif, seperti tanpa perlawanan; dan terkulai mengisyaratkan pudarnya semangat, kalah, dan pasrah menunggu akhir, menanti segalanya selesai sudah. Ini berbeda dengan sesuatu yang tersadai. Ia tidak dalam keadaan terbaring atau terlentang. Tersadai menunjukkan sesuatu itu tidak tergeletak, tidak tercampakkan begitu saja, juga tidak dalam keadaan terbaring atau terlentang sempurna. Ia tidak pasif, lantaran ada kesan hendak berdiri lagi, atau setidak-tidaknya, ada bagian lain yang (sedikit) berdiri. Di sini, ada nuansa makna (sedikit) tegak. Jadi, tempuling yang tersadai itu seperti masih menyimpan spirit, semangat perlawanan, kalah sesaat untuk tegak berdiri, menentang sampai menang. Dengan begitu, tempuling -tombak pendek- itu masih mungkin digunakan lagi (untuk menangkap ikan besar).
Tempuling, bagi nelayan (Melayu) dalam konteks menangkap ikan adalah simbol heroisme, setara badik (Bugis), clurit (Madura), rencong (Aceh) atau mandau (Dayak). Heroisme bagi nelayan adalah perjuangannya menangkap ikan. Seorang nelayan bisa saja memakai jala atau pancing, tetapi kedua benda penangkap ikan itu tidak mengisyaratkan sebuah perlawanan dari sang ikan. Pancing, masih mungkin. Tetapi, perlawanan ikan hanya sebatas perjuangan melepaskan diri dari sangkutan kail. Si pemancing tetap berada jauh dengan ikan. Tempuling, tidak hanya memaksa si nelayan menancapkan tombaknya pada ikan, baik dalam jarak dekat, maupun jauh, tetapi juga sebuah perjuangan mengikuti laju ikan berenang, kegesitan ikan menghindar, bahkan juga melakukan perlawanan langsung dengan si nelayan. Menancapkan tempuling pada ikan, juga memerlukan keahlian, keterampilan, dan ketepatan. Si nelayan harus memahami gerak dan kualitas ombak, juga harus mengetahui karakteristik ikan ketika sedang berselancar di permukaan atau arus bawah laut. Jadi, tempuling bukan sekadar tombak penangkap ikan. Di belakangnya ada kisah tentang kepiawaian si nelayan. Dengan demikian, tempuling laksana simbol bagi para nelayan yang sudah sangat berpengalaman. Senjata itu akan mengantarkannya jadi nelayan sejati: jawara!
Ingat saja, bagaimana nelayan tua -dalam novel Lelaki Tua dan Laut -Ernst Hemingway, coba menunjukkan jati dirinya sebagai nelayan sejati dengan perjuangannya menangkap hiu raksasa. Bagi nelayan tua itu, usia dan kerapuhan boleh saja menggerogoti fisiknya. Tetapi, semangat pantang menyerah sebagai nelayan sejati, tidak dapat menguap begitu saja. Maka, dengan segala upaya, siang-malam dia coba menundukkan hiu raksasa, dan berhasil. Nelayan tua itu lalu membawanya pulang. Ia telah menunjukkan kualitasnya sebagai nelayan sejati, sebagai jawara. Meski hiu raksasa yang dibawanya itu sudah tidak utuh lagi, masyarakat tetap menempatkan si nelayan tua itu sebagai pahlawan. Jadi, profesi nelayan pada hakikatnya tidak berbeda dengan profesi lain. Apresiasi masyarakat akan datang dengan sendirinya ketika seseorang menunjukkan prestasi atas profesinya itu.
Begitulah, prestasi bagi nelayan adalah keberhasilannya membawa pulang ikan. Di balik itu, dalam proses menangkap ikan itu, ada kisah besar tentang penguasaan laut, keterampilan berenang dan menyelam, dan pengetahuannya tentang gerakan ombak dan badai. Dengan begitu, dua larik awal: sebatang tempuling tersadai di gigi pantai/sehabisbadai// mengisyaratkan sebuah kisah besar tentang seorang nelayan yang kalah bukan oleh ikan, melainkan oleh kedahsyatan alam (badai). Tempuling menjadi isyarat, menjadi sebuah pewartaan tentang kesyahidan seorang nelayan. Ia mati syahid. Alam telah mengalahkannya. Tetapi, tempuling, simbol heroismenya, yang tersadai di gigi pantai bertindak menjadi pewarta kesyahidannya. Oleh karena itu, tempuling yang tersadai itu boleh jadi kelak akan digunakan lagi oleh generasi nelayan berikutnya. Jika pun tidak, tempuling itu tetap saja sebagai benda bersejarah bagi si nelayan. Maka, keluarga si nelayan dan masyarakatnya akan menempatkan tempuling yang tersadai itu sebagai benda peninggalan yang di belakangnya ada kisah perjuangan, ada heroisme, dan ada cerita tentang seseorang yang mati syahid!
Mengapa penyair menggunakan kata gigi dan bukan gigir atau pinggir atau pasir, atau bahkan bibir? Tentu pilihan kata gigi, sudah diperhitungkan betul. Di sinilah tugas pembaca menemukan makna di balik segala pilihan diksi yang digunakan penyair. Kata gigir, pinggir, apalagi pasir dan bibir adalah kata yang terlalu biasa, klise. Periksa saja sejumlah besar puisi penyair kita yang bercerita tentang pantai dan laut, kata-kata itu, terutama pasir dan bibir (pantai), seperti sudah menjadi metafora yang basi. Maka, Rida K Liamsi, boleh jadi sengaja memakai kata gigi untuk mencampakkan metafora yang basi itu.
Selain itu, perkaranya bukan cuma berhenti di situ. Pilihan kata gigi, punya pesan lain yang lebih filosofis. Secara tekstual, ada makna metaforis di dalamnya. Meski secara semantik, pemakaian kata gigi untuk pantai, tak lazim, penyair diizinkan memanfaatkan hak licentia poetica. Pilihan kata gigi dengan analogi mulut, secara metaforis mengisyaratkan sebuah mulut maha luas yang bernama laut. Jadi, laut adalah mulut alam yang maha luas, dan pinggiran pantai sebagai gigi yang bisa tak menyisakan apa-apa, atau bisa juga menyelipkan sisa makanan di antara deretan gigi. Tempuling yang tersadai adalah ‘serpih’ yang tersisa di antara deretan gigi itu. Dengan begitu, tempuling yang tersadai di gigi pantai mengesankan semacam sisa atau serpih muntahan mulut alam yang bernama laut.
Dalam dua larik awal itu, penyair tampak sengaja menggunakan tipografi seperti di bawah ini. Tentu itu juga bukan tanpa alasan.
Sebatang tempuling tersadai di gigi pantai
sehabis badai
Pola tipografi yang tidak rata kiri itu, seperti hendak menunjukkan, bahwa sebelum keterangan sehabis badai, ada kisah lain yang dahsyat, yaitu tentang seorang nelayan yang berjuang menyelamatkan diri dari keganasan ombak-badai -mulut alam- yang bernama laut.(bersambung)
Seoul, 17 September 2012
Maman S Mahayana, Dosen Tamu Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea. Ia juga dikenal sebagai kritikus Sastra Indonesia.
Sumber: Riau Pos, Minggu, 23 September 2012
PUISI ibarat sebentuk makhluk ajaib yang bisa melar dan mengkerut, ketika ia memasuki medan tafsir. Begitu elastis dan kenyal. Ketika melar, teks puisi yang ringkas padat, bisa dikaitkan ke mana-mana; asosiasi pembaca diajak merayap dan menjalar menelusuri kata lain dengan pemaknaannya yang selalu diperbaharui. Tafsir baru bisa menghasilkan makna baru. Begitu seterusnya. Di pihak lain, teks puisi bisa mengkerut menjadi sesuatu yang kenyal-padat, bahkan juga mengkristal ketika kata tertentu laksana mewakili makna tertentu yang di belakangnya ada serangkaian peristiwa yang disembunyikan.
Tidak jarang pula, puisi membuat pembacanya pusing tujuh keliling manakala ia gagal memahami teks puisi. Puisi-puisi yang memamerkan logika jungkir balik adalah satu contoh. Ada pula penyair yang sengaja menyelimuti pesannya dalam lemari besi, sehingga maknanya hanya dapat diketahui oleh Tuhan dan diri penyairnya sendiri. Meski begitu, pembaca toh tetap saja seolah-olah merasa memperoleh kenikmatan ketika rasa estetik tersentuh (aesthetic contact).
Di belahan yang lain, puisi menjadi sesuatu yang seolah-olah mewakili perasaan banyak orang, ketika ada deretan kata atau larik-larik dalam puisi dianggap dapat menyalurkan suara hati atau ekspresi yang pas-tepat. Beberapa larik dalam puisi Chairil Anwar, seperti aku mau hidup seribu tahun lagi, sekali berarti setelah itu mati, atau cintaku jauh di pulau, misalnya, kini menjadi begitu popular di kalangan masyarakat. Belakangan ini juga, kalangan remaja dan anak-anak muda, tak ragu-ragu lagi melontarkan ungkapan: aku ingin mencintaimu dengan sederhana... yang dikutip dari puisi Sapardi Djoko Damono.
Tentu saja kita masih dapat menderetkan ungkapan lain dari puisi lain karya para penyair kita yang lain. Hakikatnya sama: selalu ada misteri di balik deretan kata dalam puisi.
***
Entah kapan saya pertama kali membacai puisi ‘’Tempuling’’ karya Rida K Liamsi. Tetapi, seperti yang hampir selalu terjadi pada puisi yang sebenar-benarnya puisi, kerap kali ada semacam panggilan untuk membaca dan membacainya kembali. Dan selalu lagi, ada sesuatu yang entah, sebuah misteri yang aneh, muncul dan memanggil asosiasi kita untuk masuk dan menukik lebih dalam. Selepas itu, realitas sosial selalu menjadi pengganggu dan panggilan itu pun melayang-layang saja; bergentayangan atau terkadang muncul tiba-tiba, lalu terbang lagi lantaran perkara-perkara lain memaksa menyimpannya dahulu dalam folder memori. Lalu, makhluk puisi yang berjudul ‘’Tempuling’’ itupun, seperti lesap begitu saja lantaran tangan mengklik file lain dari folder yang lain. Sebagaimana yang sering kali terjadi dalam perkenalan dengan para penulis, di dalamnya tentu saja termasuk penyair, karya itu, puisi itu yang mengantarkan saya mengenal penyairnya. Begitulah perkenalan saya dengan penyair Rida K Liamsi.
Dalam deretan penyair Indonesia, kemunculan Rida K Liamsi beriringan dengan terjadinya kemeriahan kesusastraan Indonesia ketika itu. Karya sulungnya, ‘’Ode X’’ (1971) adalah kiprah awalnya sebagai penyair di antara nama-nama penting seperti -sekadar menyebut beberapa -Idrus Tintin, Ibrahim Sattah, Ediruslan Pe Amanriza atau Sutardji Calzoum Bachri. Lalu, ketika peta kepenyairan di Pekanbaru makin semarak lewat pelibatan Taufik Ikram Jamil, Kazzaini KS, Fakhrunnas MA Jabbar, Machzumi Dawood atau Dasri al Mubary, kiprah kepenyairan Rida K Liamsi seperti surut ke belakang lantaran kesibukannya sebagai wartawan. Lalu, cukup lama namanya senyap.
Tiba-tiba, tahun 2006, Rida K Liamsi tampil di Taman Ismail Marzuki dalam pentas tunggal sejumlah puisinya. Beberapa puisi yang dibacakannya, terhimpun pula dalam antologi puisi Tempuling (2002). Itulah kali pertama saya mendengar kata tempuling, sebuah kata yang terkesan kampungan, yang mengingatkan pada makanan tradisional, dadar guling. Tempuling, makhluk apakah gerangan?
Meski terlalu banyak kosa-kata Melayu yang tak tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, untunglah kata tempuling tak diluputkan. Disebutkan di sana, tempuling adalah tombak pendek untuk menangkap ikan besar; menempulingi bermakna menangkap ikan dengan tempuling (hlm. 1169). Keterangan itu pula yang saya sampaikan ketika cerpenis gaek Hamsad Rangkuti- yang menjadi juri lomba baca puisi karya Rida K Liamsi di Taman Mini Indonesia Indah, 28 Agustus 2008 -bertanya tentang makna kata tempuling.
Secara harfiah, ada pemahaman tentang kata itu. Tetapi secara filosofi, maknanya masih kerap bergentayangan, mengganggu pikiran, menggelisahkan batin. Penelusuran pada makna filosofis itu laksana memanggil-manggil, menjadi semacam gugatan alam bawah sadar. Persahabatan dengan sejumlah sastrawan dan budayawan Melayu, membuka jalan bagi pemahaman yang lebih luas dan menukik tentang makna kata itu. Tetapi, kembali, makhluk puisi yang bertajuk ‘’Tempuling’’ itu laksana melekat tak hendak lepas, meski pandangan tentang dunia Melayu, bagi saya seolah-olah begitu dekat, dan sekaligus terasa berada nun jauh di sana; di sebuah dunia yang begitu akrab dan entah mengapa, senantiasa asing.
Tarik-menarik antara perasaan akrab dan seolah-olah begitu dekat dengan dunia Melayu seketika itu juga memberi penyadaran, bahwa sesungguhnya saya masih mualaf tentang dunia Melayu. Ada banyak kisah yang tetap berada nun jauh di sana. Lalu, situasi itu seperti memperoleh pembenaran ketika saya menikmati novel Rida K Liamsi, yang berjudul Bulang Cahaya (2007), sebuah novel dramatik yang memberi kisah lain lagi tentang dunia Melayu. Sebuah kisah cinta yang unik, memukau, dan sangat Melayu. Percintaan Raja Djaafar dan Tengku Buntat dalam Bulang Cahaya, tidak diselesaikan dengan kematian, melainkan berakhir pada peristiwa sejarah yang menandai terbelahnya kerajaan Melayu sebagai dampak Traktat London, 1824. Di sana, dalam novel itu, kekuasaan yang direpresentasikan atas nama Raja dan penguasa, reputasi dan keagungan puak, kekayaan dan martabat keluarga, ternyata tidak dapat begitu saja berhasil membenamkan perasaan cinta ketika cinta itu sendiri menyatu dengan ruh dan hanya kematian yang dapat memisahkannya.
Kembali, makhluk ajaib yang bernama puisi bertajuk ‘’Tempuling’’ itu seperti di-cancel lantaran tangan mengklik file lain.
***
Pada akhir Agustus 2009, saya mendapat tugas mengajar di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea. Saya menyadari, di sana, sumber kesusastraan Indonesia amat sangat terlalu sedikit. Maka, sebagian besar barang yang saya bawa ke Seoul, tidak lain adalah setumpuk buku. Sebuah (antologi) puisi berjudul Tempuling, terselip di dalamnya. Lalu, selepas berulang kali berjumpa dengan penyairnya dan saya berkesempatan membongkar-bongkar file lama tentang puisi ajaib yang misterius itu, kinilah saatnya saya merasa tak terganggu lagi untuk coba memeriksanya lebih lanjut. Mari kita mulai!
***
Tempuling
Sebatang tempuling tersadai di gigi pantai
sehabis badai
Seorang bocah menemukannya
sehabis sekolah
: Tuhan
Siapa lagi yang kini telah
menyerah?
Tak terlihat tanda-tanda
Tak tercium anyir nasib
Tak tercatat luka musim
Kecuali tangis ombak
Pekik elang
Yang jauh dan ngilu
Diantara cuaca
Dan gemuruh karang
Sebatang tempuling tersadai
di gigi pantai
sehabis badai
Seorang bocah menatapnya
penuh gelisah
: Tuhan
Diakah kini yang telah
menyerah?
telah kalah?
: Tuhan
Dia memang telah berbisik
Pindahkan pancang
sebelum pasang
Hatiku memang telah terusik
ketika sehelai waru
gugur
lesap
lewat tingkap
tersuruk
diantara tungku
menunggu gelap
Sebatang tempuling tersadai
digigi pantai
sehabis badai
Seorang bocah merasakan
pelupuk raya
telah basah
: Tuhan
Bawalah seorang
menemukannya
menguburkannya diantara
pantai
memberikannya satu tanda
dan jangan biarkan arus
membawanya jauh ke
lubuk dalam
yang akupun tak tahu
dimana akan kutuliskan
rinduku.
Dari persajakannya, puisi ini dimulai dengan permainan rima dalam larik: Sebatang tempuling tersadai di gigi pantai/sehabis badai// Di sini, kita menemukan persamaan bunyi yang mengesankan sesuatu telah sampai dan terkulai: tersadai/pantai/badai. Ada metafora kekalahan dan keberakhiran. Tetapi, ada pertanyaan lain yang segera muncul: mengapa tempuling itu tersadai dan tidak terkulai atau tergeletak tak berdaya, mengapa pula penyair memakai kata gigi, dan tidak gigir atau pinggir atau pasir yang secara semantik lebih tepat mewakili makna referensialnya. Mengapa pula tidak memakai bibir pantai yang sudah sangat lazim bertebaran dalam banyak puisi para penyair kita?
Tergeletak mengisyaratkan sesuatu yang tercampakkan dalam kondisi pasif, seperti tanpa perlawanan; dan terkulai mengisyaratkan pudarnya semangat, kalah, dan pasrah menunggu akhir, menanti segalanya selesai sudah. Ini berbeda dengan sesuatu yang tersadai. Ia tidak dalam keadaan terbaring atau terlentang. Tersadai menunjukkan sesuatu itu tidak tergeletak, tidak tercampakkan begitu saja, juga tidak dalam keadaan terbaring atau terlentang sempurna. Ia tidak pasif, lantaran ada kesan hendak berdiri lagi, atau setidak-tidaknya, ada bagian lain yang (sedikit) berdiri. Di sini, ada nuansa makna (sedikit) tegak. Jadi, tempuling yang tersadai itu seperti masih menyimpan spirit, semangat perlawanan, kalah sesaat untuk tegak berdiri, menentang sampai menang. Dengan begitu, tempuling -tombak pendek- itu masih mungkin digunakan lagi (untuk menangkap ikan besar).
Tempuling, bagi nelayan (Melayu) dalam konteks menangkap ikan adalah simbol heroisme, setara badik (Bugis), clurit (Madura), rencong (Aceh) atau mandau (Dayak). Heroisme bagi nelayan adalah perjuangannya menangkap ikan. Seorang nelayan bisa saja memakai jala atau pancing, tetapi kedua benda penangkap ikan itu tidak mengisyaratkan sebuah perlawanan dari sang ikan. Pancing, masih mungkin. Tetapi, perlawanan ikan hanya sebatas perjuangan melepaskan diri dari sangkutan kail. Si pemancing tetap berada jauh dengan ikan. Tempuling, tidak hanya memaksa si nelayan menancapkan tombaknya pada ikan, baik dalam jarak dekat, maupun jauh, tetapi juga sebuah perjuangan mengikuti laju ikan berenang, kegesitan ikan menghindar, bahkan juga melakukan perlawanan langsung dengan si nelayan. Menancapkan tempuling pada ikan, juga memerlukan keahlian, keterampilan, dan ketepatan. Si nelayan harus memahami gerak dan kualitas ombak, juga harus mengetahui karakteristik ikan ketika sedang berselancar di permukaan atau arus bawah laut. Jadi, tempuling bukan sekadar tombak penangkap ikan. Di belakangnya ada kisah tentang kepiawaian si nelayan. Dengan demikian, tempuling laksana simbol bagi para nelayan yang sudah sangat berpengalaman. Senjata itu akan mengantarkannya jadi nelayan sejati: jawara!
Ingat saja, bagaimana nelayan tua -dalam novel Lelaki Tua dan Laut -Ernst Hemingway, coba menunjukkan jati dirinya sebagai nelayan sejati dengan perjuangannya menangkap hiu raksasa. Bagi nelayan tua itu, usia dan kerapuhan boleh saja menggerogoti fisiknya. Tetapi, semangat pantang menyerah sebagai nelayan sejati, tidak dapat menguap begitu saja. Maka, dengan segala upaya, siang-malam dia coba menundukkan hiu raksasa, dan berhasil. Nelayan tua itu lalu membawanya pulang. Ia telah menunjukkan kualitasnya sebagai nelayan sejati, sebagai jawara. Meski hiu raksasa yang dibawanya itu sudah tidak utuh lagi, masyarakat tetap menempatkan si nelayan tua itu sebagai pahlawan. Jadi, profesi nelayan pada hakikatnya tidak berbeda dengan profesi lain. Apresiasi masyarakat akan datang dengan sendirinya ketika seseorang menunjukkan prestasi atas profesinya itu.
Begitulah, prestasi bagi nelayan adalah keberhasilannya membawa pulang ikan. Di balik itu, dalam proses menangkap ikan itu, ada kisah besar tentang penguasaan laut, keterampilan berenang dan menyelam, dan pengetahuannya tentang gerakan ombak dan badai. Dengan begitu, dua larik awal: sebatang tempuling tersadai di gigi pantai/sehabisbadai// mengisyaratkan sebuah kisah besar tentang seorang nelayan yang kalah bukan oleh ikan, melainkan oleh kedahsyatan alam (badai). Tempuling menjadi isyarat, menjadi sebuah pewartaan tentang kesyahidan seorang nelayan. Ia mati syahid. Alam telah mengalahkannya. Tetapi, tempuling, simbol heroismenya, yang tersadai di gigi pantai bertindak menjadi pewarta kesyahidannya. Oleh karena itu, tempuling yang tersadai itu boleh jadi kelak akan digunakan lagi oleh generasi nelayan berikutnya. Jika pun tidak, tempuling itu tetap saja sebagai benda bersejarah bagi si nelayan. Maka, keluarga si nelayan dan masyarakatnya akan menempatkan tempuling yang tersadai itu sebagai benda peninggalan yang di belakangnya ada kisah perjuangan, ada heroisme, dan ada cerita tentang seseorang yang mati syahid!
Mengapa penyair menggunakan kata gigi dan bukan gigir atau pinggir atau pasir, atau bahkan bibir? Tentu pilihan kata gigi, sudah diperhitungkan betul. Di sinilah tugas pembaca menemukan makna di balik segala pilihan diksi yang digunakan penyair. Kata gigir, pinggir, apalagi pasir dan bibir adalah kata yang terlalu biasa, klise. Periksa saja sejumlah besar puisi penyair kita yang bercerita tentang pantai dan laut, kata-kata itu, terutama pasir dan bibir (pantai), seperti sudah menjadi metafora yang basi. Maka, Rida K Liamsi, boleh jadi sengaja memakai kata gigi untuk mencampakkan metafora yang basi itu.
Selain itu, perkaranya bukan cuma berhenti di situ. Pilihan kata gigi, punya pesan lain yang lebih filosofis. Secara tekstual, ada makna metaforis di dalamnya. Meski secara semantik, pemakaian kata gigi untuk pantai, tak lazim, penyair diizinkan memanfaatkan hak licentia poetica. Pilihan kata gigi dengan analogi mulut, secara metaforis mengisyaratkan sebuah mulut maha luas yang bernama laut. Jadi, laut adalah mulut alam yang maha luas, dan pinggiran pantai sebagai gigi yang bisa tak menyisakan apa-apa, atau bisa juga menyelipkan sisa makanan di antara deretan gigi. Tempuling yang tersadai adalah ‘serpih’ yang tersisa di antara deretan gigi itu. Dengan begitu, tempuling yang tersadai di gigi pantai mengesankan semacam sisa atau serpih muntahan mulut alam yang bernama laut.
Dalam dua larik awal itu, penyair tampak sengaja menggunakan tipografi seperti di bawah ini. Tentu itu juga bukan tanpa alasan.
Sebatang tempuling tersadai di gigi pantai
sehabis badai
Pola tipografi yang tidak rata kiri itu, seperti hendak menunjukkan, bahwa sebelum keterangan sehabis badai, ada kisah lain yang dahsyat, yaitu tentang seorang nelayan yang berjuang menyelamatkan diri dari keganasan ombak-badai -mulut alam- yang bernama laut.(bersambung)
Seoul, 17 September 2012
Maman S Mahayana, Dosen Tamu Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea. Ia juga dikenal sebagai kritikus Sastra Indonesia.
Sumber: Riau Pos, Minggu, 23 September 2012
Selasa, 02 Oktober 2012
Hikayat yang Menuturkan Asal-Usul Mitologis
Data buku
Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air. Muhammad Harya Ramdhoni. Koekoesan, Depok, April 2012. v + 100 hlm.
SETELAH berhasil mencuri perhatian kita melalui novel debutannnya Perempuan Penunggang Harimau (BE Press, 2011), Muhammad Harya Ramdhoni (MHR) kembali hadir bersama segabung cerpennya Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air (Penerbit Koekoesan, April 2012) yang memuat sembilan cerpen. Orang [di] Lampung tentu saja lebih karib dengan nama Buway Lapah di Way atau Buway Bejalan di Way untuk frasa “Orang-orang yang Berjalan di Atas Air” yang tercantum pada titel buku, yaitu satu di antara paksi (kesatuan beberapa kerabat di masa kekuasaan Banten) Sekala Brak dalam masyarakat adat Lampung Sai Batin (Pesisir) di Lampung Barat yang memerintah daerah Kembahang dan Balik Bukit dengan Ibu Negeri Puncak.
Melalui segabung cerita ini, sejatinya MHR ingin menuturkan asal-usul mitologis buay-nya (keturunannya) seperti terpantul dari cerpen “Kitab Nyeghupa,” “Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air,” “Sesiah Terakhir,” “Ikhau,” “Tambo Kuno dalam Lemari Tua,” “Riwayat yang Ditutukan oleh Hembusan Angin.”
Namun, pada dua cerpen selebihnya, MHR menggubah cerita yang diangkat dari realitas historis-biografis seperti terpantul pada cerpen “Firasat Bu Lik Koem,” dan “Penembak Misterius di Seberang Front Kemelak-Sepancar.” Sementara pada cerpen “Tentang Seorang Lelaki yang Mati Tertimpa Tembok” yang berupa cerpen mini (short short story), MHR bercerita tentang tokoh Mat Top, seorang lelaki pendurhaka.
Dua cerpen yaitu “Kitab Nyeghupa” dan “Kitab Hikayat Orang-orang yang berjalan di Atas Air” mengambil bentuk hikayat, yaitu jenis cerita rekaan yang menggambarkan keagungan dan kepahlawanan. Cerpen “Kitab Nyeghupa” bertutur tentang Umpu Nyeghupa alias Imam Maulana ibn Maulana Yamiza Rahmat, satu di antara Perserikatan Paksi Pak [Maulana Bersaudara] bersama-sama dengan Pernong, Belunguh, dan Lapah di Way.
Sebagai pelayan di rumah Ratu Sekeghumong, Nyeghupa muda tak hendak menuruti perintah Pangeran Umpu Betawang untuk memanggang babi kesukaaannya, dan sebagai penggantinya dia memasak daging sapi, karena babi hewan yang diharamkan. Hal ini menimbulkan kemarahan Pangeran Umpu Betawang, yang menimbulkan dendam kesumat pada diri Nyeghupa, sehingga ketika memasak sup kepala kerbau untuk pangeran congkak itu dia mencampurnya dengan getah beracun sebukau pohon melasa kepappang serta bisa kalajengking hitam dan empedu kecing hutan. Maka, Pangeran Umpu Betawang pun tewas. Perbuatannya itu memaksa dia bersama ayahnya harus meninggalkan lamban dalom (istana) itu dan menjadi buronan, dan itu berarti menggagalkan misi dakwah mereka di istana Sekala Bhga.
Cerpen “Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air” bertutur tentang Dr. Erik Liber Sonata yang menjadikan kitab yang tersimpan di Perpustakaan School of Oriental and Africa Studies University of London itu sebagai kajian disertasinya.
Dalam perjalanan menuju Liwa di atas kendaraan yang dikemudikan oleh Jamauddin sepupunya dia terus membaca kitab itu hingga halaman terakhir. Kedatangannya ke sana untuk mencari pembenaran perihal kitab kuno itu dari mulut para tetua adat Sai Batin Paksi Buay Lapah di Way di Kembahang. Di daerah Sumber Jaya, mobil mereka dicegat oleh selusin lelaki dengan senjata api di tangan yang meminta paksa menyerahkan salinan kitab itu dan mengancam akan membenamkan Erik dan sepupunya di Danau Ranau. Di antara selusin lelaki itu terdapat seorang lelaki bermata sipit yang ternyata keturunan Ratu Sekeghumong (yang merupakan musuh Umpu Lapah di Way, leluhur Erik) dari garis Pangeran Kekuk Suik yang bermaksud membakar kitab yang dirampasnya dari tangan Erik itu seraya berkata, “Masih ada satu lembar lagi. Kau mencari ini bukan? Halaman terakhir kitab Lapah di Way…” Dia mendapatkan halaman terakhir itu dari Perpustakaan Henry Sang Navigator di Portugal. Dia sendiri sudah bertahun-tahun memburu kitab itu, kitab “yang telah merenggut kesetiaan rakyat dari bawah duli kekuasaan Puyang Dalom Ratu Sekeghumong disebabkan keahlian ilmu mistik nenek moyangmu” (hlm 22).
Saat Erik dan sepupunya dilemparkan ke Danau Ranau, sesosok tubuh berpakaian dan bersorban putih muncul dari arah barat Danau Ranau. Ia berlari di atas air! Sosok misterius itu dengan ringannya menangkap tubuh Erik dan Jamauddin kemudian menaruh mereka di pinggir danau. Sosok itu tak lain adalah Maulana Bahruni Ibn Maulana Yamiza Rahmat alias Umpu Lapah di Way. Lalu Umpu Lapah di Way mengajarkan Erik berjalan dan berlari di atas air dan membacakan isi halaman terakhir kitabnya yang berbunyi, “Kebersihan jiwa setiap pengikut Jalan Yang Lurus adalah mutlak sebelum memasrahkan diri kepada Allah dan mengamalkan isi kitab Lapah di Way, Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air.”
Pada cerpen “Sesiah Terakhir” dan “Riwayat yang Dituturkan oleh Hembusan Angin” yang menampilkan tokoh perempuan yaitu Seperdu dan Sekeghumong, MHR masih berpandangan bias gender dan patriarkhis dalam hal relasi suami-istri dan/atau lelaki-perempuan, dan karenanya perlu dilakukan kritik sastra feminis. Kita kutip ucapan Seperdu, “Bawalah sikindua pergi, Pun Beliau. Sikindua akan membaktikan seluruh hidup dan jiwa hanya untuk Pun Beliau seorang. Terimalah bakti seorang istri kepada suami. Semoga dewa-dewi merestui perkawinan ini.” (hlm 34-35) Pernyataan ini bias gender karena tidak mendudukkan istri dalam posisi yang setara dengan suami. Seolah-olah hanya pihak istri yang mesti berbakti kepada suami, namun tidak sebaliknya. Di sini saya ingin memperkenalkan nilai baru yang setara dan adil gender seperti digagas pasangan Kate-Williams dari Kerajaan Inggris yang di dalam janji perkawinan mereka justru bertekad untuk saling menjaga di antara mereka, seraya mencampakkan nilai lama yang meminta istri berbakti kepada sang suami.
Begitu pula pada cerpen ”Riwayat yang Dituturkan oleh Hembusan Angin” terdapat pernyataan bias gender berikut ini, “Ajaran Jalan Yang Lurus tak membenarkan perempuan sebagai pemimpin!” ujar lelaki tua itu dengan kesombongan yang tak berkurang sedikit pun.” (hlm 92) Benarkah menurut agama Islam perempuan tak boleh menjadi pemimpin? Sikap demikian hanyalah pantulan dari fiqih lama yang mesti didekonstruksi.
Menurut K.H. Husein Muhammad, kiai-feminis dari Ponpes Arjawinangun Cirebon, perempuan boleh menjadi pemimpin publik dan bahkan menjadi imam salat. Hal itu didasarkan atas penyelidkannya QS an-Nisa [4]: 34, yang harus dipahami sebagai bersifat sosiologis dan kontekstual. Kehebatan intelektual dan profesi menurut Husein adalah dua hal yang menjadi syarat bagi sebuah kepimpinan dalam berbagai wilayahnya, domestik maupun publik. Dengan syarat seperti ini, terbuka kesempatan yang luas bagi perempuan untuk menduduki posisi-posisi publik, termasuk menjadi presiden.
Terhadap hadis Nabi yang menuturkan tidak akan pernah beruntung bangsa yang diperintah perempuan, KH Husein menyatakan bahwa hal itu sebuah informasi yang disampaikan Nabi Saw semata, dan bukan dalam kerangka legitimasi hukum. Tegasnya, hadis ini tidak memiliki relevansi hukum. Husein Muhammad lebih jauh menuturkan bahwa hadis ini harus dipahami dari sisi esensinya dan tidak bisa digeneralisasi untuk semua kasus, dalam arti bahwa hadis tersebut lebih bersifat spesifik untuk kasus bangsa Persia pada saat itu yang kepemimpinannya boleh jadi bersifat sentralistik, tiranik, dan otokratik.
Demikian pula kepemimpinan perempuan dalam salat. Menurut Husein Muhammad (2007: 37-44), terdapat pandangan yang menyatakan keabsahan imam perempuan yang juga didukung oleh hadis Nabi Saw tentang Ummu Waraqah. Ash-Shan’ani, penulis kitab Subul as-Salam menyimpulkan dari hadis Ummu Waraqah ini bahwa mereka yang menjadi makmum Ummu Waraqah adalah laki-laki dan perempuan. Sebab, secara eksplisit (menurut lahiriahnya) hadis ini memperlihatkan bahwa Ummu Waraqah menjadi imam salat bagi laki-laki tua, laki-laki hamba sahaya, dan perempuan hamba sahaya. Untuk menyebut contoh kontemporer imam perempuan adalah Amina Wadud yang menjadi imam untuk salat Jumat di Amerika Serikat.
Cerpen “Tambo Kuno dalam Lemari Tua” adalah sebuah cerpen indah yang menuturkan kebahagiaan sebuah keluarga kaya beranak lima. Teknik membuka, mengembangkan dan mengakhiri yang dilakukan MHR secara piawai merupakan nilai yang perlu diacungi jempol buat cerpen ini. Kebahagiaan keluarga itu terusik oleh kehadiran Tambo kuno yang menyatakan bahwa suami-istri itu berasal dari dua keturunan yang saling bermusuhan dan berbunuhan. Sang suami adalah keturunan Pangeran Umpu Betawang, suami Ratu Sekeghumong, sedangkan sang istri keturunan Lapah di Way. “Ada bara tersimpan dalam sekam selama kehidupan perkawinan Ayah dan Ibu. Api dalam sekam berusia nyaris satu milenium,” tutur putri bungsunya sepeninggal mati ayah-ibunya.
Secara umum, gaya bertutur MHR berkualitas prosa lirik. MHR benar-benar mementingkan bagaimana bisa bertutur secara memikat dan berhasil menjangkau langit sastrawi seperti dimaksudkan Danarto dalam penulisan cerpen-cerpennya. Namun, sayangnya, di tengah penuturan nan memikat itu, MHR abai dalam kerapian berbahasa.
Cerpen-cerpen MHR terutama pada enam cerpen yang menuturkan asal-usul mitologis membubuhkan warna lokal (warna tempatan, corak setempat), yaitu penggambaran corak atau ciri khas suatu masa atau daerah tertentu serta pemakaian bahasa/kata-kata daerah yang bersangkutan, dengan tujuan kisahan menjadi lebih menarik dan keasliannya lebih tampak. Sikap dan lingkungan tokoh juga ikut mendukung corak setempat. Ini tampak misalnya pada kata-kata daerah sikindua (saya), sikam (saya), sesiah (kencan), benatat (beruk), semanda, ikhau, ka ga nga, tabuh canang, putri dalom, pepadun (singgasana), akan (ayah), pun (kakak lelaki tertua), jurai lurus (keturunan langsung), pekon (kampung), dan lain-lain.
Cerpen “Penembak Misterius di Seberang Front Kemelak-Sepancar” berkisah tentang penembak jitu Pauline Gobee, seorang gadis berdarah Indo-Belanda, yang bergabung dengan Tentara Republik dalam pertempuran di Kemelak-Sepancar, Baturaja pada 17 Agustus 1947 melawan tentara NICA. Bersama Moeis, dia ditugasi Kolonel Ahmad Wahab untuk menembak mati penembak misterius dari tentara NICA yang telah menembak mati beberapa mata-mata tentara republik. Alhasil, Pauline berhasil menembak mati sang penembak misterius, namun ternyata penembak misterius yang dibunuh Pauline Gobee adalah seorang lelaki Indo-Belanda kekasihnya sendiri.” (hlm 72) Sungguh sebuah akhir yang mengejutkan! Melalui cerpen ini yang dipersembahkan kepada almarhum kakeknya Hi. Abdoel Moeis (1930-2003) – yang tak lain adalah tokoh Moeis -- MHR berhasil memotret sisi manusiawi sebuah perang.
Cerpen “Firasat Bu Lik Koem” menuturkan tentang tokoh Untung yang tercatat dalam sejarah kontemporer Indonesia sebagai salah seorang tokoh yang berperan dalam Gerakan 30 September [Gestapu] atau Gerakan Satu Oktober [Gestok] (1965) yang membunuh para jenderal. Cerpen ini mengangkat sisi manusiawi tokoh Untung yang mencintai Tutik, gadis belia awal dua puluhan, mahasiswi sebuah sekolah kebidanan negeri di Solo. Saat itu, Untung berusia pertengahan tiga puluhan, seorang perwira TNI Angkatan Darat berpangkat mayor. Cinta mereka yang tumbuh berkat witing tresno jalaran soko kulino (cinta bermula dari kebiasaan) terputus di tengah jalan karena lamaran Untung ditolak oleh Bu Lik Koem, yang bersama suaminya Pak Lik Tanto, mengasuh Tutik sejak kecil tanpa pamrih.
Bu Lik Koem memiliki firasat tajam bahwa Untung bin Syamsuri bukanlah pria baik-baik dan berolok-olok bahwa nama Untung justru bermakna ‘buntung.’ “Ke mana perginya sikap welas asih-mu, Mas? Mengapa bertukar wajah menjadi pembunuh biadab?” gumam Tutik terdengar lirih ketika putusan hukuman mati terhadap Untung diumumkan secara nasional. (hlm 62) “Nama itu tak seberuntung nasib dan kisah hidupnya yang tragis,” tulis MHR di akhir cerpen (hlm 62); yang mempersembahkan cerpen ini kepada bibinya, almarhumah Bu Dhe Hastoeti Soekirno.
Jika cerita pendek dimaksudkan untuk memberikan kesan tunggal, maka membaca cerpen “Tentang Seorang Lelaki yang Mati Tertimpa Tembok” saya justru tidak beroleh kesan tunggal yang dominan karena MHR mengacaukan antara tokoh Mat Top dengan tokoh pemuda. Begitu pula saya tidak menemukan tikaian dramatik, yang justru merupakan inti cerita pendek.
Akhirnya, pembaca juga bisa menempatkan kumpulan cerpen ini, terutama untuk enam cerpen yang menuturkan asal-usul mitologis, sebagai post scriptum atas novel Perempuan Penunggang Harimau karya MHR. Karena narasi yang diusung keenam cerita itu sangat bertalian dengan pokok-soal PPH dan juga dapat menjadi semacam penjelasan lebih jauh atas novel itu.[]
Iwan Nurdaya-Djafar, pembaca buku
Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air. Muhammad Harya Ramdhoni. Koekoesan, Depok, April 2012. v + 100 hlm.
SETELAH berhasil mencuri perhatian kita melalui novel debutannnya Perempuan Penunggang Harimau (BE Press, 2011), Muhammad Harya Ramdhoni (MHR) kembali hadir bersama segabung cerpennya Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air (Penerbit Koekoesan, April 2012) yang memuat sembilan cerpen. Orang [di] Lampung tentu saja lebih karib dengan nama Buway Lapah di Way atau Buway Bejalan di Way untuk frasa “Orang-orang yang Berjalan di Atas Air” yang tercantum pada titel buku, yaitu satu di antara paksi (kesatuan beberapa kerabat di masa kekuasaan Banten) Sekala Brak dalam masyarakat adat Lampung Sai Batin (Pesisir) di Lampung Barat yang memerintah daerah Kembahang dan Balik Bukit dengan Ibu Negeri Puncak.
Melalui segabung cerita ini, sejatinya MHR ingin menuturkan asal-usul mitologis buay-nya (keturunannya) seperti terpantul dari cerpen “Kitab Nyeghupa,” “Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air,” “Sesiah Terakhir,” “Ikhau,” “Tambo Kuno dalam Lemari Tua,” “Riwayat yang Ditutukan oleh Hembusan Angin.”
Namun, pada dua cerpen selebihnya, MHR menggubah cerita yang diangkat dari realitas historis-biografis seperti terpantul pada cerpen “Firasat Bu Lik Koem,” dan “Penembak Misterius di Seberang Front Kemelak-Sepancar.” Sementara pada cerpen “Tentang Seorang Lelaki yang Mati Tertimpa Tembok” yang berupa cerpen mini (short short story), MHR bercerita tentang tokoh Mat Top, seorang lelaki pendurhaka.
Dua cerpen yaitu “Kitab Nyeghupa” dan “Kitab Hikayat Orang-orang yang berjalan di Atas Air” mengambil bentuk hikayat, yaitu jenis cerita rekaan yang menggambarkan keagungan dan kepahlawanan. Cerpen “Kitab Nyeghupa” bertutur tentang Umpu Nyeghupa alias Imam Maulana ibn Maulana Yamiza Rahmat, satu di antara Perserikatan Paksi Pak [Maulana Bersaudara] bersama-sama dengan Pernong, Belunguh, dan Lapah di Way.
Sebagai pelayan di rumah Ratu Sekeghumong, Nyeghupa muda tak hendak menuruti perintah Pangeran Umpu Betawang untuk memanggang babi kesukaaannya, dan sebagai penggantinya dia memasak daging sapi, karena babi hewan yang diharamkan. Hal ini menimbulkan kemarahan Pangeran Umpu Betawang, yang menimbulkan dendam kesumat pada diri Nyeghupa, sehingga ketika memasak sup kepala kerbau untuk pangeran congkak itu dia mencampurnya dengan getah beracun sebukau pohon melasa kepappang serta bisa kalajengking hitam dan empedu kecing hutan. Maka, Pangeran Umpu Betawang pun tewas. Perbuatannya itu memaksa dia bersama ayahnya harus meninggalkan lamban dalom (istana) itu dan menjadi buronan, dan itu berarti menggagalkan misi dakwah mereka di istana Sekala Bhga.
Cerpen “Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air” bertutur tentang Dr. Erik Liber Sonata yang menjadikan kitab yang tersimpan di Perpustakaan School of Oriental and Africa Studies University of London itu sebagai kajian disertasinya.
Dalam perjalanan menuju Liwa di atas kendaraan yang dikemudikan oleh Jamauddin sepupunya dia terus membaca kitab itu hingga halaman terakhir. Kedatangannya ke sana untuk mencari pembenaran perihal kitab kuno itu dari mulut para tetua adat Sai Batin Paksi Buay Lapah di Way di Kembahang. Di daerah Sumber Jaya, mobil mereka dicegat oleh selusin lelaki dengan senjata api di tangan yang meminta paksa menyerahkan salinan kitab itu dan mengancam akan membenamkan Erik dan sepupunya di Danau Ranau. Di antara selusin lelaki itu terdapat seorang lelaki bermata sipit yang ternyata keturunan Ratu Sekeghumong (yang merupakan musuh Umpu Lapah di Way, leluhur Erik) dari garis Pangeran Kekuk Suik yang bermaksud membakar kitab yang dirampasnya dari tangan Erik itu seraya berkata, “Masih ada satu lembar lagi. Kau mencari ini bukan? Halaman terakhir kitab Lapah di Way…” Dia mendapatkan halaman terakhir itu dari Perpustakaan Henry Sang Navigator di Portugal. Dia sendiri sudah bertahun-tahun memburu kitab itu, kitab “yang telah merenggut kesetiaan rakyat dari bawah duli kekuasaan Puyang Dalom Ratu Sekeghumong disebabkan keahlian ilmu mistik nenek moyangmu” (hlm 22).
Saat Erik dan sepupunya dilemparkan ke Danau Ranau, sesosok tubuh berpakaian dan bersorban putih muncul dari arah barat Danau Ranau. Ia berlari di atas air! Sosok misterius itu dengan ringannya menangkap tubuh Erik dan Jamauddin kemudian menaruh mereka di pinggir danau. Sosok itu tak lain adalah Maulana Bahruni Ibn Maulana Yamiza Rahmat alias Umpu Lapah di Way. Lalu Umpu Lapah di Way mengajarkan Erik berjalan dan berlari di atas air dan membacakan isi halaman terakhir kitabnya yang berbunyi, “Kebersihan jiwa setiap pengikut Jalan Yang Lurus adalah mutlak sebelum memasrahkan diri kepada Allah dan mengamalkan isi kitab Lapah di Way, Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air.”
Pada cerpen “Sesiah Terakhir” dan “Riwayat yang Dituturkan oleh Hembusan Angin” yang menampilkan tokoh perempuan yaitu Seperdu dan Sekeghumong, MHR masih berpandangan bias gender dan patriarkhis dalam hal relasi suami-istri dan/atau lelaki-perempuan, dan karenanya perlu dilakukan kritik sastra feminis. Kita kutip ucapan Seperdu, “Bawalah sikindua pergi, Pun Beliau. Sikindua akan membaktikan seluruh hidup dan jiwa hanya untuk Pun Beliau seorang. Terimalah bakti seorang istri kepada suami. Semoga dewa-dewi merestui perkawinan ini.” (hlm 34-35) Pernyataan ini bias gender karena tidak mendudukkan istri dalam posisi yang setara dengan suami. Seolah-olah hanya pihak istri yang mesti berbakti kepada suami, namun tidak sebaliknya. Di sini saya ingin memperkenalkan nilai baru yang setara dan adil gender seperti digagas pasangan Kate-Williams dari Kerajaan Inggris yang di dalam janji perkawinan mereka justru bertekad untuk saling menjaga di antara mereka, seraya mencampakkan nilai lama yang meminta istri berbakti kepada sang suami.
Begitu pula pada cerpen ”Riwayat yang Dituturkan oleh Hembusan Angin” terdapat pernyataan bias gender berikut ini, “Ajaran Jalan Yang Lurus tak membenarkan perempuan sebagai pemimpin!” ujar lelaki tua itu dengan kesombongan yang tak berkurang sedikit pun.” (hlm 92) Benarkah menurut agama Islam perempuan tak boleh menjadi pemimpin? Sikap demikian hanyalah pantulan dari fiqih lama yang mesti didekonstruksi.
Menurut K.H. Husein Muhammad, kiai-feminis dari Ponpes Arjawinangun Cirebon, perempuan boleh menjadi pemimpin publik dan bahkan menjadi imam salat. Hal itu didasarkan atas penyelidkannya QS an-Nisa [4]: 34, yang harus dipahami sebagai bersifat sosiologis dan kontekstual. Kehebatan intelektual dan profesi menurut Husein adalah dua hal yang menjadi syarat bagi sebuah kepimpinan dalam berbagai wilayahnya, domestik maupun publik. Dengan syarat seperti ini, terbuka kesempatan yang luas bagi perempuan untuk menduduki posisi-posisi publik, termasuk menjadi presiden.
Terhadap hadis Nabi yang menuturkan tidak akan pernah beruntung bangsa yang diperintah perempuan, KH Husein menyatakan bahwa hal itu sebuah informasi yang disampaikan Nabi Saw semata, dan bukan dalam kerangka legitimasi hukum. Tegasnya, hadis ini tidak memiliki relevansi hukum. Husein Muhammad lebih jauh menuturkan bahwa hadis ini harus dipahami dari sisi esensinya dan tidak bisa digeneralisasi untuk semua kasus, dalam arti bahwa hadis tersebut lebih bersifat spesifik untuk kasus bangsa Persia pada saat itu yang kepemimpinannya boleh jadi bersifat sentralistik, tiranik, dan otokratik.
Demikian pula kepemimpinan perempuan dalam salat. Menurut Husein Muhammad (2007: 37-44), terdapat pandangan yang menyatakan keabsahan imam perempuan yang juga didukung oleh hadis Nabi Saw tentang Ummu Waraqah. Ash-Shan’ani, penulis kitab Subul as-Salam menyimpulkan dari hadis Ummu Waraqah ini bahwa mereka yang menjadi makmum Ummu Waraqah adalah laki-laki dan perempuan. Sebab, secara eksplisit (menurut lahiriahnya) hadis ini memperlihatkan bahwa Ummu Waraqah menjadi imam salat bagi laki-laki tua, laki-laki hamba sahaya, dan perempuan hamba sahaya. Untuk menyebut contoh kontemporer imam perempuan adalah Amina Wadud yang menjadi imam untuk salat Jumat di Amerika Serikat.
Cerpen “Tambo Kuno dalam Lemari Tua” adalah sebuah cerpen indah yang menuturkan kebahagiaan sebuah keluarga kaya beranak lima. Teknik membuka, mengembangkan dan mengakhiri yang dilakukan MHR secara piawai merupakan nilai yang perlu diacungi jempol buat cerpen ini. Kebahagiaan keluarga itu terusik oleh kehadiran Tambo kuno yang menyatakan bahwa suami-istri itu berasal dari dua keturunan yang saling bermusuhan dan berbunuhan. Sang suami adalah keturunan Pangeran Umpu Betawang, suami Ratu Sekeghumong, sedangkan sang istri keturunan Lapah di Way. “Ada bara tersimpan dalam sekam selama kehidupan perkawinan Ayah dan Ibu. Api dalam sekam berusia nyaris satu milenium,” tutur putri bungsunya sepeninggal mati ayah-ibunya.
Secara umum, gaya bertutur MHR berkualitas prosa lirik. MHR benar-benar mementingkan bagaimana bisa bertutur secara memikat dan berhasil menjangkau langit sastrawi seperti dimaksudkan Danarto dalam penulisan cerpen-cerpennya. Namun, sayangnya, di tengah penuturan nan memikat itu, MHR abai dalam kerapian berbahasa.
Cerpen-cerpen MHR terutama pada enam cerpen yang menuturkan asal-usul mitologis membubuhkan warna lokal (warna tempatan, corak setempat), yaitu penggambaran corak atau ciri khas suatu masa atau daerah tertentu serta pemakaian bahasa/kata-kata daerah yang bersangkutan, dengan tujuan kisahan menjadi lebih menarik dan keasliannya lebih tampak. Sikap dan lingkungan tokoh juga ikut mendukung corak setempat. Ini tampak misalnya pada kata-kata daerah sikindua (saya), sikam (saya), sesiah (kencan), benatat (beruk), semanda, ikhau, ka ga nga, tabuh canang, putri dalom, pepadun (singgasana), akan (ayah), pun (kakak lelaki tertua), jurai lurus (keturunan langsung), pekon (kampung), dan lain-lain.
Cerpen “Penembak Misterius di Seberang Front Kemelak-Sepancar” berkisah tentang penembak jitu Pauline Gobee, seorang gadis berdarah Indo-Belanda, yang bergabung dengan Tentara Republik dalam pertempuran di Kemelak-Sepancar, Baturaja pada 17 Agustus 1947 melawan tentara NICA. Bersama Moeis, dia ditugasi Kolonel Ahmad Wahab untuk menembak mati penembak misterius dari tentara NICA yang telah menembak mati beberapa mata-mata tentara republik. Alhasil, Pauline berhasil menembak mati sang penembak misterius, namun ternyata penembak misterius yang dibunuh Pauline Gobee adalah seorang lelaki Indo-Belanda kekasihnya sendiri.” (hlm 72) Sungguh sebuah akhir yang mengejutkan! Melalui cerpen ini yang dipersembahkan kepada almarhum kakeknya Hi. Abdoel Moeis (1930-2003) – yang tak lain adalah tokoh Moeis -- MHR berhasil memotret sisi manusiawi sebuah perang.
Cerpen “Firasat Bu Lik Koem” menuturkan tentang tokoh Untung yang tercatat dalam sejarah kontemporer Indonesia sebagai salah seorang tokoh yang berperan dalam Gerakan 30 September [Gestapu] atau Gerakan Satu Oktober [Gestok] (1965) yang membunuh para jenderal. Cerpen ini mengangkat sisi manusiawi tokoh Untung yang mencintai Tutik, gadis belia awal dua puluhan, mahasiswi sebuah sekolah kebidanan negeri di Solo. Saat itu, Untung berusia pertengahan tiga puluhan, seorang perwira TNI Angkatan Darat berpangkat mayor. Cinta mereka yang tumbuh berkat witing tresno jalaran soko kulino (cinta bermula dari kebiasaan) terputus di tengah jalan karena lamaran Untung ditolak oleh Bu Lik Koem, yang bersama suaminya Pak Lik Tanto, mengasuh Tutik sejak kecil tanpa pamrih.
Bu Lik Koem memiliki firasat tajam bahwa Untung bin Syamsuri bukanlah pria baik-baik dan berolok-olok bahwa nama Untung justru bermakna ‘buntung.’ “Ke mana perginya sikap welas asih-mu, Mas? Mengapa bertukar wajah menjadi pembunuh biadab?” gumam Tutik terdengar lirih ketika putusan hukuman mati terhadap Untung diumumkan secara nasional. (hlm 62) “Nama itu tak seberuntung nasib dan kisah hidupnya yang tragis,” tulis MHR di akhir cerpen (hlm 62); yang mempersembahkan cerpen ini kepada bibinya, almarhumah Bu Dhe Hastoeti Soekirno.
Jika cerita pendek dimaksudkan untuk memberikan kesan tunggal, maka membaca cerpen “Tentang Seorang Lelaki yang Mati Tertimpa Tembok” saya justru tidak beroleh kesan tunggal yang dominan karena MHR mengacaukan antara tokoh Mat Top dengan tokoh pemuda. Begitu pula saya tidak menemukan tikaian dramatik, yang justru merupakan inti cerita pendek.
Akhirnya, pembaca juga bisa menempatkan kumpulan cerpen ini, terutama untuk enam cerpen yang menuturkan asal-usul mitologis, sebagai post scriptum atas novel Perempuan Penunggang Harimau karya MHR. Karena narasi yang diusung keenam cerita itu sangat bertalian dengan pokok-soal PPH dan juga dapat menjadi semacam penjelasan lebih jauh atas novel itu.[]
Iwan Nurdaya-Djafar, pembaca buku
Minggu, 23 September 2012
Hikayat Bayan Budiman
Khoja Mubarak seorang saudagar kaya di negeri yang bernama Ajam. Beliau mempunyai seorang anak yang bernama Khoja Maimun. Apabila cukup umurnya, Khoja Maimun telah dikahwinkan dengan Bibi Zainab.
Oleh kerana hampir kehabisan harta, Khoja Maimun bercadang untuk pergi belayar dan berniaga. Sebelum belayar, Khoja Maimun telah membeli dua ekor burung sebagai peneman isterinya sepeninggalan beliau pergi belayar. Seekor burung bayan dan seekor burung tiung. Apabila sampai masa hendak pergi belayar, Khoja Maimun berpesan kepada isterinya supaya sentiasa bermuafakat dengan burung-burung itu sebelum melakukan sesuatu perkara.
Sepeninggalan Khoja Maimun, Bibi Zainab yang tinggal sendiri berasa kesunyian. Semasa duduk termenung di tingkap, seorang putera raja lalu dihadapan rumahnya. Kedua-duanya saling berpandangan dan berbalas senyum.
Sejak hari itu Bibi Zainab telah jatuh berahi terhadap putera raja itu. Putera Raja itu juga telah jatuh cinta pada Bibi Zainab. Dengan perantaraan seorang perempuan tua, pertemuan antara mereka berdua telah dapat di atur.
Sebelum meninggalkan rumahnya, Bibi Zainab telah menyatakan hasratnya kepada burung tiung betina yang diharapnya akan lebih memahami perasaannya. Maka jawab tiung;
“ya, tuan yang kecil molek, siti yang baik rupa, pekerjaan apakah yang tuan hamba hendak kerjakan ini? Tiadakah tuan takut akan Allah subhanahu wataala dan tiadakah tuan malu akan Nabi Muhammad, maka tuan hendak mengerjakan maksiat lagi dilarangkan Allah Taala dan ditegahkan Rasulullah s.a.w. Istimewanya pula sangat kejahatan, dan tiada wajib atas segala perempuan membuat pekerjaan demikian itu. Tiadakah tuan mendengar di dalam al-Quran dan kitab hadis Nabi, maka barangsiapa perempuan yang menduakan suaminya, bahawa sesungguhnya disulakan oleh malaikat di dalam neraka jahanam seribu tahun lamanya…”
Teguran burung tiung betina itu membuatkan Bibi zainab marah lalu dihempaskan burung itu ke bumi. Matilah burung itu.
Bibi Zainab setertusnya meminta nasihat daripada burung bayan pula sambil mencurahkan hasrat hatinya itu. Setelah mendengar semuanya, burung bayan pun berkata;
“Adapun hamba ini haraplah tuan, jikalau jahat sekalipun pekerjaan tuan, insyaAllah di atas kepala hambalah menanggungnya, jika datang suami tuan pun, tiada mengapa, daripada hamba inipun hendak membuat bakti kepada tuan dan berbuat muka pada suami tuan itu. Baiklah tuan segera pergi, kalau-kalau lamalah anak raja itu menantikan tuan, kerana ia hendak bertemu dengan tuan. apatah dicari oleh segala manusia di dalam dunia ini, melainkan martabat, kebesaran dan kekayaan?Adakah yang lebih daripada martabat anakj raja? tetapi dengan ikhtiar juga sempurnalah adanya. Adapun akan hamba tuan ini adalah seperti hikayat seekor unggas bayn yang dicabut bulunya oleh seorang isteri saudagar….“
Burung Bayan tidak melarang malah dia menyuruh Bibi Zainab meneruskan rancangannya itu, tetapi dia berjaya menarik perhatian serta melalaikan Bibi Zainab dengan cerita-ceritanya. Bibi Zainab terpaksa menangguh dari satu malam ke satu malam pertemuannya dengan putera raja. begitulah seterunya sehingga Khoja Maimun pulang dari pelayarannya.
Bayan yang bijak bukan sahaja dapat menyelamatkan nyawanya tetapi juga dapat menyekat isteri tuannya daripada menjadi isteri yang curang. Dia juga dapat menjaga nama baik tuannya serta menyelamatkan rumahtangga tuannya.
Antara ceriota bayan itu ialah mengenai seekor bayan yang mempunyai tiga ekor anak yang masih kecil. Ibu bayan itu menasihatkan anak-anaknya supaya jangan berkawan dengan anak cerpelai yang tinggal berhampiran. Ibu bayan telah bercerita kepada anak-anaknya tentang seekor anak kera yang bersahabat dengan seorang anak saudagar. Pada suatu hari mereka berselisih faham. Anak saudagar mendapat luka di tangannya. Luka tersebut tidak sembuh melainkan diubati dengan hati kera. Maka saudagar itupun menangkap dan membunuh anak kera itu untuk mengubati anaknya.
Sebuah lagi cerita bayan ialah mengenai seorang lelaki yang sangat mengasihi isterinya. Apbila isterinya meninggal dunia, dia telahj memohon dioa kepada Tuhan supaya separuh daripada umurnya dibahagikan kepada isterinya. Doa itu dikabulkan dan isterinya hidup semual. Namun, si isteri tidak jujur dan lari dengan seorang saudagar kaya. Lelaki itu menjejaki isterinya kerana menyangka isterinya dilarikan oleh saudagar kaya itu. Tetapi dia telah dihina dan diusir oleh isterinya. Kerana marah dan kecewa, lelaki itu memohon agar Tuhan mengembalikan usianya yang telah diberi kepada isterinya. Dengan kehendak Tuhan, isterinya mati semula.
Dalam cerita yang lain pula, bayan bercerita mengenai pengorbanan seorang isteri. seorang puteri raja yang kejam telah membunuh 39 orang suaminya. suaminya yang keempat puluh telah berjaya menginsafkannya dengan sebuah cerita mengenai seekor rusa betina yang sanggup menggantikan pasangannya, rusa jantan, untuk disembelih. Begitu kasih rusa betina kepada pasangannya sehingga sanggip mengorbankan diri untuk disembelih. Puteri itu insaf dan tidak jadi membunuh suaminya yang keempat puluh itu, malah sanggup berkorban apa sahaja untuk suaminya.
Sumber Resensi Klasik
Jumat, 03 Agustus 2012
Suluk Ling Lung
SULUK LING LUNG
SUNAN KALIJAGA (SYEH MELAYA)
Karangan : Iman Anom
Tahun 19806 Caka / 1884 M
BRAMARA NGISEP SARI
PUPUH I
DHANDHANGGULA
1. Jumadilawwal puruning nulis, Isnen Kliwon tanggal ping pisan, tahun Je mangsa destone, nenggih sengkalanipun, “Ngerasa sirna sarira Ji”, turunan saking kitab, Duryat kang linusur, sampun kirang pangaksama, ingkang maca kitab niki sampun kenging, kula den apuntena.
2. Pawartane pandhita linuwih, ingkang sampun saget sami pejah, pejah sajroning uripe, sanget kepenginipun, pawartane kang sampun urip, marma ngelampahi kesah, tan unigeng luput, anderpati tan katedah, warta ingkang kagem para Nabi Wali, mila wangsul kewala.
3. Ling lang ling lung sinambi angabdi, saking datan amawi sabala, kabeka dene nafsune, marmannya datan kerup, dennya amrih wekasing urip, dadya napsu ingobat, kabanjur kalantur, eca dhahar lawan nendra, saking tyas awon perang lan nepsu neki, sumendhe kersaning Hyang.
4. Ling lang ling lung anedheng Hyang Widhi, mugi-mugi binuka Hyang Sukma, den legakna ing atine, sakayun yawunnipun, marga dadi sembah lan puji, saking telasing manah, pramila nenuwun, nanging tan apunten ing Hyang saking mboten saged nembah lawan muji, ngawur datan uninga.
5. Ling lang ling lung pan kendel pribadi, tanpa rewang pan ucek-ucekan, yetukaran pada dewe, tan adoh swaranipun, pan gumrejeg padu tan enting, pan rebut kalah menang, tan ana rinebut, lir ngrebut prajeng Ngastina, lali kadhang miwah bapa anak rabbi, jiwa raga tan ketang.
6. Ling lang ling lung tan weruh ing isin, saking kedah uningeng ing warta, sinahu tapa lan luwe, yen ana kanca rawuh, melu mangan pan datan eling yen mungkur kancanira, tan mangan saumur, saking tan ana pinangan, ling lang ling lung angon paesan pribadi, tansah nagih buruhan.
7. Ling lang ling lung tan olih, anenagih ngrejeg tanpo potang, kang tinagih meneng bae, pan nyata nora nyambut, kang anagih awira-wiri, tan ana beda nira, Syeh Malaya iku, wit puruhita atapa, mring Jeng Sunan Benang kinen tengga kang cis, tan kena yen kesaha.
8. Ling lang ling lung pan sang mendha luwih, buda teja tequde sarira, upamakken ing sanise, wonten sujalma luhung, putra Tuban Rahaden Syahid, duk sepuh nama Sunan, Kalijaga sampun, langkung sinihan Hyang Sukma, ingkang sampun dadi keramating Hyang Widhi, Mijil saking asmara.
KASMARAN BRANTA
PUPUH II
ASMARADANA
1. Kapincut ingkang anulis, denira mirsa carita, duk kina iku wartane, Jeng Suhunan Kalijaga, rikala mrih wekasan, anggeguru kang wus luhur, anepi dhukuh ing Benang.
2. Puruhita wus alami, tan antuk faedah kang nyata, mung nglakoni papa wae, pan agung kinen atapa, dateng Jeng Sunan Benang, kinen tengga gurda sampun, tan kenginganke kesaha.
3. Wonten satengah wanadri, gennya ingkang gurda-gurda, pan sawarsa ing lamine, anulya kinen ngaluwat, pinendhem mandyeng wana, setahun nulya dinudhuk, dateng Jeng Sunan Benang.
4. Anulya kinen angalih, pitekur ing kali jaga, malih karan jejuluke, sawarsa tan kena nendra, utawi yen dahara, tinilar mring Mekah sampun, dhumateng Sinuhun Benang.
5. Nyata wus jangkep sawarsi, Syeh Malaya tinilikan, pinanggih pitekur bae, Jeng Sunan Benang ngandika, Eh Jebeng luwarana, jenenge wali sireku, panutup panatagama.
6. Den becik gama nireki, agama pan tata krama, krama –kramate Hyang Manon, yen sira panata syarak, sareh iman hidayat, hidayat iku Hyang Agung, agung ing ngrahanira.
7. Kanugrahane Hyang Widhi, ambawani kasubdibyan, pangawasane pan dene, kadigdayan kaprawiran, sakabeh rehing yuda, tan liya nugraha luhur, utamane kahutaman.
8. Utama nireki bayi, dene kang sediya murba, kang amurba ing deweke, Misesani aneng sarira, nanging tan darba purba, sira kang murba Hyang Agung, den mantep ing panarima.
9. Syeh Malaya matur aris, kalangkung nuwun patik bra, kalingga murda wiyose, nanging amba matur Tuan, anuwun babar pisan, ing jatine sukma luhur, kang aran iman hidayat.
10. Kang manteb narima Gusti, kang pundi ingkang nyatanya, kulanuwun sameloke, yen ngemungna basa swara, amba anut kumandhang, yen pralena anglir kukus, tanpa karya olah sarak.
11. Jeng Sunan lingira aris, Syeh Malaya bener sira, sing atapa panggih ingong, ingkang aran panarima, kang eling maring karya, duk lagi kamulanipun, apan nora kadya mega.
12. Pan kadya hidayat wening sarupa iman hidayat, apa katon sabenere, nanging iku wruhanira, datan kena dinuga, atawa yen sira bantu, kalawan netra kepala.
13. Ulun iki lir sireki, kapingin uga weruha, mring hidayat sameloke, nanging ingsun durung wikan, meloke kang hidayat, mung werta kang sun pituhu, jer iku andikaning Hyang.
14. Umatur Jeng Sunan Kali, pukulun nuwun jinatenan, punapa wonten wiyose, ingkang aran tanpa sifat, kang sifat tanpa aran, kawula nuwun pituduh, angen-angen ingkang wekasan.
15. Sunan Benang ngandika ris, yen sira amrih wekasan, matenana ing ragane, sinauwa pejah sira, mumpung ta meksih gesang, anyepiya mring wanagung, aja nganti kamanungsan.
16. Wus telas dennya pawarti, jeng Sunan Benang wus jengkar, saking ing kalijagane, ngalor ngetan ing lampahnya, antawis sahonjotan, Syeh Malaya atut pungkur, lumebeng ing wana wasa.
17. Pan angidang lampah neki, awor lan kidang manjangan, atenapi yen asare, pan aturu tumut nangsang, kadi turuning kidang, yen asaba mapan tumut, lir kadya sutaning kidang.
18. Yen ana jalma udani, kang kidang lumayu gebras, Jeng Sunan ameli gebras, pan lumayu berangkangan, kadi playuning kidang, wayang-wuyung datan kantun, anut ing solahe kidang.
19. Nyata wus jangkep sawarsi, Syeh Malaya dennya ngidang, malah langkung ing janjine, nyata Jeng Sinuhun Benang, arsa shalat mring Mekah, sekedhep netra pan sampun, bakdane shalat glis prapta.
20. Jeng Sunan kendel wanadri, mulat mring kidang lumajar, dene sutane ngiyar-ngiyor, Sunan Benang emut ing tyas, yen wonten Wali ngidang, Syeh malaya wastanipun, aglis sira pinaranan.
21. Syeh Melaya apan gendring, pelayune nunjang palang, datan etung jurang pereng, binujung nora kecandhak, jinaring lan den kala, yen kena kala marucut, yen nunjang jaring pan liwat.
22. Bramantya Sang Maha Yekti, sasumbar sajroning nala, Wali waddat mbuh gawene, mejanani sira kidang, nguni sun nyekel barat, kang luwih lembut tan mrucut, kang agal teka agagal.
23. Yen luputa pisan iki, luhung aja dadi jalma, tan patut mung dadi sato, kurda muntap Sunan Benang, pan sarwi nyipta sega, tigang kepel mapan sampun, mundur kinarya bebalang.
PUPUH III
D U R M A
1. Sigra mara Kanjeng Sunan anerajang, ing wana langkung sungil, nyata wus kapanggya, kang lagi laku ngidang, lumayu binalang aglis, sega kepelan, tiba ing gigir neki.
2. Syeh Melaya pan aririh pelayunya, anulya piningkalih, kena lambungira, deperok Syeh Malaya, anulya binalang malih, sega kepelan, emut nulya ngabekti.
3. Pan anderu sumungkem angras pada, ngandika sang ayogi, “jebeng wruhanira, yen sira nyuwun wikan, kang sifat hidayatullah, mungga kajiya, mring Mekah marga suci.
4. Anbambila toya zam-zam mring Mekah, iya banyu kang suci, sarta ngalap barkah, Kanjeng Nabi panutan, Syeh Malaya angabekti, angaras pada, pamit sigra lumaris.
5. Sang Pandita wus lajeng hing lampahira, mring Benang dhepok sepi, nyata kawuwusa, lampahe Syeh Malaya, kang arsa amunggah kaji, dhateng hing Mekah, lampahnya murang margi.
6. Nrajang wana munggah gunung mudhun jurang, iring-iring pan mlipir, jurang sengkan nrajang, wauta lampahira, prapteng pinggir pasisir, puter driya, pakewuh marga neki.
7. Ning pangkalan samodra langkung adohnya, angelangut kaeksi, dyan jetung kewala, aneng pinggir samodra, wonten ingkang winarni, sang Pajuningrat, praptane sang Kaswasih.
8. Apan tuhu uninga ing lampahira, Syeh Malaya prihatin, arsa wruh hidayat, apan terah tinerah, sukma sinukma piningit, tangeh manggiya yen tan nugraha yekti.
9. Nyata majeng nggebyur malebeng samodra, tan toleh jiwa diri, wau Syeh Malaya, manengah lampahira, anut parmaning Hyang Widhi, ing sanalika, prapteng teleng jaladri.
10. Ya ta malih Jeng Sunan ing Kalijaga, neng telenging jeladri, sampun pinggihan, pan kadya wong leledhang, peparabe Nabi Khidir, pan tanpa sangkan, ngandika tetanyaris.
11. Syeh Malaya apa ta sedyanira, prapteng enggone iki, apa sedya nira dene sepi kewala, tan ana kang sarwo bukti, myang sarwo boga, miwah busana sepi.
12. Amung godhong aking yen ana kaleyang, tiba ingarsa mami, iku kang sun pangan, yen ora-ora nana, garjita tyas sira myarsi, Kanjeng Susunan, ngungun duk amiyarsi.
13. nabi ningrat ngandika mring kang prapta, putu ing kene iki, akeh panca baya, yen nora etoh jiwa, mangsa tumekaha ugi, ing kene mapan, sekalir padha merih.
14. Ngegungaken ciptanira maksih kurang, nora ageman pati, sabda kaluhuran, dene mangsa anaha, keweran tyas Sang Kaswasih, ing sahurira dene tan wruh ing gati.
15. dadya alon atur ira Syeh Melaya, mangsa borong Sang Yogi, Sang Wiku lingira, apan ta sira uga, kasmaran hidayat ullih, wekasan ningrat, meloke ing saiki.
16. Anglakoni pituduhe guru nira, Sunan Benang Sang Yogi, tuduh marang sira, kinen ning negri Mekah, pan arsa myang munggah kaji, mulane nyawa, angel pratingkah urip.
17. Aja lunga yen tan wruh kang pinaranan, lan aja mangan ugi, yen tan wruh rasanya, rasane kang pinangan, aja nganggo-anggo ugi, yen durung wruha arane busana di.
18. Witing weruh atakono pada jalma, lawan tetiron nenggih, dadi lan tumandhang, mengkono ing agesang, ana jugul nganggo-anggo ugi, yen durung wruha arane busana di.
19. Lamun kuning den anggep kencana mulya, mangkono ing ngabekti, pernahe kang sinembah, Syek Melaya duk miyarsi, ndeku norraga, dene Sang Wiku sidik.
20. Sarwi sandika ing atur ira, Syeh Melaya minta sih, anuwun jinatenan, sinten ta aran tuan, dene mriki peribadi, Sang Pujuningrat, Hya ingsun Nabi Kihidzir.
21. Atur sembah pukulun nuwun jinatenan,pun patik nuwun asih, ulun inggih datan, wruh puruhiteng badan, sasat satoning wanadri, tan mantra-mantra, waspadeng badan suci.
22. Lang lung mudha punggung cinacad ing jagad, keksi-keksi ning bumi, engganing curiga, ulun tanpa warangka, wecana kang tanpa siring, nyata ngandika, manis sang Nabi Khidir.
“SANG NABI KHIDIR”
PUPUH IV
DHANDHANGGULA
1. Lamun sira munggah kaji, maring Mekah thuke ana apa, hya Mekah pan tilas bae, Nabi Ibrahim kruhun, ingkang yasa kang ponang mesjid, miwah tilase ka’bah, kang arupa watu, gumantung tanpa centhrlan, apa iku kang sedya sira bekteni, dadi mangan brahala.
2. Iya kaya idhepe wong kapir, dene iya esmu ngangka-angka, trus madhep mring brahalane, nadyan wus haji iku, yen tan weruh paraning kaji, ka’bah pan dudu lemah, kayu watu dudu, margone tan kanggo lunga, mring ka’bah yen arsa wruh ing ka’bah jati, jati iman hidayat.
3. Lahgita mara Syeh Melaya aglis, amanjinga guwa garbaning wang, Syeh Melaya kaget tyase, Dadya metu gumuyu, Pan angguguk turira aris, saking pundi marganya, kawula geng luhur, antawis mangsa sedhenga, saking pundhi marganing gen kula manjing, dening buntet kewala.
4. Nabi Khidir angandika ris, gedhe endhi sira lawan jagad, kabeh iki sak isine, alas samudra gunung, nora sesak ing garba mami, tan sesak lumebewa, ing jro garba ningsun, Syeh Melaya duk miarsa, langkung ajrih kumel sandika tur neki, ningleng ma’bitingrat.
5. Iki dalan talingan iki, Syeh Melaya manjing sigra-sigra, wus prapta jero garbane, andalu samudra gung, tanpa tepi nglangut lumaris, liyep adoh katingal, Nabi Khidir nguwuh, eh apa katon ing sira, dyan umatur Syeh Melaya inggih tebih, tan wonten kang katingal.
6. Awang uwung kang kula lampahi, uwung-uwung tebih tan katingal, ulun saparan parane, tan mulat ing lor kidul, kulon wetan datan udani, ngandhap ing luhur ngarsa, kalawan ing pungkur, kawula mboten uninga, langkung bingung Nabi Khidir ngandikaris, aja maras tyasira.
7. Byar katingal madhep Nabi Khidir, Syeh Melaya Jeng nabi kawang-wang, umancur katon cahyane, nalika wruh lor kidul, wetan kilen sampun kaheksi, nginggil miwah ing ngandhap, pan sampun kadulu, lawan andulu baskara, eca tyase dene Jeng Nabi kaheksi, aning jagat walikan.
8. Kanjeng Nabi Khidir ngandika ris, aja lumaku andeduluwa, apa katon ing dheweke Syeh Melaya umatur, wonten werni kawan perkawis, katingal ing kawula, sedaya puniku, sampun datan katingalan, anamung sekawan perkawis kaheksi, ireng bang kuning pethak.
9. Angandika Kanjeng Nabi Khidir, ingkang dihin sira anon cahya, gumawang tan wruh arane, panca maya puniku, sejatine teyas sayekti, pangarepe sarira, Pancasonya iku, ingaranan muka sipat, ingkang nuntun maring sifat kang linuwih, yeku asline sipat.
10. Maka tinuta aja lumaris, awatana rupa aja samar, kuwasane tyas empane, ngingaling tyas puniku anengeri maring sejati, eca tyas Syeh Melaya, duk miyarsa wuwus, lagiya medhep tyas sumringah, dene ingkang kuning abang ireng putih, yeku durga manik tyas.
11. Pan isining jagad amepeki, iya iku kang telung prakara, pamurunge laku kabeh, kang bisa pisah iku yekti bisa amoring ghaib, iku mungsuhe tapa, ati kang tetelu, ireng abang kuning samya, angadhangi cipta karsa kang lestari, pamore Sukma Mulya.
12. Lamun ora kawileting katri, sida nama sirnane sarira, lestari ing panunggale, poma den awas emut, dergama kang munggeng ing ngati, pangawasane weruha, wiji wijenipun, kang ireng luwih prakosa, panggawene serengen sebarang runtik, dursila angambra-ambra.
13. Iya iku ati kang ngedhangi, ambuntoni marang kabecikan, kang ireng iku karyane, dene kang abang iku, iya tudhuh nepsu tan becik, sakabehe pepinginan, metu saking iku, panas baran papinginan, ambuntoni maring ati ingkang ening, maring ing kawekasan.
14. Dene iya ingkang rupa kuning, kuwasane neng gulang sebarang, cipta kang becik dadine, panggawe amrih hayu, ati kuning ingkang ngadhangi, mung panggawe pan rusak, linantur jinurung, mung kang putih iku nyata, ati enteng mung suci tan ika iki, prawira ing karaharjan.
15. Amung iku kang bisa nampani, mring syahide sejatine rupa, nampani nugrahan nggone, ingkang bisa tumanduk, kang lestari pamore kapti, iku mungsuhe tiga, tur sereng gung ngagung, balane ingkang tetiga, iku putih tanpa rewang mung sawiji, mila ngagung kasoran.
16. Lamun bisa iya nyembadani, mring sasuker kang telung prekara, sida ing kana pamore, tanpa tuduhan iku, ing pamore kawula Gusti, Syeh Melaya miharsa, sengkut pamrihipun, sangsaya birahi nira, iya maring kawuwusing ingahurip, sampurnaning panunggal.
17. Sirna patang prakara na malih, urip siji wewolu warnanya, Syeh Melaya lon ature, punapa wastanipun, urip siji wewolu warni, pundi ingkang sanyata, urup kang satuhu, wonten kadi retna muncar, wonten kadi maya-maya ngebati, wonten abra markata.
18. Marbudengrat Nabi Khidir angling, iya iku sejatine tunggal, sarira marta tegese, iya aneng sireku, tuwin iya isining bumi, ginambar angga nira, lawan jagad agung, jagad cilik tan prabeda, purwane ngalor kulon kidul puniki, wetan ing luhur ngandhap.
19. Miwah ireng abang kuning putih, iya iku panguripaning bawana, jagad cilik jagad gedhe, pan padha isenipun, tinimbang keneng sira iki, yen ilang warna ingkang, jagad kabeh suwung, sesukere datan ana, kinumpulken marang rupa kang sawiji, tan kakung tan wanodya.
20. Kadi ta wangunana puniki, kang asawang peputeran danta, tak pyo dulunen kiye, Syeh Melaya andulu, kang kadya peputeran gadhing, cahya mancur gumilang, neneja ngenguwung, punapa inggih puniku, rupaning dzat kang pinerih pun ulati kang sejatining rupa.
21. Nabi Khidir angandika aris, iku dudu ingkang sira sedya, kang mumpuni ambeg kabeh, tan kena sira dulu, tanpa rupa datan pawarni, tan gatra tan satmata, iya tanpa dunung, mung dumunung mring kang awas, mung sasmita aneng jagad angebaki, dinumuk datan kena.
22. Dene iku kang sira tingali, kang sawang peputeran denta ingkang, gumilang gilang cahyane, angkara kang murub, Sang Permana arane iki, uripe kang sarira, permana puniku, tunggal ana ing sarira, nanging datan melu suka lan prihatin, panggone aneng raga.
23. Datan melu suka lan prihatin, iya nora melu lara lapa, ye iku pisaha anggone, raga kari ngalumpruk, yekti lungkrah badanireki, ya iku kang kuwasa, nandhang rasanipun, inguripan dening sukma, iya iku sinusih anandhang urip, ngaken rahasya ningrat.
24. Hya iku sinandhangken mring sireki, nanging kadya simbaring kakywan, aneng hing raga enggone, uripe permaneku, inguripan sukma linuwih, misesa ing sarira, permana puniku, yen mati melu palaswan, yen lamun ilang sukmane slira urip nuli urip sukma kang ana.
25. Sirna iku iya kang pianggih, uriping sukma ingkang anyata, ingkang liwatan umpamane, lir rasane tumuwuh, permana kang amir sadhani, tuhu tunggal pinangka, jinaten puniku, umatur Syeh Melaya, ingkang pundi wernine ingkang sayekti, Nabi Khidir ngendika.
26. Nora kena yeku yen sira prih, ing kahanane semat-mata, gampang angel pirantine, Syeh Melaya umatur, kula nyuwun pamejang malih, inggih kedah uninga, babar pisanipun, pun patik ngaturaken pejah, ambengana angen-angen ingkang pesthi, sampuna nuwas ngantiya.
PUPUH V
KINANTHI
1. Nabi Khidir rum, wor perlambang esmu neki, umpamane wong rerasan, loting kang adi pantesing, kang loting bumbu sastnya, wor rahsa karasa suci.
2. Nurbuat kang rahsa iku, sejatine rahsa iki, duk ana ing sifat jamal, Johar awal yen wus mijil, Johar akhir wus dewasa, kang awal rahsa sejati.
3. Kang Johar akhir puniku, sawujud sak pati urip, johar duk sawujud tunggal, rahsa tunggal urip tunggil, tunggal lawan johar awal, kang johar akhir puniki.
4. Sawujud sagesang lampus, sapolahe johar akhir, salamine anarima, kang johar batin puniki, kang pinuji kang sinembah hya iku Allah sejati.
5. Nora nana roro iku, sira iku nuqod ghaib, nuqod ghaib duk ing kuna, nora sarta nora mati, temene nuqod punika, ghoib iku jeneng reki.
6. Wus tumiba neqdu iku duk mahune urip, tinarik alip dadinya, alid iku jisim latip, sejatine ananira, neqdu iku denarani.
7. Johar jati iya iku, jenengira iku urip, syahadat jati urip ira, ingaranan getih urip, getih urip ingaranan, Rasulullah rasa jati.
8. Syahadat jati getih, rasa jatining dzat sami, Jabrail Muhammad Allah, telune kapate iki, getih urip arannira, tingalana nyawang mati.
9. Apa ana getihipun, getih iku ilang neki, ilange awor lan sukma, sukma ilang ya ananging, padha ana alip ika, ingaranan ruh idhofi.
10. Jisim latif jatenipun, kang ingaranan jisim latip, jisim angling duk ing kuna alip winastanan angling, alip iku tanpa netra, tan angucap tan miyarsi.
11. Tanpa karsa tan andulu, iya iku ingkang alip, alip tiba ing neqdunya, norane anane dadi, alip iku jinabaran, pan ruh idlofi Dzatullih.
12. Wus kapeca sedaya wus, ruh idhofi gagetining, dzat sejati alip ika, jabar lan jere puniki, aneng johar alip ika, arane kalam birahi.
13. Birahi ananereku, aranira Allah jati, tanana kalih tetiga, sapa wruha yen wus dadi, ingsun weruh pesti nora, ngarani namanireki.
14. Sipat jamal ta puniku, ingkang kinen angarani, pepakane ana ika, akon ngarani puniki, iya Allah angandika, mring Muhammad kang kekasih.
15. Yen tanana sira iku, ingsun tanana ngarani, mung sira ngarani ing wang, dene tunggal lan sireki iya Ingsun iya sira, aranira aran mami.
16. Hannerehken sira iku, apa sira terbuka ning, araningsun iya sira, kang sawujud lawan mami, deningsun semjen lan sira, pesthine nora ngarani.
17. Aranira araningsun, apan sira iku uwis, ing donya lawan akkherat, sira iki gegentining Muhammadar rasulullah, nabiyullah ya ilahi.
18. Pertandhane Allah iku, aneng sira dipun eling, jabar jere alip ika, alip iku pese reki, budi jati aranira, ilang budi sajroning.
19. Kang micareku, angendhoraken birahi, karo dudu karo iya, ya iku kang johar budi, iku aran budi iman, alip tiba neqdu pesthi.
20. Sejatine alip iku, srwo nora dora neki, kang alip iku namanya, nora nipun ana keki, alip adi aranira, kang asih ananireki.
21. Johar awal ananipun, kang johar kahanan jati, tinja junub lan jinabat, johar awal ganda neki, iku tiba ing neqtunya, norane sajroning urip.
22. Urip jroning johar iku, urip mati sajroning, iya aneng johar awal, pagene sholat sireki, ya ana ing ndalem ndonya, purwane sholat puniki.
23. Den kawangwang maring neqdu, ghoib aneng sira iki, pagene ya ngadeg sira, sidhakep marwasa wening, sedhakep tunggal kahanan, tunggal sapari polah neki.
24. Pangucap nunggal sireku, wedale rukuk tumuli, kerasa duka lan cipta, tumetes banyu kang wening, ning urip ruh sekalirnya, rahsa iman saderahi.
25. Kang saderah ananipun, pagene sujud neng bumi, paran dadi duk wahunya, cahya ingkang sasmitaning, ya iku semune rupa, semurupeku sejati.
26. Kang agama dunungipun, iya ingkang bumi langit, ingkang ananira nika, sirnaning dunya kang ati, iya iku atenira, kang sujud aneng ing bumi.
27. Pagene linggih amangu, angawang anguwung den panggih, jatine iku tan ana, pangeran iku sejati, yeku kawula jatinya, dudu Allah sira iki.
28. Lan Muhammad iya dudu, patemon rahsa sejati, ingkang rahsa dudu rahsa, ya Allah Muhammad ciri, iya kawulane haram, lamun puasaha iki.
29. Lan haram kawulanipun, lamuna sidqoha iki, lan kawulanipun haram, iya yen munggaha Hajji, lawan kawulaning haram, lamuna sholata iki.
30. Surya nora wulanipun, norane dadi cahyeki, pan hidayat imanira, tauhid panembah reki, makrifat pangawruh kita, ya ru’yat minangka seksi.
31. Den tingali sipatipun, sipate Allah sejati, kang asli aslining Allah, ya Allah-Allah kang urip, den af’ale iya Allah, yeku duk jumeneng ru’yati.
32. Yen urip selawasipun, ru’yat jeneng khoiroti, makrifat jeneng ing donya, johar awal khoiroti, iya uwis jenengira, yeku pangasan kamil.
33. Insan kamil dzatullahu, sejatine nuqod ghoib, iya dzat sabenerira, sipatullah dzatullahi, insan kamil jenengengira, anane Allah puniki.
34. Dene kendhih jenengipun, nuqod ghoib insan kamil, iya sejatine nora, yeku aran puji budi, budi iku urip ira, lawan nyawa iku urip.
35. sarta lawan badanipun, aran badan Muhammadi, kang antuk urip sampurna, Syeh Melaya matur aris, mila mat keneng neraka, nuwun pawarta sejati.
36. Nabi Khidir ngandika rum, eh Melaya lire iki, nraka jasmani kang ana, jrone neraka ya iki, kang tan weruh Nabiyullah, ruh kang tan kena ing pati.
37. Ruh jasmani uripipun, samilan kewan puniki, iku kang aneng neraka, kang nepsu pingile iblis, yen nepsune dipun umbar, tan anut maring Hyang Widi.
38. Ngendelaken ngilmunipun, tan weruh Adam Nabi, yeku yeku aran iman tahdlat, umat kalebu jasmani, kawruh tanpa ika, kang nembah datan ningali.
39. Saya kapir tuhonipun, kang nembah kayu watuning, tan ketang apa ukumnya, kapiring kang jahanami, yeku ruh idhofi nama, ahyan syabitah ing nguni.
40. Ya cahya pan tegesipun, kang gumilang ning baresih, kang tansah kinawikanan, kang ingilo kang pinanggih, jroning pati aran Adam, idhofi sadurung neki.
41. Sirik ana wujudipun, ing panrimba ran johar ning, kapingneme johar awal, johar awal mutyara di, sesoca raga kumala, johar aran adi kapi.
42. Witing upama ping pitu, kang myarsa sabdaning gusti, ruh idhofi ta wujudnya, kang aneng dzate mutliqi, ruh sumendhe ing Dzatullah, ingaranan ruh idhofi.
43. Johar awal iya iku, kang ingaran sholat da’im, sholat da’im tan kalawan, met toya wudhlu khadasi, sholat batin sabenernya, mangan turu syahwat ngising.
44. Iya dadi sholatipun, af’ale dadi pepuji, johar wau kumpul tunggal, sasuker ananing widi, anane – anane Allah, den kendheh anane nguni.
45. Lir kelir lan wayangipun, wayang tan ngawruhi kelir, hiya junub sunar-awedya, kang resik jisim mireki, hiya Muhammad badan Allah, Muhammad tan ana keri.
46. Hidayat pan imanipun, gagentenira Hyang Widi, ingaranan Rasulullah, Muhammad kang badan mukmin, ruh mukmin apandukiya, ruh idhofi iman neki.
47. Iman maksum wastanipun, kang antuk panutan jati, pan mangkono kawruhira, yen nora urip pireki, iku padha lawan kewan, yen tan wruh wuwus kang riyin.
48. Mengku iku nora wurung, tan weruh selami reki, yaiku pati kesasar, kupur kapir badan neki, dene wus wruh ujar ika, sakeh warana ngawruhi.
49. Pangeran tan ana telu, panutan Muhammadinil, pan sejatine wong kufar, kapire patang pedhati, ewuh tanpa panganutan, feqir parek kufur kafir.
50. Feqir parek lawan kufur, krana nira ingkang feqir, wuta tuli datan ana, suwarga neraka iki, feqir tan parek pangeran, tan ana wujude iki.
51. Tan anembah pujinipun, krana nira feqir kadi, hya ingkang feqir dzatullah, iku jatine Hyang Widi, patine feqir manungsa, pesthine Allah pribadi.
52. Iya yen dzatullah iku, iya anane kang feqir, ruh idhofi aran iman, ruh idhofi tunggal kang wit, iman tauhid aranira, ya Allah ya Muhammadi.
53. Taukhid hidayat sireku, tunggal lawan sang Hyang Widi, tunggal sira lawan Allah, uga donya uga akhir, ya rumangsana pangeran, ya Allah ana nireki.
54. Ruh idhofi sireku, makrifat ya den arani, uripe ingaranan Syahadat, urip tunggil jroning urip sujud rukuk pangasonya, rukuk pamore Hyang Widi.
55. Sekarat tanana nyamur, ja melu sira wedi, lan ja melu-melu Allah, iku aran sakaratil, ruh idhofi mati tanana, urip mati urip.
56. Den rumangsa ana neku, uripe Allah puniki, yeku urip kene-kana, sastra lip gurokna kaki, jabar jer pese uninganya, ingkang weruh kafir syirik.
57. Satuhune iya iku, kang tan wruh ing araneki, kang sholat sipat pangeran, Prabete kawula gusti, kang sholat jatine raga, hya kang sholat iman urip.
58. Datan nyawa huripipun, lam tamsyur iya af’aling, sholate purba wisesa, yektine kawula gusti, iku jatine Hyang Sukma, ruh idhofi taning mukmin.
59. Sagung ruh astanipun, ya ana ing ruh idhofi sipat jamal, kahelokane dzatullah, ruh idhofi jeneng maqam, kang kubur Rosulullahi.
60. Sarat jisim latif iku, tesih rip tan keneng pati, tejane kang ruh punika, tanpa jasad dhingdhing ari, sasmitane sifat jamal, sifat jamal sasmitaning.
61. Johar awal mayit iku, sasmita sirna ananing, ya iku kang pati padha, mangkono yen wis mati, donya urip ing akhirat, tlung dina perkara dadi.
62. Saking bapa saking babu, Ba pangeran tunggal katri, yeku sasmita tlung dina, kang titipan pitung ari, mulih iku kang titipan, titipan kadi ing nguni.
63. Pan taukhid makrifatipun, titipan sedasa katri, iku iya kang titipan, semune kang pitung ari, yen angis metokaken toya, sing cipta netra yekurip.
64. Lir duk uninge saking nur, king cahya pinangka neki, iku semune karuna, dene mengku iki sami, sira mati sun kelangan, mati sirna ngawandesi.
65. Kadi pundi semonipun, sami wrasta ing sakehing, Allah Muhammad pan tunggal, nyatus tunggal wujud neki, sasmita oleh ing cahya, cahyane Muhammad jati.
66. Tunggal karo yen manuwun, ruh jasad ilang sajroning, pangayune sewu dina, nora ana ingkang keri, olihe sampun sampurna, sampurna kaya duk uning.
67. Syeh Melaya trang tyasipun, miyarsa weling ngireki, ing guru Syeh Mahyuningrat, pan remen tan purun mijil, neng jero garba tur sembah, wuwuse lir madu gendhis.
PUPUH VI
DHANHANGGULA
1. Yeng mekaten kula mboten mijil, sampun eca ning ngriki kewala, mboten wonten sengsarane, tan niyat mangan turu, mboten arip mboten angelih, mboten rasa kangelan, tan ngeres tan linu, amung nikmat lan munfangat, Nabi Khidir lingira iku tan keni, yen nora lan antaka.
2. Sang saya sih mring jeng Nabi Khidir, marang kaswasih ingkang panedha, lah iya den awas bae, mring pamurunging laku, aja ana sira karemi, den bener den waspada, ing anggep pireku, yen wis kasikep ing sira, aja humung den anggo parah yen anglir, yeku reh pepingitan.
3. Nora kena yen sira rasani, lan sesama samaning manungsa, yen nora lan nugrahane, yen nana nedya padu, angrasani rerasan iki, yen teka kalahana, ja nganti kabanjur, ja ngadekaken sarira, aywa kraket marang wisayaning ngaurip, balik sikepan uga.
4. Kawisayan kang marang ing pati, den kahasta pamanthenging cipta, rupa ingkang sabenere, senengker buwaneku, urip datan ana nguripi, datan antara mangsa, iya ananipun, pan wus ana sarira, tuhu tunggal sejene lawan sireki, tan kena pisahenna.
5. Datan weneh sangkanira uni, tunggal sapakertining buwana, pan tuhu pamiharsane, wus ana ing sireku, pamirsane sukma sejati, iya tan klawan karna, ing panggulanipun, iya tan kalawan netra, karnanira netranira kang kinardi, ana anenging sira.
6. Dhohire sukma wus na sireki, bathinira kang ana ing sukma. Hiya mangkene teterape, kadya wreksa tinutu, ananing kang kukusing geni, sarta kalawan wreksa, lir toya lan alun, kadya minyak aneng pohan, raganira ing reh obah lawan mosik, iya lawan Hyang Sukma.
7. Yen wruh pamore kawula Gusti, sarta sukma kang sinedya ana, den wertani sira anggone, lir wayang sariraku, saking dhalang solahe ringgit, mangka panggunge jagad, kelir badanipun, amolah lamun pinolah, sak solahe kumedhep miharsa neki, tumindak lan pangucap.
8. Kang wisesa amisesa sami, datan antara pamore karsa, jer tanpa rowa rupane, wus ana ing sireku, umpamane pahesan jati, ingkang ngilo Hyang Sukma, wayangan puniku, kang ana sajrone kaca, iya sira jenenge manungsa jati, rupa sajrone kaca.
9. Luwih ageng kalepasan iki, lawan jagad ageng kalepasan, kalawan luwih lembute, salembute banyu, apan lembut kamuksan iki, liring lembut alitnya, sa aliting tengu, pan maksih alit kamuksan liring luwih amisesa ing sakelir, lire lembut alitnya.
10. Bisa nukma ing agal alit, kalimputan kabeh kang rumangkang, gumremet tanpa bedane, kaluwihan satuhu, luwih iya desra nampani, tan kena ngendelena, hing warah lan euruk, den sanget panguswanira, badanira wasuhen nggenira ngungkin, wruha rungsite tingkah.
11. Wuruk iku pan minangka wiji, kang winuruk umpamane papan, poma kacang lan kedhele, yen sinebar ing watu, yen watune datan pasiti, kudanan kapanasan, yekti nora thukul, lamun sira wiceksana, ningalira sirnakna tingalireki, dadya tingal sukmasa.
12. Rupanira swaraning ugi, ulihna marang kang duwe swara, jer sira angaku bae, selisih kang satuhu, nanging aja sira duweni, pekareman kang liyan, mung marang Hyang Agung, dadine angraga sukma, obah usikira wus dadi sawiji, nywarara anggepira.
13. Yen dadiya anggepira yekti, yen nrasaha rara meksih was-was, kena ing rengu yektine, yen wus sawiji sawujud, sakrenteging tyas sireki, apa ingkang cinipta ana, kang sinedya rawuh, wus kawengku aneng sira, jagad kabeh jer sira minangka yekti, gegenti den asagah.
14. Yen wus mudheng pratingkah puniki, den awingit sarta sabah-sabab, sabab amor pangakone, nanging ngibaratipun, ing sakedhap tan kena lali, dhohire sasabana, kawruh patang dapur, padha anggepen sedaya, kalimane kang siji iku premati, kanggo ing kana-kana.
15. Liring mati sajroning ngahurip, iya urip sajroning pejah, urip bae selawase, kang mati nepsu iku, badan dhohir ingkang nglakoni, katampan badan kang nyata, pamore sawujud, pagene ngrasa matiya, Syeh Melaya den padhang sira nampani, wahyu prapta nugraha.
16. Lir sasngka katerangan riris, praptaning wahyu apan nirmala, sumilak ilang regede, angling malih nulya rum, Nabi Khidir manis aririh, tan ana kang pinaran, kabeh wus kawengku, tanana ingulatana, kaprawiran kadigjayan wus kawuri, kabeh rehing ngayuda.
17. Telas wulangnya jeng Nabi Khidir, Syeh Melaya ing tiyas keweran, weruh ing namane dhewe, hardaning tyas pan wus muluk, tanpa elar anjajah batin, sawengkone jagad raya, angga wus kawengku, mentes sak matining basa, sahinggane sekar maksih kudhup lami, mangke mekar ambabar.
18. Wuwuh lan gandanireki, wus kena kang pancaretna nulya, kinen medal sing hargane, pan sampun medal gupuh, angulihi alame lami, Nabi Khidir ngandika, Melaya sireku, wis tinarima Hyang Sukma, lulus saking gandane kasturi jati, pepanasing tyas sirna.
19. Wus leksana salekering bumi, ujar sira wruh pitakonira liring wardaya malane, den mantep panrimeku, dipun kadi ngangge sutradi, maya-mayaka sarira, reh kang sarwa alus, sinukma masingemasan, Harja satya sinatya manik memanik, wruh pakenak ing tingkah.
20. Dipun alus budenira iki, wernaning dyah kita eki sumekar, kasturi jati namane, pratandha datan kerup, hing pangawikan manah deng lungit, ngongkabana kabisan, kawruh nyawa kliru, miwah iku nata nira, busanane kawilet tuliya sari, ya destar nyampingira.
21. Mangka pangemut katon ing nguni, mati duk aneng jro garbaning wang, cahya kawang-kawang dheweke, kang abang kuning iku, pamurunge laku ngadhangi, ya kang putih kang tengah, sidane pangaku, klima iku den waspada, den kahasta sanalika ajalali, den tuhu ambekira.
22. Saking marmeng sun karya ling aling, pambengkase sum’ah jabariyah, den esthi siyang dalune, pan kathah nggen sun weruh, pratingkahe para maharsi, kang padha kaluputan, hing pangeguhipun, pangucaping kawruh ira, wus abener wekansan mati adadi, kawilet ing trap trapan.
23. Ana ingkang adadi ing peksi, amung mulih pencokan kewala, kayu kang becik warnane, arsa aneng nagasantun, ana tanjung ana waringin, temah ing pinggir pasar, engkuk mangkruk-mangkruk, angungkuli wong sapasar, pindha kamukten sepele kang pinurih, kasasar ambelasar.
24. Ana ingkang anitis paraji, sugih brana miwah sugih garwa, ana kang nitis putrane, putra kang arsa mengku, karesmene wong siji-siji, samiya tuk kaluwihan, ing panitisipun, yen mengkuha jeneng ing wang, durung harsa amangga-amrih pribadi, sadyaku ingaranan.
25. Tataning wada kang datan pesthi, durung jumeneng jalma utama, ingkang mangkono anggepe, pangrasane anemu, suka sugih lan wruh ing yekti, yen nuli nemu duka, kabanjur kalantur, sak nggone nitis kewala, tanpa wekas kangelan tan nemu kasil, tan bisa babar pisan.
26. Yen luputa anyakra bawani, apa karemane aneng donya, ing pati marang tibane, ing kono karemipun, nora kuat panyanggi pati, keron tan kasamaran, milah wawor sambu, abote oleh kamulyan, nora kena toleh maring anak rabi, sajrone wruh wekasan.
27. Yen luputa pitakone bumi, luhung sira aja dadi jalma, satogampang pretikele, sirnane tanpa tutur, yen wis sira benering kapti, langgeng tanpa kerana, hangga buwaneku, humeneng tan dadi sela, eningira iya nora dadi warih, werta tanpa tuduhan.
28. Ling ning pandhita anenakapi, ingkang muksa inggih karsa nira, anjungkung kasutapane, nyana kena den angkuh, tanpa tuduh mung tapa neki, tan mawi puruhita, suwung nguwung-uwung, mung kaciptanira nika, durung antuk wuruk pratikele urip, pangukuh ngaya wara.
29. Tapa nira nganti kuru aking, wus mangkana dennya mrih wekasan, datanpa tutur sirnane, kematengan tapa wus, dene pratikel kang ngaluwih, tapa iku minangka, reragi panemu, ngilmu kang minangka ulam, tapa tanpa ngilmu iya nora dadi, yen ngilmu tanpa tapa.
30. Jeplang-jeplang nora wurung dadi, asli nora wedhar hing trapnya, kacegah agung bejane, yekti ta dhadhanipun, apan akeh pandhita sandi, wuruke sinatengah, mring shohabatipun, sobate landhep priyangga, kang linempit winedhar raose nuli, ngaturaken gurunira.
31. Pamudhare mung grahita neki, nguni uni durung mambu warah, saking tan eco raose, matur ing gurunipun, langkung ngungun tumut nganggepi, sinasmaha kelawan, pandhita gung agung, wus pesthi anggepe nyata, iku wahyu nugraha dhawuh pribadi, sobat ingaken anak.
32. Sinungga sungga agung tinari, mering guru yen wus arsa mejang, tan tebih sanding enggone, sobat katemah ing guru, guru dadi sobating bating, lepasing panggrahita, nanduk sarwa wahyu, yeku utama kalihnya, guru sobat kalihe sami ngudani, satengah kang pandhita.
33. Kudu tinut sak ujare iki, dene lumakua sinembah, nengt pucuk gunung enggone, swaranira anguwuh, angebeki pertapaneki, yen ana wong amarak, wekase berudul, lir gong beri kang tinembang, pan kumarampyang binuka kang tanpa isi, tuna kang puruhita.
34. Aja kaya mengkono ngahurip, dipun kadi wayang, kiuudang aneng enggone, blincongipun, ngibarate panggungireki, damare ditya wulan, kelir alam suwung, ingkang nengga cipta keboh bumi tetepe adege ringgit, sinangga maring nanggap.
35. Kang ananggap aneng dalem puri, datan den usik olah sakersa, Hyang Premana dhedhalange, wayang pengadekipun, ana ngalor ngidul tuwin, yeku ngulon lan wetan, sliring solahipun, pinolahaken ing dhalang, yen lumaku linakokken kabeh iki, linabehken hing dhalang.
36. Pangucape ngucapaken ugi, yen kumecap ilate, anutur-nuturake, sakarsa karsanipun, kang anonton tinoleh sami, tinonaken ing dhalang, kang ananggapiku, sajege mangsa weruha, tanpa rupa kang ananggap neng jro puri, tanpa werna Hyang Sukma.
37. Hyang premana denira angringgit, ngucapaken hing sarira nira, tanpa awas sesamane, wimbuh pan ora tumut, hing sarira upamaneki, kang miyak munggeng pohan, geni munggeng kayu, anderpi tan katedah, angelir pintaka ing kayu panggerit, landhesan sami wreksa.
38. Panggeriting polah dening angin, gesenging kayu kukusnya medal, datan antara genine, geni kelawan kukus, saking kayu wijile neki, purwa eling duk kala, mula-mulanipun, kabeh iki kang gumelar, saking ghoib manungsa tinitah luwih apan ingaken rahsa.
39. Mulya dhewe saking kang dumadi, aja mengeng ciptanira tunggal, Tunggal sapari bawane, isine buwaneku, nganggep siji manungsa jati, mengku sagung kahanan, hing manungsa iku, kawisesane satunggal, panukmane salire jagad dumadi, tekad kang wus sampurna.
40. Lahya uwis Syeh Melaya aglis, baliya marang Pulo Jawa, pan sira uga jatine, Syeh Melaya agupuh, nembah matur angasih asih, aran kalingga murda, amba setya tuhu, Nabi Khidir nulya sirna, Syeh Melaya katon aneng jeladri, datan nrasa neng toya.
41. Syeh Melaya sanget pangasweki, ing pengete guru kang sampurna, pan sanget eling elinge, hardaning tyas amengku, isining rat kajajah batin, mantep premati basa, kaeruh tan kaliru, sinukma mas ingemasan, lulus saking badane kasturi jati, pepanase tyas sirna.
42. Wus mangkono Syeh Melaya mulih, wus tan mengeng ing batin gunmawang, nora pangling sarirane, panuksmaning sawujud, nanging dhohir sasat paningit, reh sarehing satriyan, linakon winengku, pamurwane jagad raya, pan wus ngagem batine nora anilih, lir sato lan rimbagan.
43. Wus tanana ngahurip, dennya tampa ing guru wisiknya, tanana samar-samare, wisiking gurunipun, wus tamat karegem aneng ati, nastiti kang angiman, angestokken guru, sarta lan kecaping rahsa, pan dinadar ing nala suci awening, nyata lamun nugraha.
44. Temene ingkang guru sayekti, kang wus sirna jasade tanana, kagiwang ana nalane, wus tumrap walinipun, dene sanggya sukering ati, padhang dunya akherat, wus resik atemu, sukci langgeng pan wus murah, mulya suka ing sapari polah neki, pana tanpa kerana.
45. Pan wus panakacipta ning wangsit, tan asamar hing pati kacipta, wus samar ing waragane, marga ing pati luhung, kang sinelir maring Hyang Widi, tanana rasa rumangsa, rahsa kadi iku, sirnane tinggal punika, pan wus sirna alanggeng sukci mulyadi, mulya kadi duk kuna.
46. Nora samar sejatine pati, kang rumekseng pejah ing sekala, tan rumangsa hing pejahe, ingkang rusak ing nepsu, raga sukma kerta negari, suka mulya merdika, wus tumraping kayun, jumeneng ing purba nira, padha bersih langgeng suci wus weradin, wus wruh sirnaning tunggal.
47. Datan samar satibane pati, kang sampurna kang sinelir ika, tanana keksi wujude, kasampurnan puniku, pan wus karta negara singgih, anir nakkenriku, alam pepitu wus sirna, pan wus bersih sirnane alam puniki, tunggale ibaraha.
48. Ratuning alam pan wus kahesti, abirawa wastane punika, alam nenem iku lire, sirna wetan puniku, lawan kulon kidul lor iki, ing luhur lawan ngandhap, miwah kayu watu, tuwin bumi alit ika, ngawang nguwung kumandhang ing angin warih, hya mung alam dahana.
49. Surya candra alam puniki, tiga likur alam panasaran, dene iku anyar kabeh, pan sami qodimipun, Syeh Melaya pan nora pangling, yen iku penasaran, kang jati pang sampun, ratuning alam sedaya, kang nirmakken mung alam ambiyak iki, ambiyak mrik gundanya.
Langganan:
Postingan (Atom)






