CATATAN HASIL PENELITIAN TIM DOSEN IAIN RD.INTAN TENTANG KERAJAAN SEKALA BRAK
Tim Peneliti Dosen IAIN Raden Intan tentang Kerajaan Sekala Brak dengan tema : "Hystoriografi Kerajaan Paksi Pak Sekala Brak Lampung Masa Islam dan Kolonial". Judul tema tersebut adalah sebuah penelitian yang sangat berat selain keterbatasan data juga para peneliti sangat membutuhkan ilmu bantu untuk memahami berbagai data yang sekarang ini masih terserak.
Kesulitan tersebut akan tergambar dari kesimpulan yang disimpulkan oleh para peneliti yang dilaksanakan tahun 2011 yang lalu itu. Saya yakin para peneliti telah bekerja keras, tetapi tentu saja sangat dibatasi oleh waktu dan dana tentunya.
Fachruddin : Kliping Dan Catatan Tentang Bahasa, Retorika, Sastra, Aksara dan Naskah Kuno
Sabtu, 21 September 2013
Rabu, 11 September 2013
AKSARA LAMPUNG: DIBANGGAKAN TAPI DILUPAKAN
Syafnijal Datuk S
Bahasa Lampung masuk dalam kurikulum sekolah, tapi generasi muda enggan menggunakan dalam keseharian.
Dibanding suku lain di Nusantara, nenek moyang orang Lampung termasuk yang memahami pentingnya aksara bagi kehidupan bermasyarakat.
Nenek moyang orang Lampung merupakan salah satu dari sedikit suku yang sejak awal memiliki aksara sebagai simbol visual yang tertera pada kertas maupun media lainnya, seperti batu, kayu, kain untuk mengekspresikan unsur-unsur ke dalam suatu bahasa. Sayang, kekayaan khazanah budaya ini kurang terpelihara hingga nyaris terlupakan. Kenapa?
Menurut sejarahnya, aksara Lampung atau biasa disebut Had Lampung berasal dari perkembangan aksara Devanagari yang lengkapnya dinamakan Dewdatt Deva Nagari atau aksara Palawa dari India Selatan. Aksara ini berbentuk suku kata seperti halnya aksara Jawa ca-ra-ka atau bahasa Arab alif-ba-ta.
Bahasa Lampung masuk dalam kurikulum sekolah, tapi generasi muda enggan menggunakan dalam keseharian.
![]() |
| Aksara Lampung. (SH/Syafnijal Datuk S) |
Nenek moyang orang Lampung merupakan salah satu dari sedikit suku yang sejak awal memiliki aksara sebagai simbol visual yang tertera pada kertas maupun media lainnya, seperti batu, kayu, kain untuk mengekspresikan unsur-unsur ke dalam suatu bahasa. Sayang, kekayaan khazanah budaya ini kurang terpelihara hingga nyaris terlupakan. Kenapa?
Menurut sejarahnya, aksara Lampung atau biasa disebut Had Lampung berasal dari perkembangan aksara Devanagari yang lengkapnya dinamakan Dewdatt Deva Nagari atau aksara Palawa dari India Selatan. Aksara ini berbentuk suku kata seperti halnya aksara Jawa ca-ra-ka atau bahasa Arab alif-ba-ta.
Kepunahan bahasa Lampung Tinggal menunggu Waktu
Kekhawatiran kita bahwa bahasa Lampung akan punah dalam tempo beberapa dekade yang akan datang tampaknya cukup beralasan. Bukannya tidak mungkin nanti penduduk Lampung ini tidak ada lagi yang bisa berbahasa Lampung. Dan betapa ironisnya bila ini terjadi; Lampung hanya tinggal sebuah nama; tidak lagi tercermin dari bahasanya. Sedangkan adat istiadat Lampung, yang merupakan sisi lain dari budaya Lampung, selain bahasa Lampung, sudah pula duluan punah dan hanya tinggal kenangan.
Hal ini mungkin terjadi karena tanda-tanda ke arah kepunahan itu sudah tampak. Belakangan jumlah penutur bahasa Lampung semakin sedikit. Di mana-mana, di kota-kota dan di desa-desa di provinsi ini, orang sudah beralih menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kabupaten Lampung Barat yang penduduknya paling banyak menggunakan bahasa Lampung pun kini mulai beralih pula menggunakan bahasa Indonesia.
Revitalisasi Bahasa Lampung
KRISTIAN ADIPUTRA
Mahasiswa Pascasarjana English Language and Linguistics Program, the University of Arizona, Amerika Serikat.
Argumentasi tentang kepunahan Bahasa Lampung dimulai tahun 1994 oleh Asim Gunarwan, Guru Besar Linguistik dari Universitas Indonesia. Hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa telah terjadi pergeseran pilihan penggunaan bahasa dalam keluarga bersuku Lampung yang tinggal di Bandar Lampung. Dari anggota keluarga dalam rentang usia di atas 41 tahun, ditemukan bahawa Bahasa Lampung masih digunakan secara konsisten. Tetapi, ketika melihat rentang usia 21-40 tahun, terlihat bahwa penggunaan Bahasa Lampung dan Bahasa Indonesia berimbang di tingkat rumah. Sementara pada rentang usia di bawah 20 tahun, Bahasa Indonesia tampak lebih mendominasi. Dengan hasil temuan ini, maka Asim Gunarwan memprediksi bahwa dalam 75-100 tahun semenjak penelitiannya dilakukan, Bahasa Lampung terancam punah.
Mahasiswa Pascasarjana English Language and Linguistics Program, the University of Arizona, Amerika Serikat.
Argumentasi tentang kepunahan Bahasa Lampung dimulai tahun 1994 oleh Asim Gunarwan, Guru Besar Linguistik dari Universitas Indonesia. Hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa telah terjadi pergeseran pilihan penggunaan bahasa dalam keluarga bersuku Lampung yang tinggal di Bandar Lampung. Dari anggota keluarga dalam rentang usia di atas 41 tahun, ditemukan bahawa Bahasa Lampung masih digunakan secara konsisten. Tetapi, ketika melihat rentang usia 21-40 tahun, terlihat bahwa penggunaan Bahasa Lampung dan Bahasa Indonesia berimbang di tingkat rumah. Sementara pada rentang usia di bawah 20 tahun, Bahasa Indonesia tampak lebih mendominasi. Dengan hasil temuan ini, maka Asim Gunarwan memprediksi bahwa dalam 75-100 tahun semenjak penelitiannya dilakukan, Bahasa Lampung terancam punah.
Langganan:
Postingan (Atom)



