Kamis, 25 Oktober 2012

BUKU SEJARAH LAMPUNG


FACHRUDDIN

Judul Buku : Sumbangan Untuk Mengenal Sejarah daerah Lampung.
Terjemahan dari Tijdschrift Voor Nederlandch Indie 1874, Deel II
Dengan Judul Asli Bijdrage Tot De Kennis Der Geschiedenis Van De
Lampongs.
Penulis : JEH. Kohler.
Penerjemah : Firdaus Burhan.
Penerbit : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Tahun : 1979/1980

Penerbitan buku yang berjudul “Sumbangan Untuk mengenal Sejarah Lampung” ini merupakan hasil terjemahan dari buku sejarah yang ditulis oleh pihak penjajah dalam Tijdaschrift Voor Nederland Indie, 1874, deel II, te Zalt – Bommel bij Joh. Noman en Zoon, dengan judul asli “Bijdrage tot de kennis der geschiedenis van de Lampongs. Firdaus Burhan berhasil menterjemahkannya ke bahasa Indonesia tahun 1997, ini dilakukan terkait upaya Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Lampung.

Ketika JEH. Kohler menulis buku ini Ia menjabat sebagai Kapitein Civiele en Militaire Gezaghebber der Lampongsche Districten. Kelak Ia berpangkat Mayor Jendral yang tewas dalam penyerangan Kesultanan Aceh. Dan dalam karya penulisan sejarah ini penyajiannya menggunakan kacamata kepentingan Belanda sebagai bangsa penjajah.

Penulisan buku ini sangat dipengaruhi kepentingan Belanda, Belanda menjajah Indonesia dengan alasan untuk menciptakan ketengan dan ketertiban (rust en orde) dalam rangka pembentukan Pax Neorlandica : dimana Pemerintah belanda mengaku mengemban tugas suci (mission sacree) untuk membawa suku suku di Nusantara kea rah peradaban sesuai dengan keinginan pihak Belanda sebagai penjajah.

Olehkarenanya dalam membaca buku ini kita harus pandai pandai memilah milah, mana yang bermanfaat dan memiliki nilai nilai prospektif yang baik, dan manapula yang harus kita taruh ditempat sampah. Nanti akan kita dapatkan uraian dalam buku ini, aktivitas para pejuang Kemerdekaan kita yang dianggap oleh Belanda sebagai tindakan yang anti social, disejajarkan dengan tindakan pengacauan, keonaran, pemerasan, pembajakan, main hakim sendiri dan lain sebagainya. Sementara apapun yang dilakukan oleh belanda adalah sebagai sesuatu yang sangat terpuji adanya.

Namun walaupun demikian fakta fakta yang disajikan dalam buku ini akan bermanfaat bagi kita semua untuk mengenal jatidiri kita sebagai bangsa. Oleh karenanya kita tidak ingin menutup nutupinya, dan penterjemah telah melaksanakan tugasnya untuk mentransliterasi tulisan ini dengan apa adanya. Tentu saja dengan perubahan redaksi disesuaikan dengan tata bahasa Indonesia, agar lebih mudan untuk dapat dimengerti oleh pembaca.

Tulisan yang sejatinya merupakan catatan seorang pejabat pemerintahan penjajah Belanda, sebenarnya isinya lebih banyak berisikan keadaan kampung, lingkungan, transportasi, siapa penduduk, bagaimana kepatuhannya kepada pemerintahan penjajah. Dan tentunya teristimewa mengenai catatan tentang perniagaan. Karena kecenderungan masyarakat untuk berniaga langsung ke Lingga dan Singapura, karena inilah perjuangan Belanda, yaitu mengarahkan perniagaan ini ke Batavia. Dalam artian bahwa hasil perkebunan dan hutan di Lampung agar pada akhirnya jatuh ke Belanda melalui Batavia itu.

Catatan JEH Kohler tentang politik menjadi istimewa, di awal abad ke 19 Belanda banyak mendapat perlawanan dari masyarakat Lampung. Belnda masuk Lampung sebenarnya sejak abad 17. keberhasilan masuk Lampung tidak terlepas dari adanya perselisihan antara Sultan Agung Tirtayasa selaku Sultan Banten dengan putranya sendiri yang bernama Sultan Haji. Tetapi pada abad ke 17 hingga 18 Belanda hanya mampu mendirikan dua buah post untuk mengurus perdagangan lada Lampung, tetapi masyarakat setempat tidak merasakan adanya gangguan dari pihak Belanda.

Awal abad 19 di bawah kepemeruintahan Daendels dan kemudian Hindia Belanda, maka Batavia mulai merencanakan meningkatkan aktivitas politik pemerintahannya di Lampung. Sejak saat itu muncullah reaksi dan perlawanan masyarakat Lampung secara pasang surut dan silih berganti. Sehingga melahirkan rentetan perlawanan panjang yang sangat merepotkan bagi penjajah Belanda. JEH Kohler mencatat beberapa nama yang sering melakukan perlawanan antara lain Raden Intan I, Raden Mengunang, Raden Imbakusuma, Kyai Aria Natabraja, Dalem Sangunratu, Minak Suku Ratu, Minak Binawa Aling, Radin Bangsa Ratu, Dalem Pubangasesa, Raden Intan (cucu Radin Intan 1), putra Raden Imba Kusuna dan lain lain.

Hubungan Lampung Banten.

Berdasarkan catatan JEH Kohler antara Lampung adalah dua dalam satu, satu dalam dua. Apapun yang terjadi di Banten dipastikan akan menggema di Lampung, dan apa yang terjadi di Lampung dipastikan akan berdampak di Banten. Belanda tidak boleh menganggap ringan hubungan Lampung – Banten ini, karena ternyata banyak pemimpin di Banten yang secara diam diam ternyata telah berada di Lampung, mereka memata matai kegiatan belanda, dan bahkan telah menyusun kekuatan guna melakukan perlawanan. Beberapa tokoh penting Banten yang telah siap di Lampung antara lain adalah Haji Wahid, Luru Satu, Wah Nass dan lain lain.

JEH. Kohler mencatat adanya tokoh tokoh Banten yang berkhianat dan melakukan kerjasama dengan Belanda untuk melakukan keonaran dengan mengganggu kemanan di Lampung khususnya dalam arus lalu lintas. Ada juga pihak pihak yang memiliki peran ganda, yaitu dekat dengan Belanda dan sekaligus berhasil dekat dengan pejuang pejuang Lampung, tokoh yang mendua ini dipimpin oleh Sleman.

Yang paling menarik adalah keberhasilan para pejuang Lampung memobilisasi para saudagar, juragan kapal dan petani untuk dipersenjatai, sekalipun sederhana, untuk melakukan perlawanan dengan Belanda. Kelompok ini kelak dibubarkan manakala perjuangan telah dianggap selesai. JEH. Kohler menuliskan betapa banyaknya para pejuang Lampung yang ditangkap Belanda, diasingkan ke Timor dan akhirnya dihukum mati.

Sekali lagi sejarah Lampung ini ditulis berdasarkan kacamata dan kepentingan Belanda sebagai pemerintahan penjajah, sehingga dalam membaca buku ini kita membutuhkan kelincahan dan memilih dan memilah.


Judul Buku : Sumbangan Untuk Mengenal Sejarah daerah Lampung.
Terjemahan dari Tijdschrift Voor Nederlandch Indie 1874, Deel II
Dengan Judul Asli Bijdrage Tot De Kennis Der Geschiedenis Van De
Lampongs.
Penulis : JEH. Kohler.
Penerjemah : Firdaus Burhan.
Penerbit : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Tahun : 1979/1980

Penerbitan buku yang berjudul “Sumbangan Untuk mengenal Sejarah Lampung” ini merupakan hasil terjemahan dari buku sejarah yang ditulis oleh pihak penjajah dalam Tijdaschrift Voor Nederland Indie, 1874, deel II, te Zalt – Bommel bij Joh. Noman en Zoon, dengan judul asli “Bijdrage tot de kennis der geschiedenis van de Lampongs. Firdaus Burhan berhasil menterjemahkannya ke bahasa Indonesia tahun 1997, ini dilakukan terkait upaya Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Lampung.

Ketika JEH. Kohler menulis buku ini Ia menjabat sebagai Kapitein Civiele en Militaire Gezaghebber der Lampongsche Districten. Kelak Ia berpangkat Mayor Jendral yang tewas dalam penyerangan Kesultanan Aceh. Dan dalam karya penulisan sejarah ini penyajiannya menggunakan kacamata kepentingan Belanda sebagai bangsa penjajah.

Penulisan buku ini sangat dipengaruhi kepentingan Belanda, Belanda menjajah Indonesia dengan alasan untuk menciptakan ketengan dan ketertiban (rust en orde) dalam rangka pembentukan Pax Neorlandica : dimana Pemerintah belanda mengaku mengemban tugas suci (mission sacree) untuk membawa suku suku di Nusantara kea rah peradaban sesuai dengan keinginan pihak Belanda sebagai penjajah.

Olehkarenanya dalam membaca buku ini kita harus pandai pandai memilah milah, mana yang bermanfaat dan memiliki nilai nilai prospektif yang baik, dan manapula yang harus kita taruh ditempat sampah. Nanti akan kita dapatkan uraian dalam buku ini, aktivitas para pejuang Kemerdekaan kita yang dianggap oleh Belanda sebagai tindakan yang anti social, disejajarkan dengan tindakan pengacauan, keonaran, pemerasan, pembajakan, main hakim sendiri dan lain sebagainya. Sementara apapun yang dilakukan oleh belanda adalah sebagai sesuatu yang sangat terpuji adanya.

Namun walaupun demikian fakta fakta yang disajikan dalam buku ini akan bermanfaat bagi kita semua untuk mengenal jatidiri kita sebagai bangsa. Oleh karenanya kita tidak ingin menutup nutupinya, dan penterjemah telah melaksanakan tugasnya untuk mentransliterasi tulisan ini dengan apa adanya. Tentu saja dengan perubahan redaksi disesuaikan dengan tata bahasa Indonesia, agar lebih mudan untuk dapat dimengerti oleh pembaca.

Tulisan yang sejatinya merupakan catatan seorang pejabat pemerintahan penjajah Belanda, sebenarnya isinya lebih banyak berisikan keadaan kampung, lingkungan, transportasi, siapa penduduk, bagaimana kepatuhannya kepada pemerintahan penjajah. Dan tentunya teristimewa mengenai catatan tentang perniagaan. Karena kecenderungan masyarakat untuk berniaga langsung ke Lingga dan Singapura, karena inilah perjuangan Belanda, yaitu mengarahkan perniagaan ini ke Batavia. Dalam artian bahwa hasil perkebunan dan hutan di Lampung agar pada akhirnya jatuh ke Belanda melalui Batavia itu.

Catatan JEH Kohler tentang politik menjadi istimewa, di awal abad ke 19 Belanda banyak mendapat perlawanan dari masyarakat Lampung. Belnda masuk Lampung sebenarnya sejak abad 17. keberhasilan masuk Lampung tidak terlepas dari adanya perselisihan antara Sultan Agung Tirtayasa selaku Sultan Banten dengan putranya sendiri yang bernama Sultan Haji. Tetapi pada abad ke 17 hingga 18 Belanda hanya mampu mendirikan dua buah post untuk mengurus perdagangan lada Lampung, tetapi masyarakat setempat tidak merasakan adanya gangguan dari pihak Belanda.

Awal abad 19 di bawah kepemeruintahan Daendels dan kemudian Hindia Belanda, maka Batavia mulai merencanakan meningkatkan aktivitas politik pemerintahannya di Lampung. Sejak saat itu muncullah reaksi dan perlawanan masyarakat Lampung secara pasang surut dan silih berganti. Sehingga melahirkan rentetan perlawanan panjang yang sangat merepotkan bagi penjajah Belanda. JEH Kohler mencatat beberapa nama yang sering melakukan perlawanan antara lain Raden Intan I, Raden Mengunang, Raden Imbakusuma, Kyai Aria Natabraja, Dalem Sangunratu, Minak Suku Ratu, Minak Binawa Aling, Radin Bangsa Ratu, Dalem Pubangasesa, Raden Intan (cucu Radin Intan 1), putra Raden Imba Kusuna dan lain lain.

Hubungan Lampung Banten.

Berdasarkan catatan JEH Kohler antara Lampung adalah dua dalam satu, satu dalam dua. Apapun yang terjadi di Banten dipastikan akan menggema di Lampung, dan apa yang terjadi di Lampung dipastikan akan berdampak di Banten. Belanda tidak boleh menganggap ringan hubungan Lampung – Banten ini, karena ternyata banyak pemimpin di Banten yang secara diam diam ternyata telah berada di Lampung, mereka memata matai kegiatan belanda, dan bahkan telah menyusun kekuatan guna melakukan perlawanan. Beberapa tokoh penting Banten yang telah siap di Lampung antara lain adalah Haji Wahid, Luru Satu, Wah Nass dan lain lain.

JEH. Kohler mencatat adanya tokoh tokoh Banten yang berkhianat dan melakukan kerjasama dengan Belanda untuk melakukan keonaran dengan mengganggu kemanan di Lampung khususnya dalam arus lalu lintas. Ada juga pihak pihak yang memiliki peran ganda, yaitu dekat dengan Belanda dan sekaligus berhasil dekat dengan pejuang pejuang Lampung, tokoh yang mendua ini dipimpin oleh Sleman.

Yang paling menarik adalah keberhasilan para pejuang Lampung memobilisasi para saudagar, juragan kapal dan petani untuk dipersenjatai, sekalipun sederhana, untuk melakukan perlawanan dengan Belanda. Kelompok ini kelak dibubarkan manakala perjuangan telah dianggap selesai. JEH. Kohler menuliskan betapa banyaknya para pejuang Lampung yang ditangkap Belanda, diasingkan ke Timor dan akhirnya dihukum mati.

Sekali lagi sejarah Lampung ini ditulis berdasarkan kacamata dan kepentingan Belanda sebagai pemerintahan penjajah, sehingga dalam membaca buku ini kita membutuhkan kelincahan dan memilih dan memilah. Tetapi buku yang dicetak secara terbatas ini perlu juga untuk dibaca baca. Tulisan ini dan beberapa tulisan berikutnya, saya sajikan dengan gaya populer.

Daftar Bibliografi Kuno Tentang Lampung



Drs. Bintang Wirawan

A. Th. van Ginkel, 1917, De Emigratie en kolonisatieproeven der Indische Regeering.

A.J. Koens, 1915, Over Kolonisatiepreven in de Residentie Benkoelen.

A.M. Djuliati Suroyo, 2000, Eksploitasi Kolonial Abad XIX, kerja wajib di Karesidenan Kedu Verslag van der Centraal.

Ahmad Dt.Batuah/A.Dt.Madjoindo, 1956. Tambo Minangkabau, Balai Pustaka, Djakarta,

Anonim, Afs. No. 4405/20, 10 October 1905

Anonim, Besluit no. 18 tanggal 31 Mei 1939

Anonim, Besluit no. 30 tanggal 29 Januari 1937

Anonim, Koloniaal Verslag tahun 1913

Anonim, Koloniaal Verslag tahun 1915

Anonim, Koloniaal Verslag tahun 1916

Anonim, Koloniaal Verslag tahun 1917

Anonim, Koloniaal Verslag tahun 1918

Anonim, Koloniaal Verslag tahun 1919

Bernet Kempers, A. J. 1959, Ancient Indonesian Art. Cambridge.

BHATTA,, J.N. , 1957, Soal2 transmigrasi di Indonesia (Istimewa Sumatra Selatan) / Regarding
International Migration in Indonesia (with special reference to S. Sumatra). Djakarta, Balai Geografi, Direktorat Topografi Angkatan Darat, Kementerian Pertahanan. [VIII], 64, 76 pp. + 25 (partly folding) maps and graphs. Monograph on transmigration in Indonesia, especially with regards to the migration of people from Java to South Sumatra since 1905. With many statistical data. Texts in Indonesian and English.

BROERSMA, DR. R. 1916, De Lampongsche Districten. Batavia, Javasche Boekhandel en Drukkerij. Illustrated with 24 b/w photo plates and a folding map.VIII, 325 pp. Orig. gilt-lettered brown cloth. Sm. 4to. A very good copy. Encyclopaedic work on the Lampung-district of South Sumatra investigating the possibilities of the economic development of the region together with extensive notes on the history, ethnography, geography, legal system, trade, agriculture, colonization by Javanese immigrants, railroad systems etc. of the area. (B).

BRUININK-DARLANG, CHRISTIEN, , 1993, Hervormingen in de koloniale periode. Verbeteringen in het Nederlands-Indisch strafstelsel in de periode 1905-1940. . Arnhem, Gouda Quint BV. Illustrated, maps. XVI, 425 pp.; bibliography; index. Sewn, orig. decorated wrs. Study on the penitentiary system and connected reforms in the Netherlands East Indies in the period from 1905 and 1940, Trade edition of a thesis. With a summary in English.

Burger, Prof. Dr. D.H, ,1957, terj. Prajudi Atmosudirdjo, Prof.Dr.Mr., Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, J.B. Wolters, Djakarta, jilid I.

C.C.J. Maassen, 1937, "De Javaansche Landbouwkolonisatie in de Buitengewes.

C.J. Hasselman, 1914, Algemeen overzicht van de uitkomsten van het eivaartonderzoek, gehouden op Java en Madura in 1904-1905. 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

CANNE, H. D., 1862, Bijdrage tot de geschiedenis der Lampongs. Batavia-'s Hage, Lange & Co.-

M. Nijhoff. 18p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 11, Vierde Serie Deel 2.

Chijs, J. A. van der, 1877, Catalogus der Ethnologische Afdeeling van het Museum van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Batavia.

CORNETS DE GROOT, H. F. W., 1882. Nota over de slavernij en het pandelingschap in de residentie Lampongsche Districten. Batavia-'s Hage, W.Bruining & Co.-M. Nijhoff 35p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 27.

D.C. Hooyer, 1912, Emigratie naar de residentie Benkoelen.
Dalom paksi (Buwai Menyata) -S.Yusputra, 1975, Kuntara Raja Niti Tanjungan Ketibung (terj. b. Indonesia).

DEPARTEMEN P dan K, 1979/1980, Sumbangan untuk mengenal sejarah daerah Lampung, terjemahan dari Tijdschrift voor Nederlandsch Indie 1874 Deel II, judul asli: Bijdrage tot de kennis der Geschiedenis van de Lampongs, (Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya - Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, terjemahan Firdaus Burhan).
Departemen P dan K, 1980, Adat istiadat daerah Lampung, Pusat Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah tahun 1977/1978.

DREWES, G. W. J. 1961. De Biografie van een Minangkabausen peperhandelaar in de Lampongs naar een Maleis handschrift in de Marsden-Collection te London uitgegeven, vertaald en ingeleid. 's-Gravenhage, Martinus Nijhoff, (4),159 p., index, 8vo wrs. Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel XXXI.

DU BOIS, J. A., 1852, De Lampongsche distrikten op het eiland Sumatra. Zalt-Bommel, Joh. Noman en Zoon. 31,25p., 8vo wrs. Original extract from the periodical : Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, 14de Jaargang.

EEKHOUT, R.A. , 1891, Aanleg van staatsspoorwegen in Nederlandsch Borneo en Zuid-Sumatra. Leiden, Brill. With 2 large folding maps. 31 pp. Sewn, orig. wrs.

Encyclopaedie Van Nederlands Indie, 1896, 'sGravenhage, Martinus Nijhoff, E.J. Brill, Leiden

Encyclopaedie van Ned.Indie, 2e deel, 1918. ‘sGravenhage, Martinus Nijhoff, E.J. Brill, Leiden

ESCHER, Dr. B.G. 1928. Krakatau in 1883 en in 1928. Amsterdam, K.N.A.G., 29 p., 11 figs., 2 folding maps (1 large), 2 tables, bibliography, 8vo wrs. Original extract from the periodical

K.N.A.G. (Koninklijk Nederlands Aardrijkskundig Genootschap)., Vol. XLV.

Galis, K. W. 1949, "Een en ander over de sociale structuur in Kaur", Tijdschrift voor Indische
Taal-, Land-, en Volkenkunde, LXXXIII: 27-58, 247-285.

Gittinger, Mattiebelle, 1972, "A Study of the Ship Cloths of South Sumatra: Their Design and Usage". Ph.D. dissertation, Columbia University, New York.

H.J. Heeren, 1979, Transmigrasi di Indonesia, Hubungan antara transmigrasi dan penduduk asli dengan titik berat Sumatra Selatan dan Tengah,

H.R. Rookmaker, 1937, De Javanen kolonisatie in de Lampongsche Districten,

HARREBOMÉE, G. J. 1885.Eene bijdrage over den feitelijken toestand der bevolking in de Lampongsche Districten. Rangen en waardigheden, uitspanningen en kleeding, godsdienst, huwelijk en de positie der vrouw. 's Gravenhage, Martinus Nijhoff, 24p., 8vo modern wrs. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, Deel 34. Reprint.

HAZEU, G. A. J. 1905. Een beschreven koperen plaat uit de Lampongs. Batavia-'s Hage, Albrecht & Co.,-M. Nijhoff, 12p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 48.

HELFRICH, O. L. 1891. Lampongsche raadsels, spreekwoorden en spreekwijzen. 'sGravenhage, Martinus Nijhoff, 8p., 8vo wrs. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, Vijfde volgreeks, Deel 6.

Hilman Hadikusuma SH, Persekutuan Hukum Adat Pubiyan Telu Suku dan fungsinya bagi
hukum adat lampung pada masa sekarang, Bunga Rampai Adat Budaya I, FH.Unila, 1973.

Hilman Hadikusuma, Hukum Adat Lampung Pepadun, Fajar Agung, 1988.

Hilman Hadikusuma, S.H Kuntara Raja Niti Pubiyan Telu Suku. 1986

Hilman Hadikusuma, S.H. Hukum Pidana Adat, Alumni Bandung. 1984

HISSINK, J. H. 1904. Het Pepadonwezen en zijne attributen in verband met de oude staatkundige indeeling in Marga's en het huwelijks- en erfrecht in de afdeeling Toelang Bawang der Lampongsche districten. Batavia-'s Hage, Albrecht & Co.,-M. Nijhoff, 99p, 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 47.

HOËVELL, W. R. van., 1862. Blik op de Lampongsche distrikten en hunne bevolking. Zalt-Bommel, Joh. Noman en Zoon, 11p., 8vo wrs. Original extract from the periodical : Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, 24ste Jaargang.

HOËVELL, W. R. van. 1856-1857. De Lampong's. Zalt-Bommel, Joh. Noman en Zoon, 28,49,29p., 8vo wrs. Original extract from the periodical : Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, 18de & 19de Jaargang.

HOËVELL, W. R. van. 1862. Over de landbouw-produkten der Lampongs. Zalt-Bommel, Joh. Noman en Zoon, 17p., 8vo wrs. Original extract from the periodical : Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, 24ste Jaargang.

Hoop, A. N. J. Th. a Th. van der, 1949, Indonesian Ornamental Design. Bandoeng.
Indsich Verslag, Indisch Verslag 1941

J. van der Zwaal, 1936, De Javanen Kolonie's Gedong Tataan en Wonosobo in de Lampongsche Disricten,

J. van. Breda de Haan, 1915, Kolonisatie op de Buitenbezittingen,

J.W.J Wellan. 1932, Zuid Sumatra
Kampto Utomo, 1975, Masyarakat Transmigrasi Spontan di daerah Wai Sekampung (Lampung).
Karl J. Pelzer, 1948, Pioneer Settlement in the Asiatic Tropics, Studies in Land Utilization and Agricultural Colonization

KEMP. P.H. VAN DER, 1899. Raffles' bezetting van de Lampongs in 1818 . 's-Gravenhage, M. Nijhoff, 58 pp. - Extract BKI, Vol. 50, 1899 (pp. 1-58). Sewn, modern blind wrs. Fine, unopened copy. (C).

KIT 202, Memorie van Overgave Residentie Benkolen

KIT 203, Memorie van Overgave Residentie Benkoelen

KIT 930, Memorie Betreffende de Javanen Kolonisatie

KIT 936, Memorie van Overgave onderafdeeling Recijang 1928

Koentjaraningrat, 1975, Kebudayaan Jawa,

Kroef, J. M. van der, 1954, "Dualism and Symbolic Antithesis in Indonesian Society", American Anthropologist, 56 :847-862.

KÜHR, C. A. H. 1879. Eene proclamatie van Sir Thomas Stamford Raffles aan de Margahoofden der Lampongsche Distrikten. 's Gravenhage, Martinus Nijhoff, 7p, 8vo wrs. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, Deel 26.

KÖHLER, J. C. 1854. Verslag eener reis in de Lampongsche Distrikten. Batavia, Lange & Co., 21p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 3.

KÖHLER, J. C. 1856. Verslag eener reis door een gedeelte der Lampongsche Distrikten. Batavia,

Lange & Co., 18p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 5.

Langewis, L., and Frits Wagner, 1964, Decorative Art in Indonesian Textiles. Amsterdam.

LEUPE, P. A. 1875. Bijdrage tot de geschiedenis van den zeeroof in den Oost-Indischen Archipel 1800-1802. Batavia-'s Hage, Bruining & Wijt-M.Nijhoff, 66p., with 2 folding maps (De nieuw Nigori van de Zeeroversmet hun fortres, Rivier van Lampong en Bagedange & vernielde Campong gelegen in den Rivier Lampong Poeti), 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 22.

Loeber, J. A. 1903, "Het weven in Nederlandsch-Indie", Bulletin, Koloniaal Instituut (Haarlem) No. 29.

OPHUIJSEN, C. A. van. 1896. Lampongsche dwerghertverhalen. 's Gravenhage, Martinus Nijhoff, 34p., 8vo wrs. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, Deel 46).

Op't Land, C. 1968-69 "Een merkwaardige 'Tampan Pengantar' van Zuid-Sumatra", Kultuurpatronen, 10-11: 100-117.

Patrice.Levang, 2003, Ayo Ke Tanah Sabrang, Transmigrasi di Indonesia (terjemahan),

Purwanta Iskandar, 1976, "Desa Transmigrasi Sidomulyo 1937,

Roos, K. H. F. 1890, "Aanteekeningen over de afdeeling Kaoer in de residentie Benkoelen",
Tijdschrift van het Binnenlandsch Bestuur. IV: 14-33, 92-112, 145-160.

ROVERE van BREUGEL, Jonkhr. J. de. 1856. Beschrijving van Bantam en de Lampongs. Amsterdam, Batavia, Frederik Muller, van Haren, Noman en Kolff, 54p., 8vo wrs. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, Deel 5. - Reprint.

Scharer, Hans, 1963, Ngaju Religion, The Conception of God Among a South Borneo People. The Hague. Translation of Die Gottesidee der Ngadju Dajak in Su'd-Borneo. 1946. Leiden.

STECK, F. G. 1862. Topographische en geographische beschrijving der Lampongsche distrikten. Amsterdam, Batavia, Frederik Muller,G. Kolff, 45,4p., 8vo wrs. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, Nieuwe volgreeks, Deel 4.

Steinmann, Alfred, 1937, "Les 'tissus a. jonques' de sud de Sumatra", Revue des Arts Asiatiques, XI: 131-143.

Steinmann, Alfred, 1938-39, "Uber die sogenannte Schiffstiicher von Sudsumatra", Bulletin der

Schweizenschen Gesellschaft fur Anthropologie und Ethnologie, 15: 5-6.

Steinmann, Alfred, 1946, "The Ship of the Dead in the Textile Art of Indonesia", Ciba Review, 52: 1885-1896.

Steinmann, Alfred, 1965, "Das Seelenschiff in der Textilkunst Indonesiens", Kultuurpatronen, 7:23-39.

Suhartono, 1955, Bandir-bandit Pedesaan di Jawa, Studi Historis 1850-1942,

Tillman, G. 1938a, "lets over de weefsels van de Kroe" Districten in Zuid-Sumatra", Maandblad voor Beeldende Kunsten, XV: 10-16.

Tillman, G. 1938b, "lets over de weefsels van de Lampong'sche Districten in Zuid-Sumatra", Maandblad voor Beeldende Kunsten.: 131-143.

Tobing, Ph. O. L. 1956, The Structure of the Toba Batak Belief in the High God. Amsterdam.

Turner, Victor, 1967. The Forest of Symbols. Ithaca.

TUUK, H. N. van der. 1869. Brieven van H. N. van der Tuuk, betreffende het Lampongsch. Batavia-'s Hage, Lange & Co.-M. Nijhoff, 49p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 19.

TUUK, H. N. van der. 1883. Lampongsche Pijagems. Batavia-'s Hage, Bruinung & Co.-M. Nijhoff, 17p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 29.
TUUK, H. N. van der. 1869. Proeve van een vergelijkende woordenlijst van Lampongsche tongvallen. Batavia-'s Hage, Lange & Co.-M. Nijhoff, 7p., 8vo wrs. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 17.

VETH, Prof. P. J. 1877. -1979, Het landschap Aboeng en de Aboengers op Sumatra. Met nalezingen en verbeteringen: Een en ander over de Lampongsche districten op Sumatra. Amsterdam-Utrecht, K.N.A.G./ C.L.Brinkman, J.J.Beijers, , 14 p., in 2 columns, large folding map, textmap, 4to wrs.

ZOLLINGER, B. 1847, De Lampongsche Districten en hun tegenwoordige toestand. Batavia,. 41,22,72p., 3 folding tables, 8vo wrs. Original extract from the periodical : Tijdschrift voor Nederlandsch Indië, 9de Jaargang.

Sumber : Institut Lampungologi

Senin, 22 Oktober 2012

Hermeneutika Sebagai Alat Tafsir Naskah.


Membaca naskah kuno tidak tertutup dari perbedaan penafsiran, apalagi sebuah naskah yang ditulis oleh seseorang akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan, pristiwa yang mempengaruhi seorang penulis atau pencatat sesuatu yang kini dianggap sebagai naskah kuno. Ada naskah yang merupakan gejolak protes seseorang atau kelompok atas sesuatu ketidak adilan, atau sebaliknya naskah yang ditulis untuk kepentingan penguasa dalam mempertahankan dan bahkan mengembangkan atau melebarkan (ekspansi) kekuasaannya itu. Kesimpangsiuran itu harus dijernihkan dengan memanfaatkan berbagai ilmu bantu.

Mempelajari naskah kuno memang membutuhkan beberapa ilmu bantu, antara lain “Hermeneutika" Walaupun masih simpangsiur dalam pendefinisiannya, namun dapat kita tarik persamaanya, bahwa bahasan hermeneutika ada diseputar pentakwilan atau penafsiran sebuah teks. Namun ilmu ini tidak disukai oleh para mufassir Al-Quran, karena ada kekhawatiran akan terjebak dalam subjektivitas, yang sering dialami oleh pengguna hermeneutika dalam menakwilkan sesuatu. Karena untuk memberikan keharmonian atas sebuah tafsir, lalu kehilangan abjektifitas. Hermeneutik adalah ilmu yang berhubungan dengan penjelasan kebagaimanaan dan keharmonian pamahaman manusia, apakah itu berhubungan dengan batas pemahaman terhadap teks tertulis, ataukah secara mutlak aktivitas-aktivitas kehendak dan pilihan manusia atau mutlak realitas-realitas eksistensi."

Pengertian .
Akar kata hermeneutik dalam fi'il Yunani "hermeneuein" bermakna menakwilkan (menafsirkan) dan dalam bentuk nomina "hermeneid" bermaka takwil (tafsir). Dalam karya Aristoteles dijumpai kata peri hermeneids yang menyangkut pembahasan proposisi-proposisi dan kemudian dihubungkan dengan takwil.

Kata ini dalam bentuk isim juga dijumpai dalam teodhisi udipus di kulunus dan juga dalam karya-karya Plato. Kedua kata "hermeneuein" dan "hermeneid" ini di nisbahkan pada Tuhan pembawa pesan yunani bernama "Hermes" dan secara lahiriah kata tersebut diambil darinya, dan mungkin juga sebaliknya.Nama Hermes berhubungan dengan tugas mengganti apa yang di atas pemahaman manusia ke dalam suatu bentuk di mana fikiran dan akal manusia dapat memahaminya.

Hermes, menggagas ilmu untuk memindahkan pemikiran kepada orang lain dengan kata kata bahasa dan tulisan. Perkembangan lebih lanjut adalah bagaimana memahami gagasan orang lain dengan memanfaatkan kata kata dan tulisan yang ditinggalkannya. Oleh sebab itu, asas dan sumber kata hermeneutik mengandung aktivitas pada pemahaman, secara khusus aktivitas yang merupakan kemestian dari bahasa, sebab itu bahasa adalah perantara semua ukuran aktivitas ini. Aktivitas perantara dan pemahaman "pesan" atau "berita" sudah mencitrakan nama Hermes, dan ini mempunya tiga aspek penting:

1.Menjelaskan kalimat-kalimat dengan suara keras yakni berkata atau berucap.

2.Menjelaskan dan menguraikan agar dapat terpahami dan disertai dengan argumen-argumen.

3. Menjelaskan seperti penerjemahan dari bahasa asing.

Ketiga aspek di atas bisa diartikan dalam bahasa inggris dengan fi'il "to interpret". Oleh karena itu, kata hermeneutic atau takwil mempunyai tiga aspek yang berbeda:

-Berkata

-Menjelaskan agar dapat dipahami

-Menerjemahkan

Dan ketiga tugas di atas oleh orang-orang Yunani dihubungkan dengan Hermes.

"Berkata lebih kuat daripada tulisan, sebab di dalam berkata terdapat kekuatan hidup makna-makna, yang dalam tulisan kekuatan tersebut bisa menjadi hilang."



Definisi Hermeneutik

Hermeneutik adalah ilmu yang berhubungan dengan penjelasan kebagaimanaan dan keharmonian pamahaman manusia, apakah itu berhubungan dengan batas pemahaman terhadap teks tertulis, ataukah secara mutlak aktivitas-aktivitas kehendak dan pilihan manusia atau mutlak realitas-realitas eksistensi.

1. Paul Richor mendefinisikan hermeneutik: "Teori aktivitas pemahaman yang berhubungan dengan interpretasi teks."
2. Antony Kerbooy, hermeneutik adalah ilmu atau teori penakwilan.
3. Andrew Bovy, hermeneutik adalah keahlian interpretasi.
4. Richard Polmer berpendapat bahwa defenisi-defenisi hermeneutik dapat disatukan meskipun memiliki sudut-sudut yang berbeda. Pandangan ini diutarakannya setelah ia mengungkap enam macam definisi hermeneutik.

Simpulan.

1. Hermeneutik adalah teori penafsiran kitab suci (definisi yang paling tua);
2. Hermeneutik adalah ilmu yang berposisi sebagai metodologi umum bahasa (zaman renaisains);
3. Hermeneutik adalah ilmu setiap bentuk pemahaman bahasa (Schleiermacher);
4. Hermeneutik adalah dasar epistemologi untuk ilmu-ilmu humaniora (Wilhelm Dilthey);
5. Hermeneutik adalah fenomena eksistensi dan fenomena pemahaman eksistensi (Martin Heidegger);
6. Hermeneutik adalah sistem-sistem interpretasi (Paul Richoer).

Dan pada akhirnya Richard Polmer juga mendefinisikan hermeneutik sebagai studi pemahaman dan secara spesifik pemehaman teks.

Hubungan Hermeneutik dengan Ilmu-ilmu Lainnya

1. Hermeneutik dan Epistemologi

Hermeneutik dan epistemologi ditinjau dari dimensi peran yang berhubungan dengan makrifat dan pemahaman manusia, keduanya mempunyai hubungan yang dekat. Tapi kedua ilmu ini juga tidak bisa dikatakan satu, atau salah satu dari keduanya dikembalikan pada lainnya (dasar yang lainnya). Sebab hermeneutik adalah menjelaskan tentang metode mendapatkan pemahaman, syarat-syarat serta kaidah-kaidahnya; sedangkan epistemologi mempunyai permasalahan lain seperti:

a. Apakah pemahaman dan pengetahuan manusia fitri dan apriori, atau hissi (panca indra), empirik dan aposteriori, dan atau kedua-duanya dari itu?

b. Apa ukuran kebenaran dan kesalahan, hakikat dan bukan hakikat?

c. Hubungan apa yang terjadi antara subyek dan obyek?

d. Apa yang menjadi wasilah makrifat manusia? Akal, hissi atau wijdân ( hati nurani) atau semuanya?

Permasalahan-permasalahan di atas tidaklah dibahas dalam hermeneutik. Memang terkadang dalam epistemologi masalah syarat dan penghalang mendapatkan pengetahuan juga dibahas, pembahasan seperti ini juga bisa dikembangkan dalam hermeneutik, sebab itu pada dasarnya pembahasan ini mempunyai warna hermeneutik.

2. Hermeneutik dan Logika

Kedua ilmu ini dari sisi mengajarkan cara berfikir dan memahami adalah satu. Tetapi ilmu logika dengan berdasarkan batasan-batasan yang dimiliki sebagai ilmu alat, merupakan persiapan ilmu, di mana di seluruh metode-metode pemikiran dan ilmiah menjadi tolok ukur. Dan hal ini tidak terlepas (berlaku juga) pada seluruh metode-metode hermeneutik yang beraneka ragam, sebab dalam posisi mengambil konklusi dan berargumen, hermeneutik tidak bisa terlepas dari menggunakan salah satu dari metode-metode ilmu logika, apakah itu hermeneutik yang berdasar (berfokus) penyusun, berdasar teks, atau berdasar penafsir.

Dengan kata lain dalam ilmu hermeneutik terdapat pandangan bahwa suatu teks tertulis, dan tafsiran suatu karya seni, atau bahkan dalam suatu fenomena natural berlaku syarat-syarat atau kaidah-kaidah, dimana hal itu berhubungan dengan pandangan dunia penyusun, dan atau syarat-syarat natural serta sosiologi dimana karya tersebut dihasilkan, dan atau keadaan, ruh serta syarat-syarat pemikiran dan kebudayaan si penafsir. Pengaruh apa yang diberikan (positif atau negatif) terhadap penafsiran dan pemahaman manusia? Tapi adapun bagaimana karya-karya manusia mendapatkan sistem keteraturan dan bagaimana dari mukadimah-mukadimah (premis-premis) dihasilkan konklusi tidaklah dijelaskan dalam ilmu hermeneutik, dan ini merupakan tanggungjawab ilmu logika shuri (formal).

3.Hubungan Hermeneutik dengan Ilmu Bahasa (linguistik)

Dari satu sisi hermeneutik mempunyai hubungan dengan teks, sedangkan di sisi lain keberadaan teks tergantung pada bahasa. Maka, kedua ilmu ini memiliki hubungan yang kuat. Masalah ini juga dalam hermeneutik klasik dan juga dalam hermeneutik modern, lebih khusus pada hermeneutik Gadamer sampai Gadamer memandang bahwa bahasa tidak hanya sebagai wasilah pindahnya pemahaman tetapi juga pemberi keberadaan pemahaman, dengan kata lain dia memandang esensi pemahaman adalah bahasa.

Oleh sebab itu, ilmu hermeneutik dan ilmu bahasa mempunyai hubungan kuat, tetapi tetap keduanya merupakan ilmu yang berbeda sebab masing-masing mempunyai subyek, metode dan tujuan khusus. Pada hakikatnya ilmu hermeneutik mengambil pendapat dari ilmu bahasa, dengan kata lain ilmu bahasa terutama bagian yang membahas penggunaan dan struktur bahasa mempunyai hubungan dengan ilmu hermeneutik sebagaimana hubungan ilmu logika dengan ilmu hermeneutik.

4.Hermeneutik dan Ilmu Tafsir

Tidak diragukan bahwa di dunia Islam pandangan hermeneutik juga mewarnai pikiran-pikiran para ulama Islam. Sebab jika kita melihat bahwa Nabi Saw. beliau juga bertugas dan berperan sebagai penjelas dan penafsir al-Qur'an itu sendiri.

Allamah Thaba-thabai dalam menghubungkan ayat ini:

"Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan dzikr (al-Qur'an) kepadamu, supaya kamu menjelaskan kepada manusia apa yang telah Kami turunkan kepada mereka. Dan semoga mereka menjadi orang-orang yang berpikir" (Q.S: an-Nahl :44)

kepada ayat:"Sebagaimana Kami telah mengutus pada kamu seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu dan mensucikan kamu serta mengajarkan kepada kamu kitab dan hikmah"

Berdalil dan berkata : sejarah penafsiran dimulai pada zaman turunnya al-Qur'an.

Jadi sesudah turunnya al-Qur'an, kaum Muslimin dengan seksama memperhatikan pemahaman dan penafsirannya dan para sahabat Nabi Saw. menjadi penafsir dan orang yang mengetahui pada pemahaman dan maksud dari pada al-Qur'an, dimana Imam Ali As. merupakan yang terbaik di antara mereka.

Setelah berlalu zaman dan semakin jauh dari masa turunnya wahyu maka kebutuhan kaum Muslimin terhadap penafsiran, pemahaman dan maksud dari pada al-Qur'an, dirasakan lebih besar lagi. Dan ini menyebabkan perhatian ulama islam terhadap ilmu tafsir semakin tinggi sehingga melahirkan karya-karya tafsir yang banyak di dunia Islam.

Dalam sejarah Ilmu tafsir di dunia Islam terdapat tiga metode tafsir umum:

1. Tafsir al-Qur'an dengan riwayat.

2. Tafsir al-Qur'an dengan ilmu pengetahuan manusia

3. Tafsir al-Qur'an dengan al-Qur'an sendiri.

Kaidah Hermeneutik

1. Prinsip Makna dalam Teks

Para pemikir Islam (Penafsir, Ahli Fiqh, Teolog) mempunyai keyakinan bahwa ayat-ayat al-Qur'an menunjukkan makna-makna khusus. Makna-makna di mana maksud Allah Swt yang Mahatahu dan Mahabijaksana tertuang dalam bentuk bahasa Arab yang fasih dan baligh (elokuen) dalam ikhtiar manusia untuk memberi hidayah pada manusia.

Dan tugas para ilmuan agama serta ahli tafsir adalah menggunakan metode benar dan menjaga kaidah-kaidah serta prinsip-prinsip tertentu untuk mendapatkan pemahaman yang benar dari makna-makna ayat suci al-Qur'an.

Prinsip tersebut tidak terkhususkan pada al-Qur'an tetapi juga untuk hadits-hadits maksum As dan juga setiap teks yang dipilih oleh setiap penyusun berakal dalam perkataan-perkataan dan tulisan-tulisannya.

Konstruksi kaidah ini berasal dari metode dan cara-cara manusia berakal dimana mereka berkehendak memindahkan hasil pikiran dan konsepsinya, mereka pindahkan dengan jalan bahasa. Pada hakikatnya Sistem percakapan dan pemahaman manusia berdiri atas ini.

Di antara orang-orang berakal baik itu ilmuan maupun masyarakat biasa semuanya menerima asas ini, bahwa sipembicara dalam menjelaskan maksudnya dengan jalan kalimat-kalimat dan ungkapan-ungkapan atau tulisan-tulisan mereka lakukan. Berdasarkan ini maka setiap teks mempunyai makna khusus dimana si penulis menuangkan maksudnya.

Di dunia Barat berlaku juga teori ini pada abad-abad sebelumnya, dan itu tidak hanya berlaku untuk konteks percakapan biasa tapi juga pada pembahasan filsafat dan pembahasan ilmiah. Para ilmuan dan teoritis ilmu hermeneutik seperti Schleier Macher dan Wilhelm Dilthey masih perpijak pada teori ini sampai kemudian muncul fase postmoderisme yang meragukan prinsip dan asas rasional ini. Di antara yang menolak pandangan tersebut datang dari pengikut hermeneutik filsafat Gadamer dan pengikut dekonstruksi Derrida.

Derida melakukan kritik terhadap pandangan bahwa makna dalam perkataan mempunyai kehadiran sedangkan dalam tulisan adalah tersembunyi, tetapi ia juga tidak menerima kebalikan dari itu bahwa tulisan lebih baik dari pada perkataan dan makna hadir di dalamnya. Dia berpendapat bentuk keyakinan ini adalah fokus penulis namanya, dan ia berkeyakinan dalam teks tulisan makna juga adalah gaib. Darida tidak menerima "pemahaman makna akhir teks", sebab dalam pembacaan akan tecipta makna-makna yang tidak terhitung jumlahnya. Darida tidak bermaksud meruntuhkan teks, tetapi ia meruntuhkan dalil-dalil makna teks. Menurut pandangannya makna bukanlah suatu perkara yang tetap dan dahulu atas petunjuk atau tujuan, tetapi makna bahkan bergantung pada petunjuk yang secara esensial adalah tidak tetap dan tidak permanen. Dalam dekonstruksi dengan mengacak hubungan kata satu sama lain, dan dengan mendekonstruksi teks, memungkinkan perluasan nisbah makna-makna dan petunjuk-petujuk yang bermacam-macam, dan pada akhirnya tidak menerima adanya satu dalil dan makna khusus sebagai wajah akhir teks dan sebagai petunjuk akhir teks.

Dalam hermeneutik filsafat Gadamer, juga berpandangan kalau makna teks bukanlah sesuatu yang menjadi maksud penyusun, tetapi hasil persinggungan antara horizon makna penyusun dan horizon penafsir teks. Dan dalam hal ini asumsi-asumsi penafsir mempunyai dampak kunci, dan secara otomatis mengingkari makna sentral dan makna akhir teks. Gadamer juga tidak meyakini realitas makna dalm teks, tetapi ia berpandangan bahwa makna teks adalah menifestasi yang dihasilkan oleh pembaca atau si penafsir teks. Dan penampakan ini juga lebih dari segala sesuatunya yang mengikut pada alam rasional dan ruh si penafsir teks, hatta penyusun teks itu sendiri.

Dalam hermeneutik Gadamer titik penting bukan hasrat atau meksud penyusun dan bukan karya atau teks sebagai sesuatu fi nafsihi di luar dari sejarah, tetapi yang urgen adalah sesuatu yang menjadi arah berulang-ulang sejarah dalam memanifestasi. Menurut Gadamer dzihniyyat (alam pikiran) penyusun atau pembaca tidak ada satu pun menjadi rujukan realitas, tetapi makna sejarah itu sendiri dimana pengaruhnya dalam zaman sekarang untuk kita, yang menjadi rujukan realitas.



2. Penyusun sebagai Sentral dalam Tafsir (sentralisasi penyusun).

Untuk memahami makna teks yang menjadi perhatian dari si penyusun maka si pembaca berusaha memahami dan memahamkan hasrat dan maksud si penulis atau si penyusun. Kaidah hermeneutik ini berlaku secara mapan sebelumnya, yakni teks secara realitas dan nafsul amr menerangkan makna khusus yang meupakan niat , tujuan dan hasrat si penyusun, dan kaidah ini berhubungan dengan maqam penerapan dan pemahaman, yakni pemahaman fokus makna dalam teks harus memperhatikan maksud dan niat penyusun. Di sini pengikut hermeneutik filsafat juga melakukan penentangan, dari sudut pandang mereka pemahaman teks mengenyampingkan niat dan maksud penyusun atau dihasilkan dengan memadukan horizon makna penyusun dan pembaca teks.

Emilio Betty (Italia) dalam hal ini mengembalikan pada pandangan hermeneutik realistis. Sementara Eric (Amerika) pewaris pandangan Betty mengembalikan pada pandangan hermeneutik klasik, dan berkata: Jika makna tidak tetap dan permanen maka tidak akan ada realitas penafsiran.

Dalam hermeneutik fokus penyusun terdapat dua pandangan:

1. Pandangan fokus niat penyusun.

2. Pandangan fokus pribadi penyusun (penyusun secara kepribadian)

Yang pertama penafsir berusaha mendapatkan maksud dan niat penyusun dari karya dan ucapan ia dan jalan untuk memperoleh itu menjaga dan memelihara kaidah nahwu dan bahasa (Martin Kladinius). Yang kedua penafsir harus berusaha dengan jalan mengenal pribadi penyusun, sehingga mendapat makna yang menjadi perhatian ia (Schleier Macher). Yang pertama tidak bisa mengetahui teks lebih baik dari pada penyusun, maksimalnya menyamai penyusun dalam pemahaman sedangkan yang kedua memungkinkan mengetahui teks lebih baik dari pada penyusun.