Minggu, 07 Mei 2017

OBRAL (ISTILAH) MAKAR



Makar itu adalah kejahatan yang menjijikkan karena ada usaha dan kesepakatan menjatuhkan untuk menjatuhkan Pemerintah yang syah, pemerintah yang baik yang melaksanakan aturan sesuai dengan Pancasila, UUD 1945, NKRI, serta Demokrasi. Tetapi akhir kahir ini istilah makar itu dibuat seperti dipanggung dagelan saja, istilah makar akan dilekatkan kepada siapa saja dan kapan saja serta terkait apa saja, ituboleh boleh saja, artinya makar itu adalah belum tentu terkait kejahatan, melainkan kepentingan Penguasa. Manakala kepentingan para Penguasa terganggu maka makar itu namanya, maka satu saat makar itu juga akan ditimpakan kepada seorang gaek yang setiap harinya harus meminum sejumlah obat agar yang bersangkutan sekedar mampu duduk di kursi roda. Makar !

Pada suatu saat anak cucu tak boleh takut dan negri mendengat tuduhan makar, karena makar telah ada di mana mana, ibarat jualan, maka ini telah banting harga, obral besar sehingga orang bisa punya makar siapapun dia. Jadi anak cucu kita nanti tak perlu takut takut mendengar istilah makar, karena akan menjadi hal yang biasa. Apakah ini akan berlanjut sehingga makar itu menjadi familiar di telinga anak cucu kita, mereka yang makar itu cukup ditahan dalam hitungan jam, saja sekedar dimintai keterangan, atau cuma ngobrol ngobrol saja seperti cerita Kiflan Zein.

Saran kita yang hanya bisa membuat saran dan sakaligas disarankan untuk tak usah didengar menanggapi saran ini  adalah :  "Sebaiknya penguasa tidak gampang gampang membuat stempel makar,  jatuhkan stempel makar itu manakala dietemukan bukti hasil kegiatan intelijen resmi yang akurat, sehingga tergambar dibenak masyarakat bahwa makar itu benar benar terkait kejahatan yang akan merebut kekuasaan secara tidak syah" Ini hanya sekedar saran agar Penguasa tidak usah mendengarkan saran saran seperti ini, itu saja. Apalagi kita sudah bantung harga. Apa bisa kita naikkan lagi .... ?

Sabtu, 06 Mei 2017

SUDUT SEMPIT FILOSOFI BUNGA



Tulisan ini selain sangat ringan dan dangkal bahkan nyaris tampa makna karena tergelitik oleh prilaku sekelompok orang terkait dalam pelaksanaan Pilkada DKI April 2017. Alkisah kekalahan si Raja Uang pasangan Ahok Jarot yang keluar sebagai pecundang dalam Pilkada, Sebuah kenyataan yang sangat bertentangan dengan akal sehat sebagai manusia waras, ditinjau daru dari banyaknya dan beragamnya Tim Sukses serta lamanya bekerja dan  banjirnya uang dalam jumlah berlipat ganda, didukung oleh sejumlah orang terkaya di Indonesia dan bahkan berdasarkan informasi liar yang justeru informasi dari kalangan sendiri yang telah bekerja jauh hari sebelum tahapan Pilkada, maka tak masuk akal pasangan Ahok akan keluar sebagai pecundang. Kalah dalam hitungan yang sangat memalukan sekitar 42.50% melawan 57,50, itulah juga sebabnya maka barbagai pengaduan Pilkada yang telah dipersiapkan, tidak diajukan sebagai pengaduan, karena akan menjadi sia sia, dan kita semua telah dibuat oleh kenyataan sebagai orang dungu, laiknya. Kita akan menjadi lebih dungu, manakala ada orang yang merasa dengan Tim dan uang sebanyak itu Ia sanggup memborongsemua suara.

Tetapi dasar namanya politik dan dukungan uang banyak maka sekalipun pencundang masih mempunyai harga diri, karena memiliki uang yang banyak, sehingga secara serentak dan tiba tiba datang ribuan kiriman bunga dihari awal saja memenuhi halaman Balai Kota berisi rasa simpati kepada pecundang, sehingga tidak kehilangan muka, walaupun kalah, tetapi Ahok Jarot didukung oleh massa yang rasional, sedang pihak lawan sekalipun menang didukung oleh oleh massa irrasional. Serangan opini gencar dilaksanakan dan kiriman karangan bunga adalah salah satu diantaranya. Inilah sebuah tragedi kemashuran logika manusia.

Tulisan ini bukan sebagai ikut ikutan memberikan analisa dan penilaian sungsang terhadap mutu Pilkada DKI yang dicerca sebagai tidak rasional itu, bahkan ada pengamat kenamaan yang menyatakan analisa dangkal secara terburu buru, bahwa justeru kelas menengah kebawah memiliki sikap yang lebih rasional ketimbang mereka yang dikelompokkan sebagai golongan menengah ke atas. Tetapi untungnya lagi analisis tersebut dikatakan bahwa Pendidikan Tingkat dasar yang harus dipersalahkan dan dipoerbaiki, namanya juga analisis sungsang, tetapi biarkanlah kedunguan kita akan berlalu, dan kita memang harus belajar ulang memahami kenyataan.

Jumat, 05 Mei 2017

BAHASA ANGKA VS BAHASA BUNGA



Politik Gaya Baru, benar ini tak terlepas dari pristiwa politik, tak terlepas dari Pilkada DKI yang telah resmi dimenangi oleh Pasangan Anie - Sandi. Dan Paslon petahana hanya mampu keluar sebagai pecundang, seperti halnya Pilkada DKI sebelumnya, untuk melengkapi catatan behwa belum ada sejarahnya calon petahana mampu bertahan, karena warga Jakartaternyata sangat kritis, sedikit saja Petahan melakukan kesalahan, maka dengan sangat tegas warga akan meninggalkannya, dan inipun dialami pasangan Ahok Jarot, jangan main main dengan warga Jakarta.

Boleh saja teman Ahok pamer dengan karangan bunga untuk menunjukkan bahwa Ahok Jarot sangat dicintai warganya. Tidak ini tidak bisa dibantah bahwa warga tidak suka dengan Ahok Jarot, titik. angka 57% adalah jumlah yang tak main main. Apapun kalimat dari pendukung Ahok Jarot, maka hanya dengan satu kata, mereka tak suka. Bisa jadi ini juga nanti akan dialami oleh Anis Sandi.Bahasa Pemilih adalah bahasa Angka.

Tak dinyana muncul ribuan karangan bunga, apa maksud dan arti dari bahasa bunga itu, jelas interpretible tampa kesudahan, takada yang bagu, masing masing syah syah saja memberikan arti bagi bahasa bunga itu. Apakah juga bisa dinikmati dengan arti yang sama, itupun akan sulit diberi batasan. Bagi Ahok dan Jarot bersama pendukung dan teman temannya bisa memiliki apresiasi yang sama, tetapi dengan yang lain justeru bisa bertentangan.

Bahasa bunga ituibarat laut, dia tak akan bertepi, keluasan dan kedalamannya akansengat tergantung kepada sipenerima, oleh karenanyabisa luas, bisa juga sempit, bisa dalam dan bisa juga dangkal. Ada sejumlah orang beberapa hari lalu justeru membakar karangan karangan bunga yang demikian berarti bagi pendukung Ahok, juateru dinilai dangkal oleh mereka yang membakar.

Bahasa bunga bisa memilikigema yang sambung bersambung, tetapi terkait kesimpulan atau semacamnya, maka yang paling cepat tertangkap adalah bahasa kata kata, bahasa bunga itu ituakan membias, dan akan luntur dan layu, hanya dalam waktu yang terlalu lama.