Minggu, 22 September 2013

SKALA BRAK PADA ZAMAN HINDU (masa kerajaan)


Skala Brak pada Zaman Hindu (Masa Kerajaan)



Riwayat leluhur bangsa Lampung dan Skala Brak dapat ditelusuri, antara lain dari warahan (cerita turun-temurun), warisan adat, serta peninggalan lainnya. Salah satu benda peninggalan Skala Brak adalah menhir yang merupakan peninggalan masa Megalitikum dan ini menjadi bukti bahwa leluhur orang Lampung telah memiliki peradaban sejak masa pra-sejarah.

Riwayat Kerajaan Skala Brak juga dapat diketahui dari tambo-tambo yang di masyarakat. Tambo adalah salah satu bentuk ekspresi atas kesadaran masyarakat terhadap masa lalu yang berisi seluk-beluk kebudayaan, adat, dan asal-usul masyarakat. Di dalam tambo terkandung narasi kesejarahan yang ditujukan untuk berbagai kepentingan sebagai ekspresi atas kondisi sosial pada waktu di mana tambo itu dibuat (Irhash A. Shamad, 2009). Tambo-tambo tentang Skala Brak yang ditemukan sebagian besar ditulis pada kulit kayu atau kulit kerbau.

Di lereng Gunung Pesagi, ditemukan sejumlah peninggalan lainnya, seperti batu-batu bekas kuno, tapak bekas kaki, altar, dan tempat eksekusi. Menurut penafsiran Prof. Dr. Louis-Charles Damais, prasasti Hujung Langit (Hara Kuning) yang ditemukan di Bunuk Tenuar Liwa, merupakan bukti peninggalan Skala Brak pada zaman Suku Tumi. Dalam prasasti bertarikh 9 Margasira 919 Saka itu terpahat nama seorang raja yang diduga pernah berkuasa di Skala Brak, bernama Baginda Sri Haridewa (Louis-Charles Damais, 1995).

Sedangkan dari sebuah batu berangka tahun 966 Saka atau 1074 Masehi yang juga ditemukan di Bunuk Tenuar Liwa diperoleh keterangan bahwa Lampung telah dihuni sekelompok masyarakat beragama Hindu. Diperkirakan, batu yang bertuliskan huruf Pallawa ini merupakan perangkat untuk mengeksekusi orang yang melanggar hukum kerajaan. Unsur Hindu dalam kebudayaan Kerajaan Skala Brak semakin kuat dengan ditemukannya parit-parit, jalan-jalan setapak, batu persegi, batuan berukir, serta puing-puing candi khas Hindu.

Sejumlah sejarawan Belanda, seperti Dr. Fn. Fune, Groenevelt, Rampanggilay, Van Vollenhoven, L.C Westenenk, dan Hellfich, menyimpulkan, warga Skala Brak pernah melakukan perpindahan bertahap dari waktu ke waktu. Migrasi itu terjadi karena beberapa peristiwa penting. Pertama adalah ketika Suku Tumi terusir dari kampung halamannya akibat masuknya agama Islam. Kedua, adanya perselisihan internal di antara keluarga kerajaan sehingga pihak yang tidak menerima keadaan memutuskan untuk pindah ke daerah lain. Ketiga, adanya gempa bumi yang menyebabkan sebagian besar penduduk Skala Brak mencari perlindungan ke daerah lain. Keempat, adanya aturan adat yang menetapkan bahwa yang paling berhak memperoleh hak waris keluarga adalah anak tertua sehingga banyak anak-anak muda Skala Brak memilih pindah ke daerah lain dengan harapan akan mendapat kedudukan dan status sosial yang lebih baik.

Akibat gelombang migrasi itu, terjadilah penyebaran kebudayaan Suku Tumi. Sebagian besar dari mereka mengikuti aliran way (sungai) untuk bermukim dan mempertahankan hidup. Beberapa aliran sungai yang menjadi tempat tujuan migrasi Suku Tumi antara lain Way Koming, Way Kanan, Way Semangka, Way Seputih, Way Sekampung, dan Way Tulang Bawang, beserta anak-anak sungainya, sehingga meliputi dataran Lampung, Palembang (Sungai Komering), bahkan hingga ke Pantai Banten (Ahmad Yani, 2007).

Kerajaan Skala Brak pada masa Hindu juga diindikasikan sebagai peradaban yang kelak berpengaruh terhadap berdirinya Kerajaan Sriwijaya di Palembang karena terdapat sebagian Suku Tumi yang menuju Palembang. Selain itu, ada keturunan dari Kerajaan Skala Brak Hindu yang diduga menjadi pendiri Dinasti Sriwijaya, yaitu Dapunta Hyang Sri Jayanaga. Dapunta Hyang Sri Jayanaga inilah yang memulai Dinasti Sriwijaya awal dengan ibu negeri di Minanga Komering (Arlan Ismail, 2003).

Menhir, Peninggalan Suku Tumi di Skala Brak
http://buaypernong.blogspot.com/

KESEPAKATAN HIMPUN SAIBATIN PAKSI



PEWARIS KERAJAAN SEKALA BRAK

 
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Kekinian adalah sejarah yang berjalan. 

Berkat rahmat Allah SWT serta didorong oleh rasa tanggung jawab  sebagai pewaris Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak yang diyakini sebagai asal usul suku bangsa Lampung serta cikal bakal peradaban di tanah Lampung, oleh sebab itu kami para “Sai Batin” Paksi Pak Sekala Brak terpanggil untuk memelihara, dan menjaga kearifan lokal serta melestarikan adat dan budaya “Sai Batin” khususnya tradisi Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak sejak dahulu kala sebagai bagian dari khasanah adat dan budaya yang tergabung dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pada hari ini Sabtu tanggal delapan Desember tahun Dua ribu dua belas (8-12-2012) bertempat di ruang Margasana “Gedung Dalom”  Kepaksian Pernong kami “Sai Batin” Raja Adat Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Lampung melakukan “HIPPUN SAI BATIN PAKSI” (Musyawarah Agung para Sultan Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak) yang masing-masing kami hadir secara fisik yaitu
1. “Sai Batin” Kepaksian Pernong, Drs. Pangeran Edward Syah Pernong, SH.MH. gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-XXIII
2. “Sai Batin” Kepaksian Nyerupa,  Drs. Salman Parsi gelar Sultan Piekulun Jayadiningrat
3. “Sai Batin” Kepaksian Belunguh, Yanuar Firmansyah gelar Sultan Junjungan Sakti.
4. “Sai Batin” Kepaksian Bejalan Diway,  Selayar Akbar, SE.Akt gelar Sultan Jayakesuma ke-IV.

Adapun keputusan yang dapat kami sepakati pada “Hippun Sai Batin Paksi” tersebut kami tuangkan dalam tujuh butir kesepakatan yang kami beri nama : “Kesepakatan Hippun Sai Batin Paksi” sebagai berikut :


I.    Bahwa Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak menganut sistim “BERSATU TIDAK BERSEKUTU dan BERPISAH TIDAK BERCERAI” yang mana Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak merupakan satu Kerajaan yang diperintah oleh keturunan empat orang bersaudara yaitu :

1.1.     Kepaksian PERNONG dengan ibu negeri Batu Brak
1.2.     Kepaksian NYERUPA dengan ibu negeri Sukau
1.3.     Kepaksian BELUNGUH dengan ibu negeri Kenali
1.4.   Kepaksian BEJALAN DIWAY dengan ibu negeri Kembahang

Masing-masing Kepaksian mempunyai kekuasaan, wilayah dan masyarakat adatnya sendiri-sendiri dan mempunyai kedudukan kebangsawanan yang sederajat tidak ada lebih antara satu  Kepaksian dengan Kepaksian lain.
Adapun sebutan untuk struktur Kerajaan Paksi masing-masing disebut Kepaksian, sedangkan Buay atau Kebuayan adalah sebutan untuk menunjukkan garis keturunan.
Bahwa kami “Sai Batin” Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak menyatakan terlarang dan melanggar adat bagi salah satu Paksi yang menyatakan dirinya lebih tua karena keturunan Paksi Pak Sekala Brak ini adalah keturunan penakluk suku tumi yang setelah merebut Sekala Brak meneruskan dengan Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak yang antar Paksi satu sama lain mempunyai kedudukan dan derajat yang sama.
II.   Bahwa kami para “Sai Batin” senantiasa akan mengeluarkan Statement yang sama tidak berbeda antara satu dengan yang lainnya baik dalam menyikapi tentang tata-titi keadatan maupun dalam menyikapi dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.
III. Bahwa kami para “Sai Batin” tidak boleh mengklaim terhadap Marga yang telah berdiri dan diakui keberadaannya oleh seluruh Paksi Pak secara turun temurun, contoh seperti Marga Liwa yang keberadaannya telah diakui oleh seluruh Paksi dalam Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak.
IV. Bahwa kami para “Sai Batin” berkomitment untuk mempertahankan tujuh jenjang Kebangsawanan dalam adat “Sai Batin” Paksi Pak Sekala Brak yaitu :
4.1.     Sultan/Pangeran/Dalom
4.2.     Raja/Depati
4.3.     Batin
4.4.     Radin
4.5.     Minak
4.6.     Kimas
4.7.     Mas
Hanya Saibatin Paksi lah yang bergelar Sultan, Pangeran dan Dalom melekat pada diri “Sai Batin” dan tidak dapat dilimpahkan kepada siapapun juga kecuali kepada “Sai Batin” Marga yang telah mempunyai wilayah dan Masyarakat Adat tersendiri dan telah diakui oleh “Sai Batin” Paksi Pak Sekala Brak.
V.    Bahwa kami para “Sai Batin” akan saling mengagungkan dan saling membesarkan antara satu Kepaksian dengan Kepaksian lainnya dan tidak akan saling mengecilkan atau saling menjatuhkan, dan untuk kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan diluar Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak oleh salah satu Kepaksian maka wajib membawa nama Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak.
VI. Bahwa kami para “Sai Batin” akan menjaga hal-hal yang menurut Adat menjadi hak mutlak “Sai Batin” Paksi  (“Sai mak dapok nitimbang Paksi”) antara lain :
6.1.“Petutukhan” (Panggilan adat) Peniakan Dalom Beliau tidak boleh dipakai oleh siapapun selain dari “Sai Batin” Paksi Pak Sekala Brak
6.2.“Kawik Buttokh” (bentuk atap/bubungan) seperti contoh yang terpasang pada “pemugungan Gedung Dalom” Kepaksian Pernong.

6.3. Lambang Paksi Pak Sekala Brak “Cambai Mak Bejunjungan” sebagai Lambang milik daripada 4 Paksi tersebut yang mempunyai falsafah bahwa kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak dapat berdiri tegak kokoh dan kuat walaupun tidak dibantu oleh unsur-unsur lain, pihak lain ataupun komunitas lain karena karakter nilai dasar dari empat Kepaksian : Kekayaan dipegang oleh keturunan Umpu Belunguh, keberanian dipegang oleh keturunan Umpu Bejalan Diway, Kelihaian dan Kecerdikan dipegang oleh Umpu Pernong dan Hamba Rakyat yang banyak yang tersebar menjadi simbol kebesaran Kepaksian Nyerupa, itulah makna daripada “Cambai Mak Bejunjungan”
6.4. Gelar/Adok Sultan hanya milik Sai Batin Paksi Pak Sekala Brak sedangkan untuk Sai Batin Marga dan Saibatin Kebandakhan menggunakan gelar Suntan/Suttan atau Pangeran atau Dalom.


VII. Bahwa kami para “Sai Batin” sepakat menyeragamkan pakaian yang melekat di badan sebagai pakaian Keagungan “Sai Batin” Paksi Pak Sekala Brak, baik dipakai secara bersama-sama ataupun sendiri-sendiri oleh kami para “Sai Batin” Paksi Pak Sekala Brak antara lain :
7.1.     Tukkus berbelalai tidak berekor
7.2.     Kain serong gantung disebelah kiri
7.3.     Pusaka/”Pemanohan” Paksi
7.4.  Lencana Paksi Pak Sekala Brak dan lencana Kesultanan


Kami menyepakati bahwa Ratu Ngegalang Paksi adalah Ayah dari Paksi Pak Sekala Brak, Ratu Mamelar Paksi adalah Kakek dari Paksi Pak Sekala Brak dan Paksi Pak menyatakan merupakan keturunan yang dulu lurus dari Sultan Zulkarnain yang berasal dari Kerajaan Pasai.
Pepadun Melasa Kepappang adalah hak milik Paksi Pak secara bersama dan bukan milik salah satu Paksi yang pada kesepakatan dan persetujuan empat Paksi selama ini dititipkan di Gedung Dalom Kepaksian Belunguh
Selanjutnya kami para Sai Batin Paksi Pak Sekala Brak menyepakati pula lambang-lambang keagungan dan kebersamaan Perdana Menteri dan Para Pemapah Dalom di Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak.
Kesepakatan ini dibuat, untuk disosialisasikan kepada seluruh komunitas Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak dimanapun berada guna dipatuhi dan dilaksanakan sebagaimana mestinya.
======================================================= 
Sumber : Blog resmi Kerajaan Adat Paksipak Sekala Brak Lampung.

Sabtu, 21 September 2013

PERLUNYA PENELITIAN NASKAH WARISAN KERAJAAN SEKALA BRAK

CATATAN HASIL PENELITIAN TIM DOSEN IAIN RD.INTAN TENTANG KERAJAAN SEKALA BRAK

Tim Peneliti Dosen IAIN Raden Intan tentang Kerajaan Sekala Brak dengan tema : "Hystoriografi Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak Lampung Masa Islam dan Kolonial". Judul tema tersebut adalah sebuah penelitian yang sangat berat selain keterbatasan data juga para peneliti sangat membutuhkan ilmu bantu untuk memahami berbagai data yang sekarang ini masih terserak.

Kesulitan tersebut akan tergambar dari kesimpulan yang disimpulkan oleh para peneliti yang dilaksanakan tahun 2011 yang lalu itu. Saya yakin para peneliti telah bekerja keras, tetapi tentu saja sangat dibatasi oleh waktu dan dana tentunya. 

Rabu, 11 September 2013

AKSARA LAMPUNG: DIBANGGAKAN TAPI DILUPAKAN


Syafnijal Datuk S

Bahasa Lampung masuk dalam kurikulum sekolah, tapi generasi muda enggan menggunakan dalam keseharian.

Aksara Lampung. (SH/Syafnijal Datuk S)
Dibanding suku lain di Nusantara, nenek moyang orang Lampung termasuk yang memahami pentingnya aksara bagi kehidupan bermasyarakat.

Nenek moyang orang Lampung merupakan salah satu dari sedikit suku yang sejak awal memiliki aksara sebagai  simbol visual yang tertera pada kertas maupun media lainnya, seperti batu, kayu, kain untuk mengekspresikan unsur-unsur ke dalam suatu bahasa. Sayang, kekayaan khazanah budaya ini kurang terpelihara hingga nyaris terlupakan. Kenapa?

Menurut sejarahnya, aksara Lampung atau biasa disebut Had Lampung berasal dari perkembangan aksara Devanagari yang lengkapnya dinamakan Dewdatt Deva Nagari atau aksara Palawa dari India Selatan. Aksara ini berbentuk suku kata seperti halnya aksara Jawa ca-ra-ka atau bahasa Arab alif-ba-ta.