Fachruddin : Kliping Dan Catatan Tentang Bahasa, Retorika, Sastra, Aksara dan Naskah Kuno
Rabu, 26 September 2012
MAKNA SEMAR DALAM TRADISI MELAYU BETAWI
Bani Sudardi
Semiotic approach shows that actually Hikayat Agung Sakti is an icon (the description in broad sense) of leather puppet show. Semar is an index (something indicated its existence) of God power. This article tries to show that inside of simple, old, and valueless servant, there is a hidden high god power to guard the justice. The implication of it is to ask the authorities or kings to do justice rightfully to their servants or people if they want their long power. Indeed, people supports the power or the owner of power and authority. Without supporting people, the power is nothing. Semar also means that spiritual dimension (soul) is more valuable than bodily one. The Semar’s soul a glory and sacred power, although bodily Semar is just a servant. It teaches us not to see just physically, but more on the soul goodness to bring us to the truth-value. In Melayu-Betawi society, Semar is a culture hero.
1. Pendahuluan
Hikayat Agung Sakti merupakan karya sastra berbahasa Melayu yang secara nyata menokohkan Semar. Hikayat ini merupakan bentuk cerita sempalan, yakni cerita yang berdiri sendiri, hanya tokoh dan karakternya saja yang diambil dari lakon pokok (Arjunawiwaha, Bharatayuddha, dan sebagainya) (Holt, 1967:138).
Sampai saat ini, tokoh Semar masih dikenal di masyarakat Melayu-Betawi yang masih memiliki tradisi wayang kulit Betawi. Lakon-lakon tentang Semar pun beragam. Pada tahun 1989, dalam penelitiannya tentang sejarah wayang, Mutholib dkk. (1989) menemukan beberapa lakon tentang Semar yang masih digemari, yaitu
(1) Lakon Babad Alas Semar yang menceritakan Semar membangun negeri Amarta;
(2) Lakon Lahirnya Semar yang menceritakan kemunculan Semar sebagai dewa asli Ismaya;
(3) Lakon Semar Kawin yang menceritakan perkawinan Semar dengan Dewi Kanestren;
(4) Lakon Semar Kembar yang menceritakan para dewa menguji Pandawa dengan memunculkan dua Semar;
(5) Lakon Semar Potong Runcum yang menceritakan Semar marah besar karena Arjuna dan Sumbadra meminta Semar memotong runcum atau kuncung, yakni rambut di atas dahi (lihat Mutholib, 1989:19-23).
Uraian di atas menunjukkan bahwa Semar di dalam budaya Melayu-Betawi memiliki makna yang beragam. Tokoh Semar juga muncul sesuai dengan dinamika zaman dewasa ini. Semar merupakan tokoh yang menandai sesuatu. Karena itu, aspek tanda dan makna Semar perlu diungkapkan.
2. Pendekatan
Hikayat Agung Sakti merupakan hikayat yang menampilkan tokoh Semar tersebut dengan berbagai aspek maknanya. Karena permasalahan tersebut berkaitan dengan ketandaan, maka salah satu pendekatan yang dirasa cocok untuk mengkaji tanda Semar tersebut ialah pendekatan semiotik karena semiotik merupakan teori tentang kode-kode dan teori tentang produksi tanda-tanda (Eco, 1979:3).
Pendekatan semiotik dipilih karena dengan pendekatan semiotik, maka sistem komunikasi dan signifikasi dapat dipahami. Hikayat Agung Sakti sebagai produk kebudayaan adalah suatu unit semantik yang dapat diketahui maknanya dengan melalui kajian semiotik (Eco, 1979:27).
Semar yang bersumber padai wayang Jawa ternyata diterima masyarakat Melayu, khususnya Melayu-Betawi dan ditransformasi dalam karya sastra dan pementasan wayang. Hal ini merupakan proses resepsi. Selama ini pembicaraan tentang tokoh Semar selalu diikaitkan dengan budaya Jawa. Sebagai contoh, kajian tentang Semar yang dilakukan oleh Sri Mulyono dalam bukunya yang berjudul Apa Siapa Semar (1978). Dalam buku ini, Sri Mulyono menguraikan peran Semar, khususnya dalam tradisi Jawa. Dalam hal ini diuraikan peran Semar dalam teks Sudamala, makna Semar dari berbagai segi kehidupan (agama, filsafat, kebudayaan, mitologi, dan sebagainya), tetapi dalam ia sama sekali belum disinggung tentang peran Semar dalam wayang Melayu.
3. Hikayat Agung Sakti
Hikayat Agung Sakti disebutkan dalam beberapa hikayat sewaan milik Muhammad Baqir. Hikayat ini disebutkan di dalam Hikayat Maharaja Garebag Jagat sebagai salah satu naskah yang disewakan oleh Muhammad Baqir bin Sofyan bin Usman Fadli yang tinggal di Kampung Pacenongan, Langgar Tinggi. Disebutkan bahwa Hikayat Agung Sakti sebagai hikayat yang menceritakan “Semar Perang di Suralaya” (Sunardjo, 1989:21).
Dalam Syair Cerita Pandawa disebutkan bahwa salah satu naskah yang disewakan ialah Hikayat Agung Sakti , dengan tambahan keterangan “Semar punya gigi perang di Suralaya” (Gunawan, 1998:70).
Naskah Hikayat Agung Sakti yang selama ini berhasil ditemukan mula-mula dicatat dalam katalog Ronkel (1909:32) yang kemudian diikuti oleh katalog susunan Sutaarga dkk. (1972:16-17). Selama ini, Hikayat Agung Sakti dikenal sebagai naskah tunggal dan disimpan di Perpustakaan Nasional, Jakarta. Beberapa katalog naskah Melayu tidak mencantumkan naskah Hikayat Agung Sakti di tempat lain (Howard, 1966, Juynboll, 1899, Ricklefs dan Voorhoeve, 1977, dan Ronkel, 1921). Hikayat ini merupakan jenis naskah otograf (ditulis langsung oleh pengarangnya).
Beberapa ahli pernah meneliti hikayat ini. Hikayat Agung Sakti secara selintas pernah disebut oleh Ikram (1975:15) sebagai hikayat yang menceritakan “Semar dan Sakutarama (?), mengalahkan Agung Sakti yang mengganggu ketentraman dunia dan dewa-dewa”. Keterangan Ikram bertentangan dengan gambaran dalam teks Hikayat Agung Sakti yang menggambar-kan Agung Sakti yang tidak dapat dikalahkan oleh siapa pun dan Agung Sakti itu sendiri adalah jelmaan gigi Semar. Pada waktu itu Semar tertidur dan ketika Semar bangun, gigi Semar yang menjelma sebagai Agung Sakti kembali ke mulut Semar tanpa diketahui siapa pun. Setelah peristiwa ini, dalam naskah digambarkan gunungan sebagai penutup cerita. Namun, setelah gambar gunungan cerita masih dilanjutkan dengan cerita tentang anak-anak Semar yang bergembira bertemu dengan bapaknya. Mereka lalu memasak daging ayam curian.
Adegan jenaka di akhir cerita ini dalam cerita wayang dikenal dengan nama adegan gara-gara atau keluarnya panakawan yang biasanya terjadi di tengah-tengah alur. Namun, adegan ini di dalam wayang Betawi ternyata diletakkan di alur paling belakang. Teks ditutup dengan daftar 30 hikayat yang disewakan oleh Muhammad Baqir bin Usman Fadli dari Kampung Pacenongan, Langgar Tinggi (Hikayat Agung Sakti , Ml.260, hlm. 134-138).
Hikayat Agung Sakti adalah karya sastra dari abad ke-19 yang ditulis di Jakarta. Masalah jaringan pengarang menjadi pokok pembicaraan Chambert-Loir tentang Sastra Melayu abad ke-19, khususnya di Jakarta. Ia membicarakan tentang anak cucu Usman bin Fadli yang mengarang dan menyewakan karya sastra di daerah Pacenongan, Jakarta. Salah satu di antara cucu Usman bin Fadli adalah Muhammad Baqir yang mengarang Hikayat Agung Sakti ini. Muhamad Baqir aktif menulis tahun 1884 -1898. Di antara sekitar 76 judul dari keluarga Usman Fadli ini, setidaknya 25 buah dari Muhammad Baqir. Jenis sastra yang sangat populer pada masa itu ialah sastra wayang (Chambert-Loir, 1991:87-113).
4.. Makna Tanda-tanda Tekstual
Hikayat Agung Sakti menyajikan serangkaian tanda-tanda tekstual yang memiliki arti. Namun, arti tersebut di dalam karya sastra memiliki makna yang berkaitan dengan struktur karya sastra itu sendiri dan pandangan masyarakat pemiliknya. Makna-makna tanda-tanda tekstual tersebut diperoleh melalui dua tahap, yakni: (1) makna kebahasaan dan (2) makna sastra.
4.1. Trasnformasi Semar
Makna kebahasaan diperoleh melalui pembacaan heuristik, yakni pembacaan berdasarkan struktur kebahasaan. Pembacaan pada tingkat ini tidak menyinggung konvensi-konvensi di luar teks. Hasil pembacaan heuristik ini dapat dilihat dalam bentuk parafrase pada pengkajian struktur naratif berupa urutan tekstual.
Makna yang diperoleh melalui pembacaan heuristik adalah makna denotatif (lihat Pradopo, 2001:102). Makna denotatif merupakan makna pada sistem semiotik tingkat pertama. Makna tersebut bersifat lugas dan tidak dihubungkan dengan konvens-konvensi sosial budaya. Sebagai misal, kata “keris” hanya bermakna sebagai senjata dari besi pipih, tidak diberi makna sebagai kekuasaan, legitimasi, dan sebagainya. Dalam makalah ini makna kebahasaan tidak dibicarakan.
Semar yang bersumber pada wayang Jawa ternyata diterima masyarakat Melayu, khususnya Melayu-Betawi dan ditransformasi dalam karya sastra dan pementasan wayang. Hal ini merupakan proses resepsi. Karena itu, diterimanya Semar dalam sastra Melayu juga merupakan suatu fenomena yang perlu diteliti. Selama ini pembicaraan tentang tokoh Semar selalu diikaitkan dengan budaya Jawa. Sebagai contoh, kajian tentang Semar yang dilakukan oleh Sri Mulyono dalam bukunya yang berjudul Apa Siapa Semar (1978). Dalam buku ini, Sri Mulyono menguraikan peran Semar, khususnya dalam tradisi Jawa. Dalam hal ini diuraikan peran Semar dalam teks Sudamala, makna Semar dari berbagai segi kehidupan (agama, filsafat, kebudayaan, mitologi, dan sebagainya), tetapi dalam ia sama sekali belum disinggung tentang peran Semar dalam wayang Melayu.
Di dalam sastra Indonesia modern, yang dapat dikatakan sebagai kelanjutan sastra Melayu klasik, ternyata juga masih ditemukan transformasi tokoh Semar tersebut. Dalam penelitiannya tentang transformasi unsur pewayangan dalam fiksi Indonesia ditemukan oleh Nurgiyanto (1998) munculnya tokoh Semar dalam novel Perang karya Putu Wijaya. Dalam novel ini digambarkan Semar bersifat pintar, berbakti kepada Pandawa, tetapi kadang-kadang ia berubah menjadi pemabuk, suka marah, suka kawin, perayu wanita, dan kemudian kembali ke karakter semula (Nurgiyanto, 1998:93). Dalam cerpen “Wawancara dengan Rahwana” karya Yudhistira ANM Massardi digambarkan Semar wawancara dengan Marilyn Monroe. (Nurgiyanto, 1998:315). Penelitian di atas menunjukkan adanya transformasi tokoh Semar ke dalam sastra Indonesia modern. Hal tersebut merupakan kelanjutan dari transformasi yang telah terjadi dalam sastra Melayu klasik.
Hikayat Agung Sakti adalah salah satu bentuk aktualisasi masuknya tokoh Semar dalam sastra Melayu klasik. Hikayat Agung Sakti adalah salah satu hikayat yang secara nyata menampilkan tokoh Semar tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa transformasi wayang Jawa ke dunia cipta sastra Melayu perlu dikaji. Pengkajian ini memperlukan pemahaman sosial budaya masyarakat pemilikinya (Melayu-Betawi) karena Hikayat Agung Sakti sebagai bentuk seni merupakan suatu produk sosial. Karya seni merupakan hasil dari suatu peristiwa historis khusus dari suatu bagian kelompok sosial yang teridentifikasi dalam suatu kondisi tertentu. Karena itu, karya seni memiliki gambaran ide, nilai, dan kondisi dari eksistensi kelompok masyarakat tersebut dan representasinya pada seniman tertentu (Wolff, 1981:49). Dalam hal ini, Hikayat Agung Sakti harus dipahami sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat Melayu-Betawi pinggiran pada abad ke-19 ketika hikayat tersebut muncul dan dibaca masyarakat pemiliknya.
4. 2. Makna Hikayat Agung Sakti
Makna karya sastra diperoleh melalui pembacaan hermeneutik, yakni pembacaan berdasarkan konvensi sastra menurut sistem semiotik tingkat kedua. Untuk itu, harus dikenal secara mendalam sistem tanda yang merupakan konvensi sastra di luar teks (Pradopo, 2001:102).
Secara keseluruhan, teks Hikayat Agung Sakti merupakan ikon suatu pementasan wayang yang mengambil lakon Agung Sakti. Lakon itu sendiri, secara keseluruhan menampilkan ikon Semar, baik secara lahir yang berwujud sebagai hamba dan sangat patuh pada tuannya maupun secara batin bahwa ia adalah seorang batara yang “agung dan sakti” yang mampu untuk secara tersembunyi memberi pelajaran kepada Batara Guru yang telah mengaku paling berkuasa. Karena itu, Agung Sakti adalah simbol kepanjangan tangan Tuhan untuk mengingatkan mereka yang melakukan kesalahan.
Beberapa indikasi yang menunjukkan Hikayat Agung Sakti sebagai ikon suatu pementasan wayang setidaknya ada 2, yaitu:
(1) pada pembukaan disebutkan bahwa hikayat tersebut berisi lalakon wayang;
(2) nama tempat tokoh-tokoh yang ada di dalamnya adalah nama-nama yang lazim ditemukan dalam cerita wayang (seperi Suralaya, Batara Guru, Narada, Pandawa, Rajuna, Semar, Sumbadra, Gatotkaca, Sakutram, dan lain-lain);
(3) pada halaman 134 ketika berakhir episode Agung Sakti, maka disisipkan secara visual gambar gunungan yang merupakan unsur yang dipakai dalam suatu pementasan wayang kulit purwa.
Dengan demikian, Hikayat Agung Sakti adalah suatu ikon pementasan wayang dengan lakon Agung Sakti yang menceritakan Semar yang sedang memberi pelajaran kepada Batara Guru akibat kesombongannya. Tindakan Semar tersebut dilakukan dengan cara menyamar yang dilakukan oleh giginya, sementara jasad Semar tertidur di Pandawa.
4.3. Makna Unsur-unsur Hikayat Agung Sakti
Hubungan antara teks sastra dengan realitas merupakan hubungan yang bersifat simbolis. Hubungan tersebut terbentuk berdasarkan konvensi. Namun, wayang sebagai suatu teks kadang-kadang dianggap sebagai gambaran dari dunia. Dengan kata lain, wayang adalah simbol dari gambaran makrokosmos.
Bila dihubungkan dengan unsur-unsur di luar teks, maka terdapat kesejajaran antara unsur-unsur luar teks dengan unsur-unsur di dalam teks sehingga peneliti menduga bahwa Hikayat Agung Sakti pada hakikatnya adalah suatu simbol dari realitas. Pembacaan hermeneutik mendapatkan unsur-unsur yang membangun Hikayat Agung Sakti sebagai berikut.
a. Unsur Batara Guru sebagai Simbol Belanda
Pokok masalah Hikayat Agung Sakti bermula ketika Batara Guru mengaku paling berkuasa. Namun, hal tersebut segera dibantah oleh Bagawan Narada dengan menyatakan bahwa meskipun Batara Guru berkuasa, ia bukanlah yang pertama. Unsur-unsur semiotik pembangun Batara Guru yang menjadikan cerita berjalan dapat dibuat skema sebagai berikut.
Penguasa Suralaya
Mengaku paling berkuasa
Batara Guru Penakut
Bukan yang pertama
Sukar dinasihati
Bagan-10 Unit Semiotik pembangun Batara Guru
Bila dihubungkan dengan realitas pada waktu hikayat tersebut ditulis, maka unsur-unsur tersebut merupakan unit makna yang menghubungkan Batara Guru dengan Belanda karena Belanda pun saat itu adalah unsur yang paling berkuasa di Batavia. Namun, lewat Hikayat Agung Sakti pengarang mencoba memberikan kritik bahwa meskipun Belanda sebagai unsur yang paling berkuasa, tetapi Belanda tidaklah yang pertama-tama ada di Batavia. Pengarang menyatakan bahwa ada yang lebih berkuasa daripada Batara Guru. Sifat berkuasa tersebut kemudian dilambangkan dengan wujud penjelmaan Batara Guru sebagai Raksasa Geringsang Jagat yang dapat diartikan sebagai ‘raksasa jagat yang sakit (gering’). Batara Guru adalah seorang raja dewa, tetapi dalam penggambarannya kelihatan sebagai tokoh penakut. Hal ini sesuai dengan keadaan Belanda yang selalu ketakutan dan lebih banyak di dalam beteng pertahanannya dan dalam hal kekuatan yang banyak dipakai sebagai prajurit adalah orang-orang pribumi. Dari uraian di atas tampak bahwa Hikayat Agung Sakti mengandung unsur-unsur terselubung memberikan kritik kepada Belanda secara simbolis. Hanya saja tidak diketahui secara pasti apakah pesan tersebut disengaja oleh pengarangnya dan sampai kepada Belanda ataukah tidak.
Karena Belanda pada saat itu tetap sebagai penguasa, maka Batara Guru, sebagai simbol dari Belanda, meskipun dalam keadaan salah, negatif, tetapi tetap didudukkan sebagai Batara yang terhormat yang akan menolong Pandawa bila Pandawa mengalami kesulitan karena nenek moyang Pandawa (Sakutram) pernah menolong Batara Guru. Hal ini adalah suatu simbol bahwa penguasa-penguasa pribumi dalam menegakkan kekuasaannya dapat tegak karena didukung Belanda. Hal ini tentu berkaitan dengan kondisi zaman itu.
b. Gambaran Dunia
Bila Batara Guru digambarkan sebagai Belanda, maka gambaran Suralaya tidak lain merupakan simbol dari kehidupan Belanda yang jauh dari masyarakat waktu itu, yang rapat, tertutup, dan mewah. Hal tersebut digambarkan sebagai Suralaya.
Suralaya ini mempunyai oposisi dengan marcapada yang dihuni oleh manusia, termasuk Semar. Marcapada adalah gambaran kehidupan luar beteng Belanda. Gambaran Batara Guru yang di dalam Suralaya tidak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri adalah gambaran Belanda juga yang dalam kehidupan sehari-hari sangat tergantung pada penguasa pribumi, orang marcapada, yang taat pada Belanda. Di sini terlihat adanya saling ketergantungan yang nyata. Hanya saja, penduduk pribumi pada waktu itu masih berada di bawah kekuasaan Belanda melalui para penguasanya.
Dengan demikian, terjadilah suatu pergeseran dari cerita wayang menuju ke perang besar Bharatayuddha menjadi cerita simbolis kontemporer. Unsur asli cerita wayang yang mencapai titik klimaks pada perang Bharatayuddha sama sekali tidak disinggung.
c. Semar sebagai Aktualisasi Kekuatan Tersembunyi
Munculnya Agung Sakti yang merupakan penjelmaan gigi Semar merupakan salah satu bentuk aktualisasi kekuatan tersembunyi tersebut. Menurut kepercayaan di Nusantara, gigi dianggap memiliki kekuatan gaib dan kekuatan nyata. Sampai saat ini di dalam bahasa Indonesia masih ditemukan ungkapan “unjuk gigi” (Alwi, 2001:1248) yang berarti menunjukkan kekuatan. Sebagai kekuatan, gigi merupakan bagian dari tubuh manusia yang tersembunyi di dalam rongga mulut. Dengan demikian, pemilihan Agung Sakti sebagai penjelmaan gigi Semar bukan merupakan suatu kebetulan, melainkan merupakan bagian dari sistem tanda dalam kebudayaan Melayu-Betawi.
Aspek kekuatan tersembunyi tersebut secara struktural ditandai dengan tiga tanda sebagai berikut.
Tanda pertama dinyatakan dengan nama “Agung Sakti” yang mempunyai makna bahwa pemilik tersebut mempunyai keagungan dan kesaktian yang tidak lain merupakan kristalisasi dari unsur kekuatan. Agung Sakti adalah tokoh yang tidak jelas asal-usulnya, tetapi kekuatannya tidak ada yang mampu menandinginya.
Tanda kedua dinyatakan dengan plot sorot balik. Plot sorot balik menjadikan tokoh Agung Sakti sampai dengan menjelang akhir cerita tidak dikenali identitasnya. Secara struktural, sampai akhir cerita, tokoh-tokoh lain dalam hikayat tersebut tidak mengenal Agung Sakti yang sebenarnya.
Tanda ketiga dinyatakan dalam bentuk penjelmaan yang bertingkat-tingkat dengan ciri adanya unsur “agung”. Agung Sakti sebenarnya merupakan penjelmaan dari gigi Semar. Namun, sebagai penjelmaan, Agung Sakti masih melakukan serangkaian penjelmaan dirinya sebagai Agung Pertapa, Agung Segara, Agung Buana, Agung Mengembara, dan Agung Negara.
Meskipun gigi Semar mengaktualisasikan kekuatan tersembunyi tersebut, tetapi Semar bukanlah pemilik kekuatan itu sendiri. Semar hanyalah kepanjangan tangan dari Yang Maha Kuasa. Hal tersebut dinyatakan oleh Agung Buana (penjelmaan gigi Semar) kepada Batara Guru seperti kutipan berikut.
Maka sahut raja dan pati: “Baiklah aku turut mana perminta`anmu itu/. Hartakah kamu kehendaki? Butu mas intankah kamu berhajat itu? Atawa kamu/ hendak berhajat minta` aku sembah padamu? Nanti aku turuti! Marilah/ katakan!” Maka kata Agung Buana: “Tiadalah yang demikian itu Tuanku karena/ hamba tiada berkehendak mas, dan intan, dan mata benda. Tiada perguna`an kepada /hamba dan hamba tiada berchajat minta` disemba karena yang lebi kuasah itu/ pada patutlah kita sembah karena hamba pun masi di bawa perinta` dan masi/ menjadi hamba dan hamba pun tiada bermaksud minta` dipuji”. (Hikayat Agung Sakti, Ml. 260:72).
Di samping itu, kedudukan Semar adalah sebagai hamba Pandawa. Secara struktural, para tokoh dalam Hikayat Agung Sakti sama sekali tidak mengetahui bahwa yang membuat gara-gara di Suralaya adalah hamba Pandawa tersebut. Hal ini makin menyempurnakan konsep “kekuatan tersembunyi” tersebut.
Jadi, Semar dapat dikatakan sebagai indeks perbuatan Yang Maha Kuasa yang nyata, tetapi ia bukanlah yang Maha Kuasa itu sendiri. Semar adalah indeks dari Yang Maha Kuasa.
d. Semar sebagai Culture Hero
Di dalam suatu kelompok masyarakat sering ditemukan tokoh-tokoh culture hero (pembawa kebudayaan) yang merintis atau memperkenalkan kebudayaan baru kepada masyarakat tersebut. Cerita tentang culture hero tersebut seringkali diwujudkan dalam bentuk mite (Danandjaja, 1986:52). Culture hero menurut pandangan ilmu antropologi adalah tokoh yang menjadi penyebab segala adat istiadat dan kepandaian manusia. Soderblom menyebut tokoh ini sebagai Urheber. Tokoh ini mempunyai watak dualistik, yakni dapat membawa kebaikan, tetapi juga dapat membawa bencana (Koentjaraningrat, 1987:79).
Namun, kehadiran hero tersebut di masyarakatnya akan diterima dengan berbagai sikap. Kadang-kadang hero tersebut dimuliakan, kadang-kadang tidak dikenal atau bahkan direndahkan. Hero hadir ketika dirinya atau dunia mengalami suatu kegoncangan simbolik (Cambell, 1956:37). Hero culture dapat dibagi menjadi dua, yakni (1) local hero/ tribal hero, yaitu hero yang berkahnya hanya meliputi suku tertentu seperti Huang Ti (Cina), Tezcatlipoca (Aztec) dan (2) universal hero, yaitu hero yang berkahnya meliputi seluruh dunia seperti Muhammad, Yesus, Musa, dan Buddha (Campbell, 1956:38).
Hikayat Agung Sakti memiliki pola separation-initiation-return. Hal ini ditunjukkan dengan tidurnya Semar yang kemudian mengalami petualangan misterius sebagai mimpinya. Sekembalinya petualangan tersebut, Semar telah membawa berkah berupa kemahiran membuat senjata serta munculnya suasah (besi kuning) yang dipercaya menjadi bahan pelapis senjata (pamor) yang paling baik. Petualangan Semar juga memberi jaminan kepada Pandawa bahwa mereka akan mendapat bantuan para batara kelak. Petualangan itu juga menjadikan nenek moyang Pandawa yang bernama Sakutram diangkat dari siksa serta didudukkan menjadi bagawan.
Cerita tentang Semar dapat disebut sebagai local hero karena berkah yang dibawa Semar hanya diperuntukkan kelompok masyarakat tertentu saja, dalam hal ini Pandawa yang merupakan simbol dari masyarakat pemilik cerita ini.
Hikayat Agung Sakti adalah suatu hikayat yang berasal dari masyarakat urban yang memiliki nenek moyang prajurit. Hal ini tampak dari pokok masalah yang menjadi hasil dari petualangan tersebut yang berupa senjata dan kesaktian. Petualangan Semar sebagai Agung Sakti dalam keduduk-kannya sebagai culture hero ditunjukkan dengan penyamaran-penyamaran misterius sebagai tabel berikut.
Agung Sakti Agung Sakti adalah seorang batara yang sakti sebagai penjelmaan gigi Semar.
Agung Dukat Petualangan Semar ke dasar bumi menemukan patung pujaan yang kemudian dihidupkan dan diberi nama Agung Dukat. Dukat mempunyai makna sebagai uang mas atau perak (Alwi, 2001:278). Kemunculan Agung Dukat menjadi penting karena dari Agung Dukat ini nanti terbentuknya suasah atau besi kuning yang menjadi pamor senjata yang paling ampuh.Bagian ini dengan jelas menunjukkan bahwa culture hero tersebut erat kaitannya dengan keprajuritan tradisionil yang menggunakan senjata-senjata dari besi yang menggu-nakan pamor untuk melapisnya. Hal ini menunjukkan bahwa culture hero Melayu-Betawi pada mulanya adalah para prajurit yang memperhatikan kesaktian suatu senjata berdasarkan pamornya. Hal ini dapat dimengerti bila diperhatikan asal-usul masyarakat Melayu-Betawi yang sebagian adalah sisa-sisa prajurit Mataram yang dikalahkan Belanda.
Agung Pertapa Tokoh-tokoh utama dalam naratif tradisionil bisanya mendahului dengan bertapa sebelum mereka mengerjakan sesuatu. Nama Agung Pertapa menunjukkan bahwa Agung Sakti mempunyai keunggulan dalam bertapa yang kepertapaannya tentu melebihi Batara Guru dan Narada.
Agung Segara Laut merupakan bagian penting dari sejarah masa lalu masyarakat Melayu-Betawi. Hal ini digambarkan dengan tokoh yang bernama Agung Segara yang diceritakan mampu menciptakan laut dan melenyapkan laut. Tindakan culture hero ini merupakan simbol dari penguasaan laut.
Agung Buana Di samping menguasai laut, keagungan juga ditunjukkan dengan menguasai dunia. Hal ini digambarkan dengan munculnya tokoh bernama Agung Buana. Yang menarik bahwa wujud Agung Buana ini adalah berupa Hanoman (kera putih). Munculnya tokoh ini memiliki hubungan intertekstualitas dengan cerita-cerita dari Ramayana. Munculnya tokoh yang seharusnya menguasai dunia, namun ternyata digambarkan sebagai kera menunjukkan bahwa culture hero Melayu-Betawi ini belum sepenuhnya dapat menguasai dunia (buana).
Agung Mengembara Mengembara merupakan bagian dari inisiasi. Dalam petualangannya, Agung Sakti mengambil nama Agung Me-ngembara yang memberi obat secara gratis kepada para dewa yang sakit. Mengembara yang demikian di dalam tradisi Jawa sering disebut tapa ngrame (bertapa di masyarakat). Hal ini memiliki makna bahwa figur seorang culture hero adalah tokoh yang mampu menolong masyarakat yang memerlu-kannya. Jadi, Hikayat Agung Sakti juga menawarkan konsep-konsep ideal mengenai seorang culture hero.
Agung Negara Bukti bahwa culture hero Melayu-Betawi berasal dari kalangan prajurit tampak dari petualangan Agung Sakti sebagai Agung Negara. Tokoh inilah yang mengajarkan pembuatan senjata dan cara berperang.
Agung Negara sebagai penjelmaan Agung Sakti telah mengajarkan ilmu-ilmu yang sebelumnya tidak diketahui oleh para batara. Ilmu-ilmu tersebut kemudian digunakan oleh para batara untuk melawan Agung Sakti dan berkat ilmu yang diajarkan tersebut peperangan mereka menjadi seimbang. Perhatikan kutipan berikut.
“Sebermula tersebutlah perangnya Agung Negara itu dengan/ beberapa batara-batara terlalu amat ramainya karena sebab batara-batara dapat menahan lama/ berperang pada Agung Negara. Itulah yang diceriterakan sebab Agung Negara juga/ yang suda mengajarkan padanya beberapa kesaktian dan beberapa ‘ilmu peperangan/ sebab kalau ia tiada mengajarkan tentu perang pun tiada ada yang tahan/ padanya lagi”. (Hikayat Agung Sakti, Ml. 260:112).
Agung Negara yang telah mengajarkan ilmu perang menjadikan para batara mampu melawan Agung Sakti dengan baik atau seimbang. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu perang sebagai salah satu bentuk kebudayaan baru saja diajarkan oleh Agung Negara. Agung Negara tidak lain adalah halus (roh) Semar yang menyamar.
Wujud Agung Negara adalah sebagai Kamajaya, seorang Batara yang terkenal katampanannya yang mirip dengan Arjuna. Hal ini menunjukkan bahwa culture hero Melayu-Betawi ini sebenarnya dipinjam dari konsep Jawa tentang satria-pertapa sebagai Arjuna yang di Jawa digambarkan sebagai satria dengan badan kecil kurus dan gerakan yang lamban. Konsep negara yang diajukan oleh culture hero di sini adalah konsep negara yang didukung oleh prajurit yang tangguh.
5. Penutup.
Jadi, Hikayat Agung Sakti adalah suatu hikayat yang merupakan reaktualisasi culture hero masyarakat Melayu-Betawi melalui tokoh Semar yang merupakan simbol dari tokoh yang memiliki kemampuan berperang.
Hikayat Agung Sakti berusaha menunjukkan bahwa di dalam diri hamba yang tampak lugu, tua, dan tidak berharga sebenarnya terkandung kekuatan ilahiah yang tersembunyi yang mampu menegakkan keadilan. Implikasi dari pesan ini adalah menuntut para penguasa/ raja untuk berbuat adil kepada hamba-hambanya (rakyat) bila menginginkan kekuasaannya abadi. Pendukung kekuasaan adalah pada hamba, bahkan sebenarnya hambalah yang membangun kekuatan dan kekuasaan tersebut. Tanpa hamba, kekuasaan tidak akan berarti apa-apa.
Semar juga dapat bermakna bahwa aspek batin (roh) mempunyai nilai dan kekuatan yang lebih tinggi daripada aspek lahir. Batin Semar digambarkan memiliki kekuatan yang “agung dan sakti”, meskipun lahir Semar hanyalah seorang hamba. Makna ini mengajarkan manusia untuk tidak melihat pada wujud fisik belaka, tetapi lebih baik memperhatikan pada kebaikan rohaninya yang membawa nilai kebenaran.
Semar adalah culture hero masyarakat Melayu-Betawi yang konsepnya telah disesuaikan dengan kondisi masyarakat Melayu-Betawi itu sendiri. Demikian makna yang dapat ditangkap dari tokoh Semar tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan, Dendy Sugono, Sri Sukesi Adiwimarta (ed.) . 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka
Chambert-Loir, Henri. 1991. “Malay Literature in the 19th Century: The Fadli Connection”. dalam J.J. Ras and S.O. Robson (ed.) Variation, Transformation and Meaning. Leiden: KITLV Press.
Danandjaja, James. 1986. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain. Jakarta: Grafitipers.
Eco, Umberto. 1979. A Theory of Semiotics. Bloomington: Indiana University Press.
Gunawan, Teguh. 1998. “Syair Cerita Pandawa : Sebuah Suntingan Teks”. Karya Tulis Fak. Sastra UNS Surakarta.
Hikayat Agung Sakti, Ml.260 (Naskah di Perpustakaan Nasional, Jakarta)
Holt, Claire. 1967. Art in Indonesia : Continuities and Change. Ithaca, New York: Cornell University Press.
Howard, H. Joseph. 1966. Malay Manuscripts : A Bibliographical Guide. Kuala Lumpur: University of Malay Library.
Ikram, A. 1975. “Memperkenalkan Naskah-naskah Wayang dalam Bahasa Melayu” dalam Bahasa dan Sastra. Tahun I No: 2.
Juynboll, H.H. 1899. Catalogus van de Maleische en Sundaneesche Handschrifften der Leidsche Univer-siteits Bibliotheek. Leiden: E.J. Brill.
Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Mulyono, Sri. 1978. Apa Siapa Semar. Jakarta: Gramedia.
Mutholib, Idik, Sutardjo, Sukendar, Sugiri, Suprapto. 1989. Penelitian dan Penulisan Wayang Kulit-Betawi. Jakarta: Proyek Penelitian/ Penggalian/ Penulisan Sejarah Dina Museum dan Sejarah DKI Jakarta.
Nurgiyanto, Burhan. 1998. Transformasi Unsur Pewayangan dalam Fiksi Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2001. “Penelitian Sastra dengan Pendekatan Semiotik” Dalam Jabrohim (ed.) Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2001. Kajian Semiotika. Yogyakarta: Studi Sastra Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada.
Ricklefs, M.C. dan P. Voorhoeve. 1977. Indonesian Manuscripts in Great Britain : a Catalogue of Manuscripts in Indonesia Language in Britain Public Collection. Oxford: Oxford University Press.
Ronkel, Ph. S. van. 1909. “Catalogus der Maleische Handscriften in het Museum van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen”. dalam VBG 57.
Ronkel, Ph. S. van. 1909. 1921. Supplement Catalogus der Maleische en Minangkabausche Handscriften in de Leidsche Universiteits-Bibliotheek. Leiden: E.J. Brill.
Sunardjo, Nikmah. 1989. Hikayat Maharaja Garebag Jagat. Jakarta: Balai Pustaka.
Sunardjo, Nikmah dan Hani’ah. 1996. Hikayat Pandu. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta.
Sunardjo, Nikmah, Muhammad Fanani, Sri Sayekti, Putri Minerva Mutiara, ANurul Ainin. 1991. Hikayat Wayang Arjuna dan Purusara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sutaarga, Amir, Jumsari Jusuf, Tuti Munawar, Ratnadi Greha, S.Z. Hadisutjipto. 1972. Katalogus Koleksi Naskah Melayu Museum Pusat Dep. P&K. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Nasional, Direktorat Jendral Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Wolff, Janet. 1981. The Social Production of Art. New York
Sumber : Buniuns blog
Minggu, 23 September 2012
HIKAYAT BAYAN BUDIMAN
Pesan Moral Seekor Burung Nuri
Judul buku : Hikajat Bajan Boediman
Penerbit : Balai Poestaka, Batavia Centrum, 1934
Tebal : 213 halaman
Cara apa yang biasanya dipilih orangtua untuk mengajarkan moralitas kepada anaknya? Untuk mempermudah pemahaman tentang nilai-nilai moral yang hendak disampaikan, bentuk dongeng sering kali dipilih oleh para orangtua. Dongeng diyakini cukup efektif untuk menyampaikan berbagai nilai baik dan buruk dalam kehidupan.
Salah satu dongeng terkenal yang sarat pelajaran tentang berbagai aspek perilaku baik dan buruk manusia adalah dongeng tentang burung nuri yang lebih dikenal dengan sebutan Hikayat Bayan Budiman atau dalam versi bahasa Inggris disebut dengan Tales of A Parrot. Dongeng ini berasal dari sebuah karya berisi kumpulan cerita berbahasa Sansekerta berjudul Sukasaptati, yang artinya tujuh puluh cerita dari burung nuri. Di dalam cerita ini, dikisahkan tentang seekor burung nuri yang berhasil mencegah istri tuannya berbuat zina selama tuannya pergi berdagang ke negeri lain, dengan cara menuturkan 70 rangkaian cerita kepada si istri.
< kepada tentang yang dongeng Dongeng berbagai baik dan buruk dalam>
Cerita ini diyakini disebarkan melalui tradisi oral di India dan lantas dituliskan ke dalam bahasa Sansekerta oleh penulis yang tidak diketahui namanya. Dari naskah bahasa Sansekerta inilah seorang penyair dari Persia, Ziya’ud-din Nakhshabi, menerjemahkannya ke dalam bahasa Parsi pada tahun 1329 dan cerita itu diberi nama Tuti Nameh. Dari salinan Nakhshabi ini lantas lahir beragam versi naskah cerita lainnya dalam berbagai bahasa tentang dongeng-dongeng yang dituturkan oleh seekor burung nuri, seperti versi terjemahan bahasa Turki yang dikerjakan oleh Sari Abdullah Effendi, teks bahasa Parsi lainnya oleh Hamid Lahori, dan versi prosa pendek dan sederhana yang ditulis oleh Mohammad Qadiri. Ketiga versi cerita tersebut dapat dibaca di dalam buku karya Gladwin berjudul The Tooti Nameh or Tales of a Parrot in the Persian Language with an English Translation, yang diterbitkan di Calcutta tahun 1800 dan di London tahun 1801. Menurut catatan RO Winstedt, seorang pakar sastra Melayu dari Inggris, penulis lain yaitu Abu-al-fadl juga menyalin dongeng ini ke dalam bahasa Parsi jauh setelah teks Nakhshabi selesai.
Cerita ini pun diterjemahkan oleh Kadi Hasan ke dalam bahasa Jawa. Salinan dalam bahasa Jawa ada dalam bentuk prosa maupun sajak. Menurut Winstedt, cerita roman Jawa berjudul Angling Darma memetik dua buah cerita dari Hikajat Bajan Boediman, yaitu Hikajat Zahid (pertapa-Red) dengan Serimala (tukang kayu-Red) dan Pandai Emas dan Pandai Tenoen, serta Tjerita Radja Gementar Sjah Memindahkan Njawa Kepada Sesoeatoe Tempat. Naskah Nakhshabi itu juga diterjemahkan ke beberapa bahasa lain seperti Dakhani, Hindi, Kamil, Bugis, Makassar, maupun bahasa-bahasa Eropa.
Kepopuleran dongeng ini menginspirasikan para seniman untuk menciptakan karya lukis berdasarkan naskah tulisan tangan Nakhshabi. Pada abad 16 misalnya, di masa Dinasti Mughal di India, terutama saat kekuasaan Kaisar Akbar tahun 1556-1605, dibuatlah lukisan-lukisan mini berdasarkan hikayat Tuti Nameh. Lukisan-lukisan ini memakai gaya lukisan Dinasti Mughal yang memadukan gaya India maupun Persia dengan detail yang sangat halus dan teliti. Ilustrasi Tuti Nameh ini merupakan karya lukis pertama di masa-masa awal perkembangan seni Dinasti Mughal di India sekitar pertengahan tahun 1560-an. Karya lukisan mini tersebut masih tersimpan di Cleveland Museum of Art, Amerika Serikat.
Buku Hikajat Bajan Boediman terbitan Balai Poestaka di Batavia tahun 1934 ini disalin dari buku terbitan Singapura tahun 1920, berjudul Hikayat Bayan Budiman atau Cherita Khojah Maimun dengan editor dan pemberi kata pengantar RO Winstedt. Menurut Winstedt, terjemahan naskah itu dalam bahasa Melayu yang berhasil ditemukan paling awal merupakan sebuah penggalan berisi 14 halaman yang disimpan di Bodleian Library di Oxford, Inggris. Ke-14 halaman itu berisi petikan Tjerita Bajan jang Ditjaboet Boeloenja oleh istri saudagar, Tjerita Taifah, dan Seorang Perempoean Nikah dengan Soeami Tjemboeroean. Versi terjemahan Melayu ini muncul dengan beragam judul yaitu Hikayat Khojah Maimun, Hikayat Khojah Mubarak, dan Cherita Taifah.
Naskah terjemahan berbahasa Melayu yang bertahun 1600 Masehi itu adalah koleksi Edward Pococke, seorang ahli budaya timur dari Inggris yang hidup tahun 1604-1691. Pococke pernah menjadi pendeta Inggris untuk para pedagang Turki di Aleppo tahun 1630-1635 dan pendeta di Constantinople dari tahun 1637-1640. Pada masa itulah ia mengoleksi berbagai manuskrip dari beragam bahasa seperti Arab, Ibrani, Armenia, dan Samaritan.
Pada awalnya, menurut Winstedt, versi terjemahan Melayu ini mengambil pokok isi dari terjemahan bahasa Parsi. Namun, dalam versi Melayu lainnya, banyak yang mengadaptasi terjemahan Kadi Hasan yang dikerjakan sekitar tahun 1371 Masehi. Dengan demikian Hikayat Bayan Budiman versi Melayu ini tidak sepenuhnya mirip dengan naskah Nakhshabi. Beberapa cerita rakyat di daerah Melayu bahkan diadaptasi dari dongeng asli tentang burung nuri yang dituliskan di dalam Sukasaptati dan bukan dari Hikayat Bayan Budiman, seperti cerita Musang Berjanggut serta Hikayat Kalila dan Damina.
Di dalam buku terbitan Balai Pustaka tahun 1934 koleksi Perpustakaan Nasional dituliskan 24 kisah yang dituturkan oleh burung nuri. Sementara di dalam buku terbitan Singapura tahun 1920, selain 24 kisah tersebut dicantumkan juga penggalan naskah dari Bodleian Library sebagai lampiran, yang masih menggunakan aksara Arab gundul serta varian dari kisah ke-13 berjudul Tjerita Saboer, ke-14 dengan judul Tjerita Radja Kilan Sjah serta Poeteranja, dan kisah ke-15 berjudul Tjerita Radja Harman Sjah.
Suatu hari Maimun mengatakan kepada kedua unggasnya bahwa ia akan pergi berniaga ke negeri lain selama beberapa waktu. Maka ia menitipkan istrinya kepada mereka. Setelah beberapa lama ditinggal suaminya, Bibi Zainab merasa kesepian. Suatu hari di depan rumahnya lewatlah putra raja negeri itu. Zainab merasa tertarik hatinya. Begitu pula si putra raja. Maka Zainab pun berniat pergi menemuinya untuk memenuhi hasratnya pada malam hari. Sebelum berangkat, Zainab bertanya kepada Tiung Rencana tentang niatnya itu. Tiung menasihati Zainab untuk membatalkan niatnya karena hal itu melanggar ajaran Tuhan. Zainab pun marah besar dan membunuh Tiung. Demi melihat perbuatan Zainab, Bayan pun khawatir ia akan dibunuh juga. Maka ketika Zainab meminta pendapatnya tentang apa yang akan diperbuatnya, Bayan mulai berkisah tentang sebuah hikayat. Zainab sangat tertarik mendengarkan cerita Bayan sehingga ia tidak sadar hari telah menjelang pagi ketika cerita itu selesai dikisahkan. Keesokan harinya, saat Zainab berniat pergi menemui putra raja, Bayan menuturkan satu hikayat lagi dan Zainab dengan sukacita mendengarkan hingga pagi menjelang. Begitu seterusnya sehingga Zainab lupa memenuhi hasratnya untuk berzina. Bayan menuturkan sebuah kisah setiap malam kepada Zainab hingga mencapai 24 malam. Cerita berantai ini serupa dengan kisah seribu satu malam di mana sang permaisuri menuturkan berbagai cerita setiap malam sehingga sang raja lupa akan niat membunuh istrinya itu.
Dua puluh empat kisah yang dituturkan oleh burung nuri kepada Zainab berisikan pesan moral untuk berbuat baik dan tetap berada di jalan Tuhan, apa pun godaan yang muncul menghadang. Beberapa pesan moral yang disampaikan antara lain, pesan untuk tidak berzina; pesan untuk setia dan berbuat kebajikan; pesan untuk tidak bersikap cemburuan kepada istri atau suami; pesan untuk tidak serakah atau mengambil bagian orang lain; pesan untuk patuh kepada orangtua; pesan untuk tidak sombong atau mau mendengarkan kata-kata orang yang lebih rendah kedudukannya; pesan kepada penguasa untuk memerhatikan kepentingan anak buahnya, tidak mau menang sendiri, dan masih banyak pesan moral lainnya.
Kisah pertama yang dituturkan Bayan Budiman adalah tentang burung yang dicabut bulunya oleh istri saudagar. Alkisah seorang saudagar di negeri Istanbul pergi berlayar meninggalkan istrinya. Sang istri pun lalu berzina selama suaminya pergi. Ketika suaminya pulang, sang suami mengetahui perbuatan istrinya. Maka keduanya pun sering bertengkar. Sang Istri menebak bahwa burung itulah yang memberi tahu perzinaannya kepada suaminya. Si istri pun dendamlah kepada burung itu. Ketika sang suami pergi ke pasar, ditangkapnya burung itu dan dicabutnyalah bulu di seluruh badan si burung. Lalu burung itu pun bersembunyi di dalam saluran air. Si istri saudagar menyangka burung itu telah mati. Ketika suaminya datang, ia berpura-pura menangisi burung itu yang dikatakan telah dimakan kucing. Saudagar itu tidak percaya perkataan istrinya. Sang istri lalu diusirnya dari rumah. Si istri itu lalu tinggal di kuburan seorang syekh dan membersihkan kubur itu setiap hari sambil berdoa agar bisa kembali kepada suaminya. Sementara itu, si burung yang telah kehilangan bulu di sekujur badannya akhirnya pulih kembali. Bulu-bulu telah tumbuh di badannya. Ia lalu terbang ke kubur tempat istri saudagar itu tinggal. Di sana si burung bersembunyi di balik nisan dan berbicara seolah-olah si syekh yang mendengar doa-doa si istri saudagar. Istri saudagar itu menyesal telah berzina dan berjanji untuk tidak berzina lagi serta ingin kembali kepada suaminya. Maka si burung itu pun pergi kepada saudagar dan mengatakan bahwa dirinya dirawat oleh istri saudagar setelah seekor kucing berusaha menangkapnya sehingga bulu-bulunya rontok. Demi mendengar cerita si burung, saudagar itu merasa telah berbuat dosa kepada istrinya yang tidak bersalah. Ia lalu menyusul ke kubur syekh itu dan meminta maaf kepada istrinya serta mengajaknya pulang kembali.
Kisah pertama ini merupakan pemberi nasihat awal kepada Zainab untuk mengurungkan niatnya berzina. Ini berarti, pesan moral yang ada di dalam cerita berhasil ditangkap oleh Zainab. Pada malam-malam berikutnya, Zainab sangat tertarik mendengarkan cerita Bayan Budiman sehingga ia setengah memaksa si Bayan untuk bercerita meskipun Bayan mengingatkan niat Zainab untuk mengunjungi putra raja. Ini menunjukkan bahwa pesan yang disampaikan cerita-cerita si Bayan Budiman memberikan pelajaran berharga kepada Zainab dan hal itu berhasil disampaikan secara menarik melalui cerita-cerita hikayat atau dongeng oleh si burung nuri.
Dalam berbagai cerita hikayat ini, konteks cerita adalah masyarakat Muslim. Awalnya, di dalam Sukasaptati cerita-cerita yang dikisahkan berasal dari tradisi masyarakat Hindu. Ketika terjemahan ke dalam bahasa Parsi dilakukan, tokoh- tokoh Hindu berganti dengan tokoh-tokoh Muslim. Namun demikian, nilai-nilai yang disampaikan cukup relevan untuk seluruh kelompok masyarakat.
Kisah ke-24 dari hikayat ini bercerita tentang putri laut. Alkisah seorang raja Hindustan bernama Gair Malik yang empunya dua anak laki-laki bernama Sahil dan Naim. Permaisuri raja meninggal tujuh tahun lalu, tapi sang raja belum juga menikah kembali. Suatu hari, Gair Malik bermimpi bertemu seorang putri cantik rupawan yang muncul dari dalam laut. Ia lalu meminta kepada kedua anaknya untuk mencari putri itu agar dapat dikawinnya. Sahil dan Naim pun berlayar ke negeri seberang. Dalam perjalanan, topan badai menghancurkan kapal keduanya. Sahil berhasil selamat, sementara Naim tak tentu rimbanya. Sahil pun kembali pulang dengan berita sedih. Sementara itu, Naim berhasil selamat dan mendarat di sebuah negeri. Ia bertemu seorang syekh dan menceritakan ihwal perjalanannya. Syekh itu lalu memberi tahu bahwa putri itu adalah putri Raja Jin Afrit yang sedang berperang dengan Raja Jin kafir Arkas. Syekh membekali Naim dengan doa taju’s-Sulaiman untuk menghadapi jin itu. Singkatnya, Naim berhasil mengalahkan Raja Jin kafir Arkas sehingga Raja Jin Afrit mengucapkan terima kasih dengan menyerahkan putrinya untuk dipersunting oleh ayahanda Naim. Setelah perkawinan putri raja jin dengan Raja Gair Malik, hubungan kedua kerajaan jin tadi menjadi sangat baik, tidak ada lagi peperangan, masing-masing menghormati kerajaan lainnya. Moral yang ingin disampaikan kisah ini adalah pertama, anak haruslah patuh dan hormat kepada orangtuanya, serta agar saling hormat kepada sesama manusia maupun manusia dengan makhluk lainnya.
Setelah kisah ke-24 ini, Khojah Maimun akhirnya pulang ke negerinya. Dengan berteman nasihat Bayan, Zainab bersabar menunggu kedatangannya. Maka ketika Maimun akhirnya datang, Zainab tidak pernah berzina dan suaminya pun senang karena si istri tetap setia kepadanya. Sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada Bayan, Zainab memohon kepada suaminya untuk melepaskan Bayan agar dapat kembali kepada anak istrinya di hutan. Namun demikian, Bayan tetap mengunjungi kedua suami istri itu setiap enam hari sekali.
Versi Melayu ini agak berbeda dari naskah Nakhshabi maupun Muhammad Qadiri dalam bahasa Parsi. Dalam versi bahasa Parsi, menurut Winstedt, si burung nuri memberi tahu kepada saudagar tentang niat istrinya untuk berzina sehingga si saudagar akhirnya membunuh istrinya sendiri.
(BI Purwantari/Litbang Kompas)
Hikayat Bayan Budiman
Khoja Mubarak seorang saudagar kaya di negeri yang bernama Ajam. Beliau mempunyai seorang anak yang bernama Khoja Maimun. Apabila cukup umurnya, Khoja Maimun telah dikahwinkan dengan Bibi Zainab.
Oleh kerana hampir kehabisan harta, Khoja Maimun bercadang untuk pergi belayar dan berniaga. Sebelum belayar, Khoja Maimun telah membeli dua ekor burung sebagai peneman isterinya sepeninggalan beliau pergi belayar. Seekor burung bayan dan seekor burung tiung. Apabila sampai masa hendak pergi belayar, Khoja Maimun berpesan kepada isterinya supaya sentiasa bermuafakat dengan burung-burung itu sebelum melakukan sesuatu perkara.
Sepeninggalan Khoja Maimun, Bibi Zainab yang tinggal sendiri berasa kesunyian. Semasa duduk termenung di tingkap, seorang putera raja lalu dihadapan rumahnya. Kedua-duanya saling berpandangan dan berbalas senyum.
Sejak hari itu Bibi Zainab telah jatuh berahi terhadap putera raja itu. Putera Raja itu juga telah jatuh cinta pada Bibi Zainab. Dengan perantaraan seorang perempuan tua, pertemuan antara mereka berdua telah dapat di atur.
Sebelum meninggalkan rumahnya, Bibi Zainab telah menyatakan hasratnya kepada burung tiung betina yang diharapnya akan lebih memahami perasaannya. Maka jawab tiung;
“ya, tuan yang kecil molek, siti yang baik rupa, pekerjaan apakah yang tuan hamba hendak kerjakan ini? Tiadakah tuan takut akan Allah subhanahu wataala dan tiadakah tuan malu akan Nabi Muhammad, maka tuan hendak mengerjakan maksiat lagi dilarangkan Allah Taala dan ditegahkan Rasulullah s.a.w. Istimewanya pula sangat kejahatan, dan tiada wajib atas segala perempuan membuat pekerjaan demikian itu. Tiadakah tuan mendengar di dalam al-Quran dan kitab hadis Nabi, maka barangsiapa perempuan yang menduakan suaminya, bahawa sesungguhnya disulakan oleh malaikat di dalam neraka jahanam seribu tahun lamanya…”
Teguran burung tiung betina itu membuatkan Bibi zainab marah lalu dihempaskan burung itu ke bumi. Matilah burung itu.
Bibi Zainab setertusnya meminta nasihat daripada burung bayan pula sambil mencurahkan hasrat hatinya itu. Setelah mendengar semuanya, burung bayan pun berkata;
“Adapun hamba ini haraplah tuan, jikalau jahat sekalipun pekerjaan tuan, insyaAllah di atas kepala hambalah menanggungnya, jika datang suami tuan pun, tiada mengapa, daripada hamba inipun hendak membuat bakti kepada tuan dan berbuat muka pada suami tuan itu. Baiklah tuan segera pergi, kalau-kalau lamalah anak raja itu menantikan tuan, kerana ia hendak bertemu dengan tuan. apatah dicari oleh segala manusia di dalam dunia ini, melainkan martabat, kebesaran dan kekayaan?Adakah yang lebih daripada martabat anakj raja? tetapi dengan ikhtiar juga sempurnalah adanya. Adapun akan hamba tuan ini adalah seperti hikayat seekor unggas bayn yang dicabut bulunya oleh seorang isteri saudagar….“
Burung Bayan tidak melarang malah dia menyuruh Bibi Zainab meneruskan rancangannya itu, tetapi dia berjaya menarik perhatian serta melalaikan Bibi Zainab dengan cerita-ceritanya. Bibi Zainab terpaksa menangguh dari satu malam ke satu malam pertemuannya dengan putera raja. begitulah seterunya sehingga Khoja Maimun pulang dari pelayarannya.
Bayan yang bijak bukan sahaja dapat menyelamatkan nyawanya tetapi juga dapat menyekat isteri tuannya daripada menjadi isteri yang curang. Dia juga dapat menjaga nama baik tuannya serta menyelamatkan rumahtangga tuannya.
Antara ceriota bayan itu ialah mengenai seekor bayan yang mempunyai tiga ekor anak yang masih kecil. Ibu bayan itu menasihatkan anak-anaknya supaya jangan berkawan dengan anak cerpelai yang tinggal berhampiran. Ibu bayan telah bercerita kepada anak-anaknya tentang seekor anak kera yang bersahabat dengan seorang anak saudagar. Pada suatu hari mereka berselisih faham. Anak saudagar mendapat luka di tangannya. Luka tersebut tidak sembuh melainkan diubati dengan hati kera. Maka saudagar itupun menangkap dan membunuh anak kera itu untuk mengubati anaknya.
Sebuah lagi cerita bayan ialah mengenai seorang lelaki yang sangat mengasihi isterinya. Apbila isterinya meninggal dunia, dia telahj memohon dioa kepada Tuhan supaya separuh daripada umurnya dibahagikan kepada isterinya. Doa itu dikabulkan dan isterinya hidup semual. Namun, si isteri tidak jujur dan lari dengan seorang saudagar kaya. Lelaki itu menjejaki isterinya kerana menyangka isterinya dilarikan oleh saudagar kaya itu. Tetapi dia telah dihina dan diusir oleh isterinya. Kerana marah dan kecewa, lelaki itu memohon agar Tuhan mengembalikan usianya yang telah diberi kepada isterinya. Dengan kehendak Tuhan, isterinya mati semula.
Dalam cerita yang lain pula, bayan bercerita mengenai pengorbanan seorang isteri. seorang puteri raja yang kejam telah membunuh 39 orang suaminya. suaminya yang keempat puluh telah berjaya menginsafkannya dengan sebuah cerita mengenai seekor rusa betina yang sanggup menggantikan pasangannya, rusa jantan, untuk disembelih. Begitu kasih rusa betina kepada pasangannya sehingga sanggip mengorbankan diri untuk disembelih. Puteri itu insaf dan tidak jadi membunuh suaminya yang keempat puluh itu, malah sanggup berkorban apa sahaja untuk suaminya.
Sumber Resensi Klasik
Selasa, 11 September 2012
Riwayat Kukuk 1933
Ciptaanni : Puniakan Dalom Ahmad Safe'i
( Sultan Ratu Pikulun, Raja Adat Paksi Buay Belunguh )
------------------------------------------------------
Bismillah sai bermula, Nyak mulai nulis Hinji
Mak lansungku sengaja, Ngejo Asal mulani
Ngedeting pukul siwa, waktu adu debingi
Surat surat tibaca, ngeguai sedih hati
Diwaktu nyak mengura, lagi campur puari.
Nyak ampai mulai kerja, Pasirah di Kenali.
Selagi manusia , pedom lulok seunyinni.
Mawat tisangka sangka, ginjuh unyinni Bumi.
Dunia rasa gamba, unjuk dilom sekuci
Ngeliwat Tanjungcina, lebih gaoh hunjakni
Kursi Bufet, Pigura, sampiran rik lemari
Penuh pecahan kaca , ngehangga dija dudi
suak kemara ari, sai hurik mak bedaya
Nulung anak kajjongni, luar mak ngedok cara
Dibingi kelom buta, Hiruk pikuk bunjini
Lebon kemara maya, Lemoh balung rik sendi
Gumah sai mak cidera, bingung samasekali
Tehejong rik bedu'a, makdapok minjak lagi.
Turun wewah dunia, bingi buganti pagi.
Ampai wat benguncaka, nulung minak muari.
Tian sai kena timpa, balokni diangkati,
saikatan tipelihara, ngubur tian sai mati.
Ya Allah ya Robbana
Minjak radu ticuba, tebanting diunggak resi
nyak rangkang pegagapa, mak mudah injuk sangka gegoh lapah dirui
Barih munih jak sayya, bunyi dassyat sekali
Gemuruh juga juga , unjuk Kereta api
Ampai tipandai ia, kimak derani pagi
Sai radu nyata, Tebihni Gunung Pesagi
Wat mekik mekau juga, ngebaca unyin puji
wat nabuh tabuh tala, ngehalau kukuk anggapni
Kenali, Surabaya, Juga Banjarnegeri.
Baru dn Sukadana, Serungkuk rik Negeri.
Rupani rata rata, sampai di Sukanegeri
Ramah kena bahaya, lantaran Kukuk hinji.
Tanno balin pai cara, tilanjutko kak nanti
Nyak haga becerita, keadaan tatabumi.
***
Makkung kukuk terjadi,
Ibukota di liwa, Balik Bukit gelarni,
Daerah berak nana, Gumah rakyat betani,
Ngebana subur rayya, sebab gunung pesagi.
Tegak unjuk Raksasa, ditengah daerah hinji.
Tempat hulun busema, maksud nyepok hanipi
Ratong jak ipa ipa, bidang bidang tahunni
Kemara ledak jak ia, nutuk wai tehili
Jadi pupukni rimba, tanoman jadi humbi
Kapan ram cakak dia, dipuncakni Pesagi
Pandangan sedop nana, mak ngedok sai ngehalangi
Kapan ram sedang jaya, dipuncakni pesagi
sekitar gunung sayya, nyata terang sekali
Dibah tiliak liwa, Hujung Baru Kenali.
Ranau dan Gunung Raja, Danau Redik sekali.
Turgak, Sukaraja, Pekon Bahwai,Jejawi.
Juga Teluk Semaka, Tlk Betung rik Krui
Sayup sayup jak mata, pulau lunik sebiji.
cawani jelma pura, seno Pulau Legundi.
Kapal wat pira pra, tiliak wara wiri
Lentera nampak nyata, kapan waktu dibingi
Jemeruguk dimata, gunung dikanan kiri
Seminung Rajabasa,Tenggamus menyendiri
Belerang bukit bata, Ciguk redik sekali.
Gunung Subhanallah nyata, Rulah tebing mategi.
Waktu bingian gempa, sabah rik kebun kupi.
Ngebuah rebu nana, mawat selama hinji.
Sai gumah basa dihuma, Musim ngagetas pari,
Tianno rata rata, minok dianjung sabahni.
Mani teradat dija, unyinni balai pari
Tepik disabah raiya, nyin dang payah ngatatni.
****
Nyak nerusko cerita, in jejama ngedengi
turun kukuk terjadi, korbanni gumah nana,
Sekira pukul lima, lagi masih dibingi
diwaktu sayya juga, diatas Gunung pesagi
tebih dipa ipa bunyini dasyat nana tidengi jena bingi,
tanoh sai tebih sayya , nutupko batangari
Kemara wai dia, mawat terus tehili
Nitebak tebih sayya, nyani danau rupani
Makkung hak pira saka, penepon mak tahan lagi
Kemara wai saidia, luar sama sekali
Kik rulah jadi rata, liku lurus ulihni
Sai ngehadang taborkucar, nutuk litak tahili
Kemara sabah rik huma, dipinggir batang hari
Habis disapu musnah, mawat sai tinggal lagi
Kik Pekon Sukaraja, pekon Bahwai, Jejawi
Bubungan ratu rata, nyama tanoh rik heni.
Ya Allah ya Robbana…Ribuan hulun mati,
wat bangong sanga keluaga, Mawat wat tinggal lagi,
jadi terang rik nyata, ulun mak mengan lagi.
tibagi jak sai gena ,cutik citik disaini.
Ranglaya mik mardua, putus sama sekali,
mik krui reno juga, mak dapok tiliui.
Tebih sai balak dija, diteba Kutabesi.
Gunung pasir ngehangga, gumah munih barihni.
Bantuan sementara, dang tianggopko dihati
Mani mawat relaya, in ulun dapok ngedi.
Sai katan mati juga, mawat ngedok ubatni
lambanni ngadu bela, pedom dipa rangni.
Dinana rata rata, nyani kubu saunyinni
Tihang batang kahua, Hatok bulungni puttti.
Mani ulihni rejo , gumah nihan saimati
Haban merajalela, kolera rik Desentri.
Kukuk sayya dinana, mak ngedok henti henti
meginjuh juga juga, dilom 14 rani
Wat tesiar berita, tikabar dija dudi
Nanti rani Selasa, Kiamat dunia hinji.
Hulun gumah percaya, merabai haga mati
Mak lagi wat rencaka, barih syolat rik ngaji.
Untung nihan dinana, wat ratong satu kompi.
Serdaduni Belanda, haga nulung maksudni.
Nyusul munih jak sayya, Kapal sai jak Betawi.
Ngebatok dokter lima, obat, biasbarehni.
Reseden Bengkulu dinana, rik pembesar barikni
Sampai munih di Liwa, ngatur beras tibagi.
Nom dokter dinana, tian bubagi bagi
Dilom lima Marga, ngubati dija dudi.
****
Titinggalko cerita, sai nulung dija dudi.
Tanno ram mik liba, atar Suoh gelarni
Disan wat pekon lima, diredik Batangari,
Gelarni wai Semaka, termashur dijadudi.
Meredik bukit Bata, gunung Lunik berapi,
Waktu terjadi gemp,a lamban rubuh sunyinni,
Korbanni pira pira, mekejung kik tibiti.
Ngakuk buttak cerita, wat munih sai terjadi.
Ulih akibat gempa. Rik adu sampai janji
Meletus bukit Bata, unjuk Meriam bunyini
Umbau belirang dinana, sesak napas ulihni
Injuk dilom Neraka, reno dia misalni
Tiliak dengan nyata, Apui ngejulang tinggi
Dunia kelom buta, hasok halom sekali
Makkung saka jak sayya, terai batu mak henti
disusul itak pula, panasna haga mati
Unyin kemara jelma, nyepok amanni diri.
Lijung ilung Semaka, Sebabaian tengah bingi.
Tinggalpai niku harta, makngedok guna lagi.
Bacak ngejaga nyawa, gampang munih rezeki.
Melapah dilom rimba, kena unak rik huwi.
Dunia kelom nana, petunjuk ikah hati.
Ngala kala tedaya, induh jaoh jaohna,
Kik sanak miwang juga, nambah putokni hati.
Tian mit Semaka, laju tinggal diudi.
Ngebeli tanoh Huma, nyani Pekon sendiri.
Tian Batubrak juga, pindah dihak libani,
ngediriko pekon rua, kenyangan tigelari.
Gumah munih saLiwa, ngenomunih Kenali
Pindah mani terpaksa, mani harta mak lagi.
Berkat Tuhan sai Kaya ngeni tian Rezeki.
Tanno ya rata rata, adu kaya sunyinni.
Tanno tammat cerita, mak ngedok sambung lagi
jadi ingok'an dinana, reno dia terjadi.
Culuk radu membuya, tanno radu relom bingi, Mata radu kedugok,
mahap jama pembaca, Ngekalau buhanipi , ulihni pedom lullok.
- Kutata jak salinan Ina Dalom Yusnani Barlian - tabik
( Kiriman Novan Saliwa)
( Sultan Ratu Pikulun, Raja Adat Paksi Buay Belunguh )
------------------------------------------------------
Bismillah sai bermula, Nyak mulai nulis Hinji
Mak lansungku sengaja, Ngejo Asal mulani
Ngedeting pukul siwa, waktu adu debingi
Surat surat tibaca, ngeguai sedih hati
Diwaktu nyak mengura, lagi campur puari.
Nyak ampai mulai kerja, Pasirah di Kenali.
Selagi manusia , pedom lulok seunyinni.
Mawat tisangka sangka, ginjuh unyinni Bumi.
Dunia rasa gamba, unjuk dilom sekuci
Ngeliwat Tanjungcina, lebih gaoh hunjakni
Kursi Bufet, Pigura, sampiran rik lemari
Penuh pecahan kaca , ngehangga dija dudi
suak kemara ari, sai hurik mak bedaya
Nulung anak kajjongni, luar mak ngedok cara
Dibingi kelom buta, Hiruk pikuk bunjini
Lebon kemara maya, Lemoh balung rik sendi
Gumah sai mak cidera, bingung samasekali
Tehejong rik bedu'a, makdapok minjak lagi.
Turun wewah dunia, bingi buganti pagi.
Ampai wat benguncaka, nulung minak muari.
Tian sai kena timpa, balokni diangkati,
saikatan tipelihara, ngubur tian sai mati.
Ya Allah ya Robbana
Minjak radu ticuba, tebanting diunggak resi
nyak rangkang pegagapa, mak mudah injuk sangka gegoh lapah dirui
Barih munih jak sayya, bunyi dassyat sekali
Gemuruh juga juga , unjuk Kereta api
Ampai tipandai ia, kimak derani pagi
Sai radu nyata, Tebihni Gunung Pesagi
Wat mekik mekau juga, ngebaca unyin puji
wat nabuh tabuh tala, ngehalau kukuk anggapni
Kenali, Surabaya, Juga Banjarnegeri.
Baru dn Sukadana, Serungkuk rik Negeri.
Rupani rata rata, sampai di Sukanegeri
Ramah kena bahaya, lantaran Kukuk hinji.
Tanno balin pai cara, tilanjutko kak nanti
Nyak haga becerita, keadaan tatabumi.
***
Makkung kukuk terjadi,
Ibukota di liwa, Balik Bukit gelarni,
Daerah berak nana, Gumah rakyat betani,
Ngebana subur rayya, sebab gunung pesagi.
Tegak unjuk Raksasa, ditengah daerah hinji.
Tempat hulun busema, maksud nyepok hanipi
Ratong jak ipa ipa, bidang bidang tahunni
Kemara ledak jak ia, nutuk wai tehili
Jadi pupukni rimba, tanoman jadi humbi
Kapan ram cakak dia, dipuncakni Pesagi
Pandangan sedop nana, mak ngedok sai ngehalangi
Kapan ram sedang jaya, dipuncakni pesagi
sekitar gunung sayya, nyata terang sekali
Dibah tiliak liwa, Hujung Baru Kenali.
Ranau dan Gunung Raja, Danau Redik sekali.
Turgak, Sukaraja, Pekon Bahwai,Jejawi.
Juga Teluk Semaka, Tlk Betung rik Krui
Sayup sayup jak mata, pulau lunik sebiji.
cawani jelma pura, seno Pulau Legundi.
Kapal wat pira pra, tiliak wara wiri
Lentera nampak nyata, kapan waktu dibingi
Jemeruguk dimata, gunung dikanan kiri
Seminung Rajabasa,Tenggamus menyendiri
Belerang bukit bata, Ciguk redik sekali.
Gunung Subhanallah nyata, Rulah tebing mategi.
Waktu bingian gempa, sabah rik kebun kupi.
Ngebuah rebu nana, mawat selama hinji.
Sai gumah basa dihuma, Musim ngagetas pari,
Tianno rata rata, minok dianjung sabahni.
Mani teradat dija, unyinni balai pari
Tepik disabah raiya, nyin dang payah ngatatni.
****
Nyak nerusko cerita, in jejama ngedengi
turun kukuk terjadi, korbanni gumah nana,
Sekira pukul lima, lagi masih dibingi
diwaktu sayya juga, diatas Gunung pesagi
tebih dipa ipa bunyini dasyat nana tidengi jena bingi,
tanoh sai tebih sayya , nutupko batangari
Kemara wai dia, mawat terus tehili
Nitebak tebih sayya, nyani danau rupani
Makkung hak pira saka, penepon mak tahan lagi
Kemara wai saidia, luar sama sekali
Kik rulah jadi rata, liku lurus ulihni
Sai ngehadang taborkucar, nutuk litak tahili
Kemara sabah rik huma, dipinggir batang hari
Habis disapu musnah, mawat sai tinggal lagi
Kik Pekon Sukaraja, pekon Bahwai, Jejawi
Bubungan ratu rata, nyama tanoh rik heni.
Ya Allah ya Robbana…Ribuan hulun mati,
wat bangong sanga keluaga, Mawat wat tinggal lagi,
jadi terang rik nyata, ulun mak mengan lagi.
tibagi jak sai gena ,cutik citik disaini.
Ranglaya mik mardua, putus sama sekali,
mik krui reno juga, mak dapok tiliui.
Tebih sai balak dija, diteba Kutabesi.
Gunung pasir ngehangga, gumah munih barihni.
Bantuan sementara, dang tianggopko dihati
Mani mawat relaya, in ulun dapok ngedi.
Sai katan mati juga, mawat ngedok ubatni
lambanni ngadu bela, pedom dipa rangni.
Dinana rata rata, nyani kubu saunyinni
Tihang batang kahua, Hatok bulungni puttti.
Mani ulihni rejo , gumah nihan saimati
Haban merajalela, kolera rik Desentri.
Kukuk sayya dinana, mak ngedok henti henti
meginjuh juga juga, dilom 14 rani
Wat tesiar berita, tikabar dija dudi
Nanti rani Selasa, Kiamat dunia hinji.
Hulun gumah percaya, merabai haga mati
Mak lagi wat rencaka, barih syolat rik ngaji.
Untung nihan dinana, wat ratong satu kompi.
Serdaduni Belanda, haga nulung maksudni.
Nyusul munih jak sayya, Kapal sai jak Betawi.
Ngebatok dokter lima, obat, biasbarehni.
Reseden Bengkulu dinana, rik pembesar barikni
Sampai munih di Liwa, ngatur beras tibagi.
Nom dokter dinana, tian bubagi bagi
Dilom lima Marga, ngubati dija dudi.
****
Titinggalko cerita, sai nulung dija dudi.
Tanno ram mik liba, atar Suoh gelarni
Disan wat pekon lima, diredik Batangari,
Gelarni wai Semaka, termashur dijadudi.
Meredik bukit Bata, gunung Lunik berapi,
Waktu terjadi gemp,a lamban rubuh sunyinni,
Korbanni pira pira, mekejung kik tibiti.
Ngakuk buttak cerita, wat munih sai terjadi.
Ulih akibat gempa. Rik adu sampai janji
Meletus bukit Bata, unjuk Meriam bunyini
Umbau belirang dinana, sesak napas ulihni
Injuk dilom Neraka, reno dia misalni
Tiliak dengan nyata, Apui ngejulang tinggi
Dunia kelom buta, hasok halom sekali
Makkung saka jak sayya, terai batu mak henti
disusul itak pula, panasna haga mati
Unyin kemara jelma, nyepok amanni diri.
Lijung ilung Semaka, Sebabaian tengah bingi.
Tinggalpai niku harta, makngedok guna lagi.
Bacak ngejaga nyawa, gampang munih rezeki.
Melapah dilom rimba, kena unak rik huwi.
Dunia kelom nana, petunjuk ikah hati.
Ngala kala tedaya, induh jaoh jaohna,
Kik sanak miwang juga, nambah putokni hati.
Tian mit Semaka, laju tinggal diudi.
Ngebeli tanoh Huma, nyani Pekon sendiri.
Tian Batubrak juga, pindah dihak libani,
ngediriko pekon rua, kenyangan tigelari.
Gumah munih saLiwa, ngenomunih Kenali
Pindah mani terpaksa, mani harta mak lagi.
Berkat Tuhan sai Kaya ngeni tian Rezeki.
Tanno ya rata rata, adu kaya sunyinni.
Tanno tammat cerita, mak ngedok sambung lagi
jadi ingok'an dinana, reno dia terjadi.
Culuk radu membuya, tanno radu relom bingi, Mata radu kedugok,
mahap jama pembaca, Ngekalau buhanipi , ulihni pedom lullok.
- Kutata jak salinan Ina Dalom Yusnani Barlian - tabik
( Kiriman Novan Saliwa)
Langganan:
Postingan (Atom)

