Selasa, 04 Januari 2011

MUSEUM NASIONAL DAN MUSEUM NEGERI

MUSEUM NEGERI SUMATERA UTARA


MUSEUM NEGERI PALANGKARAYA


MUSEUM NEGERI JAMBI


MUSEUM NASIONAL JAKARTA


MUSEUM NEGERI "RUWA JURAI" LAMPUNG

Senin, 03 Januari 2011

FOTO MUSEUM MUSEUM DI INDONESIA

MUSEUM TRANSMIGRASI LAMPUNG

MUSEUM PERJUANGAN

MUSEUM SUMPAH PEMUDA


MUSEUM TSUNAMI ACEH


MUSEUM FATAHILLAH


MUSEUM PERBANKKAN

DAFTAR MUSEUM DI INDONESIA

Daftar MUSEUM di Indonesia [urutan berdasarkan abjad] :

1. Museum ‘Bikon Blewut’ Maumere
2. Museum “Buntu Kalando” Sanggala
3. Museum Adityawarman
4. Museum Asi Mbojo
5. Museum Bahari Ende
6. Museum Bali
7. Museum Balla Lampoa
8. Museum Batara Guru “Istana Datu Luwu”
9. Museum Batik Yogyakarta
10. Museum Bengkulu
11. Museum Biologi Yogyakarta
12. Museum Biota Laut Ada di Bali
13. Museum Daerah “Sang Nila Utama”
14. Museum Daerah Nusa Tenggara Timur
15. Museum Deli Serdang
16. Museum Dewantara Kirti Griya
17. Museum GBKP
18. Museum Gedung Arca Bali
19. Museum Gedung Joang ’45 Sumatera Barat
20. Museum Geoteknologi Mineral UPN “Veteran” Yogyakarta
21. Museum Goedang Ransoem
22. Museum Gula Jawa Tengah
23. Museum House of Sampoerna
24. Museum Huta Bolon Simanindo Sumatera Utara
25. Museum Istana (Siak) Asserayah Hasyimiyah
26. Museum Kapuas Raya
27. Museum Karo Lingga
28. Museum Karst dan Budaya
29. Museum Kayu Sampit
30. Museum Kayu Tuan Himba
31. Museum Kebudayaan Wolio
32. Museum Kereta Api Sawahlunto
33. Museum Konferensi Asia Afrika
34. Museum Kota Makassar
35. Museum La Galigo
36. Museum La Pawawoi
37. Museum Lambung Mangkurat
38. Museum Le Mayeur
39. Museum Loka Budaya
40. Museum Maha Karmawibhangga
41. Museum Mandar
42. Museum Memorial Kedaton Sultan Ternate
43. Museum Monumen Pergerakan Wanita Indonesia
44. Museum Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera)
45. Museum Negeri Jambi
46. Museum Negeri Provinsi Kalimantan Timur “Mulawarman”
47. Museum Negeri Provinsi Lampung “Ruwa Jurai”
48. Museum Negeri Provinsi Nusa Tenggara Barat
49. Museum Negeri Provinsi Papua
50. Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara
51. Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara
52. Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
53. Museum Negeri Sumatera Selatan “Balaputra Dewa”
54. Museum Pahlawan Nasional Dr. A.K. Gani
55. Museum Perjuangan Rakyat Jambi
56. Museum Perjuangan Rakyat Kalimantan Selatan “Waja Sampai Kaputing Banjarmasin”
57. Museum Perjuangan TNI Kodam I Bukit Barisan
58. Museum Perjuangan Tridaya Eka Dharma
59. Museum Prabu Geusan Ulun
60. Museum Provinsi Kalimantan Barat
61. Museum Provinsi Kalimantan Tengah “Balanga”
62. Museum Provinsi Nangroe Aceh Darussalam
63. Museum Pusaka Nias
64. Museum Ranggawarsita
65. Museum Rumah Adat Baanjuang
66. Museum Rumah Bolon Adat Pematang Purba
67. Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta Bukittinggi
68. Museum Sadurengas
69. Museum Santet
70. Museum Semarajaya
71. Museum Seni Agung Rai
72. Museum Simalungun
73. Museum Simettengpola Saoraja Mallangga
74. Museum Siwa Lima
75. Museum Soninye Malige
76. Museum Sri Baduga
77. Museum Subak Sanggulan
78. Museum Sulawesi Tengah
79. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
80. Museum Syarif Kasim Kabupaten Bengkalis
81. Museum T.B. Silalahi
82. Museum Tepas Pariwisata Keraton Yogyakarta
83. Museum The Blanco Renaissance Museum
84. Museum Tosan Aji
85. Museum Ullen Sentalu
86. Museum UPTD Pemkab Belitung
87. Museum Wayang “Kekayon” Yogyakarta
88. Museum Wayang Sendang Mas
89. Museum Zoologi Bogor
90. Museum Satria Mandala
91. Museum Mpu Tantular
92. Museum Bank Mandiri
93. Museum Affandi
94. Museum Kebangkitan Nasional
95. “Rahmat” International Wildlife Museum & Gallery
96. Museum Polri
97. Museum Bank Indonesia
98. Museum Sandi

Minggu, 02 Januari 2011

Melihat Palembang dari Naskah Kuno

oleh: NasrulAzwar

HANIFA (38), seorang warga asli Palembang, sulit membayangkan bagaimana kisah pewayangan yang selama ini dianggapnya hanya "milik" masyarakat Pulau Jawa. Kisah pewayangan ternyata pernah berkembang di Palembang yang menjadi ibu kota Sumatera Selatan itu.Selain pewayangan, cerita- cerita rakyat yang sebelumnya banyak berkembang di Pulau Jawa, juga dikisahkan di Palembang dengan modifikasi budaya setempat, misalnya kisah Raden Inu Kertapati atau Ande-Ande Lumut.

Cerita-cerita yang ditemukan dalam penelitian Yayasan Naskah Nusantara bekerja sama dengan Tokyo University of Foreign Studies, Agustus lalu, itu menunjukkan keterkaitan Palembang dengan kerajaan-kerajaan di Jawa. Sejarah Kesultanan Palembang bermula dari kemelut politik yang terjadi di Kesultanan Demak sesudah kematian Trenggana, Raja Demak setelah Raden Patah, serta pemindahan pusat kesultanan di Pajang oleh Prabu Adiwijaya.

Budayawan Sumatera Selatan Djohan Hanafiah menegaskan, para bangsawan Jawa yang berkeraton di Palembang pada akhirnya beradaptasi dengan budaya Melayu yang sudah tumbuh di daerah ini. Palembang juga merupakan kawasan kosmopolitan, dengan percampuran budaya berbagai bangsa yang datang seiring arus perdagangan.Artinya, sejarah ibu kota Provinsi Sumatera Selatan ini lebih panjang dari perjalanan sejarah Kota Baghdad di Irak yang didirikan tahun 762, lebih tua dari Kyoto di Jepang yang didirikan tahun 794, apalagi dibandingkan dengan Jakarta yang berdiri tahun 1527.

Sejarah Kesultanan Palembang Darussalam yang jauh lebih muda dari masa Sriwijaya, meninggalkan jejak tak terputus dengan keberadaan Palembang masa kini. Namun, apresiasi masyarakat terhadap sejarah dan warisan budaya yang paling kasat mata dari masa kesultanan ini terkesan memprihatinkan. Naskah yang berasal dari masa Kesultanan Palembang Darussalam misalnya, antara lain ditemukan disimpan saja dalam rak di kamar mandi. Substansi yang dipaparkan menyuguhkan wacana yang berkembang pada masa itu.

Oleh karena itu, penemuan naskah berperan penting dalam kegiatan apresiasi kebudayaan dan kesejarahan. Penelitian awal yang digelar Yayasan Naskah Nusantara bekerja sama dengan Tokyo University of Foreign Studies di Palembang, Agustus lalu, menemukan bukti produktivitas sastra Melayu di daerah ini pada masa kesultanan. Kegiatan penulisan mencapai puncaknya pada masa Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II yang diyakini Djohan sebagai pemimpin masa keemasan Kesultanan Palembang. Mujib Ali, peneliti pada kantor Asisten Deputi Urusan Arkeologi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang pernah mendalami penulisan naskah kuno di Palembang, menuturkan, SMB II memang memiliki perpustakaan yang diduga terlengkap di Palembang masa itu. Puluhan naskah yang ditemukan Mujib memang ditandai sebagai milik SMB II.