Fachruddin : Kliping Dan Catatan Tentang Bahasa, Retorika, Sastra, Aksara dan Naskah Kuno
Selasa, 02 Oktober 2012
PERANG BHARATAYUDHA, Nafsu paling menghancurkan
PRABU DRUPADA
PRABU DRUPADA yang waktu mudanya bernama Arya Sucitra, adalah putra Arya Dupara dari Hargajambangan, dan merupakan turunan ke tujuh dari Bathara Brahma. Arya Sucitra bersaudara sepupu dengan Bambang Kumbayana/Resi Durna dan menjadi saudara seperguruan sama-sama berguru pada Resi Baratmadya. Untuk mencari pengalaman hidup, Arya Sucitra pergi meninggalkan Hargajembangan, mengabdikan diri ke negara Astina kehadapan Prabu Pandudewanata. Arya Sucitra menekuni seluk beluk tata kenegaraan dan tata pemerintahan. Karena kepatuhan dan kebaktiannya kepada negara, oleh Prabu Pandu ia di jodohkan/dikawinkan dengan Dewi Gandawati, putri sulung Prabu Gandabayu dengan Dewi Gandarini dari negara Pancala. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh tiga orang putra masing-masing bernama; Dewi Drupadi, Dewi Srikandi dan Arya Drestadyumna. Ketika Prabu Gandabayu mangkat, dan berputra mahkota Arya Gandamana menolak menjadi raja, Arya Sucitra dinobatkan menjadi raja Pancala dengan gelar Prabu Drupada. Dalam masa kekuasaanya, Prabu Drupada berselisih dengan Resi Durna, dan separo dari wilayah negara Pancala direbut secara paksa melalui peperangan oleh Resi Durna dengan bantuan anak-anak Pandawa dan Kurawa. Di dalam perang besar Bharatayuda, Prabu Drupada tampil sebagai senapati perang Pandawa. Ia gugur melawan Resi Durna terkena panah Cundamanik.
RESI DURNA
RESI DURNA yang waktu mudanya bernama Bambang Kumbayana adalah putra Resi Baratmadya dari Hargajembangan dengan Dewi Kumbini. Resi Durna mempunyai saudara seayah seibu bernama: Arya Kumbayaka dan Dewi Kumbayani. Resi Durna berwatak; tinggi hati, sombong, congkak, bengis, banyak bicaranya, tetapi kecakapan, kecerdikan, kepandaian dan kesaktiannnya luar biasa serta sangat mahir dalam siasat perang. Karena kesaktian dan kemahirannya dalam olah keprajuritan, Resi Durna dipercaya menjadi guru anak-anak Pandawa dan Kurawa. Resi Durna mempunyai pusaka sakti berwujud keris bernama Cundamanik dan panah Sangkali (diberikan kepada Arjuna). Resi Durna menikah dengan Dewi Krepi, putri Prabu Purungaji, raja negara Tempuru, dan memperoleh seorang putra bernama Bambang Aswatama. Resi Durna berhasil mendirikan padepokan Sokalima setelah berhasil merebut hampir setengah wilayah negara Pancala dari kekuasaan Prabu Drupada. Dalam peran Bharatayuda Resi Durna diangkat menjadi Senapati Agung Kurawa, setelah gugurnya Resi Bisma. Resi Durna sangat mahir dalam siasat perang dan selalu tepat menentukan gelar perang. Resi Durna gugur di medan pertempuran oleh tebasan pedang Drestajumena, putra Prabu Drupada, yang memenggal putus kepalanya. Konon kematian Resi Durna akibat dendam Prabu Ekalaya raja negara Paranggelung yang arwahnya menyatu dalam tubuh Drestajumena.
Pelajaran Berharga ;
“Sapa sing nggawe mesthi nganggo”, siapa menanam mengetam “ngundhuh wohing pakarti”. Perbuatan jahat pada orang lain akan menjadi bumerang, kembali membuat malapetaka pada diri sendiri. Tampaknya nukilan dari falsafah hidup Kejawen ini merupakan rumus alam (baca; kodrat alam/kodrat Tuhan). Bagaimanapun Durna sudah pernah merebut separoh wilayah kekuasaan dan membunuh Prabu Drupada. Maka kematian Resi Durna berada di tangan sang Drestajumena yakni putra Prabu Drupada sendiri. Sebenarnya Drestajumena secara kalkulasi tidak akan mungkin mengalahkan Resi Durna, karena kesaktiannya belum ada apa-apanya jika dibanding Resi Durna. Namun Hyang Widhi telah memenuhi rumus “sapa nggawe nganggo dan ngunduh wohing pakarti” apapun jalannya Resi Durna mati di tangan Drestajumena setelah tubuhnya dirasuki roh Prabu Ekalaya. Sudah menjadi kodrat alam, malapetaka (wohing pakarti) datang menimpa diri sendiri, tidak mesti dari pihak korban atau orang yang dijahati, namun bisa datang dari pihak lainnya lagi.
Resi Durna sebagai figur yang memiliki watak dualisme, atau berkepribadian ganda. Di satu sisi ia membuat huru-hara, di sisi lain mendidik para kesatria Pandawa dari tlatah kebenaran. Namun ia akhirnya mati “ngunduh wohing pakarti” alias karena ulahnya sendiri.
Ilmu ibarat pisau bermata dua, dapat dimanfaatkan untuk kebaikan maupun kejahatan tergantung manusianya.
Resi Durna dengan Prabu Drupada adalah saudara sepupu yang dahulu bernaung dalam satu perguruan, namun Prabu Drupada memanfaatkan ilmunya untuk kebaikan (amr ma’ruf nahi mungkar) sementara Resi Durna lebih banyak memanfaatkannya untuk keburukan dan membela kekuatan jahat.
Dalam peperangan fisik semisal Perang Bharata Yudha, dalam konteks riil ambil contoh antara Yahudi dan Palestina, merupakan perang saudara yang memperebutkan wilayah atau daerah kekuasaan sebagaimana dalam cerita perang Baratayudha antara senopati perang Drupada melawan senopati perang Durna.
Sebagai peringatan kepada umat manusia untuk berhati-hati terhadap 3 macam nafsu negatif paling berbahaya yang dapat menghancurkan hubungan tali persaudaraan baik dalam hubungan internal keluarga, pertemanan atau pergaulan, berbangsa dan bernegara yakni ; nafsu cari benarnya sendiri, nafsu keinginan berkuasa, dan nafsu penguasaan harta (warisan). Terutama terhadap orang-orang terdekat masih saudara sendiri. Jika terjadi perang (saudara) akan menjadi perang yang sangat keji dan kejam. Terlebih lagi perang tersebut diwarnai dalih membela kebenaran, antara kekuatan “putih” dan “hitam. Akibatnya adalah kehancuran dahsyat. Semoga contoh di atas dapat meningkatkan kesadaran kita semua, untuk tetap bersatu dalam tali rasa yang satu, satu kebangsaan, satu bumi pertiwi, satu bahasa. Sehingga bangsa ini terhindar dari kehancuran, sebaliknya meraih kejayaannya kembali. Kita dapat mengambil contoh peristiwa holocaus, etnis cleansing, pembantaian massal di Kamboja, peristiwa G 30 S, Yahudi-Palestina. By: sabdalangit
Lampung dalam Reportase J. Pattullo & Capt. Jackson
Esai Arman A.Z.
BUKU Sumatera Tempo Doeloe, dari Marco Polo sampai Tan Malaka yang disusun Anthony Reid, terbitan Komunitas Bambu (2010), memuat reportase atau catatan perjalanan sejumlah penjelajah barat yang pernah menginjakkan kaki di Pulau Sumatera antara abad ke-9 hingga abad ke-20. Anthony Reid, yang sejarawan dengan spesialisasi sejarah Asia Tenggara, memang tertarik dengan Sumatera.
Menarik, melihat situasi dan kondisi Sumatera kala itu; aspek sosial, agama, budaya, politik, dan seluk-beluk sejumlah daerah di Sumatera, dari perspektif orang-orang dari negeri atas angin.
Sejumlah reportase mereka kemudian menjadi dokumen vital bagi rekonstruksi sejarah Sumatera, khususnya catatan perjalanan pra 1850. Hanya dua orang asli Sumatera yang dimuat kesaksiannya dalam buku ini, yaitu Tan Malaka dan Muhammad Radjab.
Taprobane, Rami atau Ramni, Azebai atau Azebani, Lameri, Swarnadwipa, Indalas atau Andalas, Sobormah, Samandar, Zamatra, Zamara, Java Minor, dan Ophir adalah sejumlah variasi nama bagi pulau yang kini dikenal sebagai Sumatera.
Pulau ini memang menarik minat penjelajah atau penulis masa silam untuk menuliskan segala sisik melik di dalamnya. Demikian pula dengan mereka yang tulisannya termaktub dalam buku Sumatera Tempo Doeloe.
Sayang, buku setebal 400 halaman ini tak satu pun memuat ihwal Lampung. Yang dominan dibahas dalam buku ini adalah Aceh, Sumatera Utara, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan Nias. Memang sangat sedikit, bisa dibilang langka, catatan perjalanan orang-orang barat yang pernah singgah di Lampung di abad-abad silam.
Sesungguhnya ada reportase dari dua penjelajah yang mengunjungi Lampung pada abad 18, tepatnya ke Danau Ranau dan Way Tulangbawang. Kedua catatan perjalanan ini bisa ditemukan dalam buku Malayan Miscellanies vol II, terbitan Sumatran Mission Press, Bengkulu 1822.
Mungkin Reid memiliki pertimbangan sendiri hingga tidak memasukkan dua reportase ini dalam buku STD.
Catatan perjalanan pertama berjudul Account of a Journey To The Lake of Ranow In The Interior of Kroee In 1820, yang ditulis J. Pattullo. Catatan kedua, ditulis oleh Captain Jackson, berjudul Course of The Tulang Bawang River, In The Eastern Coast of Sumatra, Extracted From The Journal of Capt. Jackson, of The Brig Tweed, 1822.
Pattullo memulai perjalanannya dari Krui, malam 19 September 1820. Ia sempat menginap di Dusun Uluh (ejaan lama). Tak dijelaskan secara perinci jumlah rombongan Pattulo kala itu. Hanya tertera seorang rekannya yang turut dalam perjalanan, bernama Mr. Beasley.
Dalam reportasenya, Pattullo juga menginventarisir populasi penduduk di sekitar Danau Ranau dan Liwa kala itu. Data itu mencakup jumlah rumah, jumlah pria dan wanita, juga keluarga. Total penduduk di sekitar Ranau kala itu sekitar 1.500 lebih.
Sementara populasi penduduk di Liwa yang didata Pattullo hampir 1.500, dengan asumsi tambahan sekitar 500 penduduk sedang berada di ladang. Kalimat yang cukup menarik dan bisa ditelisik lebih jauh validitasnya, seperti: Lewah is governed by a pangeran and twelve proatteens, who are in alliance with the Honorable Company.
Istilah-istilah kuno untuk suatu daerah juga merupakan peninggalan budaya dari suatu masa yang jauh. Dalam jurnal Pattulo ada banyak nama daerah dalam ejaan lama.
Sejumlah tempat yang dilewati atau dilihat Pattulo, seperti Tubbah Pituh (Gunung Tujuh), Lumboh (Lumbok), Dusun Sourabaya, Dusun Suhubye, Sungai Waye Assat, Warkie, Sukow atau Socow (Sukau), Ranow (Ranau), Gunung Si Menung (Seminung), Dusun Wallah di Banding, Gunung Chukut Lioh Kichil, gunung Chukut Tambur, gunung Chukut Lioh Gadang, Lewah (Liwa), Pulo (Pulau) Pisang.
Selain beberapa lokasi di atas, Pattulo juga mencatat nama-nama dusun di Ranau kala itu: Lumboh, Ranow, Sourabaya, Banding Auging, Warku, Tanjong Jatie, Suhubye, Padang Ratoo, Ungkusa, Pila, Gadong. Lima dusun terakhir dibuat berdasarkan perkiraan rata-rata.
Dusun Banding Auging merupakan penyatuan Dusun Negri dan Pendaggang, dengan tujuan mempertahankan diri dari serangan Makakows (?). Sementara nama-nama dusun di Liwa kala itu: Bumi Agong, Surubaya, Kasugihan, Paggar, Negri, Perwatta, Banding, Waye Mengaku, Tanjung, Gadong, Sungie, dan Genting. Beberapa nama daerah tersebut mungkin saja sudah berganti nama seiring zaman.
Reportase Captain Jackson bertitimangsa 24 Juli 1820. Ia membawa rombongan beberapa perahu dan sampan berisi peralatan. Jackson mengungkapkan pengalamannya menyaksikan sekitar dua ratusan gajah liar, juga macan, yang ditemuinya dalam perjalanan.
Daerah-daerah di sekitar Sungai Tulangbawang yang tertulis dalam catatan Capt. Jackson, antara lain Kampung Labboo, Negeri Parooan, Oojong Goonong, Manjab, Tenjening, Boomi Agong, Bagarding, Barouan, Goonong Trang, Kerterjis, Rombiu, dan Paronas.
Selain menuliskan proses pernikahan penduduk Lampung kala itu, Jackson juga menjelaskan bagaimana proses perkelahian atau balas dendam di antara kaum lelaki. Ada pula kalimat menarik yang ditulis Capt. Jackson mengenai penduduk Lampung dibanding penduduk Melayu di daerah lain: "The natives of the Lampong country about the banks of the river Toolang Bawang are generally speaking of a moderate stature, well made and their countenances much more pleasant than the generality of Malays."
Sulit melacak lebih jauh biografi J. Pattullo dan Captain Jackson. Namun, merujuk tahun penulisan reportase itu, kemungkinan besar mereka berasal dari Inggris kala zaman EIC, sebelum Belanda dan Inggris tukar guling Malaka dan Bengkulu.
Reid dalam pengantar buku STD mengingatkan agar pembaca bersedia untuk terus mengeksplorasi literatur-literatur mengenai Sumatera, dan yang paling penting adalah mengeksplorasi realita, yaitu Sumatera itu sendiri. Apa yang dikatakan Reid ada benarnya, dan bisa diperkecil ruang lingkupnya pada daerah Lampung.
J. Pattulo dan Captain Jackson memang tak seterkenal penulis masa silam yang reportasenya termuat dalam Sumatera Tempo Doeloe, apatah lagi seperti William Marsden yang bukunya, History of Sumatra, masih jadi rujukan mereka yang tertarik mengetahui Sumatera masa silam.
Mungkin saja reportase Pattullo dan Jackson tentang Lampung abad 18-an ini tak menarik di mata Anthony Reid untuk disertakan dalam buku Sumatera Tempo Doeloe. Mungkin juga tak ada gunanya buat masyarakat Lampung saat ini yang kian abai pada sejarah.
Namun, hemat saya, reportase atau kesaksian J. Pattullo dan Captain Jackson, meskipun tampak sepele, tentulah berharga sebagai bagian dari sejarah panjang Lampung. Ia semacam potret Lampung tempo dulu.
Bisa menambah referensi tertulis tentang Lampung selain yang telah banyak diketahui umum. Reportase mereka dapat pula menjadi rujukan melihat Lampung masa silam lewat perspektif orang luar Lampung, tepatnya orang-orang dari negeri atas angin.
Arman A.Z., pembaca buku
Sumber: Lampung Post, Minggu, 23 September 2012
Hikayat yang Menuturkan Asal-Usul Mitologis
Data buku
Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air. Muhammad Harya Ramdhoni. Koekoesan, Depok, April 2012. v + 100 hlm.
SETELAH berhasil mencuri perhatian kita melalui novel debutannnya Perempuan Penunggang Harimau (BE Press, 2011), Muhammad Harya Ramdhoni (MHR) kembali hadir bersama segabung cerpennya Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air (Penerbit Koekoesan, April 2012) yang memuat sembilan cerpen. Orang [di] Lampung tentu saja lebih karib dengan nama Buway Lapah di Way atau Buway Bejalan di Way untuk frasa “Orang-orang yang Berjalan di Atas Air” yang tercantum pada titel buku, yaitu satu di antara paksi (kesatuan beberapa kerabat di masa kekuasaan Banten) Sekala Brak dalam masyarakat adat Lampung Sai Batin (Pesisir) di Lampung Barat yang memerintah daerah Kembahang dan Balik Bukit dengan Ibu Negeri Puncak.
Melalui segabung cerita ini, sejatinya MHR ingin menuturkan asal-usul mitologis buay-nya (keturunannya) seperti terpantul dari cerpen “Kitab Nyeghupa,” “Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air,” “Sesiah Terakhir,” “Ikhau,” “Tambo Kuno dalam Lemari Tua,” “Riwayat yang Ditutukan oleh Hembusan Angin.”
Namun, pada dua cerpen selebihnya, MHR menggubah cerita yang diangkat dari realitas historis-biografis seperti terpantul pada cerpen “Firasat Bu Lik Koem,” dan “Penembak Misterius di Seberang Front Kemelak-Sepancar.” Sementara pada cerpen “Tentang Seorang Lelaki yang Mati Tertimpa Tembok” yang berupa cerpen mini (short short story), MHR bercerita tentang tokoh Mat Top, seorang lelaki pendurhaka.
Dua cerpen yaitu “Kitab Nyeghupa” dan “Kitab Hikayat Orang-orang yang berjalan di Atas Air” mengambil bentuk hikayat, yaitu jenis cerita rekaan yang menggambarkan keagungan dan kepahlawanan. Cerpen “Kitab Nyeghupa” bertutur tentang Umpu Nyeghupa alias Imam Maulana ibn Maulana Yamiza Rahmat, satu di antara Perserikatan Paksi Pak [Maulana Bersaudara] bersama-sama dengan Pernong, Belunguh, dan Lapah di Way.
Sebagai pelayan di rumah Ratu Sekeghumong, Nyeghupa muda tak hendak menuruti perintah Pangeran Umpu Betawang untuk memanggang babi kesukaaannya, dan sebagai penggantinya dia memasak daging sapi, karena babi hewan yang diharamkan. Hal ini menimbulkan kemarahan Pangeran Umpu Betawang, yang menimbulkan dendam kesumat pada diri Nyeghupa, sehingga ketika memasak sup kepala kerbau untuk pangeran congkak itu dia mencampurnya dengan getah beracun sebukau pohon melasa kepappang serta bisa kalajengking hitam dan empedu kecing hutan. Maka, Pangeran Umpu Betawang pun tewas. Perbuatannya itu memaksa dia bersama ayahnya harus meninggalkan lamban dalom (istana) itu dan menjadi buronan, dan itu berarti menggagalkan misi dakwah mereka di istana Sekala Bhga.
Cerpen “Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air” bertutur tentang Dr. Erik Liber Sonata yang menjadikan kitab yang tersimpan di Perpustakaan School of Oriental and Africa Studies University of London itu sebagai kajian disertasinya.
Dalam perjalanan menuju Liwa di atas kendaraan yang dikemudikan oleh Jamauddin sepupunya dia terus membaca kitab itu hingga halaman terakhir. Kedatangannya ke sana untuk mencari pembenaran perihal kitab kuno itu dari mulut para tetua adat Sai Batin Paksi Buay Lapah di Way di Kembahang. Di daerah Sumber Jaya, mobil mereka dicegat oleh selusin lelaki dengan senjata api di tangan yang meminta paksa menyerahkan salinan kitab itu dan mengancam akan membenamkan Erik dan sepupunya di Danau Ranau. Di antara selusin lelaki itu terdapat seorang lelaki bermata sipit yang ternyata keturunan Ratu Sekeghumong (yang merupakan musuh Umpu Lapah di Way, leluhur Erik) dari garis Pangeran Kekuk Suik yang bermaksud membakar kitab yang dirampasnya dari tangan Erik itu seraya berkata, “Masih ada satu lembar lagi. Kau mencari ini bukan? Halaman terakhir kitab Lapah di Way…” Dia mendapatkan halaman terakhir itu dari Perpustakaan Henry Sang Navigator di Portugal. Dia sendiri sudah bertahun-tahun memburu kitab itu, kitab “yang telah merenggut kesetiaan rakyat dari bawah duli kekuasaan Puyang Dalom Ratu Sekeghumong disebabkan keahlian ilmu mistik nenek moyangmu” (hlm 22).
Saat Erik dan sepupunya dilemparkan ke Danau Ranau, sesosok tubuh berpakaian dan bersorban putih muncul dari arah barat Danau Ranau. Ia berlari di atas air! Sosok misterius itu dengan ringannya menangkap tubuh Erik dan Jamauddin kemudian menaruh mereka di pinggir danau. Sosok itu tak lain adalah Maulana Bahruni Ibn Maulana Yamiza Rahmat alias Umpu Lapah di Way. Lalu Umpu Lapah di Way mengajarkan Erik berjalan dan berlari di atas air dan membacakan isi halaman terakhir kitabnya yang berbunyi, “Kebersihan jiwa setiap pengikut Jalan Yang Lurus adalah mutlak sebelum memasrahkan diri kepada Allah dan mengamalkan isi kitab Lapah di Way, Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air.”
Pada cerpen “Sesiah Terakhir” dan “Riwayat yang Dituturkan oleh Hembusan Angin” yang menampilkan tokoh perempuan yaitu Seperdu dan Sekeghumong, MHR masih berpandangan bias gender dan patriarkhis dalam hal relasi suami-istri dan/atau lelaki-perempuan, dan karenanya perlu dilakukan kritik sastra feminis. Kita kutip ucapan Seperdu, “Bawalah sikindua pergi, Pun Beliau. Sikindua akan membaktikan seluruh hidup dan jiwa hanya untuk Pun Beliau seorang. Terimalah bakti seorang istri kepada suami. Semoga dewa-dewi merestui perkawinan ini.” (hlm 34-35) Pernyataan ini bias gender karena tidak mendudukkan istri dalam posisi yang setara dengan suami. Seolah-olah hanya pihak istri yang mesti berbakti kepada suami, namun tidak sebaliknya. Di sini saya ingin memperkenalkan nilai baru yang setara dan adil gender seperti digagas pasangan Kate-Williams dari Kerajaan Inggris yang di dalam janji perkawinan mereka justru bertekad untuk saling menjaga di antara mereka, seraya mencampakkan nilai lama yang meminta istri berbakti kepada sang suami.
Begitu pula pada cerpen ”Riwayat yang Dituturkan oleh Hembusan Angin” terdapat pernyataan bias gender berikut ini, “Ajaran Jalan Yang Lurus tak membenarkan perempuan sebagai pemimpin!” ujar lelaki tua itu dengan kesombongan yang tak berkurang sedikit pun.” (hlm 92) Benarkah menurut agama Islam perempuan tak boleh menjadi pemimpin? Sikap demikian hanyalah pantulan dari fiqih lama yang mesti didekonstruksi.
Menurut K.H. Husein Muhammad, kiai-feminis dari Ponpes Arjawinangun Cirebon, perempuan boleh menjadi pemimpin publik dan bahkan menjadi imam salat. Hal itu didasarkan atas penyelidkannya QS an-Nisa [4]: 34, yang harus dipahami sebagai bersifat sosiologis dan kontekstual. Kehebatan intelektual dan profesi menurut Husein adalah dua hal yang menjadi syarat bagi sebuah kepimpinan dalam berbagai wilayahnya, domestik maupun publik. Dengan syarat seperti ini, terbuka kesempatan yang luas bagi perempuan untuk menduduki posisi-posisi publik, termasuk menjadi presiden.
Terhadap hadis Nabi yang menuturkan tidak akan pernah beruntung bangsa yang diperintah perempuan, KH Husein menyatakan bahwa hal itu sebuah informasi yang disampaikan Nabi Saw semata, dan bukan dalam kerangka legitimasi hukum. Tegasnya, hadis ini tidak memiliki relevansi hukum. Husein Muhammad lebih jauh menuturkan bahwa hadis ini harus dipahami dari sisi esensinya dan tidak bisa digeneralisasi untuk semua kasus, dalam arti bahwa hadis tersebut lebih bersifat spesifik untuk kasus bangsa Persia pada saat itu yang kepemimpinannya boleh jadi bersifat sentralistik, tiranik, dan otokratik.
Demikian pula kepemimpinan perempuan dalam salat. Menurut Husein Muhammad (2007: 37-44), terdapat pandangan yang menyatakan keabsahan imam perempuan yang juga didukung oleh hadis Nabi Saw tentang Ummu Waraqah. Ash-Shan’ani, penulis kitab Subul as-Salam menyimpulkan dari hadis Ummu Waraqah ini bahwa mereka yang menjadi makmum Ummu Waraqah adalah laki-laki dan perempuan. Sebab, secara eksplisit (menurut lahiriahnya) hadis ini memperlihatkan bahwa Ummu Waraqah menjadi imam salat bagi laki-laki tua, laki-laki hamba sahaya, dan perempuan hamba sahaya. Untuk menyebut contoh kontemporer imam perempuan adalah Amina Wadud yang menjadi imam untuk salat Jumat di Amerika Serikat.
Cerpen “Tambo Kuno dalam Lemari Tua” adalah sebuah cerpen indah yang menuturkan kebahagiaan sebuah keluarga kaya beranak lima. Teknik membuka, mengembangkan dan mengakhiri yang dilakukan MHR secara piawai merupakan nilai yang perlu diacungi jempol buat cerpen ini. Kebahagiaan keluarga itu terusik oleh kehadiran Tambo kuno yang menyatakan bahwa suami-istri itu berasal dari dua keturunan yang saling bermusuhan dan berbunuhan. Sang suami adalah keturunan Pangeran Umpu Betawang, suami Ratu Sekeghumong, sedangkan sang istri keturunan Lapah di Way. “Ada bara tersimpan dalam sekam selama kehidupan perkawinan Ayah dan Ibu. Api dalam sekam berusia nyaris satu milenium,” tutur putri bungsunya sepeninggal mati ayah-ibunya.
Secara umum, gaya bertutur MHR berkualitas prosa lirik. MHR benar-benar mementingkan bagaimana bisa bertutur secara memikat dan berhasil menjangkau langit sastrawi seperti dimaksudkan Danarto dalam penulisan cerpen-cerpennya. Namun, sayangnya, di tengah penuturan nan memikat itu, MHR abai dalam kerapian berbahasa.
Cerpen-cerpen MHR terutama pada enam cerpen yang menuturkan asal-usul mitologis membubuhkan warna lokal (warna tempatan, corak setempat), yaitu penggambaran corak atau ciri khas suatu masa atau daerah tertentu serta pemakaian bahasa/kata-kata daerah yang bersangkutan, dengan tujuan kisahan menjadi lebih menarik dan keasliannya lebih tampak. Sikap dan lingkungan tokoh juga ikut mendukung corak setempat. Ini tampak misalnya pada kata-kata daerah sikindua (saya), sikam (saya), sesiah (kencan), benatat (beruk), semanda, ikhau, ka ga nga, tabuh canang, putri dalom, pepadun (singgasana), akan (ayah), pun (kakak lelaki tertua), jurai lurus (keturunan langsung), pekon (kampung), dan lain-lain.
Cerpen “Penembak Misterius di Seberang Front Kemelak-Sepancar” berkisah tentang penembak jitu Pauline Gobee, seorang gadis berdarah Indo-Belanda, yang bergabung dengan Tentara Republik dalam pertempuran di Kemelak-Sepancar, Baturaja pada 17 Agustus 1947 melawan tentara NICA. Bersama Moeis, dia ditugasi Kolonel Ahmad Wahab untuk menembak mati penembak misterius dari tentara NICA yang telah menembak mati beberapa mata-mata tentara republik. Alhasil, Pauline berhasil menembak mati sang penembak misterius, namun ternyata penembak misterius yang dibunuh Pauline Gobee adalah seorang lelaki Indo-Belanda kekasihnya sendiri.” (hlm 72) Sungguh sebuah akhir yang mengejutkan! Melalui cerpen ini yang dipersembahkan kepada almarhum kakeknya Hi. Abdoel Moeis (1930-2003) – yang tak lain adalah tokoh Moeis -- MHR berhasil memotret sisi manusiawi sebuah perang.
Cerpen “Firasat Bu Lik Koem” menuturkan tentang tokoh Untung yang tercatat dalam sejarah kontemporer Indonesia sebagai salah seorang tokoh yang berperan dalam Gerakan 30 September [Gestapu] atau Gerakan Satu Oktober [Gestok] (1965) yang membunuh para jenderal. Cerpen ini mengangkat sisi manusiawi tokoh Untung yang mencintai Tutik, gadis belia awal dua puluhan, mahasiswi sebuah sekolah kebidanan negeri di Solo. Saat itu, Untung berusia pertengahan tiga puluhan, seorang perwira TNI Angkatan Darat berpangkat mayor. Cinta mereka yang tumbuh berkat witing tresno jalaran soko kulino (cinta bermula dari kebiasaan) terputus di tengah jalan karena lamaran Untung ditolak oleh Bu Lik Koem, yang bersama suaminya Pak Lik Tanto, mengasuh Tutik sejak kecil tanpa pamrih.
Bu Lik Koem memiliki firasat tajam bahwa Untung bin Syamsuri bukanlah pria baik-baik dan berolok-olok bahwa nama Untung justru bermakna ‘buntung.’ “Ke mana perginya sikap welas asih-mu, Mas? Mengapa bertukar wajah menjadi pembunuh biadab?” gumam Tutik terdengar lirih ketika putusan hukuman mati terhadap Untung diumumkan secara nasional. (hlm 62) “Nama itu tak seberuntung nasib dan kisah hidupnya yang tragis,” tulis MHR di akhir cerpen (hlm 62); yang mempersembahkan cerpen ini kepada bibinya, almarhumah Bu Dhe Hastoeti Soekirno.
Jika cerita pendek dimaksudkan untuk memberikan kesan tunggal, maka membaca cerpen “Tentang Seorang Lelaki yang Mati Tertimpa Tembok” saya justru tidak beroleh kesan tunggal yang dominan karena MHR mengacaukan antara tokoh Mat Top dengan tokoh pemuda. Begitu pula saya tidak menemukan tikaian dramatik, yang justru merupakan inti cerita pendek.
Akhirnya, pembaca juga bisa menempatkan kumpulan cerpen ini, terutama untuk enam cerpen yang menuturkan asal-usul mitologis, sebagai post scriptum atas novel Perempuan Penunggang Harimau karya MHR. Karena narasi yang diusung keenam cerita itu sangat bertalian dengan pokok-soal PPH dan juga dapat menjadi semacam penjelasan lebih jauh atas novel itu.[]
Iwan Nurdaya-Djafar, pembaca buku
Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air. Muhammad Harya Ramdhoni. Koekoesan, Depok, April 2012. v + 100 hlm.
SETELAH berhasil mencuri perhatian kita melalui novel debutannnya Perempuan Penunggang Harimau (BE Press, 2011), Muhammad Harya Ramdhoni (MHR) kembali hadir bersama segabung cerpennya Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air (Penerbit Koekoesan, April 2012) yang memuat sembilan cerpen. Orang [di] Lampung tentu saja lebih karib dengan nama Buway Lapah di Way atau Buway Bejalan di Way untuk frasa “Orang-orang yang Berjalan di Atas Air” yang tercantum pada titel buku, yaitu satu di antara paksi (kesatuan beberapa kerabat di masa kekuasaan Banten) Sekala Brak dalam masyarakat adat Lampung Sai Batin (Pesisir) di Lampung Barat yang memerintah daerah Kembahang dan Balik Bukit dengan Ibu Negeri Puncak.
Melalui segabung cerita ini, sejatinya MHR ingin menuturkan asal-usul mitologis buay-nya (keturunannya) seperti terpantul dari cerpen “Kitab Nyeghupa,” “Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air,” “Sesiah Terakhir,” “Ikhau,” “Tambo Kuno dalam Lemari Tua,” “Riwayat yang Ditutukan oleh Hembusan Angin.”
Namun, pada dua cerpen selebihnya, MHR menggubah cerita yang diangkat dari realitas historis-biografis seperti terpantul pada cerpen “Firasat Bu Lik Koem,” dan “Penembak Misterius di Seberang Front Kemelak-Sepancar.” Sementara pada cerpen “Tentang Seorang Lelaki yang Mati Tertimpa Tembok” yang berupa cerpen mini (short short story), MHR bercerita tentang tokoh Mat Top, seorang lelaki pendurhaka.
Dua cerpen yaitu “Kitab Nyeghupa” dan “Kitab Hikayat Orang-orang yang berjalan di Atas Air” mengambil bentuk hikayat, yaitu jenis cerita rekaan yang menggambarkan keagungan dan kepahlawanan. Cerpen “Kitab Nyeghupa” bertutur tentang Umpu Nyeghupa alias Imam Maulana ibn Maulana Yamiza Rahmat, satu di antara Perserikatan Paksi Pak [Maulana Bersaudara] bersama-sama dengan Pernong, Belunguh, dan Lapah di Way.
Sebagai pelayan di rumah Ratu Sekeghumong, Nyeghupa muda tak hendak menuruti perintah Pangeran Umpu Betawang untuk memanggang babi kesukaaannya, dan sebagai penggantinya dia memasak daging sapi, karena babi hewan yang diharamkan. Hal ini menimbulkan kemarahan Pangeran Umpu Betawang, yang menimbulkan dendam kesumat pada diri Nyeghupa, sehingga ketika memasak sup kepala kerbau untuk pangeran congkak itu dia mencampurnya dengan getah beracun sebukau pohon melasa kepappang serta bisa kalajengking hitam dan empedu kecing hutan. Maka, Pangeran Umpu Betawang pun tewas. Perbuatannya itu memaksa dia bersama ayahnya harus meninggalkan lamban dalom (istana) itu dan menjadi buronan, dan itu berarti menggagalkan misi dakwah mereka di istana Sekala Bhga.
Cerpen “Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air” bertutur tentang Dr. Erik Liber Sonata yang menjadikan kitab yang tersimpan di Perpustakaan School of Oriental and Africa Studies University of London itu sebagai kajian disertasinya.
Dalam perjalanan menuju Liwa di atas kendaraan yang dikemudikan oleh Jamauddin sepupunya dia terus membaca kitab itu hingga halaman terakhir. Kedatangannya ke sana untuk mencari pembenaran perihal kitab kuno itu dari mulut para tetua adat Sai Batin Paksi Buay Lapah di Way di Kembahang. Di daerah Sumber Jaya, mobil mereka dicegat oleh selusin lelaki dengan senjata api di tangan yang meminta paksa menyerahkan salinan kitab itu dan mengancam akan membenamkan Erik dan sepupunya di Danau Ranau. Di antara selusin lelaki itu terdapat seorang lelaki bermata sipit yang ternyata keturunan Ratu Sekeghumong (yang merupakan musuh Umpu Lapah di Way, leluhur Erik) dari garis Pangeran Kekuk Suik yang bermaksud membakar kitab yang dirampasnya dari tangan Erik itu seraya berkata, “Masih ada satu lembar lagi. Kau mencari ini bukan? Halaman terakhir kitab Lapah di Way…” Dia mendapatkan halaman terakhir itu dari Perpustakaan Henry Sang Navigator di Portugal. Dia sendiri sudah bertahun-tahun memburu kitab itu, kitab “yang telah merenggut kesetiaan rakyat dari bawah duli kekuasaan Puyang Dalom Ratu Sekeghumong disebabkan keahlian ilmu mistik nenek moyangmu” (hlm 22).
Saat Erik dan sepupunya dilemparkan ke Danau Ranau, sesosok tubuh berpakaian dan bersorban putih muncul dari arah barat Danau Ranau. Ia berlari di atas air! Sosok misterius itu dengan ringannya menangkap tubuh Erik dan Jamauddin kemudian menaruh mereka di pinggir danau. Sosok itu tak lain adalah Maulana Bahruni Ibn Maulana Yamiza Rahmat alias Umpu Lapah di Way. Lalu Umpu Lapah di Way mengajarkan Erik berjalan dan berlari di atas air dan membacakan isi halaman terakhir kitabnya yang berbunyi, “Kebersihan jiwa setiap pengikut Jalan Yang Lurus adalah mutlak sebelum memasrahkan diri kepada Allah dan mengamalkan isi kitab Lapah di Way, Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air.”
Pada cerpen “Sesiah Terakhir” dan “Riwayat yang Dituturkan oleh Hembusan Angin” yang menampilkan tokoh perempuan yaitu Seperdu dan Sekeghumong, MHR masih berpandangan bias gender dan patriarkhis dalam hal relasi suami-istri dan/atau lelaki-perempuan, dan karenanya perlu dilakukan kritik sastra feminis. Kita kutip ucapan Seperdu, “Bawalah sikindua pergi, Pun Beliau. Sikindua akan membaktikan seluruh hidup dan jiwa hanya untuk Pun Beliau seorang. Terimalah bakti seorang istri kepada suami. Semoga dewa-dewi merestui perkawinan ini.” (hlm 34-35) Pernyataan ini bias gender karena tidak mendudukkan istri dalam posisi yang setara dengan suami. Seolah-olah hanya pihak istri yang mesti berbakti kepada suami, namun tidak sebaliknya. Di sini saya ingin memperkenalkan nilai baru yang setara dan adil gender seperti digagas pasangan Kate-Williams dari Kerajaan Inggris yang di dalam janji perkawinan mereka justru bertekad untuk saling menjaga di antara mereka, seraya mencampakkan nilai lama yang meminta istri berbakti kepada sang suami.
Begitu pula pada cerpen ”Riwayat yang Dituturkan oleh Hembusan Angin” terdapat pernyataan bias gender berikut ini, “Ajaran Jalan Yang Lurus tak membenarkan perempuan sebagai pemimpin!” ujar lelaki tua itu dengan kesombongan yang tak berkurang sedikit pun.” (hlm 92) Benarkah menurut agama Islam perempuan tak boleh menjadi pemimpin? Sikap demikian hanyalah pantulan dari fiqih lama yang mesti didekonstruksi.
Menurut K.H. Husein Muhammad, kiai-feminis dari Ponpes Arjawinangun Cirebon, perempuan boleh menjadi pemimpin publik dan bahkan menjadi imam salat. Hal itu didasarkan atas penyelidkannya QS an-Nisa [4]: 34, yang harus dipahami sebagai bersifat sosiologis dan kontekstual. Kehebatan intelektual dan profesi menurut Husein adalah dua hal yang menjadi syarat bagi sebuah kepimpinan dalam berbagai wilayahnya, domestik maupun publik. Dengan syarat seperti ini, terbuka kesempatan yang luas bagi perempuan untuk menduduki posisi-posisi publik, termasuk menjadi presiden.
Terhadap hadis Nabi yang menuturkan tidak akan pernah beruntung bangsa yang diperintah perempuan, KH Husein menyatakan bahwa hal itu sebuah informasi yang disampaikan Nabi Saw semata, dan bukan dalam kerangka legitimasi hukum. Tegasnya, hadis ini tidak memiliki relevansi hukum. Husein Muhammad lebih jauh menuturkan bahwa hadis ini harus dipahami dari sisi esensinya dan tidak bisa digeneralisasi untuk semua kasus, dalam arti bahwa hadis tersebut lebih bersifat spesifik untuk kasus bangsa Persia pada saat itu yang kepemimpinannya boleh jadi bersifat sentralistik, tiranik, dan otokratik.
Demikian pula kepemimpinan perempuan dalam salat. Menurut Husein Muhammad (2007: 37-44), terdapat pandangan yang menyatakan keabsahan imam perempuan yang juga didukung oleh hadis Nabi Saw tentang Ummu Waraqah. Ash-Shan’ani, penulis kitab Subul as-Salam menyimpulkan dari hadis Ummu Waraqah ini bahwa mereka yang menjadi makmum Ummu Waraqah adalah laki-laki dan perempuan. Sebab, secara eksplisit (menurut lahiriahnya) hadis ini memperlihatkan bahwa Ummu Waraqah menjadi imam salat bagi laki-laki tua, laki-laki hamba sahaya, dan perempuan hamba sahaya. Untuk menyebut contoh kontemporer imam perempuan adalah Amina Wadud yang menjadi imam untuk salat Jumat di Amerika Serikat.
Cerpen “Tambo Kuno dalam Lemari Tua” adalah sebuah cerpen indah yang menuturkan kebahagiaan sebuah keluarga kaya beranak lima. Teknik membuka, mengembangkan dan mengakhiri yang dilakukan MHR secara piawai merupakan nilai yang perlu diacungi jempol buat cerpen ini. Kebahagiaan keluarga itu terusik oleh kehadiran Tambo kuno yang menyatakan bahwa suami-istri itu berasal dari dua keturunan yang saling bermusuhan dan berbunuhan. Sang suami adalah keturunan Pangeran Umpu Betawang, suami Ratu Sekeghumong, sedangkan sang istri keturunan Lapah di Way. “Ada bara tersimpan dalam sekam selama kehidupan perkawinan Ayah dan Ibu. Api dalam sekam berusia nyaris satu milenium,” tutur putri bungsunya sepeninggal mati ayah-ibunya.
Secara umum, gaya bertutur MHR berkualitas prosa lirik. MHR benar-benar mementingkan bagaimana bisa bertutur secara memikat dan berhasil menjangkau langit sastrawi seperti dimaksudkan Danarto dalam penulisan cerpen-cerpennya. Namun, sayangnya, di tengah penuturan nan memikat itu, MHR abai dalam kerapian berbahasa.
Cerpen-cerpen MHR terutama pada enam cerpen yang menuturkan asal-usul mitologis membubuhkan warna lokal (warna tempatan, corak setempat), yaitu penggambaran corak atau ciri khas suatu masa atau daerah tertentu serta pemakaian bahasa/kata-kata daerah yang bersangkutan, dengan tujuan kisahan menjadi lebih menarik dan keasliannya lebih tampak. Sikap dan lingkungan tokoh juga ikut mendukung corak setempat. Ini tampak misalnya pada kata-kata daerah sikindua (saya), sikam (saya), sesiah (kencan), benatat (beruk), semanda, ikhau, ka ga nga, tabuh canang, putri dalom, pepadun (singgasana), akan (ayah), pun (kakak lelaki tertua), jurai lurus (keturunan langsung), pekon (kampung), dan lain-lain.
Cerpen “Penembak Misterius di Seberang Front Kemelak-Sepancar” berkisah tentang penembak jitu Pauline Gobee, seorang gadis berdarah Indo-Belanda, yang bergabung dengan Tentara Republik dalam pertempuran di Kemelak-Sepancar, Baturaja pada 17 Agustus 1947 melawan tentara NICA. Bersama Moeis, dia ditugasi Kolonel Ahmad Wahab untuk menembak mati penembak misterius dari tentara NICA yang telah menembak mati beberapa mata-mata tentara republik. Alhasil, Pauline berhasil menembak mati sang penembak misterius, namun ternyata penembak misterius yang dibunuh Pauline Gobee adalah seorang lelaki Indo-Belanda kekasihnya sendiri.” (hlm 72) Sungguh sebuah akhir yang mengejutkan! Melalui cerpen ini yang dipersembahkan kepada almarhum kakeknya Hi. Abdoel Moeis (1930-2003) – yang tak lain adalah tokoh Moeis -- MHR berhasil memotret sisi manusiawi sebuah perang.
Cerpen “Firasat Bu Lik Koem” menuturkan tentang tokoh Untung yang tercatat dalam sejarah kontemporer Indonesia sebagai salah seorang tokoh yang berperan dalam Gerakan 30 September [Gestapu] atau Gerakan Satu Oktober [Gestok] (1965) yang membunuh para jenderal. Cerpen ini mengangkat sisi manusiawi tokoh Untung yang mencintai Tutik, gadis belia awal dua puluhan, mahasiswi sebuah sekolah kebidanan negeri di Solo. Saat itu, Untung berusia pertengahan tiga puluhan, seorang perwira TNI Angkatan Darat berpangkat mayor. Cinta mereka yang tumbuh berkat witing tresno jalaran soko kulino (cinta bermula dari kebiasaan) terputus di tengah jalan karena lamaran Untung ditolak oleh Bu Lik Koem, yang bersama suaminya Pak Lik Tanto, mengasuh Tutik sejak kecil tanpa pamrih.
Bu Lik Koem memiliki firasat tajam bahwa Untung bin Syamsuri bukanlah pria baik-baik dan berolok-olok bahwa nama Untung justru bermakna ‘buntung.’ “Ke mana perginya sikap welas asih-mu, Mas? Mengapa bertukar wajah menjadi pembunuh biadab?” gumam Tutik terdengar lirih ketika putusan hukuman mati terhadap Untung diumumkan secara nasional. (hlm 62) “Nama itu tak seberuntung nasib dan kisah hidupnya yang tragis,” tulis MHR di akhir cerpen (hlm 62); yang mempersembahkan cerpen ini kepada bibinya, almarhumah Bu Dhe Hastoeti Soekirno.
Jika cerita pendek dimaksudkan untuk memberikan kesan tunggal, maka membaca cerpen “Tentang Seorang Lelaki yang Mati Tertimpa Tembok” saya justru tidak beroleh kesan tunggal yang dominan karena MHR mengacaukan antara tokoh Mat Top dengan tokoh pemuda. Begitu pula saya tidak menemukan tikaian dramatik, yang justru merupakan inti cerita pendek.
Akhirnya, pembaca juga bisa menempatkan kumpulan cerpen ini, terutama untuk enam cerpen yang menuturkan asal-usul mitologis, sebagai post scriptum atas novel Perempuan Penunggang Harimau karya MHR. Karena narasi yang diusung keenam cerita itu sangat bertalian dengan pokok-soal PPH dan juga dapat menjadi semacam penjelasan lebih jauh atas novel itu.[]
Iwan Nurdaya-Djafar, pembaca buku
Senin, 01 Oktober 2012
Pantun Azimat. Tinjauan Filosofis.
Pantun ini dituturkan secara turun temurun dilingkungan komunitas Paksi Pak Sekala Berak. Seperti lazimnya anggota pada komunitas kepaksian ini seblumnya saya sempat mendengar dari seseorang akan penggalan teks pantun ini. Tetapi pantun selengkapnya saya dapatkan dari blog milik Paksi Prenong. Pantun ini harus ditafsir ulang baik secara piil pesenggiri maupun secara islami. Bila tidak ditafsirkan secara Islam dan piil pesenggiri justeru dapat mengundang salah pengertian dan merendahkan kepaksian.
Tafsir secara piil pesenggiri penting, karena piil pesenggiri adalah falsafah hidup masyarakat lampung, tafsir secara Islam juga penting karena selain periodeisasi munculnya pantun ini adalah era masuknya Islam ke Lampung, dan ajaran ajaran Islam dijadikan sandaran dalam penulisan konten pantun ini.
Walaupun memang dengan masuknya Islam paksi pak Sekala Berak sempat mengalami keguncangan. Dengan masuknya agama Islam tingkat kepatuhan terhadap kerajaan Paksi Pak sempat mengalami kegoyahan. Padahal sebelum Islam pemangku adat sebagaimana layaknya raja raja yang lain adalah memiliki kekuasaan yang tak terbatas, tampa ada perlawanan yang berarti. Kita bersyukur pada akhirnya masig masing berkenan mundur selangkah untuk mencari titik temu. dan nampaknya pihak kepaksianpun menginginkan masuknya Islam akan memperkuat eksistensi kepaksian itu sendiri, itulah antara lain mengapa ajaran islam dijadikan sandarannya.
Sungguh masuknya Islam, pamor kerajaan mulai terancam buram, para da'i mengajarkan kepatuhan hanya kepada Allah juwa. Rukun Islam yang lima harus ditegakkan, solat wajib lima waktu berpantang ditinggalkan. Neraka wail bagi siapa saja yang solatnya tak sempurna, apatah lagi meninggalkan dengan eengaja.Hidup ini harus diisi dengan jihad, adalah surga bagi siapapun yang gugur dalam jihad. Keinginan para punggawa untuk tetap mempertahankan eksistensi kedaulatan kerajaan terpaksa disepadankan dengan ajaran agama Islam yang masuk dengan dahsyat itu. Seperti tergambar dalam syair pantun azimat ini. konten pantun disandarkan kepada ajaran agama.
Pantun Azimat.
“Paksi Pak geralni
Sinno asli ni Lampung
Ngejual mak ngebeli
Dilom adat ni Lampung”
“Pisan simbayang tinggal
tempanjin di neraka
pissan saibatin tisakkal
hak lebon suaka mena”
“Khiah-khiah kik dawah
kekunang kik debingi
kik Sai Batin merittah
tisangsat ram kikpak mati
Terjemahannya.
Paksi Pak namanya
asalnya orang Lampung
berjual pantang beli
di situ adat dijunjung
Sekali solat tertinggal
badan matang dineraka
sekali raja disangkal
alamat badan sengsara
Hiruk pikuk dikala siang
senyap kunang di gulita
patuhi raja, jangan nentang
setiakan nyawa taruhannya.
Kata ngejual mak ngebeli harus ditafsirkan dalam versi piil pesenggiri, sehingga kata kata itu memiliki makna yang tinggi. Sebagai masyarakat petani di komunitas paksi pak Sekala Brak diajarkan kepada masyarakat agar kebutuhan sehari hari bagi seorang petani harus terpenuhi dari hasil pertanian itu sendiri. Jangan sampai seseorang yang mengaku sebagai petani, tetapi mulai dari besar hingga sayur mayur, aneka bumbu dan lain sebagainya yang dihasilkan melalui aktivitas pertanian, justeru harus dibeli. Setiap seseorang sebagai petani harus memiliki produksi hasil pertaniannya, melebihi kebutuhannya sehari hari dan kebutuhan orang yang berada dibawah tanggung jawabnya.
Pissan sebatin ti sakkal, hak lebon suaka mena. sekali raja disangkal alamat badan sengsara. kalimat ini harus dipahami secara terkait dengan bait pertama, bahwa setiap seseorang harus produktif. Perintah yang dikeluarkan dalam rangka meningkatkan lesejahteraan bersama. Manakala perintah untuk meningkatkan etos kerja ini tidak dilaksanakan maka alamat badan akan susah, bahkan manakala kemalasan itu tetap menjadi penyakit bersama, kesengsaraan pasti akan menimpa kita.
Kik sebatin merittah, tisassat kik pak mati. Patuhi raja jangan nentang, setiakan nyawa taruhannya. bait ini lebih ditujukan kepada para ulama. Agar ulama memfatwakan bahwa perintah melakukan upaya kesejahteraan bersama melalui peningkatan etos kerja hukumnya wajib. bahkan mengupayakan kesejahteraan bersama itu bernilai jihad. Siapapun yang gugur dalam jihad maka surga balasannya.
Penyusun pantun berharap dengan menyandar kepada ajaran agama yang mulai dipatuhi masyarakat eksistensi kerajaan Paksi pak akan tetap eksis. tetapi sayang ajaran yang mulia ini sempat diselewengkan oleh para punggawa kerajaan Sekala Berak yang sempat menggunakan tangan besi untuk mempertahankan kedaulatan. Dengan cara memaksakan kehendak. Termasuk mengambil sesuatu sesuatu secara paksa, selain pengrusakan pengrusakan untuk sekedar memberikan tekanan kepada masyarakat.
Mereka itu pada umumnya tidaklah memiliki wawasan yang memadai, para punggawa tidak sadar dengan siapa sebenarnya mereka berhadapan. Para ulama yang ada di sekitar kmomunitas paksi Pak Sekala Berak pada saat itu pada umumnya pernah nyantri di pesantren pesantren di Padang Sumatera Barat yang kelak menjadi perguruan terkenal "Tawalib" mereka memiliki wawasan keagamaan dan kebangsaan yang ada di atas rata rata. Masing masing para santri santri itu mendirikan masjid dan bahkan berencana akan mendirikan sekolah di mana mereka berada masing masing.
Eksodus besar besaran yang dilakukan oleh para santri bersama keluarga ini menjadi alternatif. mereka berpindah ke berbagai tempat guna menghindari bentrokan yang tidak perlu dengan para loyalis. Apalagi sesungguhnya masih memilkiki hubungan kekerabatan yang sangat dekat. Sementara kepindahan itu juga nampaknya menyadarkan pihak pimpinan kepaksian akan kekeliruan membaca perubahan zaman. Karena tentu saja kepaksian ini tidak bisa melanjutkan cara cara lama, apalagi kepulangan para santri ke desa masing masing sejatinya membawa pencerahan.
Terbukti pimpinan kepaksian ini setelah tampuk pimpinan berganti, secara efektif merajut kembali kesatuan dan persatuan. Komunitas Paksi Pak. Bahkan mereka mereka yang sejatinya dahulu telah meninggalkan kampung halaman itu kembali di rangkul.
Tafsir secara piil pesenggiri penting, karena piil pesenggiri adalah falsafah hidup masyarakat lampung, tafsir secara Islam juga penting karena selain periodeisasi munculnya pantun ini adalah era masuknya Islam ke Lampung, dan ajaran ajaran Islam dijadikan sandaran dalam penulisan konten pantun ini.
Walaupun memang dengan masuknya Islam paksi pak Sekala Berak sempat mengalami keguncangan. Dengan masuknya agama Islam tingkat kepatuhan terhadap kerajaan Paksi Pak sempat mengalami kegoyahan. Padahal sebelum Islam pemangku adat sebagaimana layaknya raja raja yang lain adalah memiliki kekuasaan yang tak terbatas, tampa ada perlawanan yang berarti. Kita bersyukur pada akhirnya masig masing berkenan mundur selangkah untuk mencari titik temu. dan nampaknya pihak kepaksianpun menginginkan masuknya Islam akan memperkuat eksistensi kepaksian itu sendiri, itulah antara lain mengapa ajaran islam dijadikan sandarannya.
Sungguh masuknya Islam, pamor kerajaan mulai terancam buram, para da'i mengajarkan kepatuhan hanya kepada Allah juwa. Rukun Islam yang lima harus ditegakkan, solat wajib lima waktu berpantang ditinggalkan. Neraka wail bagi siapa saja yang solatnya tak sempurna, apatah lagi meninggalkan dengan eengaja.Hidup ini harus diisi dengan jihad, adalah surga bagi siapapun yang gugur dalam jihad. Keinginan para punggawa untuk tetap mempertahankan eksistensi kedaulatan kerajaan terpaksa disepadankan dengan ajaran agama Islam yang masuk dengan dahsyat itu. Seperti tergambar dalam syair pantun azimat ini. konten pantun disandarkan kepada ajaran agama.
Pantun Azimat.
“Paksi Pak geralni
Sinno asli ni Lampung
Ngejual mak ngebeli
Dilom adat ni Lampung”
“Pisan simbayang tinggal
tempanjin di neraka
pissan saibatin tisakkal
hak lebon suaka mena”
“Khiah-khiah kik dawah
kekunang kik debingi
kik Sai Batin merittah
tisangsat ram kikpak mati
Terjemahannya.
Paksi Pak namanya
asalnya orang Lampung
berjual pantang beli
di situ adat dijunjung
Sekali solat tertinggal
badan matang dineraka
sekali raja disangkal
alamat badan sengsara
Hiruk pikuk dikala siang
senyap kunang di gulita
patuhi raja, jangan nentang
setiakan nyawa taruhannya.
Kata ngejual mak ngebeli harus ditafsirkan dalam versi piil pesenggiri, sehingga kata kata itu memiliki makna yang tinggi. Sebagai masyarakat petani di komunitas paksi pak Sekala Brak diajarkan kepada masyarakat agar kebutuhan sehari hari bagi seorang petani harus terpenuhi dari hasil pertanian itu sendiri. Jangan sampai seseorang yang mengaku sebagai petani, tetapi mulai dari besar hingga sayur mayur, aneka bumbu dan lain sebagainya yang dihasilkan melalui aktivitas pertanian, justeru harus dibeli. Setiap seseorang sebagai petani harus memiliki produksi hasil pertaniannya, melebihi kebutuhannya sehari hari dan kebutuhan orang yang berada dibawah tanggung jawabnya.
Pissan sebatin ti sakkal, hak lebon suaka mena. sekali raja disangkal alamat badan sengsara. kalimat ini harus dipahami secara terkait dengan bait pertama, bahwa setiap seseorang harus produktif. Perintah yang dikeluarkan dalam rangka meningkatkan lesejahteraan bersama. Manakala perintah untuk meningkatkan etos kerja ini tidak dilaksanakan maka alamat badan akan susah, bahkan manakala kemalasan itu tetap menjadi penyakit bersama, kesengsaraan pasti akan menimpa kita.
Kik sebatin merittah, tisassat kik pak mati. Patuhi raja jangan nentang, setiakan nyawa taruhannya. bait ini lebih ditujukan kepada para ulama. Agar ulama memfatwakan bahwa perintah melakukan upaya kesejahteraan bersama melalui peningkatan etos kerja hukumnya wajib. bahkan mengupayakan kesejahteraan bersama itu bernilai jihad. Siapapun yang gugur dalam jihad maka surga balasannya.
Penyusun pantun berharap dengan menyandar kepada ajaran agama yang mulai dipatuhi masyarakat eksistensi kerajaan Paksi pak akan tetap eksis. tetapi sayang ajaran yang mulia ini sempat diselewengkan oleh para punggawa kerajaan Sekala Berak yang sempat menggunakan tangan besi untuk mempertahankan kedaulatan. Dengan cara memaksakan kehendak. Termasuk mengambil sesuatu sesuatu secara paksa, selain pengrusakan pengrusakan untuk sekedar memberikan tekanan kepada masyarakat.
Mereka itu pada umumnya tidaklah memiliki wawasan yang memadai, para punggawa tidak sadar dengan siapa sebenarnya mereka berhadapan. Para ulama yang ada di sekitar kmomunitas paksi Pak Sekala Berak pada saat itu pada umumnya pernah nyantri di pesantren pesantren di Padang Sumatera Barat yang kelak menjadi perguruan terkenal "Tawalib" mereka memiliki wawasan keagamaan dan kebangsaan yang ada di atas rata rata. Masing masing para santri santri itu mendirikan masjid dan bahkan berencana akan mendirikan sekolah di mana mereka berada masing masing.
Eksodus besar besaran yang dilakukan oleh para santri bersama keluarga ini menjadi alternatif. mereka berpindah ke berbagai tempat guna menghindari bentrokan yang tidak perlu dengan para loyalis. Apalagi sesungguhnya masih memilkiki hubungan kekerabatan yang sangat dekat. Sementara kepindahan itu juga nampaknya menyadarkan pihak pimpinan kepaksian akan kekeliruan membaca perubahan zaman. Karena tentu saja kepaksian ini tidak bisa melanjutkan cara cara lama, apalagi kepulangan para santri ke desa masing masing sejatinya membawa pencerahan.
Terbukti pimpinan kepaksian ini setelah tampuk pimpinan berganti, secara efektif merajut kembali kesatuan dan persatuan. Komunitas Paksi Pak. Bahkan mereka mereka yang sejatinya dahulu telah meninggalkan kampung halaman itu kembali di rangkul.
Langganan:
Postingan (Atom)

