Kamis, 22 Mei 2014

BENDE MATARAM

Bende Mataram
Certa Silat Jawa karya Herman Partikto Berlatar belakang Sejarah
Pangeran Semono bersabda kepada Patih Lawa Ijo:
“Hendaklah engkau jangan takut lelah. Aku perintahkan kepadamu menangkap pencuri sakti bernama Pangeran Joyokusumo yang membuat keonaran dalam gedung puteri negeri Loano.
Kusertakan padamu tiga pusaka agar berhasillah. Pertama: Jolo Korowelang. Kedua: keris bernama Kyai Panubiru juga disebut Kyai Tunggulmanik. Ketiga: Bende Mataram. Manakala engkau kalah bertanding, tabuhlah Kyai Bende Mataram. Dan aku pasti akan datang …”
KALA itu permulaan musim panen tahun 1792. Sultan Hamengku Buwono II baru beberapa hari naik tahta kerajaan Yogyakarta. Di seluruh wilayah negara, rakyat ikut merayakan hari penting itu.
Tontonan wayang dan sandiwara rakyat hampir digelar di semua pelosok desa. Keadaan demikian tidak hanya menggembirakan rakyat desa, tetapi merupakan suatu karunia besar bagi senimanseniman kecil.
Di suatu jalan pegunungan yang melingkari Gunung Sumbing, berjalanlah seorang laki-laki tegap dengan langkah panjang. Laki-laki itu kira-kira berumur 24 tahun. Ia mengenakan pakaian model pada masa itu. Bajunya surjan Mataram(bentuknya seperti jas tertutup) dari bahan lurik halus. Anehnya, memakai celana panjang seperti Kompeni Belanda. Kakinya mengenakan sandal kulit kerbau yang terikat erat-erat pada mata tumitnya.
Dia bernama Wirapati, murid keempat Kyai Kasan Kesambi yang bertapa di pertapaan Gunung Damar (disebelah utara Purworejo-Jawa Tengah).
Kyai Kasan Kesambi waktu itu sudah berumur 70 tahun. Selama puluhan tahun, ia menyekap dirinya di atas pegunungan untuk menyempurnakan ilmu-ilmu yang diyakini. Setelah berumur 60 tahun barulah dia menerima murid. Muridnya hanya berjumlah lima orang. Murid yang tertua bernama Gagak Handaka. Kemudian Ranggajaya, Bagus Kempong, Wirapati dan Suryaningrat.
Umur murid-muridnya paling tinggi 40 tahun. Sedangkan murid termuda Suryaningrat lagi berumur 17 tahun………
Untuk mengetahui seri Bende Mataram lengkap silahkan download di Gallery 80 s

Karya Herman Partikto  Seri Bende Mataram :
  1. Patih Lawa Ijo 
  2. Pusaka Jala Kalawelang
  3. Asal Usul Bende Mataram
  4. Bunga Ceplok Ungu Dari Banten
  5. Bende Mataram
  6. Mencari Bende mataram

Sabtu, 08 Februari 2014

[Buku] Nama Baik yang Harus Dijaga

Oleh Ridwan Hardiansyah


Data Buku
Menjaga Nama Baik, Biografi H. Mursyid Arsyad, S.H.
Adian Saputra
Indepth Publishing, 2013
viii + 156 hlm.
DI mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Bagi Mursyid Arsyad, junjungan terhadap langit tidak hanya sebatas menginjak bumi. Sebagai abdi negara, menjunjung langit tidak berarti sekonyong-konyong menuruti perintah atasan untuk mencari muka. Mursyid memaknainya dengan melaksanakan tugas yang diamanahkan sebaik mungkin.

Jurnalis Lampung Post, Adian Saputra, secara bertutur mengejawantahkan perjalanan hidup Mursyid Arsyad secara apik, dalam buku berjudul Menjaga Nama Baik, Biografi H. Mursyid Arsyad, S.H. Perlahan dan runut, Adian mengurai kembali jejak-jejak langkah yang ditinggalkan Mursyid.


Terlahir sebagai anak seorang petani cengkih pada 14 Juli 1938, di Putihdoh, Tanggamus, masa kecil Mursyid terbilang berkecukupan. Hal itu karenasaat itu cengkih, kopi, dan lada masih berharga tinggi di pasaran. Lampung dikenal kaya akan ketiga hasil bumi itu sehingga mendapat julukan Tanah Lado (hlm. 2—3).

Kisah Indonesianis Pembuka Pandora Bahasa Lokal

Oleh Christian Heru Cahyo Saputro


Semua yang telah dikerjakan untuk bahasa-bahasa Nusantara sama sekali tidak berharga dan tidak akan ada perubahan selama orang tidak mempelajarinya untuk kepentingan-kepentingan bahasa itu sendiri.


Film Risalah Van Der Tuuk yang dibuat berdasar hasil riset sastrawan
Lampung, Arman A.Z. yang sekaligus menjadi produser ini disutradarai
Irwan Wahyudi. Film ini mengisahkan kiprah sosok van der Tuuk
indonesianis yang punya perhatian pada bahasa-bahasa lokal Nusantara,
antara lain bahasa Batak, Lampung, Bali, dan Jawa kuno (Kawi).
KEHADIRAN film Risalah Van Der Tuuk setidaknya menjadi kunci pembuka kotak pandora bahasa-bahasa Nusantara yang selama ini sepi dibincangkan. Konon bahasa-bahasa nusantara yang ada kini sebagian terancam punah karena ditinggalkan penuturnya.


Komite Film Dewan Kesenian Lampung (DKL) merilis film bertajuk Risalah Van Der Tuuk. Film bergenre dokumenter ini mengisahkan kiprah sosok indonesianis peneliti yang punya perhatian pada bahasa-bahasa lokal Nusantara, antara lain bahasa Batak, Lampung, Bali, dan Jawa kuno (Kawi). Film yang dibuat berdasar hasil riset sastrawan Lampung, Arman A.Z. yang sekaligus menjadi produser ini disutradarai Irwan Wahyudi.

Manuskrip Kuno, Mengapa dan Kenapa?

Oleh Karina Lin 


TULISAN ini terinspirasi oleh artikel opini yang berjudul Menyelamatkan Manuskrip Kuno Lampung yang ditulis Rijal Firdaos (Lampung Post, 26 Desember 2013). Setelah membaca tulisan beliau yang menyinggung-nyinggung perihal filologi, yakni suatu cabang ilmu sejarah yang terfokus pada pengkajian naskah-naskah kuno; dan beberapa manfaat yang didapatkan apabila kita melakukan penelusuran naskah, arsip, atau manuskrip kuno (baca: menerapkan ilmu filologi) khususnya naskah, arsip, dan manuskrip kuno Lampung, membuat saya tercenung.