Dodiek Adyttiya Dwiwanto
Sekali lagi, novel berbalut kisah peristiwa kelam 1965. Satu lagi karya terbaik Leila S. Chudori setelah 9 dari Nadira.
 |
Judul buku: Pulang Penulis: Leila S. Chudori Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Cetakan: pertama, Desember 2012 Tebal: 464 halaman |
“Rumah adalah tempat keluargamu menetap,‘ aku menyusul Dimas ke teras. Mencoba mempertahankan pendirianku tanpa menyinggungnya.
“Rumah adalah tempat di mana aku bisa merasa bisa pulang,‘ jawab Dimas. Dingin. Datar. (halaman 201).
Dimas Suryo adalah eksil. Dia tidak bisa pulang setelah pecahnya Tragedi
30 September 1965. Dia adalah jurnalis yang menghadiri sebuah pertemuan
jurnalis beraliran kiri di luar negeri. Dimas Suryo pun harus berpindah
negara, berganti pekerjaan, dan lainnya hingga akhirnya tiba di
Prancis.
Bersama sejumlah rekannya yang juga tidak bisa pulang lantaran bakal
ditangkap oleh rezim Orde Baru, Dimas mendirikan restoran di Paris.
Kisah hidupnya pun berlanjut dengan berjumpa perempuan Prancis, Vivienne
Deveraux. Tidak lama berselang, dia ikut menyaksikan peristiwa besar
lainnnya pada Mei 1968 di Prancis.
Kelak, putri Dimas dengan Vivienne, Lintang Utara juga menjadi saksi
peristiwa besar lainnya, Mei 1998 saat Indonesia dilanda kerusuhan besar
tidak lama setelah lengsernya Presiden Soeharto. Lintang berjumpa
dengan Segara Alam, putra dari Hananto Prawiro dan Surti Anandari.
Hananto adalah senior Dimas, sementara Surti pernah dicintai oleh Dimas,
namun kemudian dinikahi oleh Hananto.
Dimas dan sejumlah eksil lainnya tidak dapat pulang meskipun banyak