Sabtu, 25 Juni 2011

Siapa Sudi Berburu Kitab Kuno dan Kitab karya Ulama Nusantara.



Ada seonggok kitab kitab kuno yang disusun secara acak di perpustakaan masjid Al-Anwar kampung Palembang Telukbetung. Konon masjid itu adalah masjid tertua di bandar Lampung, kitab kitab kuno sebagian memang wakaf tetapi sebagiannya lagi kurang jelas dari mana asalnya, karena pewaris buku itu tidak banyak memberikan keterangan, kecuali sebuah pesan agar dijaga.

Sebagian besar kitab itu dalam bahasa Arab, nampaknya buku itu asli terbitan Timur tengah, melihat bahasan dan materinya, besar kemungkinan kitab kitab itu adalah bacaan wajib dalam mengikuti study di Timur tengah. Konon kitab kitab itu tinggal lagi sebagian, sedang sebagian yang lain hancur disusak rayap, bahkan ada yang dihanyut tsunami ketika Lampung dilanda tsunami dahulu AL-.

Dari sekitar dua puluhan buku yang saya buka buka ada diantaranya sebuah buku yang berjudul "HAYAATU AL-HAYAAWAAN AL-QUBRO" (Kehidupan Binatang Binatang Bertubuh Besar). Buku ini sebenarnya sangat menarik, tetapi sayang buku ini tidak dilengkapi dengan gambar-gambar. Buku buku era kini bicara tentang binatang tidak boleh lepas dari gambar gambar binatang yang dibahas. Tetapi saya yakin pada suatu saat juga akan dibutuhkan bahasan bahasan binatang dan alam lainnya berbasis Al-Quran.






Sudah barang tentu pemeliharaan kitab kitab itu jauh dari profesional, dan tidak banyak pihak yang memanfaatkan. Menurut pengurus masjid orang yang sering datang membuka buka Kitab Kuno di situ adalah dr. Oemar Hashem, dia dokter umum tetapi memiliki perhatian yang luar biasa terhadap agama. Satu persatu kitab kitab itu dibuka buka olehnya. dan dr. Oemar Hashem cukup piawai membaca kitab terbitan Timur tengah.

Kemungkinan besar dr.Oemar Hasehem datang ke masjid itu adalah ketika ia dan kawan kawannya sedang memopersiapkan buku Sakifah Bani Sa'idah. Kakak kandungnya yang bernama M.hashem dan seorang sahabat mereka yang bernama Zainal Abidin, ada sekitar tiga bulan mereka mempersiapkan buku itu hingga benar benar terbit.

Sebetulnya dr. O.hashem telah saya minta untuk menjadi Narasumber tetap bersama Prof. Hilman Hadikusuma (pada saat itu belum Profesor) pada group diskusi yang saya bentuk tahun 1981 . Group itu saya namai Study for Islamical Affairs (SIA). Anggota group pun saya batasi hanya 15 orang. Dengan harapan semuanya berkesempatan untuk berpartisipasi secara aktif. Kedua narasumber itu bersedia melaksanakan tugasnya dengan catatan. Diskusi hanya dilaksanakan di rumah Prof.Hilman dan di rumah O.Hashem, tergantung siapa narasumbernya.

Kedua narasumber itu bersedia untuk menjadi narasumber tetap secara bergantian dengan catatan para peserta benar benar berpartisipasi aktif, dan tidak idem ditto. O Hashem pernah kecewa kepada saya ketika beliau meminta saya mempertemukannya dengan Dosen IAIN Rd.Intan yang pernah menammatkan buku "Ihyaa Ulumuddin", tapi tak seorangpun dinataranya yang berkenan brdialog dengan O.Hashem. Pada saay itu Buku itu belum diterjemahkan.

Ada beberapa buah kitab yang sudah benar benar lusuh diletakkan diatas meja kerja O.Hashem, demikian asyiknya ia membalik balik buku itu, sehingga pembicaraan kami terhambat karenanya. Alhasil untuk beberapa lama beliau tidak bersedia menjadi nara sumber pada group diskusi yang saya bentuk karena beliau fokus pada persiapan penulisan bukunya.

Celakanya Bapak Prof. Hilman Hadikusuma juga memiliki kesibukan yang sama. Sehingga diskusi yang baru kami laksanakan 6 kali itu menjadi terhambat. Demikian asyiknya Prof. Hilman membolak balik Kitab Kuntara rajaniti, kopi cepalo, keterem dan banyak sekali naskah kuno tulis tangan yang hampis setiap hari dibuka bukanya. "Saya ingin menterjemahkan naskah naskah kuno ini ke dalam berbagai buku" katanya.

Namun saya senang, karena diskusi terhambat justeru disebabkan karena kesibukan untuk berkarya yang dilakukan oleh O.Hasem dan Prof. Hilman Hadikusuma. Yaitu karya yang sangat berarti bagi masa depan bangsa. Selama ini barua dua orang itu yang saya tahu persis bahwa keduanya demikian berhajat dengan naskah naskah kuno, walaupun dengan berbeda gaya, dan berbeda sasaran.

Tetapi ketika kita bicara masalah karya Ulama Nusantara, hingga kini saya belum tahu siapa yang yang menggandrunginya. Padahal kabarnya sebagian dari naskah Ulama Nusantara Tempo doeloe itu banyak juga yang di bawa ke Lampung oleh para da;i yang sekaligus saudagar.

Senin, 30 Mei 2011

Dalung SKALA BRAK

RATU NYERUPA JURAI VIII PAKSI SKALA BRAK.



"Si Rasan Pikulun Ratu Di Lampung, beliau melakukan siba di Banten memenuhi undangan Sultan Abdul Muhasin Zainul Abidin, yang memerintah banten tahun 1690 M. Ratu Pikulun diberi gelar oleh sultan banten dengan gelar kebangsawanan Tubagus makmur Hidayatullah dan diberi Prasasti Tambo Tembaga dari Kuningan, Tombak serta Keris Pusaka. Sebagai tanda pengakuan keluarga Kebangsawanan Lampung beliau meninggalkan satu Penggawa di wilayah Banten Cikoneng"

Demikian tulis Novan Saliwa yang disebarkan melalui Facebook kepada kelompok BE Press.


SATU lagi diketahui keberadaan dalung yaitu di Lampung Barat, yang merupakan peninggalan sejarah yang sangat berarti dan nampaknya belum tersentuh oleh peneliti. Sehingga belum teridentifikasi dengan lengkap apa sebenarnya isi naskah dalung itu.

Saya berharap dalam waktu yang tidak terlalu lama para arkeolog datang untuk menyambangi benda bersejarah tersebut, sepertinya benda langka itu luput dari pendataan "Benda Cagar Budaya" sehingga belum teridentifikasi dengan baik. Manakala Tim Arkeolog mendatangi pemiliknya, saya pun berharap agar pemegang benda besejarah ini secara terbuka dan memberikan keleluasaan untuk melakukan identifikasi secara arkeologis.

Pada umumnya Tim arkeolog akan berusaha untuk mengenali bendak tersebut secara secara lebih detil, baik dari segi kebendaannya maupun dari segi sejarahnya. Data data tutur akan sangat berarti dalam menun jang keberadaan benda. tentu saja pemilik benda akan menjadi narasumber yang sangat berharga.

Para anggota Tim Arkeolog selain mendata bahan benda, juga akan melakukan pengukuran benda tersebut, selain mencatat aksara yang digunakan juga menghitung jumlah baris naskah tulisan. Bila di dalam naskah tersebut didapatkan nama nama Raja atau Penguasa wilayah lainnya, maka nama nama itu merupakan jalan pembuka tabir akan keberadaan benda tersebut serta maknanya bagi sejarah dan identitas bangsa.

Tentu Tim tidak akan lupa membuat foto benda bersejarah itu dengan skala banding yang komunikatif lengkap dengan skalameternya, atau sekedar dibandingkan dengan benda benda yang ukurannya lazim dikenal besaran ukurannya. Saya yakin keluarga pemegang benda ini akan meberikan berbagai kemudahan dalam identifikasi dan pendataan yang dilakukan oleh Tim arkeolog.

Tim akan melporkan segala sesuatunya mungkin ke Puslit Arkenas atau Kantor Kepurbakalaan untuk regional regional yang lampung ada di dalamnya. Bisa jadi ini akan dijadikan salah satu kajian atau mungkin informasi yang berharga dalam forum kajian arkeologis yang diselenggarakan tahunan atau berkala lainnya.

Manakala telah teridentifikasi naskah secara lengkap, dan bahkan transkrtip telah tersusun, maka pada saatnya kajian filologis juga akan meramaikan penafsiran penafsiran terhadap konten naskah yang tertulis di dalam prasasti dalung ini. Dengan dukungan periodeisasi serta pristiwa pristiwa besar dan bersejarah lainnya, maka penafsiran penafsiran itu tentu saja akan semakin mendekati kebenaran.

Yang paling penting bagi kita semua masyarakat umum pada saat ini adalah kepiawaian para analis untuk mengungkap gagasan gagasan segar untuk menyejahterakan masyarakat luas. Di balik sebuah catatan seperti yang terdapat dalam dalung ini kita harapkan adalah diketemukannya eperangkat nilai yang dianut. Nilai nilai tersebut yang sejatinya mampu menghantar masyarakat dari satu zaman ke zaman lainnya.

Nilai nilai yang dianut masyarakat adalah pengantar keberlangsungan kehidupan dari satu generasi ke generasi lainnya, dinatara nilai nilai itu masih ada yang memiliki kemampuan untuk berintegrasi dengan situasi era kini. Yang akan membawa perubahan demi perubahan tetapi tidak mencerabut kita semua dari akar budaya, sehingga identitas kultur dan budaya tetap tertahankan.

Marilah kita ucapkan selamat dan datang, well come kepada para peneliti, arkeologis, filologis dan lain sebagainya untuk melakukan study, penelitian, pengkajian terhadap prasasti dalung, karena pada hakekatnya prasasti dalung yang menyimpan sejarah, memiliki kemampuan untuk bercerita banyak.

Kamis, 12 Mei 2011

Syair Burung Nuri: Cinta yang Kandas

UU. HAMIDY

Cinta dan Puisi

Syair dan juga hikayat dalam dunia Melayu Nusantara sebagian telah digubah berdasarkan peristiwa nyata dalam kehidupan. Hanya saja, karena sudah dalam bentuk karangan seni yang dijalin dengan kekuatan imajinasi, maka gambaran yang dipantulkannya lebih mengutamakan nilai estetik daripada nilai kenyataan. Begitulah, beberapa kenyataan peristiwa cinta yang dialami manusia dalam jalan hidupnya, juga sudah disyairkan. Karena masalah cinta adalah hal yang dipandang halus dalam dunia Melayu, maka penyampaiannya lewat syair sebagai suatu bentuk seni atau puisi, menjadi amat sanggam lagi selaras. Peristiwa cinta itu memang lebih baik dilambangkan dan dikiaskan, daripada diceritakan dengan kata-kata yang prosais. Sebab, didalamnya ada tersisip harga diri yang tidak layak didedahkan kepada orang ramai.

Dengan memakai bentuk puisi seperti syair yang memakai metafor (lambang dan kiasan) maka obyeknya jadi tersamar, sehingga terkesan halus dan indah. Demikianlah, dalam dunia Melayu dapat dijumpai syair-syair yang berisi percintaan. Budaya ini dapat terjadi, karena dunia Melayu belum sepenuhnya menjalankan syariah Islam yang kaffah, dalam kehidupan masyarakat dan kerajaan. Dunia Melayu baru sampai pada adat bersendi syarak, yakni adat atau aturan bermasyarakat dan kerajaan yang bersendikan agama Islam. Orang Melayu baru berusaha membuat adat bercitra Islam, atau menyesuaikan adat dengan agama Islam. Adat Melayu diusahakan tidak bersanggah dengan agama Islam. Hukum-hukum Islam yang kokoh dalam Alqur’an dan Sunnah, belum dilaksanakan sepenuhnya. Karena itu kegiatan kesenian Melayu belum dapat sepenuhnya terbingkai dalam agama Islam, yang akan menuntun manusia dengan keselamatan dan martabat dari dunia menuju akhirat.

Cinta yang Kandas

Paling kurang ada tiga syair yang berkisah tentang cinta yang kandas, yaitu Syair Ikan Terubuk, Syair Burung Pungguk dan Syair Burung Nuri. Syair Ikan Terubuk merupakan syair sindiran terhadap lamaran putra raja Melaka yang ditolak oleh putri Kerajaan Siak. Pengarang syair tidak berani menyebut terus terang, sehingga dipakailah cara perlambangan dan kiasan. Pengarang tidak berterus terang, mungkin hal itu menyangkut keselamatan dirinya. Tetapi yang lebih penting, dengan memakai perlambangan Ikan Terubuk dan Ikan Puyu-puyu, maka putra raja Melaka dan putri Siak telah tersamarkan, sehingga dapat terjaga martabat mereka.

Syair Burung Pungguk, berkisah tentang Burung Pungguk dan Putri Bulan. Inilah cinta yang kandas oleh jurang pemisah antara orang kebanyakan yang hidup sederhana dengan kalangan bangsawan yang hidup mewah. Dalam syair ini telah disamarkan pemuda yang mencintai putri istana dan juga putri istana yang jatuh cinta kepada pemuda dari kalangan rakyat biasa. Pemuda pecinta itu disamarkan dengan Pungguk, sedangkan putri istana tersebut diganti dengan Putri Bulan. Percintaaan mereka malah justru menjadi membahana, karena ketika bulan purnama biasanya burung pungguk berbunyi mendayu-dayu. Yang amat mirip dengan kisah ini ialah novel Dibawah Lindungan Ka’bah karangan Hamka. Dalam novel itu tergambar seorang pemuda miskin telah terjalin dalam kasih-sayang dengan seorang gadis anak orang kaya.

Syair Burung Nuri (alih aksara Jumsari Jusuf, Departemen P dan K, Jakarta, 1978). Syair ini dikarang oleh Sultan Badaroedin dari Palembang. Syair ini tersimpan dalam koleksi Bagian Naskah Museum Pusat, bernomor MI. B; 21 x 16 cm, 21 halaman, 20 baris, berhuruf Arab, tulisannya jelas dan kertasnya masih baik. Syair ini telah menyamarkan percintaan anak manusia kalangan bangsawan. Nuri adalah isteri seorang pembesar kerajaan yakni Bayan Johari. Pada suatu hari seekor burung tampan lagi indah bernama Simbangan terbang melayang, melewati Kampung Bayan Johari. Dengan tidak terduga dia terpandang pada Nuri yang cantik. Mereka beradu pandang sejenak, tapi ternyata pandangan itu telah membuat hati mereka saling berdebar. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama:

Paksi Simbangan konon namanya
Cantik dan manis sekalian lakunya
Matanya intan cemerlang cahayanya
Paruhnya gemala tiada taranya

Terbangnya Simbangan berperi-peri
Lintas di Kampung Bayan Johari
Terlihatlah kepada putrinya Nuri
Mukanya cemerlang manis berseri

Simbangan mengerling ke atas geta
Samalah sama berjumpa mata
Berkobaran arwah leburlah cinta
Letih dan lesu rasa anggauta

Burung Simbangan tak dapat lagi melupakan peristiwa itu. Dia bagaikan mabuk cendawan, karena rindu kepada Nuri. Maka dia mengutus Burung Murai untuk menjumpai Nuri. Kedatangan Murai menyampaikan hasrat cinta Simbangan, malah membuat cinta Nuri makin membara:

Berangkatlah Nuri masuk peraduan
Melipurkan hati yang sangat rawan
Gundah gulana tiada berketahuan
Seperti orang mabuk cendawan

Letih dan lesu rasa anggauta
Gundahnya tidak lagi menderita
Hancur dan lebur di dalam cita
Rindukan Simbangan semata-mata

Terhentilah perkataan Nuri nan gundah
Sehari-hari dendam tak sudah
Mengenangkan Simbangan parasnya indah
Dilipurkan dengan syair dan madah

Nuri yang dimabuk cinta kepayang, telah membuat badannya lesu dan kurus. Bayan Johari menyangka isterinya sakit serta menanyakan bagaimanakah sebenarnya duduk perkara sehingga Nuri menderita seperti itu. Bayan menanyakan, apakah perlu dipanggilkan dukun. Tetapi Nuri tidak mau berterus terang tentang rindu dendam yang dipendamnya. Dia malah meminta Bayan agar menjauhinya:

Setelah malam hari nin nyata
Terpasanglah tanglung kandil pelita
Bayan nin datang segera berkata
Apakah sakit emas juita

Berkata benar emas tempawan
Jangan memberi hatiku rawan
Jikalau salah sekaliannya kawan
Biar kupukul siapa melawan

Bayan berkata menegangkan jari
Emasku jangan bermuram diri
Jika sakit badannya Nuri
Suruhlah panggil dukun ke mari

Nuri berpalis menyapu muka
Janganlah banyak madah seloka
Segeralah undur dengan seketika
Sekaliannya menambah sakit kepala

Keadaan Nuri yang menderita dendam asmara ini, semakin tak tertahankan. Hatinya tak mau mendengar pikirannya, tak mau sadar bahwa dia dalam sangkar orang. Nuri mengutus Burung Punai untuk menemui Simbangan dan meminta agar pujaan hatinya itu bersedia datang menemuinya. Simbangan memenuhi harapan Nuri :

Unggas melayang tiada antaranya
Sampailah bangsawan dengan sigeranya
Ke kampung Nuri lintas masuknya
Bayan dan Nuri hadir menantinya

Serta terpandang paksi bestari
Turunlah sigera Bayan dan Nuri
Tabik dan hormat keris diberi
Naiklah duduk unggas johari
Seketika duduk unggas bangsawan
Minuman dituang di dalam cawan
Disembahkan Bayan kepada tuan
Simbangan menyambut manis kelakuan

Nuri nin sangat malu rupanya
Kita nin tidak lagi ditegurnya
Simbangan tersenyum manis katanya
Nuri nin sakit apalah khabarnya

Setelah Simbangan bertamu kepada Bayan dan Nuri, maka dengan hati yang rawan dia mohon kepada Bayan dan Nurl pulang ke istananya:

Gundah bercampurlah dengan rawan
Rasanya semangat tiada berketahuan
Lalulah bermohon unggas di awan
Kepada Bayan Nuri bangsawan

Bayan dan Nuri hormat berdiri
Selamat pulang unggas bestari
Simbangan menyahut durja berseri
Selamat tinggal Bayan dan Nuri

Melayanglah unggas bimbang dan rawan
Bertambah manis rupa kelakuan
Diiringi paksi sekalian kawan
Seperti dewa batara di awan

Nuri memandang rawan dan pilu
Hatinya bagai dihiris sembilu
Rasanya bagai hendakkan milu
Disamarkan dengan mengeluh pening dan pilu

Beberapa saat terbang melayang dengan hati yang menanggung rindu Simbangan pun sampai di istananya:

Berhentilah perkataan Nuri merawan
Tersebutlah Simbangan kemala mengawan
Sampailah ke istana unggas bangsawan
Kalbunya gundah cinta kepiluan

Baik peraduan merebahkan diri
Cinta terikat kepadanya Nuri
Dendam bertambah tiada terperi
Selaku-laku tiada tersamari

Ke Siam pergi membeli kici
Orang bercamat dalam perahu
Dilihat diam dikatakan benci
Dendam gelomat siapakan tahu.

UU Hamidy, budayawan Riau. Tinggal di Pekanbaru.


Sumber: Riau Pos, Minggu, 8 Mei 2011

Minggu, 03 April 2011

Kisah Nasionalisasi Bahasa Melayu


MISBAHUS SURUR

mahasiswa S-2 UIN Maliki Malang

PERJALANAN bahasa Melayu menjadi bahasa nasional, bukanlah perjalanan yang gampang. Kendati ihwal transformasi bahasa, dari bahasa daerah menuju bahasa kebangsaan, jamaknya menjadi hal yang lumrah. Untuk kasus bahasa Melayu, pilihan kepadanya bukan berdasarkan suatu yang singkat, melainkan melewati proses dan pertimbangan yang cukup panjang dan melelahkan. Beberapa pertimbangan itu, seperti tersebarnya "ragam" bahasa Melayu ke seantero Nusantara, jauh sebelum bahasa ini dikonversi menjadi bahasa nasional (1928). Aspek lainnya adalah perilaku kebahasaan para nasionalis (elite politik) yang kala itu juga diam-diam mengarah ke sana. Berdasar telisik Hoffman (Badri Yatim, 1999) misalnya, dalam lingkup keluarga, para elite itu biasa memakai bahasa daerah masing-masing.

Namun dalam ranah sosial-politik, mereka cenderung menggunakan bahasa Belanda. Kendati begitu, ada yang tak masuk telisik ini. Seperti penggunaan bahasa Jawa ngoko O.S. Tjokroaminoto dalam sebuah kongres di Malang tahun 1932. Juga sebuah riwayat penggunaan bahasa Melayu (pidato) Soekarno sewaktu masih duduk di bangku HBS Surabaya. Didorong oleh ketidaksetujuannya pada pidato ketua Studieclub yang berisi anjuran supaya generasi muda menguasai bahasa Belanda. Kala itu, Soekarno malah menganjurkan segenap komponen perkumpulan agar mengembangkan bahasa Melayu.

Terkait dengan penyebarannya, Denys Lombard (2005) dalam buku Nusa Jawa: Silang Budaya, mencatat bahasa Melayu kuno yang berasal dari pesisir timur Sumatera bagian selatan, ternyata menjadi bahasa perdagangan Kerajaan Sriwijaya. Bahasa ini digunakan di bagian barat Nusantara dan semenanjung tanah Melayu; baik di lingkungan istana, ranah-ranah keagamaan, maupun perdagangan. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam beberapa prasasti yang ditemukan di luar wilayah penutur bahasa Melayu. Di mana enam dari prasasti tersebut—yang salah satunya berada di Jawa—, bertahun antara 792 hingga abad ke-9 Masehi.

Sementara A. Teeuw (1994: 251), menulis, sekitar abad 15 terdapat sebuah kamus Daftar China-Melayu serta Daftar Kata Melayu-Italia (1522) yang disusun oleh Pigafetta. Bahkan, menurut catatan Teeuw tersebut, sekitar abad ke-16, seorang Belanda bernama Jan Huygen van Linschoten memastikan bahasa Melayu di Asia Tenggara tak kurang penting dalam fungsi komunikasi antarberbagai bangsa dan suku, dari bahasa Prancis di Eropa Barat.

Pada era kolonial, sebagaimana yang dicatat Van Der Putten,—terlepas dari dikotomi-dikotomi kebahasaan yang saat itu diwacanakan serta dipraktekkan kaum kolonial—, beberapa peneliti seperti Von de Wall, Klinkert juga Van Ophuijsen, pernah dikirim pemerintah penjajah ke Riau untuk mencatat bahasa Melayu ke dalam kamus dan tata bahasa (gramatika). Di mana dalam pekerjaan itu, peneliti-peneliti tersebut dibantu cendekiawan pribumi, seperti Haji Ibrahim, Raja Bih, termasuk pujangga kenamaan Riau, Raja Ali Haji. Yang mana bahasa itu selanjutnya ditakok-tambah; diolah; disesuaikan; dicampuri bahasa-bahasa lain, agar ia cocok menerima sekaligus mentransportasikan pengetahuan modern bagi pihak kolonial (Jan van Der Putten, dalam Sweeney, 2007: hlm. 28-29).

Sedang tokoh-tokoh yang punya andil dalam memerjuangkan bahasa Melayu, sedikit di antaranya semisal: Achmad Djajadiningrat (seorang bupati Serang), yang pernah meminta agar bahasa ini diakui sebagai bahasa dalam persidangan di Volksraad tahun 1918, sebagaimana halnya bahasa Belanda. Lalu, Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara), pada Kongres Pendidikan Kolonial pertama di Denhaag, sekira tahun 1916, ia pernah menyatakan bahasa Melayu akan menjadi bahasa perhubungan di seluruh Hindia Belanda (Hoffman, 1995: 547). Kemudian, yang tak boleh dilupakan, adalah andil besar Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Perjuangan STA dalam menentukan arah dan desain bahasa Indonesia (yang merupakan turunan bahasa Melayu), sangatlah penting.

Aktivitas dan karier STA di bidang bahasa dan peristilahan di zaman Jepang dan periode awal Republik ini, diakui para peneliti asing dan dalam negeri, sebagai sumbangan yang luar biasa. Terutama pada 1938 dalam Kongres Solo, juga sekira tahun 1942 sampai 1944 (Komisi Bahasa Indonesia). Bahkan, dalam buku Jerome Samuel, Kasus Ajaib Bahasa Indonesia? Pemodernan Kosa Kata dan Politik Peristilahan (terjemahan oleh Dhany Saraswati Wardhany, 2008), dikatakan Takdirlah yang dianggap telah mengenalkan kasus bahasa Indonesia ke tingkat internasional. Semisal melalui publikasi tulisan-tulisannya dalam beberapa majalah mulai tahun 1949, juga publikasi tulisan atas permintaan lembaga PBB, UNESCO tahun 1951.

Dalam beberapa karya sastra, penggunaan bahasa Melayu,--dan lebih jauh lagi kelak tentang gagasan nasionalisme-, bisa dirujuk, antara lain melalui cerita Marco Kartodikromo berjudul Semarang Hitam. Sebuah cerita bersambung dalam surat kabar tahun 1924. Cerita itu menghadirkan tokoh seorang lelaki anonim yang sering diacu sebagai “lelaki muda kita”. Sang tokoh kerap ditempelkan pada lanskap sosial, yang dalam kisah disusun secara hati-hati. Menurut Anderson, tanpa mengonkretkan nama, si tokoh cerita telah sanggup membayang ke benak pembaca.

Pada narasi itu, digambarkan seorang laki-laki tengah membaca koran sambil mengawasi pikuk jalanan di luar sana; lanskap sosial jalanan kota; tentang gaya hidup juga tragedi-tragedi harian yang menyertainya. Lalu pada halaman koran, si lelaki menemukan sebuah berita tentang gelandangan yang sakit dan tewas di tepi jalan. Oleh tragedi yang baru saja ia baca, laki-laki tersebut lantas mengritik berbagai ketimpangan sosial di negeri jajahan yang tak seharusnya. Laki-laki, si tokoh kita ini, kendati dalam cerita hanya representasi seorang individu, seolah punya kekuatan untuk bertaut kepada sosok lelaki muda yang mewakili tubuh kolektif pembaca Indonesia.

Tidak saja karena novel itu berbahasa Melayu, melainkan karena struktur kisah; pronomina kita juga tragedi yang sedang dibaca, setidaknya mampu mewakili keadaan orang-orang di luar cerita, yakni pembaca pribumi (Ben Anderson, Imagined Communities, terj. Omi Intan Naomi, hlm. 45-48).

Begitu pula dengan novel-novel yang searas, semisal Nyai Permana karya Tirto Adhi Soerjo, Studen Hidjo dan Mata Gelap yang notabene karya lain Marco Kartodikromo, juga Hikajat Kadiroen-nya Semaoen. Sedikit dari novel-novel itu, pada tahap awal, sejatinya telah menempuh sebuah proses menuju ruang pembayangan. Sebuah khayalan akan komunitas, yang mula-mula dibangun dari kesadaran kebahasaan, yang barangkali teknis tapi cukup penting, yakni melalui bahasa pribumi yang tercetak dalam novel-novel. Maka, tak heran bila serangkaian novel tadi dulunya sering kena stigma Pemerintah Kolonial sebagai bacaan liar, roman picisan, dan sebutan buruk yang lain. Entah karena substansi maupun ekses literal yang ditimbulkan. Sebab itu, tersebarnya narasi novel bisa kita asumsikan sebagai upaya menasionalisasikan bahasa Melayu. Selain juga menjadi bibit awal bagi tumbuhnya kesadaran dan nasionalisme.

Demikianlah, bahasa Melayu memang telah lama digunakan di seluruh pelosok Nusantara sebagai bahasa pengantar. Pun orang-orang Eropa, ketika tiba untuk pertama kali di berbagai Pulau Nusantara juga menggunakan pengantar bahasa ini. Tak kecuali dalam beberapa karya sastra terbitan awal juga sebagaian tokoh nasionalis kita. Bahasa Jawa, misalnya, saat itu (1928) tidak dipilih menjadi bahasa nasional, sebenarnya bukan lantaran kapasitasnya yang feodalis dan atau substansinya yang dikotomik, melainkan karena bahasa ini tidak masyhur dan lebih tidak sederhana dibanding bahasa Melayu.

Kesederhanaan seperti apa yang ada pada bahasa Melayu? Samuel (2008: 149) dengan melandaskan pada serangkaian keterangan STA, mencoba menelisik maksud dari kata “sederhana” tersebut. Sederhana di sini, sedikitnya seperti: ketidakberubahan bentuk kata, keteraturan sistem afiks, dan kesederhanaan ejaan (struktur suku kata). Barangkali, sebab itulah Muhammad Yamin melihat kemungkinan bahasa Melayu bakal menjadi bahasa persatuan (lingua franca), jauh sebelum digadang-gadang oleh STA.


Sumber: Lampung Post, Minggu, 3 April 2011