(*)
Pangeran, pangeran
Bangaran Raja Buana, ahli waris Karajaan
Daha
Dibuang paman,
Aria Batahta
Ka Balandean wadah pambukahannya.
Di Kampung Kuin diangkat jadi raja
Pangeran Suriansyah itu galarnya (#)
‘Mun bulan kadap sidin manyarang.
Paman Tamanggung kuat babanaran.
Sungai Kuin dipagar carucukan.
Kampung Carucuk dibari ngaran.
Patih Masih lalu pang baucap
Wan Sultan Damak batatulungan.
Sultan Manulung baparjanjian
‘Mun Banjar manang masuk Islam (#)
Kembali ke : (*)
Paman Tamanggung kalah sabakas.
Lalu dibagi tanah wan watas.
Pangeran ba-islam sabubuhan
Sultan Suriansyah bangaran.
Paman ba-islam nang panambayan.
Di Kampung Kuin ba ’ulah masigit di situ jua sidin bamakam
Damintu kisah Banjarmasin Kembali ke : (*),
ditambah
Kisah pang pagat, habis carita
Kisah Banjarmasin kota barnama.
Lirik lagu diatas menceritakan tentang riwayat hidup Pangeran Samudera atau Pangeran Suriansyah,raja Banjar yang pertama.Beliau lahir sekitar tahun 1550 Masehi.Beliau adalah cucu dari Maharaja Sukarama
yang memerintah berkedudukan di
“Negara Daha ” (sekarang : Negara berkedudukan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan).Maharaja Sukarama adalah keturunan yang
ke-7 dari kerajaan Negaradipa di
Amuntai.Asal usul keturunan raja raja di Negara Daha dan Banjarmasin adalah dari Negaradipa, yang dahulunya Rajanya dan
Ratunya bernama Pangeran Surianata dan Puteri Junjung Buih.Ayah Pangeran Samudra bernama Mantri Djaja dan ibunya Puteri Galuh (sebagian orang
menyebutnya juga Puteri Intan Sari).Sejarah hidup Pangeran Samudera dimulai dengan duka yang
memilukan hati,betapa tidak saat masih bayi Ayah-bunda beliau telah meninggal dunia.Sehingga semasa kecilnya beliau
sudah yatim piatu.Beliau di asuh oleh kakeknya“Maharaja Sukarama”.Pada saat Maharaja Sukarama mangkat terjadi perebutan tahta kekuasaan diantara anak2 beliau,yaitu antara Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung,bahkan mereka tidak segan2 untuk saling bunuh.Oleh karena itu Maharaja Sukarama memilih
sang cucu yang akan menjadl raja menggantikan beliau,maka sebelum jiwa anak ini terancam.Pangeran Samudera yang masih kecil dan baru berusia 7 tahun itu dihanyutkan di “Sungai Negara ” yang bermuara ke Banjarmasin.Itulah
sebabnya ia lalu disebut"Putera
Mahkota yang terbuang".Dengan sebuah biduk kecil dan sebuah jala
ikan,ia menelusuri sepanjang Hilir sungai Negara yang panjang dan sepi itu.Bertahun-tahun Pangeran Samudera.bertualang
diperairan Muara sungai Barito sebagai“Anak Nelayan Penangkap Ikan ”.Mengembara dari kampung ke kampung sepanjang sungai,seperti Sarapat,Balandean,Tamban,Muhur,Alalak dll.Dan pada akhirnya ia terdampar di Sungai Kuin.Tiada seorang yang tahu bahwa ia turunan
bangsawan Negara Daha.Penguasa
pemerintahan di Kuin waktu itu bernama Patih Masih.'Beliaulah orang yang menaruh belas kasihan memungut Pangeran Samudera dan memelihara sebagai anak kandungnya sendiri,diasuh hingga sampai
dewasa.Akhirnya pejabat di Banjarmasin (dahulunya bernama Bandar-Masih) mengetahui juga rahasia Pangeran Samudera,bahwa beliau adalah keturunan Bangsawan di
Negara Daha.beliau pun lalu diangkat menjadi kepala pemerintahan disitu dan nama Bandar-Masih diganti dengan “Banjarmasin".Karena kecakapannya memerintah/mengatur negeri,maka Banjarmasin
menjadi kota bandar yang ramai.Pedagang-pedagang asing datang berniaga dan banyak pula dari udik (Negara Daha dan Negara Dipa) yang berpindah mencari nafkah ke-bandar yang baru ini.
Akhirnya hal tsb diketahui oleh"sang paman" yaitu Pangeran Tumenggung yang telah berhasil merebut singasana kerajaan di Negara Daha.Lalu diperintahkannya Panglima kerajaan "Panglima Siparoan” dan pasukan bersenjatanya untuk menyerang Pangeran Samudera di Banjarmasin,Mendengar akan diserang,Pangeran Samudera lalu menyusun kekuatan,beliau jg meminta bantuan kepada Sultan Demak dan pada Tahun 1595.Banjarmasin diserang oleh pasukan Pangeran Tumenggung didalam sebuah Perang Besar antara Prajurit Daha dan Banjar,Prajurit Banjar saat itu didukung oleh Prajurit Kerajaan Demak yang beragama Islam.Pangeran Samudera menang dalam perang tersebut,dan
akhirnya memeluk agama Islam dan
mengganti namanya menjadi Pangeran
Suriansyah atau juga seringkali dikenal dengan sebutan “Panembahan Batu Habang”.Serah terima kekuasaan antara Pangeran Tumenggung dengan Pangeran Suriansyah dilakukan pada tanggal 24 Agustus, yang setiap tahun diperingati sebagai Hari Jadi atau Hari Ulang Tahun Kota Banjarmasin.
Sumber : South Borneo's Mobile Blog
Fachruddin : Kliping Dan Catatan Tentang Bahasa, Retorika, Sastra, Aksara dan Naskah Kuno
Minggu, 10 Juni 2012
Jumat, 04 Mei 2012
Situs Warisan Islam Timbuktu Terancam
REPUBLIKA.CO.ID, TIMBUKTU--Perang saudara di Mali tidak hanya mengancam keselamatan warga sipil. Lebih dari itu, peninggalan peradaban Islam di Timbuktu pun turut terancam.
Saat ini, posisi pemberontak tengah memasuki Utara Timbuktu. Tak lama, mereka bakal sampai di situs yang menyimpan ribuan manuskrip kuno tersebut. "Kami telah bekerja keras untuk melestarikan manuskrip kuno selama berabad-abad," ungkap Kepala Institut Penelitian Dasar Afrika (Ifan), Hamady Bocoum, seperti dikutip onislam.net, Kamis (5/4).
Sebabnya, Hamady memperingatkan agar semua pihak yang bertikai untuk segera berdamai. Kalau tidak demikian, Mali bakal kehilangan warisan tak ternilai. "Ada resiko serius. Hal ini tentu harus diperhatikan," katanya.
Timbuktu di masa lalu, merupakan pusat peradaan Islam di Afrika. Kota ini merupakan rute tua perdagangan melalui di kawasan Sahara. Berkat posisinya yang demikian strategis, Timbuktumenjadi kota besar dan megah.
Di kota ini pula, lahir sejumlah cendikiawan, ulama dan peneliti ternama. Mereka selanjutnya mengembangkan ilmu sejarah, astronomi, musik, botani dan anatomi. Kini, sisa-sisa kejayaan ini bakal terancam. Pertikaian politik merupakan penyebabnya.
"Timbuktu merupakan kota dengan beragam bangunan yang luar biasa. Masjid Djingareyber, Sankore, dan Sidi Yahia merupakan bangunan yang harus di jaga. Peninggalan ini juga warisan dunia," komentar Direktur Jenderal Badan Organisasi PBB untuk masalah Pendidikan dan Kebudayaan (UNESCO) Irina Bokova.
Hamady menambahkan apabila peninggalan itu tidak dilindungi maka para pemberontak mungkin akan menjualnya secara ilegal atau lebih parah lagi dihancurkan. "Apa yang telah kami usahakan harus tetap berlanjut. Jika tidak warisan ini akan musnah," ungkapnya. (Sumber : Republika Online, ROI)
Senin, 09 April 2012
Alhamdulillah, 400 Naskah Kuno Kerajaan Melayu Diselamatkan
REPUBLIKA.CO.ID, TANJUNGPINANG -- Raja Malik, budayawan Provinsi Kepulauan Riau, yang pernah meraih Anugerah Kebudayaan Indonesia dari pemerintah pusat berhasil menyelamatkan sebanyak 400 naskah kuno peninggalan kerajaan Melayu.
"Naskah kuno itu disimpan di Kantor Yayasan Kebudayaan Indra Sakti di Pulau Penyengat, Tanjungpinang," kata Raja Malik, di Tanjungpinang, Senin.
Naskah kuno itu berisi tentang sastra, adat istiadat, ajaran Islam, pengobatan tradisional, bahasa dan sejarah Melayu. Naskah kuno itu perlu diselamatkan karena sebagai bukti sejarah kejayaan kerajaan Melayu pada masa silam.
Sebagian naskah kuno yang tidak berhasil diselamatkan telah dijual oleh ahli warisnya dan juga beberapa warga kepada kolektor asal Malaysia. Penjualan naskah kuno itu disebabkan ahli waris atau warga yang memilikinya merasa tidak mendapat uang jika menyimpannya atau diserahkan kepada yayasan di Pulau Penyengat.
"Penjualan naskah kuno itu disebabkan kurangnya perhatian pemerintah untuk menyelamatkan naskah kuno tersebut. Harga naskah kuno yang dijual kepada kolektor asal Malaysia itu bervariasi," katanya.
Namun tidak semua ahli waris yang menjual naskah kuno tersebut. Beberapa ahli waris secara ikhlas menyerahkan naskah kuno disimpannya sebagai berpuluh-puluh tahun kepada Yayasan Kebudayaan Indra Sakti untuk dirawat.
"Ada pula beberapa naskah kuno yang berhasil kami beli dari ahli waris. Tetapi kemampuan kami sangat terbatas untuk membelinya secara keseluruhan," ungkapnya.
Raja Malik mengaku telah memiliki data pemilik naskah kuno di Pulau Penyengat yang belum diserahkan ke yayasan. Naskah kuno kerajaan Melayu juga tersebar di Lingga, Karimun dan Natuna.
"Pemerintah seharusnya mendukung kegiatan pengumpulan dan pelestarian naskah kuno dengan mendata naskah kuno yang berada di Lingga, Karimun dan Natuna. Kami berharap pemerintah turut serta mengamankan naskah kuno itu dari kerusakan," katanya.
Minggu, 11 Maret 2012
Membaca Naskah Kuno Paksi Buay Nyerupa
Oleh: Novan Saliwa
Naskah kuno yang termasuk didalamnya juga tambo adalah merupakan bukti kekayaan tradisi nusantara yang dimiliki bangsa kita. Pada masyarakat tradisional lazimnya dikenal tradisi pewarisan nilai antar generasi secara oral, disampaikan dari mulut kemulut , dan tidak menutup mata bahwa masyarakat tradisional bangsa kita dahulu juga sudah mengenal tradisi tulis untuk menerangkan kejadian atau peristiwa yang sedang ataupun telah mereka alami . Rekaman peristiwa kejadian masa lampau menjadi hal menarik untuk diteliti kebenaran faktanya melalui analisis filologi yang matang oleh para ahli melalui sarana pengkajian surat tua atau naskah kuno dan juga disebut tambo oleh masyarakat Lampung.
Masyarakat jawa mengenalnya dengan babad, walaupun babad atau sastra sejarah terkesan sebagai sebuah unsur yang membangun cerita berupa rangkaian peristiwa, tokoh, dan latar peristiwa sering kali diramu secara fiktif dan estetis, Taufik abdullah dalam bukunya Dari Babad dan Hikayat sampai Sejarah Kritis mengemukakan bahwa babad atau sastra juga bisa digunakan sebagai sumber sejarah. Sama halnya dengan tambo yang terkadang menyimpan unsur peristiwa, tokoh dan latar yang tertulis didalamnya juga merupakan gambaran dan fakta-fakta sejarah dalam bentuk tulisan. Penelitian yang cermat, kritis, dan terinci melalui studi komparatif dapat memilah unsur pembangunan cerita sebagai fakta sejarah atau ilustrasi saja.
Tambo - tambo pada masyarakat lampung biasanya dipegang oleh para sai batin atau pimpinan adat dalam komunitas adat tertentu. tambo memiliki nilai penting karena didalamnya berisi sejarah keeksistensian suatu komunitas yang hendaknya terus disampaikan kepada generasi penerus, seperti Tambo Kulit kayu yang dimiliki oleh Paksi Buay Nyerupa salah satu Paksi dari kerajaan adat paksi pak sekala brak.
Tambo yang berusia 198 tahun ini berisi tentang amanat yang ditulis oleh Jurai Ratu Buay Nyerupa yang dipertuan ke- XII yaitu Puniakan Dalom Cerana adok Ratu Pikulun, dijelaskan dalam buku pada mulanya sekala brak yg di susun oleh Yhannu Setiawan dkk bahwa Ratu Piekulun naik tahta pada tahun 1808 M. Amanat sang Ratu dituliskan kedalam dua lembar kulit kayu, dimana teks dalam Tambo Paksi Buay Nyerupa ini menggunakan dan aksara kaganga di tuliskan keatas kulit kayu yang berukuran panjang 1 meter dan lebar 15 cm.
Tambo kulit kayu ini dialih aksarakan kedalam huruf latin pertama kali oleh bapak Rasyidi Syarief pada tahun 1960 yaitu pada zaman kepemimpinan Puniakan Dalom Saifullah Hakim adok Sultan Akbar Jurai ke XIX dari Ratu Buay Nyerupa, dan kini setelah beliau meninggal dunia diwariskan kepada Puniakan Dalom Salman Parsi Marga Alam adok Sultan Pikulun jayadiningrat.
dan salinan tambo tersebut sebagai berikut :
Lembar kulit kayu pertama :
Adjo suchat umanat saja nama Chatu Pikulan, kepala machga Sukau Liwa Ulu Kechui, sampai dianak umpu djemoh sawai ni.
Pasalni sai tuha - tuha ni sai Buai Njachupa belahan djak Pagach Chujung machi bagi sai tuha-tuha chadu min pitu siba, muak muak ni siba, siba dimesich. Gechalni Malawan, adok Chatu Pikulan. Ganti anakni gechal Thechana, ia siba di Rum buadok Dalom Pikulan. Buganti anakni gechal si Gadjah siba di mesich djuga buadok Chatu Pikulan. Ganti anakni gechal si Tjachana siba di Landab buadok Dalom Pikulan. Ganti anakni muneh gechalni Gadjah siba di Mantacham buadok Chatu Pakulun. Ganti muneh anakni gechal si Malawan siba di Mantacham djuga buadok Pangiran Ratu Kulun. Ganti anakni gechal si Chasan siba di Banton djenongni Pikulan Chatu di Lampung. Ana chisokni siba machi tuttop di machga Sukau. Ganti anakni gechalni Malawan buadok Batin Djunjungan Chatu di Lampung. Anakni si Chasan buadok Dalom Pechabu Djagat. Anakni gechal Tjachana anak Batin Mangunang Bala Sechibu. nganakko bugechal si Pikok adokni Dalom Pikulun ana djo ia djaman sai radu ni tuttop Chatu Buai Njachupa megang adat hukum machga Sukau Penggawa Pak sai dibah ni cham bachong bachong megang hukum hantak djadjama hulun lawan kita. Machga Liwa Pachwatin chua belas sai kebak kita juga. Machga Kechui Pachwatin disan do kita djuga kebak ia machi sai tipandaji handak kalawan halom ana do sunjin panjechahan kita. Machga semaka kita djuga sai dikebak ia. Pachwatin nom sai ditutuk ko megang ia sai ngatahui handak halom ni Way Nipah. Ana do Gaja ni njin machga ingok ingok. Way Tegaga numpang di cham pok di di tanoh bumi ni sai sai Buay Njechupa. Chegah djak Seminung mit di way panan Djulang mit di Kawoeh Tebak tjakak pematang Changla mutus watos Kiwis nutuk pumatang sampai Pesagi Lunik ngambelah Pesagi Balak chegah Tjanggiching mutus Hilian Chubok mit Nanakan tjuchup ngambelah Bawan Bechi tjakak Pematang Sekenui chegah sekuting mit di Way suluh tebong titi Djelatong nutuk Way Andachuman tjakak di Pematang Kuk mit Ulu Sebabui nutuk Way Andachijung ulu Tenumbang mit Pematang Heling sampai Pematang Nebak lantjah Pematang Nebak Penangisan chegah Pantau munggak nutuk Way Djangkach tjakak Gunung Timbangan lantjach Peninggaman chegah wai tjakak Pematang Kukusan nutuk Pematang Sawa mit di Sulung mit di Kawat Kerambai mit seminung ana chapakni tanoh bumi ni sai Buay Njachupa. Tanoh bumi di semaka sai necham nengon ia, djak Tjukuh Chedak nutuk Pematang Sawa chegah di Way Tjampak Lajak sampai Negeri Changgak mit Kandachan luach lawok ana do cham sai nengon ia tanoh bumi Semaka.
Lembar Kulit Kayu Kedua :
Petjohanni Buay Njerupa pagar Warkuk pekon sai. Gunung kerta pekon sai. Surabaja medoh pekon sai. Karang Agung. Pundjung Menjantjang Doh. Pekon Nipak. Pekon Mon wakil cham. Pekon sai di Kalumbaian. Punduh machga sai. Sukau, Batu Handak Jantachan machga sai. Labuhan Mechinggai di Abung. Pagardewa machga, Gedung menan, Basuki. Lubuk tenong, Sungai kibau Tiuh balak, Ratai Way Uchang. Tjibuachan Tachujung. kitubang ano petjohni Buay Njerupa.Ano de ia tartulis pada nom achi Sja'ban Hadjerat Nabi Sachibu chua chatus telu ngapuluh. (1230 H). kamering Njapah machga sai....................( tidak terbatja). machi umanatku djo lagi dianak umpu sai.............djedjanni bunama Paksi Pak. kembahang Ratu Buay Bedjalan Diway, tuchun manuchun manuchun ratu mak tjok lebon. Sukau, ratu buay Njarupa katutukan Paksi tuchun manuchun chatu mak mingan lebon chatu migang penggawa Pak ki Sukau Pachwatin chua belas, Liwa. Pachwatin telu di Kerui pachwatin sai di machga. wachkuk nunggu watos chanau kawoch nebak. Kanali ratu Buay Belunguh tuchun menuchun chatu djak Paksi. Tanumbang ratu Buay Pernong tuchun manuchun chatu djak Paksi. .............................................................................................................................................. ( Tiga baris tidak dapat dibatja lagi, sangat kabur dan hitam pekat).
Secara cermat dapat kita baca bahwa amanat yang terdapat dalam tambo diatas pada lembar pertama berisikan tentang silsilah Ratu di paksi Buay Nyerupa beserta wilayah siba atau lawatannya, perangkat kepemimpinan adat diwilayah kekuasaan Paksi Buay Nyerupa dan batas batas Wilayah tanah bumi paksi buay Nyerupa. sedangkan pada lembar kedua dijelaskan tentang Wilayah wlayah pecahan buay nyerupa, struktur lembaga adat dibawah paksi Buay Nyerupa dan juga mengenai kebulatan tekad Paksi Buay Nyerupa dengan paksi Paksi lainnya untuk tetap menjaga garis keturunan Ratu yang tidak bisa dihilangkan sampai kapanpun.
Didalam tulisan Ratu Pikulun ini juga dijelaskan tentang tanggal penulisannya yaitu pada tanggal 6 sya'ban 1230 Hijriyah atau pada tahun 1814 masehi. Dari penjelasan batas batas wilayah antara Paksi Buay Nyerupa dan Paksi Buay Bejalan Diway dalam Tambo diatas diperkuat dengan fakta pengesahan dari Paduka Tuan Residen Bengkulu pada tanggal 12 Mei 1865 dengan Nomor 1121 dengan surat dicap dan tertandatangani. Dan pengesahan selanjutnya ditetapkan oleh Paduka Tuan Residen bengkulu dengan surat besluit tertulis pada tanggal 21 April 1909 dengan Nomor 185 mengenai batas wilayah antara Sukau Buay Nyerupa dengan Way sindi di krui lampung barat, dengan surat di cap dan ditandatangani. kedua surat pengesahan tersebut ditulis dengan menggunakan huruf arab melayu.
Dari tambo milik Paksi Buay Nyerupa diatas dapat ditilik mengenai sejarah dan faktanya, menjadi sebuah bagian dari kekayaan kebudayaan Lampung secara umum mengenai hal budaya sastra lisan dan tertulis, runtutan panjang sejrah eksistensi aksara kaganga dilLampung pun bisa dipertahankan dengan adanya tambo tersebut, dan sebenarnya masih banyak lagi tambo tambo kulit kayu di dataran sekala brak yang masih tersimpan, bukan saja menjadi bukti eksistensi kelompok adat sepertin halnya Kerajaan Adat Paksi Pak Ssekala Brak dengan empat paksinya , tapi menjadi kekayaan Khazanah budaya Lampung pada umumnya. Menindaklanjuti penting nya keberadaan naskah naskah kuno seperti diatas sebagai bagian dari khazanah kebudayaan nusantara tentulah wajib hukumnya bagi pemerintah daerah untuk melakukan kajian dan penelitian tentang kebudayaan melalui Tambo tambo yang dimiliki oleh masyarakat Lampung . bukankah pentingnya sebuah aksara adalah menjadi tanda kesuksesan suatu bangsa?
Naskah kuno yang termasuk didalamnya juga tambo adalah merupakan bukti kekayaan tradisi nusantara yang dimiliki bangsa kita. Pada masyarakat tradisional lazimnya dikenal tradisi pewarisan nilai antar generasi secara oral, disampaikan dari mulut kemulut , dan tidak menutup mata bahwa masyarakat tradisional bangsa kita dahulu juga sudah mengenal tradisi tulis untuk menerangkan kejadian atau peristiwa yang sedang ataupun telah mereka alami . Rekaman peristiwa kejadian masa lampau menjadi hal menarik untuk diteliti kebenaran faktanya melalui analisis filologi yang matang oleh para ahli melalui sarana pengkajian surat tua atau naskah kuno dan juga disebut tambo oleh masyarakat Lampung.
Masyarakat jawa mengenalnya dengan babad, walaupun babad atau sastra sejarah terkesan sebagai sebuah unsur yang membangun cerita berupa rangkaian peristiwa, tokoh, dan latar peristiwa sering kali diramu secara fiktif dan estetis, Taufik abdullah dalam bukunya Dari Babad dan Hikayat sampai Sejarah Kritis mengemukakan bahwa babad atau sastra juga bisa digunakan sebagai sumber sejarah. Sama halnya dengan tambo yang terkadang menyimpan unsur peristiwa, tokoh dan latar yang tertulis didalamnya juga merupakan gambaran dan fakta-fakta sejarah dalam bentuk tulisan. Penelitian yang cermat, kritis, dan terinci melalui studi komparatif dapat memilah unsur pembangunan cerita sebagai fakta sejarah atau ilustrasi saja.
Tambo - tambo pada masyarakat lampung biasanya dipegang oleh para sai batin atau pimpinan adat dalam komunitas adat tertentu. tambo memiliki nilai penting karena didalamnya berisi sejarah keeksistensian suatu komunitas yang hendaknya terus disampaikan kepada generasi penerus, seperti Tambo Kulit kayu yang dimiliki oleh Paksi Buay Nyerupa salah satu Paksi dari kerajaan adat paksi pak sekala brak.
Tambo yang berusia 198 tahun ini berisi tentang amanat yang ditulis oleh Jurai Ratu Buay Nyerupa yang dipertuan ke- XII yaitu Puniakan Dalom Cerana adok Ratu Pikulun, dijelaskan dalam buku pada mulanya sekala brak yg di susun oleh Yhannu Setiawan dkk bahwa Ratu Piekulun naik tahta pada tahun 1808 M. Amanat sang Ratu dituliskan kedalam dua lembar kulit kayu, dimana teks dalam Tambo Paksi Buay Nyerupa ini menggunakan dan aksara kaganga di tuliskan keatas kulit kayu yang berukuran panjang 1 meter dan lebar 15 cm.
Tambo kulit kayu ini dialih aksarakan kedalam huruf latin pertama kali oleh bapak Rasyidi Syarief pada tahun 1960 yaitu pada zaman kepemimpinan Puniakan Dalom Saifullah Hakim adok Sultan Akbar Jurai ke XIX dari Ratu Buay Nyerupa, dan kini setelah beliau meninggal dunia diwariskan kepada Puniakan Dalom Salman Parsi Marga Alam adok Sultan Pikulun jayadiningrat.
dan salinan tambo tersebut sebagai berikut :
Lembar kulit kayu pertama :
Adjo suchat umanat saja nama Chatu Pikulan, kepala machga Sukau Liwa Ulu Kechui, sampai dianak umpu djemoh sawai ni.
Pasalni sai tuha - tuha ni sai Buai Njachupa belahan djak Pagach Chujung machi bagi sai tuha-tuha chadu min pitu siba, muak muak ni siba, siba dimesich. Gechalni Malawan, adok Chatu Pikulan. Ganti anakni gechal Thechana, ia siba di Rum buadok Dalom Pikulan. Buganti anakni gechal si Gadjah siba di mesich djuga buadok Chatu Pikulan. Ganti anakni gechal si Tjachana siba di Landab buadok Dalom Pikulan. Ganti anakni muneh gechalni Gadjah siba di Mantacham buadok Chatu Pakulun. Ganti muneh anakni gechal si Malawan siba di Mantacham djuga buadok Pangiran Ratu Kulun. Ganti anakni gechal si Chasan siba di Banton djenongni Pikulan Chatu di Lampung. Ana chisokni siba machi tuttop di machga Sukau. Ganti anakni gechalni Malawan buadok Batin Djunjungan Chatu di Lampung. Anakni si Chasan buadok Dalom Pechabu Djagat. Anakni gechal Tjachana anak Batin Mangunang Bala Sechibu. nganakko bugechal si Pikok adokni Dalom Pikulun ana djo ia djaman sai radu ni tuttop Chatu Buai Njachupa megang adat hukum machga Sukau Penggawa Pak sai dibah ni cham bachong bachong megang hukum hantak djadjama hulun lawan kita. Machga Liwa Pachwatin chua belas sai kebak kita juga. Machga Kechui Pachwatin disan do kita djuga kebak ia machi sai tipandaji handak kalawan halom ana do sunjin panjechahan kita. Machga semaka kita djuga sai dikebak ia. Pachwatin nom sai ditutuk ko megang ia sai ngatahui handak halom ni Way Nipah. Ana do Gaja ni njin machga ingok ingok. Way Tegaga numpang di cham pok di di tanoh bumi ni sai sai Buay Njechupa. Chegah djak Seminung mit di way panan Djulang mit di Kawoeh Tebak tjakak pematang Changla mutus watos Kiwis nutuk pumatang sampai Pesagi Lunik ngambelah Pesagi Balak chegah Tjanggiching mutus Hilian Chubok mit Nanakan tjuchup ngambelah Bawan Bechi tjakak Pematang Sekenui chegah sekuting mit di Way suluh tebong titi Djelatong nutuk Way Andachuman tjakak di Pematang Kuk mit Ulu Sebabui nutuk Way Andachijung ulu Tenumbang mit Pematang Heling sampai Pematang Nebak lantjah Pematang Nebak Penangisan chegah Pantau munggak nutuk Way Djangkach tjakak Gunung Timbangan lantjach Peninggaman chegah wai tjakak Pematang Kukusan nutuk Pematang Sawa mit di Sulung mit di Kawat Kerambai mit seminung ana chapakni tanoh bumi ni sai Buay Njachupa. Tanoh bumi di semaka sai necham nengon ia, djak Tjukuh Chedak nutuk Pematang Sawa chegah di Way Tjampak Lajak sampai Negeri Changgak mit Kandachan luach lawok ana do cham sai nengon ia tanoh bumi Semaka.
Lembar Kulit Kayu Kedua :
Petjohanni Buay Njerupa pagar Warkuk pekon sai. Gunung kerta pekon sai. Surabaja medoh pekon sai. Karang Agung. Pundjung Menjantjang Doh. Pekon Nipak. Pekon Mon wakil cham. Pekon sai di Kalumbaian. Punduh machga sai. Sukau, Batu Handak Jantachan machga sai. Labuhan Mechinggai di Abung. Pagardewa machga, Gedung menan, Basuki. Lubuk tenong, Sungai kibau Tiuh balak, Ratai Way Uchang. Tjibuachan Tachujung. kitubang ano petjohni Buay Njerupa.Ano de ia tartulis pada nom achi Sja'ban Hadjerat Nabi Sachibu chua chatus telu ngapuluh. (1230 H). kamering Njapah machga sai....................( tidak terbatja). machi umanatku djo lagi dianak umpu sai.............djedjanni bunama Paksi Pak. kembahang Ratu Buay Bedjalan Diway, tuchun manuchun manuchun ratu mak tjok lebon. Sukau, ratu buay Njarupa katutukan Paksi tuchun manuchun chatu mak mingan lebon chatu migang penggawa Pak ki Sukau Pachwatin chua belas, Liwa. Pachwatin telu di Kerui pachwatin sai di machga. wachkuk nunggu watos chanau kawoch nebak. Kanali ratu Buay Belunguh tuchun menuchun chatu djak Paksi. Tanumbang ratu Buay Pernong tuchun manuchun chatu djak Paksi. .............................................................................................................................................. ( Tiga baris tidak dapat dibatja lagi, sangat kabur dan hitam pekat).
Secara cermat dapat kita baca bahwa amanat yang terdapat dalam tambo diatas pada lembar pertama berisikan tentang silsilah Ratu di paksi Buay Nyerupa beserta wilayah siba atau lawatannya, perangkat kepemimpinan adat diwilayah kekuasaan Paksi Buay Nyerupa dan batas batas Wilayah tanah bumi paksi buay Nyerupa. sedangkan pada lembar kedua dijelaskan tentang Wilayah wlayah pecahan buay nyerupa, struktur lembaga adat dibawah paksi Buay Nyerupa dan juga mengenai kebulatan tekad Paksi Buay Nyerupa dengan paksi Paksi lainnya untuk tetap menjaga garis keturunan Ratu yang tidak bisa dihilangkan sampai kapanpun.
Didalam tulisan Ratu Pikulun ini juga dijelaskan tentang tanggal penulisannya yaitu pada tanggal 6 sya'ban 1230 Hijriyah atau pada tahun 1814 masehi. Dari penjelasan batas batas wilayah antara Paksi Buay Nyerupa dan Paksi Buay Bejalan Diway dalam Tambo diatas diperkuat dengan fakta pengesahan dari Paduka Tuan Residen Bengkulu pada tanggal 12 Mei 1865 dengan Nomor 1121 dengan surat dicap dan tertandatangani. Dan pengesahan selanjutnya ditetapkan oleh Paduka Tuan Residen bengkulu dengan surat besluit tertulis pada tanggal 21 April 1909 dengan Nomor 185 mengenai batas wilayah antara Sukau Buay Nyerupa dengan Way sindi di krui lampung barat, dengan surat di cap dan ditandatangani. kedua surat pengesahan tersebut ditulis dengan menggunakan huruf arab melayu.
Dari tambo milik Paksi Buay Nyerupa diatas dapat ditilik mengenai sejarah dan faktanya, menjadi sebuah bagian dari kekayaan kebudayaan Lampung secara umum mengenai hal budaya sastra lisan dan tertulis, runtutan panjang sejrah eksistensi aksara kaganga dilLampung pun bisa dipertahankan dengan adanya tambo tersebut, dan sebenarnya masih banyak lagi tambo tambo kulit kayu di dataran sekala brak yang masih tersimpan, bukan saja menjadi bukti eksistensi kelompok adat sepertin halnya Kerajaan Adat Paksi Pak Ssekala Brak dengan empat paksinya , tapi menjadi kekayaan Khazanah budaya Lampung pada umumnya. Menindaklanjuti penting nya keberadaan naskah naskah kuno seperti diatas sebagai bagian dari khazanah kebudayaan nusantara tentulah wajib hukumnya bagi pemerintah daerah untuk melakukan kajian dan penelitian tentang kebudayaan melalui Tambo tambo yang dimiliki oleh masyarakat Lampung . bukankah pentingnya sebuah aksara adalah menjadi tanda kesuksesan suatu bangsa?
Langganan:
Postingan (Atom)


