Minggu, 23 Januari 2011

LANGKAN : Bahasa Jawa Mulai Ditinggalkan

BAHASA Jawa mulai ditinggalkan oleh orang Jawa, terutama yang tinggal di daerah perkotaan. Melunturnya kebiasaan berbahasa Jawa jika dibiarkan semakin lama akan turut memudarkan budaya Jawa. Peneliti Balai Besar Bahasa Jawa Tengah, Suryo Handono, di Kota Semarang, Selasa (18/1), mengungkapkan, bahasa Jawa mulai ditinggalkan terutama oleh kalangan keluarga muda di Kota Semarang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Suryo pada tahun 2003, di Kota Semarang hanya 26,3 persen orang Jawa yang masih setia berbahasa Jawa. ”Sebagian besar memandang bahasa Indonesia lebih mudah dan akrab karena tidak ada jenjang penggunaannya seperti bahasa Jawa,” kata Suryo. (UTI)

Sumber: Kompas, Rabu, 19 Januari 2011

Senin, 17 Januari 2011

100 Turis disambut Pergelaran Wisata

Utama Lampost : Senin, 17 Januari 2011
PARIWISATA LAMBAR




MERAPAT DI KRUI. Kapal pesiar Odessy Clipper asal Amerika Serikat yang membawa 103 wisatawan mancanegara merapat di pantai Krui, Lampung Barat, Minggu (16-1). Pemkab Lambar menyambut rombongan wisatawan dengan menggelar acara budaya.
(LAMPUNG POST/HENDRI ROSADI)

LIWA (Lampost): Lebih dari 100 wisatawan mancanegara menikmati pergelaran budaya dan sejumlah objek wisata di Lampung Barat, Minggu (16-1).

Rombongan wisatawan berlabuh di Pelabuhan Kualastabas, Kecamatan Pesisir Tengah, Krui, sekitar pukul 07.00, dengan menumpang kapal pesiar Odessy Clipper asal Amerika Serikat.

Mereka disambut Camat Pesisir Tengah Edi Muktar dengan cara mengalungkan tapis kepada salah seorang perwakilan tamu ekseklusif tersebut. Kemudian mereka juga disambut tari Bedana.


Setelah itu, para turis melanjutkan perjalanan menggunakan enam bus menuju Lamban Gedung Kerajaan Paksi Pak Skala Brak di Kecamatan Batubrak. Ke-103 turis asing itu disambut Dalom Putri Arigina N.F.Z. Pernong, putri pertama Edwar Syah Pernong Gelar Sultan Skala Brak yang Dipertuan ke-23. Dalom Putri dengan bahasa Inggris yang lancar menjelaskan sejarah Kerajaan Skala Brak. "Lamban Gedung yang merupakan pusat Kerajaan Sekala Brak menyimpan sejarah berdirinya Kerajaan Sekala Brak serta banyaknya peninggalan sejarah," kata dia.

Setelah menerima penjelasan dari Dalom Putri, para pelancong asing itu melihat peninggalan-peninggalan bersejarah di Lamban Gedung. Mereka juga berbaur saat menikmati atraksi tari adat di halaman Lamban Gedung.

Di lamban gedung, wisatawan antusias dan mengabadikan sejumlah pusaka-pusaka Kerajaan Paksi Pak Skala Brak di Kecamatan Batu Brak dan kain tapis. Usai menyaksikan berbagai seni budaya di lamban gedung Kepaksian Buay Pernong itu, para turis diajak ke tempat pengolahan kopi luwak di Pekon Way Mengaku. Di tempat tersebut, selain menyaksikan cara pembuatan kopi luwak, para turis itu pun tidak ketinggalan untuk ikut mencicipi kopi luwak.

Tak lupa, mereka juga membawa pulang kopi itu ke negara mereka sebagai oleh-oleh. "Saya sangat merasakan perbedaan rasa dan aroma antara kopi biasa dengan kopi luwak," kata Richard, turis asal Australia.

Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan menuju Pekon Pahmongan di Kecamatan Pesisir Tengah. Di tempat tersebut para turis itu menyaksikan atraksi panjat damar yang dilakukan warga, baik kaum ibu maupun kaum bapak. "Agar para tamu itu dapat menyaksikan serta mengetahui secara langsung tentang aneka seni budaya serta kekayaan alam yang dimiliki masyarakat Lampung Barat, sejumlah warga Pekon Pahmongan juga menyuguhkan atraksi panjat damar yang dilakukan bapak-bapak maupun ibu-ibu dengan lokasinya dipusatkan di repong damar milik masyarakat Pekon Pahmongan," kata Camat Pesisir Tengah Edi Muktar, kemarin.

Sementara, Tuch (64), wisatawan asal Amerika Serikat, mengakui telah berwisata lebih dari seratus negara. "Sudah lebih dari seratus negara yang saya kunjungi, tetapi Lambar memiliki karakter tersendiri baik alamnya maupun masyarakatnya," kata dia.

Selanjutnya, 103 pelancong itu menikmati keindahan alam Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dengan salah satu objek andalan anggrek yang banyak terdapat di kawasan hutan.

Sebelum mengakhiri safarinya, mereka dikenalkan dengan budi daya damar di Pekon Pahmungan, Kecamatan Pesisir Tengah. "Kunjungan kami sehari di sini sangat terkesan dan banyak sekali potensi baik alam maupun budaya Lambar yang sangat menarik," kata Christian asal Spanyol. (HEN/ELI/U-1)

PELUNCURAN BUKU: Novel yang Menyelamatkan Masa Silam Lampung

Utama Lampost : Minggu, 16 Januari 2011

NOVEL "Perempuan Penunggang Harimau"

BANDAR LAMPUNG—Beruntunglah Lampung karena novel Perempuan Penunggang Harimau karya M. Harya Ramdhoni terbit. Setidaknya, novel ini mampu membangunkan kembali ingatan ulun Lampung terhadap masa lalu mereka. Tentu saja setelah mengalami pengendapan dan penafsiran ulang terhadap sejarah.

Sastrawan Binhad Nurrohmat dalam peluncuran novel terbitan BE Press ini di aula Lampung Post, Sabtu (15-1), mengatakan novel Perempuan Penunggang Harimau telah menyelamatkan masa silam Lampung.

Menurut dia, dalam menulis, seorang pujangga tidak hanya mengandalkan konsep dan sistematika. Namun, ada misi yang hendak disampaikan penulis. "Di sinilah letak penting seorang pujangga," kata Binhad.

Kelebihan Ramdhoni dalam menulis novel ini, menurut dia, adalah adanya data-data empirik. "Seringkali penulis Indonesia bakat alam. Bung Dhoni (sapaan Ramdhoni) punya kelebihan. Karyanya ada kesamaan dengan Pramoedya Ananta Toer," kata penyair asal Lampung Timur ini.

M. Harya Ramdhoni mengakui kisah dalam novel karyanya merupakan percampuran antara fakta sejarah dan fiksi. "Tokoh-tokoh dalam novel ini merupakan individu yang pernah hidup di masanya masing-masing. Begitu juga dengan kerajaaan, dinasti, tempat, aksara, suku, benda, ritual adat, panggilan kebesaran, berbagai kesenian dan sastra lisan masyarakat Lampung Saibatin yang masih lestari," katanya.

Senada dengan itu, Wakil Pemimpin Umum Lampung Post Djadjat Sudradjat mengatakan Lampung patut berbangga dengan novel tersebut. Sebab, belum ada novel yang menceritakan sejarah Lampung lengkap dengan data-datanya. Bahkan, Djadjat mengaku “jatuh cinta” ketika pertama kali membaca novel Perempuan Penunggang Harimau.

"Seperti kata Syahrir, jika kamu ingin mengetahui sejarah Barat, bacalah novelnya. Karena itu, lebih menghemat energi ketimbang kamu membaca buku-buku sosiologi. Sebab, novel bercerita tentang masyarakat," kata Djadjat.

Penyair Iswadi Pratama mengakui novel karya Ramdhoni tidak kekurangan data dalam menuliskan sejarah Lampung. Namun, karya ini harus tetap diperlakukan sebagai novel. "Masa silam yang diselamatkan novel ini diharapkan tidak menjadi museuminal belaka, tetapi bisa menjadi refleksi untuk masa depan," kata dia.

Dalam pembacaan Iswadi, Ramdhoni mampu menjaga harmonisasi tokoh-tokoh lama dalam novelnya kendati terdapat sedikit yang mesti dijelaskan. "Pada bagian-bagian tertentu Ramdhoni kuat sekali menuliskannya, tetapi di bagian lain, justru menimbulkan pertanyaan-pertanyaan," kata Iswadi.

Dari sudut lain, budayawan Iwan Nurdaya Djafar menyebut karya Ramdhoni justru menyelamatkan karya sastra Lampung klasik. "Kalau sebelumnya untuk puisi telah lahir puisi bebas, novel Perempuan Penunggang Harimau ini bisa menginspirasi bagi perkembangan prosa Lampung di masa depan." (HENDRY SIHALOHO/P-1)

Minggu, 16 Januari 2011

Membaca Sejarah secara Fiksional

Apresiasi Lampost : Minggu, 16 Januari 2011


Lamban Gedung Skala brak Belalau Lampung Barat

NOVEL " Perempuan Penunggang Harimau "

"...sebuah cincin Saibatin Sekala Bgha bergambar ukiran harimau kesayangannya yang tetap setia melingkari jari manis sang ratu merupakan tanda percumbuan imajiner itu. Kemesraan mistik itu pula yang membuat Sekeghumong tidak memilih kuda atau binatang peliharaan lainnya. Ia memilih bayi harimau jantan sebagai peliharaannya. Diasuhnya harimau itu dengan kasih seorang ibu."

BEGITULAH M. Harya Ramdhoni gaya M. Harya Ramdhoni menggambarkan secara fiksional sejarah Kerajaan Sekala Brak, Lampung Barat melalui novel perdananya, Perempuan Penunggang Harimau yang diterbitkan BE Press, Lampung, Januari 2011. Ia padukan antara fakta sejarah dan fiksi. Para tokoh dalam novelnya seperti La Laula, Taruda, Rakian Sekehandak, Dapunta Hyang Jayanaga dan lain-lain merupakan individu-individu yang pernah hidup pada masanya masing-masing. Begitu pula demikian dengan nama kerajaan, dinasti, tempat, aksara, suku, dan benda, semuanya fakta sejarah. Ramdhoni, pria yang lahir di Solo itu, menceritakan kehebatan Ratu Sekeghumong yang mempertahankan adat leluhurnya. Sekeghomong bangga dengan hidup kesederhanaan.

Mengapa menulis novel dan bukan buku sejarah, Ramdhoni menyatakan argumennya. "Pertama, saya bukan sejarawan. Kedua, karya sastra merupakan senjata yang ampuh untuk mentransfer ilmu," katanya saat peluncuran novel itu di aula Lampung Post, Sabtu (15-1) siang. Bukan tanpa bukti ia mengatakannya. Suatu hari, Ramdhoni pernah bertanya kepada teman-teman adiknya, mana lebih suka buku sejarah atau novel sejarah. Serempak mereka menjawab, "Novel!" Akhirnya, Ramdhoni memberikan mereka sebuah novel karya Pramoedya Ananta Tour. Hasilnya tak dinyana. Beberapa hari kemudian, anak-anak sekolah itu meminta novel lanjutannya. Dari situ, Ramdhoni berkesimpulan, ternyata karya sastra lebih memikat!

Krisis identitas dan budaya Lampung di kalangan kawula muda mengetuk juga mengetuk pintu hati Ramdhoni. Pria yang sedang menempuh program doktor di Universitas Kebangasaan Malaysia (UKM) itu ingin menyegarkan ingatan mereka. Namun, Ramdhoni ingin memberikan sesuatu yang berbeda. Kebetulan, ia hobi menulis puisi. Bahkan, sebelumnya ia sudah pernah menulis novel, tetapi gagal karena aktivitasnya yang sibuk. Akhirnya, Ramdhoni mencoba menuliskan novel sejarah Kerajaan Skala Brak, Lampung Barat.

Selain itu, ia yakin karya sastra bisa membangkitkan gairah masyarakat. "Kenapa saya menulis Kerajaan Skala Brak? Karena saya orang sana. Menulis tentang asal-usul kita sendiri lebih emosional daripada dituliskan orang lain," kata Ramdhoni yang siang itu mengenakan kaus berkerah garis-garis.

Penyair Iswadi Pratama mengakui secara keseluruhan novel Perempuan Penunggang Harimau cukup komprehensif. Data-data yang dipaparkan teruji secara empirik. Sebab, penulisnya merupakan akademisi. Namun, ada beberapa bagian yang dikritiknya. Iswadi menjelaskan pada Bab I Halaman 1 dikatakan "ada seorang bayi perempuan dilahirkan". Lalu, pada halaman berikutnya dikatakan, "puluhan purnama ia menanti bayi itu". Menurut Iswadi, seorang perempuan mengandung hanya 9 bulan, bukan puluhan bulan. "Di sini ada ambiguitas. Masalahnya, kalimatnya diletakkan berdekatan," kritik Iswadi. "Mungkin maksudnya, saking terlalu lama. Dalam literer ini yang saya maksud ketaksaan berbahasa," katanya.

Pada bagian lainnya, kata Iswadi, Ramdhoni menuliskan “mereka berpelukan bahagia. ia mencium keningnya”. Lalu dikatakan, “air matanya menetes membasahi pipi ibunya”. Semestinya, kata Iswadi, air mata itu jatuh ke orang yang dipeluknya, bukan ibunya. Selain itu, bahagia dan sedih merupakan dua hal yang berlawanan. "Ini memang tidak penting tapi, lebay. Hanya, saya sebagai pribadi membayangkan pergolakan tokoh-tokoh di novel ini. Habisnya, tidak ada lagi sih yang bisa dikritik dari novel ini," ujar Iswadi terkekeh yang juga disambut gelak tawa peserta yang hadir dalam launching buku tersebut.

Wakil Pemimpin Umum Lampung Post Djadjat Sudradjat mengatakan novel Perempuan Penunggang Harimau ditulis secara konvensional. "Ada sinopsis, prolog, dan epilognya," ujar Djadjat.

Menurut Djadjat, novel ini penting karena bisa menjadi oasis bagi masyarakat Lampung. Ia menjadi semacam "dedikasi" dari pengarangnya untuk mengingatkan pada masa lalu Lampung yang sudah mengalami pengendapan dan penafsiran ulang. "Novel ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak pihak bahwa banyak lahan yang bisa digarap bagi kerja kreatif."

Menurut Djadjat, karya sastra bisa memengaruhi masyarakat. Contohnya, novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang menuliskan masalah pendidikan di Pulau Belitong, Bangka Belitung. Dampaknya, masyarakat Belitong khususnya, para siswa, menjadi rajin sekolah.

Djadjat mencatat ada beberapa hal yang mengganjal dari novel ini. Ketika asyik menikmati "tempo doeloe" dalam novel ini, tiba terselip kata-kata baru, bukan dari bahasa lama. "Misalnya, kata "sialan". Bukankah kata "sialan" lebih kita kenal sebagai ungkapkan dalam bahasa betawi. Saya masing ingat ketika ke Jakarta pada 1970-an. Saya mendengar perkataan itu, 'sialan loe'," kata Djadjat.

Begitu pula kata "Pakdalom". Namun, penyair Anton Kurniawan menolak kata "Pak" sebagai bahasa baru karena kata ini sering dipergunakan dalam khazanah bahasa Lampung.

Pujangga kelahiran Lampung Timur, Binhad Nurrohmat, mengatakan jarang sekali suku di Indonesia yang mempunyai aksara. Lampung merupakan salah satu provinsi yang kaya akan situs dan aksara. Dia percaya tradisi bercerita muncul dengan watak bahasa tertentu. Namun, ia mengaku kesulitan dengan bahasa latin. Pasalnya, kata Nurrohmat, kita tidak bisa melakukan modifikasi terhadap bahasa latin. "Saya curiga berhentinya budaya cerita di Indonesia karena kita berhenti dengan aksara pahlawan," ujarnya yang mengaku karya Ramdhoni menyelematkan masa silam.

Kehadiran novel Perempuan Penunggang Harimau adalah kembalinya tradisi cerita setelah sekian lama tenggelam. "Lampung punya potensi itu karena Lampung mempunyai aksara," tegasnya. Artinya, setelah ini kita pun berharap sastra Lampung semakin bersinar sebagaimana dikatakan budayawan Iwan Nurdaya Djafar, novel karya Ramdhoni menjadi semacam penyelamat bagi masa depan sastra klasik Lampung. Semoga. (HENDRY SIHALOHO/P-1)